[Belajar Tauhid] 58. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 5

catatan: besok (sabtu) pukul 17.00WIB quis pekanan akan aktif, jangan lupa muraja’ah 5 pelajaran terakhir/sepekan ini yaa🙏


بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Orang-orang musyrik zaman jahiliyyah tidak meyakini kalau berhala-berhala yang mereka sembah itu adalah rabb mereka, juga tidak meyakini kalau berhala-berhala tersebut bisa mendatangkan manfaat atau mencegah mudharat dengan sendirinya. Adapun alasan mereka mengapa mereka menyembahnya diantaranya adalah :

  • Agar berhala-berhala tersebut menjadi wasilah (perantara) bagi mereka untuk mendekatkan diri kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Pada dasarnya Allâh -‘Azza wa Jalla- memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mencari wasilah yang bisa mendekatkan mereka kepada-Nya. Hanya saja, apa yang dijadikan oleh para hamba sebagai wasilah ada yang disyari’atkan dan terhitung sebagai ketaatan, dan sebagiannya bertentangan dengan syari’at dan terhitung sebagai kemaksiatan.

Selanjutnya kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 5. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 57. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 4

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

  • Antara Tauhid Ar-Rububiyah dan Tauhid Al-‘Uluhiyah mempunyai hubungan yang sangat erat bahkan tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi mata uang. Tauhid Ar-Rububiyah memberikan konsekuensi Tauhid Al-‘Uluhiyah. Maksudnya, pengakuan seseorang terhadap Tauhid Ar-Rububiyah mengharuskan pengakuannya terhadap Tauhid Al-‘Uluhiyah. Barangsiapa yang telah mengetahui bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah Rabb-nya yang menciptakannya dan mengatur segala urusannya, maka dia harus beribadah hanya kepada-nya dan tidak menyekutukan-Nya.
  • Jalan fitri untuk menetapkan Tauhid Al-‘Uluhiyah adalah berdasarkan Tauhid Ar-Rububiyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemadharatannya. Setelah itu berpindah kepada cara-cara ber-taqarrub kepada-Nya, cara-cara yang bisa membuat-Nya ridha dan yang menguatkan hubungan antara dirinya dengan Rabb-nya.

Selanjutnya kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 4. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 56. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 3

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari:

Yang populer di kalangan Para ‘Ulama, Tauhid itu terbagi menjadi tiga : Tauhid Ar-Rububiyah, Tauhid Al-‘Uluhiyah, dan Tauhid Al-Asmâ’ wash-Shifât. Pembagian Tauhid menjadi 3 seperti ini berdasarkan istiqra’ (penelitian menyeluruh) terhadap dalil-dalil yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah . Diantara dalilnya adalah firman Allâh -‘Azza wa Jalla- :

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah Engkau mengetahui ada sesuatupun yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” _____ QS. Maryam : 65.

Selanjutnya kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 3. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 55. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 2

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari:

Mengakui wujud (keberadaan) Rabb (bagi seluruh alam semesta) merupakan fenomena umum pada anak manusia, dan merupakan konsekuensi fitrah mereka. Akan tetapi sekedar meyakini sifat-sifat rububiyah bagi Allâh -‘Azza wa Jalla- seperti menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, dan yang lainnya tidaklah otomatis memasukkan seseorang kedalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran. Karena Iblis, Fir’aun dan orang-orang musyrik yang dahulu diperangi oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- juga mengakui ke-ESAAN-an Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam sifat-sifat rububiyah-Nya.

Selanjutnya kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 2. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 54. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 1

بسم الله

Bagaimana liburannya ikhwah…? semoga cukup yaa.. nah, sebagaimana yang dijanjikan kita akan memulai babak baru dalam serial belajar tauhid ini👍

pada pelajaran sebelumnya kita telah menyelesaikan pelajaran Muqaddimah Qowaaid Al Arba’ah. bagi antum yang ingin mengunduh materi PDF-nya sebelumnya, Muqaddimah Qowaaid Al Arba’ah, ketuk disini.

Bagi antum pengguna baru, insyaallah antum dapat menyusul ketinggalan pelajaran karena seluruh pelajaran sebelumnya dapat antum akses melalui kategori Belajar Tauhid yang ada di beranda HijrahApp, jadi semangat yaa.!

langsung saja, kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 1. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 53. Muqaddimah Al Qawaa ‘id Al Arba’ah 30

بسم الله

catatan:

1. insyaallah, Sabtu (besok) pukul 17.00WIB, quis pekanan 11 akan aktif, yuk muraja’ah 5 materi terakhir ini.

2. Sehubungan ini adalah materi terakhir dari muqaddimah Al Qawaa’id Al Arba’ah, maka kami akan memberikan libur 1 pekan supaya pengguna baru dapat menyusul ketinggalannya. materi serial belajar tauhid akan kita mulai kembali pada hari senin, tanggal 5 Oktober 2020.


pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Amalan yang hanya dibangun dengan niat yang baik saja tanpa meneladani Rasûlullâh                    -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak hanya sia-sia saja, bahkan bisa menjadi sebab bencana bagi pelakunya. Sebabnya karena perbuatan tersebut termasuk bentuk pembangkangan terhadap Allâh –‘Azza wa Jalla- dan Rasûl-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

selanjutnya kita akan masuk pada Muqaddimah ketiga-puluh dari Qowaa Idul Arba’ah. dan ini akan menjadi kajian penutup dari muqaddimah ini. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 52. Muqaddimah Al Qawaa ‘id Al Arba’ah 29

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Sesungguhnya Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam– adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allâh -‘Azza wa Jalla– dibandingkan siapapun. Dan Beliau adalah orang yang paling sempurnah ‘ubudiyyahnya (peribadahannya) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Maka, siapa yang beribadah dengan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-seolah dia mengklaim bahwa dia lebih bertaqwa kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dibanding Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-dan lebih tahu daripada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tentang cara terbaik untuk beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla.

selanjutnya kita akan masuk pada Muqaddimah keduapuluh-sembilan dari Qowaa Idul Arba’ah. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 51. Muqaddimah Al Qawaa ‘id Al Arba’ah 28

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Niat yang baik, ikhlash semata-mata karena Allâh itu penting, bahwan wajib. Tapi ikhlash saja tidak cukup. Ikhlash baru separuh dari agamanya. Separuhnya lagi adalah ittiba’ (mengikuti Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-). Dan ittiba’ ini juga perintah Allâh. Siapa yang ikhlash dalam setiap amalnya karena Allâh dan sesuai sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, maka amalnya diterima, dan siapa yang tidak memenuhi dua hal tersebut atau salah satunya maka amalnya tertolak.

selanjutnya kita akan masuk pada Muqaddimah keduapuluh-delapan dari Qowaa Idul Arba’ah. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 50. Muqaddimah Al Qawaa ‘id Al Arba’ah 27

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Diantara syarat diterimanya amalan adalah Al-Ittiba’ (Al-Mutaaba’ah), yaitu mengikuti Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang juga merupakan bukti kecintaan hamba kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Barangsiapa yang mengklaim dirinya mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-, akan tetapi ia tidak mengikuti Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, maka sungguh ia telah berdusta.

selanjutnya kita akan masuk pada Muqaddimah keduapuluh-tujuh dari Qowaa Idul Arba’ah. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 49. Muqaddimah Al Qawaa ‘id Al Arba’ah 26

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Tidak ada perbedaan pendapat di antara Ulama’ bahwa ikhlas merupakan syarat sah amalan dan syarat diterimanya amalan. Dan ikhlash itu adalah : Berniat mendekatkan diri kepada Allâh dengan amal ketaatan, tanpa mengharapkan dari mahluk suatu apapun dari amalan tersebut baik berupa pujian dari manusia dan lain sebagainya.

selanjutnya kita akan masuk pada Muqaddimah keduapuluh-enam dari Qowaa Idul Arba’ah. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.