Dosa Selalu Menggelisahkan Jiwa

Kebaikan selalu menentramkan jiwa dan kejelekan selalu menggelisahkan jiwa. Itulah realita yang ada pada umumnya manusia.

Dari cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Hasan bin ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.”[1]

Dalam lafazh lain disebutkan,

فَإِنَّ الخَيْرَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الشَّرَّ رِيْبَةٌ

“Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan kejelekan selalu mendatangkan kegelisahan.”[2]

Dalam hadits lainnya, dari Nawas bin Sam’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.”[3]

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Di hati pun akan tampak tidak tenang dan selalu khawatir akan dosa.”[4]

Sampai-sampai jika seseorang dalam keadaan bingung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan menanyakan pada hatinya, apakah perbuatan tersebut termasuk dosa ataukah tidak. Ini terjadi tatkala hati dalam keadaan gundah gulana dan belum menemukan bagaimanakah hukum suatu masalah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan pada Wabishoh,

اسْتَفْتِ نَفْسَكَ ، اسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ – ثَلاَثاً – الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِى الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Mintalah fatwa pada jiwamu. Mintalah fatwa pada hatimu (beliau mengatakannya sampai tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan menentramkan hati. Sedangkan kejelekan (dosa) selalu menggelisahkan jiwa dan menggoncangkan hati.”[5]

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menjelaskan, “Hadits Wabishoh dan yang semakna dengannya menunjukkan agar kita selalu merujuk pada hati ketika ada sesuatu yang merasa ragu. Jika jiwa dan hati begitu tenang, itu adalah suatu kebaikan dan halal. Namun jika hati dalam keadaan gelisah, maka itu berarti termasuk suatu dosa atau keharaman.”[6] Ingatlah bahwasanya hadits Wabishoh dimaksudkan untuk perbuatan yang belum jelas halal atau haram, termasuk dosa ataukah bukan. Sedangkan jika sesuatu sudah jelas halal dan haramnya, maka tidak perlu lagi merujuk pada hati.

Demikianlah yang namanya dosa, selalu menggelisahkan jiwa, membuat hidup tidak tenang. Jika seseorang mencuri, menipu, berbuat kecurangan, korupsi, melakukan dosa besar bahkan melakukan suatu kesyirikan, jiwanya sungguh sulit untuk tenang.

Lantas bagaimana jika ada yang melakukan dosa malah hatinya begitu tentram-tentram saja?

Jawabannya, bukan perbuatan dosa atau maksiat dibenarkan. Yang benar adalah itulah keadaan hati yang penuh kekotoran, yang telah tertutupi dengan noda hitam karena tidak kunjung berhenti dari maksiat. Allah Ta’ala berfirman,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14). Jika hati terus tertutupi karena maksiat, maka sungguh sulit mendapatkan petunjuk dan melakukan kebaikan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”[7]

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot, wa tarkal munkaroot. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran.[8]

Diselesaikan di siang hari di Panggang-Gunung Kidul, 15 Syawal 1431 H (23/09/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2] HR. Al Hakim 2/51 dalam Mustadroknya. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih. Adz Dzahabi menegaskan bahwa hadits ini shahih.

[3] HR. Muslim no. 2553.

[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, 1392, 16/111.

[5] HR. Ad Darimi 2/320 dan Ahmad 4/228. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini dho’if. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Al Irwa’ no. 1734.

[6] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Darul Muayyid, hal. 304.

[7] Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1424 H, hal. 107.

[8] HR. Tirmidzi no. 3233, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Sumber https://rumaysho.com/1269-dosa-selalu-menggelisahkan-jiwa.html

Wasilah Kesyirikan

Khutbah Pertama:

إِنَّ الحَمدَ للهِ، نَحمَدُهُ ونَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعوذُ باللهِ مِنْ شُرُورِ أَنفُسِنا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَه، وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ وسَلَمَ تسلِيماً كَثِيراً. أمّا بعد:

Ayyuhal muslimun,

Sesungguhnya kaum Nuh ‘alaihissalam adalah umat pertama yang melakukan kesyirikan. Pelanggaran syariat terbesar itu muncul gara-gara mereka menerima godaan setan untuk menggambar orang-orang shaleh. Tujuannya untuk mengenang keshalehan mereka. Untuk menjadikan mereka teladan dalam ibadah dan keshalehan. Ketika generasi penggambar ini wafat, muncul generasi-generasi berikutnya. Generasi yang tidak lagi mengenal ilmu. Hingga mereka menyembah orang-orang shaleh tersebut.

Inilah cara setan dalam menipu umat manusia. Mereka memulai dari sesuatu yang dianggap remeh oleh manusia. Dianggap remeh kalau hal tersebut dapat menjadi wasilah kesyirikan. Mereka manfaatkan lemahnya akal, sedikitnya ilmu, dan ulama-ulama yang buruk. Hingga mereka tergelincir dari tauhid sepenuhnya. Semoga Allah melindungi kita dari yang demikian.

Ayyuhal muslimun,

Di antara wasilah yang dapat mengantar kepada kesyirikan adalah mencari-cari peninggalan atau jejak para nabi dan orang-orang shaleh. Hal ini telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, hingga rusaklah ajaran Islam yang diajarkan oleh nabi-nabi kepada mereka.

Di zaman sekarang, setan memperbarui metode mereka dalam menggoda umat Islam. Mereka namakan hal-hal seperti ini dengan peninggalan Islam. Ini adalah tempat dilahirkanya nabi ini atau orang shaleh ini. Atau nabi atau orang shaleh dimakamkan di sini. Atau mereka pernah hidup dan berdiri di sini. Atau orang shaleh tadi pernah beribadah di suatu tempat. Hal demikian dapat mengantarkan pada kesyirikan.

Ayyuhal muslimun,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita. Beliau telah menerangkan syariat, hukum-hukum agama, baik secara global maupun terperinci. Baik yang kecil maupun yang besar. Di antara yang beliau jelaskan adalah jalan-jalan kesyirikan. Beliau melarang mencari-cari jejak-jejak orang shaleh yang tidak mendukung praktik keagamaan. Melarang mengkultuskannya. Melarang shalat di situ. Melarang berdoa di sisinya. Mengusap-usap karena berharap berkah. Dan bersungguh-sungguh menyediakan waktu, tenaga, dan biaya untuk pergi ke sana.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan sebuah geraja di Habasyah yang memuat gambar-gambar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi,

أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكِ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya mereka itu apabila di antara mereka terdapat orang yang soleh yang meninggal maka mereka pun membangun di atas kuburnya sebuah masjid/tempat ibadah dan mereka memasang di dalamnya gambar-gambar untuk mengenang orang-orang soleh tersebut. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat kelak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور(لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ) متفق على صحته

“Allah melaknat Yahudi dan Nasroni, mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai masjid.” (Muttafaqun ‘alaih).

Ayyuhal muslimun,

Mencari-cari peninggalan atau bekas orang-orang shaleh, pertama kali terjadi di zaman Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Saat itu, orang-orang mencari-cari dimana pohon yang dulu menjadi tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat melakukan Bai’atur Ridwan. Beliau pun mengingkari perbuatan demikian. Beliau peringatkan pelakunya dan memerintah agar pohon tersebut ditebang.

Ketika Umar selesai melaksanakan ibadah haji, ia melihat masjid yang orang-orang bersegera ke sana. Beliau bertanya, “Apa itu?” Dijawab, “Itu adalah tempat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di situ.” Umar menanggapi, “Seperti inilah dulu ahlul sebelum kalian kita binasa. Mereka menjadikan bekas-bekas peninggalan nabi mereka tempat yang dikultuskan. Bagian bumi mana saja yang mudah bagi kalian, kerjakanlah shalat di sana. Yang tidak, lewatlah.”

Ibadallah,

Para ulama kita telah memperingatkan ziarah-ziarah yang tidak disyariatkan. Mereka mengingatkan bahaya mengagungkan bekas-bekas orang shaleh. Ibnu Wadhah rahimahullah mengatakan, “Imam Malik dan selainnya yang merupakan ulama Madinah datang ke masjid-masjid dan peninggalan-peninggalan yang ada di Madinah, kecuali Masjid Quba dan (ziarah) Uhud.”

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hal yang diketahui secara mutawatir dan secara natural bahwa agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan memakmurkan masjid-masjid dan shalat di dalamnya. Dan tidak membangun di atas kubur seorang nabi atau kubur lainnya. Demikian juga di tempat berdirinya nabi. Tidak ditemukan di masa sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka di negeri-negeri Islam. Tidak di Hijaza, Syam, Irak, Khurasan, Mesir, ataupun Maroko, masjid yang dibangun di atas kubur seorang nabi. Tidak pula bangunan-bangunan yang dimaksudkan untuk diziarahi. Tidak ada seorang salaf pun yang datang ke kubur nabi atau selain nabi dalam rangka berdoa di sisi kubur itu. Bahkan para sahabat tidak berdoa di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun kubu nabi-nabi lainnya. Mereka bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atas dua orang sahabatnya (Abu Bakr dan Umar).”

Badan fatwa Arab Saudi menyatakan bahwa naik ke gua yang telah dikenal, bukan termasuk syi’ar haji. Bukan pula merupakan ajaran Islam. (Kalau diyakini ibadah) Hal ini merupakan bid’ah. Dan jalan menuju kesyirikan. Oleh karena itu, seharusnya orang-orang dilarang untuk naik menuju gua. Tidak memberikan untuk mereka tangga atau hal-hal yang memudahkan untuk naik. Hal ini merupakan implementasi dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih).

Telah berlalu sejak awal turunnya wahyu hingga Islam memasuki adab yang ke-15, kita tidak mengetahui seorang pun dari khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga imam-imam kaum muslimin yang menganjurkan untuk melakukan hal ini. Kebaikan sepenuhnya ada pada mereka dan meneladani cara beragama mereka. Demikian pernyataan lembaga fatwa Arab Saudi.

Ayyuhal muslimun,

Berdasarkan hal ini, dapat kita pahami bahwa tidak ada anjuran untuk berkunjung ke tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga ke Gua Hira dan Tsur, Masjid as-Sab’ah, dan tidak pula layak mencari-cari jejak para nabi. Karena tidak ada kaitannya untuk menambah amal. Sama dengan hal ini juga, mengunjungi pusara rumah Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha. Mengambil tanah kubur beliau. Atau mengunjungi Darul Arqam bin Abi al-Arqam. Atau Jabal Thur. Atau tempat-tempat lainnya. Semua itu merupakan hal-hal baru yang diada-adakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menuntunkan yang demikian. Dan para sahabat radhiallahu ‘anhum tidak pernah melakukannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan kita untuk mengkultuskan makhluk dan tempat. Tapi Dia menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya semata. Agama Islam ini dibangun mengikuti bukan menginovasi ajaran dengan hawa nafsu. Siapa yang ingin berhasil dan selamat ikutilah jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau diutus untuk mengesakan Allah dengan beribadah kepadanya dan mengingatkan dari hal-hal yang dapat membatalkan tauhid.

أقول ما تسمعون واستغفر الله العلي العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْماً لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا،

أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى،

Ayyuhal muslimun,

Di masa lalu, sebelum Mekah dan Madinah masuk menjadi wilayah Arab Saudi, kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dithawafi dan dijadikan tempat untuk istightsah. Hal itu dilakukan terang-terangan di siang hari. Dan saat itu di pelataran masjid terdapat pohon yang juga dikelilingi dan dijadikan tempat ngalap berkah. Sebagaiman dulu orang-orang jahiliyah ngalap berkah dengan pohon yang disebut Dzatu Anwath.

Sedangkan di Pemakaman Baqi’ dipenuhi dengan kubah dan bangunan-bangunan besar di atas kubur. Di Mekah juga terdapat bangunan kubur yang besar, terutama kubur Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha. Demikian juga di pekuburan Ma’la. Orang-orang minta-minta di kubur-kubur tersebut.

Seorang sejarawan Timur Tengah, Ibnu Ghanam mengatakan, “Di awal abad ke-12 Hijriyah, mayoritas masyarakat sangat getol dengan kesyirikan. Mereka kembali kepada keyakinan dan prilaku jahiliyah. Terpadamlah cahaya Islam dan sunnah. Para ulama hilang dikalahkan masyarakat awam. Kemudian para penyeru hawa nafsu dan kesesatan diberi panggung. Mereka lemparkan Kitabullah ke belakang punggung mereka. Mereka hanya mengekor kesesatan yang nenek moyang mereka lakuan. Mereka sangka nenek moyang mereka paling tahu akan kebenaran dan jalan petunjuk.”

Ayyuhal muslimun,

Kemudian secara bertahap hal-hal tersebut hilang. Bukan berarti tanpa tantangan? Bahkan peperangan pun terjadi antara pembela tauhid dengan pembela tradisi dan kesyirikan. Sampai akhirnya Allah menangkan tauhid. Dan kita lihat Arab Saudi seperti yang sekarang kita saksikan. Di makam baqi’ tidak ada lagi kubur-kubur yang diagungkan. Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi dipinta-pinta di situ. Dan selainnya.

Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dari kesyirikan dan hal-hal yang menjadi wasilah menuju dosa terbesar tersebut.

(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَاشِدِيْنَ، اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِّلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً مُطْمَئِنّاً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ الْإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ بِسُوْءٍ فَأَشْغَلَهُ بِنَفْسِهِ، وَرُدَّدْ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ، وَكِفْنَا شَرَّهُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، اَللَّهُمَّ وَلِّي عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَكَفِيْنَا شَرَّ شِرَارَنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَا لَا يَخَافُكَ وَلَا يَرْحَمُنَا، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ إِمَامَنَا وَفِّقْهُ لِمَا فِيْهِ الخَيْرَ وَالصَلَاحَ لِلْإِسْلَامِ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ بِطَانَتَهُمْ وَجُلَسَائِهِمْ وَمُسْتَشَارِيْهِمْ وَمَنْ حَوْلَهُمْ، اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ جُلَسَاءَ السُّوْءِ وَبِطَانَةَ السُّوْءِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، (رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ).

عِبَادَ اللهِ، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)، (وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)، فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Oleh tim KhotbahJumat.com

sumber : https://khotbahjumat.com/5008-wasilah-kesyirikan.html

Di Balik Musibah yang Menimpa

Musibah merupakan suatu fenomena yang sering kita dengar, bahkan telah akrab di telinga kita dalam beberapa waktu terakhir ini, khususnya di bumi pertiwi. Musibah tersebut berupa gempa bumi, banjir, dan erupsi. Banyak pihak yang mengklaim bahwa musibah ini terjadi karena adanya ini dan itu. Namun, bagaimanakah Islam memandang musibah, apa penyebab, serta apa hikmahnya?

Sebab datangnya musibah

Hendaklah diketahui oleh setiap orang yang beriman bahwa musibah yang datang merupakan bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepadanya. Ujian tersebut dapat meninggikan derajat seorang muslim di sisi Allah. Bahkan bila ia bersabar, hal itu dapat menggugurkan dosa-dosanya. Ujian yang berat akan dibalas dengan pahala yang besar pula.

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah no. 4031, dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)

Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

“Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2398)

Musibah-musibah yang terjadi adalah akibat dosa-dosa yang diperbuat anak Adam. Dengan adanya musibah ini, semoga kita semakin ingat kepada Allah dan kembali bertobat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar, tobat).” (QS. Ar Rum: 41)

Semua orang pasti diuji

Ujian itu tak pandang bulu, entah ia kaya atau miskin, tua atau muda, semua pasti sedang atau akan mendapatkan ujiannya masing-masing. Bentuk ujian pun bermacam-macam, dapat berupa kesulitan atau kelapangan. Setiap hamba akan kembali kepada Allah Ta’ala untuk dimintai pertanggungjawaban terhadap perbuatannya, apakah dia bisa bersabar dengan ujian yang diberikan atau dia malah kufur kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa’: 35)

Ujian tak hanya berupa musibah, ada yang diuji dengan himpitan finansial, kekerasan dalam rumah tangga, dan berbagai macam ujian. Jadi, kita sebagaimana manusia yang lain, juga ditimpa musibah atau ujian yang beraneka ragam. Bisa jadi ujian yang dialami orang lain lebih berat dan lebih besar.

Musibah yang kita alami sekarang tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan musibah yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para nabi sebelumnya. Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi …” (HR. Tirmidzi no. 2398)

Kamu mampu, ujian ini akan menumbuhkan banyak kebaikan

Terkadang musibah yang melanda bisa mendatangkan banyak kebaikan. Selain dapat meninggikan derajat dan menghapus dosa, ujian yang hadir menyadarkan kita akan lemahnya diri ini dan butuhnya kita terhadap Allah Ta’ala. Ada juga yang tersadarkan bahwa kebanggaan (ujub) terhadap harta dunia yang ia miliki tiba-tiba sirna dalam sekejap mata.

Maka, yakinlah saudaraku, bahwa di balik ujian dan musibah yang menimpamu, ada kebaikan dan hikmahnya. Bahkan, sekiranya ujian tersebut tidak datang, bisa jadi kondisimu akan lebih buruk. Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 216)

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang lain,

فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

“Maka mungkin kalian membenci sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa: 19)

Tak ada kegembiraan sempurna, kecuali di akhirat

Dunia adalah tempatnya ujian dan cobaan. Tidak ada manusia yang hidup terlepas dari keduanya. Selama kita masih hidup di dunia, maka kita harus bersiap dengan segala ujian yang menghadang. Maka, bersabarlah saudaraku, tiada istirahat yang paripurna dan tidak ada kegembiraaan yang sempurna, melainkan hanya di akhirat kelak.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.

Sumber: https://muslim.or.id/81330-di-balik-musibah-yang-menimpa.html

Fatwa Ulama: Laki-Laki adalah Pemimpin dalam Rumah Tangga

Fatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi

Pertanyaan:

Sebutkan dalil yang menunjukkan kepemimpinan (qawamah) laki-laki atas wanita, dan jelaskan pula apa makna qawamah?

Jawaban:

Dalil tentang masalah ini adalah firman Allah Ta’ala,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh sebab itu, wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa’: 34)

Tentang makna firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”; Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullah berkata,

الرجال قوّامون على النساء”، الرجال أهل قيام على نسائهم، في تأديبهن والأخذ على أيديهن فيما يجب عليهن لله ولأنفسهم =”بما فضّل الله بعضهم على بعض”، يعني: بما فضّل الله به الرجال على أزواجهم: من سَوْقهم إليهنّ مهورهن، وإنفاقهم عليهنّ أموالهم، وكفايتهم إياهن مُؤَنهنّ. وذلك تفضيل الله تبارك وتعالى إياهم عليهنّ، ولذلك صارُوا قوّامًا عليهن، نافذي الأمر عليهن فيما جعل الله إليهم من أمورهن

“(Firman Allah Ta’ala yang artinya), “Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita”; (maksudnya), para lelaki adalah pihak yang bertanggung jawab atas urusan para istri mereka: dalam mendidik (membimbing) mereka, serta menegakkan apa yang diwajibkan atas mereka, baik untuk memenuhi hak Allah maupun hak suami mereka.

(Firman Allah Ta’ala yang artinya), “Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain”; artinya: karena Allah telah memberikan keutamaan kepada para laki-laki dibanding istri-istri mereka, di antaranya bahwa laki-laki memberikan mahar kepada mereka, menafkahi mereka dengan harta mereka, serta mencukupi kebutuhan hidup mereka. Itulah bentuk kelebihan yang Allah Ta’ala berikan kepada para laki-laki atas wanita. Karena alasan itu, para laki-laki menjadi pemimpin dan penanggung jawab atas wanita, memiliki kewenangan dalam perkara-perkara yang Allah bebankan kepada mereka terkait urusan para istri.”

Aku (Syekh Musthafa) berkata, “Dengan merenungkan ayat yang mulia di atas, jelaslah bahwa kepemimpinan laki-laki atas wanita disebabkan oleh dua perkara:

Pertama: karena Allah memberikan kelebihan atas laki-laki dibanding wanita dalam penciptaan dan tabiat mereka (misalnya, secara fisik, laki-laki lebih kuat dibandingkan wanita, pent.).

Kedua: karena laki-laki menafkahkan sebagian harta mereka (kepada wanita).

Dari sebab yang kedua ini, jelaslah bahwa wanita yang memberi nafkah kepada suaminya berarti telah menyelisihi qawamah suami. Oleh karena itu, kita dapati pada sebagian wanita karir ketika berada di rumah, mereka terkadang merasa lebih tinggi dan mendominasi atas suami mereka. Bukanlah maksudnya Allah membolehkan bagi istri untuk merasa lebih tinggi di atas suami. Akan tetapi, kami sayangkan realita yang terjadi di masyarakat, kecuali yang Allah memberi rahmat kepada mereka.

Oleh karena itu, orang yang memperhatikan masalah ini bisa melihat bahwa wanita yang tidak bekerja dan mencukupkan diri mengurus rumah tangga, mereka lebih taat kepada suaminya dibandingkan dengan wanita karir yang mengambil peran laki-laki dan merebut qawamah dari pihak suami, begitu pula lebih banyak nusyuz-nya (tidak taat kepada suami). Wallahu Ta’ala a’lam.

***

@Unayzah, KSA; 8 Jumadil akhir 1447/ 28 November 2025

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

Diterjemahkan dari Ahkaamun Nikah waz Zifaf, hal. 133-134.

Sumber: https://muslim.or.id/110734-fatwa-ulama-laki-laki-adalah-pemimpin-dalam-rumah-tangga.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Bertobat Sebelum Terlambat

Setiap manusia pernah salah. Tidak ada satu pun yang benar-benar bersih dari dosa. Namun, perbedaan antara orang yang baik dan yang lalai terletak pada seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah jatuh dalam kesalahan.

Dosa sekecil apa pun adalah noda yang menutupi cahaya hati. Ia membuat hati gelap, kaku, dan jauh dari rasa nikmat dalam ibadah. Tetapi, kabar gembiranya: Allah tidak menutup pintu ampunan, tidak peduli sebesar apa dosa itu, selama kita mau kembali kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini seperti air sejuk bagi jiwa yang haus ampunan. Ia memeluk orang yang paling berdosa sekalipun, dan berkata, “Selama engkau masih hidup, pulanglah, pintu itu belum tertutup.”

Namun, ayat ini juga membawa peringatan lembut, yaitu jangan menunda tobat. Karena waktu tidak akan menunggu kita sadar.

Allah menanti tobat kita setiap saat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)

Bayangkan Tuhan semesta alam, yang tidak butuh apa pun dari kita, justru menanti kita untuk kembali, siang dan malam. Bukankah itu bentuk kasih sayang yang tak terbayangkan?

Allah tidak menutup pintu itu. Tapi manusialah yang sering menutupnya sendiri dengan rasa malas, dengan menunda, dengan berkata “nanti saja”.

Kisah seorang pembunuh seratus jiwa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebuah kisah luar biasa dan kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahihain. Ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Ia ingin bertobat, lalu bertanya kepada seorang rahib, “Apakah ada jalan tobat bagiku?”

Rahib itu menjawab, “Tidak ada.”

Lelaki itu pun membunuhnya, genaplah seratus orang yang ia bunuh.

Namun, hatinya belum mati. Ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim, dan ditunjukkan kepada seorang ulama. Ulama itu berkata, “Ya, masih ada tobat bagimu! Siapa yang bisa menghalangimu dari rahmat Allah? Tapi tinggalkanlah negerimu yang penuh dosa ini dan pergilah ke negeri lain di mana orang-orangnya beribadah kepada Allah.”

Ia pun berangkat. Tapi di tengah jalan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Lalu, Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan. Dan karena ia lebih dekat sejengkal ke arah negeri tobat itu, maka Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.

Masya Allah… bahkan niat untuk tobat pun memiliki nilai yang besar di sisi Allah.

Bahaya menunda tobat

Menunda tobat adalah bentuk penipuan terbesar terhadap diri sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)

Kematian tidak memberi peringatan. Ia datang di waktu yang paling tidak kita duga di tengah tawa, di sela rencana, atau bahkan di puncak cita-cita duniawi.

Syarat dan tanda tobat yang diterima

Para ulama menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki beberapa syarat:

1) An-Nadam (الندم), yaitu menyesali dosa yang telah dilakukan.

2) At-Tark (الترك), yaitu meninggalkan dosa tersebut dengan segera.

3) Al-‘Azm (العزم), yaitu bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.

4) Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka wajib mengembalikan haknya atau meminta maaf.

Keutamaan tobat di sisi Allah

Allah mencintai orang yang bertobat

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Dosa sebesar apa pun dihapuskan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertobat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)

Tobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baik

Allah Ta’ala berfirman,

فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا

“Maka mereka itu, Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)

Tobat membuka pintu rahmat dan keberuntungan

Allah Ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Penyesalan yang tidak ada artinya

Allah menggambarkan penyesalan orang yang terlambat bertobat dalam firman-Nya,

رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِي إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

“Ya Rabbku, sekiranya Engkau beri tangguh aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Namun, penyesalan itu datang ketika pintu tobat telah tertutup. Sungguh, tidak ada penyesalan yang lebih pedih daripada menyadari kesempatan sudah berlalu selamanya.

Saatnya kembali kepada Allah

Kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Mungkin besok. Mungkin malam ini. Oleh karena itu, jangan menunggu “sempat”, “nanti”, atau “sudah tua”. Tobat itu sekarang.

Tobat bukan tanda kelemahan, tapi tanda kesadaran dan keberanian spiritual. Ia adalah bukti cinta kepada Allah, bukti bahwa hati masih hidup. Maka, pulanglah sebelum terlambat.

Air mata penyesalan yang jatuh hari ini, bisa jadi penyelamat kita di hari akhir.

اللهم تب علينا توبةً نصوحًا، تمحو بها ذنوبنا، وتُطهِّر بها قلوبنا، وتختم بها حياتنا بحسن الخاتمة.

“Ya Allah, terimalah tobat kami dengan taubat nasuha. Hapuslah dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”

Wallahu Ta’ala a’lam.

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Sumber: https://muslim.or.id/110551-bertobat-sebelum-terlambat.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Ajaibnya Keadaan Seorang Mukmin

Ajaibnya keadaan seorang mukmin? Bagaimana bisa?

Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Imam Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir, “Keadaan seorang mukmin semuanya itu baik. Hanya didapati hal ini pada seorang mukmin. Seperti itu tidak ditemukan pada orang kafir maupun munafik. Keajaibannya adalah ketika ia diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta dan kedudukan, maka ia bersyukur pada Allah atas karunia tersebut. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersyukur. Ketika ia ditimpa musibah, ia bersabar. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersabar.

Oleh karenanya, selama seseorang itu dibebani syari’at, maka jalan kebaikan selalu terbuka untuknya. Sehingga seorang hamba yang beriman itu berada di antara mendapatkan nikmat yang ia diperintahkan untuk mensyukurinya dan musibah yang ia diperintahkan untuk bersabar.

Semoga keadaan kita semuanya baik.

—-

@ Darush Sholihin, Panggang, GK, 19 Jumadal Ula 1437 H setelah ‘Ashar

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/12985-ajaibnya-keadaan-seorang-mukmin.html

Akal adalah Kendaraan Menuju Surga

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ

قال الله تعالى فى كتابه الكريم

يا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.

 يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا

 يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما

أما بعد

Khotbah pertama

Para jemaah rahimakumullah!

Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menciptakan alam semesta dengan segala keteraturannya. Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menjadikan makhluk-Nya dengan segala manfaatnya. Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat hanyalah ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Dan Allah ﷻ juga mewajibkan kepada kita semua untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Sehingga tiada jalan yang dapat menutup usia kita dengan selamat, melainkan dengan beriman dengan keimanan yang sesungguhnya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.

Akal adalah kesempurnaan penciptaan manusia

Para jemaah rahimakumullah!

Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menjadikan manusia dalam sebaik-baik penciptaan, sebagaimana dalam firman-Nya,

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Yaitu, bahwasanya di antara makhluk Allah di atas permukaan bumi ini, manusialah yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk, baik bentuk lahir maupun bentuk batin. Bentuk tubuhnya melebihi keindahan bentuk tubuh hewan yang lain, tentang ukuran dirinya, tentang manis air-mukanya; sehingga dinamai basyar, artinya wajah yang mengandung kegembiraan, sangat berbeda dengan binatang yang lain.

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menerangkan bahwa keindahan manusia semakin tinggi karena kita diberi pula akal, bukan semata-mata hanya hidup bernafas. Dengan perseimbangan antara sebaik-baik tubuh dan pedoman pada akalnya itu, manusia dapat hidup di permukaan bumi ini sebagai khalifatul ardhi (pengatur di muka bumi).

Akal yang sehat akan mencintai kebaikan

Allah ﷻ jadikan akal dalam fitrahnya adalah menyukai kebaikan dan kebenaran, Allah ﷻ berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allâh); (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rûm: 30)

Syekh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah ﷻ menjadikan pada akal manusia cenderung menganggap baik suatu kebenaran dan menilai buruk segala yang batil. Karena sesungguhnya semua hukum dalam syariat Islam, baik yang lahir maupun yang batin, Allah ﷻ telah menjadikan pada hati semua makhluk-Nya kecenderungan (untuk) menerimanya, maka Allah ﷻ menjadikan di hati mereka rasa cinta kepada kebenaran dan selalu mengutamakannya. Inilah hakikat fitrah Allah yang dimaksudkan.” (Tafsir As-Sa’di, QS. Ar-Rum: 30)

Maka, keutamaan akal telah dapat membedakan antara jalan bahagia dengan yang hina. Yakin akan kebenaran barang yang benar dan berpegang kepadanya, tahu akan kesalahan barang yang salah dan menjauhinya; semuanya didapat dengan otak yang cerdas, bukan karena turut-turutan, bukan karena taklid kepada pendapat orang lain saja.

Namun, sebagaimana apa yang difirmankan Allah ﷻ,

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Oleh karena itu, terjadilah peperangan yang sengit antara akal yang lurus di atas cahaya ilmu dengan hawa nafsu yang ditunggangi setan. Sehingga tidak heran kita temui bahwa ada orang yang berakal hebat, cerdas, bergelar tinggi, tetapi jatuh dalam kesesatan yang bahkan oleh orang awam sekalipun dianggap kebodohan.

Akal adalah kendaraan menuju surga

Akal ini adalah kendaraan menuju surga, ia salah satu perangkat penting agar kita sampai menuju surga Allah ﷻ. Bukankah syariat ini hanya dibebankan kepada orang yang berakal serta matang akalnya? Bukankah orang gila tidak dibebankan syariat? Betapa banyak keadaan terangkatnya syariat karena akal seorang telah hilang?

Namun, sebagaimana kendaraan kita, butuh diservis, butuh dipoles, bahkan terus ditingkatkan. Demikianlah akal, hendaknya terus dipoles agar senantiasa hidup di atas fitrah kebaikannya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Mâjah)

Dan bertebarannya mutiara faidah ayat-ayat Al-Quran, tak bisa dipahami kecuali dengan akal yang lurus. Oleh karena itu, perlulah akal kita itu, dibekali dengan bensin dan bahan bakar yang berkualitas dari Al-Quran dan As-Sunnah. Sebab akal menuntut bahan bakar dari cahaya ilmu hakiki, sedangkan hawa nafsu menuntut siraman dari was-was setan. Allah ﷻ berfirman,

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut: 43)

Maka, berbagai ilmu berkualitas itu yang ada di dalam firman Allah ﷻ dan sabda Nabi-Nya ﷺ, sangat sayang jika dilewatkan demikian saja, karena kita tidak mampu mengolahnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khotbah kedua

الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانه

Sehebat-hebat akal ada batasnya

Jemaah rahimakumullah!

Ketahuilah ikhwah sekalian, sehebat-hebat akal pasti ada batasnya. Sebagaimana mata tak mampu melihat tanpa cahaya, penciuman yang tak mampu membedakan jutaan rasa, maka akal pun demikian. Sebagaimana orang berbeda-beda dalam kemampuan indranya, akal pun demikian pula. Ada banyak hal yang sekiranya masuk akal di sebagian orang, tetapi tidak masuk akal di sebagian lainnya. Maka akal itu sangat terpengaruh dengan apa yang dikonsumsinya. Dan ia tidak bisa menjadi acuan mutlak kebenaran.

Maka, latihlah akal itu dengan kebaikan! Sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan bahwa hati ibarat anyaman tikar. Jika ada satu keburukan dilakukan, maka ia menyisakan noda hitam yang lekat. Sedangkan satu keburukan ditolak dan ini adalah kebaikan, maka ia menyisakan warna putih yang berseri.

Inilah pertembungan akal dan hawa nafsu itu. Jika akal yang bersih dan tertuntun syariat dimenangkan, maka noktah putih yang mendominasi sehingga kuat dan indah anyaman hati itu. Ia tak akan terpengaruh dengan fitnah apapun laksana batu cadas. Namun, jika hawa nafsu serta bala tentara setan yang menang, maka akan hitamlah ia dan mudahlah tergempur dengan fitnah. Bahkan berkebalikan penilaiannya, yang baik disangka jahat, yang jahat disangka baik.

Ambillah kebenaran dari Al-Quran

Maka, ambillah kebenaran dan kebaikan dari Al-Quran dan As-Sunnah. Jika ada yang mengucapkan bahwa Al-Quran terlalu sulit dicerna akal, atau sebagian mengatakan, “Jangan belajar agama dalam-dalam, nanti bisa jadi gila!”, maka ketahuilah ini adalah ucapan dusta.

Al-Quran dan As-Sunnah adalah bensin yang berkualitas tinggi dan kompatibel untuk semua kendaraan akal manusia. Allah ﷻ berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Bagi orang yang berkemampuan lengkap, mampu berbahasa Arab dan memahami ilmu-ilmu penunjangnya, jadilah ia mudah mengambil pelajaran dari Al-Quran. Adapun kita yang kurang dalam pengkajian ilmu, tak mengapa meminta bantuan dari para ulama dalam mempelajarinya. Dan inilah jalan yang dituntut dalam agama kita. Maka, manfaatkanlah akal sehat yang Allah ﷻ berikan kepada kita, jaga dan rawat dia. Semoga dengan anugerah yang Allah ﷻ berikan ini, kita bisa meraih surga, Jannah Firdausil Al-A’la.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

اللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابه

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ 

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِين

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْ

اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَ

اللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُود وَ شَتِّتْ شَمْلَهُم وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

و الحمد لله رب العالمين

Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain.

Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Sumber: https://muslim.or.id/110664-teks-khotbah-jumat-akal-adalah-kendaraan-menuju-surga.html

Hiburan bagi yang Mendapatkan Musibah

Berikut adalah beberapa nasehat dari ayat al Qur’an, hadits dan perkataan ulama yang semoga bisa menghibur setiap orang yang sedang mengalami musibah.

Musibah Terasa Ringan dengan Mengingat Penderitaan yang Dialami Orang Sholih

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي

“Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.”1
Dalam lafazh yang lain disebutkan.

مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ

“Siapa saja yang terasa berat ketika menghadapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.”2 Ternyata, musibah orang yang lebih sholih dari kita memang lebih berat dari yang kita alami. Sudah seharusnya kita tidak terus larut dalam kesedihan.

Semakin Kuat Iman, Memang Akan Semakin Terus Diuji

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”3

Di Balik Musibah, Pasti Ada Jalan Keluar

Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 6)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”4
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“Bersama kesulitan, ada kemudahan.”5

Merealisasikan Iman adalah dengan Bersabar

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.

“Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.”6

Musibah Awalnya Saja Terasa Sulit, Namun Jika Bersabar akan Semakin Mudah

Hudzaifah ibnul Yaman mengatakan,

إِنَّ اللهَ لَمْ يَخْلُقْ شَيْئاً قَطٌّ إِلاَّ صَغِيْراً ثُمَّ يَكْبَرُ، إِلاَّ المصِيْبَة فَإِنَّهُ خَلَقَهَا كَبِيْرَةً ثُمَّ تَصْغُرُ.

“Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan sesuatu melainkan dari yang kecil hingga yang besar kecuali musibah. Adapun musibah, Allah menciptakannya dari keadaan besar kemudian akan menjadi kecil.”7 Allah menciptakan segala sesuatu, misalkan dalam penciptaan manusia melalui tahapan dari kecil hingga beranjak dewasa (besar) semacam dalam firman Allah,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua.” (QS. Ghofir: 67)

Namun untuk musibah tidaklah demikian. Musibah datang dalam keadaan besar, yakni terasa berat. Akan tetapi, lambat laut akan menjadi ringan jika seseorang mau bersabar.

Bersabarlah Sejak Awal Musibah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

“Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.”8 Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.

Pahala Orang yang Mau Bersabar Tanpa Batas

Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan bahwa  ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga.9

Akan Mendapatkan Ganti yang Lebih Baik

Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”10

Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Semoga yang mendapati musibah semakin ringan menghadapinya dengan sedikit hiburan ini. Semoga kita selalu dianugerahi kesabaran dari Allah Ta’ala.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

Diselesaikan pada malam 11 Muharram 1431 H di Panggang-Gunung Kidul (kediaman mertua tercinta)

Footnote:

1 Shahih Al Jami’, 5459, dari Al Qosim bin Muhammad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits

ini shahih.

2 Disebutkan dalam Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu ‘Abdil Barr, hal. 249, Mawqi’ Al Waroq.

3 HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.

4Taisir Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 929, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H

5 HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.

6 Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, hal. 250.

7 Idem.

8 HR. Bukhari no. 1283, dari Anas bin Malik.

9 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/89, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.

10 HR. Muslim no. 918.

sumber: https://rumaysho.com/738-hiburan-bagi-yang-mendapatkan-musibah.html

Ghibah Tidak Selalu dengan Perkataan, Bisa Juga dengan Isyarat

Telah jelas pada ayat Surah Al-Hujurat bahwa kita dilarang keras ghibah terhadap saudara sendiri. Perumpamaan yang sangat jelek yaitu makan daging mayat saudara sendiri.[1] Ghibah membuat pelakunya “bangkrut” di akhirat karena akan bagi-bagi pahala kepada yang dighibahi, bahkan habislah pahala di hari kiamat kelak.

Ghibah Tidak Selalu dengan Perkataan

Ternyata ghibah tidak selalu dengan perkataan, tetapi bisa juga dengan:

  • Isyarat atau dengan perkataan tidak langsung, tetapi pendengar tahu siapa orang yang dimaksud, meski tanpa menyebut nama.
  • Meniru-niru perbuatannya dengan maksud menghina, misalnya meniru-niru orang pincang, meniru-niru ucapan orang yang “keseleo lidah/khilaf” untuk menghina.

Contoh ghibah dengan isyarat sebagaimana teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah yang memberikan kode-kode bahwa Shafiyah itu pendek dan maksudnya adalah ingin ghibah:

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻗُﻠْﺖُ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺣَﺴْﺒُﻚَ ﻣِﻦْ ﺻَﻔِﻴَّﺔ ﻛَﺬَﺍ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺮُّﻭَﺍﺓُ : ﺗَﻌْﻨِﻲْ ﻗَﺼِﻴْﺮَﺓٌ , ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻟَﻘَﺪْ ﻗُﻠْﺖِ ﻛَﻠِﻤَﺔً ﻟَﻮْ ﻣُﺰِﺟَﺖْ ﺑِﻤَﺎﺀِ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ ﻟَﻤَﺰَﺟَﺘْﻪُ

“Dari ‘Aisyah beliau berkata: Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Cukup bagimu dari Shafiyah “INI DAN ITU”. Sebagian rawi berkata :”’Aisyah mengatakan Shafiyah pendek”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya (karena sangat kotor dan bau sehingga bisa merubah air laut).” [2]

Bahkan walaupun kita tidak menyebut namanya, tapi orang lain tahu siapa yang kita maksud. Syekh Al-‘Utsaimin menjelaskan:

ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻻ ﻳﻔﻬﻢ ﺍﻟﺴﺎﻣﻊ ﺑﺄﻧﻪ ﻓﻼﻥ، ﻓﺈﻥ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﺴﺎﻣﻊ ﺑﺄﻧﻪ ﻓﻼﻥ ﻓﻼ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻣﻦ ﺍﻹﺗﻴﺎﻥ ﺑﺼﻔﺔ ﻋﺎﻣﺔ

“Syarat (menasihati secara umum) adalah para pendengar tidak mengetahui bahwa yang dimaksud adalah fulan (orang tertentu). Jika pendengar paham bahwa orang itu adalah Fulan maka tidak ada faedahnya kita menasihati secara umum.” [3]

Demikian juga ghibah dengan isyarat dan meniru-nirukan dengan maksud merendahkan.

‘Aisyah pernah berkata:

ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻭَﺣَﻜَﻴْﺖُ ﻟَﻪُ ﺇِﻧْﺴَﺎﻧًﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﺃُﺣِﺐُّ ﺃَﻧِّﻲْ ﺣَﻜَﻴْﺖُ ﺇِﻧْﺴَﺎﻧًﺎ ﻭَ ﺇِﻥَّ ﻟِﻲْ ﻛَﺬَﺍ

“Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata :”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya mendapatkan sekian dan sekian”. [4]

Semoga kita selalu dihindarkan dari perbuatan ghibah karena ini membuat rugi dunia dan akhirat.

@Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Catatan Kaki

  1. Allah berfirman,

    ﻭَﻻَ ﻳَﻐْﺘِﺐْ ﺑَﻌْﻀُﻜُﻢْ ﺑَﻌْﻀًﺎ ﺃَﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﻛُﻞَ ﻟَﺤْﻢَ ﺃَﺧِﻴْﻪِ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﻜَﺮِﻫْﺘُﻤُﻮْﻩُ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻮَّﺍﺏٌ ﺭَﺣِﻴْﻢٌ

    “Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]
  2. HR. Abu Dawud no 4875, At-Thirmidzi 2502 dan Ahmad 6/189
  3. Fatwa Nurun Alad Darb kaset no. 295
  4. HR. Abu Dawud, Shahih

sumber: https://muslimafiyah.com/ghibah-tidak-selalu-dengan-perkataan-bisa-juga-dengan-isyarat.html#footnote-2

Tak Usah Belajar, Agar Tak Berdosa?

Tak Usah Belajar, Agar Tak Berdosa?

Ust, pernah denger klo yg ngga ngamalin ilmunya nanti diazab sama Allah. Klo orang salah tapi blm tau maka dimaafkan Allah. Nah, terkadang trs jadi muncul inisiatif, ngga usah belajar saja, klo tau trs ngelanggar malah berdosa… Mohon pencerahannya Ust?

Syukron…

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah wash sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Seringkali memang setan datang kepada kita menampakkan sebagai penasihat yang bijak. Padahal, itu adalah tipu muslihat agar kita jauh dari kebenaran. Terlebih menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya, karena seorang hamba tak akan bisa menghamba secara profesional kepada Allah, tanpa ilmu. Setan menyadari ini sehingga mereka berusaha sekuat tenaga menghalangi manusia dari ibadah menuntut ilmu.

Maka, bila mendengar bisikan seperti itu, dan bisikan-bisikan lain yang mendorong kita untuk malas menuntut ilmu, bergegaslah berlindung kepada Allah…

A’udzubillahi minas syaithoonir rojiim

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”

Tentu kesimpulan seperti itu tidak benar. Alasannya adalah berikut:

Pertama, menuntut ilmu hukumnya wajib.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَىْ كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (HR. Ibnu Majah)

Sehingga dengan enggan belajar agama, padahal mampu dan sarana pun ada, maka dia telah terjatuh pada dosa besar, berupa meninggalkan kewajiban. Inginnya terbebas dari dosa, saat melakukan dosa karena tidak tahu kalau itu dilarang, ternyata justru dengan sikap enggan menuntut ilmu, sudah jatuh pada dosa. Lihatlah bagaimana kelicikan setan dalam menipu manusia.

Kedua, yang diberi uzur karena kebodohan adalah orang yang tidak ada akses menerima kebenaran.

Seperti dia tinggal di pelosok hutan, atau di puncak gunung, yang tidak ada akses menerima dakwah Islam. Sinyal tak ada, dai yang berdakwah ke sana pun tak ada. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka, mereka menganut agama nenek moyang.

Orang seperti ini kondisinya, mungkin mendapatkan pemakluman karena kebodohannya. Karena Allah tak membebani manusia di luar kemampuan,

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Dan Kami tidak akan meng-azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS Al-Isra’ : 15).

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allāh sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa’ : 165).

Adapun kita yang tinggal di lingkungan banyak pengajian, atau kalau pun jarang sekarang ada internet, parabola dan sarana lainnya, maka tak ada pemakluman atas kebodohan kita.

Ketiga, itu namanya berpaling dari kebenaran (i’rodh).

Saat kemampuan untuk mendengar ilmu ada, namun tetap enggan belajar, ini menunjukkan ada sikap berpaling dari kebenaran atau disebut i’rodh.

Akibat dari sikap ini tak main-main, Allah memperingatkan,

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Tha-Ha : 124)

Keempat, kufur nikmat.

Allah bekali manusia sarana-sarana menangkap ilmu, berupa pendengaran, penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡـٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl : 78)

Cara mensyukurinya adalah, dengan menggunakannya sebagaimana fungsinya, yaitu untuk menerima ilmu.

Ketika seorang memiliki kemampuan untuk menggunakan penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri, artinya tak ada sedikitpun yang cacat, kemudian ia enggan menuntut Ilmu, maka ia telah kufur nikmat.

Di ayat-ayat selanjutnya, Allah menjelaskan akibat dari kufur nikmat ini.

فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ

Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An-Nahl : 82)

يَعۡرِفُونَ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah. (QS. An-Nahl : 83)

وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat, kemudian tidak diizinkan kepada orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) dibolehkan memohon ampunan. (QS. An-Nahl : 84)

وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلۡعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمۡ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ

Dan apabila orang zhalim telah menyaksikan azab, maka mereka tidak mendapat keringanan dan tidak (pula) diberi penangguhan. (QS. An-Nahl : 85).

Demikian, Wallahua’lam bish showab.

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta

sumber: https://konsultasisyariah.com/36220-tak-usah-belajar-agar-tak-berdosa.html