Angan-Angan Mereka Yang Telah Tiada

Angan-angan mereka yang telah mati ialah kembali ke dunia meski sejenak untuk menjadi orang shalih. Mereka ingin taat kepada Allah, dan memperbaiki segala kerusakan yang dahulu mereka perbuat. Mereka ingin berdzikir kepada Allah, bertasbih, atau bertahlil walau sekali saja. Namun mereka tidak lagi diijinkan untuk itu. Kematian serta-merta memupuskan segala angan-angan tersebut. Allah ta’ala berfirman mengenai mereka

>حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100)

Begitulah kondisi orang mati, mereka telah melihat akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka tahu pasti apa yang telah mereka perbuat dan apa yang mereka terima. Dahulu mereka demikian mudah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat mereka. Kini mereka sadar bahwa detik-detik dan menit-menit yang hilang tersebut sungguh tidak ternilai harganya.

Dahulu, kesempatan itu ada di depan mata, namun tidak mereka manfaatkan. Sekarang, mereka siap menebus kesempatan itu berapapun harganya! Sungguh tak terbayang alangkah ruginya dan alangkah besarnya penyesalan mereka..

Memang, saat manusia paling lalai terhadap nikmat Allah ialah ketika ia bergelimang di dalamnya. Ia tidak menyadari betapa besarnya kenikmatan tersebut, kecuali setelah kenikmatan itu tercabut darinya. Sebab itu, kita yang masih hidup sungguh berada dalam kenikmatan yang besar. Karenanya, jangan kita biarkan semenit pun berlalu tanpa ibadah walau sekedar mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ada dua orang Arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Hai Muhammad, siapakah lelaki yang terbaik?’ ‘Yang panjang umurnya dan baik amalnya.’ jawab Rasulullah. Kemudian yang satu lagi bertanya, ‘Sesungguhnya ajaran Islam terlampau banyak bagi kami, lalu adakah amalan yang mencakup banyak kebaikan yang dapat kami tekuni?’ ‘Usahakan agar lisanmu selalu basah dengan dzikrullah’, jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

Tidakkah pembaca tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memuji Allah saat bangun tidur, karena Dia telah menghidupkan kita setelah mati, dan mengijinkan kita untuk kembali mengingat-Nya? Benar, tidur memang identik dengan kematian. Saat tidur, manusia berhenti dari segala aktivitasnya dan acuh akan apa yang terjadi di sekelilingnya. Alangkah miripnya ia dengan orang mati, andai saja Allah tidak mengembalikan ruhnya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ

“Jika seorang terbangun hendaklah mengucapkan AL HAMDULILLAAHILLADZII ‘AAFAANII FII JASADII WA RADDA ‘ALAYYA RUUHII WA ADZINA LII BIDZIKRIHI. (Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku tubuhku, dan mengembalikan nyawa kepadaku, serta mengizinkanku untuk berdzikir kepadaNya).” (HR. Tirmidzi)

Sekarang kita masih mengenyam nikmatnya hidup, kita masih bisa menambah pahala dan menghapus dosa. Ingatlah bahwa suatu saat Anda akan tutup usia, dan semuanya menjadi angan-angan. Oleh karena itu, marilah kita wujudkan angan-angan itu mulai sekarang!

Ibrahim bin Yazid al-Abdi mengatakan, “Suatu ketika Riyah al Qaisy mendatangiku seraya berkata, ‘Hai Abu Ishaq –julukan Ibrahim-, ayo ikut bersamaku menemui penghuni akhirat dan marilah kita mengikat janji setia di samping mereka.” Lalu aku pun pergi bersamanya ke sebuah pemakaman. Kami duduk di samping salah satu kuburan di sama, kemudian Riyah berkata,

“Hai Abu Ishaq, kira-kira apakah yang diangankan oleh mayit ini jika ia diminta berangan-angan?”

“Demi Allah, ia pasti ingin dikembalikan ke dunia agar bisa taat kepada Allah dan memperbaiki amalnya,” jawabku.

“Nah, kita sekarang berada di dunia. Karenanya, marilah kita taat kepada Allah dan memperbaiki amal kita,” sahut Riyah.

Maka Riyah bangkit meninggalkan kuburan tersebut dan mulai bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ternyata tak lama berselang, ia dipanggil menghadap Allah, semoga Allah merahmatinya.

Saudaraku, jika Anda menziarahi pemakaman, carilah kuburan kosong dan duduklah di sampingnya. Perhatikan liang kubur yang sempit itu, dan bayangkan kalau Anda berada di sana ketika papan-papan kayu menutup tubuh Anda, lalu bongkahan tanah menimbun, kemudian sanak keluarga dan handai taulan pergi satu persatu. Anda terbaring sendirian dalam keheningan dan kegelapannya, tak ada teman di sana, dan tak ada yang Anda lihat selain amal Anda. Kiranya apa yang Anda damba-dambakan di saat menegangkan tersebut??

Bukankan Anda ingin kembali ke dunia supaya beramal shalih? Supaya shalat walau satu rakaat? Atau bertasbih dan berdzikir meski sekali?

Nah, sekaranglah waktunya…!!

Ibrahin At Taimi mengatakan, “Aku membayangkan tatkala diriku dicampakkan ke neraka, Lalu kumakan buah Zaqqum dan kuminum nanah, sedang tubuhku terkait dengan rantai dan belenggu. Saat itu kutanya diriku, “Apa yang kamu dambakan sekarang?” maka jawabnya, “Aku ingin kembali ke dunia dan beramal shalih,” maka aku berkata, “Engkau sedang berada dalam angan-anganmu sekarang, maka beramallah!” (Lihat Umniyat al Mauta)

Saudaraku, tatkala Anda ziarah kubur atau mengiring jenazah, janganlah menjadi orang yang lalai. Jangan sibukkan diri Anda dengan mengobrol, namun ingatlah angan-angan mereka yang terkubur di sekeliling Anda, merekalah orang-orang yang kini tertawan oleh amal perbuatan mereka.

Jika hawa nafsu mengajak Anda bermaksiat, ingatlah angan-angan mereka yang tiada. Mereka ingin dihidupkan lagi untuk taat kepada Allah, lalu mengapa Anda justru bermaksiat?

Jika Anda merasa lesu untuk beramal, ingatlah angan-angan mereka yang tiada…

Konon ar Rabi’ bin Khutsaim menggali kuburan di halaman rumahnya. Jika dia merasa hatinya mulai keras, ia letakkan belenggu di lehernya lalu berbaring dalam kuburan tersebut selama beberapa waktu, kemudian berteriak, “Ya Rabbi, kembalikan aku ke dunia agar aku beramal shalih!!” sembari mengulang-ulangnya. Setelah itu ia bangun dan berkata kepada dirinya, “Hai Rabi’, kini permintaanmu telah terkabul, maka beramallah sebelum tiba saat engkau meminta namun tak dijawab.” (Lihat Ihya’ Ulumuddin)

Disalin dari buku Andai Si Mati Bisa Bicara karangan Sufyan bin Fuad Baswedan dengan sedikit pengeditan.

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/2790-angan-angan-mereka-yang-telah-tiada.html

Sudah Tua Pun Masih Cinta Harta

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

قَلْبُ الشَّيْخِ شابٌّ علَى حُبِّ اثْنَتَيْنِ: طُولُ الحَياةِ، وحُبُّ المالِ

Hati orang yang sudah tua renta itu sama dengan hati pemuda dalam kecintaan pada dua perkara: [1] panjang usia [2] cinta harta” (HR. Muslim no. 1046).

Dalam Syarah Mausu’ah Durar Saniyah dijelaskan:

وفي الحَديثِ: أنَّ حُبَّ الدُّنيا وكَراهيةَ الموتِ يَتساوى فيه الشَّبابُ والشُّيوخُ

“Dalam hadits ini terdapat faedah bahwa kecintaan pada dunia dan kebencian pada kematian, kadarnya sama antara orang muda dengan orang tua”.

Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthani menjelaskan makna hadits di atas:

أن قلب الشيخ الكبير كامل الحب للمال محتكم في ذلك كاحتكام قوة الشباب في شبابه، وفيها ذم الحرص على الدنيا وحب المكاثرة بها، والرغبة فيها، ولايزال حريصاً على الدنيا حتى يموت

“Hati orang yang sudah tua renta tetap benar-benar cinta harta dan menancap kuat seperti kekuatan seorang pemuda. Dalam hadits ini ada ancaman bagi orang yang berambisi pada dunia, senang untuk menumpuk-numpuk dunia, dan senantiasa mengharap-harapkan dunia. Orang seperti ini akan terus berambisi pada dunia sampai ia mati” (Az Zakah fil Islam, hal.337).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menjelaskan hadits di atas:

والمقصود من هذا كله: الحذر من الانشغال بالمال، والفتنة بالمال، وأن المؤمن ينبغي أن يكون أكبر همه العمل للآخرة، وألا يُشغل بالدنيا وشهواتها؛ فهو لم يخلق لها

“Maksud dari semua hadits ini adalah agar tidak menyibukkan diri dengan harta. Dan waspada terhadap fitnah (godaan) harta. Seorang mukmin hendaknya ambisi terbesarnya adalah beramal untuk akhirat. Dan bukan menyibukkan diri dengan dunia dan semua syahwatnya. Karena ia tidak diciptakan untuk itu” (Az Zakah fil Islam, hal.337 – 338).

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Penulis: Yulian Purnama

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/14464-sudah-tua-pun-masih-cinta-harta.html

Waswas dari Setan

Pertanyaan:

Saya sering dikuasai rasa waswas. Apabila saya ingin melintasi sebuah jalan, rasa waswas itu menghantui saya hingga saya merasa bahwa jalan yang saya lalui salah, seharusnya lewat sisi yang lain. Ketika hendak makan, setan juga menyusupkan waswas pada diri saya bahwa makanan saya tidak sehat dan menimbulkan mudarat. Saya mohon nasihat Anda. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan balasan kebaikan kepada Anda.

Jawaban:

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab sebagai berikut.

Waswas itu berasal dari setan, sebagaimana firman Allah azza wa jalla,

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ١ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ٢ إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ ٣ مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ ٤

Katakanlah (ya Muhammad), “Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejelekan waswas al-khannas.” (an-Nas: 1—4)

Al-Khannas adalah setan.

Maka dari itu, wahai Saudaraku, Anda wajib bertaawudz kepada Allah azza wa jalla dari waswas tersebut serta berhati-hati dari tipu daya setan. Hendaknya pula Anda berketetapan hati dalam melakukan segala urusan Anda. Jika Anda melewati sebuah jalan, mantapkanlah. Terus Anda lalui hingga Anda memang mengetahui dengan yakin di jalan tersebut ada sesuatu yang akan mengganggu. Jika memang demikian, tinggalkanlah.

Demikian pula ketika memakan makanan. Jika Anda tidak tahu ada perkara yang membuat makanan tersebut diharamkan, makanlah serta tinggalkan waswas yang ada. Saat berwudhu juga demikian, terus kerjakan dan tinggalkan segala waswas yang mungkin membisikkan, “Anda tidak menyempurnakan wudhu”, “Anda belum melakukan ini dan itu.” Teruskan wudhu Anda selama Anda pandang telah menyempurnakannya. Lalu, pujilah Allah azza wa jalla. Demikian pula saat Anda mengerjakan shalat.

Hati-hatilah Anda dari waswas dalam segala sesuatu. Yakinlah bahwa itu dari setan. Apabila Anda mendapati suatu waswas dalam jiwa Anda, berlindunglah kepada Allah azza wa jalla dari setan serta teruskan apa yang sedang Anda lakukan. Berketetapan hatilah hingga membuat jengkel setan musuh Anda. Hingga akhirnya setan tidak dapat menguasai Anda, yang sebelumnya dia dapat melakukannya karena sikap lembek Anda kepadanya.

Kita mohon perlindungan kepada Allah azza wa jalla dari kejelekan dan tipu daya setan.”

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, hlm. 76)

sumber : Waswas dari Setan – Majalah Islam Asy-Syariah (asysyariah.com)

Fitnah Dunia Yang Menggoda

Fitnah dunia sungguh menggoda. Setan pun tak henti-hentinya menjerumuskan manusia agar sibuk dan larut dengan kehidupan dunia, sehingga lupa dengan adanya kehidupan akhirat. Marilah sejenak kita renungkan tentang hakikat kehidupan dunia agar kita tidak terjerumus dalam tipu dayanya.

Hakikat kehidupan dunia

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir ? “ (QS. Al-An’am: 32).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang hakikat kehidupan dunia dan akhirat. Hakikat kehidupan dunia adalah sekadar permainan dan senda gurau, permainan dengan anggota badan dan senda gurau dalam masalah hati . Hati akan menjadi bingung dan bimbang karena dunia. Jiwa pun akan berusaha memiliki sesuatu yang dicintai serta memiliki keinginan yang kuat di dalamnya. Akhirnya akan menyebabkan seorang hamba sibuk dengan dunia seperti anak-anak yang asyik dengan mainannya.

Adapun hakikat kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia. Bagi orang-orang yang bertakwa kehidupan akhirat lebih baik kondisinya maupun sifatnya, serta lebih kekal dan abadi. Di dalamnya terdapat segala sesuatu yang diinginkan oleh jiwa, menyenangkan dipandang mata, berupa kenikmatan yang bisa dirasakan oleh hati dan juga ruh. Di dalamnya banyak kesenangan dan sukacita. Itu semua tidak bisa dirasakan oleh setiap orang, namun hanya khusus untuk orang-orang bertakwa yang melakukan perintah-perintah Allah dan meninggalkan serta menjauhi larangan-Nya. Dengan kondisi demikan, tidakkah manusia mau berpikir? Tidakkah manusia mau menggunakan akalnya ? Hendaknya mereka menyadari manakah di antara kehidupan dunia dan akhirat yang lebih pantas untuk didahulukan. (Lihat Taisiirul Kariimir Rahman).

Wahai, saudaraku, ketahuilah bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu. Kehidupan di dunia mempunyai dua sifat :

  1. Kehidupan dunia sangat dekat dan pendek waktunya. Kehidupan di dunia ini singkat, dan kehidupan di dunia berlangsung sebelum kehidupan akhirat yang abadi.
  2. Dunia itu rendah dan hina kedudukannya. Kehidupan dunia adalah hina, tidak ada kebaikan yang hakiki di dalamnya.

Kenikmatan yang dirasakan di dunia hanyalah kenikmatan badan, bukan kenikmatan hati. Oleh karena itu ahlud dunya akan terhalang dari merasakan kenikmatan hati. Allah Ta’ala berfirman ;

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (An-Nahl : 97).

Dalam ayat ini Allah tegaskan bahwa kehidupan yang baik hanya akan didapatkan oleh orang yang bisa mengumpulkan dua sifat, yaitu beriman dan beramal shalih (Lihat Tafsir Surat Al An’am li Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin).

Jangan jadi budak dunia!

Di antara fitnah dunia yang banyak menjerumuskan manusia adalah harta. Betapa banyak manusia rela menghabiskan waktunya hanya untuk berburu harta. Bahkan tidak lagi peduli halal dan haram dalam mendapatkannya. Padahal Nabi kita telah mengingatkan agar kita tidak menjadi “budak harta”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ini, Nabi mendoakan celaka bagi hamba dinar dan yang lainnya. Seseorang disebut “hamba dinar” dan “hamba dirham” karena dia melakukan berbagai amal perbuatannya hanya semata-mata mencari harta benda. Seandainya tidak ada harta yang bisa diraih, maka dia tidak akan beramal. Harta bendalah yang menjadikan motivasinya untuk beramal. Oleh karena itulah digelari sebagai “hamba dinar”. Penyebutan dengan “hamba” menunjukkan bahwa hal ini termasuk perbuatan syirik, karena orang tersebut sedang menghambakan dirinya kepada selain Allah. (Lihat At Tamhid li Syarh Kitabi At Tauhid).

Dalam hadits di atas terdapat peringatan terhadap penghambaan kepada selain Allah, khususnya terhadap hal-hal yang fana seperti harta dan juga pakaian. Penghambaan kepada Allah akan membuahkan sikap ridho dan qona’ah. Adapun penghambaan kepada selain Allah akan menumbuhkan sikap pelit, bakhil, egois, dan tamak. Termasuk perbuatan tercela yaitu mengumpulkan dan memiliki segala sesuatu yang melebihi batas kebutuhan seorang hamba sehingga menyibukkan dari beribadah kepada Allah dan tidak digunakan dalam rangka ketaatan kepada-Nya. (Lihat Bahjatun Nadzirin Syarh Riyadhus Salihin).

Belajar hidup zuhud

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ

Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya. An Nawawi mengatakan hadits ini hasan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “ Zuhud adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat di akhirat, adapun sikap wara’ adalah meninggalkan perkara yang dkhawatirkan menimbulkan kemudharatan di akherat”.

Imam Ahmad membagi zuhud menjadi tiga macam :

  1. Meninggalkan perkara haram. Inilah zuhudnya kebanyakan orang.
  2. Meninggalkan berlebih-lebihan dalam perkara halal. Inilah zuhudnya orang-orang khusus.
  3. Meninggalkan hal-hal yang menyibukkan dari beribadah kepada Allah. Inilah zuhudnya orang-orang yang berlimu. (Dinukil dari Bahjatun Nadzirin Syarh Riyadhus Salihin)

Adapun yang dimaksud zuhud dengan yang dimiliki manusia adalah tidak memperhatikan apa yang dimiliki oleh orang lain. Dalam hadits di atas Nabi memotivasi agar bersikap zuhud dengan apa yang dimilik oleh orang lain, karena hal ini merupakan sebab kecintaan manusia kepada kita. (Lihat Syarh Arbain An Nawawi li Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin).

Semoga paparan ringkas ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang hakikat kehidupan dunia, sehingga kita terhindar dari fitnahnya. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

***

Penyusun : Adika Mianoki (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi)

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/25323-fitnah-dunia-yang-menggoda.html

Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Rasulullah

Dari Rifa’ah bin Raafi’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai mata pencaharian yang halal? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Amalan seseorang dengan tangannya dan setiap jual beli yang diberkahi.” (HR. Al-Bazzar dan disahihkan oleh Al-Hakim) [HR. Al-Bazzar, 9:183; Al-Hakim, 2:10; Ahmad, 4:141. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya].

📖 Faedah hadits

  1. Kita disuruh kerja, itulah yang namanya tawakal.
  2. Sahabat Nabi itu sangat semangat mencari kerja yang halal, bukan mencari kerja yang banyak penghasilannya.
  3. Pekerjaan seseorang dengan tangannya adalah pekerjaan yang paling asal, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan pekerjaan dengan tangan, lalu jual beli yang mabrur.
  4. Apa pekerjaan yang paling utama (paling bagus)? Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan katakan bahwa pekerjaan yang paling bagus adalah pekerjaan yang sesuai dengan keadaan setiap orang, dan saling mendukung antara mukmin yang satu dan lainnya.
  5. Bekerja lebih utama dari meminta-minta (mengemis).

1⃣ Yang pertama kali disinggung mengenai pekerjaan terbaik adalah pekerjaan dari hasil kerja tangan sendiri. Contoh pekerjaan dengan tangan adalah bercocok tanam, kerajinan, mengolah kayu, pandai besi, dan menulis. Lihat Minhah Al-‘Allam, 6:9.

2⃣ Mata pencaharian yang disebutkan kedua yang terbaik adalah jual beli yang mabrur.

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud jual beli yang mabrur adalah jual beli yang tidak ada sumpah dusta sekadar untuk melariskan dagangan, begitu pula yang selamat dari tindak penipuan. (Subul As-Salam, 5:8)

Sumber : https://rumaysho.com/26761-inilah-pekerjaan-terbaik-menurut-nabi-muhammad.html

Berbakti Pada Kedua Orang Tua

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya berbakti pada kedua orang tua merupakan kewajiban utama bahkan termasuk kewajiban yang paling utama, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menggandeng langsung dengan perintah untuk beribadah kepada -Nya semata, yang tiada sekutu bagi -Nya. Seperti yang telah kia ketahui bersama yaitu dalam sebuah ayat dalam kitab -Nya, Allah ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا [النساء: 36]

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan -Nya dengan sesuatu apapun. dan berbuat baiklah kepada dua orangtua”. [an-Nisaa’/4: 36].

Dalam kesempatan lain, Allah ta’ala juga berfirman dengan redaksi yang sama, namun lebih spesifik, yaitu perintah untuk beribadah kepada -Nya lalu digabungkan agar berbakti pada kedua orang tua:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ٢٣ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ  [الإسراء: 23-24]

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.[al-Israa’/17: 23-24].

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan pada kita selaku umatnya, bahwa berbuat baik pada kedua orang tua itu lebih baik dari amalan jihad di jalan -Nya. Sebagaimana dalam kabar yang shahih yang sampai pada kita. Yaitu sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا ». قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ». قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « ثُمَّ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Aku pernah bertanya kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah ta’ala?  Beliau menjawab: “Sholat tepat pada waktunya”. Kemudian amalan apa lagi? Tanyaku kembali. Beliau menjawab: “Berbuat baik pada kedua orang tua”. Lalu apa lagi? Tambahku lagi. Beliau bersabda: “Berjihad dijalan Allah”. HR Bukhari no: 527. Muslim no: 85.

Dalam kesempatan lain beliau juga menjelaskan hal yang sama, sebagaimana riwayat yang disebutkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

« جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Pernah ada seseorang yang datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk minta di ijinkan pergi berjihad. Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Ia, jawab orang tersebut. Nabi bersabda: “Pada kedua orang tuamulah hendaknya kamu berjihad”. HR Bukhari no: 3004. Muslim no: 2549.

Sedangkan dalam redaksi yang ada dalam riwayat Abu Dawud dijelaskan, Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuam menceritakan: “Orang itu berkata:

« جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَايِعُهُ قَالَ جِئْتُ لِأُبَايِعَكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ قَالَ فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا» [أخرجه أبو داود]

“Aku datang membai’atmu untuk hijrah dan telah aku tinggalkan kedua orang tuaku menangis”. Maka Nabi bersabda: “Kembalilah kepada kedua orang tuamu, lalu bikinlah dia senang sebagaimana engkau telah menjadikan keduanya menangis”. HR Abu Dawud no: 2528. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Abi Dawud 2/480-481 no: 2205.

Jumhur Ulama mengatakan: “Haram hukumnya berangkat jihad jikalau kedua orang tuanya atau salah satunya melarang untuk berangkat dengan catatan keduanya muslim, sebab berbakti pada keduanya hukum wajib ‘ain, sedangkan jihad hukum fardhu kifayah, adapun kalau jihadnya adalah wajib bagi tiap orang maka pada saat itu tidak membutuhkan ijin keduanya lagi”. [1]

Seorang ayah keutamaannya, seperti disebutkan dalam riwayat Tirmidzi, seperti tengah-tengah pintu surga. Seperti dalam haditsnya Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bawah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ» [أخرجه الترمذي]

“Seorang ayah ialah tengah-tengah pintu surga, terserah kalau kamu ingin, sia-siakan pintu tersebut atau kamu merawatnya”. HR at-Tirmidzi no: 1900. Beliau berkata hadits shahih.

Bahkan dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa allam akan merugi bagi siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya sampai tua lalu tidak menjadikan dirinya masuk surga. Seperti dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ » [أخرجه مسلم]

“Sungguh sangat merugi”, dan beliau mengucapkan tiga kali. Maka ditanyakan pada beliau: ‘Siapa wahai Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: “Orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya sampai tua kemudian tidak menjadikan dirinya masuk surga”.  HR Muslim no: 2551.

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla juga telah mengabarkan dalam firman -Nya bahwa salah satu sifat yang dimiliki oleh para Nabi -Nya ialah berbakti pada orang tuanya. Seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sebutkan dalam salah satu ayat -Nya tentang Nabi -Nya Yahya, Allah ta’ala berfirman:


وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا [ مريم: 14]

“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”. [Maryam/19: 14].

Dan menceritakan tentang Isa putera Maryam:

وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا [ مريم: 32]

“Dan berbakti kepada ibuku, dan –Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”. [Maryam/19: 32].

Kemudian, hak yang ada pada seorang ibu juga sangat jelas, bahkan dijelaskan dalam hadits yang mana lebih agung dari seorang ayah, dimana kedudukannya berada setelah hak Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya. Seperti yang tercantum dalam firman -Nya:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ [ لقمان: 14]

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya”. [Luqman/31: 14].

Lalu Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan alasannya kenapa, yaitu dorongan bagi anak-anaknya untuk memperhatikan wasiat yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan setelahnya, yaitu dalam lanjutan ayat ini:

حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ [ لقمان: 14]

“Ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah”. [Luqman/31: 14].

Yaitu lemah serta serba payah yang bertumpuk-tumpuk, mulai dari payahnya mengandung, ketika melahirkan kemudian merawatnya dan menyusui sebelum dirinya dewasa. Seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla gambarkan dalam firman -Nya:

وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ [لقمان: 14]

“Dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kalian kembali”.[Luqman/31: 14].[2]

Dalam sebuah hadits disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Pada suatu ketika ada seseorang yang datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sembari bertanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku gauli dengan baik? Beliau menjawab: “Ibumu”. Kemudian siapa lagi? Tanya kembali. Beliau menjawab: “Ibumu”. Lalu siapa lagi? Tambah lagi. Beliau menjawab: “Ibumu”. Kemudian siapa lagi? Tanya lagi orang tersebut. Nabi menjawab: “Baru ayahmu”. HR Bukhari no: 5971. Muslim no: 2548.

Diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dan Ibnu Majah sebuah hadits dari Mu’awiyah bin Jahimah radhiyallahu’anhuma. Beliau mengkisahkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أن جاهمة السلمي جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله إني كنت أردت الجهاد معك أبتغي بذلك وجه الله والدار الآخرة . قال: ( ويحك أحية أمك  ) قلت نعم . قال : ( ارجع فبرها ). –في لآخر الحديث: قال : « ويحك الزم رجلها فثم الجنة» [أخرجه النسائي]

“Jahimah pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya: “Ya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh aku ingin sekali berangkat jihad bersamamu, yang aku ingin mengharap wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla dan surga dengan amalan itu. Beliau bertanya balik: “Celaka kamu, apakah ibumu masih hidup? Ia, jawabnya. Beliau berkata: “Kembalilah pada ibu lalu berbakti padanya”. Dan disebutkan pada akhir hadits: “Celaka kamu, penuhilah kakinya (berbakti padanya) maka engkau akan mencium surga”. HR an-Nasa’i no: 3104. Ibnu Majah no: 2781. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan an-Nasa’i 2/651 no: 2908.

Mempergauli kedua orang tua dengan cara yang ma’ruf merupakan wasiat yang Allah Shubhanahu wa ta’alla cantumkan dalam kitab suci -Nya, walaupun kedua orang tuanya tersebut beda agama. Agar semakin jelas perhatikan firman Allah Ta’alla berikut ini:

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ  [ لقمان: 15]

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada -Ku”.  [Luqman/31: 15].

Hal itu juga diterapkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala di tanya oleh para sahabatnya, disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim sebuah hadits dari Asma binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

« قَدِمَتْ عَلَىَّ أُمِّى وَهِىَ مُشْرِكَةٌ فِى عَهْدِ قُرَيْشٍ إِذْ عَاهَدَهُمْ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدِمَتْ عَلَىَّ أُمِّى وَهْىَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّى قَالَ « نَعَمْ صِلِى أُمَّكِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Ibuku pernah datang berkunjung kepadaku sedangkan dia seorang yang masih musyrik, pada zamannya Quraisy. Maka aku datang kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapatnya. Saya katakan padanya: “Dan ibuku ingin untuk dikunjungi, apakah boleh aku menyambung hubungan dengannya? Beliau menjawab: “Ia, sambunglah hubungan bersama ibumu”. HR Bukhari no: 2620. Muslim no: 1003.

Seberapa besar upaya, tenaga, bantuan atau apapun jenisnya dari bentuk kebaikan, tetap saja seorang anak belum mampu mengembalikan kebaikan kedua orang tua padanya. Hal itu, seperti yang disinggung dalam sebuah hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدًا إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ » [أخرجه مسلم]

“Tidak akan mungkin seorang anak mampu membalas (kebaikan) orang tuanya sampai sekiranya ia menjumpai orang tuanya menjadi hamba sahaya lalu ia membeli dan membebaskannya (baru mencukupinya)”. HR Muslim no: 1510.

Cukup sebagai pemecut bagi kita untuk segera berbakti pada kedua orang tua, kalau fadhilahnya sampai menjadikan ridho Allah Shubhanahu wa ta’alla berada pada ridho kedua orang tua. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dari haditsnya Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رضي الرب في رضى الوالد وسخط الرب في سخط الوالد » [أخرجه الترمذي]

“Ridho Rabb berada pada ridho orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan kedua orang tua”. HR at-Tirmidzi no: 1899. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah 2/44 no: 516.

Durhaka Pada Orang Tua
Perbuatan yang satu ini, sangatlah jauh dari ajaran Islam, sebab durhaka pada orang tua yang telah merawat kita sejak kecil termasuk dosa besar dari dosa-dosa besar yang ada, karena ia dituntut untuk berbuat baik justru sebaliknya dia sama sekali tidak menunaikan haknya serta mengingkari kebaikan yang telah diberikan padanya.

Dan cukup hal itu membikin kita ngeri, kalau Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam saja menggandeng perbuatan nista ini dengan perbuatan syirik, ini menunjukan bahwa perilaku itu termasuk dosa yang paling besar. Lebih jelasnya, perhatikan sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Maukah kalian aku beritahu diantara dosa besar yang paling besar”. Beliau mengulangi tiga kali. Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam”. Beliau melanjutkan: “Menyekutukan Allah dan durhaka pada kedua orang tuanya”. HR Bukhari no: 2654. Muslim no: 87. Dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu.

Lebih mengerikan lagi, kalau dosa durhaka pada orang tua bisa sebagai penyebab pelakunya masuk ke dalam neraka. Sebagaimana dalam musnad Imam Ahmad, dimana beliau menyebutkan sebuah hadits dari Ubai bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ » [أخرجه أحمد]

“Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya, atau salah satunya. Kemudian dia masuk neraka setelah kematiannya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menjauhkan dari –Nya dan membinasakannya”. HR Ahmad 31/373 no: 19027.

Bentuk Berbakti Pada Kedua Orang Tua
Berbuat baik pada kedua orang tua caranya begitu banyak, bisa dengan berkorban menghadirkan kebaikan, berbuat baik dalam ucapan, tingkah laku, atau harta.

Contoh berlaku baik dalam ucapan: Berbicara pada keduanya dengan lemah lembut yang menunjukan penghormatannya. Sedangkan contoh dalam perilaku seperti turun langsung membantu pekerjaannya dengan badan sesuai kemampuanmu, atau membantu  kebutuhan yang diperlukan oleh keduanya, meringankan kebutuhan, mentaati keduanya selagi tidak membahayakan agama atau duniamu. Adapun contoh berlaku baik dengan harta seperti memberi tiap kebutuhan yang diperlukan tanpa pamrih, tidak mengungkit-ungkit pemberiannya, namun dia mengorbankan hartanya dan merasa senang jika pemberiannya diterima dan dimanfaatkan oleh keduanya. [3]

Termasuk bentuk berbuat baik pada orang tua setelah kematiannya ialah mendo’akan kebaikan pada keduanya. Seperti firman Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mengkisahkan Nabi -Nya Nuh ‘alaihi sallam:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ [ نوح: 28]

“Ya Tuhanku! ampunilah aku dan ibu bapakku”. [Nuh/71: 28].

Dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ» [أخرجه مسلم]

“Jika seorang insan meninggal dunia maka terputus selurah amalnya melainkan tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak sholeh yang mendo’akannya”. HR Muslim no: 1631.

Bisa juga dengan bersedekah atas nama keduanya. Sebagaimana hadits yang ada dalam Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

« أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ: نَعَمْ » [أخرجه مسلم]

“Pernah ada seseorang yang berkata pada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Sesungguhnya ibuku meninggal secara tiba-tiba, dan aku mengira kalau sekiranya sempat berbicara ia tentu ingin bersedekah, apakah ia bisa memperoleh pahala jikalau aku bersedekah atasnya? Beliau menjawab: “Ia”. HR Muslim no: 1004.

Salah satu cara berbakti setelah kematian keduanya ialah menyambung hubungan baik bersama teman-temannya dulu. Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah kisah dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Bahwa suatu ketika Abdullah bin Umar bertemu dengan seorang arab badui ditengah perjalanan safarnya ke Makah. Maka beliau memberi salam padanya, lalu memberi keledai yang sedang ia tunggangi, imamah yang sedang dipakai untuk menutupi kepalanya ia lepas lalu diberikan pada orang tersebut.

Ibnu Dinar -salah seorang yang menemaninya- berkata: ‘Maka kami tanya pada beliau: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kebaikan padamu. Sesungguhnya mereka hanya orang arab badui, yang sekiranya kalau diberi sudah merasa cukup walau sedikit’. Dan Abdullah bin Umar menjawab: “Sesungguhnya ayah orang ini adalah sahabat dekat Umar bin Khatab, sedangkan aku pernah mendengar langsung dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ» [أخرجه مسلم]

“Sesungguhnya berbakti pada orang tua yang paling utama ialah menyambung hubungan dengan keturunan sahabat dekat ayahnya”. HR Muslim no: 2552.

Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Ta’alla Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari  بر الوالدين Penulis  Syaikh Dr. Amin Abdullah Asy-Syaqawy, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]


Footnote
[1] Fathul Bari 6/140-141.
[2] Khutbah Fadhilatus Syaikh Ibnu Utsaimin 5/294.
[3] Khutbah Fadhilatus Syaikh Ibnu Utsaimin 5/296-297.


Referensi : https://almanhaj.or.id/59143-berbakti-pada-kedua-orang-tua.html

Catatan Amal Orang Yang Berdosa

Oleh
Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc MA

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun. [Al-Kahfi/18: 49]

TAFSIR RINGKAS
Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang suatu hari dimana amalan-amalan yang pernah dilakukan oleh manusia selama hidupnya akan diperlihatkan semuanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan diletakkanlah Kitab,” yaitu catatan kebaikan dan keburukan. Allâh Azza wa Jalla memberikan setiap orang catatannya masing-masing. Orang yang beriman mengambil Kitab tersebut dengan tangan kanannya, sebaliknya orang kafir akan mengambilnya dengan tangan kiri.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah” pada waktu itu, “ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya” yaitu dalam kitab tersebut yang berisi keburukan-keburukan mereka. “Dan mereka berkata: ‘Aduhai celakalah kami.” Mereka menyesal dan merasa sedih, sehingga mereka mengungkapkan bahwa mereka dalam kecelakan dan kebinasaan.

“Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar,” perbuatan dosa-dosa kami “melainkan ia mencatat semuanya.”

Kemudian Allâh Azza wa Jalla berfirman di akhir penunjukan catatan-catatan tersebut, “Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis),” baik berupa kebaikan maupun keburukan, telah ditetapkan di dalam kitab mereka dan telah diperhitungkan dan mereka akan diberikan balasan atas apa yang telah mereka lakukan.

“Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun,” dengan menambah keburukan mereka dengan keburukan yang lain, atau kebaikan mereka dengan kebaikan yang lain. Dengan demikian, penghuni surga masuk ke dalam surga dan penghuni neraka masuk ke dalam neraka.[1]

PENJABARAN AYAT
Beriman kepada hari akhir adalah salah satu kewajiban setiap kaum Muslim. Seorang Muslim mengimani semua yang dikabarkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an dan seluruh yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya yang shahih.  Diantara yang dikabarkan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tentang yaumul hisâb (hari dimana amalan-amalan itu ditampakkan dan diperhitungkan oleh Allâh). Pada hari itu seluruh amalan-amalan kebaikan dan keburukan manusia akan diperlihatkan kepadanya dan dia tidak akan mengingkari hal tersebut.

Di antara hal yang harus diimani pada hari tersebut adalah keberadaan suatu kitab yang mencatat seluruh amalan-amalan manusia, baik amalan yang bagus maupun amalan yang buruk. Tidak ada yang terluput dalam kitab tersebut. Semuanya telah tercatat. Ayat yang sedang kita bahas ini berbicara tentang kitab tersebut.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَوُضِعَ الْكِتَابُ

Dan diletakkanlah Kitab [Al-Kahfi/18: 49]

Para Ulama berselisih pendapat dalam mengartikan kata ‘Kitab’ pada ayat ini. Pendapat-pendapat yang mereka sebutkan adalah sebagai berikut:

Kitab tersebut adalah kitab yang berisi catatan-catatan amalan kebaikan dan keburukan manusia dan akan diberikan catatan tersebut kepada manusia dan diterima dengan tangan kanan atau tangan kiri.
Kitab tersebut adalah kitab yang diletakkan di hadapan Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
Kata ‘Kitab’ tersebut hanyalah kiasan yang berarti al-hisâb yaitu hari perhitungan amalan-amalan para hamba. [2]
Pendapat yang benar adalah pendapat pertama, karena Allâh Azza wa Jalla menyebutkan setelah itu:

فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ

Lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. [Al-Kahfi/18: 49]

Ini menunjukkan bahwa Kitab tersebut adalah kitab yang bisa dilihat oleh orang-orang yang bersalah pada hari tersebut.

Penulisan ‘Kitab’ dalam bentuk mufrad (kata benda bentuk tunggal yang bermakna sebuah kitab) pada ayat ini, tidak berarti bahwa kitab tersebut hanya satu saja. Ini hanya menunjukkan jenis kitab. Adapun kitab-kitab catatan amal sangatlah banyak. Setiap orang akan mendapatkan satu kitab catatan amalnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka. [Al-Isrâ’/17:13]


Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ

Lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. [Al-Kahfi/18: 49]

Perkataan ‘kamu’ pada ayat tersebut bukanlah ditujukan kepada orang tertentu dan yang diajak bicara pada ayat ini bukanlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari itu berada pada kedudukan yang lebih tinggi dari tempat tersebut.[3]

Allâh Azza wa Jalla mengabarkan pada ayat ini bahwa mereka sangat ketakukan setelah melihat catatan keburukan yang pernah mereka lakukan. Mereka takut karena mereka tahu bahwa setelah menerima catatan amal tersebut, mereka akan mendapatkan kesusahan yang lebih parah dan azab yang pedih dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Oleh karena itu, mereka mengatakan, “Aduhai celakalah kami.”

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا

Dan mereka berkata, “Aduhai celakalah kami.” [Al-Kahfi/18: 49]

Perkataan ‘Aduhai celakalah kami,’ menunjukkan bahwa mereka benar-benar menyadari kesalahan yang telah mereka kerjakan karena telah menyia-nyiakan umur yang telah mereka jalani selama hidup di dunia. Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali mengumumkan kebinasaan yang mereka akan dapatkan setelah menerima kitab tersebut.

Kemudian mereka mengatakan:

مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا 

Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya [Al-Kahfi/18: 49].

Mereka keheranan dengan detailnya pencatatan dosa yang mereka lakukan. Allâh Azza wa Jalla mencatat seluruh dosa mereka dalam kitab tersebut, baik yang besar maupun yang kecil sekalipun.

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Ash-Shaghîrah (yang kecil) maksudnya tersenyum, sedangkan al-kabîrah (yang besar) artinya tertawa dengan suara keras.”

Sa’id bin Jubair rahimahullah mengatakan, “Ash-Shaghîrah (yang kecil) artinya dosa kecil, memegang dan mencium, sedangkan al-kabîrah (yang besar) artinya perbuatan zina.” [4]

Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Kitab ini tidak menyisakan yang kecil dari dosa-dosa dan amalan-amalan kami, begitu pula amalan-amalan yang besar.”[5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ

Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil (yang diremehkan)! Sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil itu seperti suatu kaum yang turun di dalam wadi (lembah). Kemudian orang yang ini membawa satu kayu dan yang itu membawa satu kayu, sehingga mereka bisa memasak roti-roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil jika dikerjakan terus-menerus oleh pelakunya maka dia akan membinasakannya.[6]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا

Dan mereka dapati apa yang telah kerjakan ada (tertulis). [Al-Kahfi/18: 49]

Ada dua pendapat dalam mengartikan kata hâdhiran pada ayat ini. Di antara Ulama ada yang mengartikan bahwa “mereka mendapatkan perhitungan atas apa-apa yang mereka kerjakan benar-benar ada di hadapan mereka,” dan ada juga yang mengatakan bahwa “mereka mendapatkan balasan atas apa-apa yang mereka kerjakan benar-benar ada di hadapan mereka.” Allâhu a’lam, arti yang pertama lebih tepat, karena ayat ini berbicara tentang hari perhitungan (yaumul hisâb).[7]

Ada beberapa ayat yang hampir semakna dengan ayat ini, di antaranya adalah firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya. Dia ingin kalau kiranya antara dia dengan hari itu ada masa yang lama. Dan Allâh memperingatkan kalian terhadap siksa-Nya. Dan Allâh sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. [Ali ‘Imrân/3:30]

Begitu pula firman-Nya:

يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ

Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. [Al-Qiyâmah/75:13]

Dan juga firman-Nya:

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

Pada hari dinampakkan segala rahasia. [Ath-Thâriq/86:9]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun [Al-Kahfi/18: 49]

Allâh Azza wa Jalla mengharamkan kezaliman pada diri-Nya dan pada makhluk-Nya. Allâh Azza wa Jalla tidak akan berbuat zalim kepada siapa pun. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:


يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا

Wahai hamba-hambaku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman pada diriku dan Aku jadikan kezaliman haram di antara kalian.[8]

Begitu pula dalam hal pencatatan amal, Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menghukum seseorang kecuali sesuai dengan kesalahan yang telah dia lakukan. Allâh Azza wa Jalla juga tidak akan mengurangi pahala orang yang taat kepada-Nya.[9]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. [Al-Anbiyâ’/21: 47]

Begitu pula firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allâh tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allâh akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. [An-Nisâ’/4:40]

Ini merupakan bentuk kasih sayang Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beramal shalih. Allâh Azza wa Jalla tidak akan mengurangi pahala-pahala mereka, justru Allâh akan melipatkangandakannya.

Dan di antara bentuk keadilan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Allâh akan mengadili hewan yang berbuat zalim karena telah menzalimi hewan lain, padahal kita ketahui bahwa hewan bukanlah makhluk yang terbebani syariat. Rasûlullâh n bersabda:

إِنَّ الْجَمَّاءَ لَتُقَصُّ مِنَ الْقَرْنَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya hewan-hewan yang tidak bertanduk akan diberikan hak qishaash (membalas) kepada hewan-hewan yang bertanduk di hari kiamat.[10]

KESIMPULAN

Beriman kepada hari akhir adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim.
Kita wajib mengimani bahwa di hari perhitungan ada kitab yang mencatat seluruh amalan-amalan, baik yang baik maupun yang buruk. Setiap orang akan mendapatkan satu kitab catatan amalnya.
Orang-orang bersalah akan merasakan ketakutan setelah menerima catatan tersebut, karena mengetahui keburukan dan siksaan apa yang akan menerima setelah itu.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencatat seluruh dosa mereka dalam kitab tersebut, baik yang besar maupun yang kecil sekalipun.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan kezaliman pada diri-Nya dan pada makhluk-Nya.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengadili hewan yang berbuat zalim karena telah menzalimi hewan lain.
Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat. Mudah-mudahan Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencatat kita sebagai orang-orang yang menerima catatan amal kita dengan tangan kanan kita dan dimudahkan untuk menuju surga. Âmîn.

DAFTAR PUSTAKA

Aisarut Tafâsîr li Kalâm ‘Aliyil Kabîr Wa bi Hâmisyih Nahril Khair ‘Alâ Aisarit-Tafâsîr. Abu Bakr Jâbir bin Musa al-Jazâ 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikam
At-Tahrîr wa at-Tanwîr. Muhammad Ath-Thahir bin ‘Asyur. 1997. Tunisia: Dar Sahnû
Al-Jâmi’ Li Ahkâmil Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.
Jâmi’ul Bayân fii Ta’wîlil Qur’ân. Muhammad bin Jariir Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
Ma’âlimut Tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh:Daar Ath-Thaibah.
Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzhîm. Ismaa’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
Taisîr al-Karîm ar-Rahmân. Abdurrahmaan bin Naashir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIX/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]


Footnote
[1] Lihat Aisarut Tafâsîr, hlm. 841
[2] Lihat Tafsîr al-Baghawi, V/177; Tafsîr Al-Qurthubi, X/418 dan Tafsîr Ibni Katsîr, V/165.
[3] Lihat at-Tahrîr wat Tanwîr, XVIII/18.
[4] Tafsîr Al-Baghawi, V/177.
[5] Tafsîr Ath-Thabari, XVIII/39.
[6] HR Ahmad dalam Musnad-nya no. 22808. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahîhah, no. 3102.
[7] Lihat Tafsîr Al-Qurthubi X/419.
[8] HR Muslim, no. 2577/6572.
[9] Tafsîr Al-Baghawi, V/178.
[10] HR Ahmad dalam Musnad-nya no. 520. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits tersebut dalam ash-Shahîhah no. 1588.


Referensi : https://almanhaj.or.id/5839-catatan-amal-orang-yang-berdosa.html

Jangan Berputus Asa Dari Rahmat Allah

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustaz, saya izin bertanya, ustaz, apakah masih ada kesempatan bagi wanita yang pernah gagal menjaga kesucian dan kehormatan dirinya untuk menjadi wanita shalihah.

Jazaakumullaahu khairaan wa barakallaahu fiikum

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Tiada Manusia Yang Bebas dari Kesalahan

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh.

Perlu kita pahami bahwa tiada manusia yang tidak pernah terlepas dari dosa, manusia tempatnya lupa dan kesalahan, karenanya sebaik baik manusia adalah yang menyadari ketika dirinya tergelincir dalam dosa ia berusaha bangkit untuk meninggalkan kesalahan menuju kepada apa yang diperintahkan Allah `Azza Wa Jalla. Sebagaimana sabda Rasululllah shallahu alaihi wasallam

كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

“Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.” (hasan, lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139)

Selama Allah berikan kesempatan waktu untuk bertaubat dan memperbaiki diri ini adalah karunia Allah yang perlu kita syukuri, Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ

“Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana.” (QS. An Nuur: 10)

Sambil terus berhati hati-hati supaya tidak kembali lagi kepada keburukan yang Allah benci. Maka teruslah untuk memperbaiki diri jangan berhenti dan merasa suci, apalagi merasa tidak akan ada jalan untuk menuju keshalihan. Jadikan kesalahan masa lampau untuk terus menjadi pelecut kebaikan di masa sekarang dan yang akan datang dan teruslah berlari kepada kebaikan yang Allah inginkan.. Firman Allah ta`ala,”

فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗاِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۚ

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”

Terus Memperbaiki Diri

Tidak ada kata tidak bisa menjadi seorang yang shalih, tatkala Allah berikan hidayah untuk bisa kembali kepadanya. Bahkan sebagaimana yang kita ketahui ada sebagian sahabat mengalami dan melakukan kemaksiatan yang terlarang, bahkan melakukan dosa paling besar yang tiada dosa besar di atasnya yaitu kesyirikan. Namun ternyata mereka pun akhirnya bisa bangkit untuk totalitas menuju kepada ketaatan sehingga mereka menjadi para sahabat Rasulullah, yang terbaik dan mempunyai kemuliaan yang Allah ridha.

Begitu pun kepada kita yang pernah bahkan sering melakukan dosa dan kemaksiatan, jangan berputus asa untuk selalu memperbaiki diri. Selama seorang hamba tidak pernah bosan untuk bertaubat dan memperbaiki diri, dari setiap kesalahan berulang yang dilakukan, insyaallah Allah tidak akan pernah bosan untuk menerima taubat seorang hamba yang terus bangkit dari setiap kesalahan, walau mungkin berualang kali terjatuh dalam kekhilafan.

Allah Ta’ala berfirman:

( وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ) آل عمران: 135, 136.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imron: 135-136)

Ibnu Katsir rahimahullah berkomentar: “FimanNya ‘Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.’ Yakni mereka bertaubat dari dosanya dan kembali kepada Allah dalam waktu dekat dan tidak melanjutkan kemaksiatan dan senantiasa melepaskannya. Meskipun dosanya terulang dan mereka bertaubat (kembali).’ Tafsir Ibnu Katsir, 1/408.

Amalan Tergantung Pada Penutupnya

Belajar dan belajarlah untuk selalu meningkatkan diri, jangan berputus asa karena kesalahan, jadikan kesalahan sebagai pelecut untuk semakin memperbaiki diri. Masa lalu bukan untuk disesali dan menjadi penghalang kebaikan, ambil pelajaran dan kebaikan dari apa yang telah terjadi , berusaha menjadikan akhir perjalanan kehidupan terhiasi dengan kebaikan dan ketaatan sebaik mungkin. Kemuliaan hidup tidak hanya dilihat di awal melangkah menuju kebaikan, bahkan bisa jadi kemuliaan didapat dengan apa yang di lakukan di akhir kehidupan manusia tanpa mengurangi proses yang harus diperbaiki. Sebagaimana firman Allah ta’ala,”

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

“Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan.”(QS. Az Zumar: 53-54)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda yang artinya, “Seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian.” (Shahih Ibnu Majah)

Allah Ta’ala:

(10) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Sungguh telah beruntung orang yg mensucikan jiwanya. Dan sungguh telah merugi orang yg mengotori jiwanya.” (QS. Asy-Syamsi: 9-10)

Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

إنما الأعمال بالخواتيم (رواه البخاري).

Artinya: “Sesungguhnya amalan-amalan (seorang hamba) itu tergantung pada amalan-amalan penutupnya.” (HR. Imam Al-Bukhari).

Tetaplah berusaha untuk berada di jalan Allah dan berusaha menjauhi hal yang menjadikan kita akan kembali kepada keburukan, sebagaimana firman Allah ta’ala,”

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Maka Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami karena mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.”(QS. As Sajdah: 24)

Allah ta’ala berfirman,

وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً

“Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.”(QS. An Nisaa’: 27)

Maka terus semangat untuk menjaga hidayah Allah, mencari cara untuk selalu mempertahankan dan meningkatkannya, insyaallah masih banyak kesempatan untuk menjadi hamba yang shalih. Terus berdoa dan belajar serta mencari komunitas yang baik yang bisa mengingatkan, berharap Allah memudahkan langkah dan menutup akhir kehidupan kita dengan kebahagiaan dan ketaatan. Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa5 Syaban 1443 H/ 8 Maret 2022 M

Baca selengkapnya: https://bimbinganislam.com/jangan-berputus-asa-dari-rahmat-allah/

Keutamaan Bulan Muharram

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum
Banyak orang berkeyakinan, bulan Muharram adalah bulan yang istimewa. Sebenarnya ada tidak keutamaan bulan Muharram itu? Mohon dijelaskan dalilnya.
Matur nuwun

Abu Ahmad (texxxxxxxxx@yahoo.com)

Jawaban:
Wa’alaikumussalam
Bulan Muharram termasuk bulan yang istimewa. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah dan rasul-Nya memuliakan bulan Muharram, di antaranya adalah:

1. Termasuk Empat Bulan Haram (suci)

Allah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At-Taubah: 36)

Keterangan:
a. Yang dimaksud empat bulan haram adalah bulan Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram (tiga bulan ini berurutan), dan Rajab.
b. Disebut bulan haram, karena bulan ini dimuliakan masyarakat Arab, sejak zaman jahiliyah sampai zaman Islam. Pada bulan-bulan haram tidak boleh ada peperangan.
c. Az-Zuhri mengatakan,

كان المسلمون يعظمون الأشهر الحرم

“Dulu para sahabat menghormati syahrul hurum” (HR. Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, no.17301).

2.  Dari Abu Bakrah radhiallahu‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

3.  Dinamakan Syahrullah (Bulan Allah)
Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Keterangan:
a. Imam An Nawawi mengatakan, “Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.” (Syarah Shahih Muslim, 8:55)
b. As-Suyuthi mengatakan, Dinamakan syahrullah –sementara bulan yang lain tidak mendapat gelar ini– karena nama bulan ini “Al-Muharram” nama nama islami. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman jahiliyah. Sementara dulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dengan nama Shafar Awwal. Kemudian ketika Islam datanng, Allah ganti nama bulan ini dengan Al-Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah). (Syarh Suyuthi ‘Ala shahih Muslim, 3:252)
c. Bulan ini juga sering dinamakan: Syahrullah Al Asham [arab: شهر الله الأصم ] (Bulan Allah yang Sunyi). Dinamakan demikian, karena sangat terhormatnya bulan ini (Lathaif al-Ma’arif, Hal. 34). karena itu, tidak boleh ada sedikitpun friksi dan konflik di bulan ini.

4.  Ada satu hari yang sangat dimuliakan oleh para umat beragama. Hari itu adalah hari Asyura’. Orang Yahudi memuliakan hari ini, karena hari Asyura’ adalah hari kemenangan Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya. Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, beliau menceritakan,

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari)

5.  Para ulama menyatakan bahwa bulan Muharram adalah adalah bulan yang paling mulia setelah Ramadhan
Hasan Al-Bashri mengatakan,

إن الله افتتح السنة بشهر حرام وختمها بشهر حرام فليس شهر في السنة بعد شهر رمضان أعظم عند الله من المحرم وكان يسمى شهر الله الأصم من شدة تحريمه

Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 34)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/8913-keutamaan-bulan-muharram.html