Tidak Semua Anak Harus Jadi Ulama

Menjadi ulama mungkin menjadi dambaan banyak orang tua muslim saat ini pada anaknya. Fokus berdakwah, mengajar, dan mengajak manusia kepada ibadah serta kebaikan merupakan profesi yang mulia. Tak heran bila banyak orang tua berlomba memasukkan anaknya ke pesantren atau universitas Islam. Fenomena ini tentu menggembirakan, karena semakin banyak orang berilmu dan berdakwah, maka diharapkan kondisi masyarakat pun semakin baik.

Namun demikian, orang tua juga perlu memahami bahwa profesi sebagai ustadz atau da’i –meski mulia– tetaplah salah satu dari sekian banyak jalan kebaikan. Tidak semua anak cocok untuk menjadi ulama. Setiap anak memiliki kecenderungan dan potensi yang berbeda. Ada yang menyukai dunia teknologi, maka bijak jika diarahkan ke bidang IT. Ada yang pandai menggambar, bisa dikembangkan ke dunia seni sesuai koridor syariat. Ada pula yang gemar membaca dan menulis, bisa diarahkan menjadi penulis.

Sebagai orang tua, penting untuk mengamati karakter dan potensi anak, mendengar cita-citanya, dan membimbing sesuai minatnya. Ini lebih bijak daripada harus memaksakan profesi tertentu yang tidak sesuai passionnya. Termasuk profesi ustadz.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun membimbing para sahabatnya sesuai kapasitas masing-masing. Tidak semua sahabat menjadi ulama. Dari ratusan ribu sahabat, hanya Sebagian kecil yang dikenal sebagai ulama yang mengajar dan berbicara di hadapan manusia. Itupun spesialisasi mereka berbeda: ada ahli tafsir, ahli fatwa halal haram, ahli faraidh, dan sebagainya.

Contohnya, Abu Bakar, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, dan ‘Aisyah adalah ulama. Sementara Khalid bin Walid dan Thalhah bin Ubaidillah dikenal sebagai pejuang medan perang. Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf unggul dalam dunia perdagangan. Bilal bin Rabah terkenal sebagai muadzin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menempatkan para sahabat dengan sangat tepat, sesuai karakter dan keahlian mereka.

Semua bidang tersebut adalah jalan dakwah dan jihad. Sebab jihad tidak selalu identik dengan medan perang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﻭَﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺪُ ﻣَﻦْ ﺟَﺎﻫَﺪَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻓِﻲ ﻃَﺎﻋَﺔِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮُ ﻣَﻦْ ﻫَﺠَﺮَ ﻣَﺎ ﻧَﻬَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ

“Mujahid adalah orang yang berjihad memerangi jiwanya dalam ketaatan kepada Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari larangan Allah.” (HR Ahmad, 6/21)

Oleh karena itu, mari kita sebagai orang tua dan pendidik tidak semata-mata mematok satu bentuk keberhasilan, seperti menjadi ulama atau pendakwah. Setiap anak bisa menjadi pejuang agama dalam jalannya masing-masing. Tugas kita adalah membimbing, mendukung, dan mendoakan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa, bermanfaat, dan berkontribusi bagi umat — apapun profesi yang mereka pilih kelak. Sebab, Islam tidak hanya membutuhkan ulama, tetapi juga para profesional yang bertakwa di segala lini kehidupan.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/tidak-semua-anak-harus-jadi-ulama.html

Tahap Pertama Mendidik Anak : Mengajarkan Kalimat Tauhid

👤 Dari ibnu ‘Abbas bahwa Nabi shalallahu ’alaihi wassalam bersabda :

“Ajarkan kalimat laa ilaaha illallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama dan tuntunkanlah mereka mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah ketika menjelang mati.” (HR. Hakim)

👤 Abdurrazaq meriwayatkan :

“bahwa para sahabat menyukai untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka kalimat laa ilaaha illallah sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali, sehingga kalimat ini menjadi yang pertama-tama mereka ucapkan.”

👤 Ibnul Qayyim mengatakan :

“Diawal waktu ketika anak-anak mulai bisa bicara, hendaknya mendiktekan kepada mereka kalimat laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah, & hendaknya sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah laa ilaha illallah (mengenal Allah) & mentauhidkanNya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah bersemayam di atas singgasanaNya yang senantiasa melihat & mendengar perkataaan mereka, senantiasa bersama mereka dimanapun mereka berada.” (Ahkam Al-Maulud)

Oleh karena itu, wasiat Nabi shalallahu’alaihi wassalam kepada Mu’adz bin jabal radhiyallahu anhu sebagimana yang disebutkan dalam hadits :

“Nafkahkanlah keluargamu sesuai dengan kemampuanmu. Janganlah kamu angkat tongkatmu di hadapan mereka & tanamkanlah kepada mereka rasa takut kepada Allah.” (HR. Bukhori, Ahmad, Ibnu Majah, Adabul Mufrad)

🔹Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sejak pertama kali mendapatkan risalah tak pernah mengecualikan anak-anak dari target dakwah beliau. Beliau berangkat menemui Ali bin Abi Thalib yang ketika itu usianya belum genap sepuluh tahun. Beliau shalallahu alaihi wassalam mengajaknya utk beriman, yang akhirnya ajakan itu dipenuhinya. Ali bahkan menemani beliau dalam melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi di lembah Mekkah sehingga tak diketahui oleh keluarga & ayahnya sekalipun. .

sumber : https://shahihfiqih.com/tahap-pertama-mendidik-anak-mengajarkan-kalimat-tauhid/

Hati-Hati Doa Jelek Orang Tua kepada Anak

Pertanyaan:

Ustadz, apa yg kita ucapkan dan kita baca utk mendoakan anak ketika kesal atau “marah” terhadap anak ustadz?

apa yg harus kita lakukan jika terlanjur berucap yg jelek kpd anak ustadz?jazakallaahu khairan ustadz

Jawaban:

Jangan sampai keluar doa jelek dari orang tua kepada anak. Karena bisa jadi doa tadi terkabul. Doa yang sudah terlanjur terucap, segeralah ganti dengan doa baik.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

Janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk diri kalian sendiri, dan janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian, serta jangan mendoakan kejelekan untuk harta kalian. Janganlah kalian berdoa seperti itu karena boleh jadi bersesuaian dengan satu waktu dari Allah yang jika Dia diminta sesuatu pada waktu tersebut, Dia pasti mengabulkannya untuk kalian.” (HR. Muslim, no. 309)

—-

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://ruqoyyah.com/1749-doa-jelek-orang-tua-kepada-anak.html

Kesalahan Orang Tua, Enggan Membangunkan Anak Shubuh

Salah satu kesalahan orang tua adalah membiasakan anaknya tidak bangun Shubuh.

Padahal shalat Shubuh itu jika dijaga akan membuat anak itu mendapatkan jaminan Allah.

Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ

Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar. Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim, no. 657). Jaminan Allah itu luar biasa sekali, bisa kesehatan, diselamatkan dari penyakit, diselamatkan dari gangguan, diselamatkan dari mara bahaya, dan lain-lain. Karena maksud hadits sifatnya umum.

Karenanya orang tua tidak baik memanjakan anaknya dengan enggan membangunkannya shalat Shubuh. Kadang orang tua beralasan, “Ah dia masih ngantuk, kasihan dibangunkan.”

Anehnya …

Kalau anak meminta mainan, bahkan ada yang merusak dan melalaikan, malah ketika itu dituruti.

Hati-hati jika terus mengikuti keinginan anak, karena ada yang sekedar nafsunya sehingga orang tua harus menimbang-nimbang manakah yang maslahat. Allah telah mengingatkan,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa harta dan anak adalah fitnah yaitu ujian dari Allah pada manusia untuk mengetahui siapa yang taat dan siapakah yang bermaksiat.  

Sejak kapan anak diajak bangun Shubuh?

Dalam hadits disebutkan,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud, no. 495. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Kalau penulis sendiri terapkan pada anak laki-laki semenjak ia bisa diajak bangun Shubuh ketika usia TK, ia sudah diajak ke masjid dan shalat di samping ayahnya. Jadi lihat kemudahan masing-masing anak. Kalau sudah menginjak tujuh tahun sudah lebih pantas diajak oleh ayahnya ke masjid sehingga terbiasa sedari kecil untuk berjamaah.

Semoga Allah beri taufik dan hidayah pada anak-anak kita.


Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://ruqoyyah.com/599-kesalahan-orang-tua-enggan-membangunkan-anak-shubuh.html

Allah Tidak Boleh Divisualkan, Tidak Boleh Digambarkan

Ini pelajaran terkait nama dan sifat Allah, dari sini terkandung pelajaran bahwa Allah tidak boleh divisualkan, tidak boleh digambarkan, tidak boleh disebutkan hakikat Allah itu seperti apa.

Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Allah.”(QS. Al-Ikhlas: 4)

Juga dalam ayat,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar, namun tidak sama dengan melihat dan mendengarnya makhluk yang semuanya serba terbatas.

Dalam memahami Dzat, nama, dan sifat Allah, kita tetapkan nama dan sifat Allah tersebut tanpa melakukan:

  • takwil (merubah maknanya),
  • tak-thil (menolak sebagian sifat Allah),
  • takyif (memvisualkan atau menggambarkan bagaimana wujud sifat Allah),
  • tam-tsil (menyamakan dengan sifat Allah dengan sifat makhluk), dan
  • tafwidh (tidak mau menetapkan pengertian sifat Allah).

Demikian, semoga bisa pahamkan pada anak-anak kita ketika mereka bertanya:

  • Siapa orang tua Allah?
  • Allah itu makan apa?
  • Bagaimana wajah Allah?
  • Siapa yang menciptakan Allah?

Jawabannya adalah Allah tidak semisal dengan makhluk-Nya. Allah tidak bergantung pada makhluk-Nya. Allah tidak diciptakan siapa pun. Allah itu tidak boleh kita katakan butuh pada makan sebagaimana kita manusia. Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat, namun tidak sama dengan makhluk-Nya yang mereka mendengar dan melihat serba terbatas. Allah itu Mahatinggi, Mahakaya, tidak butuh pada makhluk, Allah itu yang menciptakan kita semua.

Semoga Ayah bunda diberikan akidah yang lurus dan senantiasa diberi taufik untuk menjadi anak-anak jadi saleh salehah.

sumber : https://ruqoyyah.com/970-allah-tidak-boleh-divisualkan-tidak-boleh-digambarkan.html

Bolehnya Memukul Anak

Apakah boleh memukul anak? Bagaimana aturannya?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun.” (HR. Abu Daud no. 495. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

—-

Ada pertanyaan yang masuk di situs islamweb:

Ada orang tua memukul anaknya dengan tongkat dan semacamnya karena sering bertengkar dan mengganggu saudara yang lain di dalam rumah. Pukulan tersebut tidak sampai mencederai, tetapi anak tersebut merasa sakit dan terus menangis.

Apakah seperti ini termasuk zalim dan akan dihisab berat di sisi Allah kelak?

Jawaban awal yang diberikan di Islamweb:

Jika anak tidak bisa dinasihati, sudah diingatkan berbuat baik dan jangan sampai berbuat kenakalan, sudah diberikan ancaman, bahkan sudah diingatkan keras, boleh saja memukul anak, tetapi bukan dengan pukulan keras yang membekas. Sifat pukulan adalah untuk mendidik. Ini termasuk usaha untuk memperbaiki anak menjadi lebih baik dan bukan termasuk bentuk zalim. 

Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah disebutkan,

ضرب الأب، أو الأم ولدهما تأديبا

“Di antara bentuk hukuman yang disyariatkan adalah ayah atau ibu memukul anaknya dengan tujuan mendidik.”

—-

—-

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://ruqoyyah.com/1664-bolehnya-memukul-anak.html

Ayah akan Mudah Ditiru oleh Anak

Jika ayah masih sering habiskan waktu main game, main hape tanpa guna, lihat video-video yang tidak manfaat apalagi haram, anak akan mudah meniru seperti itu.

Sebaliknya, jika ayah sibukkan waktu dengan kebaikan, beramal saleh, rajin belajar, rajin membaca, rajin menghadiri majelis ilmu secara luring ataupun daring, anak akan punya sifat yang sama.

Children see, children do”

Ingatlah anak itu akan meniru orang dewasa yang dijadikan panutannya, mulai dari merokok, melakukan kegiatan kekerasan dalam rumah tangga. Juga sebaliknya hal-hal baik akan mudah ditiru oleh anak. Orang tua tentu lebih dekat pada anak dan jadi panutan.

Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah mengatakan pada anaknya,

لَأَزِيْدَنَّ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِكَ رَجَاءً أَنْ أُحْفَظَ فِيْكَ

“Wahai anakku, aku selalu memperbanyak shalatku dengan tujuan supaya Allah selalu menjagamu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:467). Kenapa Said melakukan seperti itu? Agar shalat sunnah mudah dicontoh pula oleh anaknya.

Di samping itu, para ulama memaknakan perkataan Sa’id adalah ia memperbanyak shalat, agar bisa memperbanyak doa kepada Allah kepada anaknya di dalam shalat. (Fiqh Tarbiyah Al-Abna‘, Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hlm. 24)

Sekolah terbaik adalah keluarga

Ini kesimpulan sangat tepat, sekolah terbaik adalah keluarga. Demikian kata Ustadz Budiansyah.

Bagaimana anak bisa berakhlak mulia? Sedangkan di rumah, orang tuanya sering bertengkar, sering marah-marah, sering berkata kasar, dan cuek pada anak-anaknya.

Kata Ustadz Budiansyah, sangat mustahil mengharapkan anak menjadi bertakwa, rajin shalat, rajin shalat berjamaah (di masjid bagi pria), mampu menghafal Al-Qur’an dengan baik, semangat dalam menuntut ilmu agama, sedangkan orang tuanya sendiri cuek terhadap agama, ayahnya malas shalat dan malas ke masjid, ayah bunda malas duduk dalam majelis ilmu, juga ayah bundanya malas berinteraksi dengan Al-Qur’an Al-Karim.

Kenyataannya, panutan anak-anak adalah orang tuanya, bukan gurunya. Sebagian anak-anak bahkan bercita-cita ingin seperti orang tuanya. Ayah bagi seorang anak laki-laki adalah teladan, sedangkan ayah bagi anak perempuan adalah cinta pertama mereka. Bunda untuk anak laki-laki dan perempuannya adalah bagaikan malaikat pelindung.

Orang tua yang mengoreksi dirinya

Satu rahasia kecil, para ulama dan orang bijak terdahulu jika mendapati anaknya berbuat kurang baik, berkata tidak jujur, sulit diatur, maka mereka pertama kali akan menyalahkan diri mereka sendiri, bahkan menghukum diri mereka sendiri.

Sebagian salaf sampai berkata,

إِنِّي لَأَعْصِيَ اللهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ خَادِمِي وَدَابَّتِي

“Sungguh jika aku bermaksiat kepada Allah, maka aku akan temui pengaruh jeleknya pada akhlak pembantu hingga perangai buruk pada hewan tungganganku.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:468)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa saja yang melalaikan hak Allah, Allah pun akan menyia-nyiakannya. Allah akan menyia-nyiakannya di antara makhluk hingga ia mendapati mudarat dan gangguan dari keluarga dan lainnya, padahal ia harapkan mereka bisa memberikan manfaat.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:468)

Kembali ke bahasan awal, ingat kaidah dari Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, beliau mengatakan, “Di antara dampak amal saleh dari orang tua pada anak adalah anak akan meneladani amal yang dilakukan orang tuanya.”

Ingat selalu peribahasa: BUAH JATUH TAK JAUH DARI POHONNYA. Semoga kita dapat menjadi orang tua yang memberi suri tauladan yang baik untuk anak-anak kita dan moga kita terlindungi dari setiap kejelekan yang dapat ditiru.

Referensi:

  • Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  • Fiqh Tarbiyah Al-Abna’ wa Thaifah min Nashahih Al-Athibba’. Cetakan Tahun 1423 H. Syaikh Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu Rajab.
  • Pesan Whatsapp dari Ustadz Budiansyah Abu Nizar

Disusun di Darush Sholihin Gunungkidul, 7 Rajab 1442 H, 19 Februari 2021

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://ruqoyyah.com/1791-ayah-akan-mudah-ditiru-oleh-anak.html

Jangan Jadi Toxic Parents, Begitu Pula Dayyuts

Toxic parents adalah tipe orang tua yang mengatur anak sesuai dengan kemauannya tanpa menghargai perasaan dan pendapat sang anak. Kondisi ini bisa membuat anak merasa terkekang dan ketakutan. Bahkan, tak jarang anak tumbuh menjadi pribadi yang sering menyalahkan diri sendiri dan memiliki rasa percaya diri yang rendah.

Apa saja ciri-ciri toxic parents?

1. Memiliki ekspektasi berlebihan terhadap masa depan anak. 

2. Membentak anak ketika sedang marah. Padahal sebenarnya seperti itu tidak akan membuat anak menjadi takut dan menurut.

Namun, tidak selamanya orang tua harus menuruti anak. Contoh perbuatan orang tua yang menuruti anak dan ini keliru, bahkan termasuk orang tua yang DAYYUTS (membiarkan anak dalam maksiat) adalah:

1. Memanjakan anak, membiarkannya tidak shalat, terutama enggan membangunkan shalat Shubuh. Akhirnya, anak sampai besar malas perhatikan shalat.

2. Menuruti semua keinginan dan cita-cita anak seperti membeli alat musik dan menjadi musisi.

3. Membiarkan anak bebas bergaul dengan lawan jenis, dengan jalan pacaran.

4. Membiarkan anak yang sudah baligh enggan berjilbab.

Ancaman bagi ortu yang dayyuts …

ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ

Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya.” (HR. Ahmad 2:69. Hadits ini sahih dilihat dari jalur lain)

Dayyuts adalah orang tua yang tidak peduli bila melihat anggota keluarganya berbuat maksiat.

Semoga Allah beri taufik agar kita menjadi orang tua terbaik untuk anak-anak kita.

Disusun di Darush Sholihin Gunungkidul, 8 Dzulqa’dah 1442 H, 18 Juni 2021

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://ruqoyyah.com/1824-jangan-jadi-toxic-parents-begitu-pula-dayyuts.html

Usahakan Anak Sekolah Tidak Tidur Larut Malam, Ini Bahayanya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengajarkan tidur pada awal malam, menghindari begadang.

Dari Abu Ishaq, beliau berkata bahwa beliau menanyakan kepada Al-Aswad bin Yazid tentang perkataan ‘Aisyah mengenai shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam dan beliau menghidupkan akhir malam (dengan shalat).” (HR. Muslim, no. 739)

Begadang tanpa keperluan itu tidak baik. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)

Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al-Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththal, 3:278, Asy-Syamilah)

Ini akibatnya jika anak sekolah dibiarkan begadang:

1. Hormon pertumbuhan terganggu

2. Lebih berisiko mengalami obesitas di kemudian hari

3. Gampang marah dan mengganggu suasana hati

4. Mengantuk sepanjang hari

5. Sulit konsentrasi saat beraktivitas

6. Ini paling penting: ANAK AKAN SULIT BANGUN UNTUK SHALAT SHUBUH TEPAT WAKTU

Catatan:

Orang tua juga harus memberi contoh kepada anak dalam hal ini karena anak paling mudah meniru orang tuanya sendiri yang bedagang hingga larut malam. Di samping itu, orang tua harus bersikap tegas untuk mengingatkan anak yang terus begadang.

Apa kiat-kiat Anda biar anak tidak tidur larut malam? Barangkali komentar Anda bisa bermanfaat untuk artikel berikutnya.

Muhammad Abduh Tuasikal 

sumber : https://ruqoyyah.com/1807-usahakan-anak-sekolah-tidak-tidur-larut-malam-ini-bahayanya.html

Ajari Anak Shalat Meski Sulit

Banyak orang tua menghadapi tantangan saat mengajak anak-anak untuk shalat, terutama karena sifat anak yang cenderung sulit diarahkan. Namun, kesabaran dan keteguhan dalam mendidik mereka tetap menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Allah memerintahkan kita untuk mengajarkan shalat kepada keluarga dengan penuh kesabaran, sebagaimana disebutkan dalam Surah Thaha ayat 132.

Allah Ta’ala berfirman,

وَامْرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاهِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نِحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْتَّقْوَى

Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, tetapi Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Penjelasan Ayat Berdasarkan Tafsir Ulama

1. Tafsir Al-Muyassar: Allah memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memerintahkan keluarganya untuk mendirikan shalat dan bersabar dalam melakukannya. Allah menjelaskan bahwa rezeki bukanlah tanggung jawab manusia, melainkan merupakan karunia-Nya. Kesudahan yang baik di dunia dan akhirat diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.

2. Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah: Dalam ayat ini, Allah menekankan pentingnya istiqamah dalam menjalankan shalat, baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Rezeki bukan menjadi beban manusia karena Allah telah menjaminnya. Kesudahan yang baik berupa surga adalah balasan bagi mereka yang bertakwa dan menjalankan perintah Allah dengan penuh kesungguhan.

3. Tafsir Al-Mukhtashar: Rasulullah diperintahkan untuk mengajak keluarganya shalat dan bersabar atas pelaksanaannya. Allah menegaskan bahwa rezeki adalah tanggung jawab-Nya, bukan tanggung jawab manusia. Kesudahan yang baik akan diberikan kepada orang-orang yang bertakwa, yakni mereka yang taat kepada Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

4. Tafsir Syaikh As-Sa’di: Ayat ini mengajarkan agar seseorang mengajak keluarganya shalat, baik shalat wajib maupun sunnah. Perintah ini mencakup pembelajaran tentang adab, rukun, serta hal-hal yang dapat menyempurnakan shalat. Menegakkan shalat memerlukan kesabaran dan perjuangan karena sifat manusia cenderung lalai. Allah menjamin rezeki bagi hamba-Nya, sehingga seorang Muslim lebih baik fokus pada ketaatan. Kesudahan yang baik, baik di dunia maupun akhirat, hanya diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang lain, “Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-A’raf: 128).

Penjelasan Perbedaan Kata “Ishṭabir” dan “Ṣabara”

Kata اصطبر (ishṭabir) dan صبر (ṣabara) berasal dari akar kata yang sama, yaitu ص-ب-ر (ṣa-ba-ra), yang berarti “sabar” atau “menahan diri.” Meskipun serupa, keduanya memiliki perbedaan mendalam dalam penggunaannya:

  1. Ṣabara (صبر):
    • Asal Kata: Kata kerja dasar (fi’il tsulatsi mujarrad).
    • Makna: Menggambarkan sabar secara umum, baik dalam menghadapi cobaan, menahan diri dari kemarahan, atau bertahan dalam ketaatan.
    • Penggunaan dalam Al-Qur’an:
      • Contoh: “فَصَبْرٌ جَمِيلٌ” (QS Yusuf: 18) — “Maka kesabaran yang baik (adalah pilihanku).”
    • Nuansa: Mengacu pada sikap sabar yang tidak diiringi dengan keluhan atau keputusasaan.
  2. Ishṭabir (اصطبر):
    • Asal Kata: Bentuk fi’il tsulatsi mazid dengan tambahan “isti” yang menandakan intensitas atau usaha lebih keras.
    • Makna: Menggambarkan sabar dengan kesungguhan hati dan keteguhan yang luar biasa, terutama dalam menghadapi sesuatu yang berat.
    • Penggunaan dalam Al-Qur’an:
      • Contoh: “وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ” (QS Maryam: 65) — “Dan bersabarlah (dengan sungguh-sungguh) dalam beribadah kepada-Nya.”
    • Nuansa: Menunjukkan usaha sabar yang memerlukan daya tahan ekstra, terutama dalam menjalankan ibadah.

Perbedaan Utama:

  • Tingkat Kesungguhan: Ṣabara menggambarkan sabar secara umum, sedangkan ishṭabir menuntut kesabaran yang lebih besar dan intens.
  • Konteks Penggunaan: Ṣabara digunakan untuk situasi umum, sementara ishṭabir digunakan untuk konteks yang lebih spesifik, seperti ketaatan dalam ibadah.
  • Nuansa Makna: Ṣabara menggambarkan keadaan sabar, sementara ishṭabir menggambarkan proses aktif dan perjuangan untuk tetap sabar.

Kesimpulan

  1. Shalat adalah Perintah Utama: Orang tua harus memerintahkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat meskipun itu sulit. Kesabaran adalah kunci dalam membimbing anak agar konsisten dalam ibadah.
  2. Rezeki adalah Jaminan Allah: Shalat akan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, “Ketika kamu mengerjakan shalat, maka rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak kamu sangka.”
  3. Kesabaran dalam Pendidikan: Menanamkan kebiasaan shalat membutuhkan waktu, pengulangan, dan kesabaran. Orang tua harus menjadi teladan dengan menjalankan shalat secara konsisten dan melibatkan anak dalam ibadah sejak dini.
  4. Kesabaran Ekstra dalam Mendidik Anak: Kata “ishṭabir” menunjukkan bahwa mendidik anak dalam hal ibadah, khususnya shalat, membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Orang tua harus bersungguh-sungguh dan berjuang untuk memastikan anak-anak terbiasa dengan kewajiban ini, meskipun memerlukan usaha yang berat.
  5. Pentingnya Istiqamah: Selain memerintahkan, orang tua harus terus memotivasi dan mengingatkan anak-anak untuk tetap istiqamah dalam menjalankan shalat, baik dalam kondisi mudah maupun sulit.
  6. Rezeki Berkah dari Ketaatan: Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki tidak hanya berupa materi, tetapi juga keberkahan dalam hidup yang berasal dari ketaatan kepada Allah, terutama melalui shalat.
  7. Ketakwaan adalah Kunci Sukses: Kesudahan yang baik di dunia dan akhirat hanya diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa. Ini menekankan pentingnya mendidik anak untuk bertakwa melalui ibadah shalat dan nilai-nilai Islami lainnya.
  8. Shalat Sebagai Pilar Utama Agama: Jika shalat ditegakkan dengan baik, ibadah lainnya akan lebih terjaga. Namun, jika shalat diabaikan, ibadah lainnya pun cenderung akan terbengkalai.

Dengan menanamkan pentingnya shalat kepada keluarga, seorang Muslim tidak hanya melaksanakan perintah Allah tetapi juga memastikan keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

Ditulis di Darush Sholihin Gunungkidul, 25 Jumadal Akhir 1446 H, 27 Desember 2024

Dr. Muhammad Abduh Tuasikal (Pakar Manajemen TPA)

sumber : https://ruqoyyah.com/1888-ajari-anak-shalat-meski-sulit-ini-hikmah-surah-thaha-132.html