Hidayah Mengenal Sunnah

Sesuatu yang paling mahal di dunia ini adalah hidayah mengenal sunnah. Mengapa dikatakan mahal? Karena hidayah mengenal sunnah sama seperti hidayah mengenal Islam.

Bisa kita bayangkan, dari sekian trilyun manusia yang hidup di muka bumi ini, berapa di antara mereka yang mendapat hidayah untuk memeluk agama Islam? Lalu dari sekian milyar orang yang beragama Islam, berapa persen di antara mereka yang hatinya tergerak untuk mau mendalami agama? Dan dari sekian persen orang yang mendalami agama Islam, berapa persenkah orang yang dalam mendalami agama dengan benar? Kemudian dari sekian orang yang mendalami agama dengan benar, berapa persenkah orang yang mau mengamalkan ilmu yang telah didapatkan?

Oleh karena itu, hidayah mengenal sunnah serta mengamalkannya merupakan sesuatu yang sangat mahal, takkan tergantikan dengan dunia dan seisinya. Sehingga bagi yang telah mendapat hidayah yang sangat mahal ini, hendaknya ia bersyukur.

Apabila ia tidak mensyukuri nikmat hidayah tersebut, dia terancam dengan firman Allah Ta’ala:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;  ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.S Ibrahim: 7)

Adapun di antara bentuk siksaan Allah bagi orang yang telah mendapatkan nikmat hidayah,tapi tidak mensyukurinya ialah dicabutnya hidayah tersebut dari orang tersebut. Contoh: Orang yang dulunya semangat  ngaji, tapi akhirnya menghilang dan tidak mengaji lagi.

Salah satu cara mensyukuri hidayah tersebut adalah berusaha menularkan hidayah tersebut kepada orang lain.

 “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Ada sebuah kisah nyata tentang seorang da’i yang berasal dari Kuwait, yaitu Dr.Abdurrahman As-Sumait. Aslinya, beliau adalah seorang dokter internis (penyakit dalam). Beliau mengambil S1 di Baghdad, S2 di Inggris, dan S3 di Kanada. Beliau sudah memiliki pekerjaan di rumah sakit Kuwait dengan penghasilan yang sangat besar. Akan tetapi, beliau tinggalkan penghasilan yang sangat besar itu dan pergi ke pedalaman Afrika serta mengajak mereka untuk masukke agama Islam.

Ketika ada orang yang masukke agama Islam dan selesai mengucapkan kalimat syahadat, orang-orang Afrika tersebut menangis karena bahagia dan sedih. Mereka bahagia karena mendapatkan hidayah, sedangkan mereka sedih sambil berkata, “Mengapa kalian (kaum muslimin) baru datang sekarang (datang ke Afrika) ? Dulu kalian pada kemana ? Sehingga orang tua kami tidak sempat menikmatii ndahnya Islam dan meninggal dalam keadaan kufur. Kemanakah kalian, wahai kaum muslimin?” Tanya orang-orang Afrika tersebut kepada beliau (Dr. AbdurrahmanAs-Sumait).

Hal itulah yang menyentuh perasaan beliau, sehingga beliau mendedikasikan seluruh umurnya untuk berdakwah di negeri Afrika. Padahal beliau di sana mendapat cobaan penyakit-penyakit berat, seperti diabetes, ginjal, tensi tinggi. Akan tetapi, beliau tidak mempedulikan hal itu dan beliau meninggalkan seluruh kenikmatan duniawi, lalu tinggal di pedalaman Afrika.

Di sana, beliau tidur di atas tikar dan beratapkan langit. Terkadang, ancaman binatang buas ada di sekitarnya. Namun beliau –dengan taufik dari Allah Ta’ala– sukses berdakwah selama 29 tahun di pedalaman Afrika dan berhasil mengislamkan 11 juta orang. Beliau membangun 5500 Masjid di berbagai penjuru  Afrika, mengkader 40000 da’i, serta terlibat dalam aktivitas sosial seperti membangun 11000 sumur. Beliau meninggal pada tahun 1434 H atau 2013 M.

Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan sesuatu yang berharga. Namun kita? Apa yang akan kita tinggalkan nanti? Sudah berapa orang yang kita dakwahi sehingga mendapatkan hidayah? Ataukah  bahkan orang tua kita sampai saat ini belum mengenal sunnah? Hingga meninggalnya orang tua kita, apa yang sudah kita tularkan kepada mereka?

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (Ash-Shaf: 10-12)

***

Referensi: Rekamankajian “Mencuri Hati” yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. –hafizhahullah- dan disiarkan dari Masjid Kampung Santri, Desa Cilembu, Sumedang.

Sumber: https://muslimah.or.id/9154-hidayah-mengenal-sunnah.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Cara Nabi ﷺ Menghindari Sifat Marah

Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Izin bertanya ustadz. Bagaimana cara mengendalikan diri agar tidak sering emosi ustadz? Apa yang harus dilakukan jika seseorang mudah emosi jika pendapatnya tidak didengar ustadz?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Marah adalah sifat yang tercela yang dengannya nabi melarang kepada kita untuk marah, dalam sebuah hadits dinyatakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ
رَوَاهُ البُخَارِي

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” [HR. Bukhari, no. 6116].

Apalagi marah ketika mengambil keputusan sangat sangat di larang karena akan menghasilkan keputusan yang kurang tepat, ada sebuah hadits yang khusus larangan marah bagi seorang qhodi ketika memutuskan perkara:

عَنْ عَبْد الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ: كَتَبَ أَبُو بَكْرَةَ إِلَى ابْنِهِ وَكَانَ بِسِجِسْتَانَ بِأَنْ لاَ تَقْضِيَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ، فَإِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
لاَ يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ.

Dari Abdurrahman ibn Abu Bakrah, ia berkata: Abu Bakrah menulis surat untuk anaknya yang ketika itu berada di Sijistan yang isinya: Jangan engkau mengadili diantara dua orang ketika engkau marah, sebab aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang hakim dilarang memutuskan antara dua orang ketika marah.”
[H.R Hadits Sahih riwayat Al-Bukhari: 6625]

Pesan hadits yang disampaikan:

Seorang hakim atau pemimpin hendaklah bijak dalam membuat keputusan. Jika ada perseteruan antara dua pihak, maka alangkah baiknya jika hakim itu tidak terbawa emosi dan memutuskan perkara antara mereka dengan kepala dingin.

Diantara cara agar tidak mudah marah adalah ;

  • Dengan terus mengingat pada diri kita atas pahala yang besar bagi mereka yang mampu menjaga dirinya dari marah.

Pahala apa saja..?

A) Balasan syurga.

Dari Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, hadits ini shahih lighairihi).

B) Bidadari syurga.

Dari Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Abu Daud, no. 4777; Ibnu Majah, no. 4186. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan).

  • Sifat dan watak suka marah tidak akan mendatangkan kebaikan akan tetapi akan mendatangkan keburukan untuk diri kita sendiri atau orang yang berada di sekitar kita yang akhirnya adalah penyesalan belaka, sehingga nabipun mengatakan bahwa orang yang hebat adalah yang mampu menahan amarahnya.

Dalam sebuah hadits dinyatakan:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah dengan mengalahkan (yang lain). orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan diri ketika dilanda kemarahan” (HR. al-Bukhari no.6114 dan Muslim no.2609).

Dan apalagi ketika musyawarah kita hendaknya berusaha untuk senantiasa diri kita dalam keadaan tenang sehingga pikiran akan jernih dan insya Allah keputusan yang di hasilkan akan baik, dan diantara tujuan bermusyawarah adalah mengahasilkan pendapat yang paling banyak maslahatnya.

Dan hal itu tidak akan didapat apabila musyawarah hanya harus menuruti pendapat anda atau salah satu dari yang ikut permusyawarahan tersebut, apabila pendapat kita itu tidak di terima maka kita harus mendahulukan dialog terlebih dahulu dan ketika apa yang di sampaikan saudara kita benar maka kita harus lebih legowo dan berkhusnudzon.

Apabila kita sedang emosi maka ada tuntutan yang di ajarkan oleh Nabi, agar setan tidak menguasai kita ketika marah, yaitu:

  1. Meminta perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan ta’awudz.
  2. Diam, tidak mengucapkan apapun atau melakukan yang mampu merugikan.
  3. Berpindah posisi, apabila anda dalam keadaan duduk maka terlentang lah atau berdirilah.
  4. Mengambil air wudhu.

Semoga bermanfaat buat anda.

Wallahu ‘alam bisowab.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Agung Argiansyah, Lc. حافظه الله

sumber : https://bimbinganislam.com/cara-nabi-%ef%b7%ba-menghindari-sifat-marah/

Hati-Hatilah Dengan Ketenaran

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menjauhi ketenaran dan pujian-pujian karena pujian itu fitnah. Beliau bersabda:

Jauhilah sifat suka dipuji, karena dengan dipuji-puji itu seakan-akan engkau disembelih.” (HR. Ahmad no. 16460, di-shahih-kan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2674)

Abu Ayyub as-Sikhtiyani mengatakan: “Seorang hamba sama sekali tidaklah jujur jika keinginannya hanya ingin mencari ketenaran.” (Ta’thiru al-Anfas, hlm. 276)

Dari al-Husain bin al-Hasan al-Marwazi diriwayatkan bahwa ia berkata: “Abdullah ibnu Mubarok pernah berkata: “Jadilah orang yang menyukai status khumul (status tersembunyi dan tidak dikenal) dan membenci popularitas. Namun, jangan engkau tampakkan bahwa engkau menyukai status rendah itu sehingga menjadi tinggi hati. Sesungguhnya mengklaim diri sendiri sebagai orang zuhud justru mengeluarkan dirimu dari kezuhudan karena cara itu, kamu telah menarik pujian dan sanjungan untuk dirimu.” (Shifatu ash-Shafwah, 2/325)

Islam memerintahkan umatnya agar tawaduk atau rendah hati dan menjauhi popularitas. Terkadang ketenaran bisa membuat orang sombong dan tidak ikhlas dalam beramal. Namun, ketika ia qodarullah menjadi figur terkenal karena keshalihannya, ilmu dinnya atau karena kebaikannya tanpa ia cari, niscaya tidak karena ini adalah karunia Allah. Ilmu dan prestasi bisa menggelincirkan manusia manakala ia mengabaikan faktor keikhlasan sehingga merasa lebih baik, lebih utama, dan tenar dari orang lain. Porosnya di hati, yakni niat, meskipun orang lain memandangnya memiliki kelebihan, namun hatinya rendah hati, dan hanya Allah lah yang mengetahui isi hati apakah ia sombong atau benar-benar niatnya ikhlas, ia tidak begitu peduli dengan pujian manusia. Karena sanjungan seringkali membuat orang terlena hingga benih-benih kesombongan dan bangga diri pelan-pelan mengusik hatinya dan akhirnya bisa menodai amalannya. Allah berfirman :

Katakanlah: Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.”(QS. Ali-Imran : 29)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan, dan tersembunyi.” (HR. Muslim no. 2965)

Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah:

“Yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadish Shalihin, 629)

Terkadang kita lihat seseorang nampaknya biasa-biasa saja, tak terlihat beda dengan orang lain namun dia subhanallah dikaruniai Allah kefakihan dalam agama, keluasan rezeki atau kekayaan dan berbagai nikmat kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Namun, ia terkesan menghindari perhatian orang lain.
Ketenaran ibarat ular berbisa. Bisa membinasakan dunia dan akhiratnya ketika ia sengaja mengejarnya demi orientasi dunia semata, biar terkenal, biar dihormati orang lain, biar heboh atau tujuan-tujuan rendah semata. Ini sama sekali jauh dari akhlak Islam. Yakinlah ketenaran demi kebahagiaan dunia semata niscaya pelakunya akan menderita, karena faktanya betapa banyak orang yang tenar akhir hidupnya merana dan tragis.

Imam Ahmad berkata: “Beruntung sekali orang yang Allah buat ia tidak tenar”. Beliau juga pernah mengatakan: “Aku lebih senang jika aku berada pada tempat yang tidak ada siapa-siapa. “ (Ta’thiru al-anfas, hlm. 278)

Akhirnya siapapun kita dan dimanapun perlu mengingat lagi hadits tentang niat “sesungguhnya amal perbuatan itu hanyalah tergantung niat”. (Muttafaqun `alaih)

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi :

1. Psikologi Islam yang sempurna, dr. Raehanul Bahraen, Muslimafiyah publishing, Yogyakarta, 2018.
2. Begini seharusnya menjadi guru (terjemah), Fu`ad bin ‘Abdul ‘Aziz asy-Syalhub, Darul Haq, Jakarta, 2019.

Sumber: https://muslimah.or.id/11652-hati-hatilah-dengan-ketenaran.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Bagaimana Ungkapan Cinta Anda Kepada Suami?

Seorang istri sastrawan pembuat benang memberikan hadiah berupa jaket kepada suaminya yang dijahit dengan tangannya sendiri. Lalu sang suami menulis beberapa bait kalimat untuk istri tercintanya:

     Bahwa disetiap tusukan ada jarum?

     Demikian pula dalam setiap ikatan ada benang,

     Dan dalam setiap tarikan ada gulungan benang

     Semuanya kau pintal dengan tanganmu sendiri,

     Dengan bimbingan kedua bola matamu

     Setiap kali jaket itu menyelimuti diriku,

     Aku selalu merasa berada dalam belaian jemarimu

Seolah-olah dia berkata kepada istrinya bahwa dia merasakan hangatnya cinta istri kepadanya setiap kali memakai jaket buatan istrinya. Dia menghormati istrinya karena sudah tentu istrinya memikirkan suaminya selama menenun dan menjahit jaket tersebut. Cinta dibuktikan dengan perilaku bukan hanya untaian kalimat yang diucapkan.

Cinta adalah ikatan ruh yang dalam antara kedua belah pihak. Cinta adalah ikatan yang akan mempengaruhi perilaku, pikiran, dan perhatian keduanya. Cinta adalah perasan yang bergejolak dalam setiap persendian badan, mengitari jiwa, dan berlaku dalam setiap keberadaannya.

Perbuatan yang dilakukan oleh istri terhadap suaminya, baik melayaninya, membuatkan makanan kesukaannya, menghias bunga yang di atas meja makan, atau mendoakannya dengan penuh keikhlasan  ketika sujud di tengah malam, semua ini merupakan gambaran dari hubungan yang sangat mulia ini.

Barangkali gambaran cinta terindah antara suami dan istri adalah ucapan Khadijah radhiyallahu’anha kepada suami tercintanya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau mendatanginya dalam keadaan membutuhkan ketenangan jiwa, belaian, dan bantuan secara psikis. Khadijah radhiyallahu’anha berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Dia tidak akan menghinakanmu selamanya. Sesungguhnya engkau adalah seorang yang menyambung silaturrahim, jujur dalam ucapan, menjaga tamu, menolong yang lemah, memberi orang yang tidak punya, dan membela kebenaran,”

Cukupkah istri beliau dengan kata-kata saja? Demi Allah tidak, bahkan dia radhiyallahu’anha membantu suaminya dengan berperilaku sebagai seorang istri salihah kepadanya, berinfak, dan membantu dalam memperjuangkan kebenaran. Dia radhiyallau’anha adalah sebaik-baik istri yang mencintai suaminya.

Bentuk ungkapan cinta antara suami istri sangat beraneka ragam. Istri bisa memilih bentuk ungkapan cinta yang sesuai dengan karakternya.

Ide-ide untuk Memperbaharui Cinta

Ungkapan cinta antara suami dan istri tidak hanya datang dengan untaian kata-kata belaka, akan tetapi ada sarana-sarana lain dan perilaku tertentu yang memiliki peran besar agar pasangan kita merasakan cinta kita meskipun kita tidak mengungkapan rasa kasih sayang kita dengan terus terang.

Mengungkapkan cinta bukan dengan kata-kata adalah persoalan yang sangat mudah dan lebih banyak berhasil dan berpengaruh daripada kata-kata indah.

Kadang-kadang engkau merasa yakin bahwa suamimu mencintaimu. Oleh karena itu engkau merasa bahagia dengan hadiah yang diberikan suami kepadamu, perbuatan yang dilakukannya, atau perasaan yang ditunjukkan untuk mengungkapkan cinta tulusnya kepadamu, karena hal itu adalah bukti ketulusan cintanya. Hal itu juga merupakan penyulut cinta yang ada di hatimu agar engkau larut dalam pesonanya.

Begitu juga suami, dia dapat merasa bahagia dengan setiap belaian kasih sayangmu yang mengungkapkan ketulusan cintamu padanya. Dia juga membutuhkan kreativitas dan variasi yang baru dalam pesan cintamu ke dalam hatinya sebagaimana juga dirimu. Kreativitas baru dalam pesan cinta tersebut akan dapat memperbaharui cinta dalam kehidupan kalian berdua terutama pada saat hidup ini dirasakan sebagai rutinitas dan mengalami kejenuhan.

Beberapa ide yang berasal dari pengalaman beberapa istri agar kalian bisa menyebarkan cinta dalam kehidupan kalian berdua, yaitu:

  1. Tulislah kalimat “uhibbuka fillah” dari buah-buahan yang kecil bentuknya seperti ceri, anggur, stroberi, dan lain-lain dalam piring-piring yang besar.
  2. Letakkan es batu berbentuk hati di gelas minuman yang akan diminum oleh suami.
  3. Letakkan bunga mawar di dalam buku atau koran yang akan dibacanya.
  4. Pada hari libur, hidangkan sarapan pagi yang hangat dan berikan kepadanya di atas tempat tidurnya.
  5. Kirimkan pesan singkat yang berisi ungkapan cintamu kepadanya pada saat dia bekerja, baik melalui HP, faksimile, atau email.
  6. Setelah engkau selesei mandi, gambarlah bentuk hati dengan jarimu pada cermin di kamar mandi, agar dia dapat melihat gambar tersebut saat masuk ke dalamnya.
  7. Tinggikan temperatur AC ruangan, lalu dekaplah dia dengan hangat.
  8. Hari yang penuh dengan surat. Ide ini akan menjadikan suamimu penuh dengan surat cinta sepanjang hari. Caranya   adalah: tulislah beberapa surat singkat  dan romantis, kemudian letakkan di tempat-tempat yang biasa dilewati oleh suamimu. Seperti ruang tamu, meja, selimut dan sofa yang biasa dia duduki, atau nampan tempat engkau menghidangkan teh padanya.
  9. Sesekali tulislah kalimat “uhibbuka fillah” pada cermin atau sisir.
  10. Ubah penampilan bajumu dan model rambutmu.
  11. Belikan baju piyama untuknya, lalu masukkan dalam kotak serta sisipkan bunga mawar merah yang disemprot dengan parfum kesukaannya. Letakkan pula satu bungkus coklat. Lalu buatlah tulisan pada kotak itu, “Aku akan bahagia saat melihat piyama itu melekat pada tubuhmu malam ini”.
  12. Gambar bentuk hati pada beberapa kertas, kemudian guntinglah membentuk hati lalu tebarkan guntingan kertas-kertas tersebut dari pintu pertama dia masuk rumah hingga kamar tidur, dan terakhir buatlah kertas berbentuk hati yang besar dengan tulisan “Pangeranku, aku menunggumu selalu…..”
  13. Makan malam yang penuh dengan cinta. Pada suatu malam buatlah kejutan dengan cara baru dalam makan malam. Ubahlah tempat makan malam dengan mengubah posisi meja makan, piring dan gelas, begitu pula ubahlah penampilan engkau dengan memakai perhiasan yang tidak biasa engkau pakai pada rambut, memakai pakaian yang beraneka ragam, dan memakai sepatu berhak tinggi. Ambilkan piring spesial yang dia senangi, semprotkan parfum di setiap pojok ruangan, dan jangan lupa meletakkan seikat bunga mawar di atas meja makan. Selain itu, tempelkan di atas tembok pintu masuk ungkapan selamat datang yang menarik yang biasa engkau pergunakan ketika menyambut kedatangan tamu dan kekasihmu. Sudah tentu setelahnya engkau akan menghabiskan malam tersebut dengan kebahagiaan yang penuh dengan cinta.
  14. Sebelum engkau keluar rumah menuju ke rumah orang tua atau ke tempat lain, letakkan bunga di atas bantal suami, letakkan sebuah surat ringkas yang berisi ungkapan cinta serta rindu gelisah ketika berpisah dengannya.
  15. Ada seorang istri yang bercerita, “Ketika aku akan membangunkan suami untuk melaksanakan shalat malam, terlebih dahulu aku cuci tanganku dengan air sehingga tanganku tersebut menjadi dingin. Kemudian aku semprotkan parfum kesukaannya pada tanganku. Ketika tanganku yang dingin itu menyentuh tubuhnya yang hangat dan nafasnya mulai menghirup bau harum, di pun akan bangun meskipun saat itu sedang terlelap dalam mimpi yang indah”.
  16. Salah seorang istri ingin bercanda dengan suaminya dengan berkata kepadanya, “Bukalah mulutmu dan pejamkan kedua matamu.” Kemudian sang suami membuka mulut dan memejamkan kedua matanya dengan penuh keraguan, dan ternyata istrinya memasukkan permen yang lezat ke mulut suaminya. Ketika suami ingin pergi sang istri berkata lagi kepadanya, “Bukalah mulutmu dan pejamkan kedua matamu.” Kali ini suami memejamkan kedua matanya tanpa ragu-ragu dan mengharapkan permen yang lezat masuk kembali kedalam mulutnya. Tetapi istrinya memasukkan bungkus permen yang tadi dia masukkan ke mulutnya.
  17. Ada pula yang bercerita,”Setiap kali suamiku bepergian bersama teman-temannya, aku mempunyai kebiasaan menyelipkan sepucuk surat cinta di sela-sela lipatan pakaiannya tentang apa yang akan aku rasakan selama kepergiannya, serta keadaanku dan keadaan anak-anakku saat ketidakberadaan bapak mereka. Suatu ketika aku tidak senang dengan kepergiannya sehingga aku tidak menulis surat yang biasa aku tulis. Ketika suamiku pulang, dia berkata, “Aku telah memeriksa tas ini semuanya dan kucari surat yang biasa kau tulis dan kau selipkan di antara pakaianku, bahkan telah aku periksa sampai tiga kali. Setiap kali aku memeriksanya, aku berharap semoga istriku meletakkannya disini, namun ternyata aku tidak mendapatkannya. Mungkin aku tidak memeriksanya dengan baik.” Aku sangat menyesali perbuatanku itu, rasa kerinduan tampak di raut muka suamiku. Setelah kejadian itu, aku bertekad untuk tidak meninggalkan kebiasaan baik semampuku.”
  18. Perhatian dan memanjakan. Seorang suami bercerita bahwa istrinya menitipkan anak-anaknya di rumah orang tuanya. Kemudian mereka berdua pergi ke salah satu tempat yang mengingatkannya dengan hari-hari pertama perjumpaannya yang indah, saat mereka berdua merasakan sebagai makhluk yang paling bahagia.
  19. Sambutan hangat. Hal yang banyak berpengaruh kepada suami adalah sambutan istri kepada suami dengan penuh kecemburuan dan kasih sayang. Ketika suami sudah berada di depan pintu, istrinya adalah orang yang pertama kali menyambut kedatangannya, lalu memeluknya dengan penuh kerinduan dan kasih sayang, dan senyum kebahagiaan tergambar dalam raut mukanya.
  20. Cetaklah salinan lembar akte nikah kalian berdua dan kirimkan kepada suamimu melalui jasa pos. Tulislah di dalamnya kalimat, “Masih ingatkah kau dengan hari yang penuh dengan kebahagiaan itu?”
  21. Bertamasyalah kalian berdua untuk berbulan madu yang kedua, ketiga dan seterusnya.
  22. Ingatlah waktu pertama kali kalian saling melihat beberapa saat setelah akad nikah. Niscaya hal itu akan mengingatkan perasaan kalian pada hari itu yang bercampur aduk antara obrolan, gairah seksual, takut, gembira, dan cinta.
  23. Meskipun telah berlalu beberapa tahun dari pernikahan kalian, mengapa engkau tidak lagi memanggil suamimu dengan kalimat “Pengantinku”?
  24. Tetapkan liburan khusus berdua dengan tanpa keikutsertaan anak-anak, karena hal itu dapat mengembalikan kepada saat-saat awal pernikahan kalian dan menghidupkannya kembali.
  25. Berikan kepadanya biodata dirimu untuk mengingatkan pernikahan kalian. Dalam biodata itu engkau sebutkan semua sifat-sifat yang engkau miliki, kemampuan, dan keinginanmu untuk membahagiakannya dengan menuliskan kalimat di bawahnya, “Aku ingin menjadi istri dan kekasihmu sepanjang hidupku”.
  26. Yang terpenting saat engkau memberikan hadiah kepada suamimu untuk mengenang pernikahan kalian berdua adalah bagaimana cara memberikannya, bukan bentuk barangnya. Hadiahkan kepadanya sebuah cincin yang engkau letakkan dalam bunga mawar yang belum mekar. Letakkan mawar tersebut dalam semangkuk air di dekat tempat tidurnya dan suruhlah dia menunggu selama dua hari. Ketika mawar itu mekar, dia akan melihat cincin yang sangat indah. Engkau akan menyaksikan keterjutan suami, kebahagiaannya, dan ucapan terima kasihnya kepadamu.
  27. Saat suami masih berada di tempat kerjanya, segera seleseikan masakanmu, lalu mandi dan pakailah parfum yang harum untuk dirimu maupun ruanganmu. Buatlah kantong kecil dari kain untuk meletakkan parfum yang disukainya.

***

Disalin dari buku “Bunga-bunga Istri Tercinta”, Abu Syihabuddin Nashir Asy-Syafi’i, Bunga ke-21,hlm. 142-148, Penerbit Samudera, Surakarta.

Sumber: https://muslimah.or.id/8394-bagaimana-ungkapan-cinta-anda-kepada-suami.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Harta Haram Hanya Akan Mendatangkan Derita

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. [al-Baqarah/2:168]

Melalui ayat ini dan ayat-ayat lain yang senada, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan manusia untuk mengkonsumsi makanan yang halal lagi baik, makanan yang tidak membahayakan badan juga akal. Juga melarang manusia mengikuti langkah-langkah syaithan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allâh Azza wa Jalla  dan menghalalkan apa yang diharamkan-Nya, termasuk dalam hal ini memakan harta yang haram.[1]

Jika perintah Allâh ini diperhatikan oleh seseorang, maka dia akan mudah melakukan amal shaleh, namun jika sebaliknya, maka kecenderungan kepada haram pasti akan mendominasi dirinya.

Sementara itu, empat belas abad silam, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan umatnya tentang kedatangan satu masa dimana banyak orang yang tidak peduli lagi dengan sumber penghasilannya, apakah dari yang halal ataukah yang haram ? Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ, أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ ؟

Akan datang suatu masa, orang-orang sudah sudah tidak peduli lagi dengan apa dia mendapatkan harta. Apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram ? [HR. al-Bukhari][2]

Orang yang tidak peduli dengan sumber penghasilannya ini bisa jadi karena memang dia tidak tahu atau mungkin juga dia sudah tahu tetapi tetap dilanggar dengan berbagai macam alasan, bahkan kemudian membuat rekayasa. Orang pertama lebih ringan dibandingkan dengan orang kedua, karena bisa jadi dia akan meninggalkan yang haram itu dan bertaubat jika dia mengetahuinya. Sedangkan orang kedua, gemerlapnya dunia telah mempedayainya sehingga dia tidak bisa mengendalikan dan menundukkan kerakusan nafsunya. Padahal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengingatkan :


تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيْصَةِ

Celakalah hamba dinar, hamba dirham dan celakalah hama pakaian (HR. al-Bukhari)

Inilah do’a Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berdo’a maka pasti dikabulkan.

Jika ini dipahami dengan baik, maka sesulit apapun keadaannya, dia tidak akan mengatakan sebagaimana ungkapan banyak orang, “Jangankan yang halal yang haram juga susah” terlepas dari ungkapan ini adalah sebuah gurauan ataukah gambaran dari fakta di lapangan.

Akibat buruk lainnya dari mengkonsumsi harta haram adalah do’anya tidak akan terkabul. Bukankah ini bencana yang sangat besar ? Siapa yang tidak ingin doanya terkabul, pasti semua ingin terkabul. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pernah bersabda menceritakan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, tubuhnya dipenuhi debu, ketika itu lelaki tersebut berdoa dengan mengangkat kedua tangannya ke langit dan menyebut nama Allâh Azza wa Jalla : Wahai Rabb, Wahai Rabb…, sementara laki-laki tersebut mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak halal, pakainnya pun tidak halal dan selalu diberi (makanan) yang tidak halal. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

 Maka bagaimana mungkin permohonannya akan dikabulkan (oleh Allâh) ? [3]

Dalam hadits ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjelaskan bahwa orang tersebut sebenarnya telah menghimpun banyak  faktor yang seharusnya memudahkan terkabulnya permohonan dan doanya, akan tetapi karena perbutan maksiat yang dilakukannya, yaitu mengkonsumsi harta yang haram, maka pengabulan doanya terhalangi.[4]

Efek buruk lainnya adalah harta haram itu akan menjadi bala’ baginya meskipun dipergunakan untuk jalan Allâh Azza wa Jalla , karena Allâh Azza wa Jalla tidak akan menerima kecuali yang baik. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla itu maha baik, tidak menerima kecuali yang baik.

Inilah sebagian diantara dampak buruk dari mengkonsumsi harta haram. Semoga Allâh Azza wa Jalla melindungi kita semua dari tipu syaitan dan semoga Allâh Azza wa Jalla mencukupkan kita dengan yang halal sehingga tidak terpikat dan tidak merasa butuh dengan harta haram.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVI/1433H/2012. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Lihat Zâdul Masîr 1/172 dan Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 80.
[2] Lihat Harta Haram. DR. Erwandi Tarmidzi, hlm. 1
[3] HR.  Muslim no. 1015.
[4] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam hlm. 105-107.


Referensi : https://almanhaj.or.id/4479-harta-haram-hanya-akan-mendatangkan-derita.html

Tujuan Sesungguhnya Dari Sebuah Pernikahan

Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagaimana solusinya jika ayah mertua yang mengalami sakit pelupa yang parah, dimana ketika kehilangan barangnya selalu marah-marah dengan ibu mertua, bahkan sampai menuduh ibu mertua yang mengambil dan sampai memukul, padahal seringnya barang tersebut ayah mertua yang menyimpan. Ibu mertua sudah bersabar dan bertahan di rumah. Apakah yang seharusnya dilakukan ya ustadz? Apakah boleh ibu mertua keluar rumah ke rumah anaknya tanpa seizin ayah mertua?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Sesungguhnya diantara tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan ketenangan sebagaimana firman Allah Ta’ala;

{ وَمِنۡ ءَایَـٰتِهِۦۤ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَ ٰ⁠جࣰا لِّتَسۡكُنُوۤا۟ إِلَیۡهَا وَجَعَلَ بَیۡنَكُم مَّوَدَّةࣰ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّقَوۡمࣲ یَتَفَكَّرُونَ }

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir” [Surat Ar-Rum: 21]

Dan diantara untuk meraih ketenangan dalam pernikahan adalah saling menunaikan hak seksama (suami istri).
Suami ingin dihargai dan dilayani adapun, istri ingin diperhatikan, disayang dan hak zhahir lainya seperti nafkah, tempat tinggal dan pakaian.

Namun dalam merealisasikannya terkadang tidak mudah, ada banyak kendala dan mungkin ada badai menerpa.

Diantaranya adalah masalah yang ditanyakan, seorang suami yang sakit pelupa hingga sering marah dan bahkan zalim secara fisik.

Ditinjau dari sudut pandang kesehatan bahwa sakit lupa ada beberapa jenis, ada beberapa sebab secara umum, seperti kurang tidur, kurang gizi, efek samping obat obatan, kebiasaan merokok dan minum alkohol, gangguan mental dan cedera kepala.

Maka kami sarankan,

  1. Hendaknya sang suami merujuk kepada dokter yang ahli untuk mengetahui penyebab sering lupa dan penanganannya.
  2. Hendaknya sang istri selalu bersabar dan berkomunikasi dengan baik bersama suami agar bisa keluar dalam masalah ini, sehingga kezaliman tidak terulang dengan alasan lupa .
  3. Sang istri juga berusaha mencari tau penyebabnya bisa jadi stres dan gangguan mental sehingga suami mencari pelampiasan kepada istri dengan berbuat zalim.
  4. Kami juga menasehati hendaknya sang istri ketika suami marah tidak melawan atau mendebat sehingga terjadi kericuhan yang lebih besar. Waliyaadzubillah.
  5. Adapun keluarnya sang istri tanpa izin dengan alasan zalim maka tidak boleh, dikhawatirkan juga terjadi masalah yang lebih besar.
  6. Terakhir dan yang paling penting hendaknya berdoa kepada Allah ﷻ. Karena sesungghnya hati sang suami ada ditangan Allah, Hanya Allah ﷻ yang mampu merubah keaadan suami. Mintalah kesembuhan dan keharmonisan dari Allah.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Fauzan Azhiima, Lc. حافظه الله

sumber : https://bimbinganislam.com/tujuan-sesungguhnya-dari-sebuah-pernikahan/

Menjadi Hakim Zhalim

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Semua manusia menginginkan keadilan. Jika ada permasalahan, maka manusia membutuhkan keputusan dengan kebenaran dan keadilan. Oleh karenanya para Nabi adalah hakim bagi umatnya yang menyelesaikan perselisihan mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

كَا نَ النَّا سُ اُمَّةً وَّا حِدَةً ۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ وَاَ نْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِا لْحَـقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّا سِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ ۗ 

QS Al-Baqarah : 213

Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan) maka Allâh mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allâh menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. [Al-Baqarah/2: 213]

KEWAJIBAN MEMUTUSKAN DENGAN KEBENARAN
Menjadi hakim yang memutuskan dengan kebenaran dan keadilan merupakan perkara yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya dengan firman-Nya:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allâh, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allâh kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allâh), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allâh menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. [Al-Mâidah/5: 49]

Allâh Azza wa Jalla juga memerintahkan para penguasa untuk memutuskan perkara dengan kebenaran dan keadilan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Allâh menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allâh memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allâh adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [An-Nisa/4: 58]

Baca Juga  Bahaya Mengingkari Taqdir
BERATNYA TUGAS HAKIM
Akan tetapi memutuskan perkara dengan kebenaran dan keadilan tidak mudah. Karena itu membutuhkan ilmu, keteguhan hati, keberanian dan kekuatan. Dari sini kita mengetahui, mengapa banyak Ulama Salaf tidak mau menjadi hakim, bahkan sebagian mereka lari meninggalkan kotanya untuk menghindari jabatan hakim. Beratnya memangku jabatan hakim digambarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- “مَنْ جُعِلَ قَاضِياً بَيْنَ النَّاسِ فَقَدْ ذُبِحَ بِغَيْرِ سِكِّينٍ”

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa dijadikan hakim di antara manusia, maka sesungguhnya dia disembelih tanpa menggunakan pisau.” [1]

Imam as-Sindi rahimahullah menjelaskan tentang makna ‘dia disembelih tanpa menggunakan pisau’, “Yang dimaksudkan adalah bahwa dia disembelih dengan penyembelihan yang berat, karena penyembelihan dengan pisau lebih mudah bagi hewan sembelihan, berbeda dengan tanpa pisau.”

Atau yang dimaksudkan adalah bahwa dia disembelih dengan penyembelihan yang tidak menyebabkan kematian fisik. Namun, penyembelihan itu menjadikannya tidak mati juga tidak mati, karena bukan penyembelihan yang menggunakan pisau sampai mati, tetapi dia tidak selamat dari penyembelihan sehingga tetap tidak hidup (nyaman).

Ada juga yang mengatakan: yang dimaksudkan bukanlah penyembelihan yang dikenal orang pada umumnya, tetapi itu adalah ungkapan kebinasaan agamanya, bukan kebinasaan badannya. Karena dia diuji dengan sesuatu kesusahan yang terus menerus dan penyakit yang kronis, yang akan diikuti dengan penyesalan sampai hari kiamat.

Mayoritas Ulama membawa (makna hadits di atas) kepada celaan memangku jabatan hakim dan agar menjauhinya, karena bahaya yang ada padanya. [2]

HAKIM ZHALIM DOSA BESAR
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, jika hakim tidak memutuskan dengan keadilan, maka setan akan menjadi kawannya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ مَعَ القَاضِي مَا لَمْ يَجُرْ، فَإِذَا جَارَ تَخَلَّى عَنْهُ وَلَزِمَهُ الشَّيْطَانُ

Dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh bersama hakim selama dia tidak menyimpang, jika dia menyimpang Allâh meninggalkannya, dan syaitanpun menemaninya.”[3]

Bahkan lebih dahsyat dari itu adalah bahwa banyak hakim masuk neraka, karena penyimpangannya atau karena kebodohannya. Oleh karena inilah perbuatan hakim yang membuat keputusan yang menyimpang dari kebenaran merupakan dosa besar.

Baca Juga  Jauhilah Riya’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ، اثْنَانِ فِي النَّارِ، وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ: رَجُلٌ عَلِمَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ، وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ جَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ

Hakim-hakim itu ada tiga, dua di neraka dan satu di surga : Seorang hakim yang mengetahui kebenaran, lalu dia memutuskan hukum dengan kebenaran, maka dia di surga; Seseorang (hakim)  yang memutuskan hukum dengan kebodohan, maka dia di neraka; Dan seorang (hakim) yang menyimpang di dalam keputusan, maka dia di neraka” [4]

Maka para hakim hendaklah waspada, serta senantiasa berusaha mencari keridhaan Allâh dan itulah yang lebih utama dibandingkan kesenangan dunia yang sementara. Memberikan putusan yang benar berdasarkan syari’at-Nya itu yang menjadi kewajiban mereka. Semoga Allâh selalu menjauhkan kita dari segala keburukan dan memudahkan kita di dalam kebaikan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] HR. Ahmad, no. 7145; Abu Daud, no. 3572; Tirmizi, no. 1325; Ibnu Majah, no. 2308. Dishahihkan  oleh Syaikh Albani, Ahmad Syakir, Syu’aib al-Arnauth, dll
[2] Lihat: Catatan kaki Musnad Ahmad, 12/56; penerbit ar-Risalah
[3] HR. Tirmizi, no. 1330. Dihasankan oleh Syaikh Albani
[4] HR. Ibnu Majah, no. 2315; Tirmizi, no. 1322; Abu Dawud, no. 3573; lafazh hadits ini bagi Ibnu Majah. Dishahihkan  oleh Syaikh Albani, Ahmad Syakir, Syu’aib al-Arnauth, dll
Referensi : https://almanhaj.or.id/6980-menjadi-hakim-zhalim.html

Doa dan Keteguhan Pemuda Ashabulkahfi

Keteguhan iman dan kepercayaan kepada Allah sering kali diuji dengan berbagai ujian dan cobaan. Salah satu kisah penuh hikmah yang memberikan teladan bagi kita tentang keberanian, keteguhan hati, dan pengharapan kepada rahmat Allah adalah kisah para pemuda Ashabulkahfi yang tertera dalam surah Al-Kahfi.

Allah Ta’ala berfirman,

اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا

Ingatlah ketika para pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.‘” (QS. Al-Kahfi: 10)

Perhatikanlah bagaimana sekelompok pemuda beriman yang menghadapi ancaman besar atas keimanan mereka. Mereka memilih untuk meninggalkan dunia yang penuh dengan kebatilan dan penganiayaan terhadap agama Allah, kemudian berlindung di dalam sebuah gua. Di dalam kesunyian gua tersebut, mereka tidak hanya berdiam diri, tetapi mereka berserah diri sepenuhnya kepada Allah melalui doa. Mereka memohon rahmat dan petunjuk dari-Nya, sebagai bentuk keteguhan iman dalam menghadapi ketidakpastian.

Kandungan doa yang diucapkan oleh Ashabulkahfi

Doa yang diucapkan oleh para pemuda Ashabulkahfi dalam kalimat,

رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا

menunjukkan dua hal penting yang bisa kita jadikan pedoman dalam menghadapi ujian hidup, yaitu: 1) permohonan terhadap rahmat Allah; dan 2) petunjuk yang lurus.

Pertama: Memohon rahmat Allah

Para pemuda Ashabulkahfi mengawali doa mereka dengan permohonan rahmat [رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ] dengan makna “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.” Lihatlah bahwa rahmat Allah Ta’ala adalah hal paling utama yang mereka harapkan dalam situasi genting tersebut. Mereka sadar bahwa hanya dengan rahmat-Nya, mereka bisa mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari ancaman yang mereka hadapi. Rahmat Allah tidak hanya berbentuk perlindungan fisik, tetapi juga ketenangan hati, keberanian, dan kekuatan iman untuk terus berpegang teguh pada kebenaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 3371 dari Nu’man bin Basyiir radhiyallahu ‘anhu)

Oleh karenanya, hendaklah dalam setiap langkah dan usaha, doa harus selalu menjadi prioritas utama yang kita dahulukan, sebagaimana yang dilakukan oleh para pemuda Ashabulkahfi. Selain ikhtiar mereka melarikan diri dari bahaya, mereka juga mengokohkan diri dengan memohon pertolongan kepada Allah melalui doa yang tulus.

Kedua: Memohon petunjuk yang lurus

Setelah memohon rahmat, mereka melanjutkan dengan permohonan, “وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا” yang berarti “dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.”

Para Ashabulkahfi, dalam doa mereka, menginginkan keselamatan dari ancaman fisik dari seorang Raja yang zalim. Mereka juga memohon agar Allah memberikan jalan yang benar dalam menghadapi persoalan mereka. Maka dari itu, pelajaran berharga dari hal ini adalah agar dalam setiap situasi, tidak cukup hanya memohon keselamatan atau kelapangan dari kesulitan, tetapi juga penting untuk berdoa meminta petunjuk agar kita senantiasa berada di jalan yang diridai Allah Ta’ala.

Keberanian Ashabulkahfi

Kisah Ashabulkahfi menggambarkan bahwa meskipun mereka masih muda, para pemuda ini memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Ketika kebanyakan orang mungkin akan memilih untuk mengikuti arus mayoritas demi keselamatan dan kenyamanan hidup, mereka justru memilih untuk meninggalkan kemewahan duniawi dan berlindung di dalam sebuah gua demi menjaga keimanan mereka. Sikap ini menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan rida Allah daripada kenikmatan dunia yang bersifat sementara.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (Salah satunya adalah) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.”
(HR. Bukhari no. 660; Muslim no. 1031)

Pemuda Ashabulkahfi adalah teladan dari golongan pemuda yang dimuliakan ini. Mereka memilih jalan yang benar, meskipun menghadapi ancaman yang besar. Maka, patutlah kisah mereka menjadi inspirasi bagi setiap kita, terutama pemuda, untuk selalu berpegang teguh pada keimanan, meskipun dunia di sekeliling mereka penuh dengan kebatilan.

Perlindungan dan petunjuk dari Allah

Sebagaimana Allah menyelamatkan para pemuda Ashabulkahfi, Allah Ta’ala  juga akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang berserah diri dan memohon dengan tulus. Setelah mereka berdoa dan berlindung di dalam gua, Allah memberikan keajaiban dengan menidurkan mereka selama ratusan tahun, sehingga mereka terhindar dari ancaman musuh-musuh mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

فَضَرَبۡنَا عَلٰٓى اٰذَانِهِمۡ فِى الۡـكَهۡفِ سِنِيۡنَ عَدَدًا ۙ‏

Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu[1], selama beberapa tahun.” (QS. Al-Kahfi: 11)

Kisah ini menunjukkan bahwa ketika kita menyerahkan diri kepada Allah dan berdoa dengan penuh keyakinan, Allah akan memberikan perlindungan dan petunjuk yang mungkin tidak pernah kita duga.

Hal ini juga menekankan bahwa perlindungan dari Allah tidak selalu berupa solusi yang langsung terlihat oleh mata kita. Terkadang, pertolongan-Nya datang dalam bentuk yang tidak terduga, seperti dalam kasus Ashabulkahfi yang dilindungi melalui tidur panjang di dalam gua. Ini mengajarkan kepada kita bahwa apa pun bentuk pertolongan dari Allah, itu adalah yang terbaik bagi kita, meskipun mungkin kita belum bisa memahaminya saat itu.

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5)

Ayat ini kemudian diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Ketahuilah bahwa pada setiap ujian, akan ada pertolongan dari Allah. Seperti halnya pemuda Ashabulkahfi yang mendapatkan perlindungan dan kemudahan setelah melewati kesulitan. Karenanya, jika kita bersabar dan bertawakal kepada Allah, kita juga akan merasakan kelapangan setelah kesulitan yang dihadapi.

Saudaraku, kisah Ashabulkahfi merupakan salah satu dari banyak kisah dalam Al-Qur’an yang penuh dengan pelajaran. Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya doa, keteguhan iman, dan keberanian dalam mempertahankan keyakinan terhadap Allah. Dalam setiap kesulitan, jika kita berserah diri kepada Allah dan memohon rahmat serta petunjuk-Nya, maka insya Allah akan selalu ada jalan keluar yang terbaik bagi kita, sebagaimana yang terjadi pada para pemuda Ashabulkahfi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Allah mengenalmu di saat susah.” (HR. Tirmidzi no. 2516)

Semoga kita dimudahkan oleh Allah menjadi hamba-hamba-Nya yang dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari secara istikamah hingga akhir hayat kita.

Wallahu a’lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki;

[1] Allah menidurkan mereka selama 309 tahun kamariah dalam gua itu (lihat ayat 25 surah Al-Kahfi) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apa pun.

Sumber: https://muslim.or.id/99065-doa-dan-keteguhan-pemuda-ashabul-kahfi.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Nasihat Untuk Orang Tua Yang Melakukan Syirik

Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sedikit cerita orang tua ana sering datang ke dukun dan membawa sebuntal gulungan tali di lapisi plastik dan itu harus di semprotkan sama parfum, katanya jangan sampai kering sebuntal talinya itu, dan ada air aqua kemasan dari dukun udah di bacain mantra katanya, biar ini itu kata orang tua ana, jadi ana takut kalo ada air botol aqua itu dari dukun itu.

Kemarin kakak ana di ajak ibu ana ke dukun padahal kakak ana itu gamau, tapi di paksa, udah beberapa kali ana dan kakak menasehati orang tua ana terutama ibu ana, tapi pas ana nasehati orang tua malah marah cari pembenaran dan dia bilang itu bukan dukun, tapi ana bilang itu dukun dia marah ustadz, katanya itu pake ilmu putih, apa itu efek dari jimat-jimat itu ya ustadz ortu ana marah marah terus, aura mukanya gelap, ana sedih sekali.

Orang tua ana seperti itu, ibu sama ayah ana seperti itu, jimat itu di taro di dompet belakang foto nikah orang tua ana, pantesan akhir akhir ini keluarga ana berantakan, orang tua ana berantem terus, orang tua ana sering marah marah, Dimata orang tua ana dan kakak itu serba salah, setiap hari ada masalah terus ana yakin ini semua pasti gara gara jimat itu ustadz, ana bingung harus gimana, mohon kasih ana solusi ustadz.

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua.

Diantara potret dakwah yang Allah ceritakan dalam Al-Qur’án adalah dakwah tauhidnya Nabi Ibrahim kepada ayahandanya. Sekalipun ayahnya melakukan kesyirikan tapi ia tetap mendoakan dan berbakti kepadanya yang tidak bertentangan dengan syariat.

Tidak ada kebahagian bagi seorang anak yang telah mengenal sunnah kecuali mendapati kedua orangtuanya berada di atas agama yang benar dan meniti jalan salafush shalih. Karena itu seorang anak harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendakwahi kedua orang tuanya dengan segala cara, seperti memberikan hadiah yang orangtua sukai, mengirimkan artikel atau buku dan video dakwah.

Satu hal yang perlu diperhatikan disisi yaitu tampakkan kepada orang tua dengan semakin mengenal agama, seorang anak harus semakin berbakti kepada kedua orangtuanya. Tentu bentuk kebaktiannya yaitu yang tidak bertentangan dengan agama. Tidak boleh ia mengikuti ritual kesyirikan kedua orang tuanya. Ia harus menolaknya dengan penuh kejujuran dan tutur kata yang bijak.

Akan ada tantangan dan kendala mendakwahkan tauhid kepada siapapun terlebih kepada kedua orangtua. Tetap istiqomah berdakwah dan mengajak orang tua kepada tauhid dan mengingaktkan akan bahaya kesyirikan dengan disertahi doa dan permohonan kepada Allah. Jangan ingin serba instan semua butuh proses dan perjuangan. Semoga dimudahkan.

Wallohu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Abu Rufaidah, Lc. MA. حافظه الله

sumber : https://bimbinganislam.com/nasihat-untuk-orang-tua-yang-melakukan-syirik/

Batas Waktu Mencukur Bulu Kemaluan

Batas Waktu Mencukur Bulu Kemaluan

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Batas Waktu Mencukur Bulu Kemaluan, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan ustadz izin bertanya, Ana pernah mendengar ceramah dari seorang ustadz dan membahas tentang mencukur bulu kemaluan, bulu kemaluan harus dicukur habis dan tidak boleh lebih dari 40 hari, kalau lewat dari 40 hari akan berdosa, mohon pencerahannya ustdz.

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Dalam sebuah hadits dikatakan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: ” وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفِ الْإِبِطِ، وَحَلْقِ الْعَانَةِ، أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ” رواه مسلم

Artinya: “Diberikan waktu bagi kami untuk mencukur kumis, bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur bulu kemaluan tidak lebih dari empat puluh hari.” (HR Muslim).

Para ahli Ilmu menyebutkan ini adalah anjuran untuk tidak melebihi 40 hari maka baiknya adalah dibawah itu. Karena apabila melebihi batas waktu tersebut akan banyak menumpuk kotoran dan bisa juga menjadi penyebab penyakit.

Adapun hukum jika melebihi 40 hari menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali adalah makruh. Akan tetapi menurut mazhab Hanafi adalah dosa sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab mazhab ini, pendapat ini juga menjadi pilihan sebagian ahli ilmu.

Maka mungkin pendapat ustadz yang mengatakan dosa jika tidak mencukur lebih dari 40 hari adalah mengambil pendapat mazhab hanafi.

Maka bagi seorang muslim hendaknya selalu perhatian dengan masalah ini. Juga ini menunjukan betapa sempurnya agama islam sampai pun masalah kebersihan seperti ini sangat diperhatikan.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Fauzan Azhiimaa, Lc. حافظه الله

sumber : https://bimbinganislam.com/batas-waktu-mencukur-bulu-kemaluan/