Doa itu Senjata Orang Mukmin, Penjelasan Doa vs Musibah, Kapan Bisa Menang?

Doa itu senjata orang mukmin. Namun, senjata itu bisa kuat, bisa juga lemah.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ sebagai berikut.

Doa adalah senjata orang mukmin.

Disebutkan dalam Al-Mustadrak Al-Hakim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُدْعُو اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالاِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan doa kalian terkabul. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak serius.” [HR. Al-Hakim, 1:493]

Berdasarkan hadits di atas, doa adalah obat penawar yang memberikan manfaat dan menghilangkan penyakit. Namun, kelalaian hati dari mengingat Allah dan mengonsumsi makanan haram akan melemahkan sekaligus melenyapkan kekuatan doa. 

Penjelasan tersebut senada dengan riwayat dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَيَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتٍ مَارَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَهُ اِلَى السَّمَاءِ يَارَبِّ يَارَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Wahai manusia, sungguh Allah itu baik dan tidak akan menerima, kecuali hal yang baik. Sungguh, Allah juga telah memerintahkan kaum mukminin dengan perkara yang Allah perintahkan kepada para rasul. Allah berfirman: “Wahai para rasul, makanlah makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mukminun: 51). Allah juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172).

Kemudian beliau menceritakan tentang seorang laki-laki yang tengah mengadakan perjalanan panjang, rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, dan ia menengadahkan tangan ke langit sambil berkata, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku! Namun, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dibesarkan dengan hal-hal yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan terkabul?” (HR. Muslim, no. 1015)

وَذَكرَ عَبْدُ اللهِ بْنِ أَحْمَدَ فِي كِتَابِ الزُّهْدِ لِأَبِيْهِ أَصَابَ بَنِي إِسْرَائِيْلَ بَلاَءٌ فَخَرَجُوا مَخْرَجًا فَأَوْحَى اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ اِلَى نَبِيِّهِمْ أَنْ أَخْبَرَهُمْ إِنَّكُمْ تَخْرُجُوْنَ اِلَى الصَّعِيْدِ باَبْدَانٍ نَجَسَةٍ وَتَرْفَعُوْنَ اِلَيَّ أُكُفًّا قَدْ سَفَكْتُمْ بِهَا الدِّمَاء وَمَلَأْتُمْ بِهَا بُيُوْتَكُمْ مِنَ الحَرَامِ الآنَ حِيْنَ اشْتَدَّ غَضَبِي عَلَيْكُمْ وَلَنْ تَزْدَادُوْا مِنِّي اِلاَّبُعْدًا

Abdullah bin Imam Ahmad menyebutkan dalam kitab Az-Zuhd karya ayahnya, “Dahulu Bani Israil pernah ditimpa bencana sehingga mereka pun keluar ke suatu tempat untuk berdoa. Kemudian, Allah mewahyukan kepada Nabi-Nya untuk mengabarkan kepada mereka, “Sungguh kalian keluar ke dataran tinggi ini dengan badan yang najis. Kalian menengadahkan tangan-tangan kalian kepada-Ku, padahal ia berlumuran darah dan dengannya kalian penuhi rumah-rumah dengan barang-barang yang haram. Apakah kalian sekarang memohon pada saat murka-Ku kepada kalian telah bertambah? Kalian hanyalah akan semakin menjauh dari-Ku.”

وَقَالَ اَبُو ذَرٍّ يَكْفِى مِنَ الدُّعَاءِ مَعَ البِرِّ مَا يَكْفِى الطَّعَامَ مِنَ المِلْحِ

Abu Dzarr berkata, “Cukuplah doa itu bisa diterima jika disertai dengan kebaikan, yakni layaknya sejumput garam yang mencukupi sejumlah makanan.”

Ingat, Doa adalah Senjata Orang Mukmin

والدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الأَدْوِيَّةِ وَهُوَ عَدُوُّ البَلَأِ يُدَافُعُهُ وَيُعَالِجُهُ وَيَمْنَعُ  نُزُوْلَهُ وَيَرْفَعُهُ أَوْ يُخَفِّفُهُ إِذَا نَزَلَ وَهُوَ سِلاَحُ المُؤْمِنِ

Doa adalah obat yang amat bermanfaat dan musuh bagi bencana. Doa itu bisa:

  1. memerangi
  2. mengobati
  3. mencegah
  4. menghilangkan
  5. meringankan musibah yang menimpa.

Itulah kenapa doa itu disebut senjata orang mukmin.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.”

وَلَهُ مَعَ البَلاَءِ ثَلاَثُ مَقَامَاتٍ أَحَدُهَا أَمْ يَكُوْنُ أَقْوَي مِنَ البَلاَءِ فَيَدْفَعُهُ الثَّانِي أَنْ يَكُوْنَ أَضْعَفَ مِنَ البَلاَءِ فَيَقْوَى عَلَيْهِ البَلاَءَ فَيُصَابُ بِِهِ العَبْدُ وَلَكِنْ قَدْ يُخَفِّفُهُ وَإِنْ كَانَ ضَعِيْفًا الثَّالِثُ أَنْ يَتَقَاوَمَا وَيَمْنَعُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبُهُ

Ketika bersanding dengan musibah, doa mempunya tiga kondisi sebagai berikut.

  1. Doa itu lebih kuat daripada musibah. Maka dari itu, doa mampu mencegah terjadinya musibah.
  2. Doa itu lebih lemah daripada musibah. Akibatnya, doa itu terkalahkan sehingga musibah pun menimpa orang yang bersangkutan. Namun, doa bisa meringankan musibah tersebut meski hanya sedikit.
  3. Doa dan musibah sama-sama kuat, maka akan saling menyerang dan mengalahkan.

Al-Hakim meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُغْنِى حَذَرٌ مِنْ قَدَرٍ وَالدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ وَإِنَّ البَلاَءَ لَيَنْزِلُ فَيْلَقَاهُ الدُّعَاءُ فَيَعْتَلِجَانِ اِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

“Sikap waspada tidak mampu menolak takdir. Doa memberikan manfaat kepada hal-hal yang telah terjadi dan yang belum terjadi. Pada saat musibah turun, doa segera menghadapinya. Keduanya saling bertarung hingga tiba hari kiamat.” (HR. Al-Hakim, 1:492)

Disebutkan juga dalam kitab yang sama, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ

“Doa akan memberikan manfaat terhadap apa yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Maka hendaklah kalian semua berdoa, wahai hamba-hamba Allah.” (HR. Al-Hakim, 1:493 dalam Al-Mustadrak)

Masih dalam kitab yang sama, yaitu dari Tsauban, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَرُدُّ القَدَرَ اِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيْدُ فِي العُمْرِ اِلاَّ البِِرّ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ

“Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Tidak ada yang bisa menambah usia kecuali kebajikan. Sungguh, seseorang benar-benar akan terhalang dari rezekinya karena doa yang telah ia kerjakan.” (HR. Al-Mustadrak, 1:493)

Lihat Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 15-17.

Referensi:

Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (Al-Jawaab Al-Kaafi liman Sa-ala ‘an Ad-Dawaa’ Asy-Syaafi). Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Penerbit Daar Ibnul Jauzi.

Senin pagi, 4 Dzulqa’dah 1445 H, 13 Mei 2024

Muhammad Abduh Tuasikal 

Belajar Memperbaiki Diri

Bismillah.

Salah satu asas kehidupan yang mesti dimengerti oleh setiap muslim ialah kebaikan akan diberikan oleh Allah dengan jalan ilmu agama. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis yang agung ini merupakan kaidah penting untuk memperbaiki diri dan masyarakat. Bahwa pemahaman dalam agama ini merupakan pintu gerbang kebaikan. Dengan ilmu inilah seorang hamba akan bisa mewujudkan tujuan hidupnya di alam dunia. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Bagaimana mungkin seorang manusia bisa mengenali hakikat dan tata-cara beribadah kepada Allah tanpa ilmu?! Oleh sebab itu, Allah memerintahkan manusia untuk berilmu dan memahami tauhid yang menjadi hikmah mereka diciptakan. Allah Ta’ala berfirman,

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Dia…” (QS. Muhammad: 19)

Ilmu merupakan pondasi untuk segala ucapan dan amal perbuatan.

Saudaraku yang dirahmati Allah, setiap hari kita berhadapan dengan berbagai bentuk cobaan dan nikmat dari Allah. Terkadang kita mengalami kesulitan dan tertimpa musibah, walaupun itu terlihat kecil dan sepele. Akan tetapi ingatlah, bahwa dengan musibah itu Allah ingin menguji kesabaran dan keimanan kita kepada takdir-Nya. Di saat yang lain, kita disiram dengan berbagai karunia dan nikmat yang melimpah, untuk melihat bagaimana bentuk syukur kita kepada-Nya. Tidak jarang kita pun terjerumus dalam dosa yang menuntut kita untuk terus bertobat dan istigfar kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ  وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja untuk berkata, ‘Kami telah beriman’, kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Allah benar-benar mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah mereka orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 2-3)

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2)

Amal yang terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas yaitu dikerjakan murni karena Allah, sedangkan benar maksudnya berada di atas sunah (mengikuti tuntunan Rasulullah). Inilah penafsiran dari para ulama salaf semacam Fudhail bin Iyadh rahimahullah.

Dengan demikian, salah satu tugas utama kita adalah memperbaiki hati agar ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya secara hanif…” (QS. al-Bayyinah: 5)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang hanif ialah yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari segala bentuk pujaan atau sesembahan selain-Nya. Orang yang hanif adalah orang yang ikhlas lagi bertauhid.

Segala bentuk amalan butuh keikhlasan. Tanpa keikhlasan maka amal-amal itu akan terbang sia-sia bagai debu yang beterbangan. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً

“Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.” (QS. al-Furqan: 23)

Sebanyak apa pun amal jika tidak ikhlas, maka tidak akan diterima oleh Allah.

Membersihkan hati dari kotoran riya’, ujub, dan syirik bukanlah perkara ringan. Karena itulah kita diajari untuk berdoa kepada Allah agar diteguhkan hatinya di atas agama ini dan diarahkan menuju ketaatan. Kita pun berdoa kepada Allah agar diberikan ketakwaan hati dan kesucian jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan hati adalah landasan segala bentuk amal kebaikan.

Para ulama menjelaskan bahwa amal-amal itu berbeda-beda tingkatan keutamaannya sesuai dengan apa-apa yang ada di dalam hati pelakunya berupa iman dan keikhlasan. Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niatnya, dan sebaliknya, betapa banyak amal besar justru menjadi kecil gara-gara niatnya. Oleh karena itu, para ulama terdahulu begitu bersemangat dalam membersihkan hatinya demi mencapai derajat ikhlas. Mereka berkata, “Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku dengan sebuah perjuangan yang lebih berat sebagaimana perjuangan untuk mencapai ikhlas.”

Di antara bentuk perjuangan hati adalah menempa sifat sabar. Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi segenap anggota badan. Sabar dalam melaksanakan perintah Allah. Sabar dalam menjauhi maksiat. Sabar dalam menghadapi musibah. Inilah tiga bentuk kesabaran yang wajib untuk kita terapkan dalam hidup keseharian. Untuk menimba ilmu dibutuhkan kesabaran. Untuk mengamalkan ilmu pun perlu kesabaran. Bahkan untuk berdakwah juga kita harus banyak bersabar. Sabar yang terpuji ini apabila dilakukan ikhlas karena Allah, berada di atas syariat Allah, dan dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dengan bekal sabar dan keyakinan akan diraih derajat kepemimpinan/pribadi teladan dalam agama.”

Lebih luas lagi bentuk perbaikan yang urgen untuk kita lakukan adalah perbaikan akidah dan keimanan. Akidah ini mencakup segala perkara yang wajib diyakini oleh seorang muslim. Ia mencakup rukun-rukun iman dan perkara-perkara mendasar di dalam agama. Betapa banyak kerancuan dan penyimpangan akidah yang bercokol di tengah masyarakat Islam saat ini. Di antara bentuk kerusakan itu adalah meragukan kebenaran Islam. Padahal, Allah berfirman dengan tegas,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran : 85)

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar kenabianku seorang pun dari umat ini; apakah dia itu beragama Yahudi atau Nasrani lantas dia tidak mau beriman dengan ajaran yang aku bawa kecuali dia pasti termasuk dari golongan penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن مات يشركُ باللهِ شيئًا دخل النارَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, niscaya dia masuk ke dalam neraka.” Dan aku -Ibnu Mas’ud- berkata,

مَن مات لا يشركُ باللهِ شيئًا دخل الجنةَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, lalu meninggal dalam keadaan musyrik, maka dia termasuk penghuni neraka secara pasti. Sebagaimana barangsiapa yang beriman kepada Allah (baca: bertauhid) dan meninggal dalam keadaan beriman (baca: tidak melakukan pembatal keislaman), maka dia termasuk penghuni surga, walaupun dia disiksa -terlebih dulu- di dalam neraka.” (lihat al-Kaba’ir cet. Dar al-‘Aqidah, hal. 11)

Ilmu akidah adalah ilmu yang sangat penting dalam memperbaiki umat manusia. Kebutuhan hamba terhadap ilmu akidah ini di atas segala kebutuhan. Keterdesakan mereka terhadapnya di atas segala perkara yang mendesak. Karena tidak ada kehidupan bagi hati, tidak ada ketentraman bagi jiwa kecuali dengan pengenalan kepada Rabbnya, sesembahannya, yaitu Dzat yang telah menciptakan dirinya. Hal itu akan terwujud dengan mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan-Nya. Dengan demikian, seorang hamba akan lebih mencintai Allah di atas kecintaan kepada selain-Nya dan dia pun akan senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dan tidak menujukan ibadah kepada selain-Nya (lihat keterangan Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah dalam Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 69)

Di antara fenomena yang sangat memprihatinkan di masa kini adalah banyaknya da’i yang kurang memperhatikan perkara akidah. Bahkan sebagian mereka terkadang mengatakan, “Biarkan saja manusia dengan akidah mereka! Kalian tidak perlu menyinggungnya! Yang penting bersatu, jangan suka berpecah-belah! Kita bersatu dalam apa-apa yang kita sepakati dan kita saling memberi toleransi dalam hal-hal yang kita perselisihkan.”

Demikian kurang lebih isi ungkapan mereka. Padahal tidak ada persatuan dan kekuatan kecuali dengan kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah terutama dalam hal-hal akidah yang notabene merupakan pondasi agama (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 7)

***

Penulis: Ari Wahyudi

Sumber: https://muslimah.or.id/19187-belajar-memperbaiki-diri.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Nikmat Sehat Walafiat

نعمة الصحة والعافية

Oleh:

Dr. mahmud bin Ahmad ad-Dosari

د. محمود بن أحمد الدوسري

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسوله الكريم، وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:

أسبغَ اللهُ تعالى علينا نِعَمَه ظاهرةً وباطنة، ومن أجلِّ النِّعم – بعد نعمة الإسلام – نِعْمَةُ الصحة والعافية، والسلامةُ من كلِّ ما يُكدر العيش؛ من الآلام والأسقام والأحزان.

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasul-Nya yang mulia, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:

Allah Ta’ala telah melimpahkan berbagai kenikmatan bagi kita lahir dan batin, dan di antara kenikmatan terbesar —setelah nikmat Islam— adalah kenikmatan sehat walafiat, dan selamat dari segala hal yang memperkeruh hidup, seperti rasa sakit, penyakit, dan kesedihan.

والصحة تاجٌ على رؤوس الأصِحَّاء لا يعرفها إلاَّ المرضى، ولكن الناس لِطُولِ إِلْفِهِم للصحة والعافية لا يشعرون بها، ولا يقدرونها حقَّ قدرها، وفي خِضَمِّ الأحداث الجارية، وانتشارِ الوباء العام “كورونا” تَنَبَّه الناسُ لِنِعمَةِ العافية؛ خشيةَ أنْ تُسْلَبَ منهم بغتة، ولنتأملْ كيف تعطَّلَتْ مَصالِحُ الدول والأفراد خوفاً من انتشار هذا الوباء، فلو أُصيب الإنسانُ بمرضٍ فإنه لا يجد طعمَ الحياة؛ بل لا يستطيع القيامَ بأمور الحياة على الوجه المطلوب، وربما يتمنَّى البعضُ الموتَ هرباً من آلام المرض، نسأل الله العفو والعافية.

Kesehatan merupakan mahkota di atas kepala orang-orang sehat, yang tidak diketahui nilainya kecuali oleh orang-orang yang sakit. Namun, karena manusia telah terbiasa dengan kesehatan, mereka menjadi tidak merasakannya dan tidak menghargainya dengan selayaknya. Lalu dalam kejadian yang telah berlalu dan tersebarnya wabah virus Korona, manusia kemudian tersadar dengan nikmat kesehatan, karena mereka khawatir kesehatan akan direnggut dari mereka secara tiba-tiba. Perhatikanlah bagaimana kemaslahatan berbagai negara dan pribadi menjadi terhenti karena takut dari paparan wabah ini. 

Ketika seorang insan terkena penyakit, ia tidak lagi dapat merasakan kenikmatan hidup, dan tidak dapat menjalankan urusan-urusan dalam hidup dengan semestinya, dan bahkan terkadang ada sebagian orang yang berharap meninggal dunia karena ingin kabur dari sakitnya penyakit. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.

ومن أعظم النِّعم نعمة العافية، التي لا تَطِيبُ الحياةُ إلاَّ بها؛ لذا قال النبيُّ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا» حسن – رواه الترمذي، فالدنيا بحذافيرها لا تَطِيبُ إلاَّ بالأمن والعافية. وامتدح النبيُّ صلى الله عليه وسلم الصِّحةَ بقوله: «لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ» صحيح – رواه ابن ماجه.

Salah satu nikmat terbesar adalah nikmat kesehatan, yang kehidupan tidak akan tenteram tanpanya. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kalian yang pada waktu pagi mendapat keamanan di rumahnya, kesehatan pada tubuhnya, dan memiliki makanan untuk harinya itu, maka seakan-akan ia diberikan kepadanya seluruh dunia.” (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

والأغنياءُ أنفسُهم يغبطون الأصحاءَ على العافية؛ فعن قبيصة بن ذؤيب قال: (كُنَّا نَسْمَعُ نداءَ عبدِ الملكِ من وراءِ الحُجْرةِ في مرضة: يا أهل النِّعَم! لا تستقلُّوا شيئاً من النِّعَم مع العافية). فينبغي على الفقير المُعافَى أنْ يحمد اللهَ تعالى على نِعمةِ العافية، ولا يحسد الأغنياءَ على غِناهم، فكم من غنيٍّ بالمال؛ فقيرٍ بالعافية. فالغِنى لا ينفع صاحِبَه إذا سُلِبت منه العافية، حتى لا يأكل إلاَّ القليل من الأطعمة المعدودة، وكان يُقال: (صِحَّةُ الجِسم، أوفَرُ القِسْم). فمَنْ أُوتِيَ العافيةَ فظنَّ أنَّ أحداً أُعْطِيَ أكثرَ منه؛ فقد قلَّل كثيراً، وكثَّر قليلاً.

Dunia dan seluruh isinya tidak akan menjadi nikmat kecuali diiringi dengan keamanan dan kesehatan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga memuji nikmat kesehatan dengan sabda beliau:

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak mengapa kekayaan bagi orang yang bertakwa, tapi kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik daripada kekayaan. Dan kebaikan hati adalah salah satu dari kenikmatan.”  (Hadis shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

Orang-orang kaya sendiri juga merasa iri dengan orang-orang sehat atas kesehatan mereka. Diriwayatkan dari Qabishah bin Dzuaib, ia menceritakan, “Dulu kami mendengar teriakan Abdul Malik dari balik kamarnya saat sakitnya, ‘Wahai orang-orang yang mendapat kenikmatan! Janganlah kalian meremehkan kenikmatan sedikit pun jika masih disertai dengan kesehatan!’” 

Oleh sebab itu, hendaklah orang miskin yang sehat tetap bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat kesehatan, dan tidak merasa dengki terhadap orang-orang kaya atas kekayaan mereka, karena betapa banyak orang yang kaya harta tapi miskin kesehatan. Kekayaan tidak akan bermanfaat bagi pemiliknya jika nikmat kesehatan telah dicabut darinya, bahkan ia hanya mampu makan sedikit makanan saja. Ada ungkapan yang berbunyi, “Kesehatan badan merupakan pembagian rezeki yang paling melimpah.” Barang siapa yang dikaruniai kesehatan, lalu ia mengira bahwa ada orang lain yang diberi karunia yang lebih banyak darinya, maka sungguh ia telah menganggap sedikit hal yang banyak, dan menganggap banyak hal yang sedikit.

عباد الله.. فَلْنَشْكُر اللهَ تعالى الذي أسْبَغَ علينا جِلْبابَ الصِّحةَ والعافية، وهو القائل: ﴿ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ ﴾ [إبراهيم: 7]؛ كيف وقد أوجبَ اللهُ علينا شُكْرَ نِعَمِه بقوله تعالى: ﴿ وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ﴾ [النحل: 114].

Wahai para hamba Allah!

Hendaklah kita bersyukur kepada Allah yang telah mengenakan kepada kita gaun kesehatan walafiat. Allah Ta’ala telah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

“Apabila kalian bersyukur, maka pasti Aku akan menambah (kenikmatan itu) bagi kalian” (QS. Ibrahim: 7).

Bagaimana kita enggan bersyukur, sedangkan Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada kita untuk mensyukuri segala nikmat-Nya melalui firman-Nya:

وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan bersyukurlah atas nikmat Allah, jika kepada-Nya kalian menyembah.” (QS. An-Nahl: 114).

الخطبة الثانية

الحمد لله… عباد الله.. من أعظم أسباب الصحة والعافية:

أنْ يعرف المسلمُ عِظَمَ قَدْرِ العافية، ويسعى في اغتنام العمر؛ لأنه قصير، يقول النبيُّ صلى الله عليه وسلم: «اغْتَنِمْ خَمْساً قبْلَ خَمْسٍ: حَياتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وشَبابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ» صحيح – رواه الحاكم. وقال عليه الصلاة والسلام: «نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ» رواه البخاري. ويومَ القيامةِ يُسألُ الإنسانُ عن صِحَّةِ جسمه؛ كما في قوله صلى الله عليه وسلم: «أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يُقَالَ لَهُ: أَلَمْ أُصِحَّ جِسْمَكَ، وَأَرْوِكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ؟» صحيح – رواه ابن حبان والحاكم.

Khutbah Kedua

Segala puji hanya bagi Allah.

Wahai para hamba Allah! Di antara faktor terbesar untuk meraih nikmat sehat walafiat adalah mengetahui besarnya nilai kesehatan, dan berusaha memanfaatkan umur, karena umur itu singkat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْساً قبْلَ خَمْسٍ: حَياتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وشَبابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

“Manfaatkanlah lima hal sebelum datang lima hal: pertama, hidupmu sebelum datang matimu, kedua, sehatmu sebelum datang sakitmu, ketiga, waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, keempat, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, kelima, dan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu.” (Hadis shahih, diriwayatkan oleh Al-Hakim).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat kesehatan dan kelapangan waktu.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Pada hari Kiamat, manusia akan ditanya tentang kesehatan badannya, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يُقَالَ لَهُ: أَلَمْ أُصِحَّ جِسْمَكَ، وَأَرْوِكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ؟

“Hal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah akan dikatakan kepadanya, ‘Bukankah Aku telah menjadikan badanmu sehat dan memberimu minuman yang segar?’” (Hadis shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

ومن أسباب الصحة والعافية:

الاشتغال بطاعة الله تعالى: قال ابن القيم – رحمه الله -: (ولا رَيْبَ أنَّ الصلاةَ نفسَها فيها من حِفظِ صحة البدن، وإذابةِ أخلاطِه وفضلاته، ما هو من أنفع شيءٍ له، سوى ما فيها مِن حِفظِ صِحَّةِ الإيمان، وسعادةِ الدنيا والآخرة، وكذلك قيامُ الليل مِن أنفع أسبابِ حفظِ الصحة، ومن أمنعِ الأُمور لكثيرٍ من الأمراض المُزمنة، ومن أنشطِ شيءٍ للبدنِ والرُّوحِ والقلب).

Di antara faktor terbesar untuk meraih nikmat sehat walafiat adalah menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Tidak diragukan bahwa shalat itu sendiri mengandung faktor untuk menjaga kesehatan badan, dan melebur lendir dan kotoran yang ada di badan. Tidak ada yang lebih bermanfaat baginya daripada ini, kecuali manfaat shalat berupa menjaga kesehatan iman, dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Demikian pula shalat malam termasuk faktor yang paling bermanfaat untuk menjaga kesehatan, salah satu pelindung paling kuat dari banyak penyakit kronis, dan salah satu hal yang paling bagus untuk mengaktifkan badan, jiwa, dan hati.”

ومن أسباب الصحة والعافية:

مزاولةُ الأنشطةِ الرياضية، وأكلُ الأطعمة النَّظيفة الصِّحِّية، وحمايةُ الجَسَدِ مِمَّا يَضُرُّه، والمبادرةُ إلى تناول الدواءِ الصحيح في وقته المُناسب، والتَّخلُّصُ من ضغوطات الحياة، قال ابن القيم – رحمه الله -: (ولَمَّا كانت الصَّحةُ والعافيةُ من أجَلِّ نِعَم الله على عبده، وأجْزَلِ عطاياه، وأوفرِ مِنحِه – بل العافيةُ المُطلقةُ أجَلُّ النِّعَمِ على الإطلاق – فحقيقٌ لِمَنْ رُزِقَ حظاً مِن التوفيق مراعاتُها، وحِفظُها، وحِمايتُها عمَّا يُضادها).

Di antara faktor terbesar untuk meraih nikmat sehat walafiat adalah menerapkan aktivitas-aktivitas olahraga, memakan makanan yang bersih dan sehat, menjaga tubuh dari hal-hal yang membahayakannya, dan segera mengonsumsi obat yang benar pada waktu yang tepat, serta menghindari tekanan-tekanan hidup. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Karena sehat walafiat merupakan salah satu nikmat Allah yang paling agung, karunia paling besar, dan pemberian yang paling melimpah bagi hamba-Nya —bahkan bisa dikatakan kesehatan adalah nikmat terbesar itu sendiri— maka sudah selayaknya bagi orang yang dikaruniai nikmat ini untuk memperhatikannya, menjaganya, dan melindunginya dari segala hal yang menyelisihinya.”

Sumber:

https://www.alukah.net/نعمة الصحة والعافية (خطبة)/

IKATLAH NIKMAT DENGAN MENSYUKURINYA

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

“Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian. Karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” [Hadis ini Sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6490); Muslim (no. 2963 (9)), dan ini lafalnya; At-Tirmidzi (no. 2513); dan Ibnu Majah (no. 4142)]

Alangkah agungnya wasiat ini, dan alangkah besar manfaatnya. Kalimat yang menentramkan dan menenangkan. Hadis ini menunjukkan anjuran untuk bersyukur kepada Allah ﷻ dengan mengakui nikmat-nikmat-Nya, membicarakannya, menaati Allah ﷻ, dan melakukan semua sebab yang dapat membantu kita bersyukur kepada-Nya.

Syukur kepada Allah ﷻ adalah inti ibadah, pokok kebaikan, dan merupakan hal yang paling wajib atas manusia. Karena tidak ada pada diri seorang hamba, dari nikmat yang tampak maupun tersembunyi, yang khusus maupun umum, melainkan berasal dari Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” [QS. An-Nahl/16:53]

Allah ﷻ memberikan berbagai kebaikan, dan menolak kejahatan dan keburukan. Oleh karena itu, seorang hamba harus benar-benar bersyukur kepada-Nya. Hendaknya seorang hamba berusaha dengan segala cara yang dapat mengantarnya dan membantunya untuk bersyukur kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” [QS. Al-Baqarah/2:152]

Dan firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. [QS. Ibrahim/14:7]

Nabi ﷺ dalam hadis di atas telah menunjukkan obat dan faktor yang sangat kuat agar seseorang bisa mensyukuri nikmat Allah ﷻ. Yaitu hendaknya setiap hamba memerhatikan orang yang lebih rendah darinya dalam hal akal, nasab, harta, dan nikmat-nikmat lainnya. Jika seorang terus-menerus melakukan ini, maka ini akan menuntunnya untuk banyak bersyukur kepada Rabb-nya, serta menyanjung-Nya. Karena dia selalu melihat orang-orang yang keadaannya jauh berada di bawahnya dalam hal-hal tersebut. Banyak di antara mereka itu berharap bisa sampai, atau minimal mendekati, apa yang telah diberikan padanya dari nikmat kesehatan, harta, rezeki, fisik, maupun akhlak. Kemudian dia akan banyak memuji Allah ﷻ yang telah memberinya banyak karunia.

Faidah-Faidah Hadis:

1) Anjuran melihat keadaan orang yang berada di bawah kita dalam hal dunia, dan melihat kepada keadaan orang di atas kita dalam hal agama.

2) Melihat kepada yang di atas kita dalam hal dunia akan mengakibatkan seseorang tidak bersyukur atas nikmat yang Allah ﷻ berikan kepadanya, selalu mengeluh, dan bersedih.

3) Melihat kepada di atas kita dalam hal agama akan mengakibatkan seseorang terpacu untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah ﷻ.

4) Anjuran zuhud terhadap kehidupan dunia.

5) Seorang Mukmin hendaknya menjadikan dunia ini di tangannya, dan tidak di dalam hatinya.

6) Larangan meremehkan nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada kita.

7) Seorang Mukmin wajib bersyukur atas nikmat yang Allah ﷻ anugerahkan kepada dia.

8) Bersyukur kepada Allah ﷻ dengan melaksanakan perintah Allah ﷻ, dan menjauhkan larangan-Nya.

9) Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah ﷻ agar kita dapat bersyukur kepada-Nya ﷻ.

10) Keindahan Islam yang telah mengatur semua kehidupan manusia.

Dinukil dari tulisan berjudul “ANJURAN MENSYUKURI NIKMAT” yang ditulis oleh: al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Sumber: https://almanhaj.or.id/12693-anjuran-mensyukuri-nikmat-2.html

Suami Jangan Terlalu Membenci Istri

Suami yang bijak adalah orang yang mau menerima segala kekurangan yang ada pada istrinya. Ia menyadari bahwa tidak ada wanita yang sempurna, yang bisa memenuhi semua harapannya. Inilah salah satu kunci terciptanya keharmonisan rumah tangga, yang selayaknya dimiliki oleh setiap suami.

Pepatah mengatakan “tak ada gading yang tak retak”, tak ada manusia yang sempurna. Kenyataannya memang demikian, siapa pun dia selama dia disebut anak manusia, entah wanita ataupun lelaki, mesti ada kekurangannya, tidak ada yang sempurna dalam segala sisi.

Memang ada manusia yang mempunyai banyak kelebihan namun jumlah mereka pun sedikit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا النَّاسُ كَاْلإِبِلِ الْمِائَةِ لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةً

“Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, yakni hampir-hampir dari seratus unta tersebut engkau tidak dapatkan satu unta pun yang bagus untuk ditunggangi.[1]” (HR. al-Bukhari no. 6498 dan Muslim no. 2547)

Al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Mereka menafsirkan hadits di atas dengan dua sisi.” Beliau lalu menyebutkan sisi pertama. Setelahnya beliau berkata, “Sisi kedua: mayoritas manusia itu memiliki kekurangan. Adapun orang yang memiliki keutamaan dan kelebihan jumlahnya sedikit sekali. Mereka seperti kedudukan unta yang bagus untuk ditunggangi dari sekian unta pengangkut beban.” (Fathul Bari, 11/343)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang diridhai keadaannya dari kalangan manusia, yang sempurna sifat-sifatnya, indah dipandang mata, kuat menanggung beban (itu sedikit jumlahnya).” (Syarah Shahih Muslim, 16/101)

Ibnu Baththal rahimahullah juga menyatakan yang serupa tentang makna hadits di atas, “Manusia itu jumlahnya banyak, namun yang disenangi dari mereka jumlahnya sedikit.” (Fathul Bari, 11/343)

Dalam kaitannya dengan kehidupan keluarga juga tidak bisa dipisahkan dengan pembicaraan tentang kekurangan dan ketidaksempurnaan manusia ini. Kesiapan menerima pasangan hidup dengan segala kekurangan yang ada padanya menjadi satu kemestian. Karena kita adalah anak manusia yang tidak sempurna, menikah dengan manusia yang tidak sempurna pula. Namun kenyataannya, dalam perjalanan rumah tangga terkadang muncul kekecewaan yang berbuah kebencian terhadap pasangan hidupnya karena kekurangan dimilikinya, walaupun tetap menyadari “tak ada gading yang tak retak”.

Perasaan tidak suka ini bila muncul dari pihak istri maka biasanya ia lebih bisa menekan dan “memaksakan” dirinya untuk tetap menerima suaminya. Beda halnya bila ketidaksukaan itu dirasakan oleh pihak suami, mungkin pada akhirnya kebencian tumbuh di hatinya dan ujungnya vonis talak pun dijatuhkan.

Dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, kita pahami bahwa jarang dijumpai orang yang terkumpul padanya segala kebaikan dan kelebihan. Demikian pula pada diri wanita yang memang diciptakan dari tulang yang bengkok, lebih jarang lagi didapatkan pada mereka segala kebaikan. Terkadang ada wanita yang parasnya cantik namun jelek lisannya. Terkadang ada yang ucapan dan tutur katanya manis memikat namun tidak pandai bergaul dengan suami. Ada yang pandai bergaul dengan suami namun tidak bisa mengurus rumahnya. Ada pula wanita yang jelita, bagus perangainya, pandai bergaul dengan suami, bisa mengatur rumah akan tetapi ia sangat pencemburu atau tidak giat dalam ibadah. Keadaan-keadaan semisal ini harusnya dipahami oleh seorang suami agar ia tidak larut dalam ketidaksukaan kepada istrinya, sebaliknya ia sabarkan dirinya dengan kekurangan yang ada.

Bersabar Terhadap Istri

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا ١٩


“Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa: 19)

Dalam tafsir al-Jami’ li Ahkamil Qur’an (5/65), al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al- Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah subhanahu wa ta’ala, (“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka”), dikarenakan parasnya yang buruk atau perangainya yang jelek, namun bukan karena si istri berbuat keji dan nusyuz, maka dianjurkan (bagi si suami) untuk bersabar menanggung kekurangan tersebut, mudah-mudahan hal itu mendatangkan rezeki berupa anak-anak yang saleh yang diperoleh dari istri tersebut.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya terhadap ayat di atas, “Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan), sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang banyak bagi kalian di dunia dan di akhirat sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang ayat ini, “Si suami mengasihani (menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) hingga Allah subhanahu wa ta’ala berikan rezeki padanya berupa anak dari istri tersebut dan pada anak itu ada kebaikan yang banyak.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/173)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di rahimahullah berkata, “Sepantasnya bagi kalian—wahai para suami—untuk tetap menahan istri (dalam ikatan pernikahan) walaupun kalian tidak suka pada mereka. Karena di balik yang demikian itu ada kebaikan yang besar. Di antaranya adalah berpegang dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menerima wasiat-Nya yang di dalamnya terdapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kebaikan lainnya adalah dengan ia memaksa dirinya untuk tetap bersama istrinya, dalam keadaan dia tidak mencintainya, ada mujahadatun nafs (perjuangan jiwa) dan berakhlak dengan akhlak yang indah.

Bisa jadi, ketidaksukaan itu akan hilang dan berganti dengan kecintaan sebagaimana (disaksikan dari) kenyataan yang ada. Bisa jadi dia mendapat rezeki berupa seorang anak yang saleh dari istri tersebut, yang memberi manfaat kepada kedua orang tuanya di dunia maupun di akhirat. Tentunya semua ini dilakukan bila memungkinkan untuk tetap menahan istri dalam pernikahan tersebut dan tidak timbul perkara yang dikhawatirkan.

Bila memang harus berpisah dan tidak mungkin untuk tetap seiring bersama, maka si suami tidak dapat dipaksakan untuk tetap menahan istrinya (dalam pernikahan).” (Taisir al-Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hlm. 173) Sehubungan dengan permasalahan ini, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan larangan (untuk membenci), yakni sepantasnya seorang suami tidak membenci istrinya, karena bila ia mendapatkan pada istrinya satu perangai yang tidak ia sukai namun di sisi lain ia bisa dapatkan perangai yang disenanginya pada si istri. Misal, istrinya tidak baik perilakunya akan tetapi ia seorang yang beragama atau berparas cantik atau menjaga kehormatan diri atau bersikap lemah lembut dan halus padanya atau yang semisalnya.” (Syarah Shahih Muslim, 10/58)

Dengan demikian, tidak sepantasnya seorang suami membenci istrinya dengan penuh kebencian hingga membawa dia untuk menceraikannya. Bahkan semestinya dia memaafkan kejelekan istrinya dengan melihat kebaikannya dan menutup mata dari apa yang tidak disukainya dengan melihat apa yang disenanginya dari istrinya.

Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata, Abul Qasim bin Hubaib telah mengabarkan padaku di al-Mahdiyyah, dari Abul Qasim as-Sayuri dari Abu Bakar bin Abdirrahman, ia berkata, adalah asy-Syaikh Abu Muhammad bin Zaid memiliki pengetahuan yang mendalam dalam hal ilmu dan kedudukan yang tinggi dalam agama. Beliau memiliki seorang istri yang buruk pergaulannya dengan suami. Istrinya ini tidak sepenuhnya memenuhi haknya bahkan mengurang-ngurangi dan menyakiti beliau dengan ucapannya.

Ada yang berbicara pada beliau tentang keberadaan istrinya namun beliau memilih untuk tetap bersabar hidup bersama istrinya. Beliau pernah berkata, “Aku adalah orang yang telah dianugerahi kesempurnaan nikmat oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam kesehatan tubuhku, pengetahuanku dan budak yang kumiliki. Mungkin istriku ini diutus sebagai hukuman atas dosaku. Aku khawatir bila aku menceraikannya akan turun padaku hukuman yang lebih keras daripada apa yang selama ini aku dapatkan darinya.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 5/65)

Sulitnya Meluruskan Kebengkokan Istri

Seorang suami tentu tidak boleh berdiam diri membiarkan begitu saja kekurangan yang ada pada istrinya. Dia harus berupaya meluruskannya dengan lembut dan perlahan agar tidak mematahkannya. Tentu saja lurusnya istri tidak bisa sempurna karena akan tetap ada kebengkokan padanya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا، وَكَسْرُهَا طَلاقُهَا

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.[2] Dia tidak akan lurus untukmu di atas satu jalan. Jika engkau bersenang-senang dengannya, maka engkau bisa melakukannya namun padanya ada kebengkokan. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, dan patahnya itu adalah menceraikannya.[3]” (HR. al-Bukhari no. 5184, Muslim no. 1468)

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ. فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

“Mintalah wasiat dari diri-diri kalian dalam masalah hak-hak para wanita[4], karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian paling atasnya. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya maka engkau akan mematahkannya. Namun bila engkau biarkan, ia akan terus-menerus bengkok. Maka mintalah wasiat dari diri-diri kalian dalam masalah hak-hak para wanita.” (HR. al-Bukhari no. 3331, 5186)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini (ada anjuran untuk) bersikap lembut kepada para istri, berbuat baik kepada mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak/perangai mereka serta bersabar dengan kelemahan akal mereka. Hadits ini juga menunjukkan tidak disukainya menceraikan mereka tanpa sebab dan tidak boleh terlalu bersemangat/berlebihan untuk meluruskan mereka, wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 10/57)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Dipahami dari hadits ini bahwasanya tidak boleh membiarkan istri di atas kebengkokannya, apabila ia melampaui kekurangan yang merupakan tabiatnya dengan melakukan maksiat atau meninggalkan kewajiban. Adapun dalam perkara-perkara mubah, ia dibiarkan apa adanya.

Hadits ini menunjukkan disenanginya penyesuaian diri untuk menarik jiwa, mengambil dan mendekatkan hati, sebagaimana hadits ini menunjukkan pengaturan terhadap para istri dengan memaafkan mereka dan bersabar atas kebengkokan mereka. Siapa yang hendak meluruskan mereka, maka akan luput darinya kemanfaatan yang diperoleh dari mereka, sementara tidak ada seorang lelaki pun yang tidak merasa butuh terhadap wanita guna memperoleh ketenangan (sakinah) dengannya dan untuk menolongnya dalam kehidupannya. Seakan-akan bisa dikatakan: Bernikmat-nikmat dengan wanita (istri) tidak akan sempurna kecuali dengan bersabar terhadap mereka.” (Fathul Bari, 9/306)

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

[1] Rahilah adalah unta yang cerdik, pilihan dan bagus untuk ditunggangi ataupun untuk keperluan lainnya karena sifat-sifatnya yang sempurna. (Syarah Shahih Muslim, 16/101)

[2] Dalam hadits ini ada dalil terhadap ucapan fuqaha atau sebagian mereka bahwasanya Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Allah I berfirman:

خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا

“Dia menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia menciptakan dari jiwa yang satu itu pasangannya.” (Syarah Shahih Muslim, 10/57)

[3] Bila engkau menginginkan istrimu untuk meninggalkan kebengkokannya maka ujung dari perkara ini adalah berpisah (cerai) dengannya. (Fathul Bari, 6/447)

[4] Atau dengan makna: Aku wasiatkan kalian agar berbuat kebaikan terhadap para wanita maka terimalah wasiatku ini tentang perkara mereka dan amalkanlah. (Fathul Bari, 9/306)

sumber: https://asysyariah.com/jangan-terlalu-membenci-istri/

Jalan Bersama Teman Untuk Menunaikan Kebutuhannya, Lebih Baik Dari Iktikaf Di Masjid Nabawi Sebulan

Membantu orang lain adalah pekerjaan yang sangat mulia, apapun bentuknya dan ini akhlak Islam yang menyebabkan banyak tertarik dengan ajaran Islam.

“Temani saya beli laptop baru ke pameran bisa ga?”

“Bro, besok ane ke Jogja, bisa temani jalan-jalan keliling jogja ga, ngantarkan ke kajian di jogja juga?”

Kadang-kadang kita diminta oleh teman untuk menemaninya mengurus seuatu. Atau kita kedatangan tamu dari luar daerah baik keluarg atau teman, kemudian pastinya kita menjamunya dan mengajak keliling kota aatau keliling desa untuk mengajaknya jalan-jalan merasakan suasana kota atau menemaninya membeli oleh-oleh atau berbagai keperluan lainnya.

Di antara kita mungkin ada yang hobinya jalan-jalan atau tipe orang ‘lapangan” yang tidak bisa diam di tempat. Tipe seperti ini mudah untuk diajak jalan-jalan. Bagi mereka tidak masalah dan malah senang. Akan tetapi bagi yang kurang suka jalan-jalan (misalnya bosan dengan suasana kota) atau terlalu sibuk dengan urusannya. Maka menemani teman atau keluarga jalan-jalan atau memenuhi kebutuhannya membuatnya bosan atau kurang suka.

Ternyata terdapat pahala, karena menemani teman atau keluarga jalan-jalan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأن أمشي مع أخ في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد

“Sungguh aku berjalan bersama seorang saudara (muslim) di dalam sebuah keperluan lebih aku cintai daripada aku beri’tikaf di dalam masjid ku (masjid Nabawi) ini selama sebulan.” [1]

Syaikh Muhammad bin shalih Al-Ustaimin rahimahullah berkata,

قضاء حوائج المسلمين أهم من الاعتكاف، لأن نفعها متعدٍ، والنفع المتعدي أفضل من النفع القاصر، إلا إذا كان النفع القاصر من مهمات الإسلام وواجباته

“Menunaikan kebutuhan kaum muslimin lebih penting dari pada iktikaf, karena manfaatnya lebih menyebar, menfaat ini lebih baik daripada manfaat yang terbatas (untuk diri sendiri). Kecuali manfaat terbatas tersebut merupakan perkara yang penting dan wajib dalam Islam (misalnya shalat wajib, pent).”[2]

Demikianlah seorang muslim, harus berusaha mengerti kebutuhan saudaranya dan membantu jika ia bisa membantu. Kita memikirkan, jika kita menjadi dia, maka dia butuh dan senang jika diperlakukan demikian dan demikian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأخِيهِ مَا يُحِبُّ لنَفْسِهِ

“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sesuatu yang dia cintai untuk dirinya“. [3]

Menemani istri untuk menunaikan kebutuhannya lebih pantas lagi

“Pa, belanja yuk, kebutuhan rumah udah habis ni”
“Abi, jalan-jalan yuk, ke pantai, udah lama banget gak ke pantai”
“Ayah, anak-anak mau maen-maen ke kebun binatang, udah pada hapal lho”

Jika teman dan saudara saja sebaiknya kita penuhi dan kita temani untuk pemenuhan kebutuhannya. Maka istri dan keluarga kita lebih layak lagi untuk dipenuhi. Misalnya ajak jalan-jalan istri karena jenuh di rumah, menemani istri berbelanja, menemani anak-anak bermain dan pergi liburan keluar. Tentu mereka lebih layak mendapatkannya.

Bahkan akhlak dengan istri merupakan patokan utama akhlak seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,beliau bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”[4]4

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [5]

Muhammad bin Ali Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan hadits,

في ذلك تنبيه على أعلى الناس رتبة في الخير وأحقهم بالاتصاف به هو من كان خير الناس لأهله، فإن الأهل هم الأحقاء بالبشر وحسن الخلق والإحسان وجلب النفع ودفع الضر، فإذا كان الرجل كذلك فهو خير الناس وإن كان على العكس من ذلك فهو في الجانب الآخر من الشر، وكثيرا ما يقع الناس في هذه الورطة، فترى الرجل إذا لقي أهله كان أسوأ الناس أخلاقا وأشجعهم نفسا وأقلهم خيرا، وإذا لقي غير الأهل من الأجانب لانت عريكته وانبسطت أخلاقه وجادت نفسه وكثر خيره، ولا شك أن من كان كذلك فهو محروم التوفيق زائغ عن سواء الطريق، نسأل الله السلامة

“Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya tertinggi dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. Jika seorang lelaki bersikap demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika keadaannya adalah sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi keburukan.
Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini, engkau melihat seorang pria jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan yang paling sedikit kebaikannya. Namun jika ia bertemu dengan orang lain, maka ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi barangsiapa yang demikian kondisinya maka ia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”[6]6

Demikian semoga bermanfaat.


Penyusun: Raehanul Bahraen

Catatan kaki:

  1. [1] HR. Ath-Thabarani di dalam Al-Mu’jamul Kabir dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilat Al-hadits Ash-Shahihah, no. 906. ↩︎
  2. [2] Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=129815 ↩︎
  3. [3] HR. Bukhari dan Muslim ↩︎
  4. [4] HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284 ↩︎
  5. [5] HR At-Thirmidzi no 3895,Ibnu Majah no 1977, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 285 ↩︎
  6. [6] Nailul Authar 6/245-256, Darul hadits, Mesir, cet. I, 1413 H, Syamilah 

ALANGKAH BANYAK TANDA KEBESARAN ALLAH

وَيُرِيكُمْ ءَايَٰتِهِ ۦ فَأَىَّ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ تُنكِرُونَ

Dan Dia memperlihatkan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepadamu, maka tanda-tanda (kebesaran) Allah yang mana yang kamu ingkari? (QS. Al-Mu’min: 81)

📚 Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H

81. “Dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda-Nya” yang membuktikan keesaan-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Ini merupakan nikmat-Nya yang terbesar, di mana Dia mempersaksikan kepada hamba-hamba-Nya tanda-tanda-Nya yang sangat berharga di jagat raya dan nikmat-nikmat-Nya yang luar biasa. Allah menyebut-nyebutnya supaya mereka mengenal-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan berdzikir mengingat-Nya.

“Maka tanda-tanda Allah manakah yang kamu ingkari?” maksudnya, ayat yang mana dari ayat-ayat Allah yang kalian tidak mengakuinya?! Sebab sudah kalian ketahui secara pasti bahwa seluruh ayat-ayat dan nikmat adalah dari-Nya, sehingga tidak ada jalan untuk mengingkari, dan tidak ada tempat untuk berpaling, bahkan malah mengharuskan orang-orang yang berakal untuk bersungguh-sungguh dan mengorbankan segenap tenaga untuk serius taat kepada-Nya dan berkonsentrasi berkhidmah kepada-Nya.

Referensi: https://tafsirweb.com/8893-surat-al-mumin-ayat-81.html

Ibu Rumah Tangga Adalah Sebaik-Baik Profesi Wanita

Banyak perdebatan mengenai peran wanita hari ini. Beberapa pemikiran modern, terutama yang dipengaruhi oleh feminis liberal, sering menggaungkan bahwa wanita harus mengejar hak-hak dan kesetaraan, yang dalam penerapannya justru seringkali menghancurkan hakikat kebahagiaan wanita itu sendiri.

Namun, dalam pandangan Islam, menjadi seorang ibu rumah tangga yang fokus mengurus rumah dan mendidik anak adalah sebaik-baiknya pekerjaan di muka bumi. Posisi ini adalah sebuah kemuliaan yang ditetapkan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana, yakni Allah.

Mengapa peran ini begitu ditekankan? Karena sejatinya, Allah-lah yang paling tahu cara seorang wanita dapat meraih kebahagiaan sejati. Allah yang memerintahkan wanita untuk menetap di rumah, sesuai dengan firman-Nya:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Perintah untuk tinggal di rumah ini sekaligus menegaskan tanggung jawab sentral seorang istri dan ibu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)

Tinggal di rumah, mengurus keluarga, dan mendidik anak adalah fitrah seorang wanita dan ibu rumah tangga. Fitrah seorang ibu adalah memegang dan mendidik anak. Seorang ibu tidak bisa lepas dari anaknya, bahkan berpisah sebentar saja sudah menimbulkan rasa rindu yang mendalam.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan pentingnya peran ini:

والإسلام جعل لكل من الزوجين واجبات خاصة على كل واحد منهما أن يقوم بدوره ليكتمل بذلك بناء المجتمع في داخل البيت وفي خارجه.
فالرجل يقوم بالنفقة والاكتساب، والمرأة تقوم بتربية الأولاد والعطف والحنان والرضاعة والحضانة والأعمال التي تناسبها لتعليم الصغار وإدارة مدارسهن والتطبيب والتمريض لهن ونحو ذلك من الأعمال المختصة بالنساء.فترك واجبات البيت من قبل المرأة يعتبر ضياعاً للبيت بمن فيه، ويترتب عليه تفكك الأسرة حسياً ومعنوياً

“Islam menetapkan masing-masing dari suami dan istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya masing-masing sehingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka, serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya seperti mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya, berarti ia telah menyia-nyiakan rumah serta para penghuninya. Hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan dalam keluarga baik secara hakiki maupun maknawi.” (Khatharu Musyarakatil Mar’ah lir Rijal fii Maidani ‘Amalihi).
(Sumber: https://binbaz.org.sa/articles/40/ )

Ketika seorang wanita menjalankan peran sesuai fitrahnya sebagai pengurus utama rumah tangga dan pendidik anak, di situlah ketenangan dan kebahagiaan sejati akan didapatkan, karena ia menjalankan tugas mulia yang ditetapkan oleh Penciptanya.

Menjadi ibu rumah tangga bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah amanah dan ibadah yang sangat besar nilainya di sisi Allah. Jika tugas ini dikerjakan dengan niat ikhlas, setiap lelahnya akan bernilai pahala.

Oleh karena itu, jangan sampai terpengaruh oleh pandangan yang meremehkan peran ini. Karena sesungguhnya, sebaik-baiknya tempat dan pekerjaan yang paling mulia bagi seorang wanita adalah di rumah, mendidik anak, dan menunaikan hak-hak suaminya, sesuai dengan bimbingan dari syariat Islam.

Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/ibu-rumah-tangga-adalah-sebaik-baik-profesi-wanita.html

BUATLAH AMALAN RAHASIA DI SISI ALLAH

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya, Al-Mushannaf dan Hannad dalam kitabnya Az-Zuhd dan Al-Khatib dalam kitabnya Tarikh Baghdad dari Zubair bin Awwam Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Siapa dari kalian dapat memiliki amal saleh yang tersembunyi, hendaklah ia melakukannya.”

Yang dimaksud dengan amalan tersembunyi adalah amalan rahasia yang tidak diketahui orang lain, dia melakukannya sebagai simpanan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Makna ucapan Zubair bin Awwam, “Amal salih (yang tersembunyi), hendaklah ia melakukannya” yakni siapa dari kalian yang dapat menyembunyikan amal salihnya agar hanya menjadi rahasianya antara dirinya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga menjadi penggugur dosanya, hendaklah ia melakukannya, dan ini agar menjadi penegas atas makna keikhlasan dan harapan mendapat pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.

Seorang ulama Salaf berkata, “Dulu para Salaf menganjurkan agar seseorang punya amal saleh rahasia yang bahkan tidak diketahui istrinya atau orang lainnya.”

Abdullah bin Al-Mubarak berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang lelaki yang tinggi derajatnya seperti Malik bin Anas, beliau tidak punya banyak amalan shalat atau puasa (sunnah), hanya saja beliau pasti punya ketulusan hati.”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidaklah Allah meninggikan kedudukan Ibnu Al-Mubarak kecuali karena amal rahasianya.”

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Dosa-dosa rahasia merupakan sebab seseorang berbelok dari hidayah, sedangkan ibadah rahasia adalah asas keteguhan.”

Artikel khotbahjumat.com

Lihat penjelasan lengkapnya disni – https://khotbahjumat.com/6977-buatlah-amalan-rahasia-di-sisi-allah.html

Ketika Istriku Cemburu

Sifat dasar wanita adalah sangat mudah cemburu. Mereka sensitif.
Jika telah cemburu maka akalnya hilang. Hilang dalam artian tertutup akal sehatnya, berkurang daya nalar dan logikanya, sehingga tindakan dan omongannya didominasi oleh emosi dan perasaannya.

Istri Nabi yang paling beliau cintai, ibunda kaum mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

أن الغيراء لا تبصر أسفل الوادي من أعلاه

“Seorang wanita yang sedang marah karena cemburu tidak bisa membedakan antara dasar dan puncak lembah.” [HR. Abu Ya’la, lihat Fathul Baari li Ibn Hajar hal. 325/9]

Artinya jika seorang perempuan cemburu, daya nalar dan logikanya tidak bisa bekerja dengan sempurna, karena tertutup oleh cemburu dan emosinya.

Para suami harus memaklumi hal tersebut, sehingga saat menjumpai istrinya sedang cemburu, jangan terpancing emosi dan berusahalah untuk tidak marah sedikit pun.

Berusahalah memilih respon yang tepat saat ia sedang cemburu. Misalnya memilih diam saat ia sedang mengomel, atau menenangkannya agar cemburunya mereda dan suasana hatinya berubah menjadi ceria.

Coba kita tiru bagaimana akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi ibunda ‘Aisyah saat ia memecahkan piring makanan karena terbakar cemburu. Rasulullah tidak marah, justru beliau memaklumi dan membela ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dengan bersabda,

غَارَتْ أُمُّكُمْ

“Ibu kalian (‘Aisyah) sedang cemburu.” [HR. Bukhari no. 5225]

Terkait dengan perasaan cemburunya seorang wanita, At Thabari dan para ulama lainnya mengatakan,

الغيرة مسامح للنساء فيها لا عقوبة عليهن فيها لما جبلن عليه من ذلك

“Rasa cemburu wanita itu harus dimaklumi. Tidak ada hukuman bagi mereka, karena cemburu adalah tabiat bawaan wanita.” [Lihat Al Adab Asy Syar’iyyah wal Minah Al Mar’iyyah hal. 248/1]

Wahai para suami! Saat istri cemburu mengapa kita harus marah? Ambillah sisi positifnya, bukankah seorang istri cemburu itu karena cinta kepada kita, kan?

Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada para suami untuk lebih sabar menghadapi tabiat bawaan istrinya. Dan semoga Allah senantiasa memberi penjagaan kepada para istri agar tidak terjerumus dalam keburukan akibat rasa cemburunya. Aamiin

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.

sumber: https://muslimafiyah.com/ketika-istriku-cemburu.html