Yang Paling Mulia, Yang Paling Bertakwa

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Mungkin ada yang menyangka bahwa yang paling mulia adalah yang kaya harta, dari golongan konglomerat, yang cantik rupawan, yang punya jabatan tinggi, berasal dari keturunan Arab atau bangsawan. Namun, Allah sendiri menegaskan yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

Ayat yang patut jadi renungan saat ini adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Ath Thobari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath Thobari, 21:386)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,  “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari keturunan kalian” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 169)

Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كرم الدنيا الغنى، وكرم الآخرة التقوى.

Mulianya seseorang di dunia adalah karena kaya. Namun muliany seseorang di akhirat karena takwanya.” Demikian dinukil dalam tafsir Al Baghowi. (Ma’alimut Tanzil, 7: 348)

Kata Al Alusi, ayat ini berisi larangan untuk saling berbangga dengan keturunan. Al Alusi rahimahulah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di antara kalian di sisi Allah di dunia maupun di akhirat adalah yang paling bertakwa. Jika kalian ingin saling berbangga, saling berbanggalah dengan takwa (kalian).” (Ruhul Ma’ani, 19: 290)

Dalam tafsir Al Bahr Al Muhith (10: 116) disebutkan, “Sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagaimana yang disebutkan dalam ayat (yaitu ada yang berasal dari non Arab dan ada yang Arab). Hal ini bertujuan supaya kalian saling mengenal satu dan lainnya walau beda keturunan. Janganlah kalian mengklaim berasal dari keturunan yang lain. Jangan pula kalian berbangga dengan mulianya nasab bapak atau kakek kalian. Salinglah mengklaim siapa yang paling mulia dengan takwa.”

Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Yang bertakwa itulah yang berhak menyandang kemuliaan, yaitu lebih mulia dari orang yang tidak memiliki sifat takwa. Dialah yang paling mulia dan tinggi kedudukannya (di sisi Allah). Jadi, klaim kalian dengan saling berbangga pada nasab kalian yang mulia, maka itu bukan menunjukkan kemuliaan. Hal itu tidak menunjukkan seseorang lebih mulia dan memiliki kedudukan utama (di sisi Allah).” (Fathul Qodir, 7: 20)

Dalam tafsir Al Jalalain (528) disebutkan, “Janganlah kalian saling berbangga dengan tingginya nasab kalian. Seharusnya kalian saling berbangga manakah di antara kalian yang paling bertakwa.”

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Allah menjadikan kalian berbeda bangsa dan suku (ada yang Arab dan ada yang non Arab) supaya kalian saling mengenal dan mengetahui nasab satu dan lainnya. Namun kemuliaan diukur dari takwa. Itulah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, yang rajin melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Standar kemuliaan (di sisi Allah) bukan dilihat dari kekerabatan dan kaum, bukan pula dilihat dari sisi nasab yang mulia. Allah pun Maha Mengetahui dan Maha Mengenal. Allah benar-benar tahu siapa yang bertakwa  secara lahir dan batin, atau yang bertakwa secara lahiriyah saja, namun tidak secara batin. Allah pun akan membalasnya sesuai realita yang ada.” (Taisir Al Karimir Rahman, 802)

Banyak hadits pula yang menyebutkan hal di atas, yaitu semulia-mulia manusia adalah yang paling bertakwa.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ النَّاسِ أَكْرَمُ قَالَ « أَكْرَمُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَأَكْرَمُ النَّاسِ يُوسُفُ نَبِىُّ اللَّهِ ابْنُ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَبِ تَسْأَلُونِى » . قَالُوا نَعَمْ . قَالَ « فَخِيَارُكُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوا »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah orang yang paling mulia?” “Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang tersebut berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, nabi Allah, anak dari Nabi Allah, anak dari nabi Allah, anak dari kekasih-Nya”, jawab beliau. Orang tersebut berkata lagi, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Apa dari keturunan Arab?”, tanya beliau. Mereka menjawab, “Iya betul”. Beliau bersabada, “Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama).” (HR. Bukhari no. 4689)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ».

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لَهُ « انْظُرْ فَإِنَّكَ لَيْسَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلاَ أَسْوَدَ إِلاَّ أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى »

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR. Ahmad, 5: 158. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari sanad lain)

Bukan kulit putih membuat kita mulia, bukan pula karena kita keturunan darah biru, keturunan Arab, atau anak konglomerat. Yang membuat kita mulia adalah karena takwa. Semoga pelajaran tentang ayat yang mulia ini bermanfaat dan bisa kita renungkan serta realisasikan. Wallahu waliyyut taufiq.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

@ Sabic Lab Riyadh KSA, 27 Dzulqo’dah 1432 H (25/10/2011)

Referensi:

  1. Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.
  2. Ma’alimut Tanzil, Abu Muhammad Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi, terbitan Dar Thoyyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H
  3. Ruhul Ma’ani fii Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim was Sab’il Matsanii, Mahmud bin ‘Abdullah Al Husaini Al Alusi, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.
  4. Tafsir Al Bahr Al Muhith, Abu Hayan Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali bin Yusuf bin Hayyan, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.
  5. Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi, terbitan Darus Salam, cetakan kedua, 1422 H.
  6. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail bin Katsir Ad Dimasyqi, terbitan Muassasah Qurthubah.
  7. Tafsir Ath Thobari Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Hijr.
  8. Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Naashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.

Sumber https://rumaysho.com/2029-yang-paling-mulia-yang-paling-bertakwa.html

Tauhid sebagai Pelebur Dosa-Dosa


Tauhid
 merupakan perkara yang sangat penting yang tidak dapat dipisahkan dari Islam. Hal itu karena tujuan dari ibadah di dalam Islam adalah untuk menegakkan dan merealisasikan tauhid. Bahkan dijelaskan di dalam Al-Quran, bahwa tujuan utama Allah menciptakan jin dan manusia adalah untuk mengaplikasikan tauhid itu sendiri, yaitu beribadah kepada Allah dengan ikhlas hanya ditujukan kepadaNya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh menukilkan perkataan Imam Ibnu Katsir rahimahullah yang menjelaskan, bahwa makna ayat tersebut adalah:

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhlukNya tidak lain tidak bukan adalah agar mereka beribadah hanya kepadaNya semata (mentauhidkanNya) dan tidak menyekutukanNya. Dan barangsiapa yang mentaatiNya, maka ia akan diberi balasan dengan balasan yang sempurna (surga). Sedangkan barangsiapa yang ingkar kepadaNya, maka akan diadzab dengan adzab yang pedih (neraka). Allah juga mengabarkan bahwa Dia tidak butuh terhadap makhluk-makhlukNya. Bahkan sebaliknya, merekalah yang butuh kepada Allah dalam setiap kondisi mereka. Karena Allah-lah yang telah menciptakan dan memberi rezeki kepada mereka.” (Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, cetakan Mu’assasah Qurthubah, halaman 30)

Manusia Tempat Salah dan Dosa

Dalam menjalani ibadah dan ketaatan kepada Allah di dunia ini, manusia sering kali terjatuh ke dalam kesalahan dan dosa. Dan hal ini merupakan sifat manusia yang memang tidak bisa terlepas dari kesalahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan-kesalahan, dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Di dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa yang namanya anak Adam (manusia) pasti sering kali melakukan banyak kesalahan. Namun yang paling baik di antara mereka adalah yang mau kembali dan bertaubat kepada Allah atas kesalahan-kesalahannya.

Setiap saat yang dilaluinya, manusia akan senantiasa melakukan kesalahan dan dosa. Dan hal ini tidak akan berhenti hingga ajal menjemputnya. Tentu saja apabila ia tidak bertaubat dari dosa-dosa yang dilakukannya tersebut, kelak ia akan mendapatkan balasan berupa adzab yang pedih (di neraka). Dan seorang mukmin tentunya memiliki rasa takut dan khawatir dengan adzab dari Allah Ta’ala tersebut dan ia butuh ampunan dari Allah agar bisa lepas dari siksaanNya kelak di akhirat.

Allah Maha Penyayang dan Mengampuni Dosa-Dosa

Allah sebagai Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang tentu saja tidak membiarkan hamba-hambaNya larut dan berterus-terusan berada dalam kubangan dosa yang bisa membinasakan mereka. Allah Ta’ala membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi mereka yang mau meminta ampunan kepadaNya. Bahkan Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk segera bertaubat agar kelak mereka bisa lepas dari adzabNya dan ia termasuk orang-orang yang beruntung mendapatkan surgaNya di hari kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS an-Nur [24]: 31)

Dan juga firmanNya:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاء وَالْأَرْضِ

“Berlomba-lombalah kamu untuk (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS al-Hadid [57]: 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membuka tanganNya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang melakukan dosa di sore hari. Dan Allah membuka tanganNya di siang hari untuk menerima taubat orang yang melakukan dosa di malam hari, (dan ini dilakukan) hingga matahari terbit dari arah barat (kiamat).” (HR Muslim dan an-Nasai dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu)

Selain memerintahkan hamba-hambaNya untuk bertaubat dan meminta ampun kepadaNya, Allah juga menjanjikan ampunan sebesar-besarnya kepada hamba-hambaNya yang bertauhid. Yaitu mereka yang ikhlas dalam beribadah dan menyucikan ibadahnya dari segala macam bentuk kesyirikan.

Tauhid sebagai Kunci Diampuninya Dosa

Ikhlas dalam beribadah yaitu seseorang melakukan ketaatan kepada Allah dengan melakukan ibadah-ibadah yang diperintahkannya, baik itu ibadah yang tampak (seperti shalat, zakat, haji, menuntut ilmu, dll) ataupun ibadah yang tidak tampak (seperti cinta, takut, berharap, dll) hanya semata-mata ditujukan untuk Allah, bukan ditujukan kepada selainNya atau dengan tujuan selainNya. Ia juga beribadah tidak untuk mendapatkan pujian dari manusia, namun semata-mata untuk mendapatkan ridha dari Allah Ta’ala.

Selain ikhlas dalam beribadah, ia juga harus berlepas diri dari segala macam bentuk kesyirikan. Karena kesyirikan akan menghapuskan semua amal kebaikan manusia. Jika ia bisa menjaga dirinya untuk senantiasa mentauhidkan Allah dan menjauhkan dirinya dari kesyirikan. Maka segala macam dosa dan kesalahannya akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللهُ تَعَالَى :يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, jika seandainya engkau mendatangiKu dengan memikul dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu pun, maka sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”” (HR at-Tirmidzi)

Di dalam hadits qudsi ini terdapat keutamaan tauhid yang begitu agung, yaitu Allah Ta’ala memberikan pahala yang begitu besar bagi hamba-hambaNya yang bertauhid. Seorang Muslim yang memiliki tauhid yang murni akan diampuni dosa-dosanya walaupun dosanya itu sebesar bumi ini. Ini merupakan bentuk kasih sayang dan keluasan rahmat Allah kepada hamba-hambaNya yang bertauhid.

Ketika menjelaskan makna hadits ini, Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa:
Barangsiapa datang (kepada Allah di hari kiamat kelak) dengan memikul dosa sepenuh bumi, namun ia memiliki tauhid, maka Allah akan menyambutnya dengan ampunan sepenuh bumi pula

Sampai beliau berkata:

“Jika tauhid dan keikhlasan seorang hamba kepada Allah telah sempurna, kemudian ia menunaikan syarat-syaratnya, baik itu di dalam hati, lisan, dan perbuatannya, atau dengan hati dan lisannya saat sebelum meninggal dunia, maka ia pasti akan memperoleh ampunan (dari Allah) atas seluruh dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya dan (hal itu pun) menghalangi dirinya secara total dari masuk neraka. Dan barangsiapa yang menetapkan di dalam hatinya kalimat tauhid, maka ia akan mengeluarkan darinya segala macam bentuk (ketundukan) kepada selain Allah: baik itu rasa cinta, penghormatan, pengagungan, pemuliaan, rasa takut, atau tawakal. Dan pada saat itu, dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya dihanguskan seluruhnya, walaupun jumlahnya sebanyak buih di lautan.” (Fathul Majid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, cetakan Mu’assasah Qurthubah, halaman 70)

Demikianlah peran dan keutamaan tauhid dalam menghapus dan meleburkan dosa-dosa hamba-hamba Allah yang bertauhid. Semoga Allah menjadikan kita ke dalam golongan orang-orang yang mengamalkan tauhid hingga akhir hayat. Aamiin.

Referensi:
– Fathul Majid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh
– Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Oleh: Muadz Mukhadasin

sumber : https://www.muadz.com/tauhid-sebagai-pelebur-dosa-dosa/

Merasa Aman dari Murka Allah

Sifat seorang mukmin adalah selalu merasa takut akan siksa Allah. Sedangkan sifat ahli maksiat adalah selalu merasa aman dari murka Allah sehingga begitu entengnya ia bermaksiat. Bahkan ia pun enggan bertaubat karena merasa Allah itu Maha Pengampun. Padahal ini sifat yang keliru. Seharusnya yang dikedepankan dalam hal maksiat adalah sifat takut, bukan sifat harap.

Gemar Maksiat

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99).

Yang dimaksud dengan makar Allah di sini adalah bencana atau azab. Yaitu apakah mereka merasa aman dari azab Allah di saat mereka lalai? Tiada yang merasa aman kecuali orang-orang yang merugi.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

المؤمن يعمل بالطاعات وهو مُشْفِق وَجِل خائف، والفاجر يعمل بالمعاصي وهو آمن

“Seorang mukmin beramal taat dan ia dalam keadaan takut (akan siksa Allah). Sedangkan ahli maksiat melakukan maksiat dan selalu merasa aman (dari murka Allah).” Dinukil dari tafsir Ibnu Katsir pada tafsir surat Al A’raf ayat 99.

Merasa Aman dari Murka Allah Termasuk Dosa Besar

Merasa aman sehingga begitu senangnya ketika bermaksiat adalah termasuk dosa besar. Dalam hadits yang disebutkan oleh ‘Abdur Razaq dalam Mushonnafnya,

عن بن مسعود قال أكبر الكبائر الإشراك بالله والأمن من مكر الله والقنوط من رحمة الله واليأس من روح الله

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa di antara dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, merasa aman dari murka Allah dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah.” (HR. Abdurrozaq, 10: 460, dikeluarkan pula oleh Ath Thobroni. Lihat Kitab Tauhid dengan tahqiq Syaikh Abdul Qodir Al Arnauth, hal. 128). Dalam hadits ini ditunjukkan dua sifat yang termasuk dosa besar yaitu merasa aman dari siksa Allah dan putus asa dari rahmat Allah. Dan inilah akibat buruk bagi yang punya sifat demikian.

Sikap Pertengahan

Sikap yang lebih baik adalah sikap pertengahan, yaitu tidak begitu mendominankan rasa harap (roja’), begitu pula tidak mengunggulkan rasa takut (khouf). Seharusnya pertengahan di antara keduanya. Jadi jika ia memiliki rasa takut, janganlah membuatnya sampai berputus asa. Jika ia memiliki rasa harap, janganlah sampai ia menganggap remeh murka Allah. (Lihat Mulakkhos fii Syarh Kitab Tauhid, Syaikh Sholih Al Fauzan, hal. 276)

Jangan Merasa Aman dengan Iman yang Dimiliki

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat di atas (yang kita kaji saat ini) menunjukkan bahwa seorang hamba hendaknya tidak merasa aman dengan iman yang ia miliki. Bahkan seharusnya ia selalu merasa takut akan kecacatan imannya nanti. Sehingga itu membuatnya selalu berdo’a pada Allah,

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Yaa muqollibal qulub, tsabbit qolbiy ‘alaa diinik” (Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu), yaitu supaya ia dikokohkan dan tidak terjerumus dalam kerusakan. Karena siapa pun hamba bagaimana pun keadaanya, maka ia tidak bisa yakin bisa selamat. Demikian disebutkan oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman ketika menjelaskan ayat yang sedang kita kaji.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk memiliki rasa takut akan siksa-Nya sehingga terjauhkan dari maksiat. Wallahul muwaffiq.

Diselesaikan menjelang Maghrib, 3 Rabi’ul Awwal 1434 H di Mabna 27, Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh KSA

Oleh hamba dho’if yang senantiasa mengharapkan rahmat dan ampunan Allah

Sumber https://rumaysho.com/3102-merasa-aman-dari-murka-allah.html

Maha Suci Allah dan Segala Pujian Hanya UntukNya

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

“Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untukNya sejumlah makhluk ciptaanNya, sebesar keridhaanNya, seberat ‘Arsynya Allah, sebanyak tinta yang dipergunakan untuk menulis kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

Di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan sebuah wirid yang bisa dijadikan sebagai alternatif pengganti atas apa yang dilakukan oleh Juwairiyah Radhiyallahu ‘Anha. Yang menarik di sini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa kalimat yang pendek ini bisa mengalahkan dzikir yang dibaca berjam-jam. Hal ini karena dahsyatnya kandungan yang ada di dalam kalimat dzikir tersebut.

Secara ringkas tasbih artinya ketika kita mengucapkan ‘Subhanallah’ adalah Maha Suci Allah. Kita berupaya untuk menjauhkan segala kekurangan dari Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mensucikan Allah dari sifat-sifat yang buruk dan perbuatan-perbuatan yang tidak layak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun ‘Alhamdulillah’ artinya adalah kita memuji Allah dengan menyebutkan sifat-sifatNya yang mulia dan dengan mengingat karunia yang Allah berikan kepada kita yang tidak terhingga jumlahnya.

1. SEJUMLAH MAKHLUK CIPTAANNYA

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk disucikan dengan mengucapkan ‘Subhanallah‘ dan dipuji dengan mengucapkan ‘Wabihamdih‘.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk disucikan dan dipuji sebanyak makhluk yang diciptakanNya. Maknanya bahwa Allah berhak untuk dipuji dan disucikan dengan jumlah yang tidak terhitung sebagaimana makhluk tidak terhitung. Sehingga jangan pernah kita merasa ‘Saya sempurna sempurna di dalam berdzikir kepada Allah.’ Karena sebanyak apapun kita berdzikir, maka tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan. Tapi kita disuruh oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 41)

Batas minimal ‘dzikir yang banyak’ adalah ketika kita sudah membaca seluruh dzikir/wirid/doa yang ada tuntunannya. Sedangkan masih ada dzikir-dzikir yang ada tuntunannya yang belum kita amalkan. Maka kalimat ‘sebanyak jumlah makhluk Allah’ ini memberikan pelajaran yang berharga kepada kita. Yaitu agar kita meningkatkan jumlah dzikir kita.

2. SEBESAR KERIDHAANNYA ALLAH

Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk dipuji dan disucikan sebesar keridhaanNya (tidak ada batasnya). Maka kita harus terus meningkatkan kualitas dzikir kita. Yaitu dengan cara memahami dan merenungi makna yang kita baca.

Dzikir bukan tentang siapa yang paling cepat selesai, atau suara yang paling keras, tapi dzikir itu diukur dengan seberapa kita mengerti apa yang kita baca, seberapa kita meresapi makna yang ada didalamnya, dan seberapa kita mengaplikasikan konsekuensi dari dzikir itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

3. SEBERAT ‘ARSYNYA ALLAH

Kita tahu bahwa makhluk yang diciptakan oleh Allah sangat banyak. Dari sekian banyak makhluk Allah itu yang paling besar dan paling berat bobotnya adalah ‘Arsy. Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk kita tasbihi dan tahmidi sebesar ‘ArsyNya yang kita tidak tahu berapa beratnya.

Pelajaran yang bisa kita ambil bahwa bobot dzikir yang kita baca ketika nanti ditimbang di timbangan amal itu tergantung kualitas dan kuantitasnya. Semakin dzikir mutlak yang kita baca (termasuk Al-Qur’an), diiringi dengan kualitasnya, maka akan semakin berat bobotnya ketika ditimbang nanti di hari kiamat.

4. SEBANYAK TINTA YANG DIGUNAKAN UNTUK MENULIS KALIMAT ALLAH

Kalimat Allah tidak ada batasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Seandainya seluruh pohon yang ada di muka bumi ini dijadikan sebagai pena dan semua lautan dijadikan sebagai tintanya, ditambah lagi tujuh samudra lagi, niscaya ilmu dan kalimat Allah tidak akan pernah habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Luqman[31]: 27)

Maka pelajarannya adalah bahwa dzikir yang banyak, jangan pernah pensiun kecuali malaikat maut sudah datang menjemput.

sumber : https://www.radiorodja.com/51012-bacaan-dzikir-pagi-maha-suci-allah-dan-segala-pujian-hanya-untuknya/

MUTIARA SALAF : BAGAIKAN WANITA PELACUR

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

الدُّنْيَا كامرأة بغي لَا تثبت مَعَ زوج إِنَّمَا تخْطب الْأزْوَاج ليستحسنوا

“Dunia itu bagaikan wanita pelacur yang tak betah dengan satu lelaki. Ia akan menawarkan kepada banyak laki laki agar terlihat cantik.

السّير فِي طلبَهَا سير فِي أَرض مسبعَة والسباحة فِيهَا سباحة فِي غَدِير التمساح المفروح بِهِ مِنْهَا هُوَ عين المحزون عَلَيْهِ آلامها مُتَوَلّدَة من لذاتها وأحزانها من أفراحها

Berjalan untuk meraihnya bagaikan berjalan di daerah yang banyak binatang buasnya, dan berenang di dalamnya bagaikan berenang di kolam yang penuh buaya..

Kegembiraannya itulah yang akan membuatnya bersedih, kesusahannya lahir dari kelezatannya, dan kesedihannya berasal dari kegembiraannya..”

(Al Fawaid hal 60)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/60264

Mengembalikan Kejayaan Umat Islam

Kejayaan Islam dan umatnya adalah harapan yang harus ada dalam benak semua orang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan hari kemudian. Karena di antara perkara yang bisa membatalkan keislaman seseorang adalah merasa senang dengan kejatuhan dan kemunduran agama Islam dan justru tidak mengharapkan kejayaan dan ketinggian Islam tersebut. Sebagaimana termasuk konsekwensi keimanan seorang muslim adalah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya sesama muslim, dengan turut merasa prihatin dan berduka atas semua penderitaan yang mereka alami, kemudian berusaha membantu meringankan beban mereka, minimal dengan berdo’a, serta berusaha mencari jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kecintaan dan kasih sayang di antara mereka adalah seperti satu badan, jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh (anggota) tubuh lainnya ikut merasakan (sakit tersebut) karena susah tidur dan demam“[1]. Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai dia menyukai (kebaikan) untuk saudaranya (sesama muslim) sebagaimana dia menyukai (kebaikan tersebut) untuk dirinya sendiri“[2].

Bukan merupakan rahasia lagi, apa yang kita dengar dan saksikan pada jaman sekarang ini, yaitu kondisi yang memprihatinkan dan penderitaan yang menimpa kaum muslimin di berbagai penjuru dunia saat ini, berupa penindasan, penganiayaan, penghinaan dan lain-lain. Semua ini seolah-olah mengesankan bahwa agama Islam ini bukanlah agama yang tinggi dan mulia, dan tidak adanya pertolongan dari Allah Ta’ala kepada kaum muslimin, sehingga mereka tidak memiliki daya dan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh mereka.

Padahal dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala menegaskan bahwa ketinggian, kemuliaan dan kejayaan serta pertolongan dari-Nya hanyalah peruntukkan-Nya bagi agama-Nya yang benar dan bagi orang-orang yang berpegang teguh dengan agama ini.

Dalil-dalil yang Menunjukkan Kejayaan dan Ketinggian Umat Islam
Allah Ta’ala berfirman,

{هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ}

“Dialah (Allah Ta’ala) yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya (agama itu) atas semua agama (lainnya), walupun orang-orang musyrik tidak menyukainya“. (QS At Taubah:33, dan QS Ash Shaff:9).

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

{وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ}

“…Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya dan milik orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahaminya” (QS Al Munaafiquun:8).

Juga dalam firman-Nya,

{وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman” (QS Ali ‘Imraan:139).

Dan dalam firman-Nya,

{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka senantiasa menyembah-Ku (samata-mata) dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik” (QS An Nuur:55).

Syarat Terwujudnya Janji Allah tersebut
Akan tetapi, kalau kita perhatikan dan renungkan dengan seksama ayat-ayat tersebut di atas, kita dapati bahwa Allah Ta’ala tidak hanya menyebutkan janji-Nya untuk memberikan kemuliaan, ketinggian dan pertolongan-Nya bagi kaum muslimin, tetapi Allah Ta’ala juga mengisyaratkan adanya syarat yang harus dipenuhi oleh kaum muslimin agar janji Allah Ta’ala tersebut dapat terwujud. Syarat itu adalah berpegang teguh dengan petunjuk dan agama Allah Ta’ala, dengan kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman dan pengamalan yang benar.

Dalam ayat yang pertama Allah Ta’ala menggandengkan “Azh Zhuhur” (kemenangan/kejayaan) bagi agama ini dengan petunjuk dan agama yang benar yang di bawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini berarti bahwa umat Islam tidak akan mendapatkan kemenangan dan kejayaan yang Allah Ta’ala janjikan dalam ayat tersebut, kecuali jika mereka berpegang teguh dengan petunjuk dan agama yang benar tersebut. Makna petunjuk dan agama yang benar adalah ilmu yang bermanfaat dan amalan shaleh[3].

Syaikh Abdurrahman As Sa’di dalam menafsirkan ayat di atas berkata, “…Adapun agama Islam sendiri, maka sifat (yang Allah sebutkan dalam ayat) ini (kemenangan dan ketinggian) akan terus ada padanya di setiap waktu, karena tidak mungkin ada yang mampu mengalahkan dan melawannya, (kalau ada yang berusaha untuk melawannya) maka Allah akan mengalahkannya dan menjadikan ketinggian serta kemenangan untuk agama ini. Sedangkan orang-orang yang menisbatkan diri kepada agama ini (kaum muslimin), jika mereka menegakkan agama ini, dan mengambil petunjuk serta bimbingan dari cahayanya untuk kebaikan agama dan (urusan) dunia mereka, maka demikian pula tidak ada seorangpun yang mampu melawan mereka, dan mereka pasti akan mengalahkan pemeluk agama lainnya, (akan tetapi) jika mereka tidak memperdulilkan agama ini, dan hanya mencukupkan diri dengan menisbatkan diri kepadanya (tanpa berusaha memahami dan mengamalkannya dengan benar), maka yang demikian tidak bermanfaat bagi mereka (untuk menguatkan kedudukan mereka), (bahkan) ketidakperdulian mereka terhadap agama ini merupakan sebab (utama) kekalahan dan kerendahan mereka di hadapan musuh-musuh mereka, kenyataan ini diketahui oleh orang yang mencermati keadaan manusia dan mengamati kondisi kaum muslimin di awal (kedatangan Islam) sampai di akhirnya”[4].

Demikian pula dalam ayat yang kedua Allah Ta’ala menggandengkan “Al ‘Izzah” (kemuliaan) dengan ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta keimanan yang benar. Sebagaimana dalam ayat yang ketiga Allah I menggandengkan “Al ‘Uluw” (ketinggian) juga dengan keimanan yang kuat dan benar.

Kemudian, lebih jelas dalam ayat yang keempat Allah menyebutkan bahwa janji kekuasaan di muka bumi, keteguhan agama dan keamanan hanya Allah peruntukkan bagi orang-orang yang beriman (dengan benar) dan mengerjakan amal shaleh, yang mana landasan utama iman yang benar dan amal shaleh yang terbesar adalah mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik, sehingga Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang terwujud pada mereka janji Allah tersebut: “…Mereka senantiasa menyembah-Ku (samata-mata) dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun”.

Imam Ibnu Katsir ketika mengomentari ayat di atas, beliau berkata, “Ini adalah janji dari Allah Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Dia akan menjadikan umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam penguasa di muka bumi, yaitu pemimpin umat manusia, yang dengan mereka akan baik (keadaan) seluruh negeri dan semua manusia akan tunduk. Dan Dia akan menggantikan rasa takut mereka kepada manusia menjadi rasa aman, bahkan (merekalah yang menjadi) penegak hukum bagi manusia. Allah Ta’ala telah mewujudkan janji-Nya ini – dan hanya milik-Nyalah segala puji dan karunia –, karena sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat Allah telah menundukkan untuk beliau negeri Mekkah, Khaibar, Bahrain, dan seluruh daratan Arab, serta semua wilayah Yaman…(Kemudian) para sahabat radhiyallahu ‘anhum karena mereka setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling kuat dalam melaksanakn perintah Allah U dan paling taat kepada-Nya, maka (besarnya) pertolongan (yang Allah berikan kepada) mereka sesuai dengan (besarnya ketaatan) mereka. Mereka menegakkan kalimat (agama) Allah di belahan bumi bagian timur maupun barat, maka Allah benar-benar meneguhkan mereka (dengan pertolongan besar), sehingga mereka berhasil menguasai seluruh umat manusia dan berbagai negeri. Dan tatkala umat Islam sepeninggal mereka kurang dalam melaksanakan perintah Allah, maka kejayaan merekapun berkurang sesuai dengan (kurangnya ketaatan) mereka”[5].

Kesimpulannya, janji yang Allah Ta’ala sampaikan dalam Al Qur’an untuk memberikan kejayaan, kemulian dan pertolongannya bagi kaum muslimun adalah janji yang benar dan tidak akan dilanggar, dengan catatan jika syarat yang Allah Ta’ala tentukan dipenuhi oleh kaum muslimin. Karena Allah Ta’ala mensifati diri-Nya dalam Al Qur’an dengan firman-nya,

{وَعْدَ اللَّهِ لا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ}

“(Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar Ruum:6).

Juga dengan firman-Nya,

{وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثاً}

“Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah” (QS. An Nisaa’:87).

Pelajaran Berharga Dari Sejarah Islam
Sejarah Islam telah mencatat berbagai kemenangan gemilang yang dicapai oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berperang menghadapi musuh-musuh mereka, karena Rasulullah dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang paling kuat dalam menegakkan agama Allah Ta’ala, sebagaimana keterangan Imam Ibnu Katsir di atas. Pada diri merekalah terwujud dengan sesungguhnya makna firman Allah Ta’ala,

{وَلَيَنصُرَنَّ الله مَن يَنصُرُهُ إِنَّ الله لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ}

“Seseungguhnya Allah pasti akan menolong orang yang menolong-Nya, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS Al Hajj:40).

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqiiti berkata, “Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia bersumpah akan sungguh-sungguh menolong orang yang menolong-Nya, dan sudah diketahui bahwa (makna) “menolong Allah” tidak lain adalah dengan mengikuti syariat-Nya, dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya…”[6].

Dan inilah sebab utama yang menjadikan gentar dan takutnya musuh-musuh Islam menghadapi Rasulullah r dan para sahabatnya y, sebagaimana yang Allah Ta’ala nyatakan dalam firman-Nya,

{سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ}

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut/gentar (menghadapi orang-orang beriman), disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim” (QS Ali ‘Imraan:151).

Imam Ibnu Katsir berkata, “(Dalam ayat ini) Allah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman bahwa Dia akan memasukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut/gentar dan rendah di hadapan orang-orang yang beriman, disebabkan perbuatan kafir dan syirik mereka, ditambah dengan azab dan sikasaan (pedih) yang Allah sediakan bagi mereka di akhirat (nanti)”[7].

Kemudian Ibnu Katsir membawakan sebuah hadits shahih dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah memberikan kepadaku lima perkara yang tidak diberikan-Nya kepada seorang nabipun sebelumku: aku ditolong (oleh Allah dalam menghadapi musuh-musuhku) dengan rasa gentar (yang Allah masukkan ke dalam hati mereka) sebelum berhadapan denganku (sejauh jarak) sebulan perjalanan…”[8].

Sehubungan dengan pembahasan ini, ada dua peristiwa perang besar yang terjadi di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dapat kita petik hikmah dan pelajaran berharga darinya, tentang bagaimana Allah Ta’ala menguji kaum mu’minin dengan menangguhkan sementara pertolongan-Nya kepada mereka disebabkan perbuatan maksiat sebagian dari mereka.

Yang pertama, perang Hunain[9] yang terjadi pada tahun kedelapan hijriyah. Ketika itu sebagian dari kaum mu’minin merasa bangga dengan jumlah mereka yang banyak sehingga mereka lalai bahwa pertolongan itu semata-mata dari Allah dan bukan hanya karena jumlah yang banyak[10]. Allah Ta’ala mengisahkan peristiwa ini dalam firman-Nya,

{لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئاً وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ، ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُوداً لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ}

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (wahai kaum mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu merasa bangga dengan banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dan bercerai-berai. Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada oang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian pembalasan kepada mereka” (QS At Taubah:25-26).

Yang kedua, perang Uhud yang terjadi pada tahun ketiga hijriyah. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada pasukan pemanah yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair radhiyallahu ‘anhu, untuk tidak meninggalkan tempat mereka apapun yang terjadi pada pasukan kaum muslimin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian meninggalkan tempat kalian meskipun kalian melihat kami telah mengalahkan musuh, atau meskipun kalian melihat musuh telah mengalahkan kami maka janganlah kalian menolong kami”. Dalam riwayat lain, “…meskipun kalian melihat kami disambar burung”. Kemudian setelah mereka melihat pasukan musuh berlari mundur, sebagian dari pasukan pemanah berlari meninggalkan tempat mereka menuju pasukan muslimin untuk bersama mengumpulkan harta rampasan perang, padahal pemimpin mereka Abdullah bin Jubair telah mengingatkan mereka akan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akibatnya pasukan musuh berbalik menyerang pasukan muslimin sehingga terbunuh tujuh puluh orang dari pasukan muslimin, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri terluka wajahnya yang mulia pada perang tersebut[11]. Meskipun kemudian Allah Ta’ala menurunkan pertolongan-Nya kepada mereka sehingga pasukan musuh mundur.

Perhatikan dan renungkanlah kedua peristiwa di atas, bagaimana Allah Ta’ala menunda turunnya pertolongan-Nya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum hanya karena perbuatan maksiat sebagian dari mereka, padahal mereka secara keseluruhan adalah orang-orang yang paling kuat dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya[12].

Dalam perang Hunain sebagian mereka merasa bangga dengan jumlah mereka yang banyak, sehingga mereka lalai sesaat dari Allah Ta’ala, yang akibatnya mereka mulanya dikalahkan pasukan musuh, meskipun kemudian Allah Ta’ala menurunkan pertolongan-Nya kepada mereka[13]. Demikian pula dalam perang Uhud, sebab kekalahan mereka di awalnya adalah karena sebagian mereka menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[14].

Maka kalau keadaan ini bisa menimpa para sahabat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam yang sangat kuat dalam berpegang teguh dengan agama Islam, disebabkan sekali kesalahan sebagian mereka ketika lalai dari bersandar kepada Allah, yang ini menyangkut masalah tauhid, dan ketika menyelisihi perintah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimana lagi dengan orang-orang yang banyak melanggar syariat Allah Ta’ala, serta tidak memperhatikan upaya pemurnian tauhid (mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah) dan al ittiba’ (semata-mata mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)? Mungkinkah pertolongan dan kemenangan akan Allah Ta’ala berikan kepada mereka?

Sebagai tambahan penjelasan, marilah kita renungkan bersama kisah berikut ini,

Imam ahmad dalam kitab “Az Zuhd” (hal. 142) dan Abu Nu’aim dalam kitab “Hilyatul Auliya’” (1/216-217) meriwayatkan dengan sanad mereka berdua dari Jubair bin Nufair[15] beliau berkata, “Ketika (kaum muslimin) berhasil menaklukkan (wilayah) Qibrus (Cyprus, sebuah pulau di kawasan eropa saat ini) dan membuat lari bercerai berai penduduknya, (waktu itu) semua pasukan muslimin menangis satu sama lainnya. Aku melihat (sahabat yang mulia) Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu terduduk sendirian sambil menangis, maka aku bertanya, “Wahai Abu Darda’, apa sebabnya kamu menangis di hari yang Allah muliakan/menangkan agama Islam dan kaum muslimin?” Beliau berkata, “Celaka kamu wahai Jubair, (lihatlah) alangkah hinanya manusia di hadapan Allah jika mereka meninggalkan perintah-Nya, padahal penduduk negeri ini adalah orang-orang yang perkasa, unggul dan memiliki kerajaan (besar), tetapi mereka meninggalkan perintah Allah Ta’ala, maka jadilah mereka seperti yang kamu saksikan (saat ini)”.

Upaya Untuk Mengembalikan Kejayaan Umat
Berdasarkan keterangan di atas, maka upaya terbaik yang harus dilakukan oleh kaum muslimin untuk mengatasi semua masalah yang mereka hadapi, serta mengembalikan kejayaan dan kemuliaan mereka adalah berusaha mewujudkan syarat yang telah Allah Ta’ala tentukan dalam ayat-ayat tersebut di atas, yaitu dengan kembali mengoreksi pemahaman dan pengamalan kita terhadap Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, utamanya pemahaman dan pengamalan terhadap dua kalimat syahadat (Laa ilaaha illallah) dan (Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang merupakan landasan agama Islam ini.

Sementara itu, kita dapati sebagian kaum muslimin saat ini banyak yang melakukan cara-cara dengan mengatasnamakan upaya mengembalikan kejayaan umat, ada yang menempuh jalur politik, ada yang berupaya menggulingkan pemerintah yang berkuasa, ada yang mengutamakan kemajuan teknologi, ada yang menitikberatkan pada upaya menghimpun massa sebanyak-banyaknya, dan cara-cara lain yang tidak bersumber dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Padahal kalau kita amati dengan seksama peristiwa sejarah yang kami nukilkan di atas, jelas sekali menunjukkan bahwa kemajuan teknologi, kekuasaan besar dan jumlah pasukan yang besar sama sekali tidak bermanfaat tanpa adanya landasan iman dan ketaatan yang kuat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah negeri Qibrus yang ditaklukkan oleh kaum muslimin adalah negeri yang unggul dalam teknologi dan persenjataan saat itu, serta memiliki pasukan yang perkasa dan kekuasaan yang besar, sebagaimana ucapan Abu Darda’ di atas? Bukankah jumlah pasukan muslimin dalam perang Hunain sangat banyak akan tetapi tidak bermanfaat karena sebagian mereka lalai dari bersandar kepada Allah Ta’ala?

Dalam sebuah hadits shahih dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak lama lagi umat-umat lain akan saling menyeru untuk mengeroyok kalian seperti orang-orang yang makan mengerumuni nampan (berisi hidangan makanan)“. Salah seorang sahabat bertanya: “Apakah dikarenakan jumlah kita sedikit kala itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bahkan kalian saat itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (tidak memiliki iman yang kokoh) seperti buih air bah, sungguh (pada saat itu) Allah akan menghilangkan rasa takut/gentar terhadap kalian dari jiwa musuh-musuh kalian dan Dia akan menimpakan (penyakit) al wahnu ke dalam hati kalian.” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (penyakit) al wahnu itu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cinta (kepada perhiasan) dunia dan benci (terhadap) kematian“[16].

Perhatikanlah dengan seksama hadits yang agung ini! Bagaimana besarnya jumlah kaum muslimin secara kuantitas tidak bermanfaat sedikitpun dalam menghadapi musuh-musuh mereka, bahkan sekedar membuat takut musuh-musuh mereka juga tidak bisa. Hal ini disebabkan kualitas keimanan mereka sangat lemah, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan mereka dengan buih yang mudah terbawa aliran air, karena tidak mempunyai pijakan yang kuat di atas tanah. Seandainya kaum muslimin benar-benar beriman dan mentauhidkan Allah Ta’ala, maka mestinya mereka tidak akan seperti buih, karena iman dan tauhid akan menjadikan pemiliknya kokoh dan kuat dalam hidupnya, disebabkan dia selalu bersandar kepada Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menyerupakan kalimat tauhid (laa ilaaha illallah) dengan pohon indah yang akarnya menancap kokoh ke dalam tanah, dalam firman-Nya,

{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ}

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya (menancap) kokoh (ke dalam tanah) dan cabangnya (menjulang) ke langit” (QS Ibrahim:24).

Makna “kalimat yang baik” di sini adalah kalimat tauhid laa ilaaha illallah (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah)[17].

Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata ketika menafsirkan ayat di atas,”Demikianlah (keadaan) pohon iman (tauhid), akarnya (menancap) kokoh di dalam hati seorang mu’min dalam ilmu dan keyakinannya, sedangkan cabangnya yang berupa ucapan yang baik, amal shaleh, akhlak dan tingkah laku yang terpuji selalu (menjulang) ke langit…”[21].

Maka dengan ini, jelaslah bahwa satu-satunya cara untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat Islam adalah dengan mengajak mereka kembali kepada agama mereka, dengan mengoreksi kembali pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua kalimat syahadat (Laa ilaaha illallah) dan (Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Adapun cara-cara lain yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, maka tidak akan mendatangkan kebaikan sedikitpun, bahkan justru semakin memperparah dan merusak kondisi umat Islam. Karena cara-cara itu adalah menyimpang dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merupakan perbuatan bid’ah[19] dalam agama, yang berarti itu adalah perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala, dan maksiat merupakan sebab terjadinya kerusakan dan bencana di muka bumi ini. Allah Ta’ala berfirman:

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)[20] manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Inilah yang dipahami oleh para ulama salaf, sehingga Imam Abu Bakar Ibnu ‘Ayyasy Al Kuufi[21] ketika ditanya tentang makna firman Allah Ta’ala,

{وَلا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا}

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…“. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia, (sewaktu) mereka dalam keadaan rusak, maka Allah memperbaiki (keadaan) mereka dengan (petunjuk yang dibawa) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga barangsiapa yang mengajak (manusia) kepada selain petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia termasuk orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi”[22].

Kesimpulannya, inilah satu-satunya cara untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat Islam, yang telah dinyatakan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘iinah (salah satu bentuk jual-beli riba), membuntuti ekor-ekor sapi (disibukkan dengan peternakan) dan merasa puas dengan (hasil) pertanian (sehingga lalai dari agama), serta meninggalkan jihad di jalan Allah Ta’ala, maka niscaya sungguh Allah Ta’ala akan menimpakan kehinaan dan kerendahan kepada kalian, dan Dia tidak akan menghilangkan kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Dalam riwayat Imam Ahmad, “…sampai kalian bertobat kepada Allah…”[23].

Oleh karena itu, senada dengan hadits di atas, sahabat yang mulia Umar bin Khattab berkata dalam ucapannya yang terkenal, “Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah Ta’ala memuliakan kita dengan agama Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam ini, pasti Allah Ta’ala akan menjadikan kita hina dan rendah”[24].

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbaiki keadaan kaum muslimin dan melimpahkan taufik-Nya kepada mereka supaya mereka mau kembali kepada pemahaman dan pengamalan agama Islam yang benar, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلىِ آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة، والحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 26 Shafar 1430 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, MA

Artikel http://www.muslim.or.id

[1] HSR Muslim (4/1999) dari Nu’man bin Basyir t.

[2] HSR Al Bukhari 1/14 dan Muslim (1/67) dari Anas bin Malik t.

[3] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 631).

[4] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 631).

[5] Tafsir Ibnu Katsir (3/401).

[6] Adhwaa-ul bayaan (5/272).

[7] Tafir Ibnu Katsir (1/545).

[8] HSR Al Bukhari (no. 328) dan Muslim (no. 521).

[9] Kisah perang Hunain dalam HSR Muslim (no. 1775).

[10] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (2/452).

[11] Lihat kisah selengkapnya dalam HSR Al Bukhari (no. 3817).

[12] Lihat kitab “As Sabiilu ilai ‘izzi wat tamkiin” (hal. 33), tulisan syaikh Abdul Malik Ramadhani.

[13] Ibid (hal. 15).

[14] Ibid (hal. 33-34).

[15] Beliau adalah seorang tabi’in senior yang mulia dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r (wafat tahun 80 H), lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 91).

[16] HR Abu Dawud (no. 4297), Ahmad (5/278) dan lain-lain, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahihah” (no. 958).

[17] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (2/698).

[21] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 297).

[19] Yaitu mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama, yang tidak dicontohkan oleh Nabi r.

[20] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (3/576).

[21] Beliau adalah imam dari kalangan atba’ut tabi’in senior, seorang ahli ibadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rsulullah r (wafat 194 H), lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 576).

[22] “Tafsir Ibni abi Hatim Ar Raazi” (6/74) dan “Ad Durrul mantsuur” (3/477).

[23] HR Abu Dawud (no. 3462), Ahmad (2/42) dan lain-lain, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahihah” (no. 11).

[24] Riwayat Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (1/130), dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/3534-mengembalikan-kejayaan-umat-islam.html

Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak Mengetahuinya

Inilah mungkin yang banyak dilupakan oleh banyak orang atau mungkin belum diketahui. Padahal di antara do’a yang mustajab (terijabahi/terkabul) adalah do’a seorang muslim kepada saudaranya.

Berikut kami bawakan beberapa hadits yang shahih yang dibawakan oleh Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrod. Bukhari membawakan bab dalam kitabnya tersebut:

Bab278 – Do’a Seseorang kepada Saudaranya di Saat Saudaranya Tidak Mengetahuinya. Semoga bermanfaat.

Hadits pertama

Dari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“إن دعوة الأخ في الله تستجاب”

“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“

(Shohih secara sanad)

Hadits kedua

Dari Shofwan bin ‘Abdillah bin Shofwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan,

قدمت عليهم الشام، فوجدت أم الدرداء في البيت، ولم أجد أبا الدرداء. قالت: أتريد الحج العام ؟ قلت : نعم. قالت: فادع الله لنا بخير؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول

“Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda’ (ibu mertua Shofwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abud Darda’ (bapak mertua Shofwan, pen). Ummu Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shofwan) berkata, “Iya.”

Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan padaku karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”

: “إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم.

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”

Shofwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

(Shohih) Lihat Ash Shohihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88]

Hadits ketiga

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا

“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ

“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”

(Shohih) Lihat Al Irwa’ (171): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 27-Bab kasih sayang terhadap sesama manusia dan terhadap hewan ternak, dari Abu Hurairah]

Pelajaran yang dapat dipetik dari hadits-hadits di atas

Pertama: Islam sangat mendorong umatnya agar dapat mengikat hubungan antara saudaranya sesama muslim dalam berbagai keadaan dan di setiap saat.

Kedua: Do’a seorang muslim kepada saudaranya karena Allah di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang sangat utama dan do’a yang akan segera terijabahi (mustajab). Orang yang mendo’akan saudaranya tersebut akan mendapatkan semisal yang didapatkan oleh saudaranya.

Ketiga: Ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’a seorang muslim kepada suadaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya.

Keempat: Malaikat tidaklah mengaminkan do’a selain do’a dalam kebaikan.

Kelima: Sebagaimana terdapat dalam hadits ketiga di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari Arab Badui di mana dia membatasi rahmat Allah yang luas meliputi segala makhluk-Nya, lalu dibatasi hanya pada dirinya dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.

Inilah beberapa pelajaran berharga dari hadits di atas. Janganlah lupakan saudaramu di setiap engkau bermunajat dan memanjatkan do’a kepada Allah, apalagi orang-orang yang telah memberikan kebaikan padamu terutama dalam masalah agama dan akhiratmu. Ingatlah ini!

Semoga Allah selalu menambahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/485-doakanlah-saudaramu-di-saat-dia-tidak-mengetahuinya-2.html

Godaan Perempuan Sangat Berbahaya Bagi Para Lelaki

Said bin al-Musayyib Rahimahullahu Ta’ala yang berkata bahwa setan tidak akan pernah berputus asa dari sesuatu, jika berputus asa dari sesuatu maka niscaya dia tidak akan berputus asa mengganggu manusia dari godaan perempuan. Dan juga disebutkan oleh Abu Shalih as-Samman Rahimahullahu Ta’ala bahwa sampai kepada beliau dosa-dosa dari kebanyakan dari penghuni neraka adalah disebabkan karena godaan perempuan.

Kemudian perkataan yang sangat menarik dari Abdullah bin Mas’ud yang sudah kita baca juga bahwasanya perempuan adalah benang untuk kail para setan mengganggu manusia. Pada pertemuan sebelumnya kita sudah sampai di sini. Kenapa godaan perempuan sangat berbahaya bagi laki-laki. Sebab yang pertama karena perempuan adalah senjata paling ampuh yang digunakan oleh para setan.

Sebab yang kedua adalah karena laki-laki sangat lemah di hadapan perempuan dan godaannya. Sebesar apapun keimanan laki-laki tersebut, sekuat apapun dirinya, setinggi apapun ilmunya, bagaimanapun keshalihannya, tetapi ketika dihadapan godaan perempuan maka dia lemah. Dalil yang menunjukkan agar hal ini diantaranya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا ﴿٢٨﴾

Manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa[4]: 28)

Disebutkan penafsiran akan ayat ini di dalam kitab Dzammul Hawa bahwa Sufyan bin Masruq Ats-Tsauri Rahimahullahu Ta’ala mengatakan bahwa yang dimaksud “manusia diciptakan dalam keadaan lemah” adalah:

المرأة تمر بالرجل فلا يملك نفسه عن النظر إليها ، ولا ينتفع بها ، فأي شيء أضعف من هذا؟

“Seorang wanita melewati seorang lelaki maka lelaki ini tidak sanggup untuk menahan hawa nafsunya dari melihat kepada perempuan tersebut. Padahal dia tidak bisa mengambil manfaat sedikitpun dari perempuan tersebut (artinya hanya sekedar melihat). Maka adakah yang lebih lemah daripada ini?”

Ini yang dimaksud dengan manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Kalau kita buka tafsir Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala, apa yang dimaksud dengan “manusia diciptakan dalam keadaan lemah”? Kata Imam Ibnu Katsir membawakan riwayat dari Imam Ibnu Abi Hatim dengan sanadnya kepada Thawus bin Kaisan Rahimahullah, beliau mengatakan:

( خلق الإنسان ضعيفا) أى: فى أمر النساء

“(Manusia diciptakan dalam keadaan lemah) yaitu maksudnya adalah dalam perkara perempuan.”

Waki’ bin al-Jarrah mengatakan kenapa laki-laki lemah di hadapan perempuan?

يذهب عقله عندهن.

“Akal laki-laki sering hilang di hadapan perempuan.”

Maka saya nasihatkan untuk saya pribadi sebelum para ikhwah sekalian dan seluruh kaum muslimin (yang laki-laki terutama), jangan bermain api dengan godaan perempuan. Kalau anda berurusan dengan perempuan (adalah karena) anda ingin menikahinya atau jika anda tidak menikahinya maka harus putus sebenar-benarnya tanpa ada kata sambung lagi kecuali dalam perkara-perkara yang mubah, yang tidak menimbulkan godaan, syahwat, fitnah dan semisalnya.

sumber : https://www.radiorodja.com/48611-godaan-perempuan-sangat-berbahaya-bagi-para-lelaki/

Nikmat Aman Adalah Nikmat Terbesar

Berikut sedikit renungan bagi kita bahwa nikmat kita sekarang sangat banyak, nikmat sehat dan yang paling penting nikmat rasa aman dan kondusif.

Nikmat yang paling nikmat adalah adanya rasa aman, oleh karena itu Allah menyebutkan bahwa ujian yang disebutkan pertama kali adalah ujian rasa takut (yang sedikit), sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit [1] ketakutan, [2] kelaparan, [3]kekurangan harta, [4] jiwa, dan buah-buahan”. (QS. al-Baqarah: 155).

Rasa aman lebih baik dari nikmat sehat dan waktu luang. Ar-Razi rahimahullah berkata,

سئل بعض العلماء: الأمن أفضل أم الصحة؟ فقال: الأمن أفضل، والدليل عليه أن شاة لو انكسرت رجلها فإنها تصح بعد زمان ولو أنها ربطت في موضع وربط بالقرب منها ذئب فإنها تمسك عن العلف ولا تتناوله إلى أن تموت، وذلك يدل على أن الضرر الحاصل من الخوف أشد من الضرر الحاصل من ألم الجَسَد”

Sebagian ulama ditanya, apakah rasa aman lebih baik dari kesehatan? Maka jawabannya rasa aman labih baik. Dalilnya adalah seandainya kambing kakiknya patah maka akan sembuh beberapa waktu lagi… kemudian seandainya kambing diikat pada usatu tempat dekat dengan serigala, maka ia tidak akan makan sampai mati. Hal ini menunjukkah bahwa bahaya yang akibat rasa takut lebih besar daripada rasa sakit di badan” (Tafsir al-Kabir, 19/107).

Hendaknya kaum muslimin selalu menjaga rasa aman ini dan menjaga agar suasana selalu kondusif. Kita tidak ingin ada darah yang tertumpah, anak-anak menjadi yatim dan para wanita menjadi janda. Perlu kesabaran dan bimbingan para ulama ketika terjadi fitnah atau ujian yang menimpa kaum muslimin.

Kita harus banyak bersyukur karena semua nikmat ini ada pada diri kita, karena ada tiga pokok kenikmatan yaitu sehat, aman dan ada makanan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan [1] sehat badannya,[2] aman pada keluarganya, dia [3]memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya” (HR. Ibnu Majah, no: 4141, Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918).

Semoga Allah menjaga kaum muslimin dan menjaga keamanan dan kestabilan negara kita.

***

Di Yogyakarta Tercinta

Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/28897-nikmat-aman-adalah-nikmat-terbesar.html

Pelajaran dari Palestina

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Amma Ba’du

Sesungguhnya kejadian yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan, penghancuran, serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh kaum Yahudi terlaknat, tentu dirasakan pedih dan sakit oleh setiap mukmin dan membuat hati mereka teriris.

Ya Allah, alangkah murah dan sepele darah kaum muslimin [di mata mereka].

Maha suci Allah, betapa menyakitkan gambaran mayat-mayat [orang-orang tak bersalah itu] di dalam hati orang-orang yang beriman. Alangkah banyak nyawa yang telah melayang, darah yang tertumpahkan, kaum wanita yang ternodai [kehormatannya], dan begitu banyak rumah-rumah yang dihancurkan.

Sesungguhnya kejahatan-kejahatan Yahudi di negeri Palestina yang terampas itu bukan perkara yang aneh dilakukan oleh orang-orang semacam mereka (baca: Yahudi). Lebih parah daripada itu, mereka adalah kaum yang berani mencela dan mengejek al-Bari (Allah) Yang Maha suci. Sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya (yang artinya), “Orang-orang Yahudi berkata; ‘Tangan Allah terbelenggu’. Justru tangan-tangan mereka itulah yang terbelenggu dan mereka dilaknat akibat ucapan yang mereka lontarkan. Bahkan, kedua tangan Allah itu terbentang, Dia akan memberi bagaimanapun yang dia suka.”(QS. al-Maa’idah [5]: 64)

Mereka adalah para pembunuh nabi-nabi Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hal itu terjadi karena mereka senantiasa mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu terjadi akibat kedurhakaan mereka dan karena mereka selalu saja melampaui batas.” (QS. al-Baqarah [2]: 61)

Mereka adalah saudara kera-kera dan babi-babi yang berusaha untuk mengelabui Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. al-A’raaf [7]: 163)

Selaras dengan ikatan persaudaraan di atas keimanan, maka sudah semestinya setiap muslim memberikan bantuan sekuat kemampuannya dan memohon dengan sangat kepada Allah dengan doa yang diiringi rasa penuh harap kepada-Nya agar Allah berkenan segera menyingkirkan kesulitan dan musibah yang mencekam saudara-saudara kita [di sana]. Berkaitan dengan kejadian yang begitu memilukan ini, saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin dengan beberapa pelajaran manhaj dari kejadian yang menimpa daerah Gaza Palestina:

Pelajaran Pertama

Sesungguhnya kejadian yang menyedihkan ini semakin menguatkan kebenaran berita yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala mengenai orang-orang kafir berupa permusuhan mereka yang sengit kepada kaum mukminin. Dan yang harus kita lakukan adalah memusuhi seluruh golongan orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lainnya, dikarenakan mereka adalah orang-orang kafir. Dan apabila mereka menyakiti dan memerangi kita, maka kebencian kita kepada mereka pun semakin memuncak.

Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh sebagian orang yang menganjurkan untuk tidak memberikan pertolongan yang mengatakan, “Sesungguhnya kita tidak akan memusuhi orang-orang kafir kecuali apabila mereka menyakiti dan memerangi kita.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).

Ayat ini menunjukkan bahwa permusuhan mereka kepada kita akan terus berlangsung sampai kita ikut menjadi kafir seperti mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya) “Sungguh telah terdapat suri teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak dengan jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4).

Maka kita pun harus memusuhi dan membenci mereka untuk selama-lamanya dikarenakan mereka kafir, sampai mereka mau meninggalkan kekafiran mereka dan beriman kepada Allah semata. Jadi, permusuhan [kita] tidak hanya terbatas kepada orang yang memerangi kita di antara mereka, sebagaimana yang diserukan oleh sebagian da’i yang bersikap lembek [silakan dengar kajian berjudul ‘Surat-surat kepada gerakan HAMAS’, yang disampaikan oleh Syaikh untuk menasihati mereka, pent]

Allah ta’ala menegaskan kewajiban permusuhan kita kepada mereka karena mereka adalah orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan Allah keimanan di dalam hati mereka.” (QS. al-Mujadilah [58]: 22)

Di antara konsekuensi hal itu adalah kita tidak boleh menyerupai ciri khas mereka, baik dalam hal pakaian atau yang lainnya. Dan ini sekaligus merupakan ajakan kepada para pemuda kita, agar mereka meninggalkan pakaian-pakaian olah raga yang padanya terdapat nama-nama pemain (olah raga) yang kafir itu. Bahkan ini juga ajakan kepada segenap kaum muslimin untuk merasa mulia dan bangga dengan keislaman mereka. Agar kaum muslimin memandang kepada orang-orang kafir dengan pandangan permusuhan dan kerendahan, maka tidak benar perkataan bahwa orang kafir itu juga saudara kita sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian da’i yang lembek.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya, mereka bersikap keras kepada orang-orang kafir, dan berkasih sayang dengan sesama mereka.”(QS. al-Fath [48]: 29).

Allah juga berfirman (yang artinya), “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, berlemah lembut dengan orang-orang mukmin dan keras kepada orang-orang kafir.” (QS. al-Maa’idah [5]: 54)

Salah satu perkara yang sangat-sangat mengherankan yaitu anda dapat melihat sebagian orang yang dinisbatkan (disandarkan) kepada kalangan para da’i ila Allah -namun itu adalah penisbatan yang dusta- mereka itu tidak mau mengafirkan Yahudi dan Nasrani. Maka sungguh dia telah mendustakan al-Qur’an yang jelas-jelas telah mengafirkan mereka, maka orang seperti itu kafir berdasarkan ijma’ ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah. Sebagai tambahan, guru kami Ibnu Baz menyebutkan bahwa tidak benar menamai orang-orang Nasrani dengan istilah Masihiyyin (pengikut Isa).

Pelajaran Kedua

Sesungguhnya tindakan melampaui batas yang berlangsung secara beruntun dan terus-menerus serta penghinaan atas nyawa kaum muslimin yang suci, [dirampasnya] harta dan kehormatan mereka yang bersih termasuk bencana dan musibah besar yang menimpa kita. Sungguh banyak kalangan aktivis di medan dakwah yang telah keliru dalam mendiagnosa penyakit ini. Dibangun di atasnya, mereka pun keliru dalam menempuh jalan penyembuhannya. Saya telah menerangkan hal itu di dalam mukadimah kitab saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’.

Intisari dari penyakit ini adalah kemaksiatan kepada Allah. Dan yang paling besar di antaranya adalah meninggalkan tauhid dan sunnah serta tersebarnya syirik dan bid’ah di antara barisan kaum muslimin yang dinamakan dengan istilah tasawuf dan lainnnya. Dan keadaan ini semakin bertambah parah ketika muncul berbagai kelompok dakwah yang menelantarkan dakwah tauhid dan melalaikan peringatan agar menjauhi kesyirikan serta mengikis aqidah al-Bara’ (kebencian kepada musuh Islam) yang seharusnya tertuju kepada bid’ah dan para penyebarnya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [3]: 165).

Allah juga berfirman (yang artinya), “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan dikarenakan ulah tangan manusia, Allah ingin memberikan pelajaran dengan menimpakan sebagian akibat perbuatan mereka, semoga mereka mau kembali(ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum [30]: 41).

Maka kedua ayat tersebut dan ayat-ayat yang lainnya secara tegas menjelaskan bahwa semua musibah -di antaranya adalah berupa kelemahan dan dikuasai oleh orang-orang kafir- adalah akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat.

Untuk mengatasi hal itu, maka obat dan penyembuhnya adalah dengan kembali kepada Allah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala (yang artinya), “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal salih, niscaya Allah akan menjadikan mereka benar-benar berkuasa di atas muka bumi ini, sebagaimana halnya Allah telah mengangkat orang-orang sebelum mereka menjadi pemimpin, Allah benar-benar akan meneguhkan untuk mereka agama mereka yang telah Allah ridhai bagi mereka, dan Allah akan menggantikan rasa takut yang mencekam mereka dengan keamanan; mereka senantiasa beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan-Ku sama sekali.” (QS. an-Nuur [24]: 55).

Ini adalah janji dari Allah, sedangkan Allah tidak mungkin menyelisihi janji-Nya. “Itulah janji Allah, Allah tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum [30]: 6)

Termasuk kekeliruan yang sangat fatal dan dosa yang sangat buruk yaitu [usaha sebagian orang] untuk memberikan posisi bagi Syi’ah Rafidhah untuk berada di antara barisan Ahlus Sunnah; sehingga mereka dapat dengan leluasa menyebarkan ajaran kekafiran dan kesesatan mereka, dan pada akhirnya mereka pun membahayakan Ahlus Sunnah.

Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa dibenarkan bagi seorang da’i yang mengajak untuk ishlah (perbaikan) kok malah memberikan tempat bagi Rafidhah yang mengafirkan umat terbaik setelah Nabi-Nya yaitu para sahabat yang mulia seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka jugalah orang-orang yang berani menuduh ibunda kaum mukminin -sosok yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri beliau- telah melakukan perzinaan, mereka (baca: Syi’ah) juga melampaui batas dalam mengangkat kedudukan para imam mereka sampai menduduki derajat sebagaimana halnya derajat Allah, sebagaimana sudah saya terangkan dalam bantahan untuk mereka dalam risalah al-Qaul al-Mubin li maa ‘alaihi ar-Rafidhah min ad-Din al-Masyin.

Dahulu saya telah memberikan nasihat kepada organisasi HAMAS beserta pimpinan mereka -semoga Allah memberikan petunjuk kepada kami dan mereka- dan saya peringatkan mereka mengenai dampak [buruk] yang akan muncul akibat memberikan posisi bagi orang-orang Rafidhah di Palestina dan akibat buruk dari menyanjung mereka, sebagaimana telah kami sampaikan dalam sebuah pelajaran yang telah didokumentasikan dan disebarkan dengan judul ‘Rasa’il ila Hamas’, di antara tindakan mereka yang keliru itu adalah kunjungan Khalid Masy’al ke Iran dan meletakkan karangan bunga di atas kubur orang yang binasa yaitu al-Khumaini, dan pernyataannya bahwa Khumaini adalah bapak ruhani yang menjiwai dakwah mereka (HAMAS) di Palestina[?!].

Pelajaran Ketiga

Wajib bagi kaum muslimin untuk menyadari ukuran diri dan kekuatan mereka. Hendaknya mereka bisa membedakan antara kondisi lemah dan kondisi kuat, dan sudah seharusnya mereka pun mengetahui hukum-hukum yang menjadi konsekuensi atasnya. Hendaknya mereka menjadi orang yang bertindak realistis, bukan menjadi tukang khayal yang gemar berandai-andai.

Maka tidak dibenarkan bagi siapapun mengharuskan kaum muslimin mengikuti keputusan-keputusan yang tidak cocok dengan kondisi mereka [sekarang ini] dan kelemahan mereka; yang itu semua dibangun di atas impian persatuan dan kesatupaduan mereka [yang belum terwujud].

Akan tetapi, yang harus dilakukan adalah hendaknya kaum muslimin bertindak sesuai dengan kondisi mereka saat ini, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih perdamaian ataupun peperangan dengan mempertimbangkan kemaslahatan, yaitu mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan yang ada serta faktor-faktor lainnya.

Tatkala beliau masih berada di Mekah, Allah belum mensyariatkan kepadanya jihad. Karena pada saat itu beliau sedang dalam kondisi yang lemah, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh para pemimpin Islam, di antaranya Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Anda bisa menemukan keterangan mereka dengan jelas di dalam buku saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ dan dalam pelajaran yang berjudul ‘al-Jihad baina al-ghuluw wa al-Jafaa’.

Betapa sering seorang muslim harus merasakan sakit akibat melayangnya nyawa kaum muslimin yang lain disebabkan kobaran semangat yang tak terkendali oleh ilmu sehingga menimbulkan kezaliman orang-orang kafir kepada kaum muslimin yang lemah justru menjadi berlipat ganda, maka jadilah mereka sebagai korban sembelihan orang-orang kafir yang sangat gemar menganiaya, dan mereka [orang kafir] itu adalah orang-orang Yahudi. Dan jadilah kaum muslimin sebagai korban akibat tindakan yang salah dari sebagian kaum muslimin, dan mereka itu adalah para pemimpin HAMAS.

Saya tidak mengerti sama sekali apa yang mendorong organisasi HAMAS untuk melakukan tindakan-tindakan perlawanan secara terang-terangan kepada orang-orang Yahudi kafir terlaknat itu, padahal mereka juga mengetahui bahwa kekuatan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Yahudi. Bahkan, tindakan mereka itu justru -pada ujungnya- mengakibatkan semakin kerasnya penyiksaan kaum Yahudi kepada orang-orang yang lemah di antara kaum muslimin di Gaza.

Sementara para pemimpin HAMAS bisa saja selamat karena mereka bisa membuat perlindungan di sekelilingnya untuk menyelamatkan diri. Kemudian, yang lebih aneh lagi adalah tindakan HAMAS yang tetap bersikeras meneruskan perang, sampai-sampai orang yang melihat mengira bahwa mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai untuk menghancurkan Yahudi. Maka hal itu tidak lain justru semakin menambah sakit dan luka [pada diri kaum muslimin] akibat terjadinya berbagai pembantaian berdarah yang sangat keji [yang dilakukan oleh Yahudi, pent].

Salah satu contoh tindakan yang membuat orang tertawa sekaligus menangis adalah pernyataan HAMAS yang mendalili perbuatan mereka itu -serangan kepada Yahudi secara terang-terangan- dengan alasan terpaksa karena mereka berada sedang dalam kondisi terkepung. Sehingga hal itu mendorong mereka untuk memilih meninggalkan bahaya yang timbul akibat kepungan musuh menuju suatu bahaya yang lebih berat dan lebih mengerikan, yaitu menggabungkan antara [bahaya] pengepungan dan terjadinya pembantaian berdarah.

Memang benar, menetapnya Yahudi di bumi Palestina adalah kejahatan dan kezaliman yang tidak boleh diakui sama sekali. Mereka pun harus diusir dan dibuat angkat tangan [menyerah] agar tidak lagi menjajah al-Quds. Akan tetapi, kekeliruan ini tidak boleh disembuhkan dengan kekeliruan lain yang lebih fatal yaitu dengan menyebabkan tertumpahnya darah orang-orang yang tidak bersalah dalam jumlah yang sangat banyak.

Saya benar-benar mengajak kepada para pemimpin organisasi HAMAS untuk selalu bertakwa dan takut kepada Allah dan mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka yaitu al-Ikhwan al-Muslimun (IM).

Betapa banyak kerugian yang timbul akibat letupan semangat dan tindakan-tindakan membahayakan yang mereka perbuat sehingga menyebabkan melayangnya banyak nyawa sebagaimana yang dahulu mereka lakukan di daerah Hamat. Kejadian yang menimpa mereka ketika itu belum jauh berlalu dari ingatan kita.

Hendaknya mereka takut kepada Allah demi terjaganya keselamatan kaum muslimin yang lemah di Gaza yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah jompo, anak-anak yang masih menyusu. Lihatlah, sekarang darah itu sudah tertumpah, para wanita telah ternodai kehormatannya, demikian pula anak-anak telah menjadi yatim. Apa yang bisa kalian lakukan selain mengeluh dan mengadu.

Lihatlah, apa yang bisa kalian harapkan dari Iran yang Syi’ah itu yang katanya siap memberikan bantuan kepada kalian kecuali sekedar melemparkan urusan [tanggung jawab] mereka kepada pihak lain dan menebarkan keragu-raguan kepada negara-negara Islam Sunni yang lainnya.

Apa yang telah diperbuat oleh kaum Rafidhah (Syi’ah) di Irak berupa pembunuhan terhadap kaum Ahlus Sunnah dan menyerahkan urusan mereka kepada negara kafir Amerika merupakan bukti paling besar yang menunjukkan kekejian mereka, dan tidak mungkin kita berharap bantuan dari mereka untuk melawan kaum Yahudi dan Nasrani.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam bukunya ‘Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah’ [3/377] berkata, “Banyak di antara mereka -Rafidhah/Syi’ah- justru menaruh rasa kasih sayang kepada orang-orang kafir dari dalam lubuk hatinya lebih daripada kecintaan mereka kepada kaum muslimin. Oleh sebab itulah ketika pasukan Turki keluar sedangkan orang-orang kafir datang dari arah timur kemudian membunuhi kaum muslimin dan menumpahkan darah mereka di negeri Khurasan, Irak, Syam, jazirah Arab, dan negeri yang lainnya, maka kaum Rafidhah justru memberikan bantuan kepada mereka (orang kafir) untuk membunuh kaum muslimin. Dan menteri Baghdad saat itu yang sudah ma’ruf (dikenal) yaitu Alqami dan orang-orang yang sepertinya, mereka itulah orang-orang yang paling besar perannya dalam memberikan bantuan kepada mereka untuk menghancurkan kaum muslimin. Demikian pula orang-orang Rafidhah yang dahulu tinggal di Syam, mereka itu adalah orang-orang yang paling besar perannya dalam membantu orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Begitu pula orang-orang Nasrani yang dahulu diperangi oleh kaum muslimin di Syam, ternyata kaum Rafidhah pun termasuk pembantu mereka yang sangat berjasa. Demikian pula tatkala Yahudi berhasil memiliki pemerintahan di Irak dan negeri yang lainnya, maka jadilah kaum Rafidhah sebagai pembantu mereka yang paling besar perannya. Mereka itu selalu memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik maupun Yahudi dan Nasrani. Mereka membantu orang-orang kafir itu dalam rangka memerangi kaum muslimin dan memusuhi mereka…” Selesai ucapan beliau.

Sekarang kalian, wahai HAMAS. Kalian telah membuka jalan untuk kaum Rafidhah guna merusak keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah dan mengubahnya menjadi [aqidah] Syi’ah. Dan sebaliknya, kalian justru melarang para da’i salafi [ikut serta memperbaiki kekeliruan kalian, pent].

Bahkan, sudah terbukti kalian berani melakukan pembunuhan kepada sebagian di antara mereka (da’i salafi) dengan mengatasnamakan kemaslahatan yang diada-adakan. Barangsiapa yang ingin mendapatkan tambahan bukti dan keterangan yang lebih lengkap silakan merujuk kepada pelajaran ‘Rasa’il ila Harakati Hamas’ [masih dalam bentuk ceramah audio, belum di transkrip, pent].

Saya memohon kepada Allah agar Dia mematikan kita sebagai syuhada’ di jalan-Nya dan menyejukkan hati kita dengan hancurnya Yahudi. Saya pun memohon kepada-Nya dengan segenap kekuatan yang dimiliki-Nya demi terjaganya darah saudara-saudara kami kaum muslimin di Gaza dan di semua tempat, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada para pemimpin HAMAS untuk meniti jalan yang lurus.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Abdul Aziz bin Rays ar-Rays (Pengawas situs al-Islam al-‘Atieq, islamancient.com)

Permulaan tahun 1430 H

diterjemahkan dari: Durus Manhajiyah Min Ahdats Ghazah al-Filisthiniyah

Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/490-pelajaran-dari-palestina.html