Jadilah Orang Yang Selalu Mengingat Allah Ta’ala, Kalau Tidak, Mayat Hidup Menjadi Permisalannya

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَثَلُ الذي يَذْكُرُ رَبَّهُ والذي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ والمَيِّتِ

“Permisalan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati” (HR. Al Bukhari, no. 6407).

Bisa jadi banyak sekali mayat hidup di sekitar kita, karena hatinya telah mati. Juga karena ia tak pernah ingat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak mau mengindahkan syariat-syariat-Nya yang mulia nan paripurna.

sumber : https://bimbinganislam.com/poster/jadilah-orang-yang-selalu-mengingat-allah-taala-kalau-tidak-mayat-hidup-menjadi-permisalannya/

Jangan Pernah Bosan Dalam Berdoa

Sebagai seorang insan yang menjalani kehidupan ini, kita senantiasa membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala, baik untuk mendapatkan perkara yang kita inginkan ataupun menghindari hal-hal yang tidak kita harapkan. Semuanya berada di dalam genggaman tangan Allah, yang Allah bolak-balikkan sesuai kehendakNya. Maka sudah sepantasnya kita senantiasa merengek-rengek di hadapan Allah untuk kedua hal di atas dan tidak bosan dalam berdoa kepadaNya.

Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya Jala’ul Afham: “Allah menyukai mereka yang merengek-rengek dalam berdoa. Maka dari itu, sebagai bukti kebenaran pengertian ini, Anda menemukan banyak di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi uraian kata-kata dan penyebutan setiap makna dengan katanya yang jelas serta tidak cukup hanya ditunjukkan secara implisit oleh kata yang lain. Contohnya seperti dalam hadis Ali radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Muslim dalam Sahih-nya (IV/2719):

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمَ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِله إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku perbuat, yang aku rahasiakan dan yang aku nampakkan, yang Engaku lebih mengetahuinya dariku. Engkau yang mendahulukan dan Engkau mengakhirkan, tiada Ilah selain Engkau.” (Di akhir riwayat Muslim “dan Engkau Maha Mampu atas segala sesuatu.” Bukhari juga meriwayatkannya, XI/ hadis no. 6398, 6399, keduanya dari Abu Musa Al-Asy’ari secara marfu’)

Diketahui, seandainya diucapkan, “Ampunilah segala dosa yang aku perbuat” tentu lebih ringkas. Namun kata-kata dalam hadis ini berada dalam konteks doa, merendahkan diri, dan menampakkan penghambaan serta kebutuhan. Sementara mengungkapkan dengan rinci berbagai hal yang ditaubati hamba lebih baik dan lebih memuaskan dari pada disingkat dan diringkas.

Demikian pula ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis lain:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، سِرَّهُ وَعَلَانِيَّتَهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang rahasia maupun yang nampak, yang awal maupun yang akhir.” (HR. Muslim hadits no. 483, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam sebuah hadis:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي، وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جَدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلَُ ذَلِكَ عِنْدِي

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, tindakan melampaui batasku dalam perkaraku dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Ya Allah, ampunilah kesungguhanku dan main-mainku, ketidak sengajaanku dan kesengajaanku, di mana semua itu ada pada diriku.” (HR. Bukhari XI/hadits no. 6398, 6399 dan Muslim IV/hadis no. 2719, dari Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

Perincian seperti ini banyak terjadi dalam doa-doa yang ma’tsur. Doa adalah wujud penghambaan pada Allah, kebutuhan padaNya, dan menghinakan diri di hadapanNya. Semakin hamba memperbanyaknya, memanjangkannya, mengulang-ngulangnya, menampakkannya, dan memvariasi kalimatnya hal itu semakin konkrit menunjukkan penghambaannya, penampakan kebutuhannya, kerendahan dirinya, dan keperluannya pada Allah. Itu lebih mendekatkan dirinya pada Rabb dan memperbesar pahalanya. Lain dengan makhluk, semakin sering Anda meminta dan mengulang-ngulang kebutuhanmu padanya, Anda membuatnya bosan, membenci Anda, dan Anda terhina di matanya. Namun semakin Anda tak meminta padanya, itu lebih ia hargai dan lebih ia sukai. Sedang Allah, setiap kali Anda meminta padaNya, Anda lebih dekat padaNya dan Dia lebih mencintai Anda. Semakin Anda merengek-rengek dalam berdoa, Dia bertambah mencintai Anda. Dan siapa tidak meminta padaNya, Dia murka padanya.” (Jala’ul Afham (Terjemah), halaman 352-353)

Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,

‎وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Ibnu Katsir mengatakan, “Ini merupakan anugerah dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala. Dia anjurkan hamba-hambaNya untuk berdoa, dan Dia menjamin terkabulnya doa tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri, “Wahai Dzat Yang lebih mencintai hamba-hambaNya yang meminta dan memperbanyak permintaan kepadaNya. Wahai Dzat Yang lebih membenci hamba-hambaNya yang tidak meminta kepadaNya. Dan tidak ada selain Engkau yang demikian wahai Rabb.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Senada dengan makna ini, seorang penyair berkata,

اللَّه يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْت سُؤَالَهُ

Allah benci bila kau tinggalkan permohonan kepadaNya

 وَبُنَيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Sedang anak Adam benci bila diminta (Tafsir Ibnu Katsir, VIII/59)

Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Jala’ul Afham (Keutamaan Shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Penerbit Al-Qowam, Sukoharjo
  • Shahih Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Terbitan Pustaka Ibnu Katsir Jakarta

Sumber: https://muslimah.or.id/18053-jangan-pernah-bosan-dalam-berdoa.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Bangga Menjadi Muslim

Dewasa ini, kita sering mendapatkan saudara-saudara kita – semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka – yang tidak berbangga dengan agamanya (yaitu tidak merasa gagah karena keutamaan dan keunggulan Islam). Sehingga sebagian pelajar muslim, misalnya, mungkin masih merasa minder ketika memakai celana di atas mata kaki (tidak isbal) di sekolahan mereka. Sebagian pemuda muslim minder dengan hari raya Islam, sehingga menambahkan hari raya-hari raya lainnya dalam Islam. Bahkan, ada diantara mereka yang ikut memperingati hari raya agama lain, Na’uudzubillahi min dzaalik.

Padahal, apabila kita melihat keutamaan Islam, tentu kita akan merasa bangga dengannya. Pada bahasan kali ini, penulis mengangkat tema “Bangga menjadi Muslim”, supaya menambah rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas nikmat Islam ini, tetap istiqomah di atas jalan-Nya, dan meninggalkan jalan-jalan selainnya.

Diantara Keutamaan-keutamaan Islam

Imam Bukhari dan Muslim membawakan hadits dari Thaariq bin Syihaab, dia berkata bahwasanya seorang yahudi berkata kepada ‘Umar bin Khattab (yang saat itu menjadi khalifah) radhiyallahu ‘anhu, “Wahai amirul mukminin, sebuah ayat dalam al-Quran yang kalian membacanya, seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ‘ied).” “Ayat apakah itu?,” tanya ‘Umar. Ia berkata, “(Ayat yang artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (QS. Al-Maidah: 3) ‘Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu, yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at. ” (Muttafaqun ‘alaih)

Demikianlah, seorang Yahudi mengetahui keutamaan Islam, dimana keutamaan Islam bisa dilihat (melalui ayat QS. Al-Maidah: 3 tersebut) dari beberapa tinjauan, diantaranya:

Ditinjau dari hakikat islam itu sendiri

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Allah telah mengabarkan kepada nabi-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, bahwasanya Dia telah menyempurnakan islam bagi mereka, sehingga mereka tidak akan membutuhkan tambahan selamanya. Dan Allah telah melengkapkannya, sehingga Dia tidak akan menguranginya selamanya. Dan Allah telah meridhainya, maka Dia tidak akan marah kepadanya selamanya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 14/2)

Ditinjau dari pemeluknya

Hal ini diambil dari firman Allah (artinya), “Dan Aku telah meridhai bagi kalian Islam sebagai agama” yang umum mencakup seluruh manusia. Oleh karena itu, Allah tidak menerima agama apapun — setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam — kecuali Islam. Hal ini merupakan keutamaan bagi seluruh pemeluknya.

Ditinjau dari kekekalan / keabadiannya

Agama-agama sebelum islam dikhususkan bagi waktu tertentu (terbatas) dan zaman yang telah Allah tentukan; kemudian Allah mengangkat hukumnya (naskh), dan menggantikannya dengan agama Islam. Sementara itu, agama islam kekal sampai hari kiamat. Bahkan, Nabi Isa ‘alaihissalam ketika turun pada akhir zaman, dia akan berhukum dengan syariat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat I’laamul Anaam bi Syarhi Kitaab Fadhlil Islaam, hal. 22 — 24).

Demikianlah agama kita tercinta ini. Sangat banyak dan jelas keutamaan-keutamaan yang terdapat di dalamnya, sehingga orang di luar Islampun juga mengakui keutamaan-keutamaannya.

Keutamaan islam ditinjau dari perbandingannya dengan agama-agama selainnya

Masih tentang keutamaan islam, untuk melengkapi bahasan tentang keutamaan Islam, penulis merasa perlu menambahkan bahasan khusus tentang keutamaan islam ditinjau dari perbandingannya dengan agama-agama selainnya. Keutamaan tersebut juga sangat banyak, diantaranya :

  1. Islam untuk semua umat manusia
    Islam merupakan agama yang Allah syariatkan untuk seluruh umat manusia. Hal tersebut berbeda dengan agama-agama samawi lainnya yang disyariatkan khusus untuk umat tertentu, misalkan Nashrani (baca : syariat Nabi Isa ‘alaihissalam) yang khusus diperuntukkan kepada Bani Israil saja.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku … nabi sebelumku diutus hanya untuk kaumnya, sedangkan aku diutus untuk manusia seluruhnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    Allah Ta’ala berfirman ketika mensifati Nabi Isa ‘alaihissalam (yang artinya), “Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil” (QS. Ali Imran : 49).
  2. Tanda kenabian yang kekal hingga akhir zaman
    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).
    Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan bahwa Dia yang akan menjaga al-Quran. Sementara untuk selain al-Quran, Dia berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Maidah: 44)
    Maka dalam ayat ini, Allah menyerahkan penjagaan kitab tersebut kepada mereka, kemudian mereka mengganti dan merubahnya. (lihat Tafsir al-Qurthubi : 5/10)

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menunjukkan kita kepada Islam, satu-satunya agama yang benar, dan memiliki banyak keutamaan.

Beberapa contoh aplikasi nyata dari bangga sebagai muslim

Bangga dengan hari raya islam

Diantara praktek nyata dari kebanggaan sebagai seorang muslim, adalah bangga dengan hari raya yang telah Allah pilihkan untuknya. Anas Radhiallahu ‘anhu berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu, yaitu hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri”. (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad dan selainnya).

Berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna rahimahullah: “Maksudnya : Karena hari Idul Fihtri dan hari raya Kurban ditetapkan dengan syariat Allah Ta’ala, merupakan pilihan Allah untuk mahluk-Nya dan karena keduanya mengikuti pelaksanaan dua rukun Islam yang agung yaitu Haji dan Puasa, serta didalamnya Allah mengampuni orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dan orang-orang yang berpuasa, dan Dia menebarkan rahmat-Nya kepada seluruh mahluk-Nya yang taat …. ” [Fathur Rabbani, 6/119] (Lihat Ahkaamul ‘Iidain fis Sunnahil Muthohharoh, hal 13 — 16)

Oleh karena itu, cukup bagi kita hari raya yang telah Allah pilihkan untuk kita, dan meninggalkan hari raya-hari raya selainnya, seperti tahun baru, dan selainnya.

Bangga dengan celana tidak isbal (khusus laki-laki)

Sebagian pelajar muslim mungkin masih merasa minder ketika memakai celana yang tidak isbal (yaitu celana di atas mata kaki) di sekolahan mereka. Sebagian mahasiswa muslim mungin juga minder ketika memakai celana seperti itu di kampus mereka. Demikian juga, sebagian karyawan muslim mungin juga minder ketika memakai celana seperti itu di kantor mereka.

Wahai saudaraku sekalian, ketahuilah bahwasanya memakai celana di atas mata kaki merupakan perkara yang disyariatkan dalam agama kita yang mulia ini. Oleh karena itu, berbanggalah kalian dengan model celana seperti itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Hadits-hadits yang melarang isbal sangat banyak, sehingga mencapai batas hadits mutawatir maknawi, diantaranya adalah hadits di atas. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih luas tentang masalah ini, silahkan merujuk ke kitab Hadduts Tsaub wal Uzroh wa Tahriimul Isbaal wa Libaasusy Syuhroh karya Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua istiqomah untuk senantiasa berada di jalan-Nya.

Penulis: Abu Ka’ab Prasetyo, S.Kom.

Artikel Buletin Al Hikmah dipublikasi ulang oleh Muslim.Or.Id
Sumber: https://muslim.or.id/19404-bangga-menjadi-muslim.html

Menjadi Manusia Produktif dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, produktivitas bukan hanya tentang menghasilkan banyak hal dalam waktu singkat, tetapi juga tentang bagaimana kita memanfaatkan waktu, tenaga, dan kemampuan untuk tujuan yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Seorang muslim yang produktif adalah seseorang yang mampu menyeimbangkan antara ibadah, pekerjaan, dan tanggung jawab sosial. Artikel ini akan membahas bagaimana seorang muslim dapat menjadi produktif dengan berlandaskan ajaran Islam.

Memanfaatkan waktu dengan baik

Sungguh Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang sifat orang-orang yang beruntung dan amal mereka yang terpuji di dalam Al-Quran. Allah Ta’ala juga mengabarkan tentang sifat-sifat orang yang merugi dan akhlaknya yang tercela. Hal itu terdapat pada ayat yang sangat banyak di dalam Al-Quran. Dan Allah Ta’ala telah mengumpulkannya dengan menyebutkannya di dalam surah Al-‘Ashr,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati untuk (menetapi) kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-Asr: 1-3)

Ayat ini mengingatkan bahwa waktu adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah. Produktivitas dalam Islam dimulai dari kemampuan memanfaatkan waktu dengan baik. Menghargai waktu berarti tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Oleh karena itu, seorang muslim harus mampu mengatur waktunya dengan bijak, baik dalam hal ibadah, pekerjaan, maupun kegiatan sosial.

Niat yang lurus dan ikhlas

Segala aktivitas seorang muslim, baik itu pekerjaan duniawi maupun ibadah, harus dimulai dengan niat yang benar dan ikhlas karena Allah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Produktivitas yang sejati dalam Islam bukan hanya tentang seberapa banyak yang bisa kita capai, tetapi juga bagaimana niat kita dalam melakukan aktivitas tersebut. Ketika seorang muslim berniat untuk bekerja keras dengan tujuan mencari rida Allah dan memberi manfaat bagi orang lain, maka setiap pekerjaannya akan bernilai ibadah.

Fokus terhadap akhirat, namun tidak melupakan kehidupan di dunia

Islam mengajarkan bahwa seorang muslim harus fokus untuk mengumpulkan bekal ke akhirat, namun tidak melupakan bagian dari urusannya di kehidupan dunia. Oleh karena itu, produktivitas tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi semata, tetapi juga dari persiapan menuju kehidupan setelah mati. Allah Ta’ala berfirman,

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qasas: 77)

Seorang muslim produktif adalah mereka yang fokus menunaikan kewajiban ibadah, seperti salat, puasa, dan sedekah, namun tidak melupakan tanggung jawab duniawi, seperti bekerja dan mencari nafkah. Bahkan, bekerja dan mencari nafkah pun diniatkan untuk ibadah dan agar tidak meminta-minta.

Mengembangkan potensi diri

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Produktivitas seorang muslim dapat tercermin dari semangatnya dalam menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia yang bermanfaat. Dengan ilmu yang dimiliki, seorang muslim dapat memberikan manfaat lebih besar bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan agamanya.

Berdoa dan bertawakal

Selain berusaha dengan maksimal, seorang muslim harus selalu menyertai usahanya dengan doa dan tawakal. Berdoa menunjukkan bahwa kita menyadari bahwa segala usaha dan hasilnya berada dalam kehendak Allah. Tawakal, atau berserah diri kepada Allah setelah berusaha, adalah bentuk kepasrahan seorang hamba yang yakin bahwa apapun hasilnya adalah yang terbaik dari Allah Ta’ala.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS Asy-Syarh: 7-8)

Menghindari kemalasan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengajarkan umatnya untuk menghindari sifat malas. Dalam sebuah doa, beliau memohon kepada Allah agar dijauhkan dari sifat malas,

اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَـمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْـِز وَاْلكَسَلِ .وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُـبْنِ وَالْبُخْـلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَـهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan dukacita; aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas; aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir; aku berlindung kepada-Mu dari tekanan utang dan kezaliman manusia.” (HR. Abu Dawud, 4: 353)

Seorang muslim yang produktif harus mampu melawan rasa malas dan senantiasa aktif dalam melakukan kebaikan. Rasa malas adalah penghalang utama dalam produktivitas, dan Islam mengajarkan pentingnya disiplin dan kerja keras.

Kesimpulan

Menjadi muslim yang produktif berarti menjadi seseorang yang mampu memanfaatkan waktu dan potensi yang diberikan oleh Allah dengan sebaik-baiknya. Produktivitas dalam Islam tidak hanya diukur dari seberapa banyak hal yang bisa dicapai, tetapi juga dari bagaimana setiap aktivitas yang dilakukan membawa manfaat dan bernilai ibadah. Dengan niat yang lurus, usaha yang maksimal, doa, dan tawakal kepada Allah, seorang muslim dapat mencapai produktivitas yang optimal, baik dalam urusan dunia, lebih-lebih dalam urusan akhirat.

Semoga Allah ‘Azza Wajalla menjaga hidayah dan keistikamahan kita, mengaruniakan keberkahan dan keikhlasan dalam setiap amal yang kita perbuat. Dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa dan meminta perlindungan pada Allah agar kita terhindar dari fitnah dan syubhat akhir zaman yang marak di sekitar lingkungan kita, terutama maksiat yang diumbar dan dosa-dosa yang ditampakkan. Semoga kita dimudahkan dan dimampukan dalam menjaga niat diri ikhlas menjadi insan yang semakin bertakwa dan mengimani setiap syariat dan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

***

Penulis: Kiki Dwi Setiabudi

Sumber: https://muslimah.or.id/19217-menjadi-manusia-produktif-dalam-perspektif-islam.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

WAKIL-WAKIL IBLIS DI MUKA BUMI

Kajian atau majelis ilmu yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah dakwah yang mengajak kepada jalan Allah ﷻ.

Barangsiapa menggembosinya, mencegahnya atau membubarkannya, maka sama saja ia menghalang-halangi manusia dari jalan Allah ﷻ.

Dan itulah yang diinginkan oleh Iblis, agar manusia tidak memahami agama dengan baik sehingga mudah disesatkan.

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

اعلم أن أول تلبيس إبليس عَلَى الناس صدهم عَنِ العلم لأن العلم نور فَإِذَا أطفا مصابيحهم خبطهم فِي الظُلَم كيف شاء

“Ketahuilah bahwa, perangkap iblis pertama atas manusia adalah menghalangi mereka menuntut ilmu agama, karena ilmu adalah cahaya, apabila telah padam lentera-lentera mereka maka dengan mudah Iblis menjerumuskan mereka dalam kegelapan.” [Talbis Iblis, Pasal Perangkap Iblis Terhadap Kaum Sufi: 283]

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

نواب ابليس في الارض وهم الذي يثبطون الناس عن طلب العلم والتفقه في الدين فهؤلاء أضر عليهم من شياطين الجن فانهم يحولون بين القلوب وبين هدى الله وطريقه

“Wakil-wakil iblis di muka bumi adalah mereka yang menghalang-halangi manusia menuntut ilmu dan berusaha memahami agama, maka mereka itu lebih berbahaya bagi manusia dari setan-setan jin, karena mereka memalingkan hati-hati manusia dari petunjuk Allah dan jalan-Nya.” [Miftah Daris Sa’adah, 1/160]

MENGHALANGI MANUSIA DARI JALAN ALLAH ﷻ ADALAH SIFAT ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN

Allah ﷻ berfirman,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: Wahai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi orang-orang yang telah beriman dari jalan Allah, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan? Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” [Ali Imron: 99]

Allah ﷻ juga berfirman,

ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ زِدْنَٰهُمْ عَذَابًا فَوْقَ ٱلْعَذَابِ بِمَا كَانُوا۟ يُفْسِدُونَ

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” [An-Nahl: 88]

Allah ﷻ juga berfirman,

وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْـَٔوْنَ عَنْهُ ۖ وَإِن يُهْلِكُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.” [Al-An’am: 26]

Read more https://taawundakwah.com/aqidah/wakil-wakil-iblis-di-muka-bumi/

Qana’ah: Kunci Syukur dalam Kehidupan

Di tengah gempuran fenomena flexing (pamer kekayaan) yang terjadi di zaman media sosial saat ini, keimanan seorang mukmin sangatlah diuji. Bagaimana tidak, di saat sebagian orang menghalalkan segala cara untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, seorang mukmin haruslah berpegang teguh pada syariat agamanya. Dia hanya mencari penghidupan pada jalan yang telah Allah halalkan baginya, meskipun terkadang jalan tersebut lebih sukar dan membutuhkan lebih banyak kesabaran.

Pada saat ini juga, rasa syukur seorang mukmin diuji. Bagaimana ia tetap menghaturkan rasa syukurnya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yang telah mengaruniakan kepadanya, bukan hanya nikmat berupa harta, namun juga nikmat keimanan, kesehatan, dan kemudahan dalam menjalankan syariat agamanya, yang kebanyakan manusia lalai dari nikmat-nikmat ini dan tenggelam dalam pembangkangannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka rasa qana’ah adalah kunci untuk menghadapi semua gempuran ujian ini. Merasa cukup dan menutup sikap tamak kepada manusia, tidak menengok apa yang ada di tangan mereka, serta tidak ambisius dalam mengumpulkan harta.

Dalam Shahih Muslim, dari ‘Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بمَا آتَاهُ

Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rizki yang cukup, dan Allah membuatnya qana’ah dengan apa yang Dia berikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1053, at-Tirmidzi no. 2347, Ibnu Majah no. 4138)

Dalam hadis dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْقَنَاعَةُ مَالٌ لَا يَنْفَذُ

Qana’ah adalah harta yang tidak habis.” (Dhaif sekali, diriwayatkan oleh al-Qudha’i dari Anas, dan hadis ini tercantum dalam Dha’if alJami’ no. 4140)

Kiat untuk meraih qana’ah

Pondasi untuk meraih sifat qana’ah adalah sabar, ilmu, dan amal. Dan ini terinci dalam lima perkara:

1) Seimbang dalam hidup dan mencukupkan diri dengan apa yang ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ

“Tidak akan miskin orang yang bersikap sederhana.” (HR. Ahmad no. 4270, dari Ibnu Mas’ud, Dha’if alJami’ no. 5100, 5101 dan asSilsilah adhDha’ifah no. 611)

 Dalam hadis yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلتَّدْبِيرُ نِصْفُ الْعَيْشِ

“Pengaturan adalah setengah penghidupan.” (HR. Ad-Dailami dan ath-Thabari dalam alMu’jam ashShagir dari hadis Anas dan al-Qudha’i dari hadis ‘Ali. Tercantum dalam asSilsilah adhDha’ifah no. 1560 dan Dha’if alJami’ ashShagir no. 2506)

2) Tidak mencemasi masa depan dan meyakini bahwa apa yang telah ditetapkan untuknya berupa rezeki akan datang kepadanya secara pasti. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوْعِي، أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ نَفْسٍ تَمُوْتُ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَأَجَلَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ، وَلَا يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتِبْطَاءَ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللهِ ، فَإِنَّهُ لَا يُدْرِكُ عِنْدَ اللهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam jiwaku bahwa sebuah jiwa tidak mati sebelum dia genap (menyelesaikan) ajal dan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan baguskanlah dalam mencari (rezeki). Jangan sampai terlambatnya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan mendurhakai Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak didapatkan, kecuali dengan ketaatan kepadaNya.” (Shahih alJami’ no. 2085 dan asSilsilah ashShahihah no. 2866)

3) Menyadari bahwa qana’ah memberikan kemuliaan, sebaliknya ketamakan dan ambisi mendatangkan kehinaan. Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Anda senantiasa mulia selama Anda berselimut sikap qana’ah.”

4) Hendaknya melihat kepada sejarah kehidupan para nabi, para kekasih Allah, dan orang-orang salih. Ini akan meringankan beban sabar di atas yang sedikit dan qana’ah terhadap yang sederhana. Ingatlah bahwa ketika ia menikmati makan, maka hewan itu makan lebih banyak. Dan ketika ia menikmati wanita, maka burung jantan lebih sering daripada dirinya.

5) Dalam perkara dunia, kita dituntut untuk senantiasa memandang kepada yang lebih rendah. Adapun dalam urusan agama, maka kita melihat kepada yang di atas hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang di atas kalian. Karena hal itu lebih patut bagi kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (HR. Bukhari no. 6490, Muslim no. 2963, at-Tirmidzi no. 2513, dan Ibnu Majah no. 4142)

Hendaknya setiap orang menyadari bahwa harta memiliki resiko yang berbahaya dan penawar racunnya adalah mengambil kadar yang cukup darinya dan memanfaatkan sisanya pada jalan-jalan kebaikan. Ingatlah bahwa kesabaran di dunia hanyalah hari-hari yang sedikit dalam rangka meraih kenikmatan abadi, seperti orang sakit yang sabar meminum obat yang pahit karena berharap kesembuhan bagi dirinya.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Maqdisy, Ibnu Qudamah. 2000. Mukhtashar MinhajuQashidin(I. Karimi, Terjemahan). Jakarta: Penerbit Darul Haq.

Sumber: https://muslimah.or.id/19336-qanaah-kunci-syukur-dalam-kehidupan.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Tangan Di Atas Lebih Baik Dari Tangan Di Bawah

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ

Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.”

TAKHRIJ HADITS.
Hadits ini muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri (no. 1427) dan Muslim no.1053 (124)

KOSA KATA HADITS.

اَلْيَدُ الْعُلْيَا : Tangan yang di atas (Orang yang memberi)
اَلْيَدُ السُّفْلَى : Tangan yang di bawah (orang yang menerima)
بِمَنْ تَعُوْلُ : Orang yang menjadi tanggunganmu, yaitu isteri, orang tua, anak-anak yang masih menjadi tanggungan orang tua dan pelayan (pembantu).
خَيْرٌ : Lebih baik.
ظَهْرُ غِنًى : Tidak membutuhkannya, lebih dari keperluan.
يَسْتَعْفِفْ : Menjaga kehormatan diri atau menahan diri dari meminta-minta.
يَسْتَغْنِي : Merasa cukup (dengan karunia Allâh).
SYARAH HADITS.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah

Yaitu orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima, karena pemberi berada di atas penerima, maka tangan dialah yang lebih tinggi sebagaimana yang disabdakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Al-Yadus Suflâ (tangan yang dibawah) memiliki beberapa pengertian:
Makna Pertama, artinya orang yang menerima, jadi maksudnya adalah orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima. Namun ini bukan berarti bahwa orang yang diberi tidak boleh menerima pemberian orang lain. Bila seseorang memberikan hadiah kepadanya, maka dia boleh menerimanya, seperti yang terjadi pada Shahabat yang mulia ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu ketika beliau Radhiyallahu anhu menolak pemberian dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

خُذْهُ، وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ، فَخُذْهُ، وَمَا لَا، فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

Ambillah pemberian ini! Harta yang datang kepadamu, sementara engkau tidak mengharapkan kedatangannya dan tidak juga memintanya, maka ambillah. Dan apa-apa yang tidak (diberikan kepadamu), maka jangan memperturutkan hawa nafsumu (untuk memperolehnya).”[1]

Demikian juga jika ada yang memberikan sedekah dan infak kepada orang miskin dan orang itu berhak menerima, maka boleh ia menerimanya.

Makna kedua, yaitu orang yang minta-minta, sebagaimana dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، اَلْيَدُ الْعُلْيَا هِيَ الْمُنْفِقَةُ، وَالسُّفْلَى هِيَ السَّائِلَةُ

Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas yaitu orang yang memberi infak dan tangan di bawah yaitu orang yang minta-minta.[2]

Makna yang kedua ini terlarang dalam syari’at bila seseorang tidak sangat membutuhkan, karena meminta-minta dalam syari’at Islam tidak boleh, kecuali sangat terpaksa. Ada beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang untuk meminta-minta, di antaranya sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّىٰ يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.[3]

Hadits ini merupakan ancaman keras yang menunjukkan bahwa meminta-minta kepada manusia tanpa ada kebutuhan itu hukumnya haram. Oleh karena itu, para Ulama mengatakan bahwa tidak halal bagi seseorang meminta sesuatu kepada manusia kecuali ketika darurat.

Ancaman dalam hadits di atas diperuntukkan bagi orang yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri, bukan karena kebutuhan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ

Barangsiapa meminta-minta (kepada orang lain) tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api.’”[4]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا ، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا ، فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

Barangsiapa meminta harta kepada orang lain untuk memperkaya diri, maka sungguh, ia hanyalah meminta bara api, maka silakan ia meminta sedikit atau banyak.[5]

Adapun meminta-minta karena adanya kebutuhan yang sangat mendesak, maka boleh karena terpaksa. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” [Adh-Dhuhâ/93:10]

Dan juga seperti dalam hadits Qâbishah yang panjang, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 1044) dan lainnya.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ

Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu

Yaitu saat ingin memberikan sesuatu, hendaknya manusia memulai dan memprioritaskan orang yang menjadi tanggungannya, yakni yang wajib ia nafkahi. Menafkahi keluarga lebih utama daripada bersedekah kepada orang miskin, karena menafkahi keluarga merupakan sedekah, menguatkan hubungan kekeluargaan, dan menjaga kesucian diri, maka itulah yang lebih utama. Mulailah dari dirimu! Lalu orang yang menjadi tanggunganmu. Berinfak untuk dirimu lebih utama daripada berinfak untuk selainnya, sebagaimana dalam hadits, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ

Mulailah dari dirimu, bersedekahlah untuknya, jika ada sisa, maka untuk keluargamu[6]

Dalam hadits di awal rubrik ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh umatnya untuk memulai pemberian nafkah dari keluarga. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِيْ رَقَبَةٍ، وَدِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ، وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعَظَمُهَا أَجْرًا الَّذِيْ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ.

Satu dinar yang engkau infaqkan di jalan Allâh, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), satu dinar yang engkau infakkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, maka yang lebih besar ganjarannya ialah satu dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu[7]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى

Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya

Artinya sedekah terbaik yang diberikan kepada sanak keluarga, fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan adalah sedekah yang berasal dari kelebihan harta setelah keperluan terpenuhi. Artinya, setelah dia memenuhi keperluan keluarganya secara wajar, baru kemudian kelebihannya disedekahkan kepada fakir miskin.

Hadits yang serupa dengan pembahasan ini yaitu hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا يَكُنْ عِنْدِيْ مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ،وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ


Apa saja kebaikan yang aku punya, aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari kejelekan, maka Allâh akan menjaganya. Barangsiapa merasa cukup (dengan karunia Allâh) maka Allâh akan mencukupinya. Barangsiapa melatih diri untuk bersabar, maka Allâh akan menjadikannya sabar. Dan tidaklah seseorang diberi sebuah pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada anugerah kesabaran.[8]

Hadits ini mengandung empat kalimat yang bermanfaat dan menyeluruh yaitu:

Kalimat Pertama :

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ

Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari kejelekan, maka Allâh akan menjaganya

 Kalimat Kedua :

ومَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ

Barangsiapa merasa cukup (dengan karunia Allâh) maka Allâh akan mencukupinya

Kedua kalimat di atas saling berkaitan, karena kesempurnaan penghambaan diri seorang hamba kepada Allâh Azza wa Jalla terletak dalam keikhlasannya kepada Allâh, takut, harap, dan bergantung kepada-Nya, tidak kepada makhluk. Oleh karena itu, wajib baginya untuk berusaha merealisasikan kesempurnaan tersebut, mengerjakan semua sebab dan perantara yang bisa mengantarkannya kepada kesempurnaan tersebut. Sehingga dia menjadi hamba Allâh yang sejati, bebas dari perbudakan seluruh makhluk. Dan itu didapat dengan mencurahkan jiwanya pada dua perkara;

Meninggalkan ketergantungan pada seluruh makhluk dengan menjauhkan diri dari apa-apa yang ada pada mereka. Tidak meminta kepada mereka dengan perkataan maupun keadaannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Umar Radhiyallahu anhu :


خُذْهُ، وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ، فَخُذْهُ، وَمَا لَا، فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ.

Ambillah pemberian ini. Harta yang datang kepadamu, sedang engkau tidak mengharapkan kedatangannya dan tidak juga memintanya, maka ambillah! Dan apa-apa yang tidak (diberikan kepadamu), maka jangan memperturutkan hawa nafsumu (untuk memperolehnya)[9]

Maka menghilangkan ketamakan dari dalam hati serta menjauhkan lisan dari meminta-minta demi menjaga diri dan menjauhkan diri dari pemberian makhluk serta menjauhkan diri ketergantungan hati terhadap mereka, merupakan faktor yang kuat untuk memperoleh ‘iffah (kesucian diri dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak halal atau tidak baik).

Merasa cukup dengan Allâh Azza wa Jalla , percaya dengan kecukupan-Nya, karena barangsiapa bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla , maka Allâh Azza wa Jalla akan mencukupinya. Inilah yang dimaksudkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:


وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allâh, niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya…” [Ath-Thalâq/65:3]

Potongan kalimat yang pertama yaitu sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “ Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya, maka Allâh akan menjaganya,” merupakan wasîlah (cara) untuk sampai kepada hal ini. Yaitu barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari apa-apa yang ada pada manusia dan apa-apa yang didapat dari mereka, maka itu mendorong dirinya untuk semakin bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla , berharap, semakin menguatkan keinginannya dalam (meraih) kebaikan dari Allâh Azza wa Jalla , dan berbaik sangka kepada Allâh serta percaya kepada-Nya. Allâh Azza wa Jalla bersama hamba-Nya yang berprasangka baik kepada-Nya; jika hamba tersebut berprasangka baik, maka itu yang dia dapat. Dan jika ia berprasangka buruk, maka itu yang dia dapat.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits bahwa Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ

Aku bersama prasangka hamba-Ku terhadap-Ku[10]

Masing-masing dari dua hal tersebut saling membangun dan saling menguatkan. Semakin kuat ketergantungannya kepada Allâh Azza wa Jalla , maka akan semakin lemah ketergantungannya kepada seluruh makhluk. Begitu juga sebaliknya, semakin kuat ketergantungan manusia kepada makhluk, maka semakin lemah ketergantungannya kepada Allâh Azza wa Jalla . Di antara do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu:

اللهم إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى

Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon kepadamu petunjuk, ketakwaan, kesucian (dijauhkan dari hal-hal yang tidak halal dan tidak baik), dan aku memohon kepada-Mu kecukupan (dijauhkan dari hal-hal yang tidak halal/tidak baik), dan aku memohon kepada-Mu kecukupan.[11]

Doa yang singkat ini telah mencakup seluruh kebaikan, yaitu:

Petunjuk : yaitu memohon hidayah ilmu yang bermanfaat.
Ketakwaan : Takwa kepada Allâh yaitu dengan mengerjakan amal-amal shalih dan meninggalkan segala hal yang haram. Inilah kebaikan agama.
Yang menyempurnakan itu semua adalah keshalihan hati dan ketenangannya yang dapat diraih dengan menjauhkan diri dari makhluk dan merasa cukup dengan Allâh Azza wa Jalla. Barangsiapa merasa cukup dengan Allâh Azza wa Jalla, maka dia adalah orang kaya yang sesungguhnya, walaupun penghasilannya sedikit. Karena kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yaitu kekayaan hati. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

 (Hakikat) kaya bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kaya (yang sebenarnya) adalah kaya hati (merasa ridha dan cukup dengan rezeki yang dikaruniakan)[12]

Dengan iffah (kesucian diri) dan merasa berkecukupan maka akan terwujud kehidupan yang baik bagi seorang hamba, nikmat dunia, dan qanâ’ah (merasa puas) atas apa yang Allâh berikan padanya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberikan rezeki yang cukup, dan dia merasa puas dengan apa yang Allâh berikan kepadanya[13]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

طُوْبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلَى الْإِسْلَامِ، وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا، وَقَنِعَ

Berbahagialah orang yang mendapat petunjuk untuk memeluk Islam, dan diberi rezeki yang cukup serta merasa puas (qana’ah)[14]

Orang yang merasa cukup dan qanâ’ah (merasa puas dengan apa yang Allâh karuniakan) –meskipun dia hanya mempunyai bekal dan makanan hari itu saja– maka seolah-olah ia memiliki dunia dan seisinya.

Kalimat ketiga:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ

Barang siapa yang melatih diri untuk bersabar, maka Allâh akan menjadikan dia sabar

Kemudian disebutkan dalam kalimat keempat  bahwa jika Allâh Azza wa Jalla memberikan kesabaran kepada seorang hamba, maka pemberian itu merupakan anugerah yang paling utama dan pertolongan yang paling luas serta paling agung. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allâh) dengan sabar dan shalat…” [Al-Baqarah/2:45], yaitu dalam setiap perkara kalian.

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allâh dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.”[An-Nahl/16:127]

Sabar, seperti halnya akhlak-akhlak terpuji lainnya, membutuhkan kesungguhan jiwa dan latihan. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melatih diri untuk bersabar,” yaitu orang yang mencurahkan jiwanya untuk bersabar, “Maka Allâh Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar,” yaitu Allâh akan menolongnya agar ia bisa bersabar.

Sabar itu merupakan pemberian yang paling agung, karena ia berkaitan dengan semua urusan seorang hamba dan sebagai penyempurnanya. Seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam segala keadaan selama hidupnya.


Seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam segala hal, di antaranya:

Dalam menjalankan ketaatan kepada Allâh sampai dia bisa mengerjakan dan menunaikannya
Sabar dalam menjauhkan maksiat kepada Allâh sampai dia bisa meninggalkannya karena Allâh Azza wa Jalla
Sabar atas takdir-takdir Allâh yang menyakitkan sampai dia tidak marah karenanya,
Bahkan seorang hamba membutuhkan sabar atas nikmat-nikmat Allâh dan hal-hal yang dicintai oleh jiwa, sehingga dia tidak membiarkan jiwanya tenggelam dalam kesenangan dan kegembiraan yang tercela, tetapi dia terus menyibukkannya dengan bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla .
Kesimpulannya, seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam setiap keadaannya. Dengan kesabaran, seorang hamba akan mendapat kemenangan. Allâh Azza wa Jalla menyebutkan tentang penghuni surga dalam firman-Nya :

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ ﴿٢٣﴾ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“…Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;(sambil mengucapkan), ‘Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.’ maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” [Ar-Ra’du/13: 23-24]

Begitu juga firman-Nya :

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا

Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka… [Al-Furqân/25:75]

Mereka mendapatkan surga berserta kenikmatannya dan mendapatkan tempat-tempat yang tinggi karena kesabaran. Seorang hamba harus meminta kepada Allâh Azza wa Jalla agar diselamatkan dari cobaan yang tidak diketahui akibatnya, namun jika cobaan itu datang kepadanya, maka kewajibannya adalah bersabar.

Dalam al-Qur’ân dan lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allâh Azza wa Jalla telah berjanji akan memberikan perkara-perkara yang tinggi dan mulia bagi orang-orang yang bersabar. Di antara perkara-perkara tersebut:

Allâh Azza wa Jalla berjanji akan menolong mereka dalam semua urusan. (Al-A’râf/7:137)
Allâh Azza wa Jalla bersama mereka dengan pertolongan, taufik, dan kelurusan dari-Nya (Al-Anfâl/8: 46)
Allâh Azza wa Jalla mencintai orang-orang yang bersabar. (Ali ‘Imrân/3:146)
Allâh Azza wa Jalla menguatkan hati dan kaki mereka, memberi ketenangan kepada mereka, memudahkan mereka untuk melakukan ketaatan dan menjaga mereka dari perselisihan.
Allâh Azza wa Jalla mengaruniakan kepada mereka shalawat, rahmat, dan hidayah ketika musibah menimpa mereka. (Al-Baqarah/2:155-157)
Allâh Azza wa Jalla meninggikan derajat mereka di dunia dan akhirat.
Allâh Azza wa Jalla menjanjikan kemenangan buat mereka, akan memberikan kemudahan, dan menjauhkan mereka dari kesulitan.
Allâh Azza wa Jalla menjanjikan kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan buat mereka. (Ali ‘Imrân/3:200)
Allâh Azza wa Jalla memberi mereka ganjaran tanpa perhitungan. (Az-Zumar/39:10)
Sabar itu awalnya sangat sulit, tetapi akhirnya mudah dan terpuji. Sebagaimana dikatakan:

وَالصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ               لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ

Sabar itu pahit rasanya seperti namanya
Tetapi akhirnya lebih manis daripada madu

FAWAA-ID.

Orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima.
Dianjurkan bersedekah dan berinfak kepada kaum Muslimin yang membutuhkan.
Minta-minta hukumnya haram dalam Islam.
Bila seseorang diberi sesuatu tanpa diminta, maka ia boleh menerimanya.
Seorang Muslim wajib memberi nafkah kepada orang yang berada dalam pemeliharaan, seperti isteri, anak, orang tua dan pembantu.
Dimakruhkan menyedekahkan apa yang masih dibutuhkan atau menyedekahkan seluruh apa yang dimilikinya, sehingga dia tidak terpaksa meminta-minta kepada orang lain.
Sebaik-baik sedekah yaitu sedekah yang diambilkan dari kelebihan harta setelah kebutuhan kita terpenuhi.
Memelihara diri dari meminta-minta dan merasa cukup dengan pemberian Allâh Azza wa Jalla dapat membuahkan rezeki yang baik dan jalan menuju kemuliaan.
Orang yang menjaga kehormatan dirinya (‘iffah), maka Allâh Azza wa Jalla akan menjaganya.
Orang-orang yang tidak meminta-minta kepada manusia, maka dia akan mulia.
Orang yang qanâ’ah (merasa puas dengan rezeki yang Allâh Azza wa Jalla karuniakan), dia adalah orang yang paling kaya.
Orang yang merasa cukup dengan rezeki yang Allâh karuniakan kepadanya, maka Allâh Azza wa Jalla akan mencukupinya.
Orang yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla wajib menghilangkan ketergantungan hatinya kepada makhluk. Dia wajib bergantung hanya kepada Allâh Azza wa Jalla .
Orang yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla wajib bertawakkal hanya kepada Allâh dan merasa cukup dengan rezeki yang Allâh karuniakan.
Seorang Mukmin wajib melatih dirinya untuk sabar.
Wajib sabar dalam melaksanakan ketaatan, sabar dalam menjauhkan dosa dan maksiat, serta sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian.
Pemberian yang paling baik yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada seorang hamba adalah kesabaran.
MARAAJI’:

Kutubussittah
Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.
Bahjatun Nâzhiriin Syarh Riyâdhis Shâlihî
Syarh Riyâdhis Shâlihîn, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
Bahjatu Qulûbil Abrâr fii Syarh Jawâmi’il Akhbâr, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di.
‘Idatush Shâbirîn wa Dzakhîratusy Syâkirîn, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVIII/1436H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Muttafaq ‘alaih: HR. Al-Bukhâri (no. 1473) dan Muslim (no. 1045 (110))
[2] Muttafaq ‘alaih: HR. Al-Bukhâri (no. 1429) dan Muslim (no. 1033), dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma.
[3] Muttafaq ‘alaih: HR. Al-Bukhâri (no. 1474) dan Muslim (no. 1040 (103)).
[4] Shahih: HR. Ahmad (IV/165), Ibnu Khuzaimah (no. 2446), dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (IV/15, no. 3506-3508). Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 6281), dari Hubsyi bin Junadah Radhiyallahu anhu
[5] Shahih: HR. Muslim (no. 1041), Ahmad (II/231), Ibnu Majah (no. 1838), Ibnu Abi Syaibah dalam al–Mushannaf (no. 10767), al-Baihaqi (IV/196), Abu Ya’la (no. 6061), dan Ibnu Hibbân (no. 3384-at-Ta’lîqâtul Hisân).
[6] Shahih: HR. Muslim (no. 997), dari Jâbir Radhiyallahu anhu
[7] Shahih:HR. Muslim(no. 995), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[8] Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhâri (no. 1469, 6470) dan Muslim (no. 1053 (124)) dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu
[9] Muttafaq ‘alaih: HR. Al-Bukhâri (no. 1473) dan Muslim (no. 1045 (110)).
[10] Muttafaq ‘alaih: HR.Al-Bukhâri (no. 7405, 7505) dan Muslim (no. 2675) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[11] Shahih: HR. Muslim (no. 2721), at-Tirmidzi (no. 3489), Ibnu Majah (no. 3832), dan Ahmad (I/416, 437), dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhuma
[12] Shahih: HR. Ahmad (II/243, 261, 315), Al-Bukhâri (no. 6446), Muslim (no. 1051), dan Ibnu Majah (no. 4137), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[13] Shahih: HR. Muslim (no. 1054) dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu
[14] Shahih: HR. Ahmad (VI/19), at-Tirmidzi (no. 2349), al-Hâkim (I/34, 35), ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabîr (XVIII/786, 787), dan selainnya dari Fadhâlah bin ‘Ubaid al-Anshâri Radhiyallahu anhu
Referensi : https://almanhaj.or.id/13036-tangan-di-atas-lebih-baik-dari-tangan-di-bawah.html

Muslim Itu Pantang Mengeluh dan Pantang Menyerah

Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an berfirman memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya. Ia berfirman,

إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)

Sungguh manusia diciptakan dengan membawa sifat keluh kesah saat tertimpa kemudaratan; dirinya akan kaget, tidak siap, dan hatinya seakan-akan copot karena rasa takut yang dahsyat, serta menyerah dari mendapat kebaikan setelah musibah yang menimpanya tersebut. Dan apabila dirinya mendapat kebaikan, maka ia menjadi amat kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain dan enggan menunaikan hak Allah yang ada padanya.

Allah Ta’ala berfirman menyampaikan betapa buruknya watak mengeluh dan mudah putus asa,

اِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

 “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Dari sini dapat kita pahami bahwa berkeluh kesah dan menyerah adalah watak buruk yang dimiliki oleh hampir semua dari kita. Sehingga terkadang tanpa kita sadari, kita pun melakukannya. Lalu, bagaimana hukum dari watak tersebut? Apakah hal itu dibenarkan oleh syariat kita ataukah terlarang?

Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang pun

Marilah kita jauhi sikap menentang ketentuan-ketentuan dan takdir-Nya, menggerutu atas keputusan-Nya kepada kita. Seorang muslim harus berserah diri pada apa yang Allah takdirkan dan putuskan, serta bersabar atas ketentuan dan ujian-Nya Ta’ala. Dengan mengetahui bahwa setiap ketetapan dan ketentuan-Nya bagi seorang mukmin tidak lain adalah kebaikan baginya, seorang muslim akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, ia akan bersyukur atas limpahan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, dan ia akan bersabar saat tertimpa ujian dan kesusahan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui seluruh kondisi hamba-Nya, Allah Maha Bijaksana dan Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya, maka diri kita akan jauh dari mengeluh dan berputus asa. Memiliki harapan besar akan pahala dan bersabar atas setiap kesusahan yang kita hadapi. Ingatlah wahai saudaraku, mungkin saja engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat engkau capai dengan amal saleh dan kebaikanmu. Akan tetapi, engkau akan mencapainya karena kesabaran dalam menghadapi ujian yang telah Allah berikan kepadamu.

Keutamaan sabar

Allah Ta’ala berwasiat di dalam Al-Qur’an,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisar At-Tafaasiir, menyebutkan, “Pada ayat 157, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada mereka, orang-orang yang bersabar, dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan mendapatkan rahmat dari Rabbnya. Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Merekalah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”

Dari satu ayat ini saja, mereka yang bersabar, maka Allah janjikan kepada mereka tiga keutamaan,

1) Mendapatkan ampunan Allah;

2) Mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya;

3) Mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala.

Sungguh tiga keutamaan ini sudah cukup bagi diri kita untuk senantiasa berusaha bersabar tatkala ujian dan cobaan datang menghampiri kita, tidak mengeluh apalagi menyerah atas takdir tersebut.

Agar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesah

Tatkala Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya, Allah Ta’ala mengecualikan beberapa orang yang aman dari watak buruk ini. Ia berfirman,

إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ * وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ * وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ * وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ

“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (mereka menegakkan salat lima waktu pada waktunya); dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (yaitu) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”  (QS. Al-Ma’arij: 22-28)

Yang pertama, wahai saudaraku adalah menjaga salat lima waktu, secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah masing-masing bagi wanita. Sungguh salat akan menjaga seseorang dari perangai dan watak buruk. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”  (QS. Al-Ankabut: 45)

Yang kedua, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada mereka yang tidak mampu.

Yang ketiga, beriman dengan hari kebangkitan dan hari pembalasan.

Yang keempat, merasa takut akan azab Allah Ta’ala.

Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka Insya Allah kita akan dituliskan sebagai hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dan tidak mudah mengeluh serta berputus asa dari rahmat-Nya.

Akhir kata, ingatlah selalu wahai saudaraku, tidaklah seorang hamba diberikan ujian oleh Allah Ta’ala kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan tidaklah Allah memberikan ujian dan rasa susah kecuali setelahnya akan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Ingatlah juga wahai saudaraku sekalian akan firman Allah Ta’ala,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)

Saat ujian itu datang menghampiri diri kita, ingatlah selalu bahwa Allahlah yang menakdirkan dan menghendakinya. Tetaplah beribadah dan menjaga kewajiban salat kita. Jangan sampai ujian yang datang tersebut justru menjadi pintu pembuka akan keburukan lainnya. Dari rasa malas, mengeluh, dan putus asa dari rahmat Allah. Wal ‘iyadzu billah.

Wallahu a’lam bissowab…

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/108728-muslim-itu-pantang-mengeluh-dan-pantang-menyerah.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Al-Quran dan Musik Tidak Bisa Bersatu

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

حب الكتاب وحب ألحان الغناء … في قلب عبد ليس يجتمعان

“Cinta Al-Quran dan cinta musik lagu tidak akan berkumpul di hati seorang hamba.” (Nuniyyah Ibnul Qayyim Hal. 368)

Karenanya bagi seseorang yang ingin dekat dengan Al-Quran, ingin menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidupnya. Terlebih ingin menghafalkan Al-Quran, maka ia harus berusaha meninggalkan musik dan tidak mendengarkan musik.

Bahkan ketika musik terdengar secara tidak sengaja bisa jadi dia segera berpaling meninggalkan tempat tersebut atau menutup telinga dan mengingkari dalam hati.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menutup telinga ketika mendengarkan musik seruling,

Nafi Maula ibnu Umar berkata,

سمعَ ابنُ عُمرَ مِزمارًا فوضعَ أصبُعَيْهِ في أذُنَيْهِ، وَنَأَى عَن الطَّريقِ وقالَ لي: يا نافعُ هل تسمَعُ شَيئًا ؟ قلتُ: لا، فرَفعَ أصبُعَيْهِ مِن أذُنَيْهِ وقالَ: كُنتُ معَ النَّبيِّ – صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ – وسمعَ مثلَ هذا وصنعَ مِثلَ هذا

Ibnu Umar mendengar suara seruling lalu ia meletakkan dua telunjuknya di telinganya dan menjauh dari jalan. Ia berkata kepadaku, “Hai Nafi apakah kamu masih mendengarnya?” Aku berkata, “Tidak.” Maka ia melepas jarinya dari telinganya dan berkata, “Dahulu aku bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam dan beliau mendengar sama dengan yang aku dengar dan beliau melakukan seperti apa yang aku lakukan.” (HR Abu Dawud no 4924)

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/al-quran-dan-musik-tidak-bisa-bersatu.html

Doa Terbaikku untuk Pemimpin dan Negeri Tercinta

Resah. Iya begitulah mungkin yang kita rasakan ketika mengikuti berita dan dinamika politik di negara kita akhir-akhir ini. Sebagian dari kita mungkin sampai tersulut emosinya. Namun, ingat saudaraku, kita tidak seharusnya melakukan ataupun mengatakan sesuatu yang tidak diridai Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah mengatakan, “Ahlus Sunnah tidak suka dan tidak rela dengan kezaliman dan kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa atau lainnya. Akan tetapi, cara mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa dan cara menasihati penguasa harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar salafus shalih.

Menjelek-jelekkan dan membeberkan aib penguasa, serta menyebutkan kekurangannya, menampakkan kebencian kepadanya di hadapan umum atau melalui media lainnya dan mengadakan provokasi, hal tersebut bukan cara yang benar. Bahkan, cara ini menyalahi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdosa karena menyalahi sunnah, menimbulkan kerusakan dan bahaya yang lebih besar, serta tidak ada manfaatnya. Orang yang berbuat demikian akan dihinakan Allah ‘Azza Wa Jalla pada hari kiamat.” (Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ahhal. 558)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِى الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang memuliakan penguasa di dunia, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan memuliakannya pada hari kiamat, dan barang siapa yang menghinakan penguasa di dunia, maka Allah akan hinakan dia pada hari kiamat.” [HR. Ahmad (V/42, 48-49)]

Di dalam hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا، فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلَّا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang tidak menyukai sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar terhadapnya. Sebab, tidaklah seorang manusia keluar dari penguasa lalu ia mati di atasnya, melainkan ia mati sebagaimana kondisi kematian jahiliyah.” (HR. Bukhari, no. 7053, 7054, 7143 dan Muslim, no. 1849)

Dari Zubair bin ‘Adi, ia mengatakan,

أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ: “اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانُ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ». سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami pernah mendatangi Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, kami mengutarakan kepadanya keluh-kesah kami tentang (perangai buruk) al–Hajjaj. Maka Anas radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ‘Bersabarlah kalian, karena tidaklah datang suatu zaman kepada kalian, melainkan sesudahnya itu lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai Rabb kalian. Aku (Anas) mendengar hadis ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.’” [HR. Bukhari no. 7068, at-Tirmidzi no. 2206, Ahmad (III/117, no. 12162), (III/132, no. 12347), dan (III/117, no. 12817), Abu Ya’ala (no. 4037), Ibnu Hibban dalam at–Ta’liqatul Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban no. 5921]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

… إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ

“..Setelahku nanti kalian akan menemukan atsarah (pemimpin-pemimpin yang lebih mementingkan dirinya sendiri), maka bersabarlah sampai berjumpa denganku di telaga haudh.” (HR. Bukhari no. 4330, Muslim no. 1061, Ahmad, IV/42 no. 16470, dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu)

Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata, “Apabila rakyat ingin selamat dari kezaliman pemimpin mereka, hendaknya mereka meninggalkan kezaliman itu juga.” (Lihat Syahrul ‘Aqidah athThahawiyyahhal. 543; takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki)

Jika umat Islam ingin selamat dari kezaliman para penguasa, maka hendaknya kaum muslimin bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hendaklah memperbaiki akidah dan mendidik diri dan keluarga di atas Islam yang benar. Hal ini sebagai penerapan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Yakinlah, Allah pasti akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong agama-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Imam al-Barbahari rahimahullah berkata, “Apabila engkau melihat seseorang mendoakan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa orang itu termasuk salah satu pengikut hawa nafsu. Namun, apabila engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwasannya ia termasuk Ahlus Sunnahinsya Allah. Berdasarkan perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah,

لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ قِيلَ لَهُ: يَا أَبَا عَلى فَسَر لَنَا هَذَا. قَالَ: إِذَا جَعَلْتُهَا فِي نَفْسِي لَمْ تَعْدُنِي، وَإِذَا جَعَلْتُهَا فِي السُّلْطَانِ صَلَحَ، فَصَلَحَ بِصَلَاحِهِ الْعِبَادُ وَالْبِلادُ

“Jikalau aku memiliki doa yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.” Ia ditanya, “Wahai Abu ‘Ali, jelaskan maksud ucapan tersebut?” Ia berkata, “Jika doa itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku. Namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.” (Lihat Syarhus Sunnah, hal. 113-114, no. 127; oleh Imam al- Barbahari, tahqiq dan ta’liq ‘Abdurrahman bin Ahmad al-Jumaizi, cet. V, Dar Al Minhaj, th. 1440)

Maka doakan kebaikan bagi pemimpin kita dan negeri ini, wahai saudaraku. Tetaplah berprasangka baik kepada Allah akan masa depan negeri ini. Bagaimanapun, saat ini kita masih diberikan kemudahan untuk menjalankan syariat Allah di negeri tercinta ini. Hal ini patut untuk kita syukuri dan kita ungkapkan rasa syukur itu dengan senantiasa mendoakan dengan doa terbaik bagi para pemimpin dan masa depan Indonesia.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Jawas, Yazid bin Abdul Qadir. 2022. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i.

Sumber: https://muslimah.or.id/19734-doa-terbaikku-untuk-pemimpin-dan-negeri-tercinta.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id