Waktu Terbaik Untuk Tadabbur Al-Qur’an

Bismillah

Rasanya, tak ada yang lebih lezat di kehidupan dunia ini selain mentadabburi Alquran di sepanjang waktu. Sepanjang waktu hati bersahabat dengan Alquran, adalah hal yang paling mengasyikkan dan sangat indah. Namun, tahukah Anda, ada suatu waktu yang paling cocok dan paling istimewa untuk mentadabburi Alquran.

Itulah saat-saat shalat..

Terutama shalat lima waktu.

Allah berfirman dalam hadis qudsi,

ما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه

Tak ada ibadah yang dilakukan hamba-Ku untuk mendekatkan dirinya kepada-Ku, melainkan ibadah-ibadah yang Aku wajibkan kepadanya.

Shalat lima waktu, adalah kewajiban yang paling utama setelah tauhid. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah– mengatakan,

ومَا وَردَ مِن الفَضلِ لقَارئ القُرآن يَتنَاولُ المُصلِّي أعظَمَ ممَّا يتَناولُ غَيرَه

“Pahala yang diperoleh seorang yang membaca Alquran, sementara ia sedang shalat, itu lebih besar pahalanya daripada saat ia membacanya di luar sholat.”

Dengan ungkapan lain, bisa anda katakan, “Pahala yang diperoleh orang yang mentadabburi Alquran, sementara ia sedang sholat, itu lebih besar pahalanya daripada saat ia mentadabburinya di luar shalat.’’

Maka, seyogyanya seorang muslim berhasrat tinggi untuk mampu mentadabburi Alquran dalam shalatnya. Terlebih surat Al-fatihah, yang selalu diulang di setiap raka’at shalat. Serta bersemangat untuk mampu mentadabburi setiap ayat yang dia baca atau dia dengar, pada shalat sir (sholat yang bacaan dibaca lirih: zuhur, asar) maupun shalat jahr (sholat yang bacaannya dikeraskan: maghrib, isya, subuh).

Karena perjuangan keras jiwa ini, untuk dapat melakukan tadabbur Alquran saat-saat sholat, adalah hal yang paling bermanfaat untuk seorang hamba. Bahkan, faktor terkuat yang dapat membantu meraih kekhusyu’an shalat dan hadirnya hati. Sehingga seorang hamba dapat meraih pahala yang lebih sempurna dari shalatnya. Karena jatah pahala yang didapat seorang hamba dari shalat yang ia lakukan, sesuai kadar kekhusy’annya.

Semoga bermanfaat..

Diterjemahkan secara bebas dari : https://www.al-badr.net/muqolat/4883 (Situs resmi Syaikh Prof. Dr. Abdurrazaq Al-Badr -hafidzahullah-).

***

Ditulis oleh : Ahmad Anshori Lc

Sumber: https://muslim.or.id/41071-waktu-terbaik-untuk-tadabbur-alquran.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Mendoakan teman secara diam-diam

Islam mengajarkan cinta dan kasih sayang. Diantara wujudnya adalah, Islam mengajarkan agar manusia mencintai orang lain seperti cintanya kepada diri sendiri. Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda,

لا يُؤمِنُ أحدُكم حتى يُحِبَّ لأخيه ما يُحِبُّ لنَفْسِه

“Tak akan sempurna iman kalian sampai kalian mencintai saudara kalian seperti mencintai diri kalian sendiri.” (HR. Bukhori)

Bahkan subhanalla, kasih sayang kepada orang lain, di dalam Islam menjadi komponen penyempurna iman.

Salahsatu bentuk kasihsayang tulus yang dianjurkan oleh agama yang mulia ini adalah mendoakan orang lain secara diam-diam, atau tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- dalam beberapa hadis berikut:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya tersebut, melainkan Malaikat akan mengatakan, “Aamiin, semoga kamu juga mendapatkan yang sama seperti yang kamu doakan.” (HR. Muslim no. 2732)

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim kepada saudaranya tan sepengetahuan saudaranya yang ia doakan iru mustajab. Di atas kepalanya akan ada malaikat yang ditugaskan setiap kali dia mendoakan baik untuk saudaranya malaikat yang ditugaskan itu akan berkata, “Aamin, semoga kamu juga mendapatkan demikian.” (HR. Muslim, no. 2733)

Hadis di atas menunjukkan, bahwa mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya itu mustajab. Kemudian adanya malaikat yang mengaminkan doanya lalu medoakan agar si pendoa mendapatkan hajat yang sama, ini juga dalil mustajabnya doa untuk orang lain itu didapatkan untuk orang yang didoakan tanpa sepengetahuan dia dan yang mendoakan. Karena doa malaikat sudah pasti mustajab.

Oleh karenanya, teman-teman yang belum dapat jodoh, ayo doakan teman kamu yang juga senasib agar dapat jodoh impian yang sholih/sholihah. Yang udah nikah belum dapat momongan, mari doakan orang lain yang juga diuji dengan nasib yang sama agar dapat momongan. Yang mau naik haji, yang mau sukses bisnis, sukses berkarir, sembuh penyakit dan hajat-hajat lain, ayo doakan saudara kita yang juga punya hajat yang sama, secara diam-diam. Itu bisa menjadi wasilah terkabulnya hajat yang kita inginkan. Imam Nawawi -rahimahullah- sampai menyatakan,

وَكَانَ بَعْض السَّلَف إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَخِيهِ الْمُسْلِم بِتِلْكَ الدَّعْوَة؛ لِأَنَّهَا تُسْتَجَاب، وَيَحْصُل لَهُ مِثْلهَا

“Sebagian salaf ada yang punya kebiasaan jika dia ingin berdoa suatu hajat yang dia inginkan maka dia doakan juga saudaranya dengan doa yang sama. Karena dengan seperti itu doa menjadi mustajab. Dia akan mendapatkan pengabulan yang sama.” (Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim 17/49, dari islamport.com)

Selain mendoakan orang lain itu mustajab dan dapat menjadi wasilah pengabulan doa kita, ada manfaat lainnya, yaitu di saat orang mendoakan temannya atau siapanpun dia, dalam keadaan yang didoakan tidak tahu, ini menunjukkan doa yang terpancar dari kasih sayang yang tulus. Dengan ini perasaan-perasaan benci, hasad, iri, dengki atau prasangka yang tidak baik (suuzon) akan hilang. Sehingga kerukunan, persahabatan, kekeluargaan, silaturahmi dan ikatan kasih sayang di masyarakat yang mengamalkan amalan ini akan terjalin erat dan terjaga.

Anda bisa praktekkan terutama saat setan memanas-manasi Anda membenci atau su-uzon kepada teman, kerabat atau siapa saja, lalu coba doakan dia dengan kebaikan. Maka dengan izin Allah pengaruh-pengaruh megatif setan yang memancing sesama muslim itu tidak rukun, akan terusir dan kalah. Berubah menjadi benih-benih cinta dan kasihsayang yang melapangkan dada. Karena setan menginginkan terjadi permusuhan di tengah-tengah masyarakat muslim. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قد أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ في جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ في التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun setan masih bisa memunculkan permusuhan di tengah-tengah mereka” (HR. Muslim no. 2812).

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ على الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ منه مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فيقول: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فيقول: ما صَنَعْتَ شيئا، قال ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فيقول: ما تَرَكْتُهُ حتى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قال: فَيُدْنِيهِ منه، وَيَقُولُ: نِعْمَ أنت فَيلتَزمُهُ

“Iblis meletakkan singgasananya di atas air. Kemudian ia mengutus para tentaranya. Tentara iblis yang paling bawah adalah yang paling besar fitnah (kerusakan) nya. Salah satu tentara iblis berkata, “Saya telah melakukan ini dan itu. Maka iblis mengatakan: kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian tentara iblis yang lain datang dan berkata: Aku tidak meninggalkan seseorang kecuali setelah ia berpisah dengan istrinya. Maka tentara iblis ini pun didekatkan kepada iblis. Lalu iblis berkata: kamulah yang terbaik, teruslah lakukan itu” (HR. Muslim no. 2813).

Yang membuat saudara-saudara Nabi Yusuf membenci Nabi Yusuf karena dorongan iri hasad, sampai Nabi Yusuf mau dibunuh, itu ya setan. Sebagaimana diterangkan di dalam Al-Qur’an,

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf: 100).

Dengan mengamalkan sunah ini maka kekuatan setan yang menimbulkan permusuhan itu akan lemah dan sirna. Karena kasih sayang itu adalah buah dari mengikuti ajaran Rasulullah, sementara saling membenci itu adalah akibat dari menyerah kepada godaan setan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk saling berkasih sayang.

Kampoeng Santri, 7 Jumadas Tsani 1444 H


Penulis : Ahmad Anshori

Bro and sis, klik link lengkapnya yah di sini:
https://remajaislam.com/2408-mendoakan-teman-secara-diam-diam.html

Pesan Malik bin Dinar Untuk Anak Muda

Bismillah…

Imam Malik bin Dinar rahimahullahu Ta’ala menyampaikan pesan singkat namun sarat makna:

إنما الخير في الشباب

“Sesungguhnya, kebaikan itu ada pada para pemuda [atau terdapat di dalam (usia) muda].”

Pesan beliau ini mengandung beberapa faidah penting berikut:

1. Masa Muda adalah Masa Potensial untuk Kebaikan

Usia muda merupakan periode emas dalam hidup manusia. Di masa ini, seseorang memiliki energi, semangat, dan vitalitas yang tinggi untuk melakukan berbagai aktivitas, termasuk beramal dan menuntut ilmu. Masa muda bagaikan tanah yang subur, siap ditanami benih-benih kebaikan yang akan tumbuh dan berkembang menjadi pohon yang rindang dan bermanfaat.

2. Kebaikan di Masa Muda Memiliki Dampak Jangka Panjang

Amal-amal baik yang dilakukan di usia muda akan menjadi fondasi yang kokoh bagi kehidupan selanjutnya. Kebiasaan positif yang ditanamkan di masa muda akan lebih mudah tertanam dan terbawa hingga usia tua. Pahala dari amal-amal tersebut pun akan terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.

3. Pentingnya Memanfaatkan Masa Muda dengan Baik

Pesan Imam Malik bin Dinar ini merupakan seruan bagi para pemuda untuk tidak menyia-nyiakan masa mudanya. Masa muda adalah waktu yang tepat untuk menabung kebaikan, menimba ilmu sebanyak-banyaknya, dan mempersiapkan diri untuk masa depan yang gemilang.

4. Kebaikan di Masa Tua Tetap Bernilai

Meskipun pesan ini menekankan pentingnya kebaikan di masa muda, bukan berarti kebaikan di masa tua tidak bernilai. Setiap amal kebaikan, kapanpun dilakukannya, akan selalu mendapatkan pahala dari Allah ‘azza wa jalla.

Berikut beberapa contoh kebaikan yang dapat dilakukan di masa muda:

  • Menuntut ilmu agama dan ilmu lainnya yang bermanfaat untuk hidupnya di dunia dan akhirat.
  • Semangat melakukan ibadah wajib dan sunnah dengan tekun
  • Beramal sholeh, seperti membantu orang tua, fakir miskin, dan anak yatim
  • Mengikuti kegiatan positif di masjid, sekolah, atau komunitas
  • Menjaga kesehatan fisik dan mental
  • Menghindari perbuatan tercela dan maksiat

Masa muda adalah masa yang sangat berharga. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya untuk melakukan kebaikan dan mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik.

Baca juga:

Keep semangat ya anak muda…

Wallahul muwaffiq.

**Tulisan di atas adalah pemaparan dari kitab “Min Washoyas Salaf Lis Syabaab” (Nasehat Para Salaf Untuk Para Pemuda), karya Syaikh Prof. Abdurrazaq Al Badr -hafidzohullah-, yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Anshori di kajian rutin malam Rabu (Maghrib – Selesai), di Masjid Abdurrahman bin Auf (Maba) Kasongan, Bantul, diselenggarakan oleh Serodja.

Bro and sis, klik link lengkapnya yah di sini:
https://remajaislam.com/4454-pesan-malik-bin-dinar-untuk-anak-muda.html

Udah, Jalanin Dulu Aja? Hati-Hati Dosa!

Emang terjebak dalam perasaan yang belum halal tuh gaenak banget temen-temen, kaya sepatu sneakers gapunya HAK. Ustadz, ternyata di lapangan ini ada fenomena fenomena “jalanin dulu aja” tapi katanya sih mau nikah, tapi jalanin dulu aja… tapi udah cintaa… tips Ustadz supaya bisa tegas dalam memperjelas arah hubungan yang gatau dibawa ke maana ini..

Bismillah…

“Jalanin dulu aja”, kedengarannya simpel dan nggak ribet, tapi sebenarnya ada beberapa alasan kuat kenapa interaksi lawan jenis yang seperti ini nggak tepat, terutama buat kamu yang serius mau menjalin hubungan yang sehat dan menjaga batasan-batasan syariat. Yuk, simak alasan-alasan berikut!

(1) Kalo memang dia layak menjadi imammu, atau calon ibu anak-anakmu, pasti ga kayak gitu sikapnya.

Seorang imam yang baik nggak akan memperlakukan pasangannya dengan sembarangan. Nggak akan menjalin hubungan yang tidak halal. Mereka bakal nunjukin rasa hormat, tanggung jawab, komitmen yang tulus dan ketakwaan kepada Allah. Kalau dari awal aja nggak bisa, yakin mereka pantas jadi imam atau ibu anak-anak kamu?

(2) Hati-hati Zina….

Buat yang suka bilang “jalanin dulu aja, nanti nikah gampang,” hati-hati ya! Pola pikir kayak gini bisa bawa kamu ke hubungan yang haram. Ketika kamu cuma “jalanin dulu aja” tanpa komitmen yang jelas, ujung-ujungnya kamu bakal terjebak dalam dosa. Inget lho dosa zina itu dosa besar, Islam jelas banget ngelarang perbuatan haram ini, sampai menyebutnya “seburuk-buruk jalan hidup” . Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullah- menerangkan tafsir ayat ini:

والنهي عن قربانه أبلغ من النهي عن مجرد فعله لأن ذلك يشمل النهي عن جميع مقدماته ودواعيه فإن: ” من حام حول الحمى يوشك أن يقع فيه “ خصوصا هذا الأمر الذي في كثير من النفوس أقوى داع إليه.
ووصف الله الزنى وقبحه بأنه { كَانَ فَاحِشَةً } أي: إثما يستفحش في الشرع والعقل والفطر لتضمنه التجري على الحرمة في حق الله وحق المرأة وحق أهلها أو زوجها وإفساد الفراش واختلاط الأنساب وغير ذلك من المفاسد.
وقوله: { وَسَاءَ سَبِيلًا } أي: بئس السبيل سبيل من تجرأ على هذا الذنب العظيم.

“Larangan mendekati zina lebih tegas daripada larangan sekedar melakukannya. Karena itu mencakup larangan terhadap semua pendahuluan dan penyebabnya. Karena “siapa yang mendekati daerah terlarang hampir pasti akan jatuh ke dalamnya,” terutama dalam hal ini seringkali jiwa manusia terdapat dorongan kuat untuk melakukan itu.

Allah menggambarkan zina dan keburukannya dengan firman-Nya, {كَانَ فَاحِشَةً} yang berarti: dosa yang sangat dibenci secara syariat, akal, dan fitrah. Karena zina adalah pelanggaran terhadap kehormatan dalam hak Allah, hak wanita, hak keluarganya atau suaminya, merusak tempat tidur, mencampur adukkan nasab, dan kerusakan-keursakan lainnya.

Firman-Nya: {وَسَاءَ سَبِيلًا} yang berarti: seburuk-buruk jalan adalah jalan orang yang berani melakukan dosa besar ini.” (Tafsir As-Sa’di, diakses dari quran.ksu.edu.sa)

Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- juga bersabda:

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari)

Maksudnya, imannya rusak.

Kalau kita tetep pegang prinsip “jalanin dulu aja”, risiko terjerumus dalam zina bakal besar banget.

(3) Nikah Itu Ibadah.

Pernikahan dalam Islam adalah salah satu bentuk ibadah yang istimewa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyebutnya sebagai penyempurna separuh agama,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Al Ghozali rahimahullah (sebagaimana dinukil dalam kitab Mirqotul Mafatih) berkata, “Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitu kemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.” (dikutip dari rumaysho.com)

Mengingat nikah itu ibadah, maka proses menuju pernikahan juga harus sarat dengan nilai-nilai ibadah dan takwa kepada Allah. Kalau cuma “jalanin dulu aja” akhirnya bakalan ngejerumusin ke hubungan yang ngga’ halal. Kalo udah begini, jelas akan menodai proses pernikahan yang semestinya dijaga agar berada di dalam keridhoan Allah. Atau bisa dikatakan kalo udah seperti itu, kita lagi meremehkan nilai ibadah dari pernikahan itu sendiri.

(4) Cinta karena Allah atau Nafsu Doang?

Kalau kamu beneran cinta karena Allah, itu worth it banget buat diperjuangin. Cinta yang tulus dan berlandaskan keimanan bakal bikin hubungan kamu lebih kuat dan berkah. Ini bukan cuma tentang rasa suka atau sayang, tapi juga tentang niat baik dan komitmen untuk bersama-sama mencapai ridha Allah. Perjuangan kamu buat menjaga hubungan yang sehat dan halal itu bakal membawa kebahagiaan yang sejati. Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ  أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.

“Ada tiga hal, jika ada pada seseorang, ia akan merasakan manisnya iman, yaitu (1) siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali mencintainya karena Allâh. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

Tapi kalau hubungan kamu cuma didasari nafsu doang, mending stop sekarang deh. Hubungan yang cuma didasari nafsu nggak bakal berkah, malah bisa bikin hidup kamu jadi ribet dan penuh masalah. Percaya deh, hubungan kayak gini cuma sementara dan nggak akan membawa kamu ke mana-mana. Mendingan kamu fokus sama hal-hal yang lebih positif dan bermanfaat.

Ketika kamu cuma “jalanin dulu aja” tanpa komitmen yang jelas untuk serius menikah atau menjaga aturan Allah, ujung-ujungnya kamu bakal terjebak dalam dosa. Kira-kira, ada nggak tuh niat cinta karena Allah dalam hubungan kayak gini?

Jelas nggak ada…

(5) Nggak Layak Dapat Cinta Kamu.

Orang yang nggak serius dan cuma mau “jalanin dulu aja” nggak layak dapetin cinta kamu. Kalau dari awal dia nggak punya niat baik dan cuma main-main, lupain aja. Kamu berhak dapat yang lebih baik, yang benar-benar mencintai kamu karena Allah dan mau berkomitmen untuk masa depan yang lebih baik. Nah setelah tahu gitu ya, harus tegak pendirian, jadilah orang yang bijak, sampaikan keputusan segera. Jangan jual cinta anda begitu murah.

Semoga segera dapat jodoh yang terbaik menurut Allah, Aamiin…

Wallahumuwaffiq.


Ditulis oleh: Ahmad Anshori

Bro and sis, klik link lengkapnya yah di sini:
https://remajaislam.com/5124-udah-jalanin-dulu-aja-hati-hati-dosa.html

Trik Jitu Meredam Marah

Bismillah…

“Rasanya puas ya kalau bisa melampiaskan amarah. Seluruh beban emosi yang mengendap di dalam jiwa dan pikiran rasanya tertumpahkan.”

Itulah kira-kira bisikan halus iblis kepada kita untuk meluapkan amarah. Paadahal apa benar jiwa akan lega dan pikiran akan plong setelah melampiaskan marah?

Tidak, sama sekali tidak. Yang ada malah menyesal. Betapa banyak kesalahan terjadi saat emosi tidak terkendali, kemudian berujung penyesalan yang mendalam. Perceraian, putus silaturahmi, putus persahabatan, hilangnya rasa iba dan kasih sayang dll, adalah diantara rentetan masalah besar akibar dari marah. Yang ada malah marah itu awalnya kegilaan dan akhirnya penyesalan.

Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah pepatah Arab,

الغضب أوله جنون، ونهايته ندم

“Marah itu awalnya adalah kegilaan dan ujungnya adalah penyesalan.” (Al Manhaj Al Masluk fii Siyasah Al Muluk, hal. 404)

Remaja islam yang budiman, ada sebuah petunjuk yang indah yang ditawarkan oleh Islam berkenaan dengan marah, yaitu, Islam tak pernah setuju dengan sikap tempramental atau mudah marah (kecuali marah pada tempatnya ya, yaitu marah yang hasilnya positif, seperti marah karena larangan Allah dilangggar atau ajaran Islam direndahkan, itupun harus profesional, proposional dan bijaksana). Diantara dalil yang popoler berisi pesan ini adalah hadis singkat yang berbunyi,

لَا تَغْضَبْ

“Jangan marah.”

Nabi sampai mengulang pesan singkat ini sebanyak tiga kali. Penjelasan selengkapnya tentang hadis ini bisa di baca di artikel Remajaislam berjudul:

Di sini sobat remaja akan mendapatkan sejumlah trik jitu mereda marah:

Pertama, membaca ta’awudz.

Saat marah menguasai diri kita, bersegeralah memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Karena setanlah yang menghiasi marah pada diri seorang dan menggoda seorang dengan godaan yang menarik untuk marah, memicu ledakan emosi, hingga dapat mendorong seseorang melakukan perbuatan buruk dan mengucapkan kata-kata yang tidak baik. Sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis yang tertulis di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dalam hadits Sulaiman bin Surad radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa ada dua orang bertengkar di hadapan Nabi -shalallahu alaihi wasallam-, ketika kami sedang duduk-duduk bersama beliau. Salah satu dari mereka mencela temannya dalam keadaan marah, sampai mukanya memerah. Lalu Nabi bersabda,

إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ

“Aku mengetahui sebuah kalimat yang seandainya dia mengucapkannya, maka marahnya akan pergi. Andai saja dia mengucapkan doa “a’udzubillah minas syaitho nirrojiim” (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).”

Sejumlah sahabat yang berada di tempat itu berkata kepada orang yang sedang emosi itu, “Tu kan kamu denger ngga itu nasehat Nabi?!

Dia berkata, “Saya bukan orang gila.” (Riwayat Bukhari 6048), dan Muslim 2610)

Ucapan ta’awudz yang segera diucapkan di saat marah memuncak, akan menjadi keberkahan dan dapat mencegah kehadiran setan beserta godaannya kepada seorang yang terpancing marah. Hal ini sesuai firman Allah Ta’ala:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ

“Jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah.” (QS. Al-A’raf: 200)

Kedua, diam.

Sebagaimana diterangkan di dalam sebuah hadis di Musnad Imam Ahmad, sabahat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتُ

“Jika kalian marah, maka diamlah.”

(Riwayat Ahmad 2136, dan dishahihkan Albani dalam Shahih Al Jami 693)

Artinya menahan diri untuk tidak berbicara saat marah. Karena jika memaksa berbicara dalam keadaan marah, ia akan mengucapkan kata-kata yang berakibat tidak baik. Seperti ucapan kasar, tak senonoh dan makian. Beberapa orang mungkin bahkan mencaci-maki diri sendiri dan anak-anaknya, lalu ia akan menyesal setelah kemarahan mereda.

Oleh karenanya saat sedang marah, sebaiknya tidak mengucapkan sepatah kata pun, berusahalah untuk menahan diri tidak berbicara. Karena orang yang sedang marah, tidak menyadari apa yang ia ucapkan. Sehingga menahan diri untuk berbicara sampai kemarahan mereda akan membuat ucapannya lebih bijak dan berakibat hasil lebih baik.

Mawriq Al-’Ajli berkata,

ما قلت في الغضب شيئًا إلا ندمت عليه في الرضا

“Saya tidak pernah berkata apa apapun dalam keadaan marah kecuali saya menyesalinya dalam keadaan ikhlas.” (Syarah hadits Ammar bin Yasir, karya Ibnu Rajab Alhanbali, hal. 166)

Ketiga, mengubah posisi.

Di dalam Al Musnad, terdapat hadis yang menjadi dasar trik ketiga ini. Hadis tersebut bersumber dari sahabat Anas bin Malik -radhiyallahu’anhu-, bahwa Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda,

إذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسُ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

“Kalau kalian marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika belum reda juga marahnya, maka berbaringlah.” (Riwayat Ahmad 21348, dan dishahihkan Al Bani dalam Shahih Al Jami 694)

Adanya arahan seperti ini karena orang yang sangat marah bila tetap berdiri lalu di hadapannya ada orang yang membuatnya marah, keadaan itu cenderung memudahkan dia melakukan tindakan yang merugikan orang lain, pemukulan atau tindak kedzaliman lainnya. Namun, jika ia berusaha menguasai diri dengan cara duduk, upaya seperti ini dapat mencegahnya dari berbuat hal-hal yang tidak baik baik kepada saudaranya atau sumber kemarahan. Jika dengan upaya seperti itu marahnya mereda, itulah kenikmatan, namun jika belum juga mereda, silahkan berbaring, dengan demikian ia semakin menjauh dari sumber yang memancing kemarahannya.

Siapa yang melakukan dua arahan istimewa ini, yaitu berkenaan dengan lisan yaitu berusaha tidak berbicara saat sedang marah dan berkenaan dengan perbuatan yaitu merespon dengan duduk atau berbaring hingga marah mereda, maka seorang akan meraih kesempurnaannya sebagai laki-laki dan kekuatan yang sesungguhnya. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- mengajarkan,

ليْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Kuat yang sesungguhnya bukan semata-mata kekuatan fisik, melainkan kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri saat marah.” (Riwayat Bukhari 6114, dan Muslim 2609)

Demikian, semoga kita dimudahkan Allah untuk menakhlukkan amarah.

Wallahul muwaffiq.

Referensi:

Al-Badr, Abdurazzaq bin Abdulmuhsin, (1444H). Ahadits Ishlah Al-Qulub, Dar Imam Muslim, Madinah, Saudi Arabia.


Penulis: Ahmad Anshori

Bro and sis, klik link lengkapnya yah di sini:
https://remajaislam.com/3994-trik-jitu-meredam-marah.html

Fatwa Ulama: Apakah Berdosa ketika Menghafal Al-Qur’an kemudian Melupakannya?

Fatwa Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah

Pertanyaan:

Apakah seseorang yang menghafal Al-Qur’an kemudian melupakannya berdosa? Bagaimana hukumnya? Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Diperlihatkan kepadaku dosa-dosa umatku, dan aku tidak melihat dosa yang lebih besar daripada seorang laki-laki yang diberikan satu ayat atau surah, kemudian melupakannya.”

Jawaban:

Jika seseorang dengan sengaja melalaikan dan mengabaikan Al-Qur’an, maka dia berdosa, dan hanya Allah yang mengetahui seberapa besar dosanya. Namun, jika dia tidak sengaja melupakan karena penyakit, masalah, atau kesibukan yang di luar kemampuannya, maka semoga dia tidak berdosa.

Saya telah meneliti hadis tersebut dan menemukannya dalam Sunan Abu Daud dan Fathul Qadir dari jalur Al-Muthallib bin Abdullah bin Hantab yang meriwayatkan dari Anas. Namun, Al-Muthallib bin Abdullah bin Hantab tidak mendengar langsung dari Anas, sehingga hadis tersebut dianggap dha’if (lemah).

Adapun jika seseorang dengan sengaja melalaikan dan tidak peduli terhadap Al-Qur’an, maka dia berdosa. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah merahmati si Fulan, dia mengingatkanku pada ayat ini dan itu yang sebelumnya aku lupakan.” Jadi, jika seseorang lupa tetapi berusaha mengingatnya kembali, itu adalah hal yang baik. Tetapi, jika dia lupa karena mengabaikan dan melalaikannya, maka dia berdosa, dan hanya Allah yang mengetahui seberapa besar dosanya.

***

Rujukan: Kitab Ijabah As-Sail, hal. 399-400.

Sumber : https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=4641

Penerjemah: Muhammad Bimo Prasetyo

Sumber: https://muslim.or.id/95847-apakah-berdosa-ketika-menghafal-al-quran-kemudian-melupakannya.html

Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia

Dalam menjalani kehidupan ini, kadangkala kita menilai keberuntungan dan kesialan seseorang dari apa yang kita lihat di permukaan. Namun, kita lupa bahwa apa yang tampak di mata bisa jadi berbeda dengan realitas sebenarnya. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan, belum tentu hidupnya benar-benar bahagia di hadapan Allah Ta’ala.

Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, kita seringkali hanya melihat segala sesuatu dari perspektif yang sempit, yaitu dari sudut pandang duniawi. Kita terjebak dalam definisi kebahagiaan dan kesuksesan yang didasarkan pada harta, kekuasaan, kepopuleran, atau kesenangan fisik. Padahal, keberuntungan seseorang tidak semata-mata diukur dari segi material atau apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kenikmatan di dunia ini, mungkin justru menjadi belenggu bagi kehidupan akhirat seseorang. Di sisi lain, orang yang terlihat mengalami kesulitan dan cobaan di dunia ini, bisa jadi justru berada dalam rahmat dan lindungan Allah Ta’ala.

Cobaan dan kesulitan seringkali menjadi cara Allah Ta’ala untuk menguji dan menyucikan hamba-Nya, sekaligus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang orang yang paling berat ujiannya di dunia. Maka, beliau menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185)

Maka, Saudaraku! Hal ini merupakan tanda bahwa cobaan dan kesulitan bukanlah hukuman, melainkan tanda kasih sayang dan perhatian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang dipilih untuk ditempa agar menjadi lebih baik.

Orang yang terbiasa dengan kemaksiatan

Sebagian dari kita mungkin melihat orang yang terbiasa melakukan dosa, namun tampaknya tidak mendapat teguran dari Allah Ta’ala. Sebagian besar mereka menikmati kehidupan dunia, kaya raya, dan memiliki kesehatan yang baik. Namun, sebenarnya, kondisi ini justru bisa menjadi merupakan petaka bagi mereka. Hal itu tidak lain pertanda bahwa Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka dan membiarkan mereka terus menerus dalam kesesatan hingga ajal menjemput. wal’iyadzu billah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Apabila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4: 145)

Istidraj merupakan salah satu bentuk cara Allah Ta’ala menarik seseorang dengan lembut menuju kebinasaan. Orang yang terus menerus dalam kemaksiatan, namun tidak mendapatkan teguran, mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang ditarik perlahan ke jurang kehancuran. Ini adalah tanda bahwa Allah mungkin telah meninggalkannya.

Tanda kesuksesan tidak selalu fisik

Salah satu kesalahan persepsi adalah menganggap bahwa kemakmuran dan keberhasilan dunia merupakan tanda rida dan keberkahan dari Allah. Namun, dalam banyak kasus, kekayaan, dan kesenangan dunia dapat menjadi fitnah bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya harta, anak-anak adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)

Kesenangan dunia seperti harta dan anak bukanlah ukuran kesuksesan hakiki di mata Allah, melainkan bisa jadi adalah fitnah yang menguji keimanan dan kesabaran seseorang. Penting juga diingat bahwa di antara hal yang merugikan bagi seorang hamba adalah ketika ia terus menerus mendapatkan kesenangan dunia tanpa hambatan dan hatinya bisa menjadi terpaut dan lupa akan akhirat. Ketika seseorang terlalu cinta dunia, ia akan cenderung melakukan apapun untuk mempertahankan dan meningkatkan kesenangannya, bahkan jika itu berarti melanggar perintah Allah.

Perhatikanlah! Inilah contoh nyata dari bagaimana seseorang yang tampak sukses di mata manusia, namun sebenarnya berada dalam bahaya besar karena jauh dari rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu waspada terhadap godaan dunia dan memastikan bahwa hati kita selalu terpaut pada Allah dan akhirat.

Orang yang terus diuji

Sebaliknya, ada orang yang hidupnya penuh dengan ujian dan cobaan. Mereka mungkin sering sakit, kehilangan, atau mengalami kesulitan hidup. Namun, ujian ini sebenarnya bisa menjadi bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya.

Dengan ujian, dosa-dosa kita dihapuskan. Selain itu, kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang bersabar akan mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya, besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Ujian sebagai penyucian jiwa

Setiap ujian dan cobaan yang menimpa seorang muslim bukanlah tanpa alasan. Allah memberikan ujian sebagai bentuk penyucian jiwa dan pembersihan dosa. Sebagaimana emas yang semakin berkilau setelah dilebur dalam api, demikian pula jiwa seorang mukmin yang bersabar dalam menghadapi ujian akan semakin murni. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Dalil ini menegaskan bahwa kesulitan dan rasa sakit yang kita alami dalam hidup ini memiliki hikmah, yaitu menghapuskan dosa-dosa kita, sebagaimana daun yang gugur dari pohon.

Saat kita dicoba, sebenarnya itu adalah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Melalui ujian, Allah ingin mengangkat derajat kita dan menguji kekuatan iman kita.

Ujian yang datang bertubi-tubi menunjukkan bahwa Allah ingin menguji kekuatan iman kita dan mengangkat derajat kita. Jadi, bukannya harus merasa putus asa, kita seharusnya menyambut ujian sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman kita.

Jangan terjebak ilusi dunia

Saudaraku, jangan mudah teperdaya dengan apa yang kita lihat di permukaan. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan belum tentu lebih baik kedudukannya di sisi Allah. Dan orang yang penuh cobaan, jika dia bersabar, mungkin justru mendapat cinta dan rida Allah.

Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengintrospeksi diri dan memastikan bahwa kita tidak terjebak dalam ilusi dunia. Semoga kita selalu diberikan hidayah untuk selalu dekat dengan Allah, menjauhi dosa, dan bersabar dalam setiap ujian. Amin.

Dalam setiap nafas dan detik kehidupan, ada hikmah yang Allah sematkan bagi hamba-Nya. Setiap kejadian, baik yang tampak indah maupun yang tampak menyakitkan, memiliki pelajaran yang mungkin tersembunyi di balik tabir kehidupan.

Seperti emas yang mesti melewati proses pemurnian dengan api sebelum ia berkilau, demikian pula jiwa kita. Ujian dan cobaan adalah cara Allah memurnikan, menguatkan, dan mendekatkan kita pada-Nya. Dengan demikian, kita semestinya tidak hanya fokus pada apa yang tampak, tetapi mencari makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa.

Penting pula bagi kita untuk selalu menjaga hati dan niat dalam setiap tindakan. Karena bukan hanya perbuatan yang dilihat Allah, tetapi juga niat dan isi hati kita. Bisa jadi seseorang tampak bahagia dan sejahtera di mata dunia, namun hatinya kosong dan jauh dari keberkahan.

Sebaliknya, seseorang yang tampak dilanda cobaan, namun hatinya penuh dengan kesabaran dan tawakal, mungkin mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah. Oleh karena itu, jangan hanya menilai dari luarnya saja, tetapi introspeksi dan perbaiki selalu isi hati dan niat kita. Sehingga kita bisa menjalani hidup dengan penuh makna dan berkah.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslim.or.id/88005-jangan-teperdaya-dengan-ilusi-dunia.html
Copyright © 2024 muslim.or.id