Hukum Bermain Dadu

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum.

Saya mau bertanya apakah hukumnya bermain dadu dan hadis yang berbunyi “Barangsiapa yang bermain dadu sesunggunya dia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Dawud).

Jadi bagaimana hukum bermain monopoli, ular tangga, dll.?

Dari: Eka

Jawaban:

Wa’alaikumussalam.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan larangan bermain dadu, berikut diantaranya,

1. Dari Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَعِبَ ‏ ‏بِالنَّرْدَشِيرِ ‏ ‏فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ

“Siapa yang bermain dadu, seolah dia telah mencelupkan tangannya ke dalam daging babi bercampur darahnya.” (HR. Muslim 2260, Abu Daud 4939, dan yang lainnya).

An-Nawawi mengatakan,

وَمَعْنَى ” صَبَغَ يَده فِي لَحْم الْخِنْزِير وَدَمه فِي حَال أَكْله مِنْهُمَا ” وَهُوَ تَشْبِيه لِتَحْرِيمِهِ بِتَحْرِيمِ أَكْلهمَا

‘Yang dimaksud; mencelupkan tangannya ke dalam daging babi bercampur darahnya adalah ketika makan dua benda ini. Maka hadis ini menyerupakan haramnya main dadu sebagaimana haramnya makan daging dan darah babi.’ (Syarh Shahih Muslim, 15:16).

2. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَعِبَ ‏ ‏بِالنَّرْدِ ،‏ ‏فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Siapa yang bermain dadu, berarti dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Daud 4938, Ibn Majah 3762 dan dinilai Hasan oleh al-Albani)

3. Dari Nafi’, murid dan manantu Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

أن عبد الله بن عمر كان إذا وجد أحدا من أهله يلعب بالنرد، ضربه وكسرها

“Bahwa Ibnu Umar jika melihat salah satu diantara anggota keluarganya bermain dadu, beliau langsung memukulnya dan memecahkan dadu itu.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad. Dan dinilai shahih oleh al-Albani sampai Ibnu Umar)

4. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau penah menyewakan rumahnya kepada seseorang. Dilaporkan kepada Aisyah bahwa ternyata penyewa rumah menyimpan dadu di rumahnya. Aisyah pun mengirim surat kepada mereka,

لئن لم تخرجوها لأخرجنكم من داري

“Jika kalian tidak membuang dadu itu, aku yang akan keluarkan kalian dari rumahku.” (HR. Malik dalam al-Muwatha’ 3519. Sanadnya dinilai Hasan oleh al-Albani).

5. Dari Kultsum bin Jabr, bahwa sahabat Abdullah bin Zubair (yang saat itu memimpin Mekah) pernah berkhutbah,

بلغني عن رجالٍ من قريشٍ يلعبون بلعبةٍ يقال لها : النردشير.. وإني أحلف بالله لا أوتى برجل لعب بها إلا عاقبته في شعرهِ وبشرهِ ، وأعطيتُ سلبهُ لمن أتاني به

“Telah sampai kepadaku berita bahwa ada beberapa orang Quraisy yang bermain dadu. Saya bersumpah demi Allah, jika ada orang yang ditangkap dan diserahkan kepadaku karena bermain dadu, pasti akan aku hukum dari rambut sampai kulitnya. Dan orang yang melaporkan akan aku beri hadiah berupa harta yang dibawa orang itu.” (HR. al-Baihaqi dalam al-Kubro 10:216 dan dalam Sahih Adabul Mufrad dinyatakan, sanadnya hasan).

6.  Sahhabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

اللاعبُ بالفصين قماراً ؛ كآكلِ لحمِ الخنزيرِ ، واللاعبُ بهما غير قمارٍ ، كالغامسِ يدهُ في دمِ خنزيرٍ

“Bermain dengan dua mata dadu ini dalam rangka berjudi seperti orang yang makan daging babi. Dan orang yang bermain dengan kedua mata dadu tapi tanpa taruhan, seperti orang yang mencelupkan tangannya di darah babi. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, dan sadanya dishahihkan al-Albani)

7. Dari Nafi, bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, mengatakan,

النردُ من الميسرِ

“Bermain dadu termasuk judi.” (HR. baihaqi, al-Ajuri dan sanadnya sahih).

Dari beberapa hadis dan keterangan sahabat di atas, dapat kita simpulkan:

Pertama, bermain dadu hukumnya haram, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakannya dengan menyentuh barang najis, seperti daging babi. Bahkan kata an-Nawawi, statusnya seperti makan babi.

Kedua, tidak diperbolehkan menyimpan dadu. Meskipun tidak untuk digunakan bermain. Karena sikap para sahabat yang membuang dadu dan merusaknya

Ketiga, para sahabat menilai, bermain dadu termasuk judi, meskipun tanpa taruhan. Jika disertai taruhan, lebih terlarang lagi.

Al-Ajuri mengatakan,

واللاعبُ بهذه النرد من غيرِ قمارٍ عاصٍ للهِ عز وجل يجبُ عليه أن يتوبَ إلى الله عز وجل من لهوه بها . فإن لعب بها وقامر فهو أعظمُ لأنه أكل الميسر وهو القمارُ

“Orang yang bermain dadu tanpa taruhan judi, telah bermaksiat kepada Allah, dan dia wajib bertaubat dari permainan ini. Jika dia bermain dadu disertai taruhan, maka dosanya lebih besar, karena dia makan hasil judi.” (Tahrim an-Nardi was Syatranji, Hal. 53).

Syaikhul Islam juga mengatakan,

وَالنَّرْدُ حَرَامٌ عِنْدَ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ سَوَاءٌ كَانَ بِعِوَضٍ أَوْ غَيْرِ عِوَضٍ

“Bermain dadu hukumnya haram menurut imam 4 madzhab, baik dengan taruhan maupun tanpa taruhan.” (Majmu’ Fatawa, 32:244)

Keempat, para sahabat mengingkari keras orang yang bermain  dadu. Dan ini termasuk kebiasaan mereka yang hampir tidak lagi kita temukan di zaman sekarang.

Kelima, orang yang bermain dadu dianggap sebagai orang yang jatuh wibawanya, sehingga persaksiannya tidak diterima.

As-Saerozi (ulama syafiiyah) mengatakan,

ويحرمُ اللعبُ بالنردِ ، وتُردُ به الشهادةُ

Haram bermain dadu dan persaksiannnya ditolak. (al-Muhadzab, 3:436)

Setelah memahami ini, seharusnya kita merasa heran ketika ada orang yang melestarikan permainan dadu dengan ular tangga, dan mereka namakan ular tangga islami??

Muhammad Rasyid Ridha Berkomentar tentang Dadu

انه كالازلام يعول فيه على ترك الأسباب والاعتماد على الخط والبخت، فهو يضر بذلك ويغري بالكسل والاتكال على ما يجيء به القدر، أي: فيه معنى الميسر المبني على الكسب بالخط والنصيب دون العمل والجد، وما أشد إفساد هذا في الأمم؟! وما أبعده عن الاسلام الذي يهدي الي الجد والسعي والعمل

Dadu sebagaimana azlam (mengundi dengan anak panah). Mengajak manusia untuk meninggalkan usaha dan bersandar pada tulisan dan ramalan. Ini membahayakan dan memotivasi orang untuk malas dan pasrah terhadap apa yang diterima, artinya semakna dengan judi. Permainan yang dibangun di atas prinsip dapat harta dengan tulisan dan peluang menang, tanpa bekerja dan berusaha. Sungguh betapa berbahayanya permainan ini bagi masyarakat!! Sangat berbeda dengan islam, yang mengajarkan untuk sungguh-sungguh dalam berusaha dan bekerja. (Fatawa Muhammad Rasyid Ridha, 3/1167)

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Kesabaran Ulama Dalam Menuntut Ilmu

Diantara rintangan dalam menuntut ilmu agama adalah kurangnya kesabaran serta ingin segera memetik hasilnya. Menuntut ilmu butuh ketekunan yang semangat agar tidak bosan dan bersiap diri menghadapi berbagai kesulitan.

Ibnu Syihab Az Zuhri rahimahullah berkata: “Barang siapa yang mempelajari ilmu langsung sekaligus dalam jumlah yang banyak, maka kan pergi darinya ilmu yang banyak, dan ilmu-ilmu hanya dicari selama berhari-hari dan bermalam-malam” (Riwayat Abdul Barr dalam Al Jami‘, I/431).

Kisah-kisah indah para imam dan ulama di bawah ini semoga mengukuhkan semangat kaum muslimin untuk semangat menuntut ilmu agama. Kisah yang penuh antusias, pantang menyerah, dan sangat mengharukan yang semuanya berbuah manis.
Abdullah bin Dawud berkata: “Aku masuk kufah (untuk mencari ilmu) dan hanya memiliki satu dirham. Aku membelikannya 30 mud ful (sejenis kacang) lalu memakannya sambil menulis kitab Al Asyaj Abdullah bin Sa’id Al Kindiy setelah aku habis memakannya aku telah menulis 30 ribu hadits yang maqthu‘ atau mursal.” (Tadzkiratul Huffazh, II/768).

Sungguh menakjubkan perjuangan dan kuatnya kesabaran mereka untuk mencari ilmu syar’i, menulisnya, dan mempelajarinya sehingga mereka menguasainya dengan baik. Semua butuh keikhlasan niat, bekal materi, semangat membara, dan juga fisik perlu ditempa agar tahan menghadapi berbagai rintangan saat mencari ilmu.

Abdullah bin Masud berkata: “Tidaklah turun satu ayat kecuali aku tahu tentang apa ayat itu diturunkan, jika aku mengetahui ada seseorang yang lebih tahu tentang kitab Allah maka aku akan menyiapkan unta dan perbekalanku untuk menjumpainya.” (Rihlah li tholabil Hadits, Khatib Al Baghdadi, hlm. 65, Darul Kutub Al Ilmiyah).

Senada dengan kisah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu sahabat lain pun sangat bersemangat mengejar ilmu syar’i. Abu Darda radhiyallahu’anhu berkata: “Seandainya saya mendapatkan satu ayat dari Al-Qur’an yang tidak saya pahami dan tidak ada seorangpun yang bisa mengajarkannya kecuali orang yang berada di Barkul Ghamad (yang jaraknya 5 malam perjalanan dari Mekah), niscaya aku akan menjumpainya.” (Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/100)

Zaman dahulu dengan keterbatasan sarana transportasi, sulitnya medan, dan jauhnya perjalanan bukan penghalang untuk rihlah mencari ilmu syar’i. Terlebih lagi saat ini, dengan segala fasilitas yang kian canggih dan transportasi mudah harusnya kaum muslimin lebih bersemangat mencarinya dan apapun usahakan untuk meluangkan waktu belajar agama. Bisa lewat online atau offline sesuai kemampuan fisik dan waktu yang kita miliki. Kuncinya semua butuh kesabaran ekstra.

Demikian pula seorang penuntut ilmu hendaknya sabar dan bijak dalam berinteraksi dengan gurunya. Karena mereka juga manusia biasa mungkin terkadang salah ataupun sikapnya kurang tepat sehingga hubungan dengannya kurang harmonis. Janganlah kendor semangatnya dan berupaya lebih lapang dada. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” (QS. Al Kahfi: 28).

Terkadang sikap keras guru itu bertujuan mendidik dan menempa mental murid atau menguji sejauh mana kecintaannya pada ilmu. Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”.

Semoga dengan uraian di atas Allah Ta’ala memberikan kesadaran kepada para penuntut ilmu atau orang yang mencintai ilmu syar’i untuk selalu tekun bergelut dengan agama. Dengan mengingat-ingat pahala yang besar, atau ilmu itu jalan menuju surga, dan berbagai keutamaan lainnya ketika menuntut ilmu syar’i niscaya semua rintangan akan terasa ringan.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:
1. Majalah As Sunnah, edisi 08/ Tahun XXV/ 1443 H
2. Majalah As Sunnah, edisi 09/ Tahun XXV/ 1443 H

Sumber: https://muslimah.or.id/14446-kesabaran-ulama-dalam-menuntut-ilmu.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Pengaruh Makanan yang Haram

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sebagian muslim tidak mempedulikan apa yang masuk dalam perutnya. Asal enak dan ekonomis, akhirnya disantap. Tidak tahu manakah yang halal, manakah yang haram. Padahal makanan, minuman dan hasil nafkah dari yang haram sangat berpengaruh sekali dalam kehidupan seorang muslim, bahkan untuk kehidupan akhiratnya setelah kematian. Baik pada terkabulnya do’a, amalan sholehnya dan kesehatan dirinya bisa dipengaruhi dari makanan yang ia konsumsi setiap harinya. Oleh karena itu, seorang muslim begitu urgent untuk mempelajari halal dan haramnya makanan. Dan yang kita bahas kali ini adalah seputar pengaruh makanan yang haram bagi diri kita. Moga bermanfaat.

Pertama: Makanan haram mempengaruhi do’a

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Sa’ad,

أطب مطعمك تكن مستجاب الدعوة

“Perbaikilah makananmu, maka do’amu akan mustajab.” (HR. Thobroni dalam Ash Shoghir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if jiddan sebagaimana dalam As Silsilah Adh Dho’ifah 1812)

Ada yang bertanya kepada Sa’ad bin Abi Waqqosh,

تُستجابُ دعوتُك من بين أصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ فقال : ما رفعتُ إلى فمي لقمةً إلا وأنا عالمٌ من أين مجيئُها ، ومن أين خرجت .

“Apa yang membuat do’amu mudah dikabulkan dibanding para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya?” “Saya  tidaklah memasukkan satu suapan ke dalam mulutku melainkan saya mengetahui dari manakah datangnya dan dari mana akan keluar,” jawab Sa’ad.

Dari Wahb bin Munabbih, ia berkata,

من سرَّه أنْ يستجيب الله دعوته ، فليُطِب طُعمته

“Siapa yang bahagia do’anya dikabulkan oleh Allah, maka perbaikilah makanannya.”

Dari Sahl bin ‘Abdillah, ia berkata,

من أكل الحلال أربعين يوماً  أُجيبَت دعوتُه

“Barangsiapa memakan makanan halal selama 40 hari, maka do’anya akan mudah dikabulkan.”

Yusuf bin Asbath berkata,

بلغنا أنَّ دعاءَ العبد يحبس عن السماوات بسوءِ المطعم .

“Telah sampai pada kami bahwa do’a seorang hamba tertahan di langit karena sebab makanan jelek (haram) yang ia konsumsi.”

Gemar melakukan ketaatan secara umum, sebenarnya adalah jalan mudah terkabulnya do’a. Sehingga tidak terbatas pada mengonsumsi makanan yang halal, namun segala ketaatan akan memudahkan terkabulnya do’a. Sebaliknya kemaksiatan menjadi sebab penghalang terkabulnya do’a.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Melakukan ketaatan memudahkan terkabulnya do’a. Oleh karenanya pada kisah tiga orang  yang masuk dan tertutup dalam suatu goa, batu besar yang menutupi mereka menjadi terbuka karena sebab amalan yang mereka sebut. Di mana mereka melakukan amalan tersebut ikhlas karena Allah Ta’ala. Mereka berdo’a pada Allah dengan menyebut amalan sholeh tersebut sehingga doa mereka pun terkabul.”

Wahb bin Munabbih berkata,

العملُ الصالحُ يبلغ الدعاء ، ثم تلا قوله تعالى : { إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُه }

“Amalan sholeh akan memudahkan tersampainya (terkabulnya) do’a. Lalu beliau membaca firman Allah Ta’ala, “Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10)

Dari ‘Umar, ia berkata,

بالورع عما حرَّم الله يقبلُ الله الدعاء والتسبيحَ

“Dengan sikap waro’ (hati-hati) terhadap larangan Allah, Dia akan mudah mengabulkan do’a dan memperkanankan tasbih (dzikir subhanallah).”

Sebagian salaf berkata,

لا تستبطئ الإجابة ، وقد سددتَ طرقها بالمعاص

“Janganlah engkau memperlambat terkabulnya do’a dengan engkau menempuh jalan maksiat.” (Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, 1: 275-276)

Kedua: Rizki dan makanan halal mewariskan amalan sholeh

Rizki dan makanan yang halal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal shaleh. Buktinya adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mu’minun: 51). Sa’id bin Jubair dan Adh Dhohak mengatakan bahwa yang dimaksud makanan yang thoyyib adalah makanan yang halal (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10: 126).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam untuk memakan makanan yang halal dan beramal sholeh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. Oleh karena itu, para Nabi benar-benar memperhatikan bagaimana memperoleh yang halal. Para Nabi mencontohkan pada kita kebaikan dengan perkataan, amalan, teladan dan nasehat. Semoga Allah memberi pada mereka balasan karena telah member contoh yang baik pada para hamba.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 126).

Bila selama ini kita merasa malas dan berat untuk beramal? Alangkah baiknya bila kita mengoreksi kembali makanan dan minuman yang masuk ke perut kita. Jangan-jangan ada yang perlu ditinjau ulang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْخَيْرَ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ أَوَ خَيْرٌ هُوَ

“Sesungguhnya yang baik tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan. Namun benarkah harta benda itu kebaikan yang sejati?”  (HR. Bukhari no. 2842 dan Muslim no. 1052)

Ketiga: Makanan halal bisa sebagai pencegah dan penawar berbagai penyakit

Allah Ta’ala berfirman,

وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang hanii’ (baik) lagi marii-a (baik akibatnya).” (QS. An Nisa’: 4).

Al Qurthubi menukilkan dari sebagian ulama’ tafsir bahwa maksud firman Allah Ta’ala “هَنِيئًا مَرِيئًا” adalah, “Hanii’ ialah yang baik lagi enak dimakan dan tidak memiliki efek negatif. Sedangkan marii-a ialah yang tidak menimbulkan efek samping pasca dimakan, mudah dicerna dan tidak menimbulkan peyakit atau gangguan.” (Tafsir Al Qurthubi, 5:27). Tentu saja makanan yang haram menimbulkan efek samping ketika dikonsumsi. Oleh karenanya, jika kita sering mengidap berbagai macam penyakit, koreksilah makanan kita. Sesungguhnya yang baik tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.

Keempat: Di akhirat, neraka lebih pantas menyantap jasad yang tumbuh dari yang haram

Dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban 11: 315, Al Hakim dalam mustadroknya 4: 141. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 4519)

Lihatlah begitu bahayanya mengonsumsi makanan haram dan dampak dari pekerjaan yang tidak halal sehingga mempengaruhi do’a, kesehatan, amalan kebaikan, dan terakhir, mendapatkan siksaan di akhirat dari daging yang berasal dari yang haram.

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

[Allahummak-finaa bi halaalika ‘an haroomika, wa agh-ninaa bi fadh-lika ‘amman siwaak]

“Ya Allah, limpahkanlah kecukupan kepada kami dengan rizqi-Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan uluran tangan selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1: 153. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.[1]

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 17 Shafar 1433 H

Artikel Kajian Umum di Dammam, KSA, Jum’at 19 Shafar 1433 H


[1] Sebagian tulisan di atas adalah faedah dari tulisan Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi di Majalah Pengusaha Muslim.

Sumber https://rumaysho.com/2185-pengaruh-makanan-yang-haram.html

Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan Hidup

Orang yang berpikiran maju dan produktif akan paham bahwa kecanduan bermain game itu akan memusnahkan waktu mereka. Semua orang sudah tahu bahwa bermain game adalah suatu hal yang tidak baik. Orang tua tidak suka apabila anaknya kecanduan main game. Para guru dan pendidik pun selalu memperingatkan generasi muda akan kecanduan game. Berikut beberapa efek negatif kecanduan game, misalnya:

  1. Lama-kelamaan akan menyebabkan kecanduan sehingga akan melalaikan dari tugas dan kewajibannya
  2. Melakukan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat
  3. Menghabiskan waktu di depan permainan game
  4. Menjadi tertutup dan terbatas komunikasi dengan dunia nyata karena terlalu fokus dengan game
  5. Ada beberapa madharat game pada umumnya semisal memperlihatkan aurat, lagu dan musik serta ungkapan dan kalimat yang dilarang syariat atau hal-hal yang memperlihatkan sesuatu yang tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dan fasik

Kecanduan game itu benar-benar melakukan hal yang sia-sia

Kita dianjurkan agar mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, apabila tidak, maka kita pasti akan mengisi waktu kita dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan hal yang negatif.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan sebuah kaidah emas,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, PASTI akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi hal. 156)

Termasuk kebaikan bagi seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya baik dunia maupun akhirat, sedangkan bermain game umumnya tidak bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan dalam islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi )

Kecanduan game berarti tidak menghargai waktu yang sangat berharga

Allah Ta’ala bersumpah dalam Al-Quran dengan menggunakan waktu beberapa kali dan beberapa surat Al-Quran. Misalnya “wal-ashri” (demi masa), “wad-dhuha” (demi waktu dhuha), “wal-lail” (demi waktu malam) dan lain-lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa waktu ini sangat penting dan kita harus menyadari betul hal ini, sedangkan manusia secara umum lalai akan hal ini. Perhatikan hadits berikut,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)

Pepatah Arab yang menggambarkan pentingnya waktu,

اَلْوَقْتُ أَنْفَاسٌ لَا تَعُوْدُ

“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”

Orang sukses dunia-akhirat akan sangat menyesal jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faidah. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

ﻣَﺎ ﻧَﺪِﻣْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻧَﺪَﻣِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﻮْﻡٍ ﻏَﺮَﺑَﺖْ ﴰَﺴْﻪُ ﻧَﻘَﺺَ ﻓِﻴْﻪِ ﺃَﺟَﻠِﻲ ﻭَﱂَ ْﻳَﺰِﺩْ ﻓِﻴْﻪِ ﻋَﻤَﻠِﻲ

“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.” (Lihat Miftahul Afkar)

Mereka juga pelit dengan waktu mereka, Hasan Al-Bashri rahimahullah berkat,

أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دِرْهَمِهِ

“Aku menjumpai beberapa kaum, salah satu dari mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) dari pada dirham (harta) mereka” (Al-‘Umru was Syaib no. 85)

Hendaknya kita mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, tugas kita sangat banyak sedangkan waktu ini sangat sedikit, tidak layak bagi seorang muslim menghabiskan waktu yang sangat berharga dengan bermain game yang tidak bermanfaat.

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/45161-kecanduan-game-itu-memusnahkan-waktu-dan-keberkahan-hidup.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Menolak Kebenaran dan Merendahkan Orang Lain, Itulah Sombong

Sombong ada dua jenis:

Menolak kebenaran.
Merasa lebih baik di hadapan orang lain, atau merendahkan mereka.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi -shallallahu’alaihiwasallam- di dalam sabdanya:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran merendahkan manusia.” (HR. Muslim)

Menolak kebenaran digolongkan sebagai wujud dari sombong karena, hakikat kesombongan adalah perasaan lebih tinggi dan lebih sempurna. Orang yang menolak kebenaran dia sedang merasa lebih tinggi dan lebih sempurna dari kebenaran yang sampai kepadanya. Demikian pula merendahkan orang lain disebut sombong karena seorang tidaklah merendahkan orang lain kecuali karena merasa lebih sempurna dan lebih baik dari yang lain.

Syekh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menerangkan dua model sombong ini:

وبهذا التفسير الجامع الَّذِي ذكره النَّبِيُّ يتضح هذا المعنى غاية الاتضاح؛ فإنه جعل الكبر نوعين:

كبر النوع الأول: على الحق، وهو ردُّه وعدم قبوله. فكُلُّ مَن ردَّ الحقِّ؛ فإِنَّه مستكبر عنه بحسب ما ردَّ مِنَ الحقِّ . وذلك أنه فرض على العباد أن يخضعوا

للحق الذي أرسل الله به رسله، وأنزل به كتبه.
فالمتكبرون عن الانقياد للرُّسُل بالكلية كُفَّارٌ مُخَلَّدُونَ فِي النَّارِ؛ فَإِنَّه جَاءَهم الحق على أيدي الرُّسُل مؤيَّدًا بالآيات والبراهين. فقام الكبر في قلوبهم مانعا، فرَدُّوه.


قال تعالى: ﴿وإِنَّ الَّذِينَ يُجدِلُونَ فِي ايتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَيْنِ أَنَّهُمْ إِن في صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبَرُ مَا هُم بِلِغِيهِ ﴾ [غافر : ٥٦]
وأمَّا المُتكبرون عن الانقياد لبعض الحقِّ الَّذِي يخالف رأيهم وهواهم: فهم – وإن لم يكونوا كُفَّارًا – فإنَّ معهم من موجبات العقاب بحسب ما معهم من الكير وما تأثرُوا به من الامتناع عن قبول الحَقِّ الَّذِي تبين لهم بعد مجيء الشَّرع به، ولهذا أجمع العلماء أنَّ من استبانت له سُنَّة رسول الله لم يحل له أن يعدل عنها

تقول أحدٍ كائناً مِنَ النَّاسِ مَن كان.
وأما الكبر على الخلق وهو -النوع الثاني- فهو غمطهم واحتقارهم وذلك ناشئ عن عجب الإنسان بنفسه وتعاظمه عليه، فالعجب بالنفس يحمل على التكبر على

الخلق واحتقارهم والاستهزاء بهم وتنقيصهم بقوله وفعله

“Penjelasan Nabi tentang sombong ini sungguh sempurna,memberikan pemahaman sangat jelas terhadap makna sombong. Beliau membagi kesombongan menjadi dua jenis:

Yang pertama, sombong terhadap kebenaran, yang mencakup penolakan alias tidak mau menerima.
Setiap orang yang menolak kebenaran, dia sedang bersikap sombong, kadar besar kecilnya kesombongam sesuai dengan kadar penolakannya terhadap kebenaran tersebut. Hal ini karena diharapkan dari setiap hamba untuk patuh terhadap kebenaran yang Allah sampaikan melalui rasul-Nya dan wahyu-Nya dalam kitab-kitab-Nya.

Mereka yang menunjukkan sikap sombong dengan menolak sepenuhnya ajaran Rasul dianggap sebagai kafir yang akan menghuni Neraka selamanya. Meskipun kebenaran disampaikan kepada mereka melalui para Rasul dengan dukungan tanda-tanda dan bukti yang jelas, namun kesombongan muncul dalam hati mereka telah menghalangi dari kebenaran, sehingga mereka menolaknya. Allah ta’ala menyatakan,

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَالِغِيهِ ۚ

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat itu tidak diberi kekuasaan oleh Allah , sesungguhnya di dalam dada mereka hanya ada kesombongan yang tidak dapat mereka atasi.” (Ghafir: 56)

Adapun orang yang sombong dalam pada sebagian kebenaran, karena tidak sesuai dengan pandangan dan keinginannya, meskipun tidak sampai dihukumi kafir, mereka telah menerjang sebab-sebab datangnya hukuman Allah, yang sesuai dengan kadar kesombongan yang ada dan kadar penolakannya terhadap kebenaran yang telah jelas. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa bila hadis-hadis Rasulullah telah sampai pada siapapun dia, maka tidaklah halal baginya untuk beralih memilih pandangan yang lain sebagai pijakan.

Jenis kedua, sombong kepada makhluk.
Yaitu dengan merendahkan dan meremehkan makhluk tersebut. Sikap ini muncul karena seseorang merasa bangga (ujub) kepada dirinya dan menyombongkan diri. Sifat ujubnya seseorang akan tercermin dalam perilaku meremehkan dan mengolok-olok orang lain dengan kata-kata atau Tindakan))[1]

Dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, ada riwayat dengan derajat sanad yang Hasan

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا الشِّرْكُ قَدْ عَرَفْنَاهُ، فَمَا الْكِبْرُ ؟ هُوَ أَنْ يَكُونَ لأَحَدِنَا حُلَّةٌ يَلْبَسُهَا؟ قَالَ: «لا»، قِيلَ: «فَهُوَ أَنْ يَكُونَ لِأَحَدِنَا نَعْلَانِ حَسَنَتَانِ لَهُمَا شِرَاكَانِ

حَسَنَانِ؟ قَالَ: «لا»، قَالَ: فَهُوَ أَنْ يَكُونَ لِأَحَدِنَا دَابَّةٌ يَرْكَبُهَا؟ قَالَ: «لا»، قَالَ: «فَهُوَ أَنْ يَكُونَ لِأَحَدِنَا أَصْحَابٌ يَجْلِسُونَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: «لا»، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ،

فَمَا الْكِبْرُ؟» قَالَ: «سفَهُ الْحَقُّ، وَغَمْصُ النَّاسِ»،.

Seseorang bertanya kepada Rasulullah,

“Ya Rasulallah, tentang syirik kami telah mengetahui, namun tentang sombong, apa gerangan kesombongan itu? Apakah sombong itu seseorang yang mengenakan pakaian mewah?

“Bukan itu.” Jawab Nabi.

Orang ini bertanya kembali, “Ataukah seorang yang memiliki sepatu yang bagus?”

Nabi menjawab, “Bukan..”

“Atau seorang yang memiliki hewan tunggangan?”

Nabi menjawab, “Bukan..”

“Ataukah seorang yang memiliki teman yang mendampingi?”

Nabi menjawab, “Bukan..”

Kemudian orang tersebut bertanya kembali, “Lantas apa yang dimaksud sombong itu?”

Beliau menjelaskan, “Sombong adalah merendahkan kebenaran dan meremehkan orang lain.”[2]

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sombong terdiri dari dua jenis: menolak kebenaran meskipun posisi ia sebagai oran yang sangat minoritas. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits di Sahih Muslim:

«أَنَّ رَجُلًا عِندَ رَسُولِ اللهِ أَكَلَ بِشِمَالِهِ، فَقَالَ رسول الله : «كُلْ بِيَمِينِكَ، قَالَ: «لَا أَسْتَطِيعُ»، قَالَ النَّبِيُّ عليه الصلاة والسلام: «لَا اسْتَطَعْتَ، مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ،

فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فيه

Ada seorang yang makan dengan tangan kirinya. Lalu mendapatkan teguran dari Rasulullah. Kemudian orang tersebut menjawab,”Aku tak bisa makan dengan tangan kanan.”

Rasulullah berkata, “Kalau begitu kamu benar-benar tidak akan mampu. Allah-lah yang menghalanginya.”[3] (HR. Muslim)

Ini mencerminkan kesombongan, yang menjadi sumber ketidakmampuan untuk menerima kebenaran.

Kedua, keburukan dan dosa lahir dari kesombongan, membuat seseorang menolak kebenaran dan tidak mampu menerimanya. Banyak perbuatan yang muncul dari kesombongan, dan orang yang terjerumus ke dalamnya biasanya dikendalikan oleh kesombongan yang tumbuh dalam hatinya.

Dalam hadits yang disebutkan di atas, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyatakan,

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبرٍ»

“Tidak akan masuk surga siapa pun yang dalam hatinya ada kesombongan seberat atom.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kesombongan merupakan sifat yang tumbuh di dalam hati. Lalu akan tercermin dalam tindakan yang tampak, dengan sikap menolak kebenaran dan merendahkan masyarakat. Seseorang yang sombong meremehkan dan merendahkan orang lain, sambil memandang dirinya lebih baik dari mereka.

Kemudian hukuman yang akan menimpa orang yang sombong, sejenis dengan kesombongannya. Karena hukuman akan sejenis dengan dosa yang dikerjakan. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Tirmidzi, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذلُّ مِنْ كُلِّ مَكَان

“Pada hari kiamat, orang-orang sombong akan dikumpulkan seperti atom dalam gambaran manusia, dan kehinaan akan menyelimuti mereka dari segala arah.”[4]

Wallahulmuwaffiq….


[1] Bahjah Qulub Al Abrar, karya As Sa’di (hal 165-166).

[2] Riwayat Bukhari di Al Adab Al Mufrad (548), dan dishahihkan oleh Al Bani.

[3] Riwayat Muslim (2021).

[4] Riwayat Al Tirmidzi (2492), dan dihasankan Al Bani.

Referensi:

Al-Badr, Abdurazzaq bin Abdulmuhsin, (1444H). Ahadits Ishlah Al-Qulub, Dar Imam Muslim, Madinah, Saudi Arabia.

Bro and sis, klik link lengkapnya yah di sini:
https://remajaislam.com/3999-menolak-kebenaran-dan-merendahkan-orang-lain-itulah-sombong.html

Kisah Burung Beo yang Fasih Mengucapkan Laa Ilaha Illallah

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Ada sebuah kisah yang menarik, tentang seorang Syaikh yang begitu bersemangat mengajarkan tauhid dan akidah kepada murid-muridnya. Suatu hari salah seorang muridnya menghadiahkan seekor burung beo kepadanya karena mengetahui gurunya tersebut sangat menyukai merawat burung.

Hari demi hari berlalu, Syaikh tersebut sering mengajak burung beonya ke majelis ilmu bersamanya di mana dia terus mengajarkan tauhid, hingga burung beo itu fasih mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah dan diulang-ulangnya siang malam.

Tiba-tiba suatu hari para murid mendapati Syaikhnya menangis, lalu mereka bertanya apa yang membuatnya menangis. Syaikh pun menjawab, “Seekor kucing menyerang dan mencakar burung beo hingga mati.“

Mereka bertanya, “Apakah anda menangis hanya gara-gara ini wahai Syaikh? Kalau Anda berkenan, kami bisa memberikan burung beo lain yang lebih bagus.“

Syaikh menjawab, “Sungguh bukan itu yang membuatku menangis, tetapi keadaan burung beo ketika mati yang membuatku menangis. Ketika diterkam kucing, ia menjerit dan terus menjerit kesakitan hingga mati tanpa mengucapkan apapun, padahal selama hidupnya begitu sering mengucapkan kalimat tauhid. Ia lupa kalimat tauhid itu karena selama ini ia hanya mengucapkannya semata di lisan saja, tidak masuk ke hati dan mengantarkan kepada amalan.”

Kemudian Syaikh mengatakan, “Aku begitu takut kita seperti beo ini, ketika wafat kita tidak teringat sama sekali dengan kalimat syahadat Laa ilaha illallah, karena kita hanya mengucapkannya dengan lisan saja, tetapi tidak masuk ke hati karena tidak memahami makna dan hakikatnya serta tidak mengamalkannya.”

Kisah ini kami nukil dari artikel berbahasa Arab https://ar.islamway.net/micropost/1205

Saudaraku, kisah burung beo ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa meski kalimat Laa ilaha illallah adalah kalimat yang terus diucapkan tetapi jika tidak diresapi maknanya, tidak pula diamalkan dalam kehidupan, maka kalimat tersebut bisa jadi tidak memberi manfaat di akhir hayat dan tidak pula di kehidupan setelah kematian.

Burung beo memang tidak diberi beban taklif syariat, tetapi jika kejadian yang dialami oleh burung beo itu juga dialami oleh seorang manusia maka betapa meruginya dia. Kalimat yang sehari-hari dia ucapkan ternyata tidak menyelamatkannya di akhir hayat, sebabnya adalah karena kalimat itu hanya diucapkan di lisan saja tanpa dimasukkan ke dalam hati dan diwujudkan dalam amalan perbuatan. Maka tiada berguna.

Itulah kebiasaan orang munafik, walau lisan-lisan mereka mengucapkan kalimat-kalimat iman tetapi hatinya kosong dari iman. Allah berfirman,

يَقُولُونَ بِأَفۡوَٰهِهِم مَّا لَيۡسَ فِي قُلُوبِهِمۡۚ

“Mereka mengatakan dengan lisannya apa yang tidak sesuai dengan isi hatinya.” (QS. Ali Imran: 167)

Orang-orang munafik semasa hidupnya juga mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah, tetapi kalimat yang tidak datang dari hati itu ternyata tidak menyelamatkannya saat terhimpit oleh kubur. Wal ‘iyadzu billah. Orang kafir dan munafik ketika ditanya oleh malaikat di alam kubur, mereka berkata,

ها، ها، لا أدْري، سَمِعتُ النَّاسَ يَقولون شَيئًا فقُلْتُه

“Ha….ha….ha…. Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengucapkannya, maka aku pun ikut mengucapkannya.” (HR. Abu Dawud no. 4753)

Kalimat tauhid Laa ilaha illallah hanya bermanfaat jika diucapkan dengan jujur dari hati yang terdalam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari no. 128)

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

Carilah Jalan Terbaik, Lalu Fokuslah dan Bertahanlah!

Bismillah…

Hadis yang menjadi bahasan adalah hadis dari sahabat Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu’anhu-, beliau mengatakan, “Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- berpesan kepadaku, “Ya Ali, ucapkanlah doa ini…

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي

ALLAHUMMAH DINII WA SADDIDNII

“Ya Allah, berilah aku petunjuk dan ketepatan memilih petunjuk.”

Lalu Nabi melanjutkan sabdanya:

وَاذْكُرْ بالهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

“Ingat-ingatlah petunjukmu itu seperti kamu mengingat jalan, dan ketepatan itu seperti anak panah yang mengenai sasarannya.” (HR. Muslim)

____

Orang-orang sukses adalah mereka yang memiliki tujuan hidup lalu berusaha sungguh-sungguh untuk menggapainya. Dan coba anda perhatikan hadis ini, di dalam doa yang Nabi ajarkan kepada sahabat Ali itu menyebutkan dua hal yang amat penting, dua hal yang menjadi kunci seluruh kesuksesan dunia dan akhirat, yaitu Al-Hidayah dan As-Sadad.

Lantas apa itu Al-Hidayah dan apa itu As-Sadad?

Hidayah adalah petunjuk. Yaitu seorang yang mengetahui jalan untuk sampai kepada tujuan, itulah yang disebut hidayah.

Adapun sadad, ada dua makna yang diterangkan para ulama:

  1. Keistiqomahan (konsistensi) menempuh jalan hidayah yang dapat mengantarkan kepada tujuan.
  2. Ketepatan memilih jalan paling efektif efisien untuk sampai kepada tujuan.

Kedua makna sadad tersebut sebagaimana diterangkan oleh Imam An-Nawawi -rahimahullah- di dalam Syarah Shahih Muslim:

السداد هو الاستقامة، والقصد في الأمور

“As-Sadad adalah, istiqomah dan ketepatan jalan.”

Meminta kepada Allah kedua hal ini amatlah penting. Karena seseorang bisa saja mengetahui jalan akan tetapi tidak ada ketepatan dalam mencapai tujuan. Seperti seseorang yang memiliki tujuan besar dalam hidupnya dan ia tahu cara mencapainya, tetapi tidak mencapai tujuannya karena kesibukan, lemahnya tekad, atau tidak mengatur prioritas dengan baik. Sehingga dalam menuju keberhasilan, yang diperlukan bukan hanya menetapkan tujuan dan mengetahui cara mencapainya, tetapi juga betul-betul bisa mencapainya. Jika digabungkan,  hidayah dan sadad adalah keterampilan yang baik berkenaan tujuan hidup, termasuk di dalamnya menetapkan tujuan, merumuskannya, mengukurnya, dan membuat rencana pelaksanaan terukur untuk mencapainya.

Sebagai contoh, jika anda ingin sukses menjadi ulama, maka pelajarilah cara menjadi ulama, saat anda telah menemukannya, anda telah mendapat hidayah. Lalu Anda laksanakan berbagai cara itu agar bisa menjadi ulama, anda konsisten menjalankannya, tidak menoleh kanan dan kiri, di samping itu anda menemukan jalan yang paling tepat bagi situasi dan kemampuan anda untuk mencapai tujuan itu, nah saat itulah adalah mendapatkan sadad. Oleh karenanya Nabi permisalkan sadad itu seperti anak panah yang melesat lurus tepat pada sasaran. Anak panah itu terus melaju lurus ke depan, tidak berbelok kanan dan kiri apalagi menyimpang jalan, dan ia tepat mengenai sasaran, itulah sadad.

Lalu, ada sebuah pelajaran tentang menghayati doa dan menghadirkannya dalam setiap langkah ikhtiar:

وَاذْكُرْ بالهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

“Ingat-ingatlah petunjukmu itu seperti kamu mengingat jalan, dan ketepatan itu seperti anak panah yang mengenai sasarannya.”

Ibnul Malik Al-Hanafi -rahimahullah- menerangkan maknanya:

واذكر بالهدى؛ يعني: إذا سألت الهدى فأخطر بقلبك هدايتك للطريق، أي: طريق الدين، وسل الاستقامة فيه كما تتحرى ذلك في سلوك الطريق خوفاً من الضلال.

وبالسداد، أي: فأخطر بقلبك سؤال السداد في القول والفعل. وسداد السهم يعني كما أن السهم يقصد الهدف مستقيماً لا ينحرف يمينًا ولا يسارًا، فكذلك اسأل سدادًا لا يحيد بك عن الحق إلى الباطل البتة.

“Ingat-ingatlah petunjukitu” artinya: jika kamu meminta petunjuk, maka hadapkan hatimu pada petunjuk jalan, yaitu jalan agama, dan mintalah keteguhan di dalamnya sebagaimana kamu mencarinya dalam menempuh jalan, karena takut tersesat.

“Dan ingat-ingatlah as-sadad”, artinya: hadapkan hatimu pada permintaan ketepatan dalam ucapan dan tindakan. Dan ketepatan panah artinya sebagaimana panah mengarah pada target secara lurus tanpa menyimpang ke kanan atau kiri, begitu pula mintalah kesuksesan yang tidak menyimpangkanmu dari kebenaran ke kebatilan sama sekali.”

Pelajaran menarik selanjutnya dari hadis ini adalah, menghubungkan makna-makna agama yang bersifat abstrak – seperti hidayah dan lainnya – dengan hal-hal duniawi yang bersifat konkret, membuat lebih berkesan dalam jiwa, lebih kokoh terpatri, dan lebih mudah dipahami. Karena makna-makna tersebut didasarkan pada sesuatu yang terlihat dan dapat dirasakan.

Wallahulmuwaffiq.

Referensi:

Al-‘Ajin, Ali bin Ibrahum (2021), Al-Arba’un At-Tatwiriyyah; 40 Haditsan fi Tatwir Az-Dzat wa Asbab An-Najah. Naqatech.

Ibnu Malik Al-Hanafi, Muhammad bin ‘Izzuddin (w. 854). Syarah Mashobih As-Sunnah, Idaroh As-Tsaqofah Al-Islamiyyah 1433H/2012M)

Syarah Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi.


Ditulis oleh: Ahmad Anshori

Bro and sis, klik link lengkapnya yah di sini:
https://remajaislam.com/5038-carilah-jalan-terbaik-lalu-fokuslah-dan-bertahanlah.html

Ketika Hati Terlena

Gebyar kenikmatan dunia dengan segala keindahannya banyak membuat orang terlena. Bahkan, kenikmatan itu dipergunakan untuk bermaksiat dan berbuat dosa pada Allah Ta’ala. Harta yang berlimpah dimanfaatkan untuk bersenang-senang memenuhi hawa nafsu, wajah, dan tubuh yang memesona diumbar sedemikian rupa hingga membuat fitnah bagi lawan jenis. Jabatan dimanfaatkan untuk menambah pundi-pundi harta hingga gelar miliarder diraihnya. Kenapa mereka merasa nyaman dan tidak takut ancaman Ar-Rahman karena kemaksiatan dan durhaka pada-Nya.

Allah Ta’ala dengan rahmat-Nya memberi nikmat pada para hamba-Nya. Ini kasih sayang-Nya yang sering membuat orang-orang yang tidak takut siksa Allah tak menyadarinya hingga mereka terjerumus pada sikap sombong. Pernahkah mereka berpikir bila tiba-tiba Allah, Rabb Yang Maha Kuasa menimpakan siksa dan azab-Nya?

Dalam Musnad Ahmad, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika engkau melihat Allah melimpahkan sebagian dari dunia kepada seorang hamba karena dia melakukan kedurhakaan kepada-Nya menurut kehendak-Nya maka sesungguhnya ini merupakan istidraj.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat,

‘Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa  mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.’ (QS. Al-An’am : 44)” (Tafsir al-Qur`an al-‘Azhim, 3/316, Ibnu Katsir).

Orang yang beriman ketika diberi nikmat niscaya dia selalu bersyukur, baik dengan hatinya, lisannya memuji Allah Ta’ala dan berbagai kenikmatan itu dimanfaatkan di jalan yang diridhai Allah Ta’ala. Ini wujud kecintaan seseorang hamba kepada Rabbul ‘Izzati yang telah menganugerahi berbagai nikmat yang tak bisa dihitung karena sangat banyaknya. Sebagai orang mukmin, tentunya kita tak akan iri dengan berbagai kelebihan yang dilakukan orang-orang yang lalai dalam mengeksploitasi beragam nikmat di jalan yang menyimpang. Justru, kita merasa kasihan ketika mereka terus menerus tenggelam dalam kemaksiatan hingga ajal menjemput sebelum bertaubat. Kenapa Allah Ta’ala seolah membiarkan para pelaku dosa tanpa  laknat saat ini?

Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Di sinilah banyak orang terkecoh dan tertipu dalam memandang dosa karena mereka tidak melihat pengaruh dosa itu secara langsung, tidak membawa akibat apapun yang menimpa dirinya, atau akibat itu datang. Setelah sekian lama dan dia lalai, para ulama saja banyak terkecoh tentang hal ini, apalagi orang-orang yang bodoh. Orang yang terkecoh tidak sadar bahwa dosa itu menyebar setelah dibiarkan beberapa saat, seperti racun yang menyebar, seperti infeksi yang terus membengkak jika dibiarkan.” (Al-Jawabu al-Kafi Liman Sa’ala ‘an Ad-Dawa’ asy-Syafi’, hlm : 52, Ibnul Qayyim al-Jauziyah).

Semoga Allah Ta’ala selalu memberi hidayah dan taufik-Nya kepada orang yang senantiasa dalam ketaatan dan berbaik sangka pada segala ketetapan-Nya. Bukankah Allah Ta’ala selalu memanjakan hamba-Nya, sudahkah kita memperbesar takwa kita kepada-Nya? Dengan kebeningan nurani, keaslian naluri tentunya kita semakin yakin bahwa Allah Ta’ala akan memberi peringatan dan balasan sesuai amal yang dilakukan, baik itu di dunia maupun di akhirat.

Marilah kita syukuri segala karunia-Nya lahir dan batin karena Allah lah pencipta sebab dan Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

***

Referensi

  1. Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad at-Tamimi yang disusun Abu Isa Abdullah bin Salam, LBI al-Sari, Yogyakarta, 1426 H.
  2. Inul lebih dari Segelas Arak, Kathur Suhardi, Darul Falah, 2003.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Sumber: https://muslimah.or.id/10413-ketika-hati-terlena.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id