Tertipu dengan Dunia, Lalai dengan Kehidupan Akhirat

Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Adapun jika kita menyibukkannya dengan syahwat, maka kita akan merugi, baik di dunia, apalagi di akhirat.

Hal ini sebagaimana firman Allah Taala,

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj [22]: 11)

Orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia dan di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih.

Allah Taala berfirman dalam banyak ayat Al-Quran,

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (QS. Luqman [31]: 33)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala melarang kita untuk terperdaya dengan kehidupan dunia. Dia tertipu dengan dunia, sehingga sia-sialah waktunya, terluput dari berbagai amal shalih, karena dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Dia habiskan dunia ini, siang dan malam, hanya untuk mengumpulkan harta saja atau hanya untuk berlomba-lomba dalam teknologi. Hal ini sebagaimana kondisi orang-orang kafir saat ini. Mereka habiskan dunia ini untuk sesuatu yang tidak abadi.

Bukan berarti seorang muslim tidak boleh memanfaatkan dunia ini dan kemajuan teknologi di dalamnya. Akan tetapi, hendaknya dia manfaatkan ini semua untuk membantu ketaatan kepada Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala menciptakan dunia ini dan apa yang ada di dalamnya untuk hamba-hambaNya yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?” Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” (QS. Al-A’raf [7]: 32)

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 13)

Namun, sekali lagi, bukan berarti kita sibuk dengan kehidupan dunia dan lalai dengan kehidupan akhirat. Bahkan maksudnya, sibukkanlah dunia ini dengan niat untuk menolongmu dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang memanfaatkan dunia ini dan menyibukkannya untuk kebaikan dan maslahat agama dan dunianya, merekalah orang-orang yang beruntung. Akan tetapi, barangsiapa yang sibuk dengan dunia dan menjadikan dunia itu sendiri sebagai tujuan dan hasratnya, mereka ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’du [13]: 26)

Oleh karena itu, dunia ini dicela bukan semata-mata karena dunia itu sendiri, akan tetapi dicela karena kesalahan kita dalam memanfaatkan dunia. Sebagaimana pisau, bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Namun, bisa juga digunakan untuk hal-hal yang merusak, seperti berbuat kejahatan. Demikianlah perumpamaan dunia, yaitu bagaimana kita memanfaatkannya.

Surga itu dibangun dengan dzikir, tasbih, tahlil, takbir, ditumbuhkan pohon-pohonnya dengan amal ketaatan. Semua ini menunjukkan bahwa dunia ini hanyalah ladang, tempat bercocok tanam untuk kehidupan akhirat. Sebagaimana kata ahli ilmu,

الدنيا مزرعة للاخرة

“Dunia adalah ladang akhirat.”

Hendaknya seorang muslim yang memiliki akal senantiasa berpikir, jangan seperti binatang ternak yang tidak memahami apa yang dia inginkan. Bahkan, kondisi binatang ternak itu lebih baik dibandingkan manusia. Karena binatang ternak tidaklah membahayakan kita, kecuali jika kita menyakiti dan mengganggunya. Binatang ternak juga tidak memiliki surga atau neraka, dan mereka diciptakan di dunia ini untuk berbagai maslahat di dunia. Manusia bisa menungganginya, memanfaatkannya untuk membawa barang-barang, atau dimanfaatkan daging dan susunya. Mereka tidak dibebani dengan berbagai kewajiban syariat.

Hendaklah manusia, yang memanfaatkan berbagai fasilitas dan perhiasan dunia ini, memperbaiki amalnya. Sehingga bermanfaat untuk dirinya, baik untuk kehidupan saat ini, atau kehidupan di masa mendatang.

***

Diselesaikan ba’da isya, Rotterdam NL 5 Ramadhan 1438/1 Juni 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Referensi:

Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 105-107 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422)

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/9459-tertipu-dengan-dunia-lalai-dengan-kehidupan-akhirat.html

Kuat Olahraga, Sayangnya Tidak Kuat Shalat Shubuh

Aneh bukan? Kuat mengayuh sepeda pagi hari, namun bangun shubuh untuk shalat Shubuh, malasnya bukan main.

Ingat … Meninggalkan satu shalat saja seperti shalat shubuh, sangat bahaya. Karena meninggalkan shalat saja dihukumi kufur.

Seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq rahimahullah berkata,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ

Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” (HR. Tirmidzi, no. 2622. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).

Lihatlah orang yang berat shalat Shubuh disebut munafik.

@ DS, Panggang, Gunungkidul, 28 Safar 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/14910-kuat-olahraga-sayangnya-tidak-kuat-shalat-shubuh.html

Sosmedmu, Surga dan Nerakamu

Di zaman ini, kehidupan manusia hampir tidak pernah lepas dari sosial media (sosmed). Hidup tanpa sosmed di dunia yang cangggih ini bagaikan makan sayur tanpa garam. Keakraban dengan sosmed inilah yang mendorong seseorang selalu memperbaharui status di akun yang mereka punya, untuk setiap keadaan dan peristiwa yang dialami, dibagikannya pada orang seluruh dunia melalui sosmed.

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa ketenaran sosmed di zaman kita ini telah di kabarkan oleh hamba Allah yang paling benar ucapannya, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengabarkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad, bahwasanya diantara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah dzuhurul qalam (tersebarnya pena/tulisan). Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pena tersebut adalah tersebarnya tulisan-tulisan di media komunikasi (sosmed) secara masif. Mari renungkan!

Perkataan Rasul sekitar 15 abad yang lalu telah terbukti, dimana sosmed kini menjamur dan menghabitat pada sebagian besar penduduk dunia. Maka sepantasnya bagi setiap muslim yang mau berpikir dan merenungkan faidah dari hadist tersebut akan merasakan bertambahnya keimanan dalam dadanya.

Betapa tidak, ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang sosmed dan itu terbukti di zaman ini, maka benar pula sabda Beliau mengenai adanya siksa kubur, adanya fitnah kubur, adanya pertanyaan kubur, adanya hari kebangkitan dan adanya hari pembalasan, maka semua itu akan terjadi, karena setiap ucapan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS. An Najm : 1-4, yang artinya “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat tidak pula keliru, dan tidaklah yang ia ucapkan itu menurut hawa nafsunya, ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan padanya”.

Oleh karena itu, sudah semestinya dengan keberadaan sosmed ini kita menjadi lebih beriman dan taat pada Allah dan RasulNya, karena setiap yang dikabarkan oleh Allah dan RasulNya adalah benar dan pasti terjadi.

Sosmed merupakan media yang dapat membuat kita mendapat siksa kubur/nikmat kubur. Sosmed pulalah yang yang menjadi wasilah/media untuk memasukkan kita ke neraka atau ke surga, ia bagaikan pedang bermata dua. Barangsiapa tak pandai mengambil manfaatnya pastilah ia akan terbunuh karenanya. Maka dari itu, seorang muslim yang di zaman ini tidak pernah bisa lepas dengan sosmed harus mengetahui adab-adab dalam menggunakan sosmed, diantaranya :

Pertama: Mengingat bahwa islam menuntut kita membagi waktu dengan proporsional. Tidak ada yang melarang penggunaan sosmed, namun kita harus menjaga diri agar tidak terjerumus terlalu dalam ke dalam kelalaian memanfaatkan waktu.

Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa ada seorang sahabat, yang bernama Abu Darda’radhiyallahu ‘anhu yang selalu berpuasa di siang hari, dan selalu qiyamul lail dari ba’da isya’ hingga menjelang subuh, kabar ini sampai pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,  maka Beliau menasihatinya,

“Sesungguhnya bagi dirimu, keluargamu dan tubuhmu ada hak atasmu yang harus engkau penuhi, maka berikanlah masing-masing pemilik hak itu haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Itulah nasihat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Darda’radhiyallahu ‘anhu yang kerajinan ibadah. Lalu bagaimanakah kiranya nasihat Beliau pada kita yang kerajinan berinteraksi dengan gadget kita? Jika qiyamul lail seperti Abu Darda’ saja tidak bisa melegitimasi penelantaran hak, maka apalagi dengan kesibukan berinteraksi dengan gadget?

Dari Abu Barzah Al-Aslami, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Wahai saudaraku, tak mengapa kita mempunyai beberapa grup dalam suatu akun sosmed, asalkan kita pastikan ada manfaatnya. Namun jika grup-grup tersebut hanya berisi komen-komen tertawa, emoticon, dan jempol belaka, atau bahkan cenderung hal-hal haram lain, maka delete segera grup tersebut. Masih ingatkah kita akan hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , dia berkata: “Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

‘Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya’.” (Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi).

Salah satu tanda Allah berpaling dari kita adalah Allah biarkan kita sibuk mengurusi hal-hal yang tidak bermanfaat untuk kita. Kita tidak diberi taufiq dan hidayah untuk melakukan kebaikan.

Terdapat suatu kisah inspiratif, suatu hari Imam Malik ditanya, “Berapa umurmu wahai Imam?”. Imam Malik pun menjawab dengan tegas, “uruslah dirimu sendiri!”. Lihat bagaimanakah kesungguhan Imam Malik dalam menjaga waktu. Beliau tidak mau menjawab pertanyaan yang tidak ada manfaat akhiratnya, tidak mengandung ilmu.

Dan kisah ini juga mengajarkan pada kita untuk tidak over kepo terhadap kehidupan orang lain. Masih banyak aib kita yang perlu diperbaiki, masih banyak kitab yang belum kita pelajari. Bagi seorang muslim, waktu itu sangatlah mahal, sehingga muslim yang baik keislamannya akan menginggalkan kegiatan di sosmed yang hanya sekedar like dan dislike, tanpa menebar faedah dan kebaikan. Maka mari kita bagi waktu kita dengan bijak, agar hisab Allah pada waktu kita lebih ringan.

Kedua: Menanamkan kuat-kuat dibenak kita bahwa setiap postingan, komen, copas, dan share kita di sosmed akan dihisab, semuanya dan tak ada yang terluput olehNya! Karena Allah mempunyai malaikat yang ditugaskan untuk selalu mencatat setiap perbuatan kita. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Qaf : 18

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّالَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

 “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.

Kontrol jari kita agar tidak terlalu mudah memposting, berkomentar, copy-paste, dan menshare, dan diam adalah salah satu cara terampuh untuk mengontrolnya.  Karena jari di dunia sosmed bagaikan lisan di dunia nyata.

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang muslim yang baik adalah yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang yang benar-benar berhijrah adalah yang meninggalkan segala perkara yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari).

Wahai saudaraku, ingat! Ini zaman ynag penuh fitnah, semakin banyak komen, maka semakin lama hisab kita di akhirat kelak. Dan semakin banyak aktif tanpa manfaat, maka akan semakin banyak pertanyaan Allah pada kita. Karena, di sosmed tidak ada yang gratisan, walau online pake WiFi atau bonus paket internet. Semakin banyak teman yang kita yang menerima berbagai bentuk tulisan kita di sosmed, dan tulisan tersebut adalah tulisan yang salah, maka kelak semua teman kita akan menyalahkan kita ketika di akhirat.

Ketiga: Ketika kita akan masuk dunia sosmed, maka jangan lupa pasang niat. Niatkan semua karena Allah, niatkan untuk menjalin tali silaturahmi, niatkan untuk berbagi faedah yang disampaikan oleh para ustadz.

Kaidah fikih mengatakan,

الوَسِيْلَةُ لَهَا أَحْكَامُ المَقَاصِدِ

“Hukum sarana itu tergantung pada tujuannya.”

Jika tujuan menggunakan sosmed adalah untuk menebar faidah dan berdakwah, maka penggunaan sosmed yang semacam ini akan berpahala.

Akan tetapi jika penggunaan sosmed hanya untuk ikut-ikutan, rame-ramean tanpa ada unsur taqarrub (mendekatkan diri pada Allah), tanpa ada amall sholeh, maka celakalah kita, karena semua itu kelak akan memperpanjang waktu hisab kita.

Ingat, akibat sosmed itu fatal!  Ia dapat tersebar keseluruh pelosok dunia. Wahai saudaraku, jika kita bukan merupakan da’i yang pandai berbicara didepan umat, maka jadilah mad’u (obyek dakwah) yang bersemangat membagikan faidah-faidah dari para ustadz melalui sosmed.

Mari kita gunakan segala kemampuan yang kita miliki untuk berbuat kebaikan semaksimal mungkin, karena Allah memudahkan hambaNya beramal sebagaimana Allah mengaruniakan rizki pada hambaNya, dengan cara yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk selalu mengoreksi niat kita, karena Allah atau tidak. Karena setiap perbuatan itu tergantung dari niatnya. Jika niat kita ikhlas, maka sosmed akan menjadi lumbung pahala buat kita, namun jika niat kita salah, maka bersiaplah dengan hisabNya.

Keempat: Ingat kaidah para ulama fiqh dalam berbicara! Hak berbicara itu ada ketika kita telah memenuhi 3 syarat yang ulama sampaikan, yaitu :

Syarat pertama: Niat harus karena Allah, sebagaimana hadits yang telah masyhur di tengah-tengah kita, bahwa innamal ‘amalu bin niyati…. (semua amal tergantung pada niatnya).

Syarat kedua: Menyampaikan informasi dengan benar, baik dari sisi kandungan isinya, maupun dari cara penyampaiannya. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Al-Israa’ : 53

وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا۟ الَّتِى هِىَ أَحْسَنُ  ۚ  إِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ  ۚ  إِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْإِنسٰنِ عَدُوًّا مُّبِينًا

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.

Karena di sosmed kita tidak dapat memberikan intonasi bicara, ekspresi kita pun terbatas. Tidak setiap ekspresi tergambarkan oleh emoticon dalam sosmed, sehingga hal ini sangat rawan terjadi perselisihan dan salah paham.

Ketika kita akan membicarakan hal yang sensitif, lebih baik gunakan komunikasi langsung, dan seandainya terpaksa menggunakan sosmed, maka sampaikan dengan adab yang benar dan perkataan terbaik.

Diantaranya memulai dengan basmalah, shalawat pada Rasul, lalu salam, karena orang yang melakukan ini berarti ia mempunyai niatan baik ketika ingin mengajak kita berbicara. Sehingga kita pun harus pasang hati untuk selalu berhusnudzon atas setiap berita yang akan disampaikan.

Oleh karena itu, selayaknya seseorang mempelajari ilmu berkomunikasi ala Nabi sebelum ia menggunakan sosmed. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Ali Imran : 159

فَبِمَا    رَحْمَةٍ    مِّنَ    اللَّهِ    لِنتَ    لَهُمْ    ۖ    وَلَوْ    كُنتَ    فَظًّا    غَلِيظَ    الْقَلْبِ    لَانفَضُّوا۟    مِنْ    حَوْلِكَ    ۖ    فَاعْفُ    عَنْهُمْ    وَاسْتَغْفِرْ    لَهُمْ    وَشَاوِرْهُمْ    فِى    الْأَمْرِ    ۖ    فَإِذَا    عَزَمْتَ    فَتَوَكَّلْ    عَلَى    اللَّهِ    ۚ    إِنَّ    اللَّهَ    يُحِبُّ    الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Maka jangan sampai dakwah ini tercemar gara-gara sikap keras dan kasar dari kita. Selain itu, juga harus benar dari segi kandungannya, yakni dengan mengcrosscheck setiap informasi yang didapat, jangan asal kopas dan share.

Karena setiap orang yang membaca berita akan mempunyai beberapa pendapat, dan pendapat ini lah yang akan mendatangkan perpecahan ketika suatu berita disebarkan dengan ada tambah-tambahan yang keliru karena bersal dari  pendapat penulis semata.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Al Hujurat : 6

يٰٓأَيُّهَا    الَّذِينَ    ءَامَنُوٓا۟    إِن    جَآءَكُمْ    فَاسِقٌۢ    بِنَبَإٍ    فَتَبَيَّنُوٓا۟    أَن    تُصِيبُوا۟    قَوْمًۢا    بِجَهٰلَةٍ    فَتُصْبِحُوا۟    عَلَىٰ    مَا    فَعَلْتُمْ    نٰدِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. “

Syaikh Sholeh Al-Ruhaili mengatakan, terdapat 2 makna “fasik” dalam ayat diatas, yaitu :

  1. sumber berita/orang yang menyebarkan beritanya yang fasik, dan
  2. beritanya yang disampaikan merupakan berita kefasikan, dimana berita kefasikan ini bisa dibawa oleh orang soleh sekalipun, karena orang sholeh pun manusia, tempat salah dan lupa.

Bisa saja seseorang itu terlupa akan nama tokoh dalam berita tersebut, sehingga ia salah dalam menyebutkan namanya. Bisa pula orang yang menyampaikan berita pada kita benar-benar orang yang terpercaya dari segi kekuatan ingatan dan kesholehan, namun bukankah masih mungkin terjadi kefasikan dari penyampai berita sebelumnya?

Tidak semua orang sholeh itu selektif dalam menerima berita, maka tidak ada alasan untuk tidak crosscheck berita! Namun ketika kita tidak bisa melakukannya, maka berita tersebut jangan dipercaya, jangan disebar, cukup dijadikan pengetahuan angin lalu. Karena sekali lagi, klarifikasi di dunia sosmed itu berat! Belum tentu orang yang telah membaca berita fasik tersebut membaca pula hasil klarifikasinya.

Syarat ketiga: Efek yang ditimbulkan dari disampaikannya berita tersebut adalah efek yang positif, atau bisa menekan kemudhorotan saat itu. Ingat! Walaupun berita tersebut benar, ketika disampaikan pada kondisi yang salah maka akan memperburuk keadaan. Kaidah fikih mengatakan “Apabila suatu kerusakan berhadapan dengan suatu kemaslahatan, maka secara umum, menolak kerusakan itu lebih didahulukan (kecuali jika kerusakan itu tidak dominan). Karena sesungguhnya perhatian pembuat syari’at terhadap perkara yang dilarang itu lebih keras daripada terhadap perkara yang diperintahkan. (Al-Asybaah wan Nazhaa`ir).

Kelima: Mampu membedakan ranah publik dan ranah pribadi.

Keenam: Ingat! Tidak semua yang kita dengar kita sampaikan. Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, dari Hafshah radhiyallahu ‘anha :

كَفَى بِالْمَرْء كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila menceritakan segala hal yang ia dengar.” [HR. Muslim].

Ketujuh: Hindari ghibah dan fitnah di sosmed. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallau ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda mengenai definisi ghibah dan dusta/buhtan/fitnah. Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menjelaskan bahwa ghibah adalah menceritakan keburukan saudaramu, meskipun keburukan/aib itu memang benar adanya. Sedangkan dusta/buhtan/fitnah adalah menceritakan keburukan/aib yang tidak ada pada saudaramu. Maka perhatikan lisan kita wahai saudaraku, karena bahaya ghibah ini luar biasa.

Kelak di akhirat Allah Ta’ala akan menyediakan bangkai saudara kita yang kita ghibahi, sebanyak apa kita mengghibahi seseorang maka sebanyak itulah bangkai yang Allah sajikan pada kita untuk kita makan sampai habis. Bukan menjadi masalah ketika yang disajikan banyak itu adalah makanan kesukaan kita, namun ini bangkai wahai saudaraku.

Bangkai yang telah berbau busuk dan berbelatung, dan kita harus menghabiskannya, dan mungkin bisa lebih dari satu. Na’udzubillahi mindzalik. Saudaraku, bukankah masih banyak kitab yang belum kita baca? Bukankah masih banyak hukum Islam yang belum kita ketahui? Bukankah sholat kita masih sering tidak khusyu’?

Lalu mengapa kita berani membuang waktu kita hanya untuk mencar-cari keselahan dan aib saudara kita? Ingat! Kita pun juga punya aib, dan seandainya tidak karena hidayah Allah pada kita, niscaya kita pun juga akan memiliki aib yang kita benci dari saudara kita tersebut. Allahu waliyyut taufiq.

Maka mari jadikan sosmed kita sebagai lumbung pahala, jadikan sosmed kita sarana untuk mempermudah kita meraih surgaNya. Yassarallahu lanaa, baarakallahu ‘alaynaa.

Washallallaahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wattabi’in.

————————————————–

Referensi :

  1. Aktualisasi Akhlaq Muslim, Ummu dan Abu Ihsan Al-Atsari
  2. Mandzumah Qawa’idh Fiqhiyyah, Abdurrahman bin Naashir bin Abdullah As-Sa’di
  3. Rekaman Kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafidzahullahu ta’ala

***

Penulis : Dian Pratiwi

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/8790-sosmedmu-surga-dan-nerakamu.html

Membuat orang lain bahagia

Coba bayangkan jika kita bisa

mengangkat kesulitan orang yang kesusahan …

mengenyangkan yang lapar …

melepaskan orang yang terlilit utang …

membuat orang lain bahagia,

keutamaannya, itu lebih baik dari melakukan ibadah i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.

Sungguh ini adalah amalan yang mulia.

Keutamaan orang yang beri kebahagiaan pada orang lain dan mengangkat kesulitan dari orang lain disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

Lihatlah saudaraku, bagaimana sampai membahagiakan orang lain dan melepaskan kesulitan mereka lebih baik dari i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan lamanya.

Al Hasan Al Bashri pernah mengutus sebagian muridnya untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Beliau mengatakan pada murid-muridnya tersebut, “Hampirilah Tsabit Al Banani, bawa dia bersama kalian.” Ketika Tsabit didatangi, ia berkata, “Maaf, aku sedang i’tikaf.” Murid-muridnya lantas kembali mendatangi Al Hasan Al Bashri, lantas mereka mengabarinya. Kemudian Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai A’masy, tahukah engkau bahwa bila engkau berjalan menolong saudaramu yang butuh pertolongan itu lebih baik daripada haji setelah haji?”

Lalu mereka pun kembali pada Tsabit dan berkata seperti itu. Tsabit pun meninggalkan i’tikaf dan mengikuti murid-murid Al Hasan Al Bashri untuk memberikan pertolongan pada orang lain.[1]

Rajinlah membuat orang lain bahagia dan bantulah kesusahan mereka. Hanya Allah yang memberi taufik.


[1] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 294.

Diselesaikan di malam hari di Panggang, Gunungkidul, 27 Jumadats Tsaniyyah 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/7369-membuat-orang-lain-bahagia.html

Berdoa itu wajib?

Dosa karena Tidak Mau Doa

Benarkah klo tidak berdoa itu berdosa? Berarti berdoa itu wajib ya..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak ayat dalam al-Quran yang memerintahkan kita untuk berdoa kepada Allah. diantaranya, Allah berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. al-A’raf: 55)

Bahkan di ayat yang lain, Allah menyebut orang yang tidak mau berdoa sebagai orang sombong. Allah berfiirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang bersikap sombong dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir: 60)

Diantara makna “bersikap sombong dari menyembah-Ku” adalah tidak mau berdoa kepada-Ku.

Artinya, orang yang tidak mau berdoa kepada Allah akan diancam dengan neraka. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 5/296)

Dalam hadis dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

Siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan marah kepadanya. (HR. Turmudzi 3700 dan dishahihkan al-Albani)

Berdasarkan beberapa dalil di atas, hukum doa dapat dirinci menjadi 2:

[1] Dilihat dari doa secara keseluruhan, hukumnya wajib. Artinya, dalam hidup manusia, dia wajib berdoa kepada Allah. jika tidak pernah berdoa sepanjang hidupnya maka dia berdosa.

[2] Dilihat dari satuan doa

Sementara mengenai bentuk doa dan jenis doa, ini hukumnya anjuran dan tidak wajib. Semakin banyak berdoa semakin baik. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 19334)

Dinyatakan dalam Sya’ir,

الله يغضب إن تركت سؤاله وبني آدم حين يسأل يغضب

“Allah murka ketika engkau tidak berdoa kepada-Nya. Dan Bani Adam murka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/125)

Membangun Ketergantungan kepada Allah dengan Doa

Termasuk diantara kebiasaan yang baik adalah membangun ketergantungan kepada Allah. salah satu diantaranya adalah banyak berdoa kepada Allah. sekalipn untuk hal yang kita anggap kecil.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ

Mintalah semua hajat kalian kepada Rab kalian. Sampaipun minta (pertolongan) ketika kalung sandalnya putus.  (HR. Turmudzi 3962, Ibnu Hibban 866)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/28663-berdoa-itu-wajib.html

Amal Jelek, Beban Tanggungan Manusia Di Dunia dan Akherat

AMAL JELEK, BEBAN TANGGUNGAN MANUSIA DI DUNIA DAN AKHERAT

Marilah kita sekali lagi mengingat-ingat kewajiban kita di dunia ini untuk beramal shaleh dan menjauhi segala larangan Allâh Azza wa Jalla. Itulah wujud ketakwaan seorang hamba yang nantinya akan mengantarkan dirinya kepada keselamatan biidznillah. Mengapa perlu ditekankan persoalan ini? Sebab, belakangan ini banyak peristiwa yang menyita perhatian umat –padahal tidak penting bagi dunia maupun agama mereka- sehingga membuat mereka lalai dari kewajiban ini.

Atas dasar itu, marilah kita merenungi firman Allâh Azza wa Jalla berikut ini:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya) [Fushshilat/41:46]

Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa amal shaleh yang dikerjakan oleh seorang manusia yaitu keimanan dan ketaatannya kepada Allâh Azza wa Jalla , pada hakekatnya orang yang melakukannyalah yang memperoleh manfaat positifnya secara langsung, bukan orang lain. Selain mendapatkan pahala dan meningkatkan keimanan, amal shaleh itu juga kian mendekatkan dirinya kepada Rabbnya, jalan menguatkan penghambaan dirinya kepada-Nya dan menjadi perbekalan terbaik di akherat kelak saat kekayaan dan keturunan tidak berguna sama sekali untuk menyelamatkan seseorang dari siksa Allâh Azza wa Jalla yang sangat pedih. Dengan itu, ia akan memperoleh balasan berupa surga dan selamat dari neraka.

Imam Ulama tafsir, Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan bahwa maksudnya adalah orang yang menjalankan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla di dunia dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka sebenarnya ia sedang berbuat baik bagi dirinya sendiri. Sebab dialah yang mendapatkan balasan, sehingga di akherat nanti berhak mendapatkan surga dari Allâh Azza wa Jalla dan selamat dari neraka.[1]

Hal ini juga telah difirmankan Allâh Azza wa Jalla dalam ayat-ayat lain. Di antaranya:

وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

Dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan) [ar-Rûm/30:44]

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ

Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri [an-Naml/27:40]

Amal shaleh yang tertera dalam ayat, disyaratkan harus sejalan dengan ketentuan dan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tidak setiap amalan merupakan amal shaleh. Demikian pula amal-amal yang dianggap baik oleh sebagian orang (kelompok, golongan) dan kemudian dikait-kaitkan dengan ajaran Islam, padahal tidak ada panduan khusus sama sekali dalam Islam, ini pun bukan amal shaleh. Akan tetapi merupakan perkara baru dalam agama yang lazim disebut dengan bid’ah. Tentang ini, Syaikh as-Sa’di rahimahullah menekankan, “(Yang dimaksud amal shaleh) yaitu amal yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya“.[2]


Ketepatan amal dengan perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya tidak bisa ditawar-tawar. Sebab, hal itu berpengaruh kuat dalam diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang. Amal ibadah yang diterima mesti memenuhi dua syarat: ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla dan mengikuti panduan dan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Jika amal shaleh akan berguna bagi pelakunya, sebaliknya amal perbuatan jelek pun pelakunya lah yang pertama dan utama menanggung beban tindakan buruknya itu. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [an-Nisâ /4:111]

Pada ayat yang lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ

Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu [ar-Rûm/30:44]

Balasan buruk tidak hanya dirasakan di akherat kelak, tempat yang Allah jadikan sebagai tempat membalas seluruh amalan para hamba, namun juga menimpa pelakunya di dunia. Ini menyangkut seluruh perbuatan dosa, baik dosa besar maupun kecil. Barang siapa berbuat keburukan (dosa), maka dirinyalah yang memikul hukuman dari kesalahan dan dosanya di dunia dan akherat , bukan tanggungan orang lain.

Allâh Azza wa Jalla tidak merugi bila seluruh manusia tidak taat kepada-Nya. Begitu pula, sebaliknya, keimanan, ketaatan dan ibadah seluruh umat manusia tidak memberi manfaat sedikit pun bagi Allah Yang Maha Kaya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad). Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur [Ali ‘Imraan/3:144]

Pada hadits qudsi, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا عِبَادِيْ إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّيْ فَتَضُرُّوْنِيْ لَنْ وَتَبْلُغُوا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْْنِيْ

Wahai hamba-Ku kamu tidak akan sanggup membahayakan-Ku dan tidak sanggup memberi manfaat kepada-Ku [HR. Muslim]

Jelas sudah, kekuasaan dan keagungan Allâh Azza wa Jalla tidak mengalami penyusutan akibat ketidakpatuhan, kekufuran maupun perbuatan maksiat manusia kepada Allâh Azza wa Jalla . Akan tetapi, Allâh Azza wa Jalla mencintai hamba-hamba-Nya yang taat dan bertakwa kepada-Nya dan benci bila mereka berbuat maksiat dan kekufuran.[3]

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

Baca Juga  Mengkaji dan Menghayati Nama-Nama Serta Sifat-Sifat Allâh Tabaraka Wa Ta’ala
Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu [az-Zumar/39:7]

Dari sini bisa diketahui kesalahan orang-orang yang enggan beribadah dan taat kepada Allah dengan berbagai dalih dan alasan. Ketika rezeki tetap seret, lowongan pekerjaan tak juga kunjung datang, warung masih saja sepi pembeli, usaha tidak maju-maju, akhirnya shalat lima waktu ditinggalkan. Ia berdalih, shalat nggak shalat sama saja, rezeki tetap saja seret. Naûdzubillâh min dzâlik!

Allâh Ta’ala Yang Maha Adil, menafikan sifat kezhaliman dari dzat-Nya baik dalam skala kecil dan besar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّمٍ لِلْعَبِيْدِ

Dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya)

Sifat kezhaliman, siapapun yang melakukannya adalah tercela. Karena merupakan tindakan yang tidak pada tempatnya dan mengandung unsur melampaui batas dan penganiayaan terhadap pihak lain. Atas dasar itulah, Allâh Azza wa Jalla tidak menyiksa seseorang kecuali dengan dosa (yang telah ia perbuat) di dunia ini atau karena ada faktor yang menyebabkan seseorang pantas menerima siksaan-Nya, tidak membebaninya dengan kesalahan dan dosa orang lain. Dan Allâh Azza wa Jalla tidak menyiksa seseorang pun kecuali telah ditegakkan hujjah di hadapannya dan diutus para rasul kepadanya.[4]

Maha Suci Allâh Azza wa Jalla , Rabb yang Maha Agung yang berhak diibadahi, diagungkan dan dibesarkan. Sebab, kalau berkehendak, maka Allâh Azza wa Jalla bisa saja berbuat zhalim yang tidak akan ada seorang pun yang dapat menanghalanginya. Namun, Allâh Azza wa Jalla menyatakan dzat-Nya bersih dari sifat yang sangat tidak terpuji ini. Maka kewajiban seorang Muslim mensucikan dzat-Nya dari sifat kezhaliman dan meyakini bahwa Allâh adalah Dzat Yang Maha Bijak lagi Maha Adil dalam perkara yang Dia perintahkan dan larang [5]. Dan sekaligus selalu berusaha menghindari perbuatan kezhaliman.

Pelajaran Dari Ayat

Perintah untuk berbuat baik
Amal shaleh bermanfaat bagi para pelakunya
Perbuatan buruk menjadi tanggungan pelakunya
Keharusan menahan diri dan meninggalkan buruk (maksiat)
Seseorang tidak menanggung dosa orang lain
Allâh Maha Suci dari sifat kezhaliman (Ustadz Abu Minhal)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]


Footnote
[1] Tafsir ath-Thabari 24/159
[2] At-Taisîr hlm. 822
[3] Qawâid wa Fawâid minal Arba’în an-Nawawiyyah hlm. 218
[4] Silahkan lihat Tafsir ath-Thabari 24/159, Tafsir Ibnu Katsir 7/185, Tafsîr Sa’di hlm. 822
[5] Qawâid wa Fawâid minal Arba’în an-Nawawiyyah hlm. 215
Referensi : https://almanhaj.or.id/3910-amal-jelek-beban-tanggungan-manusia-di-dunia-dan-akherat.html

Penghina Nabi-Nya Pasti Binasa

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menegaskan bahwa Allah akan membela kehormatan Nabi-Nya ketika ada banyak musuh islam yang berusaha menghina dan melecehkan beliau. Berikut diantaranya,

Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (QS. al-Ahzab: 57)

Allah juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (QS. al-Mujadilah: 20).

Surat al-Kautsar & Perjalanan Penghina Nabi

Di akhir surat al-Kautsar, Allah menegaskan,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya setiap orang yang membencimu, dialah orang yang terputus dari segala bentuk kebaikan.” (QS. al-Kautsar: 3)

Ayat ini, meskipun turun berkenaan dengan orang kafir Quraisy yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, al-Ash bin Wail, Uqbah bin Abi Mu’ith, namun hukumnya berlaku umum, bagi setiap manusia yang melecehkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Mufassir (bapak ahli tafsir), at-Thabari mengatakan:

إن الله تعالى ذكره أخبره أن مبغض رسول الله صلّى الله عليه وسلم هو الأقل الأذل المنقطع عقبه، فذلك صفة كل من أبغضه من الناس، وإن كانت الآية نزلت في شخص معين

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dialah orang yang lemah, hina, yang terputus keturunannya. Itu merupakan sifat bagi setiap manusia yang membenci beliau. Meskipun ayat ini turun berkenan dengan orang tertentu.” (Tafsir at-Thabari, 12:726)

Perlindungan Allah ini menjadi tanda kenabian beliau, meskipun beliau sudah meninggal. Seolah telah menjadi sunatullah, setiap orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti celaka dunia akhirat. Dzat Sang Kuasa, tidak rela ketika utusan-Nya dilecehkan para musuhnya.

Berikut beberapa bukti sejarah:

Pertama, semua orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan kafir Quraisy, mati dalam kondisi mengenaskan. Abu Lahab mati dalam keadaan mengidap penyakit Adasah, badannya mengeluarkan bau yang sangat busuk. Sampai tidak ada satupun keluarganya yang mau mendekatinya. Dia dimandikan dengan disiram air dari jauh. Dan ketika dikuburkan, orang-orang melempari tanah dan batu ke lubang kuburnya dari jauh.

Utbah bin Abu Lahab pernah menarik baju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian meludahi wajah beliau yang mulia. Akhirnnya di suatu perjalanan, kepalanya diterkam singa, padahal dia sudah berlindung di tengah kerumunan rombongannya.

Abu Jahal dipenggal kepalanya oleh Ibnu Masud di kerumunan bangkai orang kafir yang berserakan ketika perang badar, setelah dia dijatuhkan dengan serangan putra Afra dan Muadz bin Amr bin Jamuh.

Kisah-kisah lain semacam ini, banyak disebutkan di buku-buku sirah.

Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim surat ajakan untuk masuk Islam kepada dua raja yang menguasai dunia ketika itu. Kaisar (raja Romawi) dan Kisra (raja Persia). Keduanya tidak menerima ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dengan sikap yang berbeda. Raja Romawi menghormati surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memuliakan orang yang membawa surat itu.

Sebagai balasannya, kerajaannya tetap dijaga. Bahkan sampai abad 15, kerajaan Romawi masih ada.

Berbeda dengan raja Persia. Dia merobek-robek surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hasilnya, kerajaannya runtuh di zaman Umar bin Khattab. Betapa pendek usianya.

Ketiga, dalam banyak kesempatan, ketika kaum muslimin hendak menaklukkan musuhnya, mereka baru berhasil, setelah ada diantara musuh mereka yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diceritakan Syaikhul Islam:

وقد كان المسلمون إذا حاصروا أهل حصن واستعصى عليهم ، ثم سمعوهم يقعون في النبي صلى اللّه عليه وسلَّم ويسبونه ، يستبشرون بقرب الفتح ، ثم ما هو إلا وقت يسير ، ويأتي الله تعالى بالفتح من عنده انتقاماً لرسوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dulu ada sekelompok kaum muslimin yang mengepung benteng musuh (orang kafir) dan berusaha menyerang mereka. Sampai mereka mendengar ada sebagian musuh yang mencela kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghina beliau. Seketika itu, kaum muslimin langsung bergembira dengan dekatnya kemenangan yang akan segera datang. Kemudian hanya dalam waktu yang singkat, Allah memberikan kemenangan, karena murka-Nya untuk membela utusan-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (ash-Sharim al-Maslul, hlm. 116).

Tidak Hanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Janji ini tidak hanya beliau berikan untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam semata. Bahkan, Allah memberi janji inni untuk semua nabi dan rasul yang menjadi utusan-Nya. Allah berfirman,

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

Sungguh beberapa rasul sebelum kamu telah diperolok-olok, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) karena penghinaan mereka. (QS. al-An’am: 10)

Jika kita tidak bisa bertindak apapun untuk membalas mereka secara langsung, jangan lupakan dalam doa anda, sebagai pembelaan untuk Nabi kita tercinta.

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/24223-penghina-nabi-nya-pasti-binasa.html

Zuhudlah, Niscaya Engkau Dicintai Allah Dan Dicintai Manusia

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

عَنْ  أَبِـي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : أَتَىَ النَّبِيَّ   صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ  ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ! دُلَّنِـيْ عَلَـىٰ عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس ، يُـحِبُّكَ النَّاسُ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ

Dari Abul ‘Abbâs Sahl bin Sa’d as-Sa’idi Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullâh! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selainnya dengan beberapa sanad yang hasan]

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini hasan diriwayatkan oleh:

Ibnu Mâjah no. 4102, dan ini lafazhnya.
Ibnu Hibbân dalam Raudhatul ‘Uqalâhlm. 128 Ath-Thabarâni dalam al-Mu’jamul Kabîr no. 5972 Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ VII/155, no. 9991 Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimân no. 10043 Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil III/458 Al-‘Uqaili dalam adh-Dhu’afâ II/357
Al-Hâkim IV/313
Hadits ini dihasankan oleh Imam an-Nawawi, al-Hâfidz Ibnu Hajar al-Asqalâni, al-Irâqi, al-Haitsami, dan Syaikh al-Albâni rahimahumullâh dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah no. 944 dan Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr no. 922

SYARAH HADITS
Hadits ini mengandung dua wasiat agung :

Pertama, zuhud terhadap dunia. Zuhud ini bisa menguncang kecintaan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hambaNya.

Kedua, zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Zuhud ini bisa menyebabkan seseorang dicintai manusia.

Pengertian Zuhud
Zuhud terhadap sesuatu maknanya berpaling darinya karena menganggapnya remeh, tidak bernilai, atau tidak meminatinya. Para generasi Salaf dan generasi sesudah mereka banyak berbicara tentang makna zuhud terhadap dunia dengan redaksi yang beragam.

Abu Muslim al-Khaulâni rahimahullah berkata, “Zuhud terhadap dunia tidak dengan mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Nnamun zuhud terhadap dunia ialah engkau lebih yakin kepada apa yang ada di tangan Allah Azza wa Jalla daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika engkau diuji dengan musibah maka engkau lebih senang dengan pahalanya hingga engkau berharap seandainya musibah tersebut tetap terjadi padamu.”[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa zuhud yang sesuai dengan syari’at adalah seseorang meninggalkan segala yang tidak bermanfaat di akhiratnya dan hatinya yakin serta percaya terhadap apa yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla .[2]

Jadi, zuhud ditafsirkan dengan tiga hal yang semuanya merupakan perbuatan hati. Oleh karena itu, Abu Sulaiman rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau bersaksi untuk seseorang bahwa ia orang zuhud karena zuhud itu letaknya di hati.”[3]

Tiga hal yang merupakan penafsiran zuhud yaitu :

Pertama, hendaknya seorang hamba lebih yakin terhadap apa yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Sikap ini muncul dari keyakinannya yang kuat dan lurus, karena Allah Azza wa Jalla menjamin rezeki seluruh hamba-Nya dan menanggungnya, seperti yang Allah Azza wa Jalla  firmankan,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfûzh).” [Hûd/11:6]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal [an-Nahl/16:96]

Abu Hâzim rahimahullah pernah ditanya, “Apa hartamu?” Ia menjawab, “Aku mempunyai dua harta yang menyebabkan aku tidak takut miskin; Pertama, percaya sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla dan Kedua, tidak mempunyai harapan terhadap apa yang ada di tangan manusia.”

Al-Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah berkata, “Prinsip zuhud ialah ridha kepada Allah Azza wa Jalla .” Ia juga mengatakan, “Qanâ’ah adalah zuhud dan itulah kekayaan (merasa cukup).” [4]

Barangsiapa mewujudkan keyakinannya, maka ia percaya sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam segala urusannya, ridha dengan pengaturan-Nya dan tidak menggantungkan harapan dan kekhawatirannya pada makhluk. Ini semua bisa mencegahnya dari usaha menggapai dunia dengan cara-cara yang ilegal. Orang yang seperti inilah orang yang benar-benar zuhud terhadap dunia dan ia adalah manusia terkaya, kendati ia tidak mempunyai apapun.[5]

 Kedua, jika seorang hamba mendapatkan musibah pada dunianya, misalnya hartanya ludes, anaknya meninggal dunia, dan lain sebagainya, maka ia lebih senang kepada pahala musibah tersebut daripada dunianya yang hilang itu kembali lagi. Sikap seperti ini muncul karena keyakinannya yang penuh.[6]

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam doanya,

اَللّٰــهُـــمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَـحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُـهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا…

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat kepada-Mu; Anugerahkan kepada kami ketaatan kepada-Mu yang akan menghantarkan kami ke surga-Mu; Dan anugerahkan kepada kami keyakinan yang membuat kami merasa ringan atas seluruh musibah dunia ini. [7]

Allah Azza wa Jalla berfirman, yang maknanya : Setiap bencana yang menimpa di bumi dan menimpa dirimu, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfûzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kau tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” [al-Hadîd/57:22-23]

 Ketiga, pujian dan celaan dari orang tidak berpengaruh bagi hamba yang zuhud selama dia dalam kebenaran. Ini juga pertanda zuhudnya terhadap dunia, menganggapnya rendah dan tidak berambisi kepadanya. Karena orang yang mengagungkan dunia, maka ia akan mencintai pujian dan membenci celaan. Ada kemungkinan, sikap mencintai pujian dan membenci celaan ini mendorongnya meninggalkan banyak kebenaran karena khawatir dicela serta mengerjakan berbagai perbuatan bathil karena mengharapkan pujian. Jadi, orang yang menilai pujian dan celaan manusia baginya itu sama selama dia dalam kebenaran, menunjukkan kedudukan seluruh makhluk telah runtuh dari hatinya. Hatinya penuh dengan kecintaan kepada kebenaran, dan ridha kepada Rabb-nya. Allah Azza wa Jalla memuji orang-orang yang berjihad di jalan Allah Azza wa Jalla dan tidak takut celaan. [8]

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela. [al-Mâidah/5:54]

Bertolak dari definisi bahwa orang yang zuhud sejati ialah orang yang tidak memuji dirinya dan tidak pula mengagungkannya, Yûsuf bin al-Asbâth t berkata, “Zuhud terhadap kekuasaan itu lebih berat daripada zuhud terhadap dunia.”[9]

Jadi, barangsiapa menghilangkan ambisi untuk berkuasa di dunia ini dari dalam hatinya dan menghilangkan perasaan lebih hebat dari orang lain, sungguh, dia orang yang zuhud sejati dan dialah orang yang pemuji dan pencelanya dalam kebenaran itu sama saja.

 ZUHUD YANG BID’AH
Zuhud yang bid’ah adalah zuhud yang menyelisihi Sunnah dan tidak mendatangkan kebaikan. Ia hanya menzhalimi dan membutakan hati serta mengotori keindahan agama Islam yang diridhai Allah Azza wa Jalla ini dan membuat manusia lari menjauhi  agama Islam, menghancurkan peradabannya dan membuat umatnya takluk kepada musuh Islam. Selain itu, zuhud bid’ah ini juga menimbulkan kebodohan yang merata dan bersandar kepada selain Allah Azza wa Jalla . Berikut ini ucapan para tokoh Sufi yang mengajarkan zuhud bid’ah.

Al-Junaid berkata, “Yang lebih saya sukai bagi para pemula ialah tidak menyibukkan hatinya dengan ketiga hal ini, jika tidak, maka keadaan akan berubah: pertama: berusaha (mencari rizki), kedua: mencari hadits, dan menikah: menikah. Dan yang saya sukai dari seorang Sufi ialah hendaknya ia tidak membaca dan tidak menulis, supaya lebih konsentrasi.”[10]

Abu Sulaiman ad-Darani berkata, “Apabila seseorang mencari hadits, atau safar dalam rangka mencari rezeki, atau menikah maka ia telah  bertumpu pada dunia.”

Semua yang disebutkan di atas oleh al-Junaid dan Abu Sulaimân ad-Darani adalah menyelisihi Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka berusaha merusak Islam, mengajak orang supaya bodoh, statis, malas, mengemis serta membuka pintu zina, onani, homoseksual dan lainnya.

Telah diketahui bersama bahwa peradaban Islam tidak akan tegak kecuali dengan ilmu, mata pencaharian dan menikah.

Islam menyuruh umatnya agar menuntut ilmu agama juga ilmu dunia. Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُـلِّ مُـسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.[11]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, yang maknanya :  Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. [12]

Islam menyuruh kita untuk bekerja dan mencari nafkah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللّٰـهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَ مُ كَانَ  يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Tidaklah seseorang makan suatu makanan pun yang lebih baik daripada hasil pekerjaan (usaha) tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Dâwud Alaihissallam makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri.[13]

Dan Islam juga menyuruh umatnya untuk menikah. Rasulullah n bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian memiliki kemampuan menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan  dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya.[14]

TIDAK MENGUTAMAKAN KESENANGAN DUNIAWI
Dalam al-Qur`ân banyak didapatkan pujian bagi orang zuhud pada dunia dan mengecam cinta dunia. Allah Azza wa Jalla berfirman,


بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا﴿١٦﴾وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” [al-A’lâ/87:16-17]

Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya : Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat. [ar-Ra’d/13:26]

Allah Azza wa Jalla berfirman, yang maknanya : Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizhalimi sedikit pun. [an-Nisâ’/4:77]

Seorang Mukmin tidak boleh tertipu dengan dunia. Allah Azza wa Jalla berulang-ulang mengingatkan dalam firman-Nya agar kita tidak tertipu dengan dunia.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” [Ali ‘Imrân/3:185]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. [Fâthir/35:5]

Hadits-hadits tentang celaan terhadap dunia dan kehinaannya di sisi Allah Azza wa Jalla banyak sekali.

Diriwayatkan dari Jâbir Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar sedang manusia berada di pasar tersebut. Beliau berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinga binatang beliau bersabda, “Siapa di antara kalian yang suka membeli ini seharga satu dirham ?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau bersabda, “Apakah kalian suka jika ini menjadi milik kalian ?” Orang-orang berkata, “Demi Allah, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau bersabda, “Demi Allah, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.”[15]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللهِِ، مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هٰذِهِ – وَأَشَارَ يَـحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِـي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ ؟

Demi Allah! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian meletakkan jari-jarinya- Yahya (perawi hadits) berisyarat dengan jari telunjuknya- ke laut, maka lihatlah apa yang dibawa jari-jarinya ?”[16]

Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ؛ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَـا شَرْبَةَ مَاءٍ

Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir.[17]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ ، وَإِنَّ اللّٰـهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada bani Israil adalah karena wanita.[18]

MAKNA KECAMAN KEPADA DUNIA
Ketahuilah bahwa kecaman kepada dunia dalam al-Qur`ân dan Sunnah itu tidak tertuju kepada malam dan siang, karena Allah Azza wa Jalla menjadikannya silih berganti bagi orang yang ingin ingat dan bersyukur.

Kecaman kepada dunia juga tidak tertuju kepada tempat dunia yang tidak lain adalah bumi yang dijadikan Allah Azza wa Jalla sebagai hamparan dan tempat tinggal; Tidak pula ke gunung, laut, sungai, pertambangan, pohon, hewan-hewan dan lain sebagainya yang ada di dalamnya karena itu semua nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya.

Namun, kecaman kepada dunia tertuju kepada perbuatan-perbuatan anak keturunan Adam yang terjadi di dunia karena sebagian besar perbuatan mereka mempunyai dampak yang tidak terpuji, bahkan berdampak negatif atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti difirmankan Allah Azza wa Jalla ,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan [al-Hadîd/57:20]

DUA KELOMPOK MANUSIA DI DUNIA
Manusia di dunia terbagi menjadi dua kelompok :
Kelompok pertama, yang mengingkari keberadaan negeri lain setelah dunia ini yaitu negeri untuk memberikan balasan. Mereka itulah yang dikatakan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya, yang bermakna : Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan dunia serta tentram dengan kehidupan itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di neraka, karena apa yang telah mereka lakukan.” [Yunus: 7-8]

Ambisi mereka adalah menikmati dunia dan memanfaatkan seluruh kelezatannya sebelum mati, seperti difirmankan Allah Azza wa Jalla ,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

Dan orang-orang kafir menikmati kesenangan dunia, dan mereka makan seperti hewan makan; dan kelak nerakalah tempat tinggal bagi mereka.[Muhammad/47:12]

Kelompok kedua, yang mengakui adanya negeri Akhirat setelah kematian.

Kelompok ini bergabung ke dalam syari’at para rasul. Mereka terbagi ke dalam tiga kelompok: Pertama, orang yang menzhalimi dirinya sendiri. Kedua, orang yang pertengahan. Ketiga, orang yang berlomba dalam kebaikan atas izin Allah Azza wa Jalla .

Kelompok yang menzhalimi dirinya sendiri adalah kelompok terbanyak dan kebanyakan mereka terlena dengan bunga-bunga dunia dan perhiasannya, lalu mengambilnya dan menggunakannya tidak pada semestinya. Akibatnya, dunia menjadi ambisi terbesarnya. Karena dunialah, mereka marah, ridha, berdamai dan memusuhi. Merekalah orang-orang yang lalai, main-main, orang-orang yang mementingkan penampilan, sombong dan gila harta. Mereka tidak mengetahui jalan hidup dan tidak menyadari bahwa dunia merupakan tempat perjalanan untuk menyiapkan bekal akhirat. Kendati ada diantara mereka yang mengimaninya namun dengan keimanan global, mereka tidak mengetahuinya secara detail dan tidak merasakan kenikmatan yang dirasakan orang-orang yang mengenal Allah Azza wa Jalla di dunia yang merupakan sampel kenikmatan yang disiapkan di akhirat.

Kelompok yang pertengahan ialah orang-orang yang mengambil dunia dari sumber yang diperbolehkan, menunaikan kewajiban-kewajibannya, menyimpan harta lebih dari kebutuhannya dan juga sering bersenang-senang dengan kenikmatan dunia.

Adapun kelompok yang berlomba-lomba dalam kebaikan seizin Allah Azza wa Jalla , mereka memahami tujuan dunia dan beramal sebagaimana mestinya. Mereka sadar bahwa Allah Azza wa Jalla menempatkan para hamba-Nya di dunia dalam rangka menguji mereka; siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya, seperti yang Allah Azza wa Jalla firmankan, yang artinya :Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. [Hûd/11:7]

Kelompok yang berlomba-lomba dalam kebaikan ini terbagi ke dalam dua kelompok.

Pertama: kelompok yang hanya mengambil dunia sebatas untuk menutup kerongkongan saja. Inilah kondisi kebanyakan orang-orang yang zuhud.

Kedua: kelompok yang terkadang mengizinkan dirinya menikmati sebagian kesenangan yang diperbolehkan supaya lebih kuat dan giat dalam beramal, seperti diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

إِنَّمَـا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ : النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلاَةِ

Sesungguhnya di antara dunia kalian yang menjadikan aku terpikat kepadanya ialah wanita dan parfum dan penyejuk mataku dijadikan dalam shalat.[19]

Jika seorang Mukmin ketika melampiaskan syahwatnya yang mubah berniat untuk memperkuat diri dalam melaksanakan ketaatan, maka pelampiasannya itu adalah ketaatan baginya dan ia diberi pahala. Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu mengatakan, “Sungguh, aku mengharapkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dari shalatku.” Maksudnya, ia berniat dengan tidurnya supaya kuat melakukan qiyâmul lail di akhir malam.

Sa’id bin Jubair Radhiyallahu anhu mengatakan, “Kenikmatan yang menipu ialah kenikmatan yang melalaikanmu dari mencari akhirat dan apa saja yang tidak melalaikanmu tidak dikatakan kenikmatan yang menipu, namun dikatakan kenikmatan yang mengantarkan kepada sesuatu yang lebih baik.”[20]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ ، مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَـا ، إِلاَّ ذِكْرَ اللهِ وَمَــا وَالاَهُ أَوْ عَالِـمًـا  أَوْ مُتَعَلِّمًـا

Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan apa saja yang mendukungnya (dzikir), orang alim, dan orang yang belajar.[21]

Jadi, dunia dan isinya terlaknat, maksudnya dijauhkan dari Allah Azza wa Jalla , karena bisa menyibukkan dari Allah Azza wa Jalla , kecuali ilmu yang bermanfaat yang membimbing menuju Allah Azza wa Jalla , supaya kenal dengan-Nya, mencari kedekatan dan keridhaan-Nya, juga dzikir kepada Allah Azza wa Jalla dan yang mendukungnya. Itulah tujuan dunia, karena Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk sentiasa bertakwa dan taat kepada-Nya. Ini menuntut seorang hamba selalu berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla . Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu tentang definisi takwa : “Hendaklah Allah itu ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak diingkari.[22]

Allah Azza wa Jalla mensyari’atkan shalat dalam rangka dzikir kepada-Nya, begitu juga haji dan thawaf. Ahli ibadah yang paling utama ialah orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla dalam ibadahnya. Ini semua (dzikir, shalat, dll) tidak termasuk dunia yang tercela, karena itulah tujuan penciptaan dunia dan manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman yang maknanya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [adz-Dzâriyât/51:56]

Al-Qur`ân dan Sunnah menegaskan bahwa akhirat lebih baik daripada dunia secara mutlak. Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَ اللهِ ، مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِـي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ ؟

Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian meletakkan jari-jarinya ke laut, maka lihatlah air  yang dibawa jari-jarinya ? [23]

Hadits ini menegaskan bahwa akhirat lebih baik daripada dunia beserta isinya.

CARA MENDAPATKAN KECINTAAN ALLAH AZZA WA JALLA.
Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu.”

Zuhud terhadap dunia adalah salah satu cara mendapatkan cinta Allah Azza wa Jalla . Yang dimaksud zuhud di sini ialah zuhud seperti yang dilakukan oleh para Ulama Salaf, bukan zuhud menurut cara ahlul bid’ah yang menyebabkan kaum Muslimin menjadi terbelakang. Kecintaan Allah Azza wa Jalla terhadap hamba-Nya adalah perkara  agung. Orang yang dicintai Allah Azza wa Jalla berarti telah diberikan taufik (bimbingan) ke arah yang dicintai dan diridhai-Nya.

Baca Juga  Kehormatan Darah dan Harta Seorang Muslim
Masih banyak cara untuk mendapatkan kecintaan Allah Azza wa Jalla , di antaranya: berbuat baik kepada kedua orang tua, keluarga, sanak kerabat, tetangga, dan sesama kaum Muslimin, tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla , menegakkan keadilan, sabar, takwa, bersuci lahir batin, berjihad di jalan Allah Azza wa Jalla , dan lain sebagainya. Kesimpulannya, bahwa cara mendapatkan kecintaan Allah Azza wa Jalla ialah mentaati-Nya dengan jujur dan menjauhi segala larangan-Nya.

CARA MENDAPATKAN KECINTAAN MANUSIA
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia niscaya engkau dicintai manusia.”

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla mencintai orang-orang yang zuhud terhadap dunia. Allah Azza wa Jalla mencela orang-orang yang mencintai dan mengutamakan dunia daripada akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman,

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ﴿٢٠﴾وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

Tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia dan mengabaikan (kehidupan) akhirat. [al-Qiyâmah/75: 20-21]

Jika Allah Azza wa Jalla mencela orang-orang yang mencintai dunia, maka itu menunjukkan bahwa Dia memuji orang-orang yang tidak mencintai dunia, menolaknya, dan meninggalkannya.

Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَـمَّهُ ؛ فَـرَّقَ اللّٰـهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَـيْهِ ، وَلَـمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَـهُ ، وَمَنْ كَـانَتِ الْآخِرَةُ نِـيَّـتَـهُ ، جَـمَعَ اللّٰـهُ لَهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَـا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Barangsiapa yang tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. [24]

Wasiat kedua di hadits ini ialah zuhud terhadap apa saja yang ada di tangan manusia. Zuhud seperti ini membuat orang dicintai manusia. Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْـمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ ، وَعِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang Mukmin ialah shalat malamnya dan kehormatannya ialah tidak merasa butuh kepada manusia.[25]

Seseorang sangat butuh kecintaan orang lain. Ia akan merasa senang dan lapang dada ketika ia hidup di tengah masyarakat yang mencintainya. Sebaliknya ia merasa sempit ketika hidup di tengah masyarakat yang membencinya. Namun, yang perlu diperhatikan dalam menggapai cinta manusia yaitu harus dengan cara yang benar dan adil yang dibenarkan dalam agama Islam, bukan dengan cara-cara yang menyimpang dari agama Islam.[26]

Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَـى النَّاسِ ، وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ

Barangsiapa mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan oleh Allah kepada manusia, dan barangsiapa membuat marah manusia dengan keridhaan Allah, maka Allah akan mencukupinya dari kekejaman manusia. [27]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Engkau senantiasa menjadi mulia di mata manusia atau manusia senantiasa memuliakanmu jika engkau tidak mengambil apa  yang ada di tangan manusia. Jika engkau mengambil apa yang ada di tangan manusia, mereka meremehkanmu, membenci perkataanmu dan benci kepadamu.”[28]

Banyak hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan menahan diri dari meminta-minta kepada manusia. Barangsiapa meminta sesuatu yang ada di tangan manusia, maka mereka membencinya dan tidak menyukainya, karena manusia itu menyukai harta. Dan meminta apa yang disukai oleh orang yang memilikinya akan menimbulkan kebencian.

Adapun orang yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia dan menahan diri darinya, maka mereka akan mencintai dan memuliakannya. Seorang Arab Badui bertanya kepada penduduk Basrah, “Siapakah orang mulia di desa ini?” Penduduk Bashrah menjawab, “Al-Hasan.” Orang Arab badui itu bertanya, “Kenapa ia  mulia bagi penduduk Bashrah?” Penduduk Bashrah menjawab, “Manusia membutuhkan ilmunya, sedang ia tidak membutuhkan dunia mereka.”

Sungguh indah perkataan salah seorang generasi Salaf ketika menyifatkan dunia dan penghuninya,

Dunia tidak lain adalah bangkai yang berubah,
Yang dikerumuni anjing-anjing dan mereka ingin menyeretnya
Jika engkau menjauhi bangkai tersebut, engkau memberi kedamaian bagi pemiliknya
Jika engkau menariknya, engkau bersaing dengan anjing-anjingnya.[29]

FAWAA-ID HADITS

Tingginya cita-cita para Sahabat, terbukti mereka selalu bertanya kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka.
Menetapkan salah satu sifat Allah Azza wa Jalla , yaitu Allah Azza wa Jalla mencintai dengan cinta yang sesungguhnya yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya.
Tidak mengapa bagi seseorang berusaha mendapatkan kecintaan manusia selama cara dan tujuannya adalah benar dan diridhai Allah Azza wa Jalla .
Keutamaan zuhud di dunia.
Kedudukan zuhud lebih tinggi daripada wara’ karena wara’ artinya meninggalkan apa yang berbahaya saja sedangkan zuhud meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat di akhirat.
Zuhud sebagai sebab mendapatkan kecintaan Allah Azza wa Jalla . Dan di antara sebab terbesar mendapatkan kecintaan Allah Azza wa Jalla ialah mengikuti Sunnah Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Anjuran dan dorongan agar zuhud terhadap segala apa yang dimiliki orang lain karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan hal itu sebagai sebab mendapatkan kecintaan manusia.
Merasa cukup dan tidak mengharap apa yang ada di tangan manusia dan tidak minta-minta kepada mereka, akan membawa kepada kecintaan manusia.
MARAJI’

Al-Qur`ân dan terjemahnya.
Tafsîr ath-Thabari.
Tafsîr Ibni Katsir.
Shahîh al-Bukhâri.
Shahîh Muslim
Musnad Imam Ahmad.
Sunan Abu Dâwud.
Sunan at-Tirmidzi.
Sunan an-Nasâi.
Sunan Ibni Mâjah.
Shahîh Ibni Hibbân (At-Ta’lîqâtul Hisân).
Hilyatul Auliyâ’, karya Abu Nu’aim.
Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqîq: Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhîm Bâjis.
Qawâ’id wa Fawâ-id minal Arba’în an-Nawawiyyah, karya Nâzhim Muhammad Sulthân.
 Syarhul Arba’în an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn.
Shahîh Jâmi’ush Shaghîr, karya Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni.
Silsilah Al-Ahâdîts Ash-Shahîhah, karya Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâny.
Dan kitab-kitab hadits lainnya.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIII/1430H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam II/179
[2] Majmû’ Fatâwâ X/641
[3] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam II/180
[4] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam II/180-181
[5] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam II/181
[6] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam II/182
[7] Hasan: HR. at-Tirmidzi no. 3502, al-Hâkim I/528, dan Ibnus Sunni no. 446
[8] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam II/182-183
[9] Hilyatul Auliyâ’ VIII/261, no. 12127
[10] Qûtul Qulûb III/135. Dinukil dari Qawâ’id wa Fawâ-id, hlm. 268
[11] Hadits shahîh: Diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah no. 224, dari Sahabat Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr no. 3913. Diriwayatkan pula oleh Imam-imam ahli hadits lainnya dari beberapa Sahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbâs, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ûd, Abu Sa’id al-Khudri, dan al-Husain bin ‘Ali Radhiyallahu anhum.
[12] Hadits shahîh: Diriwayatkan oleh Ahmad V/196, Abu Dâwud no. 3641, at-Tirmidzi no. 2682, Ibnu Mâjah no. 223, dan Ibnu Hibbân no. 80—al-Mawârid), lafazh ini milik Ahmad, dari Sahabat Abu Dardâ’Radhiyallahu anhu.
[13]  Shahîh: HR. al-Bukhâri no. 2072 dari Sahabat al-Miqdâm Radhiyallahu anhu.
[14] Hadits shahîh: Diriwayatkan oleh Ahmad I/378, 424, 425, 432, al-Bukhâri no. 1905, 5065, 5066, Muslim no. 1400 dan ini lafazhnya, at-Tirmidzi no. 1081, an-Nasâ-i VI/56, 57, Ibnu Mâjah no. 1845, ad-Dârimi II/132, dan al-Baihaqi VII/ 77 dari Sahabat ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu
[15] Shahîh: HR. Muslim no. 2957
[16]Shahîh: HR. Muslim no. 2858 dan Ibnu Hibbân no. 4315-At-Ta’lîqâtul Hisân dari al-Mustaurid al-Fihri t .
[17]Shahîh: HR. at-Tirmidzi no. 2320 dan Ibnu Mâjah no. 4110 dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu.
[18]Shahîh: HR. Muslim no. 2742 (99), dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu.
[19]Shahîh: HR. Ahmad III/128, 199, 285, an-Nasâ`i VII/61, 62, Isyratun Nisâ’ no.1, al-Hâkim II/160, dan al-Baihaqi VII/78 dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu.  Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr no. 3124
[20] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam II/193
[21] Hasan: HR. at-Tirmidzi no. 2322 dan Ibnu Mâjah no. 4112 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[22] Atsar Shahîh: Diriwayatkan oleh ath-Thabrâni dalam al-Mu’jamul Kabîr no. 8502, al-Hâkim II/294, Ibnu Jarîr dalam Tafsîr-nya III/375-376, dan Ibnu Katsîr dalam Tafsîr-nya II/87
[23]Shahîh: HR. Muslim no. 2858 dan Ibnu Hibbân no. 4315 – at-Ta’lîqâtul Hisân– dari al-Mustaurid al-Fihri t .
[24] Shahîh: HR. Ahmad V/183, Ibnu Mâjah no. 4105, dan Ibnu Hibbân no. 72-Mawâriduzh Zham-ân) dari Sahabat Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah no. 950)
[25] Hasan: HR. al-Hâkim IV/324-325, dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimân no. 10058 dishahîhkan oleh al-Hâkim dan disepakati adz-Dzahabi. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah ash-Shahîhah no. 831 dan beliau menyebutkan tiga jalan periwayatan; dari ‘Ali, Sahl, dan Jâbir Radhiyallahu anhu.
[26]Qawâ’id wa Fawâ-id hlm. 271
[27] Shahîh: HR. Ibnu Hibbân no. 277-At-Ta’lîqâtul Hisân, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ‘ VIII/202, no. 11878, dan selainnya. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr no. 6010
[28] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam II/204-205
[29]  Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam II/206
Referensi : https://almanhaj.or.id/12286-zuhudlah-niscaya-engkau-dicintai-allah-dan-dicintai-manusia.html

Sebab lemahnya kaum muslimin

Kaum muslimin, yang semoga dirahmati Allah. Keadaan umat Islam saat ini begitu memprihatinkan. Di hadapan musuh-musuh mereka, umat ini terus mengalami kekalahan, ketertinggalan dan penindasan. Negeri-negeri kaum muslimin dirampas begitu saja oleh musuh-musuh mereka. Dalam tubuh umat islam sendiri, mereka saling berselisih dan berpecah belah. Apa sebab lemahnya kaum muslimin saat ini dan bagaimana pemecahan masalah tersebut?

Tulisan di bawah ini akan memberikan penjelasan tentang sebab utama kemunduran dan kelemahan umat Islam saat ini yang disarikan (dengan sedikit tambahan) dari tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Baz -seorang ulama besar/mufti di Saudi Arabia- yang berjudul Asbabu Dho’fil Muslimin Amama ’Aduwwihim Wal ’Ilaaju Lidzalik. Semoga Allah merahmati beliau dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi umat untuk memperbaiki keadaan mereka saat ini.

Penyakit yang Menimpa Umat Islam Saat Ini

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah. Perlu diketahui bahwa sebab kelemahan, ketertinggalan, dan kekalahan kaum muslimin saat ini di hadapan musuh mereka, semuanya kembali pada satu sebab yang akan bercabang ke sebab yang lain. Sebab utama tersebut adalah kebodohan yaitu jahil (bodoh) terhadap Allah, agama-Nya dan berbagai hukum syar’i. Ilmu agama semacam ini telah banyak ditinggalkan oleh umat saat ini. Ilmu ini sangat sedikit dipelajari, sedangkan kebodohan malah semakin merajalela.

Kebodohan merupakan penyakit yang mematikan, dapat mematikan hati dan perasaan, juga melemahkan anggota badan dan kekuatan. Pengidap penyakit ini bagaikan hewan ternak, hanya menyukai syahwat, farji (kemaluan) dan perut. Kebodohan sungguh telah melemahkan hati, perasaan, dan keyakinan kaum muslimin dan akan menjalar ke anggota tubuh mereka yang lain yang membuat mereka lemah di hadapan musuh mereka (Yahudi dan Nashrani).

Mengapa Penyakit Utama Lemahnya Kaum Muslimin adalah Kebodohan?!

Yang menunjukkan bahwa sebab terbesar adalah jahl (bodoh) terhadap Allah, agama-Nya, dan syari’at-Nya -yang seharusnya seseorang berpegang teguh dan mengilmui tiga hal tersebut- yaitu sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang artinya,”Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah akan memahamkannya dalam perkara agama.” (HR. Bukhari & Muslim). Maka dari sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ini, menunjukkan bahwa di antara tanda Allah akan memberikan kebaikan dan kebahagiaan bagi individu, bangsa, negara yaitu Allah akan memahamkan mereka ilmu din (agama). Berarti dengan memahami agama ini dengan mengenal Allah, Rasul-Nya, dan Syari’at-Nya, individu maupun bangsa akan diberikan oleh Allah berbagai bentuk kebaikan. Dan bodoh tentang hal ini akan membuat kaum muslimin jauh dari kebaikan, sehingga membuat mereka lemah di hadapan musuh mereka.

Di samping itu Al Qur’an juga mencela kebodohan dan orang-orang yang bodoh dan memerintahkan mewaspadainya. Seperti dalam firman Allah Ta’ala yang artinya,”Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al An’am: 111). Juga firman Allah yang artinya,”Dan kebanyakan mereka tidak mengerti” (Al Ma’idah: 103)

Penyakit Cinta Dunia dan Takut Mati

Sebab lain yang menyebabkan kaum muslimin lemah dan tertinggal dari musuh-musuh mereka adalah cinta dunia dan takut mati. Sebab ini muncul karena sebab utama di atas yaitu bodoh terhadap agama Allah.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian adalah sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (Shohih, HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dalam hadits ini terlihat bahwa penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) akan menimpa dan berada dalam hati-hati mereka. Mereka tidak mampu untuk menggapai kedudukan yang mulia dan tidak mampu pula untuk berjihad fii sabilillah serta menegakkan kalimat Allah. Hal ini disebabkan kecintaan mereka pada dunia dan kesenangan di dalamnya seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan selainnya. Mereka begitu bersemangat mendapatkan kesenangan seperti ini dan takut kehilangannya, sehingga mereka meninggalkan jihad fii sabilillah.  Begitu juga mereka menjadi bahil (kikir)  sehingga mereka enggan untuk membelanjakan harta mereka kecuali untuk mendapatkan berbagai kesenangan di atas.

Penyakit wahn ini telah merasuk dalam hati kaum muslimin kecuali bagi yang Allah kehendaki dan ini jumlahnya sedikit sekali. Kaum muslimin secara umum telah menjadi lemah di hadapan musuh mereka. Rasa takut telah hilang dari hati musuh mereka sehingga mereka tidak merasa takut dan khawatir terhadap kaum muslim karena mereka telah mengetahui kelemahan kaum muslimin saat ini. Semua hal ini terjadi disebabkan kebodohan yang menyebabkan rasa tamak kaum muslimin pada dunia sehingga kaum kafir (musuh kaum muslimin) menggerogoti mereka dari segala penjuru walaupun jumlah mereka banyak tetapi jumlah ini hanya bagaikan sampah-sampah yang dibawa air hujan yang tidak bernilai apa-apa.

Obat Mujarab untuk Menyembuhkan Penyakit yang Menimpa Kaum Muslimin

Setelah mengetahui berbagai penyakit yang menyebabkan kaum muslimin menjadi lemah di hadapan kaum kafir (Yahudi dan Nashrani) yang disebabkan kebodohan sebagai sebab utama. Maka obat mujarab untuk mengobati penyakit ini, tidak lain dan tidak bukan kecuali menuntut ilmu dan memahami agama ini. Dengan melakukan hal ini mereka akan mendahulukan ridho Allah daripada murka-Nya, bersegera dalam melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya serta segera bertaubat dari dosa yang telah dilakukan pada masa lampau. Dengan hal ini pula mereka akan segera melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi musuh mereka sebagaimana yang Allah perintahkan pada firman-Nya yang artinya,”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. (Al Anfaal: 60). Allah memerintahkan dalam ayat ini untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musuh sesuai dengan kemampuan kaum muslimin. Allah tidak memeritahkan kaum muslimin untuk mempunyai perlengkapan yang sama kuatnya dengan musuh mereka.

Tolonglah Agama Allah, Niscaya Allah akan Menolongmu

Apabila kaum muslimin menghadapi musuh mereka sesuai dengan kemampuan mereka dalam rangka menolong agama Allah, maka Allah akan menolong mereka dan akan menjadikan mereka unggul di atas musuh mereka (dan bukan ditindas oleh musuh). Allah yang Maha Memenuhi Janjinya telah berfirman yang artinya,”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7). Dan Allah tidaklah lemah untuk menolong hamba-Nya, akan tetapi Allah menguji di antara mereka dengan kejelakan agar diketahui siapa yang jujur atau dusta. Allah Maha Mampu untuk menolong wali-Nya dan untuk menghancurkan musuh-Nya tanpa perang, jihad, atau tanpa menyiapkan persenjataan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Demikianlah apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain”. (Muhammad: 4)
Tatkala perang badar kaum muslimin pada saat itu hanya berjumlah  310-an. Persenjataan dan tunggangan pun sedikit (hanya ada 70 unta dan 2 kuda). Sedangkan pasukan kafir (musuh kaum muslimin) berjumlah sekitar seribu pasukan dan memiliki kekuatan yang besar serta persenjataan yang lengkap. Namun, jumlah, senjata dan kekuatan orang kafir ini tidak bermanfaat bagi mereka. Allah mengalahkan musuh yang memiliki kekuatan besar tersebut yang Allah kisahkan dalam firman-Nya yang artinya,”Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 126). Pertolongan tersebut dari sisi Allah, akan tetapi Allah menjadikan pertolongan tersebut dari para malaikat. Persenjataan, harta, dan bala bantuan yang Allah berikan ini merupakan sebab pertolongan, kabar gembira, dan ketenangan yang Allah berikan.

Menolong Agama Allah adalah dengan Melakukan Amal Sholih

Menolong agama Allah adalah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi laranga-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.”(Al Hajj: 40-41). Dari ayat ini terlihat jelas bahwa sebab terbesar datangnya pertolongan Allah adalah dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya. Di antara bentuk mentaati Allah dan Rasul-Nya adalah dengan mempelajari dan memahami agama ini.

Dari tulisan ini jelaslah sebab lemahnya kaum muslimin yaitu keengganan untuk mempelajari agama ini dan keengganan untuk melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika memang penguasa kaum muslimin dan para ulama betul-betul jujur dalam berdakwahhendaklah mereka mengajak umat untuk melakukan berbagai bentuk amal sholih yaitu menegakkan shalat, menunaikan zakat, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan hendaklah mereka mengajak umat Islam untuk mempelajari dan memahami agama agar mereka dapat mengenal Allah, Nabi-Nya, dan syari’at agama yang mulia ini.

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin saat ini dan memperbaiki ulil amri (penguasa dan ulama). Semoga Allah memberikan kaum muslimin bashiroh (ilmu dan keyakinan). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/78-sebab-lemahnya-kaum-muslimin.html

Boleh jadi apa yang engkau benci itu baik bagimu

Boleh jadi apa yang engkau benci, itu baik bagimu. Percayalah ketetapan dan hukum Allah itulah yang terbaik.

Renungan Ayat Pilihan: Surah Al-Baqarah ayat 216

Allah Ta’ala berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan bahwa ayat ini mewajibkan untuk berperang di jalan Allah. Sebelumnya orang-orang beriman tidak diperintahkan untuk berperang dikarenakan kelemahan dan ketidakmampuan mereka untuk berperang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah dan kaum muslimin semakin banyak, Allah memerintahkan mereka untuk berperang. Hal ini tidak disukai mereka karena pasti akan merasakan letih, capek, penuh kekhawatiran, dan takut ada yang binasa. Padahal di balik itu ada kebaikan yang banyak. Di dalam jihad ada pahala yang besar. Juga dengan berjihad akan menyelamatkan dari siksa yang pedih. Dengan berjihad akan meraih kemenangan atas musuh dan juga akan mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang). Boleh jadi yang kita suka, malah itu jelek bagi kita. Yaitu kita suka untuk tidak pergi berjihad dan ingin rehat. Padahal seperti itu akan mengakibatkan kehinaan, musuh akhirnya menguasai Islam, dan menindas kaum muslimin, juga kita akan luput dari pahala yang besar, serta mendapatkan hukuman yang pedih. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 87)

Allah yang lebih mengetahui akibat terbaik setiap perkara. Allah yang Mahatahu yang paling maslahat untuk unrusan dunia dan akhirat kita. Sedangkan kita sendiri tidak mengetahui yang terbaik dan yang jelek untuk kita. (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 348-349)

Faedah dari Ayat

  1. Jihad memang tidak disukai oleh jiwa karena banyaknya kesulitan di dalamnya. Akan tetapi orang yang beriman dan iman itu jujur menyukai jihad karena di dalamnya terdapat keutamaan yang besar. Orang yang berjihad berarti telah mendahulukan ridha Allah dari jiwa dan hartanya.
  2. Secara tabiat manusia benci dengan peperangan. Akan tetapi orang yang beriman selalu ridha dengan hukum syar’i yang Allah wajibkan. Walau orang beriman merasa berat namun ia tidak membenci hukum jihad selamanya.
  3. Kita diajarkan ridha kepada takdir. Boleh jadi manusia benci pada ketetapan Allah, namun di balik itu ada kebaikan yang banyak.
  4. Hendaknya kita ridha kepada takdir Allah yang dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan.
  5. Manusia tidak mengetahui hal ghaib, tentang yang terbaik atau jelek baginya di masa akan datang.
  6. Hendaklah seorang hamba beradab kepada Allah, hendaklah ia tidak memaksa pilihannya kepada Allah. Kita bisa mencontoh dalam doa istikharah disebutkan, “Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak.”
  7. Kita harus meyakini bahwa semua syariat Allah di dalamnya ada kebaikan dan maslahat.

Semoga Allah memberikan faedah dan ilmu yang bermanfaat.

Referensi:

  1. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  2. Tafsir Az-Zahrawain. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obekan.

Disusun @ Darush Sholihin, 8 Ramadhan 1439 H, bada Ashar

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/17575-renungan-25-boleh-jadi-apa-yang-engkau-benci-itu-baik-bagimu.html