Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan?

Jawaban dari pertanyaan ini dijawab seorang ulama, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa bisa jadi godaan (tipu daya) wanita itu lebih besar daripada godaan atau tipu daya setan.

Beliau menjelaskan ayat tentang fitnah/godaan setan yang lemah, yaitu firman Allah Ta’ala,

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman dentang tipu daya/godaan wanita yang dahsyat,

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita begitu besar” (QS. Yusuf: 28).

Lalu beliau menjelaskan,

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ

“Ayat yang mulia ini (QS. An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (QS. Yusuf: 28), akan menghasilkan penjelasan bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibandingkan tipu daya (godaan) setan” (Adhw’aul Bayan, 3: 84).

Namun hal ini bukanlah untuk meremehkan godaan dan tipu daya setan sama sekali. Akan tetapi menunjukkan bahwa begitu besarnya godaan dan fitnah wanita bagi kaum laki-laki. Penjelasan beliau di atas dikaitkan dengan berbagai dalil yang menunjukkan bahwa wanita adalah fitnah/godaan terbesar laki-laki dari semua fitnah/godaan yang ada.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, yaitu (fitnah) wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).

Godaan wanita juga dapat menghilangkan akal sehat laki-laki, walaupun laki-laki itu adalah orang yang kokoh dan istikamah beragama.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita” (HR. Bukhari).

Semoga laki-laki kaum muslimin dijaga oleh Allah dari fitnah dan ujian wanita, karena ini adalah salah satu cara setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lumpur maksiat.

Perhatikan nasihat dari seorang tabiin senior, yaitu Said bin Mussayyib Rahimahullah. Beliau Rahimahullah berkata,

ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء

“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia), kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya) dengan wanita” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4: 237).

Demikian, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi para pembaca.

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid


Sumber: https://muslim.or.id/59952-benarkah-godaan-wanita-lebih-besar-daripada-godaan-setan.html

Pemimpin, Cerminan dari Rakyatnya

Kadang kita sebagai rakyat jelata selalu menyalahkan Si Presiden. Pemimpin jadi tumpahan kesalahan atas kerusakan yang di mana-mana terjadi. Pemimpin yang jadi biang kesalahan atas korupsi di berbagai jajaran. Semua gara-gara Si Presiden. Kenapa setiap orang tidak mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan penguasa. Yang patut dipahami, pemimpin adalah sebenarnya cerminan dari rakyatnya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,

وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن ساتقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق ونحلوا بها عليهم وإن اخذوا ممن يستضعفونه مالا يستحقونه في معاملتهم اخذت منهم الملوك مالا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة فعمالهم ظهرت في صور اعمالهم وليس في الحكمة الالهية ان يولى على الاشرار الفجار الا من يكون من جنسهم ولما كان الصدر

“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.[1]

Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalahnya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du [13] : 11)

Saatnya introspeksi diri, tidak perlu rakyat selalu menyalahkan pemimpin atau presidennya. Semuanya itu bermula dari kesalahan rakyat itu sendiri. Jika mereka suka korupsi, begitulah keadaan pemimpin mereka. Jika mereka suka “suap”, maka demikian pula keadaan pemimpinnya. Jika mereka suka akan maksiat, demikianlah yang ada pada pemimpin mereka. Jika setiap rakyat memikirkan hal ini, maka tentu mereka tidak sibuk mengumbar aib penguasa di muka umum. Mereka malah akan sibuk memikirkan nasib mereka sendiri, merenungkan betapa banyak kesalahan dan dosa yang mereka perbuat.

Semoga jadi renungan berharga di pagi yang penuh berkah.

Disusun di Panggang-GK, 6 Syawal 1431 H (15 September 2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/1255-pemimpin-cerminan-dari-rakyatnya.html

Setan Menakut-Nakuti dengan Kemiskinan

Salah satu cara setan menggoda manusia adalah selalu menakut-nakuti dengan kemiskinan. Setan membuat manusia merasa selalu kekurangan padahal karunia Allah itu sangat banyak. Allah berfirman,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah/2: 268]

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manusia ditakut-takuti kemiskinan sehinga menjadi pelit terhadap hartanya. Beliau berkata,

يخوفكم الفقر ، لتمسكوا ما بأيديكم فلا تنفقوه في مرضاة الله

“Setan menakut-nakuti kalian akan kemiskinan, agar kalian menahan harta ditangan kalian dan tidak kalian infakkan untuk mencari ridha Allah.” [Tafsir Ibnu Katsir]

Manusia semakin takut dengan kemiskinan karena sifat dasar manusia sangat cinta terhadap harta dan harta adalah godaan (fitnah) terbesar manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta” [HR. Bukhari]

Kunci agar bisa lepas dari godaan setan ini adalah tetap merasa qana’ah dan giat bekerja. Seseorang akan  terus merasa kurang dan miskin apabila tidak merasa qana’ah dan selalu melihat orang lain yang berada di atasnya dalam urusan dunia. Mayoritas pergaulannya adalah orang-orang yang lebih kaya sehingga ia tidak merasa qanaah, karenanya kita diperintahkan untuk selalu melihat yang berada di bawah kita dalam urusan dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.”[HR. Bukhari dan Muslim]

Kunci lainnya adalah agar kita giat bekerja, kreatif dan tidak gengsi dalam mencari harta. Apapun pekerjaaannya yang penting halal, maka laksanakan saja tanpa harus gengsi. Inilah bentuk tawakkalnya burung, sebagaimana dalam hadits:

ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ

 “Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ [HR.Tirmidzi, hasan shahih]

Kemudian godaan setan akan kemiskinan akan berdampak munculnya rasa pelit pada manusia, tidak mau berinfak atau membantu sesama. Rasulullah bersabda bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta seseorang:

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ

“Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena shadaqah.” [HR. Tirmidzi]

Syaikh Muhammad Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa harta yang disedekahkan akan bertambah berkahnya. Beliau berkata

تصدق بها منه بل يبارك له فيه

“Harta yang disedekahkan akan diberkahi (diberikan kebaikan yang banyak)” [Lihat Tuhfatul Ahwadzi]

Semoga Allah melindungi kita dari godaan setan berupa rasa takut akan kemiskinan dan semoga Allah memudahkan kita untuk berinfak.

@ Lombok, Pulau seribu masjid

Penyusun : Raehanul Bahraen


Sumber: https://muslim.or.id/50745-setan-menakut-nakuti-dengan-kemiskinan.html

Dosa Selalu Menggelisahkan Jiwa

Kebaikan selalu menentramkan jiwa dan kejelekan selalu menggelisahkan jiwa. Itulah realita yang ada pada umumnya manusia.

Dari cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Hasan bin ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Tinggalkanlah yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.”[1]

Dalam lafazh lain disebutkan,

فَإِنَّ الخَيْرَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الشَّرَّ رِيْبَةٌ

Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan kejelekan selalu mendatangkan kegelisahan.”[2]

Dalam hadits lainnya, dari Nawas bin Sam’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.”[3]

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Di hati pun akan tampak tidak tenang dan selalu khawatir akan dosa.”[4]

Sampai-sampai jika seseorang dalam keadaan bingung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan menanyakan pada hatinya, apakah perbuatan tersebut termasuk dosa ataukah tidak. Ini terjadi tatkala hati dalam keadaan gundah gulana dan belum menemukan bagaimanakah hukum suatu masalah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan pada Wabishoh,

اسْتَفْتِ نَفْسَكَ ، اسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ – ثَلاَثاً – الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِى الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Mintalah fatwa pada jiwamu. Mintalah fatwa pada hatimu (beliau mengatakannya sampai tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan menentramkan hati. Sedangkan kejelekan (dosa) selalu menggelisahkan jiwa dan menggoncangkan hati.”[5]

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menjelaskan, “Hadits Wabishoh dan yang semakna dengannya menunjukkan agar kita selalu merujuk pada hati ketika ada sesuatu yang merasa ragu. Jika jiwa dan hati begitu tenang, itu adalah suatu kebaikan dan halal. Namun jika hati dalam keadaan gelisah, maka itu berarti termasuk suatu dosa atau keharaman.”[6] Ingatlah bahwasanya hadits Wabishoh dimaksudkan untuk perbuatan yang belum jelas halal atau haram, termasuk dosa ataukah bukan. Sedangkan jika sesuatu sudah jelas halal dan haramnya, maka tidak perlu lagi merujuk pada hati.

Demikianlah yang namanya dosa, selalu menggelisahkan jiwa, membuat hidup tidak tenang. Jika seseorang mencuri, menipu, berbuat kecurangan, korupsi, melakukan dosa besar bahkan melakukan suatu kesyirikan, jiwanya sungguh sulit untuk tenang.

Lantas bagaimana jika ada yang melakukan dosa malah hatinya begitu tentram-tentram saja?

Jawabannya, bukan perbuatan dosa atau maksiat dibenarkan. Yang benar adalah itulah keadaan hati yang penuh kekotoran, yang telah tertutupi dengan noda hitam karena tidak kunjung berhenti dari maksiat. Allah Ta’ala berfirman,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14). Jika hati terus tertutupi karena maksiat, maka sungguh sulit mendapatkan petunjuk dan melakukan kebaikan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”[7]

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot, wa tarkal munkaroot. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran.[8]

Diselesaikan di siang hari di Panggang-Gunung Kidul, 15 Syawal 1431 H (23/09/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2] HR. Al Hakim 2/51 dalam Mustadroknya. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih. Adz Dzahabi menegaskan bahwa hadits ini shahih.

[3] HR. Muslim no. 2553.

[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, 1392, 16/111.

[5] HR. Ad Darimi 2/320 dan Ahmad 4/228. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini dho’if. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Al Irwa’ no. 1734.

[6] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Darul Muayyid, hal. 304.

[7] Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1424 H, hal. 107.

[8] HR. Tirmidzi no. 3233, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Sumber https://rumaysho.com/1269-dosa-selalu-menggelisahkan-jiwa.html

Menuntut Ilmu untuk Menghilangkan Kebodohan

Salah satu tujuan penting dalam menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan, baik kebodohan yang ada pada diri sendiri maupun yang ada pada orang  lain. Bahkan hal ini menunjukkan benarnya niat seseorang dalam menuntut ilmu.

Manusia Diciptakan dalam Keadaan Bodoh 

Ketahuilah, manusia diciptakan dalam keadaan bodoh, tidak mengenal dan tidak tahu apa-apa. Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah memberi nasihat bahwa hendaknya niat dalam menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada diri sendiri maupun orang lain Hal ini karena pada asalnya manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”  (An Nahl : 78)

Dalam ayat di atas, selanjutnya Allah menyebutkan tiga nikmat secara khusus yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati karena kemuliaan dan keutamaanya. Ketiga hal ini merupakan kunci bagi setiap ilmu. Seorang hamba tidak akan memeperoleh ilmu kecuali melalui salah satu pintu ini. (Lihat Taisiir Al Kariimi Ar Rahman Surat Luqman)

Kebodohan Adalah Penyakit 

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah mengatakan di dalam Nuniyyah-nya:

والجهل داء قاتل وشفاؤه

 أمران في التركيب متفقان

نص من القرآن أو من سنة

 وطبيب ذاك العالم الرباني

” Dan kebodohan itu adalah penyakit yang mematikan. Obatnya adalah dua perkara yang disepakati yaitu nash dari Al Quran atau dari As Sunnah. Dan dokternya adalah seorang alim yang rabbani.

Penyakit kebodohan hanya akan bisa sembuh dengan belajar menuntut ilmu. Ilmulah yang akan menghilangkan kebodohan sehingga seseorang akan berada di atas jalan yang benar dan dijauhkan dari jalan yang menyimpang. 

Menghilangkan Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelakan bahwa hendaknya penuntut ilmu meniatkan untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya, sehingga bisa mendapatkan rasa khasyah kepada Allah :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء 

“ Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama “ (QS. Fathir:28) 

Para penunutut ilmu hendaknya berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dalam hati pribadinya. Jika seseorang belajar dan menjadi ahli ilmu maka hilanglah kebodohan dari dirinya. Demikian pula, hendaknya dia berniat untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada umat ini dengan mengajarkan ilmu. Hendaknya dia menggunakan sarana apapun agar manusia dapat mengambil manfaat dari ilmunya.

Bukti Benarnya Niat Menuntut Ilmu 

Di antara niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan:

العِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ

“ Ilmu itu tidak dapat ditandingi oleh amal apa pun bagi orang yang benar niatnya.

Ada yang bertanya, “Bagaimana niat yang benar itu?”

Beliau menjawab:

يَنْوِي رَفْعَ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ غَيْرِهِ

Seorang meniatkan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.

Ketika mengomentari ucapan Imam Ahmad diatas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Karena mereka itu pada dasarnya bodoh sebagaimana dirimu yang juga bodoh. Jika Engkau belajar dengan tujuan menghilangkan kebodohan dari umat ini maka Engkau termasuk ke dalam golongan orang yang senantiasa berjihad di jalan Allah dalam rangka menyebarkan agama-Nya.” 

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan menghilangkan kebodohan yang ada pada setiap diri kita. 

Penyusun : Adika Mianoki
Sumber: https://muslim.or.id/55902-menuntut-ilmu-untuk-menghilangkan-kebodohan.html

TIPS AGAR ISTRI TAMBAH CANTIK…

Semakin engkau mengumbar pandanganmu maka semakin pudarlah kecantikan dan keelokan istrimu di matamu, dan semakin engkau menjaga pandanganmu maka semakin cantik paras istrimu di matamu…

Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اللّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Yaa Allah cukupkanlah diriku dengan perkara-perkara yang halal dari (membutuhkan) perkara-perkara yang haram, dan cukupkanlah diriku dengan karunia-Mu dari selain-Mu”

Sungguh merupakan bentuk kufur nikmat tatkala Allah telah memberikan kenikmatan yang halal baginya lantas ia mencari-cari kenikmatan yang diharamkan oleh Allah.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/38233?fbclid=IwAR1SZuf4BO4SHb2gYiYSuQZUNr6h7kEYsgECsze12GBl_BcrGTUcOxa3n-8

Wanita dan Sedekahnya

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Wanita dan sedekahnya merupakan pembahasan yang cukup penting, karena di antara hal yang sangat membantu mereka untuk selamat dari neraka Jahanam adalah dengan banyak bersedekah. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, di mana suatu hari Nabi Muhammad ﷺ khotbah Id, kemudian setelah beliau berkhotbah maka beliau maju bersama Bilal ke saf-saf para wanita. Ketika itu, Nabi Muhammad ﷺ mengkhususkan nasihat kepada para wanita, dan Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada mereka,

تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ

“Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian akan menjadi bahan bakar neraka jahanam.”

Mendengar hal tersebut maka salah seorang wanita berdiri dan bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang alasannya. Maka beliau menjawab,

لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ

“Karena kalian lebih banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan suami.”

Akhirnya, para wanita pun menyedekahkan perhiasan yang mereka miliki dengan melemparkannya ke dalam kain yang dihamparkan Bilal, termasuk cincin dan kalung-kalung mereka.[1] Ini menunjukkan bagaimana semangat para shahabiat untuk bersedekah.

Demikian pula disebutkan dalam riwayat yang lain, Zainab istri Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhuma ingin bersedekah setelah mendengar perintah Nabi Muhammad ﷺ agar para wanita bersedekah. Akan tetapi, ketika dia hendak bersedekah, dia ditahan oleh Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud berkata kepada istrinya bahwa dia dan anak-anaknya lebih pantas untuk menerima sedekahnya. Maka istri Ibnu Mas’ud pun kemudian mengadukan hal tersebut kepada Nabi Muhammad ﷺ dan berkata,

يَا نَبِيَّ اللَّهِ، إِنَّكَ أَمَرْتَ اليَوْمَ بِالصَّدَقَةِ، وَكَانَ عِنْدِي حُلِيٌّ لِي، فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ، فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ: أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ

“Wahai Nabi Allah, sungguh Anda hari ini sudah memerintahkan sedekah, sedangkan aku memiliki emas yang aku hendak menzakatkannya. Namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini dibandingkan mereka (mustahik).”

Maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ، زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ

“Ibnu Mas’ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih berhak kamu berikan sedekah dari pada mereka.”[2]

Dua hadits yang kita sebutkan ini menjelaskan kepada kita tentang bagaimana semangatkan para shahabiat untuk bersedekah, bahkan ketika Nabi Muhammad ﷺ memerintah mereka untuk bersedekah, maka emas-emas yang mereka kenakan pun langsung mereka sedekahkan. Mereka melakukan demikian karena Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan sebab, yaitu sedekah mereka bisa menyelamatkan mereka dari azab neraka jahanam. Ketika Nabi Muhammad ﷺ mengatakan,

تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ

“Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian akan menjadi bahan bakar neraka jahanam.”

Maka, ketika Nabi Muhammad ﷺ mengaitkan antara sedekah dan neraka, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sedekah adalah di antara amalan terbaik dari para wanita untuk menyelamatkan mereka dari ancaman neraka jahanam, karena disebutkan bahwa wanita banyak masuk neraka karena para wanita suka kufur nikmat terhadap suaminya.

Kufurnya para istri terhadap suaminya ini banyak terjadi di kalangan para wanita. Kita tidak mengatakan bahwa semua wanita demikian, akan tetapi banyak para wanita demikian. Penulis tentunya mengatakan demikian karena Nabi Muhammad ﷺ yang mengatakan demikian. Nabi Muhammad ﷺ dalam banyak hadis-hadisnya telah menjelaskan banyak watak para wanita, dan di antara adalah hadis yang telah kita sebutkan, bahwasanya di antara watak para wanita adalah sering kufur terhadap suaminya. Sampai dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ، قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Karena mereka sering kufur.” Ditanyakan, ‘Apakah mereka mengingkari Allah?’ Beliau bersabda, ‘Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa[3], lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: Aku belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu’.”[4]

Perkataan semacam ini sering sekali terucap oleh sebagian para wanita, mereka lupa diri ketika marah terhadap suami mereka, sehingga mereka kemudian mengungkapkan kata-kata yang menunjukkan keumuman dari perkataan Nabi Muhammad ﷺ ini. Di antara keumuman bentuk perkataan tersebut antara lain, ‘Aku tidak pernah melihat engkau mencintaiku,’ ‘Engkau tidak pernah sayang kepadaku’, ‘Engkau tidak pernah perhatian terhadapku’, dan bentuk perkataan lainnya. Perkataan ‘Tidak pernah’ ini adalah perkataan umum berbahaya dan mudah menjerumuskan para wanita ke dalam neraka jahanam. Oleh karenanya, contoh-contoh ini menjadi bukti bahwasanya seorang wanita di antara wataknya adalah tidak pandai bersyukur dan berterima kasih kepada suami.

Sering penulis sampaikan sebuah cerita, bahwasanya seorang kawan telah bercerita kepada penulis tentang seseorang yang memberi uang kepada tukang parkir, dan ternyata tukang parkir tersebut berterima kasih dan didoakan, padahal dia hanya memberi sepuluh ribu rupiah. Adapun ketika istrinya diberi uang seratus ribu rupiah, ternyata istrinya tidak berterima kasih, dan tidak pula mendoakan suaminya, bahkan bertanya-tanya, ‘Kenapa hanya seratus ribu?’. Demikianlah kenyataan pahit yang menimpa sebagian para wanita, di mana mereka tidak pandai bersyukur kepada suaminya, merendahkan suaminya, tidak menghargai pemberian suaminya, melupakan pemberian suaminya, dan satu kesalahan suaminya membuatnya lupa dengan segala kebaikan suaminya. Tentunya, perkara-perkara tersebut sangatlah berbahaya, sehingga para wanita perlu melakukan sesuatu untuk bisa selamat dari ancaman atas perilaku tersebut. Di antara cara agar para wanita selamat dari sikap dan perilaku tersebut jika telah terlanjur diucapkan adalah selain dia harus minta maaf kepada suaminya, dia juga harus banyak bersedekah, karena sabda Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa sedekah bisa menyelamatkan seseorang dari neraka jahanam.

Banyak bersedekah adalah salah satu cara agar selamat dari neraka jahanam. Lihatlah firman Allah ﷻ tentang angan-angan seseorang yang hendak meninggal dunia,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ، وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh’.” (QS. Al-Munafiqun: 9-10)

Lihatlah, orang yang hendak meninggal dunia ternyata berharap untuk bersedekah. Kita tidak mengatakan bahwa sedekah adalah amalan yang lebih hebat daripada yang lain, akan tetapi ayat ini merupakan dalil yang jelas bahwasanya sedekah itu pahalanya sangat besar dan bisa memberikan keselamatan di dunia maupun di akhirat, sampai-sampai jika seseorang bisa ditangguhkan kematiannya maka dia memilih untuk bersedekah. Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda tentang sedekah yang terbaik dan yang kurang baik, beliau ﷺ bersabda,

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى، وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ: لِفُلَانٍ كَذَا، وَلِفُلَانٍ كَذَا، أَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

“Yaitu kamu bersedekah saat sehat, kikir, takut miskin dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya. Dan janganlah kamu lalai hingga nyawamu sampai di tenggorokan dan barulah kamu bagi-bagikan sedekahmu: ini untuk si Fulan dan ini untuk Fulan. Dan ingatlah, bahwa harta itu memang untuk si Fulan.”[5]

Pada hadis ini, Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa sedekah yang terbaik adalah sedekah yang dilakukan ketika sehat, ketika takut akan kemiskinan dan berangan-angan untuk kaya. Adapun sedekah yang kurang baik adalah sedekah yang dikeluarkan ketika hendak meninggal dunia. Intinya, di antara angan-angan yang ingin disampaikan orang yang sedang dalam sakratulmaut adalah mereka ingin bersedekah dengan harta yang mereka miliki. Akan tetapi, sayangnya mereka tidak bisa lagi bersedekah. Allah ﷻ berfirman,

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 11)

Oleh karenanya, sedekah adalah perkara yang sangat luar biasa dalam kaitannya menyelamatkan seseorang dari azab neraka jahanam.

Keutamaan sedekah
Ada banyak dalil-dalil yang menjelaskan keutamaan sedekah. Di antaranya sebagai berikut:

Menghalangi dari api neraka
Selain dali-dalil yang telah kita sebutkan sebelumnya, terdapat dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwasanya sedekah bisa menghalangi seseorang dari api neraka. Di antaranya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun dengan (bersedekah) sebutir kurma.”[6]

Jangan kita salah dalam memahami sabda Nabi Muhammad ﷺ ini sebagai anjuran untuk berlaku pelit, tidak demikian. Akan tetapi, maksud Nabi Muhammad ﷺ adalah jika seseorang tidak memiliki apa-apa untuk disedekahkan kecuali hanya memiliki sebutir kurma, maka sedekahkanlah sepenggalnya. Bagi seseorang yang bersedekah sepenggal kurma mungkin merasa bahwa hal tersebut tidak ada nilainya, akan tetapi hal tersebut akan sangat bernilai di sisi Allah ﷻ.

Memadamkan murka Allah ﷻ
Sedekah bisa memadamkan murka Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

صَدَقَةُ السِّرُّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبّ

“Sedekah yang dikeluarkan secara diam-diam akan memadamkan kemurkaan Allah.”[7]

Ada sedekah yang ditampakkan dan ada pula yang tidak ditampakkan. Namun, yang terbaik tentunya adalah yang tidak ditampakkan, karena Nabi Muhammad ﷺ mengatakan bahwa sedekah yang dilakukan secara diam-diam bisa memadamkan murka Allah ﷻ.

Mendapatkan naungan pada hari kiamat
Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari kiamat) hingga perkara di antara manusia diputuskan.”[8]

Yaitu, ketika manusia telah dikumpulkan di padang mahsyar, ketika jarak matahari dengan manusia hanya berjarak satu mil, semua orang kepanasan dan keringat bercucuran. Meskipun dalam kondisi demikian, ternyata ada golongan orang-orang yang berbahagia. Di antara orang-orang yang berbahagia dan mendapatkan naungan adalah orang yang bersedekah. Hadits di atas juga menjelaskan kepada kita bahwasanya semakin banyak sedekah seseorang, maka akan semakin besar pula naungannya.

Meraih husnulkhatimah
Selain keutamaan sedekah di akhirat, sedekah juga memiliki keutamaan di dunia. Di antaranya adalah sedekah bisa membuat seseorang husnulkhatimah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ

“Berbuat baik kepada orang lain akan menghalangi dari kesudahan yang buruk.”[9]

Berbuat kebaikan itu banyak, dan sedekah termasuk di dalamnya. Maka, hadits ini menjelaskan bahwasanya dengan berbuat baik kepada orang lain seperti sedekah, akan menghalangi seseorang dari kesudahan yang buruk, yaitu suulkhatimah.

Maka dari itu, hendaknya kalian para wanita untuk melatih diri untuk bersedekah dan ikhlas kepada Allah ﷻ. Ingatlah, sedekah itu memerlukan pengorbanan.

Sedekahnya para salaf

Ketika kita berbicara tentang sedekahnya para sahabat laki-laki, tentu sangat banyak di antara mereka yang bersedekah, dan bahkan sedekah mereka sangat luar biasa. Contohnya adalah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, beliau bersedekah dengan seluruh hartanya. Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu meriwayatkan,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ، فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي، فَقُلْتُ: الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا، فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟، قُلْتُ: مِثْلَهُ، قَالَ: وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟ قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قُلْتُ: لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا

“Rasulullah ﷺ memerintahkan Kami agar bersedekah, dan hal tersebut bertepatan dengan keberadaan harta yang saya miliki. Lalu saya mengatakan, ‘Apabila aku dapat mendahului Abu Bakar pada suatu hari maka hari ini aku akan mendahuluinya’. Kemudian saya datang dengan membawa setengah hartaku, lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Saya katakan, ‘Harta yang semisal dengan itu’. Kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh yang ia miliki. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Ia berkata, ‘Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya’. Maka saya berkata, ‘Saya tidak akan dapat mendahuluimu kepada sesuatu pun selamanya’.”[10]

Demikian pula ketika kita berbicara tentang sedekahnya ‘Utsman bin ‘Affan, dan para sahabat yang lain radhiallahu ‘anhum, sedekah mereka sangatlah luar biasa.

Lantas, bagaimana sedekahnya para shahabiat? Ternyata, para shahabiat juga tidak kalah hebatnya dalam bersedekah. Di antara contohnya adalah sebuah riwayat dari Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma. Asma’ binti Abu Bakar memiliki suami bernama Zubair. Asma’ binti Abu Bakar kemudian bertanya kepada Rasulullah ﷺ,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لِيَ مَالٌ إِلَّا مَا أَدْخَلَ عَلَيَّ الزُّبَيْرُ، فَأَتَصَدَّقُ؟ قَالَ: تَصَدَّقِي، وَلاَ تُوعِي فَيُوعَى عَلَيْكِ

“Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki harta kecuali apa yang diberikan oleh Zubair kepadaku. Apakah aku boleh bersedekah dengannya?[11] Beliau menjawab, ‘Bersedekahlah dan jangan kamu tutup rapat tempat hartamu[12], karena nanti Allah menutup rezekimu.”[13]

Dalam riwayat yang lain, Nabi Muhammad ﷺ menjawab dengan berkata,

لاَ تُوكِي فَيُوكَى عَلَيْكِ

“Janganlah kamu menutup tempat hartamu, sebab nanti Allah menutup rezekimu.”[14]

لاَ تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

“Janganlah kamu perhitungan untuk bersedekah, sebab nanti Allah akan perhitungan terhadapmu.”[15]

Bahkan dalam riwayat yang lain, Nabi Muhammad ﷺ bersabda kepada Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma,

لاَ تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ، ارْضَخِي مَا اسْتَطَعْتِ

“Jangan kamu tutup rapat hartamu, nanti Allah akan menutup rezekimu. Bersedekahlah dengan semampumu.”[16]

Dari riwayat-riwayat tersebut, kita dapat memahami bahwasanya bersedekah membutuhkan keimanan dan pengorbanan. Kita juga memahami bahwa tidak semua harta kemudian kita sedekahkan seperti Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang menyedekahkan semua hartanya, akan tetapi kata Nabi Muhammad ﷺ adalah bersedekah semampu kita, dan ini menunjukkan bahwasanya dari sisi kita sendiri harus ada usaha untuk mau bersedekah.

Oleh karenanya, ketika seorang istri diberikan harta oleh suaminya untuk keperluan rumahnya, kemudian ketika seluruh kebutuhan telah terpenuhi dan harta masih tersisa, maka boleh bagi seorang istri untuk bersedekah. Jangan kemudian sisa harta yang dia miliki tersebut malah digunakan untuk mengoleksi berbagai macam barang-barang yang tidak begitu bermanfaat, dan hanya akan menambah beban hisab pada hari kiamat kelak. Adapun ketika harta yang dititipkan suami kepada seorang istri ternyata tidak memiliki sisa setelah memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, maka tidak mengapa jika seorang istri tidak bersedekah, karena yang dituntut adalah bersedekah semampunya.

Para ulama menjelaskan bahwasanya ketika Nabi Muhammad ﷺ mengatakan, ‘Janganlah kamu menutup tempat hartamu, sebab nanti Allah menutup rezekimu’, ini merupakan kaidah dari الجزاء من جنس العمل ‘balasan sesuai dengan perbuatan’. Ketika seseorang wanita senantiasa pelit, dompetnya selalu terkunci untuk bersedekah, perhitungan ketika bersedekah, maka kelak bisa jadi Allah ﷻ akan menutup rezekinya pula. Dahulu, seorang guru penulis pernah bercerita bahwasanya ada seseorang yang saleh, setiap kali dia mendapat harta, dia akan memberikannya kepada orang lain. Orang saleh tersebut mengatakan bahwa dia memiliki tradisi kepada orang lain dan Allah juga memiliki tradisi terhadapnya, yaitu ketika dia sering memberi harta kepada orang lain maka Allah ﷻ juga akan sering memberikan harta kepada dia. Dia mengatakan bahwa dia tidak ingin mengubah tradisi Allah ﷻ terhadapnya dengan cara dia mengubah tradisinya kepada orang lain. Dia tidak ingin Allah ﷻ pelit terhadapnya jika dia pelit kepada orang lain.

Oleh karenanya, hendaknya para wanita menyadari agar mereka tidak bersikap pelit. Lihatlah Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma, dalam kondisi harta yang tidak banyak, namun dia tetap ingin untuk bersedekah. Namun, yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai seseorang bersedekah kepada orang lain, namun dirinya sendiri tidak bisa makan karena seluruh hartanya disedekahkan. Ingatlah bahwa yang Nabi Muhammad ﷺ tekankan adalah bersedekah dengan semampu kita. Demikian pula, ketika harta yang dimiliki berlebih, kemudian ingin untuk menabung sisa harta tersebut, maka yang demikian tidak mengapa, hanya saja jangan karena alasan menabung sampai menjadikan seseorang pelit untuk bersedekah.

Ketahuilah bahwasanya Allah ﷻ akan mengganti harta yang dikeluarkan untuk bersedekah. Terdapat begitu banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Di antaranya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu’.”[17]

Demikian pula sabda Nabi Muhammad ﷺ,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.”[18]

Demikian pula firman Allah ﷻ dalam surah Al-Baqarah,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)

Oleh karena itu, janganlah kita kemudian khawatir untuk bersedekah. Justru, ketika kita semakin sering bersedekah maka akan semakin sering Allah ﷻ memberi ganti kepada kita.

Di antara sedekahnya para shahabiat adalah istri Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Zainab binti Jahsy radhiallahu ‘anha. Beliau terkenal sangat dermawan, bahkan beliau disebut dengan ummul masakin ‘Ibundanya orang-orang miskin’. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

أَسْرَعُكُنَّ لَحَاقًا بِي أَطْوَلُكُنَّ يَدًا

“Di antara kalian yang lebih dahulu menyusulku adalah yang paling panjang lengannya.”[19]

Setelah Nabi Muhammad ﷺ meninggal, ternyata istri-istri beliau saling mengukur tangan-tangan mereka untuk mengetahui siapa tangannya yang paling panjang. Ternyata, yang lebih panjang tangannya di antara istri-istri Nabi Muhammad ﷺ adalah Zainab binti Jahsy, karena dialah yang ternyata suka memberi kepada orang lain dengan tangannya.[20] Demikianlah Zainab binti Jahsy, istri Nabi Muhammad ﷺ yang sangat gemar bersedekah.

Selain Zainab binti Jahsy, ternyata ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga tidak kalah luar biasanya dalam perkara sedekah. Lihatlah sebuah riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ketika ada seorang wanita bersama kedua putrinya datang ke rumah ‘Aisyah untuk meminta makan. Kemudian ‘Aisyah mencari makanan ke dalam rumahnya, namun ternyata tidak mendapati sesuatu untuk dimakan di rumahnya kecuali sebutir kurma. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga tentu membutuhkan makanan, akan tetapi beliau lebih mendahulukan orang lain, sehingga beliau kemudian memberikan sebutir kurma tersebut kepada wanita tersebut, lalu wanita tersebut membelah sebutir kurma menjadi dua dan memberikannya kepada kedua putrinya. Jadilah ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tidak memiliki makanan di rumahnya, dan wanita tersebut pun juga tidak makan. Ketika Nabi Muhammad ﷺ pulang, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan kejadian tersebut, dan Nabi Muhammad ﷺ kemudian bersabda,

مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ شَيْئًا، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّار

“Barang siapa yang diuji sesuatu karena anak-anak perempuannya lalu ia berlaku baik terhadap mereka maka mereka akan melindunginya dari api neraka.”[21]

Tentu masih banyak kisah-kisah bagaimana sedekahnya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Di antaranya disebutkan ketika Mu’awiyah menjadi khalifah, dia sering memberi hadiah kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Namun, tanpa ada keraguan sedikit pun, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha kemudian menyedekahkan hadiah tersebut kepada fakir miskin. Sampai-sampai, ketika pembantunya meminta satu dirham untuk membeli daging, ‘Aisyah kemudian berkata, ‘Janganlah engkau mencelaku, karena jika sekiranya engkau mengingatkanku maka pasti aku lakukan’.[22] Demikian pula, karena seringnya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha sering memberi kepada orang-orang, sampai-sampai Abdullah bin Zubair ingin memboikot hartanya agar ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tidak sembarang bersedekah. Ini menunjukkan bagaimana semangatnya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dalam bersedekah.

Subhanallah, sungguh kisah-kisa mereka menunjukkan bagaimana keimanan mereka yang luar biasa. Seharusnya, kisah tersebut membuat kita para wanita dan bahkan laki-laki wajib untuk bersyukur kepada Allah ﷻ, karena di masa-masa sulit kita masih bisa makan, kulkas masih terisi, dan uang pun masih ada ditangan walau tidak banyak. Bahkan, sebagian wanita masih memiliki uang yang sangat berkecukupan, sehingga membuat dia tenang dengan masa depannya.

Nasihat bagi para wanita
Jangan pelit
Hendaknya para wanita dan kita semua tentunya menyadari bahwasanya sifat pelit adalah sifat yang buruk. Ingatlah firman Allah ﷻ,

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

“Dan barang siapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya).” (QS. Muhammad: 38)

Barang siapa yang bersifat pelit, maka sejatinya dia telah pelit terhadap dirinya sendiri. Dia pelit terhadap dirinya untuk mendapatkan berbagai macam keuntungan dan kebaikan dari bersedekah.

Di antara kebaikan dan keuntungan lain dari bersedekah:

Sedekah menjadi aset di akhirat kelak
Ketika seseorang membelanjakan hartanya di jalan Allah ﷻ, dia bersedekah, maka yang dia keluarkan tersebut akan menjadi aset baginya di akhirat kelak. Sedekah yang dia keluarkan tersebut tentunya akan bernilai pahala yang sangat besar, selama seseorang bersedekah dengan ikhlas.

Sedekah menjadikan hati lapang dan peka terhadap orang miskin
Di antara doa Nabi Muhammad ﷺ adalah sebagaimana yang disebutkan dalam Sunan At-Tirmizi dan lainnya, bahwasanya beliau diajarkan oleh Allah ﷻ untuk berdoa dengan lafal berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ المَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu untuk mudah berbuat kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, serta aku memohon pada-Mu agar bisa mencintai orang-orang miskin. Ampunilah aku dan rahmatilah aku, bila Engkau menghendaki suatu fitnah pada hamba-hamba-Mu, wafatkan aku kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah. Ya Allah aku memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.”[23]

Cinta kepada orang-orang miskin, peka terhadap orang-orang yang susah, sedih melihat keadaan mereka, kemudian hati tergerak untuk bersedekah kepada mereka, maka itu adalah karunia dari Allah ﷻ, dan itulah yang diminta oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam doanya tersebut.

Allah ﷻ akan memberi ganti di dunia sebelum di akhirat
Sebelum kaki melangkah di padang mahsyar, sedekah yang seseorang keluarkan di dunia akan mendapatkan ganti oleh Allah ﷻ di dunia pula sebelum diganti di akhirat. Di antara dalil akan hal ini adalah firman Allah ﷻ dalam hadis qudsi,

يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu.”[24]

Demikian pula doa salah satu malaikat di pagi hari, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ,

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

“Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menginfakkan hartanya.”[25]

Ini semua menunjukkan bahwasanya banyak kebaikan yang bisa kita dapatkan ketika kita bersedekah. Oleh karenanya benarlah firman Allah ﷻ,

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

“Dan barang siapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya).” (QS. Muhammad: 38)

Ketika kita pelit, maka itu berarti kebaikan-kebaikan yang bisa didapatkan tersebut kita buang. Oleh karenanya, jangan pelit untuk bersedekah, karena pelit bersedekah hanya berujung pada pelitnya kita terhadap diri kita sendiri.

Di antara orang yang patut untuk kita tidak bersikap pelit terhadapnya adalah orang-orang terdekat. Terkadang, ada fenomena di mana para istri berbuat baik sama orang yang jauh, tapi sama pembantu di rumahnya sendiri bersikap pelit, sama sopirnya pelit, dan yang lainnya. Ingatlah, mereka adalah orang-orang yang memiliki jasa terhadap kita, sehingga mereka tentu lebih utama untuk kita bersedekah kepadanya setelah kerabat-kerabat kita.

Jangan suka mengoleksi barang-barang secara berlebihan
Suka berbelanja adalah hal yang lumrah bagi para wanita, bahkan bisa kita katakan bahwa seseorang tidak disebut dengan wanita kalau dia tidak suka berbelanja. Hanya saja, permasalahan dalam hal berbelanja adalah mengoleksi barang-barang secara berlebihan. Tidak mengapa seseorang punya sepatu sampai sepuluh pasang. Akan tetapi, kalau lebih daripada itu, sampai harus memiliki lemari khusus sepatu-sepatu, ini hanya akan menjadi sebuah masalah pada hari kiamat kelak, yaitu seseorang akan bertambah hisabnya pada hari kiamat, dan perkara hisab bukanlah suatu perkara yang mudah. Seandainya mungkin sepatu tersebut disedekahkan, maka bisa jadi satu sepatu yang dia sedekahkan sudah bisa menaikkan derajatnya di akhirat kelak, sehingga dia akhirnya bisa mendapatkan kenikmatan abadi.

Ingatlah bahwasanya kita akan dihisab oleh Allah ﷻ. Maka, ketika di antara kita hendak membeli suatu barang untuk dikoleksi, tanyakan kepada diri kita, ‘Apakah saya bisa menjawab pertanyaan Allah ketika dihisab tentang barang tersebut?’ Jika kita merasa bisa menjawab pertanyaan Allah, maka tidak mengapa untuk dibeli. Setidaknya, pertanyaan semacam ini akan menjadi penahan bagi diri kita untuk tidak mudah membeli barang-barang yang kita sukai.

Intinya, para wanita, para istri, tidak dilarang untuk berbelanja apa yang dia butuh, Akan tetapi jangan sampai luput untuk bersedekah. Jauhilah sifat suka mengoleksi barang-barang secara berlebihan. Jika kita memiliki barang-barang yang berlebih, maka hendaknya sedekahkanlah, selama masih ada yang bisa kita kenakan, maka menyedekahkan barang lainnya tentu jauh lebih baik.

Bersedekah dengan cara mengajak orang lain untuk bersedekah
Tentu ada sebagian wanita dan istri yang tidak memiliki uang untuk bersedekah, bahkan untuk menyedekahkan barang-barang berlebih yang dimiliki pun tidak punya. Maka cara terbaik agar wanita bisa bersedekah adalah dengan menunjukkan kepada orang lain agar orang lain tersebut bersedekah. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.”[26]

Wahai para istri, Anda tentu sangat bisa memotivasi suami Anda untuk bersedekah. Terlalu banyak fakta yang menunjukkan bahwasanya suami terpengaruh oleh istrinya, terlebih lagi suami-suami di negara kita Indonesia. Bukankah kita dapati banyak dari para istri yang mengatur keuangan keluarganya? Maka, ketika keuangan telah diatur oleh sang istri, bisa jadi seorang suami menjadi sangat dermawan karena istrinya. Seorang suami sering dibujuk oleh istrinya untuk bersedekah, untuk membantu ayah dan ibunya, untuk membantu saudara-saudaranya, untuk membantu tetangganya, dan yang lainnya. Ingatlah wahai para istri, jika Anda melakukan demikian, maka Anda juga mendapat pahala sedekah, karena Andalah yang menjadi motivasi suami Anda untuk bersedekah. Terlebih lagi, ketika Anda berhasil mengubah akhlak suami Anda yang sebelumnya pelit menjadi dermawan, maka tentu pahala yang Anda akan dapatkan sangat besar.

Selain itu, Anda sebagai seorang ibu juga bisa mengarahkan anak-anak untuk terbiasa untuk bersedekah. Jika Anda telah melihat indikasi bahwasanya anak Anda bersikap pelit, maka hendaknya Anda mengambil langkah yang tegas untuk mengajarkan sang anak untuk bersifat dermawan dan melawan sifat pelit tersebut. Yang dikhawatirkan adalah jika seorang anak terbiasa pelit dari kecilnya, maka dewasanya pun menjadi orang yang pelit, dan mengubah sifat di waktu dewasa tidak semudah mengubah sifat di waktu kecil.

Intinya, bersedekahlah semampunya. Bukankah telah kita sebutkan bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun dengan (bersedekah) sebutir kurma.”[27]

Allah ﷻ Maha Tahu, ketika kita memiliki uang yang banyak maka tentu kita mudah untuk bersedekah. Akan tetapi, ketika kita hidup dengan berkecukupan, tidak banyak dari harta kita yang berlebih, maka bersedekahlah semampunya meskipun hanya dengan sebutir kurma.

Footnote:


[1] HR. Muslim No. 885.

[2] HR. Bukhari No. 1462.

[3] الدَّهْرُ di sini juga bisa diartikan dengan satu tahun.

[4] HR. Bukhari No. 29.

[5] HR. Muslim No. 1032.

[6] HR. Bukhari No. 1417.

[7] Shahih al-Jami’ ash-Shagir No. 3759.

[8] HR. Ahmad 4/147 no. 17333, Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sanadnya sahih.

[9] HR. Ath-Thabrani No. 8014, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani.

[10] HR. Abu Daud No. 1678, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.

[11] Ini merupakan dalil bahwasanya boleh seorang suami memberikan sebagian pemberian kepada istrinya melebihi kebutuhan istrinya.

[12] Yaitu maksudnya ‘Jangan engkau menutup pintu rezekimu’.

[13] HR. Bukhari No. 2590.

[14] HR. Bukhari No. 1433.

[15] HR. Bukhari No. 1433.

[16] HR. Bukhari No. 1434.

[17] HR. Muslim No. 993.

[18] HR. Muslim No. 2588.

[19] HR. Muslim No. 2452.

[20] Berdasarkan HR. Bukhari No. 2452, dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

[21] HR. Bukhari No. 5995.

[22] Lihat: Hilya al-Auliya’ (2/47).

[23] HR. Tirmizi No. 3235, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[24] HR. Muslim No. 993.

[25] HR. Bukhari No. 1442.

[26] HR. Muslim No. 1893.

[27] HR. Bukhari No. 1417.

sumber : https://bekalislam.firanda.com/5966-wanita-dan-sedekahnya.html#_ftn1

Berilmu Tapi Tidak Perhatian Terhadap Amal

Fenomena yang tampak, seringkali ada orang yang rajin menuntut ilmu, tapi enggan untuk mengamalkannya. Sejatinya yang demikian bukanlah dianggap berilmu, karena seharusnya buah akhir dari benarnya ilmu seseorang adalah dengan mengamalkannya. Menuntut ilmu merupakan amalan yang agung dan mulia, karena ilmu merupakan sarana untuk merealisasikan tujuan agung penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepad Allah semata.

Tujuan Mempelajari Ilmu

Mempelajari ilmu sejatinya bukanlah hanya untuk menguasai ilmu itu sendiri, namun ilmu dipelajari untuk diaplikasikan dalam pengamalan. Seluruh ilmu syar’i yang ada, syariat memerintahkan untuk mempelajarinya sebagai wasilah untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk tujuan yang lainnya. Hal ini bisa ditunjukkan dari beberapa sisi berikut :

Tujuan Adanya Syariat

Tujuan adanya syariat adalah agar manusia beribadah kepada Allah, dan tidak mungkin seseorang bisa mengamalkan syariat tanpa mengilmuinya. Inilah tujuan pengutusan seluruh para nabi. Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ

“ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu. “ (Al Baqarah : 21)

الَر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ اللّهَ إِنَّنِي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ

“ Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya. “ (Huud:1-2)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“ Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan yang benar melainkan Aku, maka sembahlah Aku. “ (Al Anbiya’: 25)

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“ Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab Al Qur’an dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. .Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih dari syirik. (Az Zumar : 2-3)

Beberapa ayat di atas dan banyak ayat lainnya menunjukkan bahwa maksud dari ilmu adalah agar digunakan untuk beribadah kepada Allah saja dan tidak menyembah selain-Nya serta agar melakukan berbagai ketaatan kepada-Nya.

Ruh Dari Ilmu Adalah Amal

Adanya banyak dalil yang menunjukkan bahwa ruh dari ilmu adalah amal. Tanpa amal, ilmu tidak akan bermanfaat. Allah berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“ Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. “ (Fathir : 28)

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.“ (Az-Zumar :9)

Dalil di atas menunjukkan bahwa ilmu adalah wasilah, bukan merupakan tujuan itu sendiri. Ilmu adalah wasilah untuk beramal. Setiap hal yang menujukkan keutamaan ilmu maksudnya adalah ilmu yang digunakan untuk beramal. Dan sudah dimaklumi, bahwasanya ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang Allah. Oleh karena itu belum akan merasakan keutamaan pemilik ilmu tersebut sampai dia membenarkan konsekuensi dari ilmu tersebut yaitu beriman kepada Allah.

Ancaman Bagi yang Tidak Mengamalkan Ilmu

Terdapat dalil yang menunjukkan ancaman bagi orang yang tidak mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Orang yang berilmu akan ditanya tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan dari ilmunya tersebut. Barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya maka ilmunya sia-sia dan akan menjadi penyesalan baginya. Allah berfirman :

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

“ Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupakan kewajiban dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? “ (Al Baqarah : 44)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“ Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. “ (Ash Shaf 2-3)

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“ Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu dengan mengerjakan apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.“ (Huud : 88)

Semoga bermanfaat. Menjadi renungan bersama bagi kita, bahwa tujuan kita mempelajari ilmu tidak lain adalah untuk diamalkan. Kita berharap terhindar dari sifat orang yang berilmu tapi tidak perhatian terhadap amal. Semoga Allah menambah kepada kita ilmu yang bermanfaat dan mengkaruniakan kepada kita istiqomah dalam mengamalkannya.

Sumber bacaan : Asbaabu Ziyaadatil Iimaan wa Nuqshaanihi karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al Badr hafidzahullah

Penulis : Adika Mianoki


Sumber: https://muslim.or.id/51406-berilmu-tapi-tidak-perhatian-terhadap-amal.html

Hidup Tak Sekedar Hidup!

Hidup bagi seorang muslim adalah sebuah perjalanan. Ia adalah sebuah perjalanan yang dimulai dari kelahirannya di dunia lalu berjalan menuju Rabbul ‘Alamin, guna mempertanggung-jawabkan amalannya sewaktu di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hal ini dalam sabdanya,

كلّ الناسِ يغدو؛ فبائعٌ نَفسَه فمُعتِقها أو موبِقها

Setiap hari semua orang melanjutkan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya, ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakannya!” (Hadits Riwayat Imam Muslim).

Kehidupan seorang muslim yang baik amatlah jauh dari gaya hidup orang-orang yang tak beriman kepada Allah Ta’ala. Kehidupan seorang muslim adalah kehidupan yang bermutu tinggi. Hidup tak asal hidup. Kehidupannya memiliki arah dan tujuan yang jelas. Allah telah menetapkan tujuan hidup hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Tujuan hidup tersebut terkandung dalam dua firman Allah Ta’ala berikut ini:

1. Tujuan hidup pertama

Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu” (QS.Ath-Thalaaq: 12).

Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, dam apa yang ada di antara keduanya. Allah pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah kauni qodari, yaitu takdir-Nya guna mengatur hamba-hamba-Nya. Sungguh semua itu bertujuan agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat dan perbuatan-Nya.

Inilah tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu ma’rifatullah, mengenal Allah, melalui nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Atau dikenal dengan Tauhidur Rububiyyah Tauhidul Asmaa` wash Shifaat.

Faedah: Ma’rifatullah , yaitu Tauhidur Rububiyyah Tauhidul Asmaa` wash Shifaat adalah tujuan hidup kita. Kedua macam tauhid ini berisikan pengetahuan (ilmu) tentang Allah, dengan demikian tauhid jenis ini hakekatnya adalah ilmu.

2. Tujuan hidup kedua

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).

Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah dalam peribadatan, yang kemudian dikenal dengan istilah Tauhidul Uluhiyyah.

Faedah :

  1. ‘Ibadatullah (Tauhidul Uluhiyyah) adalah tujuan hidup kitaSedangkan beribadah itu berarti beramal, dengan demikian tauhid jenis ini hakikatnya adalah amal.
  2. Ketiga macam tauhid tersebut di atas, hakikatnya adalah ilmu dan amal, berarti orang yang tauhidnya baik adalah profil orang yang baik ilmu dan amalnya. Rajin menuntut ilmu tentang Allah dan agama-Nya serta rajin mengamalkan ilmunya.
    Jadi, sosok Ahlut Tauhid yang baik adalah tipe orang yang keyakinan dan ilmu agamanya baik, sekaligus ibadah, mu’amalah, dan akhlaknya pun terpuji.
    Maka salahlah jika ada anggapan bahwa Yang penting tauhidnya, sedangkan akhlaknya buruk, malas beribadah dan jelek dalam bermu’amalah dengan saudaranya!
  3. Ahlut Tauhid adalah sosok yang tahu untuk apa ia diciptakan, tidak lupa akan tujuan hidupnya dan lurus dalam menempuh perjalanan hidupnya, karena ia memiliki prinsip dan tujuan hidup yang jelas.

Kesimpulan :

Allah Ta’ala menciptakan kita agar kita mengenal-Nya dengan baik, jika kita mengenal-Nya dengan baik (Ma’rifatullah), maka kitapun mencintai-Nya dengan benar, sehingga kitapun ringan melakukan peribadatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya serta mengimani kabar dari-Nya (‘Ibadatullah). Jadi, seorang muslim yang bertauhid adalah sosok insan yang seluruh aktifitas kesehariannya, sejalan dengan tujuan hidupnya. Shalat, puasa, mencari nafkah, makan, istirahat dan seluruh kegiatannya dalam rangka untuk beribadah kepada Allah dengan didasari pengetahuannya tentang Allah dan hak-Nya yang demikian besar atas hamba-hamba-Nya.

Sosok orang yang beriman kepada Allah dengan benar, tidaklah mau jika dirinya melakukan aktifitas yang sia-sia tak bernilai ibadah. Ia membenci semua bentuk kemaksiatan, karena justru hal itu menjauhkan dirinya dari tujuan hidupnya.

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber: https://muslim.or.id/27046-hidup-tak-sekedar-hidup-1.html