Jalan Menuju Surga

Kerinduan Orang-orang yang Baik kepada Tempat yang paling Tinggi

Surga.. dia adalah harapan yang sangat tinggi yang diusahakan untuk didapat oleh kaum mukminin sepanjang zaman.

Surga.. adalah yang menjadi penggerak jiwa-jiwa para salafush shaleh untuk mencontohkan kepahlawanan dan paling tingginya pengorbanan.

Surga.. adalah tujuan yang sangat mulia yang selalu diamati oleh pandangan-pandangan yang penuh kasih sayang. Dan yang membuat segenap jiwa yang merindukannya menjadi tergesa-gesa di setiap tempat dan zaman. Mereka rela menghadapi segala mara bahaya hanya untuk mendapatkan surga yang dijanjikan.

Surga.. adalah harapan yang paling agung menurut mukmin. Memasukinya dan hidup di dalamnya dalah sebuah angan-angan yang menghantui sepanjang umurnya berjalan.

Betapa banyaknya, surga membuat seseorang bersegera kepada kebaikan dan kebenaran, walau jalan ini dipenuhi mara bahaya, kesusahan, onak dan duri, bahkan walau ditebus dengan kematian.

Gambaran tentang surga telah tercantum dalam ayat-ayat dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua nikmat yang disebutkan dalam kitabullah atau sunnah Nabi-Nya, namanya sama dengan yang dilihat di dunia. Tetapi.. ketika disebut benda-benda ini, hanya sebagai penamaan agar dipahami penduduk dunia. Adapun yang sebenarnya dan hakekat kesenangan-kesenangan tersebut diserahkan kepada Allah yang Mahaagung, Mahabijaksana, lagi Yang menegakkan langit-langit di bumi.

Dari Abu Malik Al-Asy’ari bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Di surga ada beberapa kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalam dan yang isinya bisa dilihat dari luar. Itu disediakan oleh Allah bagi orang uang memberikan makanan, melembutkan ucapan, selalu berpuasa, dan shalat di waktu malam ketika manusia sedang terlelap tidur”.(Shahihul Jami’: 2119)

Jalan Menuju Surga bagi Orang yang Bertakwa

Ketahuilah –wahai hamba Allah- bahwa para penghuni surga adalah orang-orang yang merasa takut kepada Allah. Rasa takut yang mendorong kepada kebaikan dan mencegah dari setiap penyimpangan. Perasaan ini yang menyingkirkan segenap rintangan dan menyingkap tirai. Dan hati melebur di hadapan Dzat yang Maha Esa lagi Pemaksa. Rasa takut inilah yang membuat ibadah dan amal menjadi ikhlas, bersih, dari noda riya’ dan syirik di setiap gambarannya.

Maka orang yang takut terhadap Rabbnya, dengan benar tidak kuasa untuk memberikan tempat di hatinya untuk tidak ikhlas kepada Allah. Allah adalah sekutu yang paling tidakk butuh kepada penyekutuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ : ” أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ ، فَمَنْ عَمِلَ عَمَلا فَأَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي فَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ ” .

“Aku adalah sekutu yang paling tidak butuh kepada penyekutuan. Siapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku maka Aku akan meninggalkannya dan penyekutuannya.” (H.R. Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman,

لا يجتمعُ خوفانِ وأمنان؛ إن خِفته في الدنيا طمأنكَ يوم القيامة، وإن لم تخفه في الدنيا أخافكَ يوم القيامة

“Aku tidak mengumpulkan pada hamba-Ku dua rasa takut. Dan Aku tidak mengumpulkan baginya dua rasa aman, jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, niscaya aku jadikan dia ketakutan di akhirat. Dan jika dia merasa takut kepadaku di dunia, niscaya aku jadikan dia merasa aman di akhirat. (Shahihul Jami’:420)

Pintu Surga Selalu Terbuka bagi Orang yang Menempuhnya

Ketahuilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan”. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullahu, siapa yang enggan ?”. Beliau bersabda, “Barang siapa taat kepadaku, niscaya dia akan masuk surga, dan siapa yang durhaka kepadaku, dialah yang enggan (masuk surga).” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda dengan jawami’ul kalimnya (singkat, namun padat kandungan maknanya):

حجبت النار بالشهوات وحجبت الجنة بالمكاره

“Surga diliputi oleh kesusuahan-kesusahan dan neraka dilingkupi dengan kesenangan-kesenangan.” (Shahihul jami’ :3142)

Sesungguhnya jalan ini –wahai saudaraku yang akan menempuhnya- antara empat kata, dua negatif dan dua positif. Dua negatif yaitu syirik dan maksiat dan dua positif yaitu iman dan amal shalih. Dari empat kata ini akan terbentuk jalan yang membawa ke surga, tepat tinggal dan kemuliaan.

Sekarang wahai saudariku, mari kita tempuh jalan menuju surga…

Yang paling utama tentu dengan meminta bimbingan kepada Allah. ”laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah”. Allah yang Maha Membolak-balikkan hati kita. Allah sebaik-baik yang dimohon dan semulia-mulia yang diharap. Cukup Dia bagi kita sebagai penolong. Meminta bimbingan harus dibarengi dengan keyakinan, oleh karena itu….

  1. Hendaklah kita meyakini dengan teguh bahwa yang menciptakan kita adalah yang menciptakan alam ini. Dia mengatur dengan kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, kehendak-Nya, dan hikmah-Nya. Di alam ini tampak pengaruh sifat-Nya dan nama-Nya yang sangat indah. Dengan kekuasaan-Nya terjadilah alam ini. Dan dengan ilmunya, teraturlah keadaannya dan berjalan menuju tujuan-tujuannya dalam lingkup kepastian yang sangat teliti.
  2. Hendaklah kita meyakini dengan teguh bahwa tidak ada yang membantu Allah Ta’ala dalam menciptakan alam ini. Tidak ada yang ikut mengatur alam ini bersamanya. Karena kalau demikian, niscaya akan muncul pertentangan dan perlawanan di alam ini. Dan PASTI alam ini akan segera hancur dan binasa.
  3. Hendaklah kita meyakini dengan teguh bahwa ketika Allah tidak memiliki sekutu dalam penciptaan dan pengaturan alam, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ketaatan dan peribadatan. Maka tidak selayaknya ada yang diibadahi bersamanya, apakah dia malaikat, Nabi atau makhluk yang lainnya. Apakah ibadah itu shalat, do’a, puasa, sembelihan, zakat ataupun nadzar.
  4. Hendaklah kita meyakini dengan teguh bahwa sesembahan yang Agung ini –sendiri dalam mencipta, mengatur, dan harus beribadah kepada-Nya- adalah benar-benar sesembahan yang Agung. (Dia) memiliki sifat-sifat yang suci, sempurna, dan Mulia. Maka kita tetapkan bagi-Nya yang Mahasuci apa yang telah Dia tetapkan bagi dirinya berupa sifat-sifat dalam Kitab-Nya, dan kita juga menetapkan apa yang ditetapkan untuk-Nya oleh manusia yang paling mengenal tentang Allah, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa menyerupakann-Nya dengan makhluk, memisalkan-Nya, menyimpangkan pengertiannya, dan menanyakan bagaimana bentuknya.
  5. Hendaklah kita meyakini dengan teguh bahwa kebutuhan manusia kepada para Rasul untuk menerangkan jalan menuju surga memberi konsekuensi pengutusan mereka dan penurunan kitab kepada mereka. Dari sini wajib beriman kepada semua kitab samawi yang diturunkan Allah kepada mereka, sebagaimana juga wajib beriman kepada para malaikat yang baik, qadar, hari akhir, hisab, dan pemb.

Dengan lima poin yang mencakup keimanan yang benar, berarti kita telah mengenal seperempat jalan menuju surgga. Wahai para penempuhnya, maka mari kita menuju seperempat yang kedua, yaitu amal shalih:

  1. Hendaklah kita mendirikan shalat dengan bersuci untuknya dengan bersuci sempurna. Dan kita menunaikannya di waktunya dengan berjama’ah, dengan penunaian yang baik, mememnuhi semua syarat-syarat, kewajiban-kewajiban, sunnah-sunnah, dan adab-adabnya. Maka dengan itu, shalat kita bisa sesuai dengan shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
  2. Hendaklah kita menunaikan zakat harta kita kepada yang berhak dari kalangan orang-orang fakir, miskin, terlilit hutang, dan mujahidin. Dan hendaklah kita berhati-hati dalam mengeluarkannya dengan memberikan yang terbaik, sempurna dan keikhlasan yang sempurna karena Allah Ta’ala.
  3. Hendaklah kita berpuasa di bulan Ramadhan dengan menahan diri dari semua yang membatalkannya. Menjauhi segala yang membuat keraguan dan haram berupa ucapan, perbuatan, pikiran, dan niat.
  4. Hendaklah kita haji ke Baitullah seperti haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di musimnya yang mabrur. Yaitu menunaikannya dengan benar dan terlepas dari kata-kata yang membangkitkan nafsu, kefasikan, dan debat. Dan dengan dinaungi kebaikan dan dipenuhi dengan amal shalih.
  5. Hendaklah kita berbakti kepada kedua orang tua dengan mentaatinya pada perkara yang tidak berkmaksiat kepada Allah. Dan berbuat baik kepada mereka dengan memberikan kebaikan, berupa perkataan dan perbuatan yang indah, bersamaan dengan itu tidak menyakiti keduanya, walaupun keduanya membentak atau tidak suka.
  6. Hendaklah kita menyambung hubungan rahim kita dengan mereka dan mengunjungi mereka, menanyakan tentang keadaan mereka, dan membantu mereka dalam kadar kemampuan dan kesanggupan.
  7. Hendaklah kita berbuat baik kepada tetangga dengan memuliakan mereka, yaitu mencakup dalam sikap berbuat baik dan menjaga mereka dari keburukan.
  8. Hendaklah kita memuliakan tamu dengan pemuliaan yang wajib kita lakukan untuknya, yaitu dengan memberikan makan dan tempat kepadanya.
  9. Hendaklah kita memuliakan kaum mukminin dengan merealisasikan rasa ukhuwah yang dibangun di atas dasar menunaikan hak-haknya, mengucapkan salam kepadanya jika bertemu, mendoakannya ketika bersin, mengiringi jenazahnya ketika meninggal, menjenguknya ketika dia sakit, dan menunaikan sumpahnya bila dia bersumpah.
  10. Hendaknya kita bersikap adil dalam ucapan, perbuatan, dan hukum. Karena keadilan dalam segala hal adalah sesuatu yang mesti. Dengan keadilan semua urusan agama dan dunia akan tegak, dan dengannya pula akan menjadi baik para hamba dan negeri (mereka).
  11. Hendaknya kita tetap menjaga atribut-atribut keislaman yang agung. Karena dalam sikap itu akan menghidupkan sunnah (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan membunuh sunnah-sunnah orang-orang kafir.

Ketahuilah wahai saudaraku, orang dikatakan alim bukan karena banyaknya ilmu, namun alim adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Betapa banyak orang berilmu yang melalaikan ilmunya hingga ilmunya meluap.

Sampai di sini selesai setengah jalan, wahai para penempuh jalan menuju surga, Yang tersisa setengah lagi, yaitu meninggalkan kesyirikan dan maksiat-maksiat. Mari kita melanjutkan perjalanan ini tanpa rasa bosan dan jemu. Hendaklah kita meninggalkan kesyirikan yaitu dengan:

  1. Kita tidak meyakini bahwa makhluk –siapa pun dia- yang memiliki kemampuan untuk memberikan bahaya atau manfaat kepada dirinya atau orang lain, melainkan dengan kehendak dan izin dari Allah. Oleh karena itu,, hendaklah kita membatasi kecintaan kita hanya kepada Allah, maka janganlah kita mencintai kepada selain-Nya. Janganlah meminta kepada makhluk, memohon syafa’at atau pertolongan kepada yang lain. Karena tidak ada yang mampu memberi dan menolak kecuali Allah. Hendaklah kita hanya cinta, takut, dan tunduk kepada-Nya.
  2. Janganlah kita memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah. Jangan bersumpah dengan selain-Nya, jangan menyembelih untuk kubur manapun dan janganlah kita bernadzar, berdo’a dan meminta pertolongan kepada selain Allah Ta’ala.
  3. Janganlah kita menggantungkan benang atau besi atau apapun dengan harapan agar bisa meolak penyakit ‘ain (penyakit yang terjadi karena pandangan mata) atau untuk menghilangkan bahaya. Karena tidak ada yang dapat menolak penyakit ‘ain dan menolak bahaya kecuali Allah semata.
  4. Janganlah kita membenarkan berita ghaib dari dukun (para normal), peramal, atau tukang tenung, karena TIDAK ADA YANG MENGETAHUI PERKARA GHAIB kecuali Allah semata.
  5. Janganlah kita taat kepada penguasa, ulama, orang tua, ayau syaikh dalam kemaksiatan kepada Allah. Ketaatan kepada selain Allah –dengan mengharamkan yang dihalalkan Allah atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah- termasuk kesyirikan.

Dengan point ini, WAHAI PENEMPUH JALAN MENUJU SURGA, kita telah mengetahui seperempat ke tiga jalan menuju surga, yang tertinggal hanya seperempat yang terakhir.

Mari kita melanjutkan perjalanan kita, wahai penempuh jalan ke surga:

  1. Hendaklah kita menjaga pikiran, janganlah memikirkan pikiran yang membahayakan, jangan merencanakan kejelekan dan kejahatan maupun kerusakan.
  2. Hendaklah kita menjaga pendengaran, janganlah mendengarkan kebatilan, yaitu dosa, kata-kata kotor, dusta, musik, ghibah, adu domba, memboikot ataupun kekufuran.
  3. Hendaklah kita menjaga pandangan, janganlah melayangkan pandangan kepada perkara yang tidak halal untuk dilihat, seperti wanita yang bukan mahram, muslimah atau non muslimah, wanita yang terhormat atau wanita jalang.
  4. Hendaklah kita menjaga lisan, jangan mngucapkan kata-kata kotor, jorok, dusta, bohong, ghibah, adu domba, mencela atau mencerca.
  5. Hendaklah kita menjaga perut, jangan memasukkan ke dalamnya barang-barang yang haram –makanan atau minuman- jangan makan riba, bangkai, babi, minuman yang memabukkan atau merokok.
  6. Hendaklah kita menjaga kemaluan, janganlan menggauli selain istri yang sah secara syariat.
  7. Hendaklah kita menjaga tangan, janganlah mengganggu orang lain dengan memukul atau membunuh, janganlah mengambil barang haram, bermain judi, menulis kedustaan atau kebatilan.
  8. Hendaklah kita menjaga kaki, janganlah berjalan menuju tempat yang sia-sia atau main-main, janganlah menggunakannya untuk fitnah, kerusakan, ataupun atau kejahatan.
  9. Hendaklah kita menjaga perjanjian, kesaksian, dan amanah, janganlah menggugurkan perlindungan, mmerusak perjanjian, menyelisihi sumpah, bersaksi palsu, dan mengkhianati amanah.
  10. Hendaklah kita menjaga harta, janganlah membuang-buangnya dan menghambur-hamburkannya sebagaimana kita tidak mau menyia-nyiakannya. Maka kita jangan membiarkannya tana manfaat.
  11. Hendaklah kita menjaga keluarga dan anak pada tubuh, akal, akhlak, dan akidah mereka. Maka kita harus menjaga mereka dari hal-hal yang mengganggu, membahayakan atau merusak jiwa dan akal mereka. Dan kita harus menjaga mereka dari segala yang akan menghancurkan dan mencelakakan mereka.

Inilah jalannya, wahai penempuh jalan surga. Hendaklah kita mempersiapkan diri untuk merealisasikannya yang menerapkannya dalam kehidupan. Ini tidak akan bisa kita laksanakan kecuali dengan ilmu yanng benar yang bersumber dari kitabullah jalla jalaaluhu dan sunnah Nabi-Nya ‘alihi sholaatu was salaam.

 ————————————————————————————————————–

Penulis: Nuraini Safitri

Sumber: karya Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, edisi bahasa Indonesia dengan judul “Indahnya Surga Dahsyatnya Neraka”
Sumber: https://muslimah.or.id/8300-jalan-menuju-surga.html

Memperbanyak Dzikir Membantu Seseorang Dalam Melakukan Ketaatan Dan Ibadah

Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq Al Badr حفظه الله تعالى menjelaskan

“Dzikir membantu seseorang dalam melakukan ketaatan dan melembutkan/memudahkan ibadah.

Semakin banyak engkau berdzikir mengingat Allah, hal itu menjadi sebab dimudahkannya ibadah bagimu.

Seseorang pernah datang kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan ia merasa kesulitan/keberatan dalam menjalankan syariat Islam (merasa berat melakukan amal-amal ibadah wajib dan kewajiban Islam).

Ia berkata, ‘Sesungguhnya syariat Islam telah terasa banyak/berat bagiku, maka berilah aku nasihat..’

Lelaki ini ketika datang kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan menyampaikan bahwa syariat Islam terasa berat baginya, apa sebenarnya yang ia inginkan..?

Apakah ia ingin agar beban ibadahnya dikurangi..?

Ataukah ia menginginkan sesuatu yang dapat membantunya dan memudahkan amal-amal tersebut baginya..? Yang mana dari kedua hal itu..?

Apakah ketika ia berkata ‘syariat ini terasa berat/banyak bagiku..’ apakah ia ingin Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam berkata kepadanya, ‘Baiklah, engkau boleh meninggalkan sebagian sholat atau sebagian puasa Ramadhan..’ Apakah itu yang diinginkannya..? Apakah ia ingin amalnya dikurangi atau dihapus sebagian..?

Jawabannya, Tidak..!

Ia menginginkan sesuatu yang dapat melembutkan hatinya dan memudahkan amal-amal ibadah tersebut baginya. Maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam membimbingnya untuk memperbanyak dzikir. Beliau bersabda, ‘Hendaknya lidahmu senantiasa basah karena berdzikir mengingat Allah..’

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/74841

Orang Jahiliyyah Mengagungkan Tradisi daripada Wahyu

Kapan disebut orang jahiliyyah?

Salah satu cirinya disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, orang jahiliyyah adalah orang yang tidak mengikuti dalil Al Quran dan As Sunnah, enggan mentaati Allah dan Rasul-Nya lalu berpaling pada adat dan tradisi nenek moyang dan masyarakat yang ada. Itulah sifat jahiliyyah. Sifat ini termasuk sifat yang tercela.

Coba perhatikan pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut.

Seseorang itu tumbuh dari agama bapak atau agama tuannya atau agama masyarakat yang ada di negerinya. Sebagaimana seorang bocah itu tumbuh dari agama kedua orang tuanya atau orang yang merawatnya atau dari masyarakat sekitarnya. Ketika anak tersebut baligh (dewasa), maka barulah ia dikenai kewajiban untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya. Janganlah seperti yang mengatakan,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami” (QS. Al Baqarah: 170).

Setiap orang yang tidak mengikuti dalil Al Quran dan As Sunnah, enggan mentaati Allah dan Rasul-Nya lalu berpaling pada adat dan tradisi nenek moyang dan masyarakat yang ada. Itulah yang disebut orang Jahiliyyah dan layak mendapat celaan.

Begitu pula orang yang sudah jelas baginya kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya lantas ia berpaling pada adat istiadat, itulah orang-orang yang berhak mendapatkan celaan dan hukuman. (Majmu’ Al Fatawa, 20: 225).

Maukah kita dicap sebagai orang Jahiliyyah yang sekedar mengikuti tradisi dan budaya tanpa mau mendengar seruan Allah dan Rasul-Nya? Moga menjadi renungan berharga bagi kita semua.

Referensi:

Majmu’atul Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibni Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H.

—

Selesai disusun selepas Zhuhur di Darush Sholihin Gunungkidul, 15 Rabi’ul Awwal 1436 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/9995-orang-jahiliyyah-mengagungkan-tradisi-daripada-wahyu.html

Takut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya?

Waswas sebelum menikah dapat diatasi dengan tawakal, doa, dan tidak mengikuti bisikan setan.

Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah.

Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas

Ada seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.

Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”

Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.

Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?

Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.

Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.

Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.

Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri.
Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.

Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”

Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.

Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.

Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.

Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.

Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.

Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.

Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri.
Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.

Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga.

Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan

Yakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.

Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.

Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala

Seorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.

Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.

Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala

Ujian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.

“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)

Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.

Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat

Para ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”

Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.

Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.

Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.

Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.

Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.

1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan

Ketahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.

Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.

Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)

2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah

Hendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.

Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)

Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.

Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)

3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan

Hendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.

Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.

4. Memperbanyak Doa dan Istighfar

Hendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.

Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”

Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.

Allah Ta’ala berfirman,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’”
(QS. Nuh: 10–12)

5. Berusaha Kuat Melawan Waswas

Di samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar.
Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.

6. Berani Melangkah untuk Menikah

Mintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.

Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.

7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi

Tidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.

Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis.

Doa Memohon Kesembuhan

Semoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat.
Wallahu a’lam.

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42374-takut-menikah-karena-waswas-bagaimana-solusinya.html

Kalau kamu marah, maka bacalah Ta’awudz “A’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim,” karena ini petunjuk Nabimu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memberi petunjuk kepada orang yang sedang marah untuk melakukan sebab-sebab yang bisa meredakan kemarahan dan menahannya, di antaranya adalah dengan meminta perlindungan pada Allah Ta’ala dari godaan setan, karena marah yang bukan karena Allah Ta’ala dan agama hanya akan berakhir pada penyesalan.

وعنْ سُلَيْمانَ بْنِ صُرَدٍ رضي اللَّه عنهُ قال : كُنْتُ جالِساً مع النَّبِي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، ورجُلان يستَبَّانِ وأَحدُهُمَا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ . وانْتفَخَتْ أودَاجهُ . فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِنِّي لأعلَمُ كَلِمةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عنْهُ ما يجِدُ ، لوْ قَالَ : أَعْوذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ذَهَبَ عنْهُ ما يجدُ . فقَالُوا لَهُ : إِنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : «تعوَّذْ بِاللِّهِ مِن الشَّيَطان الرَّجِيمِ »

Dari Sulaiman bin Shurad beliau berkata: “(Ketika) aku sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua orang laki-laki yang sedang (bertengkar dan) saling mencela, salah seorang dari keduanya telah memerah wajahnya dan mengembang urat lehernya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang seandainya dia mengucapkannya maka niscaya akan hilang kemarahan yang dirasakannya. Seandainya dia mengatakan: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”, maka akan hilang kemarahan yang dirasakannya.” Orang-orang lalu berkata padanya (orang yang merah padam mukanya tadi): “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (HR. Bukhari, no. 6115 dan Muslim, no. 2610).

sumber: https://bimbinganislam.com/poster/kalau-kamu-marah-maka-bacalah-taawudz-auudzubillaahi-minasy-syaithaanir-rajiim-karena-ini-petunjuk-nabimu/

Qona’ah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Q0NA’AH dengan rezeki tersebut..”

)HR. Ibnu Majah no. 4138)
Syaikh Al Albani rohimahullah berkata : hadits ini shohihIbnu Batthol rohimahullah menjelaskan,

“Hakikat kekayaan adalah kekayaan jiwa, yaitu orang yang merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya, QONA’AH (puas), ridho, dan tidak berambisi menambahnya .. dan kekayaan jiwa itu tumbuh dari RIDHO terhadap ketetapan (takdir) Allah Ta’ala dan berserah diri pada keputusan-Nya, karena mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal..”

(Fathul Baari – 11/272)

KESIMPULANNYA: hakikat kekayaan (yang sejati) bukanlah banyaknya harta benda, melainkan :
– merasa cukup dengan apa yang telah diberikan oleh Allah
– ridho kepadanya,
– serta tidak tamak untuk terus menambahnya.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/74836

Diantara Tanda Tanda Yang Harus Diperhatikan Dalam Memilih Teman

Syaikh Prof. Dr. Sulaiman al-Ruhayli حفظه الله تعالى berkata,

“Jangan berteman dengan orang yang durhaka (kepada orangtuanya) .. jangan berteman dengan orang yang durhaka (kepada orangtuanya)

Seorang sahabat .. ketika dia berteman, dia menginginkan kebaikan (kesetiaan) dari sahabatnya, (namun) jika orang ini saja tidak berbakti kepada ibu dan ayahnya,
– bagaimana mungkin dia akan berbuat baik (setia) kepadamu..?
– bagaimana mungkin kebaikan akan datang kepadamu darinya..?

Oleh karena itu, wahai saudara saudara, di antara tanda tanda yang harus diperhatikan dalam memilih teman adalah bagaimana keadaan/sikap teman tersebut terhadap kedua orangtuanya.

Jika dia berbakti kepada kedua orangtuanya, maka pegang erat-eratlah (pertahankan) pertemanan dengannya. Karena sesungguhnya jika engkau membutuhkannya, engkau akan menemukannya (dia akan membantumu).

Adapun jika dia tidak berbakti kepada kedua orangtuanya, maka berhati-hatilah (waspadalah) terhadapnya, dan jangan jadikan dia sebagai teman dekat bagaimanapun kondisinya.

Karena sesungguhnya, barangsiapa yang tidak menunaikan hak kedua orangtuanya, maka dia tidak akan pernah menunaikan hak hak orang lain di antara manusia..”

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/74652

Nikmat Berujung Bencana Pelajaran Dari Kehancuran Kaum Saba’

NIKMAT BERUJUNG BENCANA PELAJARAN DARI KEHANCURAN KAUM SABA’

Sungguh Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kenikmatan yang tidak terhingga untuk negeri kita tercinta. Penduduknya ramah, alam yang indah dan kaya juga subur. Sungguh, ini semua merupakan kenikmatan yang tidak bisa dipungkiri.

Tentu, kita berharap kepada Allâh Azza wa Jalla agar kenikmatan ini tetap langgeng kita rasakan, untuk keberkahan dan kebahagian seluruh penduduk negeri ini. Karena Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan, Dia k tidak akan merubah suatu kenikmatan yang ada pada hamba-Nya kecuali karena  hamba itu sendiri yang merubahnya.

Bila kita merubah ketaatan menjadi maksiat, syukur diganti kufur, yang semula amalan kita mendatangkan ridha-Nya lalu berganti dengan perbuatan yang mendatangkan murka, maka Allâh Azza wa Jalla akan merubah kenikmatan itu menjadi bencana dan kehinaan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allâh sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allâh Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-Anfâl/8:53]

Kisah kaum Saba’ bisa menjadi contoh, bagaimana Allâh Azza wa Jalla mencabut kenikmatan lalu diganti bencana disebabkan kekufuran, kemaksiatan dan berpaling dari agama Allâh.  Kisah ini, Allâh Azza wa Jalla abadikan dalam surat Saba’ agar kita bisa mengenang, membicarakan, dan mengambil pelajaran dari dari kisah ini. Karenanya di akhir kisah kaum Saba’, Allâh mengakhiri firman-Nya:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allâh bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur [Saba’/34:19]

Oleh karena itu, perhatikanlah kenikmatan yang Allâh Azza wa Jalla telah berikan kepada mereka dan bagaimana mereka menyikapi kenikmatan Allâh Azza wa Jalla. Serta apa akibat dari perbuatan mereka itu?

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allâh) di tempat kediaman mereka, yaitu: dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya!’ (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.[Saba’/34:15]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menyebutkan kenikmatan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa kebun dan bendungan yang mengairi perkebunan mereka

Kaum Saba’ mempunyai Wâdî (lembah) yang menjadi sungai besar bila dilalui air ketika hujan. Lalu mereka membuat bendungan yang kokoh untuk menampung air hujan dalam jumlah yang banyak. Dengan adanya bendungan itu, kaum Saba’ tidak khawatir akan kekurangan air. Air itu, mereka alirkan ke kebun-kebun mereka yang berada di kanan dan kiri bendungan itu, sehingga kebun-kebun itu menjadi subur dan menghasilkan banyak buah-buahan yang mencukupi kebutuhan mereka.[1]

Dua kebun itu sangat luas dan terletak di hamparan lembah. Tanahnya subur dan menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah. Mereka mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan hidup dengannya. Ini adalah kenikmatan yang sangat besar yang Allâh berikan kepada mereka.

Berkata as-Sudi dan Muqâtil mengatakan, “Bila seorang wanita berjalan di bawah pepohonan dengan keranjang di atas kepalanya, maka keranjang itu akan penuh dengan berbagai macam buah, tanpa susah payah memetiknya.”[2]

NEGERI YANG BAIK, AMPUNAN SERTA RAHMAT ALLAH
Kenikmatan lainnya berupa yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada mereka adalah negeri yang baik, ampunan serta rahmat Allâh Azza wa Jalla jika mereka bersyukur. Cuaca atau udaranya baik, sehingga dikatakan apabila seseorang melewati negeri mereka sedang dipakaiannya ada kutu atau ngengat maka semua kutu dan ngengat itu mati karena udaranya yang sangat baik, bersih dan sejuk.[3]

Dikatakan, di negeri itu tidak ada lalat dan tidak ada nyamuk. Ibnu Zaid rahimahullah menambahkan bahwa di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kelajengking dan ular.[4]

Diantara kenikmatan juga yaitu ampunan dari Rabb yang Maha Pengampun. Maksunya, Dia mengampuni dosa-dosa kalian, jika kalian senantiasa berada di atas tauhid.[5]

Qatâdah rahimahullah berkata, “Rabb kalian Maha mengampuni dosa-dosa kalian juga kaum yang telah diberi kenikmatan. Dan Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada mereka untuk menaati-Nya dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.”[6]

Namun Apa Yang Mereka Lakukan Sebagai Balasan Dari Limpahan Kenikmatan Ini?
Mereka kafir kepada Allâh Azza wa Jalla , tidak mau beribadah dan tidak bersyukur serta berpaling dari ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla :

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾ ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar. Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” [Saba’/34:16-17]


Mereka menzhalimi diri sendiri dengan melakukan perbuatan kufur dan maksiat. Syaitan telah menyesatkan dan menjauhkan mereka dari jalan yang lurus.

Allâh Azza wa Jalla mengutus tiga belas nabi kepada mereka. Para nabi ini menyeru mereka kepada Allâh Azza wa Jalla , mengingatkan kenikmatan-Nya pada mereka dan memperingatkan akan hukuman-Nya. Akan tetapi, mereka mendustakannya seraya mengatakan, “Kami tidak mendapatkan kenikmatan ini dari Allâh. Katakan kepada Rabb kalian (wahai para utusan-pen), ‘Cegahlah kenikmatan ini dari kami kalau Dia mampu.’”[7] Allâh Azza wa Jalla murka dan menghancurkan bendungan yang telah mereka buat.

Maka, tidaklah ada suatu kaum ingkar kepada Allâh dan menggunakan kenikmatan Allâh Azza wa Jalla dalam kekufuran dan kerusakan, kecuali mereka berhak mendapatkan ancaman adzab Allâh Azza wa Jalla . Mereka akan ditimpa kebinasaan. Kenikmatan akan berubah bencana. Inilah yang menimpa kaum Saba’. Hendaklah kita mengambil pelajaran dari kisah mereka! Sebagaimana Allâh berfirman dalam surat al-Ankabut/20 ayat ke-40.

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allâh sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

Lalu perhatikanlah akibat perbuatan mereka ini! Allâh Azza wa Jalla kabarkan keadaan mereka setelah bendungan yang mereka bangun itu hancur.

وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr [Saba’/34:16]

Kedua kebun mereka yang menjadi sumber penghidupan, kekayaan dan kekuatan mereka diganti dengan kebun yang jelek, yang tidak bermanfaat dalam kehidupan mereka. Yaitu pohon yang buahnya pahit bila dimakan dan pohon yang tidak berbuah serta pohon yang berbuah namun buahnya tidak menjadikan gemuk dan tidak menghilangkan rasa lapar maka ini adalah ganti dari kenikmatan yang tidak disyukuri.

Dan dikatakan jenis pohon itu adalah pohon siwak. Ini adalah pendapat mayoritas mufassirîn (para Ulama ahli tafsir-red) seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Atha’, al Khurasâni, al-Hasan, Qatadah dan as-Sudi.[8] Yang buahnya pahit, biasa disebut al-barîr, kemudian pohon Atsl sejenis cemara namun lebih besar  dan pohon Sidr atau pohon bidara.[9]

Wahai hamba Allâh !  Ini adalah tanda kebesaran-Nya, dengan air, Allâh suburkan kebun dan ladang mereka namun dengan air juga Allâh Azza wa Jalla hancurkan kebun dan lahan pertanian mereka. Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengutus air bah yang keluar dari bendungan mereka yang jebol. Air bah itu menghancurkan kebun-kebun dan ladang mereka. Dengan air mereka hidup makmur, kaya lagi terpandang namun dengan air pula mereka dihinakan. [10]

Semoga ini menjadi pelajaran bagi orang-orang yang tengah mendapat kenikmatan agar mereka bersyukur dan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , sehingga tetap langgeng kenikmatan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada mereka.

NIKMAT BERDAGANG
Kenikmatan berikutnya yang Allâh berikan kepada mereka adalah kemudahan untuk berdagang hasil bumi mereka ke wilayah Syam

Allâh Azza wa Jalla menghilangkan rasa takut dan memberikan rasa aman kepada mereka dengan  tersambungnya daerah-daerah dari Saba’ sampai ke Syam. Mereka tidak merasakan kesulitan ketika bepergian dan tidak perlu terbebani dengan membawa bekal perjalanan. Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ ۖ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ

Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.[Saba/34:18]

Yang dimaksud dengan negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya ialah negeri Syam, disebabkan kesuburannya; dan negeri- negeri yang berdekatan maksudnya yaitu  negeri-negeri antara Yaman dan Syam, sehingga orang-orang dapat berjalan dengan aman siang dan malam tanpa terpaksa berhenti di padang pasir dan tanpa mendapat kesulitan. Mereka berjalan dari Yaman ke Syam di negeri-negeri yang tampak dan bersambung sehingga mereka bisa istirahat siang di satu tempat dan bisa tidur malam di tempat lain. [11]

MENOLAK DAN DURHAKA
Kaum Saba’ merespon nikmat Allâh ini dengan menolaknya dan durhaka kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang mereka:

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ

Maka mereka berkata, “Wahai Rabb kami! Jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; [Saba’/34:19]


Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla menyebutkan kenikmatan dan kesenangan hidup yang ada pada mereka dan tempat yang aman dan daerah-daerah yang saling berdekatan lagi terhubung dengan pepohonan yang banyak, tanaman serta buah-buahannya sehingga musafir tidak perlu membawa perbekalan dan air. Karena setiap berhenti di satu daerah, mereka bisa mendapatkan air dan buah-buahan. Mereka istirahat siang di suatu tempat kemudian mereka bermalam di tempat lainnya, sesuai kebutuhan perjalanan mereka.” [12]

Mereka menolak kenikmatan ini dan mereka lebih senang berjalan di padang pasir yang tandus dengan perbekalan yang banyak lagi membutuhkan kendaraan, dibawah terik matahari disertai rasa takut. (Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas, Mujahid, al-Hasan dan yang lainnya) [13]

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Maka mereka berkata, “Wahai Rabb kami! Jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; Maka kami jadikan mereka buah mulut dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allâh bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. [Saba’/34:19]

Akibatnya, Allâh jadikan kisah mereka ini sebagai bahan pembicaraan diantara manusia yang berbicara tentang kabar-kabar berita mereka. Allâh Azza wa Jalla jadikan mereka berpecah-belah padahal sebelumnya mereka bersatu-padu dalam kehidupan yang nyaman dan tenang sehingga mereka berpencar-pencar, pindah meninggalkan negeri mereka ke berbagai negeri lainnya.

Dan hal ini seperti perkataan Bani Israil,

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نَصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”.

Musa berkata, “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”.

Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allâh. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allâh dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) Karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. [Al-Baqarah/2:61]

PELAJARAN DARI KISAH INI[14]

Rezeki dan kenikmatan dari Allâh Azza wa Jalla akan langgeng dengan sebab ketaatan, namun akan musnah, hilang binasa dengan sebab maksiat. Diantara ketaatan yang dapat melanggengkan kenikmatan Allâh adalah syukur , takwa, tawakkal, istighfar dan doa.
Diantara kaum yang dicabut kenikmatannya yaitu kaum Saba’, pemilik dua kebun dalam kisah yang terdapat dalam surat al-Kahfi/18 ayat ke-32 sampai ke-42, pemilik kebun yang disebut dalam surat al-Qalam/68 ayat ke-17 sampai dengan ayat ke-32, kaum Fir’aun, dan kaum Hud.
Negeri yang diberkahi adalah negeri Syam.[15]
Ketenangan, kedamaian dan keamanan adalah nikmat dari Allâh Azza wa Jalla . Keamanan akan tercapai dengan iman yang benar, penerapan syariat Islam dan memberikan hak kepada orang yang berhak.
Orang yang ragu dan mengingkari akhirat, mereka tidak akan tabah menghadapi fitnah dan ujian, dan pada hari Kiamat mereka akan menyesal (Saba’/34:20-21).
Allâh Azza wa Jalla menguji para hambanya dengan kebaikan dan kejelekan, kenikmatan dan kesulitan untuk membedakan orang-orang yang baik dengan orang-orang yang buruk dan antara yang jujur dengan yang dusta (Al-Ankabut/29:2-3).
Hendaknya seorang Mukmin bersabar dalam menjauhi maksiat dan bersabar ketika mendapatkan ujian dan cobaan, serta bersyukur atas limpahan nikmat yang Allâh Azza wa Jalla berikan.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Lihat al-Furqan Fi Qashashil Qur’an; hlm 387
[2]  Tahdzib Tafsîr al-Baghawi; hlm 975; Dâr Thaibah
[3] Lihat Tahdzib Tafsîr al-Baghawi; hlm 975; Dâr Thaibah
[4] Tafsîr ath-Thabari ; 22 hlm 94; Dâr Ihyâ at Turats al ‘Arabi
[5] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr; 6/529; Dârul Hadits al Qâhirah
[6] Tafsîr ath-Thabari; 22 hlm 94; Dâr Ihyâ at Turats al ‘Arabi
[7] Tahdzib Tafsîr al-Baghawi; hlm 976.
[8]  Tafsir Ibnu Katsir; hlm 530; Dârul Hadits
[9]  Lihat Tahdzib Tafsîr al-Baghawi; hlm 976.
[10] Lihat al Furqân fii Qashashil Qur’an; hlm 392
[11] Lihat al Furqân fii Qashashil Qur’an; hlm 390
[12] Tafsir Ibnu Katsir; 6/531; Dârul Hadits
[13] Tafsir Ibnu Katsir; 6/531; Dârul Hadits
[14] Diringkas dari al Furqan fî Qashashil Qur’an; hlm:398-409
[15] lihat (Saba/34:18); (Al-Isra’/17:1); (Al-Anbiya/21:71 dan 81)


Referensi : https://almanhaj.or.id/11341-nikmat-berujung-bencana-pelajaran-dari-kehancuran-kaum-saba.html

Islam Menjaga dan Memuliakan Wanita

Di antara stigma negatif yang dialamatkan oleh Barat terhadap ajaran Islam adalah, bahwa Islam tidak menghargai kedudukan wanita, memasung kebebasannya, tidak adil dan menjadikannya sebagai manusia kelas dua yang terkungkung dalam penguasaan kaum laki-laki serta hidup dalam kehinaan. Wanita Islam pun dicitrakan sebagai wanita terbelakang dan tersisihkan dari dinamika kehidupan tanpa peran nyata di masyarakat. Oleh karena itu, mereka menganggap, bahwa Islam adalah hambatan utama bagi perjuangan kesetaraan gender.

Anehnya, sebagian kaum muslimin yang telah kehilangan jati dirinya malah terpengaruh dengan pandangan-pandangan itu. Alih-alih membantah, mereka malah menjadi bagian dari penyebar pemikiran mereka. Dibawah kampanye emansipasi wanita dan kesetaraan gender, mereka ingin agar kaum muslimah melepaskan nilai-nilai harga diri mereka yang selama ini dijaga oleh Islam. Padahal sejatinya islam memuliakan wanita dan menjaganya agar tetap terhormat.

Wanita pra-Islam

Sebelum datang Islam, seluruh umat manusia memandang hina kaum wanita. Jangankan memuliakannya, menganggapnya sebagai manusia saja tidak. Orang-orang Yunani menganggap wanita sebagai sarana kesenangan saja. Orang-orang Romawi memberikan hak atas seorang ayah atau suami menjual anak perempuan atau istrinya. Orang Arab memberikan hak atas seorang anak untuk mewarisi istri ayahnya. Mereka tidak mendapat hak waris dan tidak berhak memiliki harta benda. Hal itu juga terjadi di Persia, Hidia dan negeri-negeri lainnya. (Lihat al Mar`ah, Qabla wa Ba’da al Islâm, Maktabah Syamilah, Huqûq al Mar`ah fi al Islâm: 9-14)

Orang-orang Arab ketika itu pun biasa mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan, hanya karena ia seorang wanita! Allah berfirman tentang mereka,

 وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ . يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

 “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl [16]: 58)

Muhammad al Thâhir bin Asyûr mengatakan, “Mereka mengubur anak-anak perempuan mereka, sebagian mereka langsung menguburnya setelah hari kelahirannya, sebagian mereka menguburnya setelah ia mampu berjalan dan berbicara. Yaitu ketika anak-anak perempuan mereka sudah tidak bisa lagi disembunyikan. Ini adalah diantara perbuatan terburuk orang-orang jahiliyyah. Mereka terbiasa dengan perbuatan ini dan menganggap hal ini sebagai hak seorang ayah, maka seluruh masyarakat tidak ada yang mengingkarinya.” (al Tahrîr wa al Tanwîr: 14/185)

Wanita Pasca Islam

Kemudian cahaya Islam pun terbit menerangi kegelapan itu dengan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, memerangi segala bentuk kezaliman dan menjamin setiap hak manusia tanpa terkecuali. Islam memuliakan wanita dan menjaganya. Perhatikan Allah berfirman tentang bagaimana seharusnya memperlakukan kaum wanita dalam ayat berikut:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

 “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering mengingatkan dengan sabda-sabdanya agar umat Islam menghargai dan memuliakan kaum wanita. Di antara sabdanya:

 اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

 “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

 خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.” (HR Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam “ash-shahihah”: 285)

Dr. Abdul Qadir Syaibah berkata, “Begitulah kemudian dalam undang-undang Islam, wanita dihormati, tidak boleh diwariskan, tidak halal ditahan dengan paksa, kaum laki-laki diperintah untuk berbuat baik kepada mereka, para suami dituntut untuk memperlakukan mereka dengan makruf serta sabar dengan akhlak mereka.” (Huqûq al Mar`ah fi al Islâm: 10-11)

Wanita adalah Karunia, Bukan Musibah

Setelah sebelumnya orang-orang jahiliyah memandang wanita sebagai musibah, Islam memandang bahwa wanita adalah karunia Allah. Bersamanya kaum laki-laki akan mendapat ketenangan, lahir maupun batinnya. Darinya akan muncul energi positif yang sangat bermanfaat berupa rasa cinta, kasih sayang dan motivasi hidup. Laki-laki dan wanita menjadi satu entitas dalam bingkai rumah tangga. Kedunya saling membantu dalam mewujudkan hidup yang nyaman dan penuh kebahagian, mendidik dan membimbing generasi manusia yang akan datang. Islam memuliakan wanita dan menjadikannya karunia, bukan musibah.

Allah berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al Rûm [30]: 21)

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?.” (QS. An Nahl [16]:72)

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

“Mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)

Hak dan Kedudukan Wanita

Sebagaimana laki-laki, hak-hak wanita juga terjamin dalam Islam. Pada dasarnya, segala yang menjadi hak laki-laki, ia pun menjadi hak wanita. Agamanya, hartanya, kehormatannya, akalnya dan jiwanya terjamin dan dilindungi oleh syariat Islam sebagaimana kaum laki-laki. Inilah bukti bahwa islam memuliakan wanita.

Diantara contoh yang terdapat dalam al Qur`an adalah: wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam beribadah dan mendapat pahala:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ [4]: 124)

Wanita juga memiliki hak untuk dilibatkan dalam bermusyawarah dalam soal penyusuan:

فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا

“Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.” (QS. Al Baqarah [2]: 233)

Wanita berhak mengadukan permasalahannya kepada hakim:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Mujâdilah [58]: 1)

Dan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan beberapa kasus pengaduan wanita kepadanya.

Wanita adalah partner laki-laki dalam peran beramar makruf nahi munkar dan ibadat yang lainnya:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Taubah [9]: 71)

Allah juga berfirman tentang hak wanita:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah [2]: 228)

Ibnu Katsir berkata, “Maksud ayat ini adalah bahwa wanita memiliki hak atas laki-laki, sebagaimana laki-laki atas mereka. Maka, hendaknya masing-masing dari keduanya menunaikan hak yang lainnya dengan cara yang makruf.” (Tafsîr al Qur`ân al Adzîm: 1/609)

Muhammad al Thâhir bin ‘Asyûr berkata, “Ayat ini adalah deklarasi dan sanjungan atas hak-hak wanita.” (al Tahrîr wa al Tanwîr: 2/399)

Mutiara Yang Harus Dijaga

Selain menjamin hak-hak wanita, Islam pun menjaga kaum wanita dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Bagai mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah kemudian sejumlah aturan ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan agar berikutnya, kaum wanita dapat menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik umat generasi mendatang.

Muhammad Thâhir ‘Asyûr rahimahullah berkata, “Agama Islam sangat memperhatikan kebaikan urusan wanita. Bagaimana tidak, karena wanita adalah setengah dari jenis manusia, pendidik pertama dalam pendidikan jiwa sebelum yang lainnya, pendidikan yang berorientasi pada akal agar ia tidak terpengaruh dengan segala pengaruh buruk, dan juga hati agar ia tidak dimasuki pengaruh setan…

Islam adalah agama syariat dan aturan. Oleh karena itu ia datang untuk memperbaiki kondisi kaum wanita, mengangkat derajatnya, agar umat Islam (dengan perannya) memiliki kesiapan untuk mencapai kemajuan dan memimpin dunia.” (al Tahrîr wa al Tanwîr: 2/400-401)

Di antara aturan yang khusus bagi wanita adalah aturan dalam pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Aturan ini berbeda dengan kaum laki-laki. Allah memerintahkan demikian agar mereka dapat selamat dari mata-mata khianat kaum laki-laki dan tidak menjadi fitnah bagi mereka.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzâb [33]: 59)

Wanita pun diperintah oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara dan lain-lain.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)

Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum wanita, sekaligus menjamin tatanan kehidupan yang baik dan bersih dari prilaku menyimpang yang muncul akibat hancurnya sekat-sekat pergaulan antara kaum laki-laki dan wanita. Merebaknya perzinahan dan terjadinya pelecehan seksual adalah diantara fenomena yang diakibatkan karena kaum wanita tidak menjaga aturan Allah diatas dan kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penanggungjawab mereka lalai dalam menerapkan hukum-hukum Allah atas kaum wanita.

Penutup

Akhirnya, dengan keterbatasan ilmu dan kata, penulis merasa bahwa apa yang dipaparkan dalam tulisan ini masih jauh dari sempurna. Namun mudah-mudahan paling tidak dapat sedikit menjawab keragu-raguan yang mungkin hinggap pada benak sebagian kaum muslimin tentang pandangan Islam terhadap wanita, disebabkan karena merebaknya opini keliru yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak menginginkan syariat Islam tegak menopang sendi-sendi kehidupan umat manusia. Yakinilah bahwa islam memuliakan wanita dan menjaganya agar tetap terhormat.

***

Wallâhu a’alam bish-shawâb wa shallallâhu ‘alâ nabiyyinâ Muhammad.

Riyadh, 22 Jumada Tsani 1433 H

—

Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc (Alumni Universitas Al Azhar Mesir, Da’i di Islamic Center Bathah Riyadh KSA)
sumber: https://muslim.or.id/9166-islam-menjaga-dan-memuliakan-wanita.html

Telaga Nabi

Setiap Nabi memiliki telaga. Setiap telaga berbeda kualitasnya. Dan setiap Nabi berlomba agar telaganya paling banyak dikunjungi. Dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berharap menjadi telaga yang paling banyak dikunjungi. Telaga Nabi dinamakan Al-Kautsar. Airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, lebih wangi dari minyak misk, gayungnya seperti bintang2 di langit, air ini datang dari sungai Al-Kautsar. Nama telaga Al Kautsar diambil dari sumbernya yaitu sungai Al Kautsar.

“Sesungguhnya setiap nabi memiliki telaga. Dan mereka saling membanggakan siapakah yang telaganya paling banyak dikunjungi. Aku berharap telagakulah yang paling banyak pengunjungnya”. HR. Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.

“Saya menunggu kalian di telaga. Siapa yang mendatangiku, dia akan minum airnya dan siapa yang minum airnya, tidak akan haus selamanya.” (HR. Bukhari 6583 & Muslim 6108)

Kita ditunggu oleh Nabi ditelaga haud!
Bagaimana caranya?, ‘minumlah’ sunnah-sunnah Nabi di zaman ini, maksudnya, amalkanlah sunnah sunnah Nabi yang mulia. Kalau kita menikmati sunnah sunnah Nabi maka nantinya anda akan menikmati air ditelaganya.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/74436