Akibat Dari Suka Mentertawakan Dan Mengejek Orang Lain

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Siapa yang mentertawakan orang maka ia akan ditertawakan lagi dan siapa yang mengejek perbuatan saudaranya maka biasanya ia jatuh kepada perbuatan tersebut..”

(Al Furuusiyah hal 446)

Seorang mukmin tidak pernah mentertawakan siapapun..
Namun ia mendo’akan hidayah dan kebaikan..

Tapi terkadang saat kita benci pada seseorang..
Kita suka menertawakan kesalahannya..

Akibatnya, Allah jerumuskan kita kepada kesalahan yang sama..
Sebagai balasan yang setimpa

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75213

Mati Mendadak Adalah Istirahat & Kenikmatan Bagi Mukmin

Cukup sering kita mendengar kabar ada artis mati mendadak, pejabat mati mendadak dan mulai banyak kita jumpai kasus-kasus mati mendadak. Secara kedokteran pun muncul penyakit-penyakit yang menyebabkan mati mendadak seperti stroke dan serangan jantung. Demikian juga kasus tabrakan lalu mati mendadak di tempat, kasus tabrakan helikopeter dan lain-lainnya.

Mati Mendadak Sebagai Adzab dari Allah Ta’ala?

Muncul pertanyaan, apakah mati mendadak ini semacam adzab atau bencana? Apakah seorang Muslim yang mati mendadak itu terkait dengan dosanya sebelumnya atau bagaimana? Jawabnya adalah sebagaimana dalam hadits berikut

Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

موت الفجأة راحة للمؤمن وأخذة أسف للكافر

“Kematian mendadak adalah istirahat bagi mukmin dan penyesalan bagi orang kafir” [HR. Ahmad dan Ibnu Syaibah dalam Mushannafnya]

Mati Mendadak Adalah Istirahat dan Kenikmatan?

 Maksudnya mati mendadak merupakan istirahat adalah ia bisa istirahat dari beban dunia, kelelahan dan  mungkin bisa selamat dari penderitaan sebelum meninggal (sakit-sakitan sebelum meninggal) dan sakratul maut. Tentunya dianggap “istirahat” apabila ia seorang mukmin yang shalih dan telah menyiapkan berbagai perbekalan yang banyak menuju kehidupan setelah kematian. Inilah maksud dari istirahat dan kenikmatan

Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beliau berkata,

جاء في بعض الأحاديث ما يدل على أن موت الفجأة يكثر في آخر الزمان، وهو أخذة غضب للفاجر، وراحة للمؤمن، فقد يصاب المؤمن بموت الفجأة بسكتة أو غيرها ويكون راحة له ونعمة من الله عليه؛ لكونه قد استعد واستقام وتهيأ للموت واجتهد في الخير فيؤخذ فجأة وهو على حال طيبة على خير وعمل صالح، فيستريح من كرب الموت وتعب الموت ومشاق الموت، وقد يكون بالنسبة إلى الفاجر قد يقع هذا بالنسبة إلى الفجار وتكون تلك الأخذة أخذة غضب عليهم، فوجؤوا على شر حال.

 “Pada sebagian hadits terdapat dalil mengenai kematian medadak yang akan banyak pada akhir zaman. Yaitu penyesalan bagi orang fajir dan istirahat bagi orang mukmin.Terkadang seorang mukmin tertimpa dengan kematian mendadak seketika. Ini adalah bentuk istirahat dan kenikmatan dari Allah. Akan tetapi tentu saja ia sudah menyiapkan (amal shalih), istiqamah dan bersiap-siap menghadapi kematian dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan, kemudian ia meninggal dalam keadaan baik dan melakukan amal shalih, maka ia istirahat dari beban dunia, kelelahan dan penderitaan sakratul maut. Terkadang juga menimpa orang fajir, maka ini menjadi penyesalan baginya, meninggal mendadak dalam keadaan buruk.” [Sumber:http://www.binbaz.org.sa/mat/18136%5D

Mempersiapkan Bekal Kematian

Yang terpenting bukanlah mati mendadak atau tidak, tetapi apa yang kita siapkan untuk kehidupan setelah kematian, apa bekal yang kita persiapkan untuk kehidupan akhirat. Inilah ciri-ciri orang yang pintar dan cerdas yaitu mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ

“Orang yang pandai adalah  orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan (kehidupan) setelah kematian.” [HR.Tirmidzi]

Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan makna “al-Kayyis” yaitu orang yang pandai dan berakal, beliau berkata

أي العاقل المتبصر في الأمور الناظر في العواقب

“Al-Kayyis yaitu yang berakal dan suka berpikir (merenungkan) pada suatu urusan dan suka memperhatikan akibat-akibat/hasil akhir.” [Tuhfatul Ahwadzi, Darul Kutub Al-Ilmiyyah]

Semoga kita senantiasa mendapatkan taufik agar menjadi orang yang cerdas dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/54758-mati-mendadak-adalah-istirahat-kenikmatan-bagi-mukmin.html

Hartamu Habis di Mana? Nasihat Ibnul Qayyim tentang Harta

Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?

Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah ketika beliau menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.

Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup

Bekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.

Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:

الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!

“Golongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?”

Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:

Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.

Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah?

Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?

Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.

“Harta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah budak dinar dan dirham….’ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.”

Ini merupakan poin ke-12, “Ilmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Dunia”.

Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa harta yang kita miliki?” Namun juga, “Siapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?”

Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.

Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya.

Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:

أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.

“Cinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.”

Ini terdapat pada poin ke-13, “Ilmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukan”.

Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ḥubbud-dunyā, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.

Maka kaidahnya:

Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.

Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan.

Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.

“Tidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.”

Ini terdapat pada poin ke-17, “Ilmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiat”.

Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.

Karena itu:

Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?

Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa.

Hartamu Diam-Diam Berdakwah

Cara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.

“Seorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.”

Ini dibahas pada poin ke-18, “Ilmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Dunia”.

Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.

Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.

Karena itu:

Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia.

Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas

Ada satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:

أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.

“Pemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.”

Ini adalah poin ke-23, “Ilmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepas”.

Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:

Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.

Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.

Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:

Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu?

Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.

“Kekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.”

Ini terdapat pada poin ke-24, “Ilmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutan”.

Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.

Maka:

Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya.

Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki

Inilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema “Hartamu Habis di Mana?”

Beliau berkata:

أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.

فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.

وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.

“Mengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.

Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.

Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.”

Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:

وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟

“Adapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:

Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?”

Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, “Ilmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnya”.

Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:

Dari mana datangnya? Ke mana perginya?

Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.

Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.

Habis untuk apa?

Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:

أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.

وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِكَ، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.

“Hati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.

Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.”

Ini terdapat pada poin ke-39, “Ilmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakan”.

Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.

Maka kaidahnya:

Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.

Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang

Puncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:

أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.

وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.

فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.

“Kadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.

Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.

Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.

Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.”

Ini merupakan poin ke-40, “Ilmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalang”, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. 

Kalimat ini sangat dalam:

Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik.

Jadi, Hartamu Habis di Mana?

Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.

Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.

Maka bukan semata “berapa banyak yang habis?”, tetapi:

“Untuk apa ia habis?”

Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.

Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya.

Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta

Dari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:

  1. Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.
  2. Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.
  3. Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.
  4. Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.
  5. Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.
  6. Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.
  7. Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.
  8. Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.
  9. Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.
  10. Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya.

Nasihat Terakhir

Hari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.

Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.

Allāhumma innī as’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.”

—–

Jumat Pagi, 18 September 2026 @ Palembang

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42857-hartamu-habis-di-mana-nasihat-ibnul-qayyim-tentang-harta.html

Mengapa Matahari & Bulan Dimasukkan Ke Neraka Kelak?

Matahari dan bulan di hari akhir nanti memang akan dimasukkan ke dalam neraka. Hal ini telah ditegaskan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,


الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ثَوْرَانِ مُكَوَّرَانِ فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


“Matahari dan rembulan seolah-olah seperti sapi jantan yang digulung ke dalam Neraka pada hari kiamat.” [HR Ath-Thahawi dalam “Al-muhalla bil-Atsar” (1/96), dan dishahihkan oleh Al-Albani di Silsilah Ash-Shahihah (124)]

Salah satu tafsirannya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Khatthabi,
“Keberadaannya di neraka bukanlah maksudnya karena disiksa. Akan tetapi celaan terhadap orang-orang yang dahulu menyembah matahari dan rembulan ketika di dunia, agar mereka mengetahui bahwa peribadatan mereka pada keduanya adalah bathil.” (Fathul Bari, 6/215)

Matahari dan bulan dimasukkan ke neraka bukan untuk disiksa, sebagaimana malaikat-malaikat penjaga neraka juga ada di dalam neraka bukan untuk disiksa. Keadaan ini semisal dengan batu dan berhala-berhala yang mereka sembah yang ikut dimasukkan ke dalam neraka sebagai bentuk menghinakan dan mempermalukan mereka agar semakin menyesali perbuatan-perbuatan mereka di dunia dahulu. Allah berfirman,


اِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ حَصَبُ جَهَنَّمَۗ اَنْتُمْ لَهَا وَارِدُوْنَ


“Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.” (QS Al-Anbiya’ : 98)

Keberadaan matahari dan bulan di dalam neraka justru akan menambah siksaan batin bagi para penyembahnya. Ibarat seseorang yang kita puji-puji, kita selalu berbuat baik kepadanya ternyata di belakang kita dia malah mengolok-olok dan menjelek-jelekkan kita, maka sakit hati yang kita rasakan justru semakin menyakitkan. Demikianlah keadaan yang dirasakan oleh penghuni neraka tatkala melihat ternyata sesembahan-sesembahan mereka dahulu menjadi bahan bakar yang semakin menambah panasnya neraka.

Artikel http://www.muslimafiyah.com (Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/mengapa-matahari-bulan-dimasukkan-ke-neraka-kelak.html

Bila Suami Berperangai Kasar

(oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Seorang ibu dari tiga anak tampak menahan isak tangisnya ketika menceritakan perlakuan yang diterimanya dari suaminya. Ketidakpedulian, ucapan yang kasar, dan pukulan sudah menjadi kawan dalam hidupnya selama berkeluarga. Sebenarnya sakit di badan sudah tak dirasakan namun sakit di hati terus tersimpan hingga membawanya untuk mengadukan kisah hidupnya dengan satu asa akan ada jalan keluar dari deraan derita.

Betapa malang nasib seorang wanita yang lemah bila mendapatkan suami yang berperangai kasar lagi “ringan tangan” seperti itu. Padahal Rasul yang mulia ﷺ telah bertitah:

“Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah.”

Datanglah ‘Umar ibnul Khaththab Radhiallahu anh untuk mengadu:

“Wahai Rasulullah, sungguh para istri telah berbuat durhaka kepada suami-suami mereka.”

Mendengar pengaduan ini Rasulullah ﷺ memberi izin kepada para suami untuk memukul istrinya. Namun ternyata setelahnya banyak wanita datang menemui istri-istri Rasulullah ﷺ guna mengadukan suami-suami mereka. Maka kata beliau n:

“Sungguh banyak wanita berkeliling di keluarga Muhammad guna mengadukan suami-suami mereka. Bukanlah para suami yang memukul istri (dengan keras) itu orang yang terbaik di antara kalian.” (HR. Abu Dawud no. 2145, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)

Kata Rasul n, mereka bukanlah orang yang terbaik, karena suami yang terbaik tidak akan memukul istrinya. Justru ia bersabar dengan kekurangan yang ada pada istrinya. Kalaupun ingin memberi (pukulan) pendidikan kepada istrinya, ia tidak akan memukulnya dengan keras hingga membuatnya mengadu/mengeluh. (‘Aunul Ma’bud, Kitab An-Nikah, bab Fi Dharbin Nisa`)

Al-Imam Al-Baghawi v menjelaskan bahwa sekalipun memukul istri dibolehkan karena akhlak mereka yang jelek misalnya, namun menahan diri dan bersabar atas kejelekan mereka serta tidak memukul mereka justru lebih utama dan lebih bagus. Ucapan yang semakna dengan ini juga dihikayatkan dari Al-Imam Asy-Syafi’i v. (Syarhus Sunnah, 9/187)

Apakah suami sama sekali tidak dibolehkan memukul istrinya? Jawabannya sebagaimana yang telah diisyaratkan di atas, boleh bila memang diperlukan1. Adapun bila memukul itu sudah menjadi kebiasaan, salah sedikit pukul, marah sedikit pukul, hingga si istri babak belur, maka jelas tidaklah diperbolehkan.

Bila istri berbuat nusyuz, durhaka kepada suaminya dan tidak mempan dinasihati dengan baik, tidak pula berubah setelah ‘diboikot’ di tempat tidurnya, ketika itu suami dibolehkan menempuh tahapan ketiga untuk meluruskan kebengkokan istrinya, yaitu dengan memukulnya. Tahapan ini ditunjukkan dalam firman Allah l:

“Dan para istri yang kalian khawatirkan (kalian ketahui dan yakini2) nusyuznya maka hendaklah kalian menasihati mereka, meninggalkan mereka di tempat tidurnya, dan pukullah mereka.” (An-Nisa`: 34)

Dengan demikian, cara pukulan barulah ditempuh setelah cara lain tidak manjur. Bukan pukulan jadi tameng pertama untuk menghadapi atau menghukum kesalahan istri.

Rasulullah ketika menasihati Fathimah bintu Qais Radhiallahu Anha dalam urusan pernikahan, beliau memberi bimbingan agar Fathimah jangan menerima lamaran laki-laki yang diketahui suka memukul wanita. Kisahnya bisa kita simak berikut ini:

Fathimah bintu Qais Radhiallahu Anha ditalak tiga oleh suaminya Abu ‘Amr bin Hafsh. Ia lalu menjalani masa iddahnya dan Rasulullah ﷺ telah berpesan, “Bila engkau telah selesai dari iddahmu, beritahu aku.” Selesai masa iddahnya, Fathimah mengabarkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abul Jahm c. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sedangkan Mu’awiyah seorang yang fakir tidak berharta, maka (jangan engkau menikah dengan salah satunya, tapi –pent.) menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim no. 3681)

Makna “tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya” ditunjukkan dalam riwayat lain:

“Adapun Mu’awiyah, ia lelaki yang fakir tidak berharta. Sedangkan Abul Jahm adalah lelaki yang suka memukul para wanita….” (HR. Muslim no. 3696)

“Adapun Mu’awiyah, ia seorang yang fakir lemah keadaannya. Sedangkan Abul Jahm memiliki sifat keras terhadap para wanita –atau ia biasa memukul para wanita, atau yang semisalnya–….” (HR. Muslim no. 3697)

Apabila seorang suami terpaksa memukul istri maka pukulan tersebut tidak boleh sampai membuat cacat. Hendaklah ia memukul dengan pukulan yang ringan, sehingga tidak membuat si istri menjauh ataupun mendendam kepada suaminya. (Fathul Bari, 9/377)

Saat menyampaikan khutbah dalam haji Wada’, Nabi ﷺ memberi wejangan:

“Bertakwalah kalian kepada Allah dalam perkara para wanita (istri), karena kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seseorang yang kalian benci untuk menginjak (menapak) di hamparan (permadani) kalian. Jika mereka melakukan hal tersebut3 maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras.” (HR. Muslim no. 2941)

Sabda Nabi ﷺ kata Ibnul Atsir v adalah pukulan yang tidak keras/ berat. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, 1/113)

Rasul yang mulia juga menitahkan:

“Janganlah salah seorang dari kalian mencambuk istrinya seperti mencambuk seorang budak, kemudian ternyata di akhir hari ia menggauli istrinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5204 dan Muslim no. 7120)

Al-Imam An-Nawawi v berkata: “Dalam hadits ini ada larangan memukul istri tanpa alasan terpaksa dalam rangka mendidik.” (Al-Minhaj, 17/186)

Setelah ia sakiti tubuh istrinya dengan cambukan, ternyata di akhir harinya atau di malam harinya ia ingin bersenang-senang dengan tubuh tersebut. Tidakkah tindakan seperti ini menghancurkan hati seorang wanita??? Ia disakiti kemudian diminta untuk melayani suami yang menyakitinya??? Sementara sebagai istri, ia diharamkan untuk menolak ajakan suaminya4. Dan sebagai istri shalihah ia harus menyenangkan suaminya.5

Dengan demikian, seorang suami yang berakal tidak akan berlebih-lebihan dalam memukul istrinya, kemudian beberapa waktu setelahnya ia menggaulinya. Karena jima’ hanyalah baik dilakukan bila disertai kecondongan jiwa dan keinginan untuk bergaul dengan baik. Sementara orang yang dipukul, secara umum akan menjauh dari orang yang memukulnya. (Fathul Bari, 9/377)

Rasulullah ﷺ menasihatkan kepada sahabatnya Laqith bin Shabirah Radhiallahu Anh ketika mengadukan kejelekan lisan istrinya:

“Janganlah engkau memukul istrimu seperti memukul budak perempuanmu.” (Penggalan dari hadits yang diriwayatkan Abu Dawud no. 142, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani v dalam Shahih Abi Dawud)

Al-Imam Al-Baghawi v dalam Syarhus Sunnah (1/418) setelah membawakan hadits di atas menyatakan bahwa larangan dalam hadits ini bukan maknanya haram memukul istri jika memang dibutuhkan.Karena Allah l sendiri membolehkannya apabila dikhawatirkan perbuatan nusyuz dari istri. Allah l berfirman:

“Maka nasihatilah mereka, dan tinggalkanlah mereka di tempat tidurnya dan pukullah mereka.” (An-Nisa`: 34)

Yang dilarang hanyalah pukulan yang menyakitkan atau membuat cacat, sebagaimana pukulan yang dikenakan terhadap para budak menurut kebiasaan orang yang menganggap boleh memukul mereka. Diserupakannya dengan memukul budak di sini juga bukan berarti boleh memukul budak6, namun konteksnya di sini adalah untuk mencela orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut, sehingga Rasulullah ﷺ melarang meniru mereka.

Kebiasaan lain yang kita dapatkan dari suami yang suka memukul, seringnya yang jadi sasaran pukulannya adalah wajah. Padahal menampar wajah hukumnya haram sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits. Di antaranya:

“Janganlah engkau memukul wajah (istrimu), jangan menjelekkannya7, dan jangan memboikot (mendiamkan)-nya kecuali di dalam rumah8.” (HR. Abu Dawud no. 2142 dan selainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil v dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/86)

Demikian juga hadits:

“Apabila salah seorang dari kalian memukul saudaranya9 maka hendaknya ia menjauhi wajah.” (HR. Muslim no. 6594)

Dalam riwayat lain:

“…maka jangan sekali-kali ia menampar wajah.” (HR. Muslim no. 6597)

Demikianlah… Lebih dari semua itu, teladan kita yang mulia Rasulullah ﷺ adalah suami yang sangat lembut. Tak pernah melakukan kekerasan terhadap istrinya, dan tak pernah memukul seorang pun. Sebagaimana berita dari salah seorang istri beliau Ummul Mukminin Aisyah Radhiallahu Anha :

“Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah memukul seorang pun dengan tangannya. Tidak pernah memukul seorang wanita, tidak pernah pula memukul pembantunya, kecuali bila beliau berjihad fi sabilillah….” (HR. Muslim no. 6004)

Nasihat Seorang Ulama dalam Menghadapi Suami yang Kasar

Para istri yang menerima perlakuan kasar dari suami mereka mungkin bertanya-tanya, bagaimana menghadapi suami mereka yang tipenya demikian. Sebagaimana pertanyaan yang pernah diajukan seorang wanita kepada seorang ‘alim rabbani, Syaikh yang mulia Abdul ‘Aziz bin Baz v yang waktu itu menjabat sebagai mufti kerajaan Saudi Arabi.

Sang wanita mengadu, “Suami saya tidak menaruh perhatian kepada saya di dalam rumah. Ia selalu bermuka masam lagi sempit dada. Katanya, sayalah yang menjadi penyebabnya. Padahal Allah -segala puji bagi-Nya- mengetahui bagaimana keadaan saya yang sebenarnya. Saya selalu menunaikan haknya dan senantiasa berupaya mempersembahkan untuknya segala kenyamanan dan ketenangan, serta menjauhkan darinya segala yang tidak disukainya. Saya juga menyabari tindak tanduknya yang kaku lagi kasar. Setiap saya bertanya kepadanya tentang sesuatu atau mengajaknya bicara satu hal, ia murka dan mendidih kemarahannya. Ia mengomentari bahwa omongan saya itu tidak ada artinya, ucapan orang yang pandir dan dungu. Padahal suami saya ini selalu berseri-seri wajahnya bila bersama kawan-kawannya. Tapi kalau bersama saya, tak pernah saya dapati darinya kecuali ucapan yang menjelekkan dan pergaulan yang buruk. Sungguh saya sakit menerima semua ini darinya. Dan ia banyak menyiksa saya, sehingga membuat saya beberapa kali berniat meninggalkan rumah. Saya sendiri adalah seorang wanita yang alhamdulillah menunaikan apa yang Allah l wajibkan kepada saya.

Syaikh yang mulia, apakah saya berdosa bila meninggalkan rumah suami saya bersama anak-anak saya, kemudian menyibukkan diri mendidik anak-anak saya dan menanggung sendiri beban kehidupan ini? Ataukah saya harus tetap tinggal bersamanya dalam keadaan yang seperti ini, menahan diri (berpuasa) dari berbicara dengannya, dan dari menyertai serta ikut merasakan permasalahan-permasalahannya? Berilah fatwa kepada saya, apa yang harus saya lakukan. Semoga Allah l membalas anda dengan kebaikan.”

Syaikh yang mulia v menasihatkan, “Tidaklah diragukan bahwa wajib bagi suami istri untuk bergaul dengan ma’ruf, saling memberikan kecintaan, dan bergaul dengan akhlak yang utama, berdasarkan firman Allah l:

“Bergaullah kalian (wahai para suami) dengan mereka (para istri) dengan ma’ruf.” (An-Nisa`: 19)

Dan juga firman-Nya:

“Mereka (para istri) memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf, dan para suami memiliki kelebihan satu tingkat di atas mereka.” (Al-Baqarah: 228)

Dan sabda Nabi n:

“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.” (HR. Muslim)

Demikian pula sabda beliau n:

“Jangan sekali-kali engkau meremehkan perbuatan baik sedikitpun, walaupun hanya berupa memberikan wajah yang manis saat berjumpa dengan saudaramu.” (HR. Muslim)

Dan ucapan beliau n:

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya. Dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.”10

Masih banyak lagi hadits-hadits yang berisi hasungan untuk berakhlak yang baik, berjumpa dengan wajah yang cerah dan bergaul yang baik di antara kaum muslimin secara umum. Tentunya, lebih utama lagi pergaulan antara suami istri dan dengan karib kerabat.

Sungguh anda telah melakukan perkara yang baik dengan kesabaran dan ketabahan anda dalam menanggung kekakuan dan jeleknya akhlak suami anda. Saya pesankan kepada anda untuk terus menambah kesabaran dan jangan meninggalkan rumah suami anda. Karena dengan terus bertahan dalam kesabaran Insya Allah ada kebaikan yang besar dan akhir yang baik, berdasarkan firman Allah l:

“Bersabarlah kalian karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)

“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 90)

“Hanyalah orang-orang yang bersabar itu diberikan pahala mereka tanpa batasan.” (Az-Zumar: 10)

“Bersabarlah engkau, sesungguhnya akhir/kesudahan yang baik itu diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Hud: 49)

Tidak ada larangan bagi anda untuk mengajaknya bercanda dan berbincang dengan menggunakan kata-kata yang bisa melunakkan hatinya. Yang menyebabkannya senang kepada anda dan membuatnya menyadari hak anda terhadapnya.

Tidak usah anda menuntut kebutuhan-kebutuhan duniawi kepadanya selama ia masih menegakkan perkara-perkara penting yang wajib. Sehingga hatinya menjadi lapang dan dadanya menjadi luas dari menghadapi tuntutan-tuntutan anda. Anda akan mendapatkan akhir/kesudahan yang baik Insya Allah.

Semoga Allah l memberi taufik kepada anda agar memberi anda tambahan seluruh kebaikan. Dan semoga Dia memperbaiki keadaan suami anda, memberinya ilham kepada kelurusan dan menganugerahinya akhlak yang baik serta penuh perhatian terhadap hak-hak yang ada. Sesungguhnya Allah l adalah sebaik-baik Dzat yang diminta, dan Dia memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatawa, Kitab Ad-Da’awat, 1/193-195)

Demikian nasihat dari seorang ulama kepada istri yang menerima sikap kasar dari suami.

Maka bersabarlah dan terus bersabar, disertai doa kepada Ar-Rahman…! Sungguh kesudahan yang baik akan anda raih dengan izin Allah l.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Adapun hadits yang berisi larangan secara mutlak dari Rasulullah ﷺ untuk memukul istri setelah sebelumnya mengizinkannya, tidaklah shahih. Seperti hadits Ibnu ‘Abbas c, ia berkata:

أَنَّ الرِّجَالَ اسْتَأْذَنُوْا رَسُولَ اللهِ فِي ضَرْبِ النِّسَاءِ فَأَذِنَ لَهُمْ، فَضَرَبُوْهُنَّ. فَباَتَ فَسَمِعَ صَوْتًا عَالِيًا فَقَالَ:

مَا هَذَا؟ فَقَالُوا: أَذِنْتَ لِلرِّجَالِ فِي ضَرْبِ النِّسَاءِ فَصَرَبُوْهُنَّ. فَنَهَاهُمْ وَقَالَ: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

“Ada orang-orang yang minta izin kepada Rasulullah agar dibolehkan memukul istri. Beliau pun mengizinkannya hingga mereka memukul istri-istri mereka. Saat berada di waktu malam, beliau mendengar suara yang tinggi/keras. Beliau bertanya, “Suara apa itu?” tanya beliau. Mereka menjawab, “Engkau telah mengizinkan beberapa orang untuk memukul istri, lalu mereka memukulnya.” Rasulullah kemudian melarang mereka dan bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian terhadap keluarganya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Bazzar)

2 Sebagaimana makna ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas c. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 5/112, Tafsir Al-Baghawi, 1/423)

10 HR. At-Tirmidzi no. 1162, lihat Ash-Shahihah no. 284. (pent)

sumber : Bila Suami Berperangai Kasar – Majalah Islam Asy-Syariah (asysyariah.com)

Hidup Harus Punya Target

Hidup harus punya target, jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang,
Membuat program pribadi untuk mencapai target, jika tidak hidup hanya mengalir tidak jelas
yang namanya mengalir pasti dari atas ke bawah

Misalnya ketika liburan 1 minggu saya harus tamat baca buku ini, harus hapal 1 surat, selama kuliah harus bisa bahasa Arab, selama kuliah target TOEFL 600,harus ini harus itu,

LEBIH BAIK ada target meskipun tidak tercapai sepenuhnya daripada tidak ada target sama sekali. Target tercapai 10%, itu lebih baik daripada tidak sama sekali

Jelas ini adalah ajaran Islam, memperhatikan hari esok (masa depan) dengan membuat target dan merencanakannya

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk HARI ESOK ; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Hasyr: 18)

Note: masa depan yang paling depan adalah akhirat, katanya orang hebat adalah orang yang memikirkan dan merencanakan serta bercita-cita tinggi mengenai masa depannya

Bagaimana masa depan kita?

Asuhan dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/hidup-harus-punya-target.html

Mereka Yang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Ust. Badrusalam, Lc

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Namun di sana, ada orang-orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah Azza waJalla. Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).[1]

2. dipercepat sanksinya di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).[2]

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim). 

3. Diberikan cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan dalam agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan padanya, beri kami kesabaran untuk menjalani perintahMu dan menjauhi laranganMu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami. Aamiin.


[1] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 304.

[2] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 308.

IBADAH YANG PALING UTAMA

Ibnus Sammak menulis surat kepada saudaranya,

‏أَفْضَلُ العبادة الإمساك عن المعصية ، والوقوف عند الشهوة ، وَأَقْبَحُ الرغبة أَنْ تطلب الدُّنْيَا بعمل الآخرة

‏الآداب الشرعية (1/153)

“Ibadah yang paling utama adalah menahan diri dari maksiat dan berhenti saat syahwat.. dan seburuk-buruk keinginan adalah mencari dunia dengan melalui amalan akherat..”

(Al Adab Asy Syar’iyah 1/153)

Karena maksiat itu disukai oleh syahwat..
Meninggalkannya amat berat terlebih saat syahwat bergejolak..
Semakin membituhkan perjuangan maka semakin besar pahalanya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/64598

Jangan Sering Pamer Agar Terhindar Penyakit ‘Ain

Penyakit ‘ain adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.

Untuk lebih jelas silakan baca tulisan kami:

Penyakit ’Ain bisa juga terkena melalui foto dan video, silakan baca tulisan kami:

Bagi mereka yang diberikan anugrah dan rezeki oleh Allah hendaknya menjaga diri agar tidak sering “pamer” baik di dunia nyata maupun dunia maya dengan SANGAT SERING upload foto dan video.

Semisal:

  • Foto anak yang imut dan lucu
  • Foto romantisme keluarga

Agar tidak mudah terkena ’ain atau sampai batas sombong dan pamer kepada manusia, ingatlah bahwa Iblis diusir dari surga karena sombong. Kita belum pasti masuk surga, jangan sampai sombong.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalamnya terdapat kesombongan seberat biji sawi” (HR. Muslim)

Penyakit ’Ain bisa karena pandangan:

  1. Dengki/hasad
  2. Takjub/kagum

Ini juga bisa menimbulkan kerugian bagi yang melihat orang yang sering pamer tersebut:

  1. Menimbulkan dengki/hasadSebenarnya orang tersebut awalnya tidak hasad/dengki, akan tetapi karena sering melihat yang pamer, ia akan menjadi hasad. Ini adalah penyakit hati terberat dan membuat merana.
  2. Menimbulkan kagum lalu membuat tidak bersyukur akan hidupnyaMungkin dia tidak akan hasad dan iri pada orang yang pamer (misalnya sangat sering pamer foto romantisme suami-istri), karena ia sadar mereka berdua (yang pamer) layak mendapatkannya dan memang layak menjadi pasangan romantis dan ia tidak hasad tetapi kagum/takjub.

Akan tetapi karena sering dipamerkan dan ia tsering erpapar serta melihat terus sesuatu yang sempurna, bisa jadi ia tidak bersyukur dengan kehidupan yang ia alami.

Misalnya:

Seorang istri memiliki suami yang baik, menunaikan hak istri, bertanggung jawab dan berusaha membahagiakan istri hanya saja kelemahannya ia tidak bisa romantis. Sang istri-pun bahagia dengan suaminya.

Karena sang istri terlalu sering melihat pasangan sosok suami ideal, mulailah ia membandingkan suaminya dengan sosok ideal tersebut. Mulailah ia “memaksa” meminta suaminya agar bisa se-romantis sosok suami ideal tersebut. Mulailah ia tidak bersyukur dan tidak bahagia.

Demikian juga terlalu sering melihat sosok anak ideal, mulailah ia tidak bersyukur dengan prestasi anak-anak dan anugrah yang telah Allah berikan sekarang karena membandingkan dengan sosok ideal yang terlalu sering ia lihat.

Demikianlah bahaya sering pamer bagi diri dan orang lain, serta berpotensi menimbulkan penyakit ’ain.


@Gemawang, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/jangan-sering-pamer-agar-terhindar-penyakit-ain.html

Menceritakan Rahasia Hubungan Suami-Istri

Di antara kerusakan yang terjadi pada jaman ini adalah ketika seseorang dengan mudahnya menceritakan hubungan biologis dengan istri atau suami kepada orang lain tanpa ada faidah dan keperluan.

Perbuatan semacam ini terlarang, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim no. 1437)

Hukumnya sama saja jika yang menyebarkan adalah dari pihak istri. Ketika sang istri sedang duduk-duduk ngobrol (ngerumpi) dengan teman sesama perempuan, mulailah pembicaraan mereka merembet membicarakan suami, lalu semakin jauh lagi mulailah menceritakan hubungan biologis antara dia dengan suaminya. Kondisi yang sama kurang lebih juga terjadi dari pihak si suami.

Ketika suami atau istri tersebut menceritakan kondisi dan keadaan mereka ketika berhubungan suami istri, maka orang lain yang diceritakan tersebut seolah-olah hadir dan menyaksikan langsung mereka berdua ketika berada di ranjangnya tersebut. Wal’iyaadhu billah.

Oleh karena itu, perbuatan semacam ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam samakan dengan setan laki-laki dan perempuan yang bersetubuh, lalu dilihat ramai-ramai. Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنَّمَا مِثْلُ ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانُ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ

“Janganlah kalian lakukan. Karena perbuatan semacam ini seperti setan lelaki yang bertemu dengan setan perempuan di jalan, kemudian dia langsung melakukan hubungan intim, sementara setan lain melihatnya.” (HR. Ahmad no. 27583, sanad hadits ini dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Arnauth)

An-Nawawi rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadits riwayat Muslim di atas,

وَفِي هَذَا الْحَدِيث تَحْرِيم إِفْشَاء الرَّجُل مَا يَجْرِي بَيْنه وَبَيْن اِمْرَأَته مِنْ أُمُور الِاسْتِمْتَاع ، وَوَصْف تَفَاصِيل ذَلِكَ وَمَا يَجْرِي مِنْ الْمَرْأَة فِيهِ مِنْ قَوْل أَوْ فِعْل وَنَحْوه . فَأَمَّا مُجَرَّد ذِكْر الْجِمَاع ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيهِ فَائِدَة وَلَا إِلَيْهِ حَاجَة فَمَكْرُوه لِأَنَّهُ خِلَاف الْمُرُوءَة

“Dalam hadits ini, terdapat larangan bagi suami untuk menyebar-nyebarkan apa yang terjadi antara dia dan istrinya dalam perkara istimta’ (bersenang-senang, yaitu hubungan biologis), menggambarkan detil yang terjadi di antara keduanya, dan apa yang dilakukan oleh pihak wanita (istri), baik berupa ucapan, perbuatan, dan semacamnya. Adapun semata-mata menceritakan adanya hubungan suami istri (tanpa menyebutkan detilnya, pent.), jika hal itu tidak ada faidah dan tidak ada kebutuhan, maka hukumnya makruh, karena hal ini dinilai menyelisihi (menurunkan) muru’ah (kehormatan seseorang).” (Syarh Shahih Muslim, 5: 162)

Jadi, perbuatan ini diharamkan dan tidaklah halal baginya. Sama saja apakah dia menceritakan kepada teman di kantor, tetangga, atau bahkan keluara terdekat sendiri. Dan pelakunya diancam akan mendapatkan kedudukan yang paling jelek di sisi Allah Ta’ala pada hari kiamat.

Yang menjadi kewajiban kita adalah menjaga perkara-perkara rahasia yang terjadi di dalam rumah, antara suami dan istri dan tidak menyebar-nyebarkannya. Baik hal itu berkaitan dengan hubungan biologis suami-istri, atau perkara-perkara rahasia lainnya yang tidak selayaknya disebarkan. Sehingga jika disebarkan, sama saja dengan perbuatan mengkhianati amanah. [1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَمَانَةِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya (pelanggaran) amanah terbesar di sisi Allah Ta’ala pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, lalu dia menyebarkan rahasia ranjangnya.” (HR. Muslim no. 1437)

Seorang muslim yang baik tentu hanya akan mengatakan sesuatu yang baik atau jika ada faidah (manfaat) di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 74)

Jika ada kebutuhan, boleh menceritakan

Larangan di atas berlaku jika tidak ada kebutuhan, hanya sekedar dicerita-ceritakan. Adapun jika ada hajat (kebutuhan) tertentu, maka diperbolehkan. An-Nawawi rahimahullah berkata,

وَإِنْ كَانَ إِلَيْهِ حَاجَة أَوْ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ فَائِدَة بِأَنْ يُنْكِر عَلَيْهِ إِعْرَاضه عَنْهَا أَوْ تَدَّعِي عَلَيْهِ الْعَجْز عَنْ الْجِمَاع أَوْ نَحْو ذَلِكَ فَلَا كَرَاهَة فِي ذِكْره كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنِّي لَأَفْعَلَهُ أَنَا وَهَذِهِ ” وَقَالَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَلْحَة : ” أَعْرَسْتُمْ اللَّيْلَة ؟ ” وَقَالَ لِجَابِرٍ : ” الْكَيْس الْكَيْس ” . وَاَللَّه أَعْلَم

“Adapun jika terdapat kebutuhan atau ada faidah dengan menceritakan, misalnya suami mengingkari keengganan istri yang tidak mau melayani suami, atau istri mengklaim bahwa suami lemah, tidak mampu menyetubuhi (istri), atau hal-hal semacam itu, maka hal ini tidaklah makruh menyebutkannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku melakukannya dan juga ini.” Juga pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Thalhah, “Apakah semalam Engkau menjadi pengantin?” [2] Dan juga perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jabir, “Kalau bisa segeralah punya anak, kalau bisa segeralah punya anak wahai Jabir.” [3]Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 5: 162)

Berdasarkan penjelasan di atas, jika terdapat kebutuhan, maka boleh diceritakan sesuai dengan kadar keperluannya. Misalnya, seorang istri menuduh suami impoten, tidak mampu menyetubuhi istri. Maka boleh bagi suami untuk menceritakan sesuai dengan kadar kebutuhannya. Wallahu a’lam.

[Selesai]

***

@Rumah Lendah, 11 Syawwal 1440/15 Juni 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Lihat Syarh Riyadhus Shalihin, 1: 740 karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.

[2] Maksudnya, apakah semalam Abu Thalhah menyetubuhi istrinya. Hadits ini terdapat dalam Shahih Bukhari no. 5470.

[3] Sebagaimana dalam riwayat Bukhari (no. 5245) dan Muslim (no. 715).
Sumber: https://muslim.or.id/47972-menceritakan-rahasia-hubungan-suami-istri.html