Pentingnya Keikhlasan Dalam Seluruh Amal Ibadah

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah/98 : 5]

Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam Shalawat dam salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Shalalllahu ‘alaihi wa sallam Pembawa risalah yang haq ini sebagai rahmat bagi semesta alam kepada keluarganya para shahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.

Berikut ini adalah pembahasan secara singkat hal-hal yang berkaitan dengan pentingnya “keikhlasan” dalam seluruh amalibadah. Sesungguhnya perkara paling mendasar dan terpenting dalam dien ini adalah mengikhlaskan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan, hal itu sebagai syarat utama diterimanya amal ibadah. Ikhlas adalah termasuk amalan hati yang perlu mendapatkan perhatian “istimewa” (secara mendalam) dan dilakukan dengan cara “istimrar” (terus menerus) di setiap kita hendak melakukan amalibadah, agar amalan kita menjadi bernilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

PENTINGNYA AMALAN HATI.
Telah kita ketahui bahwa pengertian iman menurut Ahlus Sunah adalah : Keyakinan dengan hati, ikrar dengan lisan, dan amalan dengan seluruh anggota badan, bertambah dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berkurang dengan perbuatan maksiat.

Perlu diketahui bahwa ikhlas adalah perkara terpenting dalam amalan hati, yang hal tersebut sangat erat hubungannya dengan pengertian iman tersebut di atas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Amalan-amalan hati adalah termasuk pokok-pokok dari keimanan dan tonggak-tonggak agama Islam ini, seperti: mencintai Allah dan Rasul-Nya, bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengikhlaskan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya dan berlaku sabar di atas hukum-hukum-Nya, khauf (perasaan takut kepada-Nya akan siksa atau adzab-Nya), raja (berharap) kepada-Nya…Semua amalan ini wajib atas seluruh makhluk berdasarkan kesepakatan para imam agama”.[1]

Ibnul Qayim juga menjelaskan keagungan amalan-amalan hati : Amalan–amalan hati ialah pokok adapun amalan–amalan anggota badan adalah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat sekedudukan dengan ruh, adapun amalan sekedudukan dengan jasad, sehingga apabila ruh telah terpisah dengan jasad maka binasalah. Oleh sebab itu mengetahui hukum – hukum hati lebih penting dari pada mengetahui hukum-hukum jasad.[2]

Hal inilah di antaranya yang mendorong kami untuk mengulas hal ini agar seluruh aktifitas kita sehari-hari tidak menemui kesia-siaan, yakni hampa, jauh dari berkah Allah atau Ramat-Nya, seolah-olah tiada nilainya aktifitas yang kita laksanakan setiap hari.

Niat berasal dari bahasa Arab, yang berarati tujuan. Sedangkan menurut istilah syara’ memiliki dua arti:

Ikhlash dalam beramal, yaitu semata-mata karena Allah, dan inilah yang sering dibicarakan oleh para Ulama ahli tauhid, suluk (perilaku) dan akhlak.
Membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain, atau ibadah dengan kebiasaan. Istilah ini sering dipakai oleh ulama-ulama Fiqh.
Niat dipakai untuk membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan yang dilakukan oleh manusia), misalnya : Mandi, apabila dimaksudkan (niatkan) karena Allah semata untuk menghilangkan hadats besar (mandi junub misalnya) maka hal yang semacam itu akan menjadi ibadah, lain halnya apabila mandi semata-mata dimaksudkan untuk membersihkan badan atau mendapatkan kesegaran, maka hal itu menjadi adat (kebiasaan) saja.

Kemudian bahwa niat itu tempatnya di hati dan apabila di lafadzkan menjadi bid`ah.

KEDUDUKAN IKHLAS.
Sesungguhnya ikhlas adalah hakekat dien dan kunci dakwah para rasul, yakni menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan menjauhi thagut :

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah/98: 5]

Yang dimaksud dengan ” (حُنَفَاءَ ) agama yang lurus” pada ayat di atas adalah terjauhkan dari perkara-perkara syirik dan menuju kepada tauhid. Di sinilah pentingnya ikhlash dalam selurus amal ibadah, agar amalan tersebut tidak sia-sia, dan tidak mendapat adzab dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Kemudian bahwa pengaruh ikhlas terhadap amalan itu sangatlah besar, amal yang kecil dan sedikit jika dilakukan dengan ikhlas dapat memperoleh pahala yang besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam perkara ini mengatakan: “Suatu jenis amalan yang dikerjakan oleh manusia dengan menyempurnakan keikhlasannya dan ketundukkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terkadang Allah Subahnahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa besar dengan sebab amalan itu, sebagaimana hadits al-bithaqah (seorang yang memiliki satu kartu Laa ilaaha illa Allah, lalu diampuni dosa-dosanya sebanyak 99 lembaran catatan amal keburukan-red)…ini karena dia mengucapkan Laa ilaaha illa Allah dengan ikhlas dan jujur/benar, karena kalau tidak, maka para pelaku dosa besar yang masuk ke dalam neraka semuanya juga mengucapkan tauhid, tetapi perkataan mereka tidaklah lebih berat terhadap dosa-dosa mereka sebagaimana pemilik kartu (Laa ilaaha illa Allah) itu.”

Hadits pemilik kartu Laa ilaaha illa Allah itu, adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَعَافِرِيِّ ثُمَّ الْحُبُلِيِّ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ الهِb بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ الهَِ n إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلاَّ كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الهُب وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ الهِق شَيْءٌ


Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu , dia berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengadili salah seorang laki-laki dari ummatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu ditunjukan kepada laki-laki tersebut 99 catatan (amal keburukan), setiap satu catatan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepada laki-laki tersebut: ”Apakah kau ingkari dari semua ini (kedzaliman yang telah kau perbuat)? Apakah para malaikat-Ku pencatat dan penjaga amalan menzhalimimu? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Lalu Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Apakah engkau punya alasan (berbuat kezhaliman itu)? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Kemudian Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Ya benar, tetapi sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan sesungguhnya tidak ada kedzaliman atasmu pada hari ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu kecil yang di dalamnya terdapat : Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Datangkan timbanganmu”, maka orang tersebut berkata: “Ya Tuhan untuk apa kartu kecil ini dibandingkan dengan catatan (amal keburukan) ini ?”, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Sesungguhnya pada hari ini tiada kedzaliman”. Maka diletakkanlah catatan itu pada salah satu daun timbangan, dan kartu kecil itu diletakan pada satu daun timbangan yang lain. Maka jadi ringanlah catatan-catatan `amal keburukan itu dan beratlah kartu kecil tersebut, maka tiadalah sesuatupun yang menjadi berat dibandingkan dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i].

PENGERTIAN IKHLAS DAN BATASNNYA
Ada beberapa pengertian tentang ikhlas yang disebutkan oleh ulama, antara lain :

Diantaranya ada yang mengatakan : Ikhlas ialah “Menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya tujuan di dalam menjalankan ketaatan”.
Ada juga yang mengatakan : “Ikhlas ialah membersihkan perbuatan dari mencari pandangan manusia”.
Al-Harawi berkata: “Ikhlas ialah membersihkan amalan dari setiap noda”.
Dan sebagian yang lain ada yang mengatakan: “Orang yang mukhlis ialah orang yang tidak perduli, seandainya hilang seluruh penghormatan kepadanya di dalam hati manusia, untuk kebaikan hatinya bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dia tidak suka manusia mengetahui amalannya walaupun seberat debu. Allah.
Tidak diragukan lagi bahwa keikhlasan membutuhkan kesungguhan yang tinggi hingga seorang hamba meraihnya dengan sempurna.

PENGERTIAN RIYA’, SUM’AH, UJUB
Telah kita ketahui bahwa keikhlasan dapat dihilangkan oleh beberapa perkara, seperti: mencintai dunia, kemasyhuran, kemuliaan, riya’, sum’ah dan ujub.

Riya ialah melakukan `ibadah dengan tujuan dilihat oleh manusia, sehingga orang yang riya’ itu mencari pengagungan, pujian, harapan atau rasa takut terhadap orang yang dia berbuat riya’ karenanya.
Sum’ah adalah amalan yang dilakukan dalam rangka agar didengar orang lain, misalnya memperdengarkan bacaan Al-Qur’an atau yang lainnya.
Ujub adalah teman riya, yaitu perasaan bangga terhadap diri sendiri atas kemampuan yang dimiliki secara berlebihan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan antara keduanya (antara riya dan ujub ).
a. Riya adalah salah satu bentuk dari syirik kepada makhluk.
b. Adapun ujub adalah bentuk dari pada syirik kepada diri sendiri.[3]

DIANTARA BENTUK-BENTUK RIYA, UJUB DAN SUM’AH

  1. Riya dalam ibadah sholat, misalnya : Memperbaiki posisi atau gerakan shalat karena mengetahui bahwa dia sedang diperhatikan oleh orang yang dianggap lebih ‘alim atau lainya.
  2. Riya atau sum’ah dalam kepribadian misalnya : Karena di karuniai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala suara yang merdu misalnya, maka timbulah penyakit riyaatau ujub ini pada nimat tersebut; Mengeraskan/ menbaguskan bacaan dalam membaca Al-Qur`an atau ketika mengumandangkan adzan dengan harapan ingin mendapatkan pujian atau agar diakui bahwa dia memiliki suara yang bagus atau merdu. Pada hakekatnya membaguskan suara dalam membaca Al-Qur’an, dengan tidak dibuat-buat atau berlebih-lebihan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sabadanya:

زَيِّنُوْا اْلقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ.

Baguskanlah (bacaan) Al-Qur`an dengan suara kalian [4]

  1. Ujub atau Riya dalam berdakwah misalnya : Berceramah, menasehati orang, atau mentahdzir (memberi peringatan terhadap seseorang) dengan niat agar dikenal sebagai seorang penasehat, ahli pidato dengan harapan agar semua orang memujinya atau menyanjungnya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari semua perkara ini. Hendaklah kita ikhlash dalam berda`wah agar orang yang mendengarnya pun menerima dengan ikhlash (yakni : mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala)
  2. Riya atau Ujub dalam menuntut ilmu : Yaitu berbangga dengan ilmu yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya atau menuntut ilmu hanya dalam rangka ingin menjadi seorang yang ahli dalam berdebat, bukan mengharapkan wajah Allah atau mencari berkah dari Allah atas ilmu yang dimilikinya. Sehingga ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan tidak mampu membawa dia ke dalam kebahagian di dunia ataupun diakhirat. Padahal rasulullah telah memperingatkan dengan keras bagi para penuntut ilmu dengan ancaman tidak akan mendapatkan bau surga, apabila mempelajari suatu ilmu dalam rangka untuk mencari dunia semata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا


Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala ; tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.[5]

  1. Riya atau Ujub ketika bershadaqah, misalnya : Memperlihatkan harta yang telah dishadaqahkan, atau mengungkit-ungkit kembali pemberian yang telah lalu dengan harapan agar disebut sebagai seorang dermawan.

PENAWAR RIYA
Adapun di antara cara-cara mengobati riya adalah sebagi berikut:

  1. Mengetahui seluk beluk riya itu sendiri dan takut terhadapnya. Sebagaimana hal tersebut adalah perkara yang paling ditakutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إِنَّ أَخْوَفُ مَا أَخَا فُ عَلَيكْمُ الشِّرْكُ اْلأَ صْغَر. قَا لوُا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَ صْغَرُ يَا رَسُوْلُ الله ؟ قال : ” الرِّيَاءُ “.يقول الله تعالىيوم القيامة, إذا جازى الناس بأعمالهم : اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون جزاء؟”

Sesungguhnya yang paling kutakutkan dari perkara yang aku takutkan atas kalian ialah syirik kecil. Para shahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai rasulullah? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Riya’, Pada hari kiamat , ketika membalas amalan-amalan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berfirman: “Pergilah kepada orang yang kamu dahulu sewaktu di dunia berbuat riya’ kepadanya, dan lihatlah apakah kamu dapakan balasan (pahala) darinya? [6]

  1. Memberikan sanjungan atau pujian hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sumber dari segala kebaikan; maka hanya Allahlah yang berhaq mendapatkan pujian:

الحمد لله رب العالمين

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. [Al-Fatihah/1 :2]

  1. Mengingat mati dan sekaratnya, hari akhir dan kedahsyatan adzabnya, kubur dan kerasnya siksa yang diberikan karena dosa-dosa yang diperbuat selama di dunia. Keadaan di kubur yang sunyi, gelap gulita dan sempit, tidak ada ibu dan bapak atau orang-orang yang dicinta di dekatnya.
  2. Melihat akibat riya’, baik di dunia maupun diakhirat.
    Maka perlu diketahui oleh setiap orang bahwa seandainya seluruh manusia berkumpul dalam rangka memberikan manfaat kepada siapapun, maka tiadalah mereka mampu memberikannya kecuali sesuatu itu telah ditentukan oleh Allah Subhanhau wa Ta’ala baginya; Oleh sebab itu sebagian orang-orang salaf mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah dalam mencegah timbulnya riya` darimu, anggaplah orang lain bagimu seperti binatang dan anak-anak, janganlah kau bedakan adanya mereka atau tidak adanya, mereka tahu atau tidak tahu, cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang mengetahuinya.

Kemudian singkirkan perasaan ingin dipuji ketika (syetan menggoda), dengan do’a-do’a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti:

أعوذ الله من الشيطان الرجيم

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

Adapun akibat riya di akhirat antara lain ; sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ الهُ بِهِ وَمَنْ رَاءَى رَاءَى الهُ بِهِ

Barang siapa (yang beramal) ingin didengar maka Allah akan memperdengarkannya dan barang siapa (beramal) ingin dilihat maka Allah pun akan memperlihatkannya.[7]

Artinya : Bila seseorang beramal hanya ingin didengar atau dilihat orang lain maka itulah yang akan dia dapatkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna tidak butuh sekutu-sekutu tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Aku adalah Yang paling tidak butuh sekutu, barangsiapa yang mengamalkan suatu perbuatan, yang di dalamnya dia menyekutukanKu dengan selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.[8]

  1. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa berlaku ikhlas dalam segala amal ibadah dan berlindung dari-Nya dari riya. Seorang mumin atau muminah hendaklah tunduk, berserah diri kepada-Nya, berusaha semaksimal mungkin menghindarkan diri dari riya, sum’ah dan ujub; dan memperbanyak dzikir (mengingat Allah kapan saja di manapun berada) dan berdo`a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana do’a-do’a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam antara lain :

الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل. وسأدلك على شيءٍ إذا فعلته أذهب عنك صغار الشرك وكبيره . تقول: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْ ذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ أَعْلَمُ, وَاسْتَغْفِرُكَ لمِاَ لاَ أَعْلَمُ. 

Kesyirikan yang ada pada kalian lebih tersembunyi merayapnya seekor semut, dan aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu apabila hal itu kau kerjakan, maka akan menghilangkan kesyirikan kecil dan besar darimu. Yaitu engkau mengatakan (berdo’a): “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari mensekutukan-Mu sedangkan saya mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari apa-apa yang aku tidak aku tahu.”[9]

Wallahu A’lam.

(Disadur oleh Abdul Wahid dari kitab Al-Ikhlash Wasy Syirkul Ashghar, karya Syeikh Abdul Aziz Ali Abdul Lathif dan tambahan dari sumber lain)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun V/1422H/2001M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Majmu’ Al-Fatawa 10/5 dan 20/70
[2] Badai`ul Fawaaid 3/224
[3] Al-Fatawa:10/277
[4] HR.Abu Dawud dan Ahmad
[5] HR.Abu Dawud
[6] HR. Ahmad, At-Thabrani dan Al-Baihaqi
[7] HR. Bukhari & Muslim
[8] HR. Muslim dari Abu Hurairah
[9] Shahih Jami’ ash-Shaghir 3/332


Referensi : https://almanhaj.or.id/10672-pentingnya-keikhlasan-dalam-seluruh-amal-ibadah-2.html

Naungan di Padang Mahsyar

Naungan di Padang Mahsyar

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ – أَوْ قَالَ: يُحْكَمَ بَيْنَ النَّاسِ

Nabi bersabda, “Setiap orang itu akan berada di bawah naungan sedekahnya selama di padang mahsyar sampai ada keputusan untuk manusia, masuk surga atau neraka.” (HR Ahmad)

Yazid bin Abu Habib, salah satu perawi hadits mengatakan bahwa gurunya Abu Khoir setiap hari bersedekah baik dengan kue, bawang atau lainnya.

Ketika manusia dibangkitkan dari alam kubur dan kumpul di padang masyar, matahari demikian dekat dengan kepala manusia.

Manusia demikian menderita karenanya.

Tidak ada orang yang merasakan kenyamanan pada hari itu kecuali orang yang memiliki amal yang menyebabkan dia mendapatkan naungan di hari yang demikian terik.

Amal penting yang menjadi naungan bagi pelakunya adalah sedekah.

Semakin hebat kualitas dan kuantitas sedekah naungan tersebut akan semakin nyaman.

Sedekah hebat adalah sedekah yang dilakukan sekali namun pahalanya mengalir tiada henti. Itulah wakaf, baik wakaf tanah ataupun wakaf bangunan.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Referensi: https://konsultasisyariah.com/36359-naungan-di-padang-mahsyar.html

Meninggal Pada Malam Jum’at atau Hari Jum’at adalah Salah Satu Sebab Diselamatkan dari Siksa Kubur

Sebab-Sebab yang Menyelamatkan Seseorang dari Siksa Kubur

  1. Meninggal Pada Malam Jum’at atau Hari Jum’at adalah Salah Satu Sebab Diselamatkan dari Siksa Kubur.
    Yang menjadi dalil dari hal tersebut adalah:
    Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَـا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَـوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ.

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malamnya, kecuali Allah akan men-jaganya dari fitnah kubur.”[1]
Al-Hakim at-Tirmidzi berkata, “Siapa saja yang meninggal pada hari Jum’at, maka penutup yang ada padanya di sisi Allah akan terbuka, karena pada hari Jum’at api Neraka tidak dinyalakan dan pintu-pintunya pun ditutup, penjaganya tidak bekerja seperti pada hari-hari biasanya. Oleh karena itu, jika seorang hamba meninggal pada hari itu, maka hal tersebut merupakan bukti kebahagiaannya dan kabar gembira bagi tempat peristirahatan yang indah baginya. Tidaklah seseorang dicabut nyawanya pada hari tersebut kecuali dia adalah orang-orang yang telah ditetapkan untuk mendapatkan kebahagiaan, dengan itu dia dibebaskan dari fitnah kubur, karena fitnah kubur merupakan pembeda antara seorang mukmin dan munafik.[2]

Amal orang lain yang bisa menyelamatkan seseorang dari siksa kubur atau amal shalih dan shadaqah jariyah yang ditinggalkannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Terkadang seseorang terputus dari siksa kubur dengan do’a, sedekah, istighfar atau pahala ibadah haji…[3]

Amal orang lain yang bermanfaat bagi mayit dengan beberapa hal:

Do’a seorang muslim kepadanya jika memenuhi syarat terkabulkannya sebuah do’a.
Wali mayit yang melaksanakan puasa nadzar
Membayar hutang yang berat baginya oleh walinya atau yang lainnya.
Amalan shalih yang dilakukan oleh seorang anak yang shalih, maka sungguh kedua orang tuanya mendapatkan pahala yang dilakukan anak tersebut tanpa dikurangi sedikit pun.

Seorang mayit bisa mendapatkan manfaat dari amal yang telah ia lakukan berupa amal-amal yang shalih dan sedekah jariyah. Hal ini sebagaimana dikatakan di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ

“… dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan…” [Yaasiin/36: 12].

Begitupula sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا مَـاتَ اْلإِنْسَـانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَشْيَاءٍ، مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ.

“Jika seorang manusia meninggal, maka semua amalnya terputus kecuali tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang shalih.”[4]

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]


Footnote
[1] Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1074) di dalam kitab al-Janaa-iz, bab Maa Jaa-a fiiman Maata Yaumal Jumu’ah, beliau bekata, “Hadits hasan gharib.” Hadits ini di-hasankan oleh al-Albani di dalam Shahiih al-Jaami’ (no. 5649) dan di dalam Misykaatul Mashaabih (no. 1367).
[2] Syarhush Shuduur, hal. 150 dan al-Lum’ah fii Khasaishil Jum’ah (57).
[3] Ar-Ruuh, hal. 119, 120.
[4] HR. Muslim, kitab al-Washiyya, bab Maa Yalhaqul Insaan minats Tsawaab ba’da Wafaatihi (no. 1631 (14)) dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.


Referensi : https://almanhaj.or.id/1703-meninggal-pada-malam-jumat-atau-hari-jumat-adalah-salah-satu-sebab-diselamatkan-dari-siksa-kubur.html

Yang Paling Mulia, Yang Paling Bertakwa

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Mungkin ada yang menyangka bahwa yang paling mulia adalah yang kaya harta, dari golongan konglomerat, yang cantik rupawan, yang punya jabatan tinggi, berasal dari keturunan Arab atau bangsawan. Namun, Allah sendiri menegaskan yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

Ayat yang patut jadi renungan saat ini adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Ath Thobari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath Thobari, 21:386)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,  “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari keturunan kalian” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 169)

Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كرم الدنيا الغنى، وكرم الآخرة التقوى.

Mulianya seseorang di dunia adalah karena kaya. Namun muliany seseorang di akhirat karena takwanya.” Demikian dinukil dalam tafsir Al Baghowi. (Ma’alimut Tanzil, 7: 348)

Kata Al Alusi, ayat ini berisi larangan untuk saling berbangga dengan keturunan. Al Alusi rahimahulah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di antara kalian di sisi Allah di dunia maupun di akhirat adalah yang paling bertakwa. Jika kalian ingin saling berbangga, saling berbanggalah dengan takwa (kalian).” (Ruhul Ma’ani, 19: 290)

Dalam tafsir Al Bahr Al Muhith (10: 116) disebutkan, “Sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagaimana yang disebutkan dalam ayat (yaitu ada yang berasal dari non Arab dan ada yang Arab). Hal ini bertujuan supaya kalian saling mengenal satu dan lainnya walau beda keturunan. Janganlah kalian mengklaim berasal dari keturunan yang lain. Jangan pula kalian berbangga dengan mulianya nasab bapak atau kakek kalian. Salinglah mengklaim siapa yang paling mulia dengan takwa.”

Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Yang bertakwa itulah yang berhak menyandang kemuliaan, yaitu lebih mulia dari orang yang tidak memiliki sifat takwa. Dialah yang paling mulia dan tinggi kedudukannya (di sisi Allah). Jadi, klaim kalian dengan saling berbangga pada nasab kalian yang mulia, maka itu bukan menunjukkan kemuliaan. Hal itu tidak menunjukkan seseorang lebih mulia dan memiliki kedudukan utama (di sisi Allah).” (Fathul Qodir, 7: 20)

Dalam tafsir Al Jalalain (528) disebutkan, “Janganlah kalian saling berbangga dengan tingginya nasab kalian. Seharusnya kalian saling berbangga manakah di antara kalian yang paling bertakwa.”

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Allah menjadikan kalian berbeda bangsa dan suku (ada yang Arab dan ada yang non Arab) supaya kalian saling mengenal dan mengetahui nasab satu dan lainnya. Namun kemuliaan diukur dari takwa. Itulah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, yang rajin melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Standar kemuliaan (di sisi Allah) bukan dilihat dari kekerabatan dan kaum, bukan pula dilihat dari sisi nasab yang mulia. Allah pun Maha Mengetahui dan Maha Mengenal. Allah benar-benar tahu siapa yang bertakwa  secara lahir dan batin, atau yang bertakwa secara lahiriyah saja, namun tidak secara batin. Allah pun akan membalasnya sesuai realita yang ada.” (Taisir Al Karimir Rahman, 802)

Banyak hadits pula yang menyebutkan hal di atas, yaitu semulia-mulia manusia adalah yang paling bertakwa.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ النَّاسِ أَكْرَمُ قَالَ « أَكْرَمُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَأَكْرَمُ النَّاسِ يُوسُفُ نَبِىُّ اللَّهِ ابْنُ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَبِ تَسْأَلُونِى » . قَالُوا نَعَمْ . قَالَ « فَخِيَارُكُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوا »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah orang yang paling mulia?” “Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang tersebut berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, nabi Allah, anak dari Nabi Allah, anak dari nabi Allah, anak dari kekasih-Nya”, jawab beliau. Orang tersebut berkata lagi, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Apa dari keturunan Arab?”, tanya beliau. Mereka menjawab, “Iya betul”. Beliau bersabada, “Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama).” (HR. Bukhari no. 4689)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ».

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لَهُ « انْظُرْ فَإِنَّكَ لَيْسَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلاَ أَسْوَدَ إِلاَّ أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى »

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR. Ahmad, 5: 158. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari sanad lain)

Bukan kulit putih membuat kita mulia, bukan pula karena kita keturunan darah biru, keturunan Arab, atau anak konglomerat. Yang membuat kita mulia adalah karena takwa. Semoga pelajaran tentang ayat yang mulia ini bermanfaat dan bisa kita renungkan serta realisasikan. Wallahu waliyyut taufiq.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

@ Sabic Lab Riyadh KSA, 27 Dzulqo’dah 1432 H (25/10/2011)

Referensi:

  1. Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.
  2. Ma’alimut Tanzil, Abu Muhammad Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi, terbitan Dar Thoyyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H
  3. Ruhul Ma’ani fii Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim was Sab’il Matsanii, Mahmud bin ‘Abdullah Al Husaini Al Alusi, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.
  4. Tafsir Al Bahr Al Muhith, Abu Hayan Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali bin Yusuf bin Hayyan, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.
  5. Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi, terbitan Darus Salam, cetakan kedua, 1422 H.
  6. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail bin Katsir Ad Dimasyqi, terbitan Muassasah Qurthubah.
  7. Tafsir Ath Thobari Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Hijr.
  8. Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Naashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.

Sumber https://rumaysho.com/2029-yang-paling-mulia-yang-paling-bertakwa.html

Larangan Berlebihan dalam Memuji

Tidak boleh memuji secara berlebihan

Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ

“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” 

Kalimat ini diucapkan oleh beliau berulang kali, kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لاَ مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلاَنًا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلاَ أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ

“Siapa saja di antara kalian yang tidak boleh tidak harus memuji saudaranya, hendaklah dia mengucapkan, “Aku mengira si fulan (itu demikian), dan Allah-lah yang lebih tahu secara pasti kenyataan sesungguhnya, dan aku tidak memberikan pujian ini secara pasti, aku mengira dia ini begini dan begitu keadaannya”, jika dia mengetahui dengan yakin tentang diri saudaranya itu (yang dipuji).” (HR. Bukhari no. 2662 dan Muslim no. 3000)

Dengan kata lain, ketika kita memuji seseorang kita bisa menggunakan kalimat semacam, “Sebatas yang saya tahu … “; atau “Kalau berdasarkan lahiriyahnya, dan Allah-lah yang lebih tahu, bahwa si fulan itu orang yang baik … “; atau ungkapan-ungkapan semacam itu.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang memuji orang lain secara berlebihan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْلَكْتُمْ – أَوْ قَطَعْتُمْ – ظَهَرَ الرَّجُلِ

“Engkau membinasakan atau Engkau memotong punggung kawanmu itu.” (HR. Bukhari no. 2663 dan Muslim no. 3001)

Berlebihan dalam memuji ini bisa terjadi karena beberapa hal, di antaranya:

Pertama, pujian berlebihan dalam arti tidak ada pujian tersebut dalam diri seseorang yang dipuji (asal memuji saja, serampangan). Yaitu pujian dengan bumbu-bumbu kebohongan atau pujian dengan rekayasa. Misalnya, memuji orang lain sebagai orang dermawan, padahal tidak demikian faktanya.

Ke dua, pujian berlebihan karena orang yang dipuji tidak selamat dari sikap ujub (bangga terhadap diri sendiri) atau dia menjadi terlalu ge-er dengan pujian tersebut. Dia menyangka bahwa dirinya memiliki sifat atau kedudukan sebagaimana dalam isi pujian tersebut, sehingga pada akhirnya dia tidak mau lagi beramal dan tidak mau berbuat kebaikan karena merasa puas dengan pujian yang dia terima. (Lihat Fathul Baari, 10: 477 karya Ibnu Bathal)

Pujian yang mengada-ada inilah yang menurut penjelasan ulama merupakan maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ، فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمِ التُّرَابَ

“Jika Engkau melihat orang yang memuji, maka taburkanlah debu di wajahnya.” (HR. Muslim no. 3002)

Dalam riwayat lain dari sahabat Al-Miqdad radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نَحْثِيَ فِي وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah di muka orang yang memuji-muji.” (HR. Muslim no. 3002)

‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

المدح هو الذبح

“Pujian adaah sembelihan.” (Fathul Baari, 10: 477 karya Ibnu Hajar)

Jika tidak mengandung unsur terlarang di atas, tidak masalah jika memuji orang lain di hadapannya

Adapun jika pujian tersebut tidak mengandung unsur-unsur terlarang di atas, maka tidak mengapa. Sebagaimana perbuatan atau ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memuji sebagian sahabatnya.

Diriwayatkan dari ‘Amir bin Sa’d, beliau mengatakan,

سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِحَيٍّ يَمْشِي، إِنَّهُ فِي الْجَنَّةِ إِلَّا لِعَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ

“Aku mendengar ayahku berkata, “Aku belum pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seseorang yang berjalan di muka bumi ini bahwa dia adalah calon penghuni surga kecuali kepada ‘Abdullah bin Salam.” (HR. Bukhari no. 3812 dan Muslim no. 2483)

Dalam hadits di atas, terdapat pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau adalah penghuni surga.

Juga sebagaimana pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Abu Bakr bukanlah orang yang sombong. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ لَسْتَ مِنْهُمْ

“Engkau bukan termasuk mereka (orang-orang yang sombong).” (HR. Bukhari no. 6062)

Sehingga hadits-hadits pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian sahabatnya adalah pengeculian dari hadits-hadits beliau yang merang untuk memuji orang lain. 

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata ketika menjelaskan kompromi dua jenis hadits di atas,

وَقَدْ جَاءَتْ أَحَادِيث كَثِيرَة فِي الصَّحِيحَيْنِ بِالْمَدْحِ فِي الْوَجْه . قَالَ الْعُلَمَاء : وَطَرِيق الْجَمْع بَيْنهَا أَنَّ النَّهْي مَحْمُول عَلَى الْمُجَازَفَة فِي الْمَدْح ، وَالزِّيَادَة فِي الْأَوْصَاف ، أَوْ عَلَى مَنْ يُخَاف عَلَيْهِ فِتْنَة مِنْ إِعْجَاب وَنَحْوه إِذَا سَمِعَ الْمَدْح . وَأَمَّا مَنْ لَا يُخَاف عَلَيْهِ ذَلِكَ لِكَمَالِ تَقْوَاهُ ، وَرُسُوخ عَقْله وَمَعْرِفَته ، فَلَا نَهْي فِي مَدْحه فِي وَجْهه إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ مُجَازَفَة ، بَلْ إِنْ كَانَ يَحْصُل بِذَلِكَ مَصْلَحَة كَنَشَطِهِ لِلْخَيْرِ ، وَالِازْدِيَاد مِنْهُ ، أَوْ الدَّوَام عَلَيْهِ ، أَوْ الِاقْتِدَاء بِهِ ، كَانَ مُسْتَحَبًّا . وَاللَّهُ أَعْلَم .

“Terdapat banyak hadits dalam shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) tentang (bolehnya) memuji orang lain di hadapannya. Para ulama mengatakan, metode untuk mengkompromikan hadits-hadits di atas adalah bahwa hadits yang melarang itu dimaksudkan untuk orang yang berlebihan (serampangan) dalam memuji, atau pujian yang lebih dari sifat yang sebenarnya, atau pujian yang ditujukan kepada orang yang dikhawatirkan tertimpa fitnah berupa ujub dan semacamnya ketika dia mendengar pujian kepada dirinya. 

Adapun orang yang dikhawatirkan tidak tertimpa fitnah tersebut, baik karena bagusnya ketakwaannya dan kokohnya akal dan ilmunya, maka tidak ada larangan memuji di hadapannya, itu pun jika pujian tersebut tidak pujian yang serampangan. Bahkan jika pujian tersebut menimbulkan adanya maslahat, misalnya semakin semangatnya dia untuk berbuat kebaikan dan meningkatkan kebaikan, atau kontinyu dalam berbuat baik (misalnya pujian yang ditujukan kepada anak-anak, pent.), supaya orang lain pun meneladani orang yang dipuji tersebut, maka (jika ada maslahat semacam ini) hukumnya dianjurkan.” (Syarh Shahih Muslim, 9: 382)

Berdasarkan penjelasan An-Nawawi di atas, maka pujian kepada anak-anak kecil (anak TK) yang pujian ini bisa membangkitkan motivasi mereka untuk terus belajar dan berbuat baik, hukumnya dianjurkan. 

[Selesai]

***

@Puri Gardenia i10, 11 Syawwal 1440/15 Juni 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 82-85.
Sumber: https://muslim.or.id/47721-larangan-berlebihan-dalam-memuji.html

Menjalin Kerja Sama Dalam Ranah Dakwah

Tak diragukan lagi bahwa dakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala merupakan ibadah yang sangat mulia. Demikian pula orang-orang yang menjalankannya dengan penuh ikhlas dan meniti jejak baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Rabb Alam Semesta adalah balasannya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٣٣

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah (berdakwah), mengerjakan amal saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

“Demi Allah, sungguh jika Allah menunjuki seseorang dengan lantaran kamu, (pahalanya) lebih mulia bagimu daripada mendapatkan unta merah.” (HR . al-Bukhari no. 3701 dan Muslim no. 2406 dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu)

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR . Muslim no. 1893 dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiallahu ‘anhu)

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa menyeru kepada petunjuk, niscaya akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka.” (HR . Muslim no. 2674 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Subhanallah… orang yang berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala hari-harinya dipenuhi pahala, langkah-langkahnya diliputi berkah, dan janji-janji kebaikan untuknya pun menanti di hadapan.

Itulah sesungguhnya jalan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang mengikuti beliau dengan sebaik-baiknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٠٨

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah (berdakwah) dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Amalan dakwah terbuka bagi setiap muslim. Siapa pun dari umat ini berkesempatan menjalankannya sesuai dengan kadar ilmu dan kemampuan yang dimiliki. Sebab, dakwah tidak ditakar dengan kekayaan, kedudukan, ataupun status sosial. Rambu-rambu globalnya adalah ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia.

Layaknya amalan yang besar, dakwah pun membutuhkan bekal. Menurut asy-Syaikh al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, bekal terpenting yang harus dimiliki oleh setiap da’i adalah:

  1. Berilmu tentang materi dakwah yang disampaikan.
  2. Bersabar dalam menjalankan dakwah dengan segala konsekuensinya.
  3. Bersikap hikmah.
  4. Berhias dengan akhlak mulia.
  5. Menghilangkan sekat-sekat yang mengganggu lancarnya komunikasi dengan mad’u (objek dakwah).
  6. Berlapang dada terhadap orang yang menyelisihi, terutama jika diketahui niatnya baik dan perbedaan yang terjadi disebabkan dalil yang dimilikinya. (Disadur dari kitab Zadud Da’iyah Ilallah, karya asy-Syaikh al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Urgensi Kerja Sama dalam Ranah Dakwah

Kerja sama dalam ranah dakwah merupakan amalan yang urgen. Tak heran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat dengannya saat mengutus dua sahabatnya yang mulia, Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu dan Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, ke negeri Yaman dalam rangka berdakwah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا، وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا

“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari, saling bekerja samalah kalian berdua dan jangan berselisih.” (HR . al-Bukhari no. 3038 dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh al-’Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Kerja sama dalam ranah dakwah di jalan Allah dan dalam setiap kebaikan, amat dibutuhkan sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (al-Maidah: 2)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ

“Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan memenuhi kebutuhannya.” HR.al-Bukhari Kitabul Mazhalim wal Ghashab no. 2442, Muslim Kitabul Birri wash Shilah no. 2580, at-Tirmidzi Kitabul Hudud no. 1426, dan Abu Dawud Kitabul Adab no. 4893)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

Manakala ada sekelompok da’i yang berdakwah di suatu negeri atau di tempat mana saja, mereka wajib saling bekerja sama dalam kebajikan dan takwa. Inilah yang terbaik.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus tujuh puluh orang sahabat ahli al-Qur’an kepada sebagian kabilah dalam rangka berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala dan memberikan pengajaran agama kepada mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengutus Mush’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu ke Kota Madinah sebelum hijrah untuk memberikan pengajaran dan pemahaman ilmu agama kepada kaum Anshar yang telah masuk Islam.

Intinya, bekerja sama dalam ranah dakwah dan pembinaan umat yang dilakukan oleh dua orang, tiga orang, atau lebih agar mudah berkonsolidasi, saling memberikan dukungan satu dengan yang lainnya, saling mengevaluasi ilmu dan amal yang mesti dimiliki, dan agar lebih mendalami hakikat dakwah memiliki kebaikan yang banyak.

Namun, mereka wajib berpegang teguh dengan kebenaran beserta dalil-dalilnya, menghindari hal-hal yang dapat menjauhkan objek dakwah dari kebenaran, dan menempuh metode dakwah yang dapat mengantarkan kepada kemanfaatan, mentransfer kebenaran dengan jelas, mendorong umat kepada kebenaran, dan memperingatkan mereka dari kebatilan.

Kerja sama semacam ini amat dibutuhkan, dengan syarat ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala, bersih dari riya’ (ingin dilihat orang) dan sum’ah (ingin disanjung), serta berada di atas ilmu dan bashirah.” (Majmu’ Fatawa Ibn Baz 8/178-179)

Dalam kesempatan lain beliau rahimahullah berkata, “Manakala pengusung kebenaran (ahlul haq) berdiam diri tidak menjelaskan kesalahan (baca: penyimpangan) orang-orang yang bersalah dan kekeliruan orang-orang yang keliru, niscaya tak akan terwujud dakwah kepada kebaikan dan amar ma’ruf nahi mungkar yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka.

Telah dimaklumi, tergoresnya sebuah dosa adalah karena sikap diam terhadap kemungkaran, membiarkan orang yang menyimpang tetap di atas penyimpangannya dan orang yang menyelisihi kebenaran tetap di atas kesalahannya. Sikap diam tersebut tentu bertentangan dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala, berupa penyampaian nasihat, tolong-menolong di atas kebaikan, dan amar ma’ruf nahi mungkar. Wallahul Muwaffiq.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah 3/69)

Dari keterangan asy-Syaikh al-’Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di atas, ada beberapa pelajaran berharga dan rambu-rambu penting dalam berdakwah, antara lain:

  1. Bekerja sama dalam ranah dakwah merupakan amalan yang urgen.
  2. Kewajiban menjalankan kerja sama tersebut di atas keikhlasan, jauh dari perbuatan riya’ atau sum’ah, dan berada di atas ilmu.
  3. Kerja sama dalam ranah dakwah tidak berarti mengabaikan amar ma’ruf nahi mungkar.
  4. Kewajiban berpegang teguh dengan kebenaran beserta dalil-dalilnya.
  5. Kewajiban menghindari halhal yang dapat menjauhkan umat dari kebenaran dan menempuh metode dakwah yang tepat agar kebenaran tersampaikan dengan mudah dan gamblang.
  6. Mendorong umat kepada kebenaran dan memperingatkan mereka dari kebatilan.

Ketika Kerja Sama dalam Ranah Dakwah Ternodai

Kerja sama dalam ranah dakwah tak selamanya mulus. Beragam problem acap kali melepas satu demi satu jalinan kerja sama yang sebelumnya terajut rapi, hingga berujung pada perpecahan,bahkan permusuhan. Wallahul Musta’an.

Di antara sebab yang dapat menodai kerja sama dalam ranah dakwah adalah sebagai berikut.

  1. Tidak ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala

Tidak ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala dalam berdakwah adalah sebab utama yang menodai kerja sama dalam ranah dakwah.

Kepentingan pribadi dengan ragam bentuknya yang terselip dalam amalan dakwah seringkali menodai kerja sama mulia tersebut. Demikian pula haus kedudukan, memburu popularitas, target harta dan komisi. Semua itu bak kerikilkerikil tajam yang menghalangi keikhlasan dan dapat merusak kerja sama mulia dalam ranah dakwah.

Betapa banyak kerja sama dakwah yang gagal akibat berebut kedudukan dan popularitas. Betapa banyak kerja sama dakwah yang tercerai-berai akibat harta dan komisi. Betapa banyak pula kerja sama dakwah yang berantakan akibat kepentingan pribadi yang mendominasi.

  1. Menyelisihi jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia

Menyelisihi jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia dalam berdakwah menjadi sebab utama berikutnya yang menodai kerja sama dalam ranah dakwah. Mengapa demikian? Karena segala sesuatu yang menyelisihi jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya akan mengantarkan kepada perpecahan, termasuk dalam ranah dakwah.

Tak heran apabila ulama salaf senantiasa mengiringkan segala sesuatu yang menyelisihi jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (bid’ah) dengan perpecahan dan mengiringkan segala sesuatu yang sesuai dengan jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (sunnah) dengan persatuan.

  1. Hasad

Hasad adalah menginginkan nikmat yang ada pada orang lain dan mengharapkan kesirnaannya dari orang tersebut. Hasad disebut juga iri atau dengki. Islam sangat membenci sifat hasad. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَقَاطَعُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian saling berbuat hasad, saling membenci, dan saling memutuskan hubungan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bersaudara.” (HR . Muslim no. 2559 dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Dalam ranah dakwah, hasad seringkali terjadi. Terkadang karena saudara sesama da’i lebih populer, lebih dicintai oleh mad’u (objek dakwah), lebih cakap dalam menjabarkan permasalahan agama, atau sering dijadikan tempat rujukan umat ketika menghadapi berbagai problem.

Jika demikian, hasad benar-benar dapat menghancurkan kerja sama yang dibangun dalam ranah dakwah. Setiap kali bangunan itu tegak, setiap kali itu pula hasad menghancurkannya. Wallahul Musta’an.

  1. Dusta

Dusta adalah lawan dari kejujuran. Dusta sangatlah tercela. Ia akan mengantarkan pelakunya kepada kejahatan, sebagaimana kejahatan akan mengantarkan pada an-nar (neraka).

Islam sangat membenci sifat dusta dan pelaku kedustaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

“Waspadalah kalian dari sifat dusta, karena sesungguhnya dusta mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan mengantarkan kepada an-nar (neraka). Tetaplah seseorang berbuat dusta dan selalu berdusta hingga dicatat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pendusta.” (HR.Muslim no. 2607 dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Sifat dusta terkadang bercokol pada diri seorang da’i. Tentu amat naif baginya.  Namun, itulah realitas.

Dusta kerap menjadi senjata demi harga diri, demi menjaga nama baik, demi menjatuhkan rivalnya, dll. Memelintir data, menyembunyikan fatwa dengan alasan tak ada fatwa, menuduh pihak lain dengan tuduhan dusta, kerap pula terjadi dalam ranah dakwah.

Sudah barang tentu, semua itu akan membinasakan jalinan kerja sama yang telah dirajut dan dibina.

  1. Makirla’abmutalawwin (MLM)

Makir artinya pembuat makar. La’ab maknanya suka bermain-main. Mutalawwin adalah pemeran watak yang berubah-ubah sikap sesuai dengan situasi dan kondisi, layaknya bunglon yang berubah-ubah warna di tempat dia hinggap.

MLM sangat berbahaya bagi dakwah. Kerja sama dalam ranah dakwah tak mungkin terjalin manakala ada MLM pada elemen da’inya.

Setiap kali terajut jalinan kerja sama, si makir akan merusaknya, si la’ab akan bermain-main dengannya, dan si mutalawwin pun akan memasang banyak muka demi kepentingan pribadinya (baca: hawa nafsunya). Wallahul Musta’an.

  1. Sombong

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” HR . Muslim no. 147 dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Sikap sombong kerap terjadi dalam ranah dakwah. Terkadang dalam bentuk menolak kebenaran dan terkadang dengan merendahkan manusia. Ego yang tinggi dan merasa lebih baik dari orang lain merupakan pupuk yang subur bagi sikap sombong.

Kerja sama dalam ranah dakwah tak mungkin terwujud tatkala sikap sombong masih mengendap pada diri seorang da’i. Bagaimana mungkin akan terwujud sebuah kerja sama, sementara kebenaran ditolak dan manusia direndahkan?!

Menyoroti Kerja Sama dalam Ranah Dakwah Ala Ikhwanul Muslimin (IM)

Mungkin Anda sering mendengar slogan persatuan yang diproklamasikan oleh Hasan al-Banna, sang pendiri IM. Slogan itu berbunyi, “(Mari) kita saling tolong-menolong dalam urusan yang kita sepakati dan saling toleran dalam urusan yang kita perselisihkan.”

Misi apakah yang terselubung di balik slogan tersebut?

Ali Asymawi (mantan tokoh IM) berkata, “IM getol sekali mendengungkan slogan mereka yang amat terkenal di kalangan kelompok-kelompok dan ormas-ormas Islam ‘(Mari) kita saling tolong-menolong dalam perkara yang kita sepakati dan saling toleran dalam perkara yang kita perselisihkan.’ Sebuah slogan yang diluncurkan untuk memegang kendali (umat) dan menggiring segala laju permasalahan untuk kepentingan mereka.” (at-Tarikh as-Sirri li Jama’atil Ikhwanil Muslimin, hlm. 4; dinukil dari al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hlm. 76)

Bagaimanakah aplikasi slogan tersebut di kalangan IM?

Ali Asymawi berkata, “(Dalam aplikasinya -pen.) tidak ada upaya pembenahan, pembersihan hal-hal yang negatif, atau meluruskan penyimpangan yang telah menggurita di tengah-tengah kelompok pergerakan Islam. Akhirnya, (penyimpangan itu pun -pen.) bercokol dengan kokohnya di seluruh penjuru dunia. Faktor penyebabnya adalah terjatuhnya mayoritas mereka ke dalam sikap ekstrem (berlebihan)—ketika menerapkan slogan tersebut.” (at-Tarikh as-Sirri li Jama’atil Ikhwanil Muslimin, hlm. 4; dinukil dari al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hlm. 76)

Fakta dan data di lapangan menunjukkan kebenaran ucapan Ali Asymawi. Terlebih hari-hari ini, ketika slogan itu lebih dikonkretkan dalam bahasa-bahasa yang keren, lugas, dan terkesan adem: “Islam Liberal”, “Islam Warna-warni”, “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, yang digandrungi oleh banyak kelompok, ormas, dan parpol.

Ketika para tokoh IM telah berlebihan dalam merealisasikan slogan mereka itu, maka jerit peringatan dari dalam tubuh IM pun terdengar, sebelum adanya fatwa dari para ulama.

Lagi-lagi Ali Asymawi mengatakan, “Untuk itu, aku melihat bahwa sekaranglah saatnya memberi peringatan dan membuka jendela-jendela, agar sinar mentari dan udara segar bisa masuk ke lorong-lorong jamaah (IM) yang telah pengap dan membusuk baunya. Juga agar pengalaman hidupku bersama mereka dapat menjadi pelajaran berharga bagi para pemuda untuk tidak gegabah mencari jalan hidupnya, mempertimbangkan secara matang ke mana kakinya hendak dilangkahkan, dan tidak mudah hanyut memberikan loyalitas dan ketaatannya kepada siapa pun…

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengaruniai kita akal pikiran sebagai kehormatan bagi anak manusia. Tidaklah sepantasnya kita sia-siakan, agar tidak mudah dijadikan bulan-bulanan oleh siapa pun dan bergerak di bawah slogan apapun.” (at-Tarikh as-Sirri li Jama’atil Ikhwanil Muslimin, hlm. 4; dinukil dari al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hlm. 76)

Fatwa Ulama tentang Slogan IM

Adapun fatwa para ulama sunnah tentang slogan IM tersebut antara lain:

  1. Fatwa asy-Syaikh al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.

“Ya, wajib saling tolong-menolong dalam kebenaran yang disepakati dan berdakwah kepadanya, serta memperingatkan (umat) dari segala yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Adapun saling toleran dalam urusan yang diperselisihkan secara mutlak, ini tidak bisa dibenarkan, justru harus dirinci. Manakala urusan tersebut termasuk masalah ijtihad yang tidak ada dalilnya secara jelas, maka tidak boleh di antara kita saling mengingkari. Adapun jika urusan tersebut jelas-jelas menyelisihi nash-nash (dalil-dalil) al-Qur`an dan as-Sunnah, wajib diingkari dengan hikmah, nasihat, dan dialog dengan cara terbaik.” (Majmu’ Fatawa Ibn Baz 3/58—59)

  1. Fatwa asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

“Merekalah orang yang pertama kali menyelisihinya. Kami yakin bahwa penggalan (pertama -pen.) dari slogan tersebut benar, yaitu ‘(Mari) kita saling tolong-menolong dalam urusan yang kita sepakati.’ Ini tentu dipetik dari firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (al-Maidah: 2)

Adapun penggalan kedua ‘Dan saling toleran dalam urusan yang kita perselisihkan’, harus dipertegas… Kapan? (Yaitu) ketika kita saling menasihati, dan kita telah mengatakan kepada yang berbuat kesalahan, ‘Anda salah, dalilnya adalah demikian dan demikian.’

Jika dia belum puas dan kita tahu bahwa dia orang yang ikhlas (pencari kebenaran -pen.), kita beri dia toleransi dan saling tolong-menolong dengannya dalam urusan yang disepakati.

Adapun apabila dia seorang penentang kebenaran, sombong lagi berpaling darinya, saat itulah tidak berlaku penggalan kedua dari slogan tersebut. Tidak ada toleransi di antara kita dalam urusan yang diperselisihkan itu.” (Majalah al-Furqan Kuwait, edisi 77, hlm. 22; dinukil dari Zajrul Mutahawin, hlm. 130)

  1. Fatwa asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

“Slogan mereka ‘(Mari) kita saling tolong-menolong dalam urusan yang

kita sepakati’, ini benar.

Adapun ‘Dan saling toleran dalam urusan yang kita perselisihkan’, ini harus dirinci,

  • Jika termasuk masalah ijtihad yang memang dibolehkan berbeda, hendaknya kita saling toleransi. Tidak boleh ada sesuatu di kalbu karenanya.
  • Adapun jika termasuk masalah yang tertutup pintu ijtihad padanya, kita tidak boleh toleran kepada orang yang menyelisihinya. Dia pun harus tunduk kepada kebenaran.

Jadi, bagian pertama benar, sedangkan bagian akhir harus dirinci.” (ash-Shahwah al-Islamiyyah Dhawabith wa Taujihat 1/218—219; dinukil dari Zajrul Mutahawin, hlm. 129)

Demikianlah sajian Manhaji edisi kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat, terkhusus yang berkecimpung dalam dunia dakwah dan pembinaan umat.

Amin ya Rabbal Alamin….

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi

Kikir Sifat yang Tercela

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Ketokohan profil ini tidak diragukan lagi. Ia sangat meyakinkan, reputasinya tak perlu dipertanyakan. Banyak ayat Al-Qur`an yang membicarakan keutamaan beliau, baik secara pribadi maupun dalam konteks umum.

Diantara sifat-sifat buruk yang masih sering hinggap di dada sebagian kaum muslimin ialah sifat bakhil (kikir) yang telah datang celaannya dari Allah ta’ala maupun Rasul -Nya. Seperti yang Allah ta’ala singgung dalam firman -Nya:

 قال الله تعالى:﴿ وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ ١٨٠﴾ [ آل عمران: 180]

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia -Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat”. [al-Imraan/3:180].

Syaikh Abdurahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan, “Yakni janganlah orang-orang yang bakhil mengira yaitu orang-orang yang enggan mengeluarkan harta benda yang telah Allah ta’ala karuniakan kepada mereka, masuk disini kedudukan dan juga ilmu, dan lain sebagainya dari perkara-perkara yang telah Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan dan anugerahkan pada mereka, yang Allah ta’ala barengi dengan perintah supaya mereka mau berkorban mengeluarkan pada yang lain selagi tidak sampai memadharatkan dirinya. Kemudian mereka kikir dari semua itu dengan menahan harta benda dan bakhil pada hamba Allah yang lainnya.

Mereka mengira bahwa dengan menahan harta bendanya tersebut, itu lebih utama bagi mereka, justru sebaliknya, itu lebih buruk baginya baik dari sisi agama maupun dunia, dari dampak buruknya yang bisa segera dirasakan maupun pada nantinya”.[1] Dan bakhil yang paling buruk ialah kikir karena khawatir jatuh miskin. Seperti yang Allah ta’ala katakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩ ﴾ [الحشر: 9 ]

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.[al-Hasyr/59: 9].

 Dijelaskan oleh ar-Razi yang dimaksud dengan asy-Syuh ialah bakhil disertai ketamakan. Sebagaimana tergambar jelas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ  » [أخرجه مسلم]

“Hati-hatilah kalian dari sifat bakhil sesungguhnya sifat ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Yang mendorong mereka untuk rela menumpahkan darah serta menghalalkan segala perkara yang diharamkan “. HR Muslim no: 2578.

Diperkuat lagi makna tersebut dengan sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا يَجْتَمِعُ شُحٌّ وَإِيمَانٌ فِي قَلْبِ رَجُلٍ مسلم » [أخرجه أحمد]

“Tidaklah mungkin akan terkumpul dalam hati seorang muslim antara keimanan dan sifat bakhil“. HR Ahmad 12/450 no: 7480.

Adapun ragam dan jenis sifat bakhil ini sangatlah banyak, diantaranya bakhil dalam masalah harta, atau jasad, ilmu, kedudukan, mengucapkan salam atau sholawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan semua itu didukung dengan dalil-dalil yang sangat banyak. Diantaranya seperti yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن أعجز الناس من عجز في الدعاء و إن أبخل الناس من بخل بالسلام » [أخرجه البيهقي في شعيب الإيمان]

“Sesungguhnya manusia yang paling lemah ialah orang yang paling loyo dalam berdo’a. dan sesungguhnya manusia yang paling bakhil ialah orang yang kikir untuk mengucapkan salam“. HR al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 13/22 no: 8392.

Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 601. Dan sebagian ulama menyatakan yang lebih kuat hadits ini mauquf sampai pada Abu Hurairah saja.

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dari sahabat Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « البخيل الذي ذكرت عنده و لم يصل علي » [أخرجه الترمذي]

“Orang yang bakhil adalah orang yang mendengar namaku disebut disisinya lalu dirinya tidak bersholawat atasku“. HR at-Tirmidzi no: 3546. Beliau berkata, “Hadits hasan shahih ghorib”.

Dan sifat kikir ini keadaanya bertingkat-tingkat, dan yang paling tinggi ialah bakhil dalam masalah menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan padanya. Seperti bakhil untuk mengeluarkan zakat, atau memberi nafkah pada keluarganya, atau memberi jamuan pada tamu. Disebutkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Baca Juga  Sifat Dermawan
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا [لَا يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ … الْآيَةَ] » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Barangsiapa yang telah Allah datangkan padanya kekayaan lalu dirinya enggan mengeluarkan zakatnya. Maka akan dijadikan kelak pada hari kaimat harta tersebut baginya seekor ular yang berkepada botak dengan dua lidah yang berbisa kemudian mengejarnya, sambil mematuki dengan mulutnya sembari berkata, “Akulah hartamu, akulah simpananmu“. Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ …ۗ ١٨٠﴾ [ آل عمران: 180]

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil..”. [al-Imraan: 180). HR Bukhari no: 1403. Muslim no: 987.

Dijelaskan pula dalam sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Hindun ibunya Mu’awiyah pernah mengadu kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang kikir, apakah boleh bagiku untuk mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya sekedar memenuhi kebutuhanku? Beliau menjawab, “Ia, ambillah sekedarnya secara ma’ruf”. HR Bukhari no: 5370. Muslim no: 1714.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Suraih al-‘Adawi radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya“. HR Bukhari no: 6018. Muslim no: 47.

Ibnu Qudamah menerangkan, “Sikap pelit dan dermawan itu bertingkat-tingkat, dan tingkatan orang pelit yang paling buruk ialah seseorang yang bakhil pada dirinya sendiri yang sedang membutuhkannya. Berapa banyak orang bakhil yang menahan harta bendanya ketika sedang sakit dengan tidak mau mengeluarkan untuk berobat. Dirinya ingin menuruti syahwatnya namun tercegah oleh sifat bakhilnya. Berapa banyak diantara orang yang bakhil terhadap dirinya dibarengi kebutuhannya dan diantara seseorang yang lebih mendahulukan dirinya bersama kebutuhannya. Dan akhlak yang tepat adalah pemberian dari Allah Shubhanahu wa ta’alla yang –Dia anugerahkan pada siapa saja yang dikehendaki -Nya”.[2]

Tingkatan yang kedua: Pelit dengan perkara yang disunahkan seperti bakhil dalam masalah sedekah, atau enggan memberi pinjaman pada orang lain, atau memberi jamuan tamu yang sifatnya sunah.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ, فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Tidaklah setiap pagi menyapa seorang hamba melainkan turun padanya dua malaikat. Kemudian malaikat pertama berdo’a; “Ya Allah, berilah orang yang berinfak pengganti”. Sedang yang satunya berdo’a, “Ya Allah, berilah orang yang pelit kehancuran“. HR Bukhari no: 1442. Muslim no: 1010.

Dalam hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ السَّلَفَ يَجْرِي مَجْرَى شَطْرِ الصَّدَقَةِ » [أخرجه أحمد]

“Sesungguhnya orang yang menangguhkan pinjaman (mendapat) pahala setengah sedekah”. HR Ahmad 7/26 no: 3911.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Aku pernah membantu Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan kebiasaan beliau apabila turun bencana, seringkali aku mendengar beliau berdo’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ » [أخرجه البخاري ]

“Ya Allah, aku berlindung kepada –Mu dari (bahaya) rasa gundah gulana dan kesedihan, dari rasa lemah dan malas, dari rasa pelit dan penakut, dari lilitan hutang dan penguasaan orang lain“. HR Bukhari no: 2893.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Sesungguhnya semua orang memuji orang yang punya sifat pemberani dan penderma, sampai kiranya kebanyakan pujian yang dibawakan oleh para penyair dalam bait syairnya adalah berkaitan dengan keberanian ini. Begitu pula banyak orang yang mencela sifat kikir dan pengecut.

Kemudian beliau melanjutkan, “Manakalah kebaikan anak cucu Adam tidak mungkin bisa terlealisasi secara sempurna dalam agama seseorang melainkan dengan adanya keberanian dan kedermawanan maka Allah azza wa jalla menjelaskan bahwa orang yang diserahi tugas untuk memikul kewajiban jihad, namun ia meninggalkannya maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan mengganti orang tersebut dengan kaum yang lain yang mau menegakan syi’ar jihad tersebut. Sebagaimana ditegaskan dalam firman -Nya:

 قال الله تعالى: ﴿هَٰٓأَنتُمۡ هَٰٓؤُلَآءِ تُدۡعَوۡنَ لِتُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبۡخَلُۖ وَمَن يَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا يَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ وَٱللَّهُ ٱلۡغَنِيُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُۚ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم ٣٨﴾ [ محمد: 38 ]

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada -Nya); dan jika kamu berpaling niscaya –Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini”.  [Muhammad/47: 38].[3]

Baca Juga  Memilih Haji Sunnah Ataukah Sedekah Untuk Membiayai Para Pejuang
Dan diantara perkara yang menunjukan tercelanya sifat pelit ini dan menafikan akhlak serta budi pekerti yang luhur adalah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Tatkala aku sedang bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat lainnya seusai peperangan Hunain. Datang orang-orang Arab Badui berdesak-desakan mengerumuni beliau untuk meminta bagian sehingga beliau terdesak ke suatu pohon yang menyebabkan jubahnya terlepas. Lalu beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَعْطُونِي رِدَائِي لَوْ كَانَ لِي عَدَدُ هَذِهِ الْعِضَاهِ نَعَمًا لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلًا وَلَا كَذُوبًا وَلَا جَبَانًا » [أخرجه البخاري]

“Kembalikan jubahku. Demi Allah, jika saja aku memiliki ternak sebanyak pohon besar niscaya aku akan bagi-bagikan juga kepada kalian, sehingga dengan begitu tidak ada yang menganggapku sebagai orang yang kikir, dust dan pengecut“. HR Bukhari no: 3148.

Al-Hafidh Ibnu Hajar menerangkan, “Didalam hadits ini sebagai dalil tercelanya sifat-sifat yang disebutkan tadi, yakni kikir, dusta, dan penakut. Dan tidak sepantasnya bagi seorang pemimpin kaum muslimin yang mempunyai cabang-cabang sifat tersebut”.[4] Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau pernah mengasih Aqra’ bin Habis dan Uyainah bin Hishan pada perang Hunain setiap orangyan seratus onta. Dan tatkala ada Arab badui datang maka beliau mengasih satu lembah kambing yang berada di dua gunung, sehingga Arab badui tadi langsung pulang ke kampungnya sambil menyeru, “Duhai kaumku, masuklah Islam sesungguhnya Muhammad memberi dengan pemberian yang dirinya tidak takut miskin”. HR Muslim no: 2312.

Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, “Penakut dan pelit adalah dua sifat yang sangat erat hubungannya. Jika tidak ada manfaat yang diharapkan darinya, apabila berkaitan dengan badan maka itulah yang dinamakan penakut, dan jika berkaitan dengan harta maka itulah yang dinamakan pelit”.[5]

Seorang penyair mengatakan dalam bait syairnya:
Jika engkau kumpulkan harta lantas engkau simpan
Dirimu hanya dijuluki penjaga harta yang amanah
Tapi cela untuku bila tidak engkau tunaikan
Termakan kerakusan sedang dirimu telah terkubur

Seorang penyair lagi mengatakan:
Apabila dunia telah berlaku baik padamu, balaslah kebaikannya
Dengan berbuat baik pada penghuninya, sungguh hidup berganti-ganti
Jangan takut menderma hilang harta justru dia akan kembali menyapa
Orang kikir mengira hartanya tersimpan, namun kiranya dia justru musnah

Seorang ulama yang bernama Ibnu Muflih menuturkan, “Sangat mengherankan orang yang pelit itu, dirinya langsung merasakan kefakiran yang ia lari darinya dan beranggapan akan menggapai kebahagian bila menahan hartanya. Bisa jadi dirinya mati dikala sedang lari dari kefakiran yang ia kira dan mencari kebahagian yang ia sangka. Sehingga ia hidup didunia dengan penghidupan orang fakir sedang diakhirat masuk dalam barisan hisabnya orang-orang kaya.

Bersamaan dengan itu pula engkau tidak mungkin menjumpai ada orang pelit kecuali justru orang lain yang lebih bahagia darinya, karena orang pelit tujuan didunia hanya untuk mengumpulkan harta, akan tetapi, ingat di akhirat nanti dirinya dihisab dengan sebab menahan harta dari kewajibannya, adapun orang yang tidak pelit, dirinya akan selamat dari tujuan jelek tersebut dan ketika diakhirat selamat dari dosa mengumpulkan harta”.[6]

Hubais ast-Tsaqawi menceritakan, “Aku pernah duduk bersama Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Sedangkan banyak dikalangan murid-muridnya yang bersepakat bahwasannya mereka tidak mengenal ada orang sholeh yang pelit”.[7] Al-Marwadi mengatakan, “Terkadang terkumpul dalam pribadi orang yang kikir beberapa akhlak yang tercela, dan setiap sifat cela tersebut bisa mengantarkan pada sifat cela lainnya, yaitu empat akhlak yang kalian dilarang karenanya, yakni sifat tamak, rakus, prasangka buruk, dan menahan hak orang lain.

Dan jika orang yang bakhil tadi mempunyai apa yang kami sifatkan tadi, dari sifat-sifat yang tercela dibarengi adat kebiasaannya yang buruk maka sudah tidak tersisa bersamanya kebaikan dan kesholehan yang diharapkan lagi”.[8]

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari ذم البخل Penulis  Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad.Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]


Footnote
[1] Tafsir Ibnu Sa’di hal: 141.
[2] Mukhtashar Minhajil Qoshidin hal: 265.
[3] al-Istiqomah 2/263-270.
[4] Fathul Bari 6/254.
[5] al-Jabul Kafi liman Sa’ala ‘an Dawaa’i Syaafi hal: 85.
[6] al-Adaab Syar’iyah 3/318.
[7] Thabaqaat al-Hanabilah 1/147.
[8] Adabu Dunya wa Diin hal: 186-187.


Referensi : https://almanhaj.or.id/58378-kikir-sifat-yang-tercela.html

Perintah Meminta Pertolongan Hanya Kepada Allah

Perintah Meminta Pertolongan Hanya Kepada Allah

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله الهم قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا، فَقَالَ: “يَا غُلاَمُ، اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ.” رَوَاهُ التِرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَسَنٌ صَحِيْحٌ.

Dari Ibnu ‘Abbās radhiyAllahu Ta’āla ‘anhumā mengatakan, “Pada suatu hari aku pernah dibonceng Rasulullah ﷺ  dan beliau bersabda, ‘Wahai anak  muda, jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya selalu hadir di hadapanmu. Jika kamu meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata: “Hadis ini derajatnya adalah hasan sahih.”)([1])

Ibnu ‘Abbās merupakan adik sepupu Rasulullah ﷺ  dan sahabat beliau yang berusia belia. Hadis ini menjelaskan bagaimana Perhatian Rasulullah ﷺ  dalam memberi nasihat, bahkan kepada anak-anak. Rasulullah ﷺ  menanamkan nilai-nilai tauhid bukan hanya kepada para sahabat yang senior, tetapi juga kepada para sahabat yang junior (kecil) dan yang masih anak-anak. Apabila tauhid ditanamkan sejak kecil maka akan terpatri di dalam dada-dada mereka.

Yang dimaksud dengan “menjaga Allah” adalah sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syekh alu-Bassaam rahimahullāh, yaitu:

اِحْفَظْ أَوَامِرَهُ وَامْتَثِلْهَا وَانْتَهِ عَنْ نَوَاهِيْهِ يَحْفَظْكَ فِي تَقَلُّبَاتِكَ وَفِي دُنْيَاكَ وَآخِرَتِكَ

 “Jagalah perintah-perintah Allah dan kerjakanlah, dan berhentilah engkau dari perkara yang diharamkan oleh Allah ﷻ , niscaya Allah akan menjaga engkau dalam seluruh perpindahanmu dari satu kondisi kepada kondisi lain dalam urusan dunia maupun akhiratmu.” ([2])

Jadi yang dimaksud dengan menjaga Allah adalah menjaga syariat Allah; semua perintah Allah dikerjakan dan larangan Allah dijauhi.

Apa balasannya?

الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ

 “Balasan sesuai dengan perbuatan.”

Barang siapa yang menjaga perintah Allah, maka Allah akan menjaganya. Allah akan menjaga dia dalam dua perkara sebagai berikut: ([3])

  • Penjagaan pertama, Allah akan menjaga dia dalam urusan dunianya (kesehatan, istri, anak-anak, harta, dan lainnya).

Orang yang menjaga perintah Allah maka Allah akan menjaga keluarganya dan mengirimkan malaikat untuk menjaganya. Sebagaimana firman Allah ﷻ ,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ

“Baginya (bagi seorang manusia) ada malaikat-malaikat yang berada di depannya dan di belakangnya. Mereka menjaga menusia ini karena perintah Allah ﷻ .” ([4])

Oleh karenanya, di zaman yang penuh dengan fitnah (godaan) ini, sulit untuk bisa menjaga keluarga dan anak anak kita kecuali kalau kita bertakwa kepada Allah ﷻ . Kalau diri kita bertakwa (menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya) maka Allah akan menjaga anak-anak kita. Siapa yang bisa menjaga anak-anak kita sementara anak-anak dilepaskan di sekolah; bertemu dengan orang-orang nakal, melihat hal-hal yang diharamkan Allah ﷻ , bergaul dengan teman-teman yang tidak benar, mendengarkan ucapan-ucapan yang kotor, diajari oleh temannya untuk membohongi kedua orang tua dan lain-lain. Sulit bagi kita untuk menjaganya. Kalau anak-anak di (dalam) rumah mungkin bisa kita jaga, itu pun tidak mudah. Apalagi kalau kita punya kesibukan di luar rumah dan anak-anak juga di luar rumah, maka siapa yang bisa menjaganya? Tidak ada yang bisa menjaganya kecuali Allah ﷻ .

Jika seseorang menjaga perintah Allah maka Allah juga akan menjaga dirinya, menjaga kesehatannya untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Oleh karenanya, kita dapati banyak sekali orang-orang saleh (misalnya di Arab Saudi) yang Allah berikan umur panjang, diberkahi umur dan ilmu mereka, dijauhkan dari pikun. Subhānallah, sebagaimana para masyāyikh (para ulama) yang kita lihat.

  • Penjagaan kedua, Allah akan menjaga dalam urusan akhiratnya. Artinya, Allah akan menjaga dia sehingga tidak terkena berbagai (kerancuan pemikiran).

Ada syubhat yang bisa membuat seseorang menjadi kafir, munafik atau ada yang membuat ragu terhadap agama. Kita tahu, di zaman sekarang ini syubhat begitu banyak beredar di internet (dunia maya). Maka apabila dia bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan melindungi (menjauhkan) dirinya dari syubhat-syubhat tersebut serta menjaganya (menjauhkan) dari syahwat yang bisa menjerumuskan dia dalam perbuatan dosa besar.

Kemudian, kata Rasulullah ﷺ, “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati Allah di hadapanmu.”

Artinya apa? Allah akan senantiasa bersamamu. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah di manapun dia berada dan kapanpun, maka senantiasa Allah bersama dia, menolong dia setiap ada kesulitan. ([5]) Oleh karenanya, tatkala Allah mengutus Nabi Mūsā dan Nabi Hārūn untuk berdakwah kepada Fir’aun, lantas mereka berdua merasa takut, Allah pun berfirman,

لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى

 “Janganlah kalian berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kalian dan Aku melihat apa yang kalian lakukan.” ([6])

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka yakinlah kalau dia butuh Allah, maka Allah selalu berada di sampingnya untuk memudahkan urusannya.

Para ikhwan dan akhwat, selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda,

وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ.

 “Jika engkau memohon maka memohonlah kepada Allah, jika engkau minta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah.”

Pada nasehat yang kedua ini, Rasulullah ﷺ  ingin agar Ibnu ‘Abbās (dan juga kita semua), agar senantiasa menggantungkan hati kita kepada Allah ﷻ .

Perhatikan kaidah yang disebutkan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, bahwa seorang hamba, semakin merasa butuh kepada Allah, semakin tinggi (derajatnya) di sisi Allah ﷻ .

Ibnu Taimiyyah berkata :

وَالْعَبْدُ كُلَّمَا كَانَ أَذَلَّ لِلَّهِ وَأَعْظَمَ افْتِقَارًا إلَيْهِ وَخُضُوعًا لَهُ: كَانَ أَقْرَبَ إلَيْهِ، وَأَعَزَّ لَهُ، وَأَعْظَمَ لِقَدْرِهِ، فَأَسْعَدُ الْخَلْقِ: أَعْظَمُهُمْ عُبُودِيَّةً لِلَّهِ. وَأَمَّا الْمَخْلُوقُ فَكَمَا قِيلَ: احْتَجْ إلَى مَنْ شِئْتَ تَكُنْ أَسِيرَهُ، وَاسْتَغْنِ عَمَّنْ شِئْتَ تَكُنْ نَظِيرَهُ، وَأَحْسِنْ إلَى مَنْ شِئْت تَكُنْ أَمِيرَهُ

“Seorang hamba semakin menghinakan diri kepada Allah dan semakin menunjukkan kebutuhan dan ketundukan kepada-Nya maka semakin dekat dengan-Nya, semakin mulia di sisi-Nya, juga semakin tinggi kedudukannya. Hamba yang paling berbahadia adalah yang paling besar penghambaannya kepada Allah. Adapun kepada sesama makhluk, maka sebagaimana dikatakan, ‘Butuhlah engkau kepada siapa yang engkau kehendaki, tentu kau akan menjadi tawanannya. Cukupkanlah dirimu (tanpa membutuhkan) dari siapa yang engkau kehendaki maka engkau akan setara dengannya. Berbuatlah baik kepada siapa yang engkau sukai maka engkau akan menjadi pemimpinnya’.” ([7])

Karena sebab itulah Allah sangat suka untuk dimintai. Allah mengatakan,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

 “Dan Rabbmu berkata, ‘Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan’.” ([8])

Allah suka untuk diminta, ini sifat Allah ﷻ  karena semua makhluk butuh (faqir) kepada Allah ﷻ . Allah mengatakan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, pada hakekatnya kalian semua butuh (faqir) kepada Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” ([9])

Allah tempat meminta, oleh karenanya kita harus melatih diri untuk senantiasa meminta kepada Allah. Itulah mengapa Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk berdoa dalam segala hal; dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali dengan doa bangun tidur, mau makan, mau minum, setelah makan, masuk WC, keluar WC, keluar rumah, masuk masjid, keluar masjid, masuk pasar, menempati suatu tempat, ada hujan turun, ada awan datang, dan sebagainya.

Kejadian apa saja Rasulullah ﷺ  selalu mengajarkan untuk berdoa (meminta) kepada Allah ﷻ. Kenapa? Karena hati seorang hamba, semakin dia meminta (bergantung) kepada Allah, maka dia semakin dekat dengan Allah dan semakin tinggi derajatnya di sisi Allah ﷻ.

Inilah rahasianya kenapa Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Ibnu ‘Abbās, “Jika engkau minta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.”

Biasakan kita meminta kepada Allah dalam segala hal. Jangankan urusan akhirat, urusan duniapun kita minta kepada Allah ﷻ . Karena jika seseorang minta kepada manusia, walau bagaimanapun akan merasa rendah di hadapan manusia tersebut. Ada kerendahan yang kita tunjukkan di hadapan orang tersebut. Semakin sering kita meminta, maka semakin hinalah kita. Apalagi jika kita meminta bantuan kepada orang lain dalam kondisi kita tidak terdesak. Hal itu tentu sangat tercela. Adapun kalau dalam kondisi terdesak, maka sesekali tidak masalah. Allah mengatakan,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” ([10])

Jika Allah ﷻ tidak dimintai, maka Dia murka. Berbeda dengan anak Adam, jika diminta justru murka. ([11]) Namanya manusia, meskipun sahabat kita (yang terkadang mengaku seperti saudara kita), kalau kita minta bantuan darinya sekali, dua kali, tiga kali, dia masih berlapang dada dan senyum. Meminta darinya empat kali, lima kali, atau sepuluh kali mungkin masih tersenyum. Tapi setelah sebelas kali, dua belas kali, maka mulailah mukanya cemberut. Kalau kita meminta bantuan yang kedua puluh kali, maka dia semakin menjauh, kemudian tidak mau lagi beberharapubungan dengan kita, atau mungkin malah mencela kita.

Demikianlah sifat manusia. Seorang penyair berkata,

لاَ تَسْأَلَنَّ بُنَيَّ آدَمَ حَاجَةً … وَسَلِ الَّذِي أَبْوَابُهُ لاَ تُحْجَبُ

“Janganlah sekali-sekali engkau meminta suatu hajat kepada anak Adam… Akan tetapi mintalah kepada Dzat yang pintu-pintuNya tidak pernah tertutup.”

اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ… وَبُنَيُّ آدَمَ حِيْنَ يُسْئَلُ يَغْضَبُ

“Allah marah jika engkau tidak memohon kepadanya… Sedangkan Anak Adam maka marah jika dimintai”

Oleh karenanya, seseorang hendaknya meminta hanya kepada Allah ﷻ .

Kebutuhan manusia ada dua:

  • Pertama, kebutuhan yang tidak bisa dia peroleh kecuali dari Allah ﷻ , seperti hidayah, kesembuhan, petunjuk, keselamatan di akhirat, keselamatan dari godaan setan, syahwat dan syubhat. Ini semua yang kita minta kepada Allah ﷻ . Maka tidak boleh kita minta kepada ustaz, kyai, habib atau yang lain. Ini tidak dibenarkan.
  • Kedua, kebutuhan yang Allah jadikan kebutuhan tersebut berada pada manusia yang lain, seperti orang ingin membangun rumah, dia butuh tukang atau ahli tertentu. Maka tidak mengapa dia minta bantuan kepada orang lain. Tapi dia juga berdoa kepada Allah ﷻ agar Allah memilihkan yang baik, misalnya tukang/pekerja yang baik. Jadi, hatinya tetap bergantung kepada Allah ﷻ .


Inti dari arahan yang disampaikan dalam hadis ini adalah agar kita berusaha melakukan segala perkerjaan sendiri dan tidaklah kita minta bantuan kecuali hanya sesekali. Kalaupun minta bantuan, mintalah kepada sahabat kita yang dekat yang dia tidak menghinakan/merendahkan kita. Itupun dalam kondisi terpaksa, bukan merupakan kebiasaan yang akan menyusahkan orang lain.

Footnote:

___________

([1]) HR.  Tirmidzi no. 2516

([2]) Taudhih al-Ahkam 7/366, juga lihat Jami’ Al-‘Ulumi Wa Al-Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali, 1/462

([3]) Lihat : Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam, 1/465-470

([4]) QS. Ar -Ra’d: 11

([5]) Lihat : Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam, 1/471

([6]) QS. Thāhā: 46

([7]) Majmu’ Fatawa 1/39

([8]) QS. Ghāfir: 60

([9]) QS. Fāthir: 15

([10]) QS. Al-Māidah: 120

([11]) Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ.

“Sesungguhnya siapa yang tidak meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan marah kepadanya” (H.R. At-Tirmidzi, No.3373 dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani, Shahih Adab Al-Mufrod, 658/513)

sumber : https://bekalislam.firanda.com/6389-perintah-meminta-pertolongan-hanya-kepada-allah-hadis-5.html#_ftn1

Jangan Malas untuk Berdo’a

Sebagian manusia terlalu sombong, tidak mau berdoa, seakan ia bisa menghasilkan sesuatu tanpa pertolongan dari Allah Ta’ala.

Sebagian manusia terlalu sombong, tidak mau berdoa, seakan ia bisa beribadah tanpa pertolongan dari Allah Ta’ala.

Sebagian manusia terlalu sombong, jarang berdoa, seakan kekuatan manusiawinya lah yang dapat mewujudkan seluruh asa dia tanpa pertolongan dari Allah Ta’ala.

Coba perhatikan hal-hal berikut, niscaya kita akan semangat selalu berdoa kepada Allah Ta’ala atas keperluan dunia dan akhirat kita.

Seorang yang tidak berdoa adalah orang sombong

{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ} [غافر: 60]

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mukmin: 60).

Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Ayat ini memberikan faedah bahwa doa adalah ibadah dan bahwa menginggalkan berdoa kepada Rabb yang Maha Suci adalah sebuah kesombongan, dan tidak ada kesombongan yang lebih buruk daripada kesombongan seperti ini, bagaimana seorang hamba berlaku sombong tidak berdoa kepada Dzat yang merupakan Penciptanya, Pemberi rezeki kepadanya, Yang mengadakannya dari tidak ada dan pencipta alam semesta seluruhnya, pemberi rezekinya, Yang Menghidupkan, Mematikan, Yang Memberikan ganjarannya dan yang memberikan sangsinya, maka tidak diragukan bahwa kesombongan ini adalah bagian dari kegilaan dan kekufuran terhadap nikmat Allah Ta’ala. (Lihat kitab Tuhfat Adz Dzakirin, karya Asy Syaukani).

Seorang yang berdoa adalah orang yang paling dimuliakan oleh Allah ta’ala

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَيْسَ شَىْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ»

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah dibandingkan doa.” (HR. At Tirmidzi).

Para ulama mengatakan kenapa doa sesuatu yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala dibandingkan yang lainnya: “Karena di dalam doa terdapat bentuk sikap perendahan diri seorang hamba kepada Allah dan menunjukkan kuasanya Allah Ta’ala.”

Allah Ta’ala sangat, sangat, sangat menyukai hamba-Nya merendah diri kepada-Nya dan menunjukkan bahwa hanya Allah Ta’ala satu-satu-Nya Yang Berkuasa, Yang Maha Pengatur, yang Maha Pencipta, tiada sekutu bagi-Nya.

Dengan doa kita melawan, menahan, meringankan bala dan musibah

عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يغني حذر من قدر و الدعاء ينفع مما نزل ومما لم ينزل وإن البلاء لينزل فيتلقاه الدعاء فيعتلجان إلى يوم القيامة.

“Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sikap kehati-hatian tidak menahan dari takdir, dan doa bermanfaat dari apa yang terjadi (turun) ataupun yang belum terjadi (turun) dan sesungguhnya bala benar-benar akan turun lalu dihadang oleh doa, mereka berdua saling dorong mendorong sampai hari kiamat.” (HR. Al Hakim dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 7739).

Seorang yang berdoa tidak pernah rugi

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ «اللَّهُ أَكْثَرُ»

“Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada seorangpun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak ada dosa di dalamnya dan memuutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara, baik dengan disegerakan baginya (pengabulan doanya) di dunia atau dengan disimpan baginya (pengabulan doanya) di akhirat atau dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya”, para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan memperbanyak doa?” Beliau menjawab: “Allah lebih banyak (pengabulan doanya)” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 1633).

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelasakan tentang ajaibnya doa

“Dan demikian pula doa, sesungguhnya ia adalah salah satu sebab yang paling kuat menahan keburukan, mewujudkan permintaan, akan tetapi berbeda pengaruh doanya, baik karena lemahnya pada doa tersebut yaitu doanya merupakan sesuatu yang tidak dicintai Allah karena di dalamnya terdapat permusuhan, maka doanya seperti busur yang tipis sekali, maka anak panah keluar darinya sangat lemah, atau karena terdapat yang menahan dari pengabulan doa, seperti; makan harta yang haram, perbuatan zhalim, dosa-dosa yang menutupi hati, terlalu lalai, penuh hawa nafsu dan kelalaian. Sebagaimana yang di sebutkan di alam kitab Al Muastdarak akrya Al Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak menerima sebuah doa dari hati yang lalai,” maka (doa seperti) ini adalah doa yang bemanfaat, menghilangkan penyakit akan tetapi lalainya hati terhadap Allah membatalkan kekuatannya dan begitujuga memakan yang haram membatalkan kekuatannya dan mengguranginya. Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu berkata, “Cukup doa disertai dengan amalan yang baik sebagaimana makanan disertai dengan garam.”

Beliau juga berkata, “Dan doa termasuk obat yang paling manjur, ia adalah musuhnya bala, melawannya, melarang turunya dan mengangkat dan meringankannya jika ia turun, dan ia adalah senjatanya orang beriman. Doa berhadapan dengan bala tiga keadaan;

  1. Doanya lebih kuat daripada bala maka ia menolaknya.
  2. Doanya lebih lemah daripada bala, maka akhirnya bala yang menang, dan mengenani hamba akan tetapi terkadang meringankannya jika ia lemah.
  3. Doa dan bala’ saling berlawanan dan manahan setiap salah satu dari keduanya.”

Lihat kitab Al Jawab Al Kafi, karya Ibnul Qayyim rahimahullah.

*) Kamis, 7 Jumadal Ula 1433 H, Lombok Indonesia

Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
Sumber: https://muslim.or.id/8979-jangan-malas-untuk-berdoa.html

Terlalu Banyak Tertawa Mengeraskan Hati

Tertawa dan bercanda bagaikan garam dalam kehidupan. Tertawa dan bercanda dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kesibukan sehari-hari yang terkadang menjenuhkan, bahkan suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang tersenyum dan tertawa bahkan bercanda dengan para sahabatnya dan anak kecil.

Contoh bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yaitu kisah beliau bersama kepada seorang nenek tua, beliau mengatakan bahwa tidak ada nenek-nenek di surga, sehingga nenek tersebutpun pergi dengan sedih dan tentunya beliau segera memanggil dan menjelaskan yang sebenarnya.

عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: أَتَتْ عَجُوزٌ إِلَى النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، فَقَالَتْ: (يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ) فَقَالَ: يَا أُمَّ فُلاَنٍ، إِنَّ الْجَنَّةَ لاَ تَدْخُلُهَا عَجُوزٌ. قَالَ: فَوَلَّتْ تَبْكِي فَقَالَ: (( أَخْبِرُوهَا أَنَّهَا لاَ تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوزٌ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : { إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا عُرُبًا أَتْرَابًا }

Diriwayatkan dari Al-Hasan radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Seorang nenek tua mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga!’ Beliau pun mengatakan, ‘Wahai Ibu si Anu! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek tua.’ Nenek tua itu pun pergi sambil menangis. Beliau pun mengatakan, ‘Kabarkanlah kepadanya bahwasanya wanita tersebut tidak akan masuk surga dalam keadaan seperti nenek tua. Sesungguhnya Allah ta’ala mengatakan: (35) Sesungguhnya kami menciptakan mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. (36) Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (37) Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqi’ah).”[Mukhtashar Syamaa-il dan Ash-Shahiihah no. 2987]

Jadi bercanda dan tertawa boleh-boleh saja, asalkan tidak dilakukan terus menerus dan menjadi kebiasaan hidupnya. Terlalu banyak tertawa akan membuat keras hati bahkan bisa mematikan hati. Hati sulit menerima kebenaran dan tersentuk dengan kebaikan dan kelembutan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

“Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” [HR. Tirmidzi 2/50, Dishahihkan Syaikh Al-Albani]

Kehidupan di dunia ini tidaklah disikapi dengan bercanda terus dan tertawa terus. Apalagi kehidupan di dunia ini hanya sementara dan merupakan tempat menanam bekal untuk kehidupan akhirat yang selamanya. Apakah bisa kita menanam bekal dengan terus-menerus bercanda dan tertawa? Bahkan jika kita memikirkan nasib kita yang belum pasti apakah masuk neraka atau surga, kita akan banyak menangis dan sedikit tertawa.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا قَالَ فَمَا أَتَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمٌ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ غَطَّوْا رُءُوْسَهُمْ وَلَهُمْ خَنِيْنٌ

“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat tentang kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Anas bin Malik –perawi hadits ini mengatakan, “Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan.” [HR. Muslim, no. 2359]

Kebahagiaan yang sejati itu bukan berupa tertawa dan sering bercanda, tetapi bahagia itu adalah rasa tenang dan ketentraman dalam hati. Inilah tujuan kehidupan seorang muslim di dunia dan Allah turunkan ketenangan pada hati seorang muslim.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).” [AL-Fath: 4]

Selain itu terlalu banyak bercanda juga bisa membuat seseorang hilang wibawanya.Pantas saja Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu berkata,

قال عمر رضي الله عنه: من كثر ضحكه قلت هيبته ومن كثر مزاحه استخف

Barangsiapa yang banyak tertawa, maka akan sedikit wibawanya. Barangsiapa yang banyak guraunya, maka dengannya dia akan rendah.”[HR. Baihaqi]

Al-Mawardi rahimahullah pernah berkata,

وَأَمَّا الضَّحِكُ فَإِنَّ اعْتِيَادَهُ شَاغِلٌ عَنْ النَّظَرِ فِي الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ ، مُذْهِلٌ عَنْ الْفِكْرِ فِي النَّوَائِبِ الْمُلِمَّةِ. وَلَيْسَ لِمَنْ أَكْثَرَ مِنْهُ هَيْبَةٌ وَلَا وَقَارٌ، وَلَا لِمَنْ وُصِمَ بِهِ خَطَرٌ وَلَا مِقْدَارٌ

“Adapun tertawa, apabila seseorang membiasakannya dan terlalu banyak tertawa, maka hal itu akan melalaikan dan melupakannya dari melihat hal-hal yang penting. Dan orang yang banyak melakukannya, tidak akan memiliki wibawa dan kehormatan. Dan orang yang terkenal dengan hal itu tidak akan memiliki kedudukan dan martabat.”[Adabud-Dunya wad-Din hal.313]

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/43399-terlalu-banyak-tertawa-mengeraskan-hati.html