Hakikat Dunia Dalam Permisalan

Banyak sekali ayat dan hadits yang menjelaskan hakikat kehidupan dunia. Para Ulama juga sudah berusaha menjelaskan kepada umat manusia tentangnya, diantaranya Ibnu Qayyim rahimahullah . Untuk memudahkan orang memahami hakikat kehidupan Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan permisalan-permisalan. Dalam kitab ‘Uddatus Shâbirin, beliau rahimahullah menghadirkan banyak sekali permisalan. Sebagiannya beliau rahimahullah ambilkan dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggambar kehidupan dunia. Sebagian dari permisalan itu sudah disajikan dalam mabhats yang lain pada edisi ini. Berikut kami sajikan sebagian permisalan lain dengan sedikit penjelasan dari kitab Jâmi’ul Ulûm wal Hikam. Semoga bermanfaat !

  1. Dunia ibarat bunga yang elok dipandang dengan aromanya yang semerbak mewangi.

Permisalahan ini disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang disepakati keshahihannya. Hadits ini dari Abu Sa’id al-Khudriy Radhiyallahu anhu. Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lalu berkata kepada manusia yang ada saat itu

لاَ وَاللهِ مَاأَخْشَى عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَايُخْرِجُ اللهُ لَكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا

Demi Allâh Azza wa Jalla , saya tidak mengkhawatirkan (apapun-red) atas kalian selain perhiasan dunia yang Allâh Azza wa Jalla keluarkan untuk kalian.

Salah seorang Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah ada kebaikan yang membawa keburukan?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Bagaimana pertanyaanmu?” Orang itu mengatakan, ‘Wahai Rasulullah! Apakah ada kebaikan yang membawa keburukan?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِالْخَيْرِ وَإِنَّ مِمَّا يُنْبِتُ الرَّبِيعُ مَا يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ إِلَّا آكِلَةَ الْخَضِرِ كُلَّمَا أَكَلَتْ حَتَّى إِذَا امْتَلَأَتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتِ الشَّمْسَ فَثَلَطَتْ وَبَالَتْ ثُمَّ اجْتَرَّتْ فَعَادَتْ فَأَكَلَتْ فَمَنْ أَخَذَ مَالاً بِحَقِّهِ يُبَارَكُ لَهُ فِيْهِ وَمَنْ أَخَذَ مَالاً بِغَيْرِ حَقِّهِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يشْبع

 Sesungguhnya kebaikan itu hanya mendatangkan kebaikan. Sesungguhnya diantara tumbuhan musim semi itu ada yang bisa menyebabkan kematian (hewan yang memakannya-red) karena kekeyangan atau hampir menyebabkan kematiannya kecuali hewan yang memakan tumbuhan hijau sampai ketika perutnya terasa penuh dia menghadap ke arah matahari (untuk berjemur) lalu mengeluarkan kotoran kemudian kencing lalu mengunyah lagi. Setelah itu dia kembali lagi dan mengkonsumsi rerumputan lagi. Barangsiapa mengambil harta sesuai dengan haknya, maka dia akan beri keberkahan padanya. Dan barangsiapa mengambil harta tidak sesuai haknya, maka dia seperti orang yang makan tapi tidak pernah kenyang.

Dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir dunia (harta) akan memfitnah umatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakannya zahrah (bunga) sebagai bentuk penyerupaan dunia dengan bunga yang wangi semerbak, elok dipandang tapi tidak bisa bertahan lama, sementara dibelakang bunga itu ada buah yang jauh lebih baik dari bunga tersebut dan lebih tahan lama.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِنَّ مِمَّا يُنْبِتُ الرَّبِيعُ مَا يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ

Sesungguhnya diantara tumbuhan musim semi itu ada yang bisa menyebabkan kematian (hewan yang memakannya-red) karena kekeyangan atau hampir menyebabkan kematiannya.

Permisalan ini termasuk permisalan terbaik yang berisi peringatan (terhadap manusia agar waspada-red) dari kehidupan dunia, (tidak) tenggelam dalam kehidupannya dan berlebihan dalam mencintainya. Karena binatang ternak bisa terpikat dengan tumbuhan musim semi, lalu dia memakannya dengan lahap. Bisa jadi tumbuhan di musim semi yang telah memikatnya itu bisa menyebabkan dia mati kekenyangan.

Begitu juga dengan kecintaan atau ambisi seseorang terhadap harta, bisa jadi ambisi itu menyebabkan dia mati atau hampir menyebabkan kematian. Betapa banyak orang kaya mati terbunuh karena harta mereka. Mereka sangat berambisi untuk menumpuk harta sementara harta yang ditumpuk itu dibutuhkan oleh orang lain lalu orang lain itu tidak bisa mendapatkan harta itu kecuali dengan cara membunuh orang-orang kaya itu atau dengan cara-cara yang mengancam nyawa si pemilik harta seperti pengambilan secara paksa.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِلَّا آكِلَةَ الْخَضِرِ

Kecuali binatang ternak yang memakan tumbuhan

Ini merupakan permisalan bagi orang yang mengambil dunia sesuai dengan kebutuhannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakannya dengan binatang ternak yang mengkonsumsi tanaman hijau seperlunya. Dia memakannya hanya sampai perutnya kenyang.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اسْتَقْبَلَتِ الشَّمْسَ فَثَلَطَتْ وَبَالَتْ

Dia menghadap ke arah matahari (berjemur) lalu mengeluarkan kotoran dan kencing.

Dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini terdapat tiga faidah:

  1. Binatang ternak itu setelah memenuhi kebutuhan dari padang rumput, dia segera meninggalkan padang itu lalu ia menderum (duduk) menghadap ke arah matahari supaya apa yang telah dimakannya itu (berproses dan) bisa keluar.
  2. Binatang itu meninggalkan dan berpaling dari apa yang membahayakan dirinya berupa ambisi terhadap apa yang ada diladang, lalu dia berbalik arah menuju sesuatu yang bermanfaat yaitu menghadap ke arah matahari (berjemur) untuk menghasilkan panas yang bisa membantu pematangan makanan yang dikonsumsinya lalu mengeluarkannya.
  3. Binatang ternak ini mengeluarkan dan membuang makanan yang dikumpulkan dalam perutnya melalui kencing dan kotoran. Setelah apa yang dimakan itu keluar, dia bisa istirahat. Seandainya apa yang dimakan itu tetap berada di dalam perut dan tidak bisa keluar, maka tentu makanan itu akan membunuhnya.

Begitu juga dengan orang berambisi mengumpulkan harta, maka untuk kebaikannya mestinya dia melakukan seperti apa yang dilakukan binatang ternak itu.

Bagian depan dari hadits di atas adalah permisalan yang menggambarkan ambisi orang dalam memperoleh dan menumpuk harta. Orang ini seumpama binatang ternak yang terbawa ambisi untuk memakan (sebanyak-banyaknya) sampai akhirnya mati kekenyangan atau hampir mati. Orang yang sangat berambisi (terhadap harta/dunia) bisa jadi mati atau terancam jiwanya. Karena saat musim semi, berbagai macam rerumputan dan sayuran tumbuh, lalu ada binatang ternak yang memakan sebanyak-banyaknya sampai akhirnya menyebabkan perutnya pecah karena dia memakan makanan melebihi daya tampung perutnya. Begitu juga orang yang sangat berambisi menumpukkan dunia dengan segala cara lalu dia menyimpannya atau membelanjakannya dengan cara yang tidak benar.

Dibagian akhir hadits tersebut, terdapat perumpamaan yang menyerupakan orang yang tidak berlebih-lebihan dalam masalah dunia  dengan binatang herbivora (hewan pemakan tumbuh-tumbuhan) yang mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat untuknya. Kerakusan dan keinginannya tidak menyeret dia mengkonsumsi sesuatu melebihi keperluannya. Dia hanya mengkonsumsi sesuatu sesuai kebutuhannya. Begitu pula orang yang tidak berlebihan dalam masalah dunia ini, dia mengambil harta seperlunya lalu beralih melakukan sesuatu yang bermanfaat untuknya.

Kotoran dan air kencing yang dikeluarkan oleh binatang itu ibarat harta yang dikeluarkan atau diinfakkan dengan benar. Jika harta yang seharusnya dikeluarkan itu ditahan atau disimpan, maka itu akan menyebabkan dia celaka. Dengan mengeluarkannya, berarti dia telah terselamatkan dari akibat buruk menumpuk harta dengan hanya mengambil seperlunya saja dan terhindar dari akibat buruk menyimpan harta dengan cara mengeluarkan apa yang seharusnya dia keluarkan, sebagaimana binatang ternak itu terselamatkan dengan cara membuang kotoran mengeluarkan air kencing.

Dalam hadits ini juga terdapat isyarat agar kita berlaku sedang-sedang saja, bersikap tengah-tengah antara ambisi yang bisa menyebabkan kematian dan berpaling dari harta secara totalitas sehingga menyebabkan kelaparan.

Hadits ini juga berisi arahan bagi orang yang memiliki harta banyak untuk menjaga kesehatan diri dan hatinya yaitu dengan mengeluarkan dan menginfakkannya serta tidak bakhil yang menyebabkan kematian.

  1. Dunia seperti danau besar penuh air yang hampir kering karena disesaki manusia dan hewan

Dunia ibarat danau besar yang penuh air dan menjadi sumber air penghidupan bagi manusia dan hewan-hewan. Perlahan-lahan, (debit air) danau itu pun menipis karena volume yang datang kepadanya begitu banyak, sampai akhirnya tidak tersisa kecuali sedikit saja yang keruh di dasar danau. Air yang sedikit itu kini telah dikencingi oleh binatang-binatang, sementara manusia dan hewan-hewan ternak mencebur ke dalamnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahîhnya, no.2967 dari ‘Utbah bin Ghazwân bahwa ia menyampaikan khutbah kepada mereka. Di dalamnya, ia mengatakan:

إِنَّ الدُّنْيَا قَدْ أَذِنَتْ بِصَرْمٍ، وَوَلَّتْ حَذَّاءً، وَلَمْ يَبْقَ مِنْهَا إِلَّا صُبَابَةٌ كَصُبَابَةِ الْإِنَاءِ يَتَصَابُّهَا صَاحِبُهَا، وَإِنَّكُمْ مُنْتَقِلُونَ مِنْهَا إِلَى دَارٍ لَا زَوَالَ لَهَا، فَانْتَقِلُوا بِخَيْرِ مَا بِحَضْرَتِكُمْ

Sesungguhnya dunia sudah mengisyaratkan akan berakhir, berjalan cepat tanpa disadari, dan tidak tersisa darinya kecuali sekedar  sisanya saja layaknya sisa air dalam teko, yang dituangkan oleh pemiliknya. Dan sesungguhnya kalian akan berpindah darinya menuju tempat tinggal yang tidak ada masa kehancurannya. Maka, berpindahlah kalian darinya dengan membawa segala yang terbaik yang kalian miliki.

‘Abdullâh bin  Mas’ûd  Radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ الدُّنْيَا كُلَّهَا قَلِيلًا، وَمَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا الْقَلِيلُ مِنَ الْقَلِيلِ، وَمَثَلُ مَا بَقِيَ مِنْهَا كَالثَّغْبِ – يَعْنِي الْغَدِيرَ – شُرِبَ صَفْوُهُ وَبَقِيَ كَدَرُهُ

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menjadikan seluruh dunia itu sedikit. Dan yang tersisa itu amat sedikit dari yang sudah sedikit. Sisanya serupa dengan air kolam kecil yang telah diminum bagiannya yang jernih, dan tersisa air yang keruhnya.[1]

  1. Permisalan Yang menggambar betapa banyak orang yang tertipu dengan dunia dan tidak begitu percaya dengan adanya akhirat

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari Ishak bin Ismail dari Rauh bin Ubadah dari Hisyam bin Hasan, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para Sahabatnya:

إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ قَوْمٍ سَلَكُوا مَفَازَةً غَبْرَاءَ، حَتَّى إِذَا لَا يَدْرُونَ مَا قَطَعُوا مِنْهَا أَكْثَرَ أَمْ مَا بَقِيَ مِنْهَا، أَنْفَدُوْا الزَّادَ وَحَسَرُوْا الظَّهْرَ، وَبَقَوْا بَيْنَ ظَهْرَانَي الْمَفَازَةِ لاَ زَادَ وَلاَ حَمُوْلَةَ ، فَأَيْقَنُوا بِالْهَلَكَةِ، فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ خَرَجَ عَلَيْهِمْ رَجُلٌ فِي حُلَّةٍ، يَقْطُرُ رَأْسُهُ، فَقَالُوا: إِنَّ هَذَا قريب عَهْدٍ بِالرِّيفِ، وَمَاجَاءَكُمْ هَذَا إِلاَ مِنْ قَرِيْبٍ فَلَمَّا انْتَهَى إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: يَا هَؤُلَاءِ عَلاَمَ أَنْتُمْ ؟ قَالُوا: عَلَى مَا تَرَى، قَالَ: أَرَأَيْتُكُمْ إِنْ هَدَيْتُكُمْ إِلَى مَاءٍ رُوَاءٍ، وَرِيَاضٍ خُضْرٍ؟ مَا تَجْعَلُوْنَ لِيْ ؟ قَالُوا: لاَ نَعْصِيْكَ شَيْئًا، قَالَ: عُهُودَكُمْ، وَمَوَاثِيقَكُمْ باللهِ، قَالَ: فَأَعْطَوْهُ عُهُودَهُمْ، وَمَوَاثِيقَهُمْ لَا يَعْصُونَهُ شَيْئًا، فَأَوْرَدَهُمْ مَاءً وَ رِيَاضًا خُضْرًا ، فَمَكَثَ فِيْهِمْ مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ قَالَ: يَا هَؤُلاَءِ الرَّحِيْلُ ! قَالُوْا إِلَى أَيْنَ ؟ قَالَ : إِلَى مَاءٍ لَيْسَ كَمَائِكُمْ وَإِلَى رِيَاضٍ لَيْسَتْ كَرِيَاضِكُمْ ، فَقَالَ جُلُّ الْقَوْمِ: وَاللهِ مَا وَجَدْنَا هَذَا هَذَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ لَنْ نَجِدَهُ وَمَا نَصْنَعُ بِعَيْشٍ خَيْرٍ مِنْ هَذَا ؟! وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ وَهُمْ أَقَلُّهُمْ : أَلَمْ تعطوا هَذَا الرَّجُلَ عُهُودَكُمْ، وَمَوَاثِيقَكُمْ بالله لَا تَعْصُونَهُ شيئا، وَقَدْ صَدَقَكُمْ فِي أَوَّلِ حَدِيثِهِ، فو اللهِ ليصدقنكم في آخِرِهِ ، فَرَاحَ فيمن اتبعه وتخلف بقيتهم فبدرهم عدو  فَأَصْبَحُوا بَيْنِ قَتيِلٍ وَأَسِيرٍ

Sesungguhnya permisalanku, kalian dan dunia seperti satu kaum yang sedang melalui satu wilayah yang tidak diketahui jalan keluarnya, sampai ketika mereka tidak tahu, apakah jalan yang sudah mereka tempuh itu lebih banyak ataukah yang tersisa yang lebih banyak? Mereka kehabisan bekal dan keletihan. Mereka masih berada di tengah-tengah wilayah tersebut, tanpa bekal dan kemampuan, sehingga mereka yakin bahwa mereka pasti akan mati. Ketika mereka dalam kondisi sepeti itu, tiba-tiba ada seorang lelaki berjalan kea rah mereka dalam keadaan rambutnya agak basah. (Melihat ini-red)mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya orang ini baru saja datang dari sebuah perkampungan yang subur. Orang ini baru datang dari tempat yang dekat.’ Ketika orang itu sampai ketempat mereka, dia bertanya, “Wahai orang-orang! Bagaimana keadaan kalian? Mereka menjawab, “Sebagaimana yang engkau lihat.” Orang itu berkata lagi, “Bagaimana pendapat kalian jika aku bisa menunjukkan kepada kalian tempat air yang segar dan kebun yang hijau. Apa yang akan berikan untukku?” Mereka menjawab, “Kami tidak akan melanggar ucapanmu sedikitpun.” Orang itu mengatakan, ‘Peganglah janji kalian karena Allâh.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Mereka berjanji dengan nama Allâh Azza wa Jalla untuk akan melanggar ucapan orang itu sedikitpun. Lalu orang itu membawa mereka ke air dan kebun yang menghijau. Orang itu tinggal bersama mereka sampai waktu yang dikehendaki Allâh Azza wa Jalla, kemudian dia mengatakan, ‘Wahai orang-orang! Ayo kita berangkat!’ (Mendengar perintah ini-red) Mereka mengatakan, ‘Kemana?’ Orang itu menjawab, ‘Menuju air yang tidak sama dengan air kalian (saat ini-red) dan menuju kebun yang tidak sama dengan kebun kalian (saat ini). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Sebagian diantara mereka mengatakan, ‘Demi Allâh! Kita tidak mendapatkan ini kecuali setelah kita putus asa dari mendapatkannya. Lalu bagaimana dengan kehidupan yang lebih baik dari ini?[2] Kemudian sebagian kecil diantara mereka mengatakan, ‘Bukanlah kalian sudah berjanji dengan nama Allâh Azza wa Jalla kepada orang ini untuk tidak melanggar perintahnya sedikitpun. Dia sudah membuktikan kebenaran bagian awal ucapannya kepada kalian. Demi Allâh! Dia pasti akan membuktikan kebenaran bagian akhir ucapannya kepada kalian.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lalu orang itu pergi bersama dengan orang-orang yang mengikutinya, sementara sebagian besar mereka tidak ikut. Tidak lam kemudian mereka tinggal itu diserang musuh, sehingga sebagian diaantara mereka mati terbunuh dandiantara mereka ada yang menjadi tawanan musuh.

Penyusun Jami’ul Ulum wal hikam mengatakan bahwa permisalan sangat cocok dan sesuai dengan keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan umatnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kepada orang Arab, saat itu mereka merupakan orang-orang yang paling hina, jelek kehidupan dunia mereka. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru mereka agar menempuh jalan keselamatan dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuktikan kebenaran berbagai ucapan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana permisalan seorang lelaki (dalam di atas) yang mendatangi suatu kaum yang tengah berputus asa karena kehabisan bekal di daerah yang mereka tidak kenal. Lalu orang itu menunjukkan sumber air dan daerah perkebunan yang hijau menawan. Dengan terbuktinya sebagian ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka banyak orang yang mengikuti Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kepada pengikutnya untuk menaklukkan Roma dan Persia serta mengusai kekayaan mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan mereka agar tidak tertipu dengannya dan memerintahkan mereka untuk berusaha keras keras dan bersungguh-sungguh untuk akhirat. Setelah itu, mereka mendapati yang dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu semuanya benar. Ketika Roma dan Persia (dunia) sudah mampu mereka kuasai, sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagian mereka tersibukkan dengan kesibukan untuk menumpuk kekayaan, berlomba-lomba dalam masalah dunia, merasa cukup dengan tinggal di dunia dan bersenang-senang dengan kesenangan dunia. Mereka tidak lagi menyiapkan diri untuk menyongsong kehidupan akhirat. Sebagian kecil saja yang tetap berpegang teguh dengan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersungguh-sungguh meraih akhirat.

Kelompok yang sedikit ini adalah kelompok yang selamat dan akan berjumpa dengan Nabi mereka di akhirat, kerena mereka telah menempuh jalan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , melaksanakan wasiatnya dan mentaati perintahnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun kebanyakan manusia terus terlena, mabuk dunia dan terus sibuk menumpuk dunia. Kesibukan mereka dengan dunia telah melalaikan mereka dari akhirat. Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba kematian datang menjemput mereka, sehingga binasalah mereka, ibarat kaum yang diserang musuhnya secara tiba-tiba sehingga pilihan mereka antara menjadi tawanan atau mati terbunuh. [Lihat Jami’ul Ulum, hlm. 1127]

Itulah diantara permisalan yang menggambarkan hakikat kehidupan dunia, masihkah kita membiarkan diri kita tertipu dengannya?

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIX/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote       

[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâri dalam Shahîhnya no.2964, dengan lafazh :

مَا غَبَرَ – مَابَقِيَ-  مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا كَالثَّغْبِ شُرِبَ صَفْوُهُ وَبَقِيَ كَدَرُهُ

Lafazh di atas diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, 4/320 dari Abdullah secara marfu’ dengan lafazh yang sama dengan yang dibawakan oleh Ibnul Qayyim. Hadits ini dinilai shahih dan disepakati oleh imam adz-Dzahabi rahimahullah. Dan dinilai hasan oleh syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahâdîts ash-Shahîhah, no. 1625

[2]  Mereka seakan menyampaikan ketidak percayaannya kepada orang yang akan membimbingnya menuju kepada kehidupan yang lebih baik. Jika kehidupan yang seperti itu saja mereka bisa dapatkan setelah merasa putus asa, lalu bagaimana dengan kehidupan yang lebih baik? Seakan suatu yang mustahil-red

sumber: https://almanhaj.or.id/5876-hakikat-dunia-dalam-permisalan.html

Kalimat yang Ditakuti Penduduk Neraka

Kalimat tersebut menyatakan bahwa adzab penduduk neraka akan terus bertambah dan terus bertambah
Sampai kapan? Tidak ada ujung dan akhirnya
Terus-menerus di siksa selama-lamanya dan abadi
.
Allah berfirman,

ﻓَﺬُﻭﻗُﻮﺍ ﻓَﻠَﻦْ ﻧَﺰِﻳﺪَﻛُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﺬَﺍﺑًﺎ
.
“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.” (QS. An Naba : 30).
.
Dalam tafsir At-Thabari dijelaskan,
.
فهم في مزيد من العذاب أبدا
.
“Mereka mendapatkan tambahan adzab yang abadi”
.
Saudaraku se-Islam
Selalu ingat dan saling mengingatkan
Kita di dunia ini hanya sementara dan sangat sebentar
Kematian adalah kepastian
Kita akan kembali kepada Allah
Mempertanggung jawabkan semuanya
Masihkah kita tidak peduli dengan akhirat kita?
.
Jika lalai dan tidak peduli sama sekali, ketauhilah
Kita tidak sanggup menahan siksa api neraka
Pernahkah melihat orang yang menyesal?
Menyesal sejadi-jadinya
Menyesal setelah nyata sakratul maut
Menyesal setelah bertemu Mungkar & Nakir
Menyesal karena harta dan jabatan
Yang ia cari mati-matian
Ternyata tidak ikut di bawa mati
Sampai melupakan akhiratnya
.
Kembalikan kepada Allah
Sebagaimanakembalinya anak durhaka pada ibunya
Ketahuilah, Allah sangat sayang kepada hamba-Nya
Melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya
.
Berbahagialah orang yang merantau jauh
Pulang ke kampung halamannya dan sukses
Semoga saya dan anda berbahagia saudaraku
Merantau di dunia ini
Lalu pulang ke kampung kita
Di mana kampung kita?
Kampung tempat ayah kita Nabi Adam sebelumnya
Surga Allah …
.
Saudaraku
Kita tidak akan sanggup
Menahan beratnya siksa api neraka
.
Karena pedihnya
Penghuni neraka meminta kematian
Tapi dijawab dengan kekekalan di neraka
.
Peghuni neraka berkata,
.
“Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Rabbmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”. (Az-Zukhruf: 77)
.
Semoga kita di selamatkan dari siksa neraka
Dan dimasukkan ke surga Allah tertinggi
Aamiin yaa mujiibas sa-iliin

Penyusun: Raehanul Bahraen

Tidak Boleh Mengobati Sihir Dengan Sihir

#IndonesiaBertauhid

-Ternyata memang bisa juga, mengobati sihir dengan sihir, sama-sama menggunakan bantuan jin untuk mengusir gangguan jin lainnya

-Walaupun terkadang bisa, tetapi tidak boleh , ini yang disebut NUSYRAH yang diharamkan

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiallahu anhuma, ia berkata:

“Sesungguhnya RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang nusyrah, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

هُوَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ.

‘Nusyrah itu termasuk perbuatan syaithan.”[1]

Inilah yang dimaksud NUSYRAH YANG HARAM , Syaikh Abdul Aziz bin baz rahimahullah Menjelaskan,

يعني : حل السحر على يد الساحر , هو من عمل الشيطان ؛ لأنه يحله بدعاء غير الله , والاستغاثة بغير الله

“Yaitu mengobati sihir dengan sihir, ini merupakan perbuatan syaithan karena mengobati sihir dengan meminta kepada selain Allah dan meminta istigatsah kepada selain Allah.”[2]

-Ini dipraktekkan oleh paranormal atau dukun yang berkedok ustadz/kiayi, mereka menggunakan cara-cara yang aneh dan diluar syariat seperti:

1.Membaca Jampi-jampi atau mantera-mantera dengan bahasa yang tidak jelas

2.Melakukan gerakan-gerakan aneh seperti tari-tarian aneh bahkan gerakan yang bertentangan dengan syariat

3.Meminta agar korban sihir atau keluarga melakukan ritual kesyirikan juga seperti menyembelih ayam dengan menyebut nama orang (bukan nama Allah) atau memberikan sesajen kepada pohon dan lain-lain

4.Biasanya berusaha mengadu domba misalnya:

“Ini sihir dikirim oleh fulan untuk sang ayah, tetapi yang kena malah anaknya”. Padahal belum tentu fulan yang melakukan atau mengirim sihir

-Adapun yang diperbolehkan adalah dengan menggunakan ruqyah yang syar’i, ini yang dimaksud dengan “NUSYRAH YANG BOLEH”. Jadi Nusyrah ada yang boleh dan ada yang terlarang

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

القسم الأول: أن تكون بالقرآن الكريم، والأدعية الشرعية، والأدوية المباحة فهذه لا بأس بها لما فيها من المصلحة وعدم المفسدة
القسم الثاني: إذا كانت النشرة بشيء محرم كنقض السحر بسحر

“Dua jenis Nusyrah yaitu:

1.Dengan Al-Quran, doa-doa yang syar’i dan obat-obatan yang mubah, tidak mengapa jika ada mashlahat dan tidak ada mafsadat

2.Nusyrah dengan yang diharamkan yaitu mengobati sihir dengan sihir.”[3]

-Yang boleh inilah yang dikenal dengan ruqyah syar’iyyah, syaratnya ada 3 sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalanirahimahullah, beliau berkata:

وقد أجمع العلماء على جواز الرقى عند اجتماع ثلاثة شروط : أن يكون بكلام الله تعالى أو بأسمائه وصفاته ، وباللسان العربي أو بما يعرف معناه من غيره ، وأن يعتقد أن الرقية لا تؤثر بذاتها بل بذات الله تعالى

Para ulama telah sepakat untuk membolehkan ruqyah dengan tiga syarat, yaitu:
1. Menggunakan firman Allah Taala atau Asma’ dan Sifat-Nya (atau hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent)
2. Diucapkan dalam bahasa Arab dengan makna dapat difahami maknanya.
3. Harus diyakini bahwa zat ruqyah TIDAK memberikan pengaruh, tetapi Allah yang memberikan pengaruh (ruqyah hanya sebab saja).”[4]

Demikian semoga kita bisa memahaminya dan menyebarkan dakwah tauhid ini kepada manusia

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

[1] HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Misykaatul Mashaabiih no. 4553

[2] Majmu’ Fatawa syaikh Bin Baz 8/90, syamilah

[3] Majmu’ Fatawa wa Rasail 2/177, syamilah

[4] Fahul Bari 16/258, syamilah.

__

Shalat itu Yang Pertama Kali Akan Dihisab

Shalat itu yang pertama kali akan dihisab (diperhitungkan) pada hari kiamat.

 

Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Fadhail, Bab 193. Perintah Menjaga Shalat Wajib dan Larangan serta Ancaman yang Sangat Keras bagi yang Meninggalkannya

Hadits #1081

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

 

Faedah dari Hadits

  1. Perkara yang pertama kali akan dihisab pada hamba dari perkara ibadah pada hari kiamat adalah shalat.
  2. Siapa yang mendirikan shalat, maka bagus amalnya. Siapa yang tidak bagus shalatnya, maka amalnya pasti rusak.
  3. Allah sangat penyayang pada hamba di mana Allah menyempurnakan amalan wajib yang ia lakukan dengan amalan sunnah sebagai penutup kekurangannya.
  4. Umumnya amalan wajib akan disempurnakan dengan amalan sunnah sampai bertambahlah kebaikan hingga mengalahkan kejelekan sampai masuk surga dengan rahmat Allah.’
  5. Hendaklah setiap orang bisa memperbanyak dan menjaga amalan sunnah, bukan hanya mementingkan yang wajib saja.

 

Referensi:

 Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:255-256.
sumber : https://rumaysho.com

Angan-Angan Mereka Yang Telah Tiada

Angan-angan mereka yang telah mati ialah kembali ke dunia meski sejenak untuk menjadi orang shalih. Mereka ingin taat kepada Allah, dan memperbaiki segala kerusakan yang dahulu mereka perbuat. Mereka ingin berdzikir kepada Allah, bertasbih, atau bertahlil walau sekali saja. Namun mereka tidak lagi diijinkan untuk itu. Kematian serta-merta memupuskan segala angan-angan tersebut. Allah ta’ala berfirman mengenai mereka

>حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100)

Begitulah kondisi orang mati, mereka telah melihat akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka tahu pasti apa yang telah mereka perbuat dan apa yang mereka terima. Dahulu mereka demikian mudah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat mereka. Kini mereka sadar bahwa detik-detik dan menit-menit yang hilang tersebut sungguh tidak ternilai harganya.

Dahulu, kesempatan itu ada di depan mata, namun tidak mereka manfaatkan. Sekarang, mereka siap menebus kesempatan itu berapapun harganya! Sungguh tak terbayang alangkah ruginya dan alangkah besarnya penyesalan mereka..

Memang, saat manusia paling lalai terhadap nikmat Allah ialah ketika ia bergelimang di dalamnya. Ia tidak menyadari betapa besarnya kenikmatan tersebut, kecuali setelah kenikmatan itu tercabut darinya. Sebab itu, kita yang masih hidup sungguh berada dalam kenikmatan yang besar. Karenanya, jangan kita biarkan semenit pun berlalu tanpa ibadah walau sekedar mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ada dua orang Arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Hai Muhammad, siapakah lelaki yang terbaik?’ ‘Yang panjang umurnya dan baik amalnya.’ jawab Rasulullah. Kemudian yang satu lagi bertanya, ‘Sesungguhnya ajaran Islam terlampau banyak bagi kami, lalu adakah amalan yang mencakup banyak kebaikan yang dapat kami tekuni?’ ‘Usahakan agar lisanmu selalu basah dengan dzikrullah’, jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

Tidakkah pembaca tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memuji Allah saat bangun tidur, karena Dia telah menghidupkan kita setelah mati, dan mengijinkan kita untuk kembali mengingat-Nya? Benar, tidur memang identik dengan kematian. Saat tidur, manusia berhenti dari segala aktivitasnya dan acuh akan apa yang terjadi di sekelilingnya. Alangkah miripnya ia dengan orang mati, andai saja Allah tidak mengembalikan ruhnya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ

“Jika seorang terbangun hendaklah mengucapkan AL HAMDULILLAAHILLADZII ‘AAFAANII FII JASADII WA RADDA ‘ALAYYA RUUHII WA ADZINA LII BIDZIKRIHI. (Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku tubuhku, dan mengembalikan nyawa kepadaku, serta mengizinkanku untuk berdzikir kepadaNya).” (HR. Tirmidzi)

Sekarang kita masih mengenyam nikmatnya hidup, kita masih bisa menambah pahala dan menghapus dosa. Ingatlah bahwa suatu saat Anda akan tutup usia, dan semuanya menjadi angan-angan. Oleh karena itu, marilah kita wujudkan angan-angan itu mulai sekarang!

Ibrahim bin Yazid al-Abdi mengatakan, “Suatu ketika Riyah al Qaisy mendatangiku seraya berkata, ‘Hai Abu Ishaq –julukan Ibrahim-, ayo ikut bersamaku menemui penghuni akhirat dan marilah kita mengikat janji setia di samping mereka.” Lalu aku pun pergi bersamanya ke sebuah pemakaman. Kami duduk di samping salah satu kuburan di sama, kemudian Riyah berkata,

“Hai Abu Ishaq, kira-kira apakah yang diangankan oleh mayit ini jika ia diminta berangan-angan?”

“Demi Allah, ia pasti ingin dikembalikan ke dunia agar bisa taat kepada Allah dan memperbaiki amalnya,” jawabku.

“Nah, kita sekarang berada di dunia. Karenanya, marilah kita taat kepada Allah dan memperbaiki amal kita,” sahut Riyah.

Maka Riyah bangkit meninggalkan kuburan tersebut dan mulai bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ternyata tak lama berselang, ia dipanggil menghadap Allah, semoga Allah merahmatinya.

Saudaraku, jika Anda menziarahi pemakaman, carilah kuburan kosong dan duduklah di sampingnya. Perhatikan liang kubur yang sempit itu, dan bayangkan kalau Anda berada di sana ketika papan-papan kayu menutup tubuh Anda, lalu bongkahan tanah menimbun, kemudian sanak keluarga dan handai taulan pergi satu persatu. Anda terbaring sendirian dalam keheningan dan kegelapannya, tak ada teman di sana, dan tak ada yang Anda lihat selain amal Anda. Kiranya apa yang Anda damba-dambakan di saat menegangkan tersebut??

Bukankan Anda ingin kembali ke dunia supaya beramal shalih? Supaya shalat walau satu rakaat? Atau bertasbih dan berdzikir meski sekali?

Nah, sekaranglah waktunya…!!

Ibrahin At Taimi mengatakan, “Aku membayangkan tatkala diriku dicampakkan ke neraka, Lalu kumakan buah Zaqqum dan kuminum nanah, sedang tubuhku terkait dengan rantai dan belenggu. Saat itu kutanya diriku, “Apa yang kamu dambakan sekarang?” maka jawabnya, “Aku ingin kembali ke dunia dan beramal shalih,” maka aku berkata, “Engkau sedang berada dalam angan-anganmu sekarang, maka beramallah!” (Lihat Umniyat al Mauta)

Saudaraku, tatkala Anda ziarah kubur atau mengiring jenazah, janganlah menjadi orang yang lalai. Jangan sibukkan diri Anda dengan mengobrol, namun ingatlah angan-angan mereka yang terkubur di sekeliling Anda, merekalah orang-orang yang kini tertawan oleh amal perbuatan mereka.

Jika hawa nafsu mengajak Anda bermaksiat, ingatlah angan-angan mereka yang tiada. Mereka ingin dihidupkan lagi untuk taat kepada Allah, lalu mengapa Anda justru bermaksiat?

Jika Anda merasa lesu untuk beramal, ingatlah angan-angan mereka yang tiada…

Konon ar Rabi’ bin Khutsaim menggali kuburan di halaman rumahnya. Jika dia merasa hatinya mulai keras, ia letakkan belenggu di lehernya lalu berbaring dalam kuburan tersebut selama beberapa waktu, kemudian berteriak, “Ya Rabbi, kembalikan aku ke dunia agar aku beramal shalih!!” sembari mengulang-ulangnya. Setelah itu ia bangun dan berkata kepada dirinya, “Hai Rabi’, kini permintaanmu telah terkabul, maka beramallah sebelum tiba saat engkau meminta namun tak dijawab.” (Lihat Ihya’ Ulumuddin)

***

Disalin dari buku Andai Si Mati Bisa Bicara karangan Sufyan bin Fuad Baswedan dengan sedikit pengeditan.

sumber: https://muslimah.or.id/2790-angan-angan-mereka-yang-telah-tiada.html

Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah

Ayat yg sangat indah dan halus dalam menjelaskan bahwa seharusnya kita meninggalkan semua bid’ah dalam agama. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. Alu Imron: 31).

Renungkanlah kandungan ayat ini:

  1. Ayat ini berkenaan tentang cinta kepada Allah, yang harusnya menjadi derajat cinta paling tinggi di hati kaum mukminin. (QS. Al Baqarah: 165). Itu saja dalam mengejewantahkannya harus mengikuti Nabi –shollallohu alaihi wasallam-, apalagi bila cinta itu kepada makhluk-Nya.
    Sehingga dalam mencintai Nabi –shollallohu alaihi wasallam– kita lebih wajib mengikuti cara dan tuntunan beliau, begitu pula dlm mecintai keluarga beliau, ka’bah, Al Quran, dst.
  2. Ayat ini memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi –shollallohu alaihi wasallam– saja dalam mengejewantahkan cinta kita kepada Allah.
    Sehingga kita tidak boleh mencintai Allah dengan cara para Nabi selain beliau, apalagi cara para ulama, apalagi cara kita sendiri, jika cara-cara tersebut tidak sesuai dengan yang disyariatkan oleh Nabi –shollallohu alaihi wasallam-.
  3. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan mencintai kita jika kita mengikuti Nabi –shollallohu alaihi wasallam– dlm mengejewantahkan cinta kita kepada-Nya.
    Maka sebaliknya Allah akan menjadi murka, bila kita mengejewantahkan cinta tersebut dengan mengikuti tuntunan dari selain beliau.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita, sehingga kita dapat mencintai Allah, Rasulullah, para ulama, dan yang lainnya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi –shollallohu alaihi wasallam-.

Penulis: Ust. Musyafa Ad Darini, Lc., MA.

Artikel Muslim.Or.Id

sumber: https://muslim.or.id/24250-jika-anda-mencintai-allah-ikuti-tuntunan-rasulullah.html

Bicara Baik atau Diam

Sungguh beruntung orang yang banyak diam
Ucapannya dihitung sebagai makanan pokok
Tidak semua yang kita ucapkan ada jawabnya
Jawaban yang tidak disukai adalah diam
Sungguh mengherankan orang yang banyak berbuat aniaya
Sementara meyakini bahwa ia akan mati

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
Seseorang mati karena tersandung lidahnya
Dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya
Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya
Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan
.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya (hadits no. 6474) dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) sesuatu yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, kuberikan kepadanya jaminan masuk surga.”

Yang dimaksud dengan “sesuatu yang ada di antara dua janggutnya” adalah mulut, sedangkan “sesuatu yang ada di antara dua kakinya” adalah kemaluan.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna; semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (Perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam.” (lihat Al-Fath, 10:446)

Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara.”

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, hlm. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara, karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.

Beliau berkata pula di hlm. 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi dua telinga, sedangkan diberi hanya satu mulut, supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sering kali orang menyesal pada kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan itu lebih mudah daripada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.”

Beliau menambahkan di hlm. 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat maka dia akan diam. Sementara orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya.”

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, hadits no.10; dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya.”

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim, no. 64, dengan lafal,

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah orang muslim yang paling baik?’ Beliau menjawab, ‘Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.’

Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir, hadits no. 65, dengan lafal seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.

Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadis tersebut. Beliau berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu karena lisan memungkinkan berbicara tentang sesuatu yang telah berlalu, yang sedang terjadi sekarang, dan juga yang akan terjadi pada masa mendatang. Berbeda dengan tangan; pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh lisan.”

Oleh karena itu, dalam sebuah syair disebutkan,
Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya
Tanganku kan lenyap, namun tulisan tanganku kan abadi
Bila tanganku menulis kebaikan, kan diganjar setimpal
Jika tanganku menulis kejelekan, tinggal menunggu balasan.”

Tentang hadits (yang artinya), “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam,” Imam Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah mengatakan dalam Syarah Hadits Arbain, “‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir‘, maknanya: siapa saja yang beriman dengan keimanan yang sempurna, yang menyelamatkan dari azab Allah dan mengantarkan kepada keridhaan Allah maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang sebenarnya, ia takut ancaman-Nya, mengharap pahala-Nya, berusaha mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya, dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Kemudian memelihara seluruh anggota tubuhnya yang menjadi gembalaannya, dan ia bertangung jawab terhadapnya, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوولًا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban.’ (QS. Al-Isra’:36)

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.’ (QS. Qaf :18)

Yakni selalu mengawasinya dan menyaksikan hal ihwalnya, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya,

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ( )كِرَامًا كَاتِبِينَ( )يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah), dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (QS. Al-Infithar:10–12)”

Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menyungkurkan leher manusia di dalam neraka melainkan hasil lisan mereka.” (Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 5136)

Siapa pun yang mengetahui hal itu dan mengimaninya dengan keimanan yang sebenarnya maka ia bertakwa kepada Allah berkenaan dengan lisannya, sehingga ia tidak berbicara kecuali kebaikan atau diam.” (Tafsir As-Sa’di)

Semoga Allah selalu menjaga lisan kita dari hal-hal yang tidak berguna, agar tidak menuai sesal di hari akhir dengan tidak membawa amal sedikit pun dari jerih payah amal kita di dunia.

عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوْاالْمُفْلِسُ فِيْنَا يَا رَسُو لَ اللَّهِ مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ قَالَ رَسُو لَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُفْلِسُ مِنْ أُمَّيِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَتِهِ وَصِيَامِهِ وِزَكَاتِهِ وَيَأتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَاَكَلاَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَيَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُحِذَ مِنْ خَطَايَاهُم فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرحَ فِي النَّارِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?

Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda.”

Beliau menimpali, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, no. 2581)

Wallahul Musta’an.

Wahai Rabb, ampunilah dosa-dosa hamba, bimbinglah hamba untuk senantiasa taat kepada-Mu dan masukkanlah kami kedalam golongan orang-orang yang Engkau beri Rahmat.

Bandung, 18 Dzulhijjah 1434 H (1 November 2013 M).

Maraji’:

  • Taisir Karimir Rahman, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
  • Syarah Arbain An-Nawawi, karya Sayyid bin Ibrahim Al-Huwaithi.
  • Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
  • Tazkiyatun Nafs, karya: Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dan Imam Al-Ghazali.
  • Catatan pribadi kajian islam ilmiah “Waspada Bahaya Lisan” yang disampaikan oleh Al-Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc. Hafidzahullah; Masjid Habiburrahman PT. DI, Bandung; Ahad, 27 0ktober 2013; diselenggarakan oleh Yayasan Ihya’us Sunnah Bandung bekerja sama dengan DKM Masjid Habiburrahman PT. DI.
  • Almanhaj.or.id

Penulis: Umi Romadiyani (Ummu ‘Afifah)
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

sumber: https://muslimah.or.id/5118-bicara-baik-atau-diam.html

Dianjurkan Menutup Pintu, Jendela dan Wadah-Wadah di Malam Hari

Terdapat hadits dari sahabat Jabir radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

( إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ ، وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا ، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ ) رواه البخاري (3280)

Jika malam datang menjelang, atau kalian berada di sore hari, maka tahanlah anak-anak kalian (di rumah), karena  ketika itu setan sedang bertebaran. Jika telah berlalu sesaat dari waktu malam, maka biarkan mereka (jika ingin keluar). Tutuplah pintu dan berzikirlah kepada Allah, karena sesungguhnya setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutup pula wadah minuman dan makanan kalian dan berzikirlah kepada Allah, walaupun dengan sekedar meletakkan sesuatu di atasnya, matikanlah lampu-lampu kalian” (HR. Bukhari 3280, Muslim 2012).

Dan dengan lafadz lain riwayat Bukhari (5624):

أَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ إِذَا رَقَدْتُمْ وَغَلِّقُوا الْأَبْوَابَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ

matikanlah lampu-lampu kalian, jika kalian hendak tidur. Dan tutuplah pintu-pintu serta tutuplah bejana serta wadah-wadah makan dan minum kalian

 

Dan dalam riwayat Ahmad (14747):

خَمِّرُوا الْآنِيَةَ وَأَوْكِئُوا الْأَسْقِيَةَ وَأَجِيفُوا الْبَابَ وَأَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ عِنْدَ الرُّقَادِ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ رُبَّمَا اجْتَرَّتْ الْفَتِيلَةَ فَأَحْرَقَتْ الْبَيْتَ ، وَأَكْفِتُوا صِبْيَانَكُمْ عِنْدَ الْمَسَاءِ فَإِنَّ لِلْجِنِّ انْتِشَارًا وَخَطْفَةً

tutuplah bejana-bejana dan tempat minum kalian. Serta matikanlah lampu-lampu ketika hendak tidur. Karena fuwaisiqoh (binatang kecil, seperti cicak, tokek, dll) terkadang menyenggol sumbu dan bisa membakar rumah. Dan tahanlah anak-anak kalian (di rumah) ketika sore hari karena jin bertebaran ketika itu dan terkadang menculiknya

Juga dalam riwayat Ahmad (14597):

أَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ بِاللَّيْلِ وَأَطْفِئُوا السُّرُجَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهِ بِعُودٍ

tutuplah pintu-pintu ketika malam, dan matikanlah lampu-lampu. Tutuplah bejana serta tempat makan dan minum, walaupun hanya engkau taruh sepotong kayu di atasnya

Hadits-hadits ini menunjukkan beberapa hal:

  1. Dianjurkan untuk melarang anak-anak kecil keluar rumah ketika menjelang malam. Yaitu mulai sore hari menjelang maghrib hingga beberapa saat setelah isya’. Karena ketika itu setan yang berupa jin sedang bertebaran di muka bumi. Adapun setelah beberapa saat masuknya waktu malam (yaitu waktu isya’), maka dibolehkan untuk keluar.
  2. Dianjurkan menutup pintu rumah, kamar, dan jendela ketika malam hari. Ketika tidak ada kebutuhan untuk membukanya. Anjurkan ini terutama ketika hendak tidur.
  3. Juga dianjurkan untuk menutup bejana, tempat minum, tempat makan atau semisalnya. Jika tidak ada benda untuk menutupnya, dianjurkan tetap berusaha menutup walaupun dengan tidak sempurna, semisal dengan menaruh sebatang kayu di atasnya.

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan:

وفي هذا الحديث الأمر بغلق الأبواب من البيوت في الليل ، وتلك سنة مأمور بها رفقا بالناس لشياطين الإنس والجن

“dalam hadits ini adalah perintah untuk menutup pintu rumah di malam hari. Sunnah ini diperintahkan sebagai bentuk kasih menjaga manusia dari gangguan setan yang berupa manusia atau berupa jin” (Al Istidzkar, 8/363).

Ibnu Bathal mengatakan:

أمره عليه السلام بإغلاق الأبواب بالليل خشية انتشار الشياطين وتسليطهم على ترويع المؤمنين وأذاهم

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk menutup pintu-pintu ketika malam hari karena mengkhawatirkan tersebarnya jin akan membuat orang kesurupan atau menimbulkan ketakutan dan gangguan pada kaum mu’minun” (Syarah Shahih Al Bukhari, 9/67).

Imam An Nawawi menjelaskan:

هذا الحديث فيه جمل من أنواع الخير والأدب الجامعة لمصالح الآخرة والدنيا ، فأمر صلى الله عليه وسلم بهذه الآداب التي هي سبب للسلامة من إيذاء الشيطان ، وجعل الله عز وجل هذه الأسباب أسبابا للسلامة من إيذائه ، فلا يقدر على كشف إناء ، ولا حل سقاء ، ولا فتح باب ، ولا إيذاء صبي وغيره إذا وجدت هذه الأسباب ، وهذا كما جاء في الحديث الصحيح أن العبد إذا سمى عند دخول بيته قال الشيطان : ( لا مبيت ) أي : لا سلطان لنا على المبيت عند هؤلاء ، وكذلك إذا قال الرجل عند جماع أهله : ( اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا ) كان سبب سلامة المولود من ضرر الشيطان ، وكذلك شبه هذا مما هو مشهور في الأحاديث الصحيحة

“Hadits ini mengandung sejumlah ajaran kebaikan serta adab-adab yang mengumpulkan maslahah dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk melaksanakan adab-adab sebagai sebab agar terhindar dari gangguan setan. Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan hal-hal ini sebagai sebab agar terhindar dari gangguan setan. Maka setan tidak mampu membuka penutup wadah makan dan minum, tidak dapat membuka pintu dan tidak dapat mengganggu anak kecil dan selainnya jika sebab-sebab dilakukan. Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits shahih bahwa jika seorang hamba membaca basmalah ketika masuk rumahnya, maka setan berkata, “Tidak ada tempat bermalam untukku“. Maksudnya mereka mengatakan: “kita tidak memiliki kekuatan untuk bermalam di rumah mereka”. Demikian pula jika sebelum berjima’ seorang membaca,

اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا

/Allahumma jannibnas syaithoona wa jannibis syaitho0na maa rozaqtanaa/

Ya Allah, jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkan syetan dari apa yang Engkau berikan rizki kepada kami.

Maka hal itu akan menjadi sebab keselamatan bagi bayi yang akan dilahirkan dari gangguan setan. Demikian pula hal serupa dalam beberapa hadits yang masyhur dan shahih” (Syarah Shahih Muslim, 13/185).

Namun, boleh membuka pintu atau jendela ketika malam jika ada kebutuhan. Karena perintah untuk melakukan adab-adab di atas adalah dalam rangka mencegah terjadinya keburukan atau sadd adz dzari’ah. Kaidah fiqhiyyah mengatakan:

ما حرم لذاته لا يباح إلا لضرورة، وما حرم سدا للذريعة أبيح للحاجة

“setiap apa yang diharamkan dzatnya, tidak diperbolehkan kecuali darurat. setiap apa yang diharamkan karena sadd adz-dazara’i, dibolehkan ketika ada hajat”.

Dan yang dimaksud al hajah atau hajat adalah hal-hal yang ada tuntutan untuk melakukannya dan jika tidak dipenuhi maka ia mendapatkan kesusahan dan kesulitan, namun tidak sampai membahayakan.

Oleh karena itu Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

فإذا أراد أهل البيت فتح النوافذ مثلا لشدة الحر ، مع التحرز للحرمات ، فلا حرج في فتحها ، وإذا كان هناك ما يستدعي فتح باب معين بصفة دائمة لكثرة الدخول والخروج فلا حرج في فتحه ، ومتى انقضت الحاجة أوصد وأغلق

“jika penghuni rumah ingin membuka jendela karena udara terlalu panas misalnya, selama terhindar dari hal-hal yang haram, maka tidak mengapa dibuka. Atau jika ada kebutuhan untuk membuka pintu tertentu karena seringnya orang mondar-mandir keluar-masuk, maka tidak mengapa dibuka. Setelah kebutuhannya sudah selesai, segera ditutup”

Wallahu a’lam.

***

Diolah dari fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullah di https://islamqa.info/ar/153403 dan https://islamqa.info/ar/125922, dengan beberapa penambahan

Penyusun: Yulian Purnama

sumber: https://muslim.or.id/27255-dianjurkan-menutup-pintu-jendela-dan-wadah-wadah-di-malam-hari.html

Anakku, Kokohkan Fondasi Hidupmu

Anakku…

Hidup di dunia hanya satu kali. Yang telah berlalu tidak mungkin akan terulang kembali. Yang telah luput pun sulit untuk bisa diraih lagi. Ingat bahwa ujian hidup selalu ada,  kian hari kian bertambah. Waspadalah kalian, karena di belakang ujian itu ada kelulusan dan kegagalan. Bercita-citalah engkau menjadi orang yang lulus dan berhasil.

Anakku… Sungguh, terlalu banyak anak yang sebaya denganmu telah hancur masa depannya, rusak moral dan akhlaknya, terjatuh ke dalam jurang kehancuran dan kehinaan. Masa depanmu adalah masa yang sangat berharga, terlebih masa depan di akhiratmu. Masa depanmu di akhirat tidak akan didapatkan selain dengan kelurusan di dunia ini.

Anakku… Ingatlah, kelulusan itu adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan yang berujung kalah atau menang, dan pengorbanan yang berakhir dengan untung atau merugi. Tidak sedikit orang yang kalah dan menyerah dalam perjuangannya; tidak sedikit pula yang rugi besar dalam pengorbanannya. Dengarkan pesan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kitab suci-Nya,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

Katakanlah, “Maukah kami beri tahukan kepada kalian tentang orang-orang yang merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang tersesat amalnya di dunia dan mereka menyangka telah melakukan yang terbaik.” (al-Kahfi: 103—104)

          وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ٢٣

“Dan kami hadirkan apa yang mereka telah kerjakan dari amal-amal dan kami menjadikannya bagaikan debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Korbankanlah segala yang engkau miliki untuk menyelamatkan diri dan agamamu dan. Engkau tidak akan bisa bangkit berjuang dan mau berkorban apabila tidak memiliki mesin penggerak. Mesin penggerakmu tidak akan berarti besar apabila tidak ditopang dengan penyangga yang kokoh, kuat, dan handal.

Ada empat hal yang harus engkau perhatikan sebagai dasar melangkah yang akan menjadi pelitamu dalam kegelapan dan menjadi senjatamu ketika berjuang dan berkorban.

  1. Engkau harus berilmu tentang Rabbmu, tentang Nabimu, dan agamamu dengan dalil-dalilnya.
  2. Engkau harus berani dan kuat untuk mengamalkan ilmu yang telah engkau ketahui.
  3. Engkau harus berani menyuarakan kebenaran yang telah engkau ilmui dan amalkan.
  4. Engkau harus berhias dengan kesabaran baik ketika mendalami ilmu atau saat beramal dan menyuarakan kebenaran.

Empat pilar inilah yang akan menjadi pelita hidupmu dan senjatamu saat bertarung. Pada akhirnya engkau termasuk orang yang berhasil dan lulus dengan, izin Allah subhanahu wa ta’ala. Empat pilar ini telah dirangkum oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab suci-Nya dalam satu surat, yaitu surat al-‘Ashr.

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Zadul Ma’ad (4/38), menyebutkan, “Berjuang ada empat tingkatan: (1) berjuang melawan diri sendiri, (2) berjuang melawan setan, (3) berjuang melawan orang kafir, dan (4) berjuang melawan kaum munafik.” Adapun berjuang melawan diri sendiri ada empat tingkatan pula.

 

  1. Berjuang agar dirinya mau belajar petunjuk dan agama yang benar.

Tidak ada kemenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat selain dengannya. Jika ini luput darinya, dia akan celaka di dua negeri tersebut.

 

  1. Berjuang agar dirinya tunduk beramal setelah mengetahui ilmu.

Sebab, sebatas berilmu tanpa amal, jika tidak mendatangkan mudarat, minimalnya akan menjadi tidak berguna.

 

3 . Berjuang agar dirinya mendakwahkan ilmu tersebut dan mengajari orang yang tidak mengetahuinya.

Jika dia tidak melakukannya, niscaya dia tergolong orang yang menyembunyikan petunjuk dan keterangan yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Berjuang agar dirinya bersabar menanggung beban ketika berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bersabar dari gangguan manusia serta menanggung semuanya karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Apabila telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, dia tergolong rabbaniyyin. Telah ijma’ (sepakat) ulama salaf umat ini bahwa seorang alim tidak dikatakan sebagai rabbani sampai dia mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Barang siapa mengilmui kebenaran, mengamalkan, dan mengajarkannya, dia dipuji dalam kehidupan penduduk langit.

Anakku…

Engkau hidup di dunia ini akan berhadapan dengan kenyataan yang pahit dan manis, yang kamu sukai dan kamu benci. Jadilah engkau orang yang memiliki hati dan dada yang lapang untuk menerimanya. Ketentuan yang engkau akan hadapi itu adalah pasti dan tidak akan berubah dan tersalah. Sebab, semua itu telah ada dalam suratan takdirmu sejak 50 ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi.

Anakku…

Di sinilah engkau membutuhkan fondasi hidup yang kokoh dan kuat sehingga tidak bimbang dan goyah saat berhadapan dengan kenyataan pahit yang dibenci. Fondasi hidup itu adalah akidah yang kokoh dan kuat.

Bagaimanapun badai ujian mengempas, duri-duri hidup menusuk, kerikil-kerikil tajam merintangi; apabila memiliki fondasi hidup yang kuat, engkau bagaikan karang di laut, tidak akan goyah dengan ombak yang besar. Engkau bagaikan gunung yang tinggi menjulang yang tidak akan oleng oleh badai topan. Engkau bergembira saat orang-orang dirundung kesedihan. Engkau tenang dan tenteram saat kebanyakan orang gundah gulana. Engkau selalu tersenyum saat orang banyak dirundung kesedihan dan meneteskan air mata. Engkau pun tegar dan tabah ketika kebanyakan orang dihantui ketakutan.

Anakku…

Pentingnya membangun hidup di atas fondasi akidah ini tecermin dalam beberapa nuansa sejarah yang besar.

 

Pengutusan Para Nabi dan Rasul

Saat dunia ini berada dalam krisis kerusakan dan kehancuran, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para nabi dan rasul untuk menjawab segala kerusakan tersebut dan melakukan perombakan dan perbaikan. Tugas besar disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang bertugas) menyerukan mereka agar beribadah kepada Allah dan menjauhi segala sesembahan selain Allah.” (an-Nahl: 36)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa agama para rasul adalah satu, tugas yang mereka emban pun sama. Tugas mereka yang besar tersebut adalah mengajak umat untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.

Jika ada yang lebih penting dari persoalan tauhid dan akidah, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya mandat pertama dan utama kepada para rasul yang diutus. Saat kita tidak menemukan hal itu, berarti masalah tauhid dan akidah menjadi persoalan yang inti dan fundamental.

Kejahatan besar dalam hidup ini adalah saat sebagian kaum muslimin menganggap persoalan akidah dan tauhid sebagai qusyur (kulit agama); meremehkan dan mengentengkan permasalahannya. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya menjadikannya perkara yang sangat besar dalam agama.

Sungguh, betapa jahat ucapan ini dan betapa jelek sikap tersebut. Ucapan yang akan menyebabkan seseorang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Lantunan Doa Nabi Ibrahim

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ٣٥

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, ‘Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini adalah negeri yang aman, dan jauhkanlah diriku serta anak keturunanku dari menyembah patung-patung’.” (Ibrahim: 35)

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam adalah bapak orang-orang yang bertauhid. Semua kehidupan beliau digunakan untuk berdakwah kepada tauhidullah.

Beliau harus berhadapan dengan bapak yang kufur dan ingkar kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau juga menghadapi penguasa yang menobatkan dirinya menjadi tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Amanat yang besar dan tugas yang berisiko tinggi beliau hadapi dengan penuh keberanian dan ketegaran, ketabahan, dan kesabaran. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan beliau sebagai qudwah hasanah dalam kehidupan manusia.

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya Kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara Kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibrahim adalah imam sebagaimana dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al-Baqarah (Sesungguhnya Aku menjadikanmu pemimpin atas manusia). Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nubuwwah, menurunkan kitab-kitab, dan risalah pada anak keturunan beliau. Mereka semua dari keluarga beliau, yaitu keluarga yang telah diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.” (Amradhul Qulub, hlm. 61)

Kendati demikian. beliau tetap mendoakan anak keturunannya agar terpelihara dan terlindungi dari perbuatan menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Wasiat Luqman Al-Hakim kepada Anaknya

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

“Dan ingatlah tatkala Luqman berkata kepada anaknya dan dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, jangan kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah itu adalah kezaliman yang besar’.” (Luqman: 13)

 

Warisan Ya’qub kepada Putra-Putranya

أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٣

“Apakah kalian menyaksikan saat kematian mendatangi Ya’qub, saat dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’

Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Ilahmu dan Ilah bapak-bapakmu, yaitu Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Ilah yang satu, dan kami kepada-Nya berserah diri.” (al-Baqarah: 133)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Saat orang-orang Yahudi mengaku berada di atas agama Nabi Ibrahim dan Ya’qub, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengingkari mereka, ‘Apakah kalian menghadiri saat tanda-tanda kematian datang kepada Nabi Ya’qub ‘alaihissallam, ketika itu beliau menguji anak-anaknya agar menyejukkan matanya saat masih hidup dalam melaksanakan wasiat-wasiatnya.’

Mereka memberikan jawaban yang menyejukkan mata beliau yaitu, ‘Menyembah kepada Ilahmu dan Ilah bapakmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Ilah yang satu, kami tidak menyekutukan- Nya dan tidak meninggalkan-Nya.’

Mereka menghimpun antara tauhid dan amal.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 49)

 

Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ يَوْمًا فَقَالَيَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظْ اللهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ؛ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ؛ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْكَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ؛ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ.

Suatu hari saat saya berada di belakang Rasulullah, beliau berkata, “Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. (Yaitu) jagalah Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu. Jagalah Allah, subhanahu wa ta’ala niscaya kamu akan menjumpai-Nya di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kamu meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah, jika umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untukmu. Jika mereka bersatu untuk memudaratkanmu, mereka tidak akan mampu kecuali apa yang telah ditulis oleh Allah subhanahu wa ta’ala atasmu. Telah terangkat pena dan telah kering lembaran.” (HR. at-Tirmidzi no. 2440)

Pendidikan yang agung nan mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dan sahabat yang lain serta umatnya. Ini adalah penanaman fondasi hidup yang agung dan mulia pada diri Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma yang akan menjadi cikal bakal imam dalam agama setelah itu.

Ada beberapa pelajaran berharga buat kita melalui pendidikan nabawi yang langsung dilakoni oleh imam para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Pelajaran pertama

احْفَظْ اللهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu, dan jagalah Allah subhanahu wa ta’ala niscaya kamu akan menemukannya di depanmu.”

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Jagalah perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengerjakannya dan tinggalkan segala larangan-larangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu dalam semua keadaan dan menjagamu di dunia dan di akhirat.”

Ibnu Daqiq al-‘Id rahimahullah berkata, “Jadilah kamu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Jagalah hukum-hukum dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaga agamamu, keluargamu, hartamu, dan dirimu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaga orang yang berbuat baik dengan sebab kebaikannya. Dari sini diketahui bahwa siapa saja yang tidak menjaga Allah subhanahu wa ta’ala, dia tidak berhak mendapatkan pemeliharaan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Di sini juga terdapat dorongan untuk menjaga hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala. (Syarah Arbain Nawawiyah, Majmu’ah Ulamahlm. 224)

Tentu saja ini adalah nasihat besar bagi kita sebagai orang tua dan bagi para pendidik anak kaum muslimin, agar kita melindungi putra, putri, serta anak didik kita untuk tidak melanggar hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala sekecil apa pun. Jangan meremehkan dosa dan pelanggaran tersebut. Jangan suka memberi atau membuat-buat alasan untuk mereka. Misalnya, anak masih kecil dan belum dikenai dosa, anak tidak boleh dipaksa dan terlalu ditekan, atau alasan-alasan yang lain.

Saudaraku, dosa adalah masalah besar, kita tidak boleh berkompromi dengannya. Kita wajib melakukan pengingkaran terhadap dosa siapa pun yang mengerjakannya dan bagaimana pun bentuk dosa tersebut, besar atau kecil.

 

Pelajaran kedua

 إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala; dan apabila kamu minta tolong, minta tolonglah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa manusia selalu memiliki berbagai kebutuhan dalam hidupnya di dunia. Di sinilah letak pendidikan akidah, yaitu menggantungkan tawakal kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, dalam urusan kecil dan yang besar, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang akan memberikan kecukupan kepadanya.” (ath-Thalaq: 3)

Apabila seseorang cenderung kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala ketika membutuhkan sesuatu walaupun kecenderungan itu hanya dalam hati dan angan-angannya, seukuran itu pula dia berpaling dari Rabbnya kepada makhluk yang tidak mampu memberi mudharat dan manfaat.

Apabila engkau menginginkan bantuan, janganlah kamu memintanya kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, di Tangan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Dialah yang menolongmu apabila Dia menghendaki. Apabila engkau mengikhlaskan diri dalam meminta pertolongan kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya, niscaya Dia akan menolongmu. Apabila engkau meminta pertolongan kepada makhluk dan dia mampu, yakinilah bahwa itu semua sebagai sebab, dan Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang telah menundukkannya untukmu. (Syarah Arbain Nawawiyah, Majmu’ah Ulamahlm. 225)

 

Pelajaran ketiga

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

“Ketahuilah jika umat ini bersatu atau sepakat untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup memberikan manfaat kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah untukmu. Apabila mereka bersepakat untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak sanggup melakukannya kecuali apa yang telah ditentukan oleh Allah atasmu.

Dari sini kita ketahui bahwa manfaat yang kita rasakan dari uluran tangan makhluk sesungguhnya bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Dialah yang telah menentukan hal itu untukmu. Selain itu, kita dianjurkan menyandarkan semua urusan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita tahu bahwa manusia tidak akan bisa memberikan satu kebaikan kecuali dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula, apabila engkau mendapatkan suatu bahaya dari seseorang, sadarilah bahwa itu adalah sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atasmu. Oleh karena itu, hendaknya engkau ridha dengan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala dan keputusan-Nya.

Tidak mengapa pula engkau menolak sesuatu yang membahayakanmu, karena Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan,

“Imbalan kejelakan itu adalah kejelekan yang serupa.” (Syarah Arbain Nawawiyyah, Majmu’ah Ulama, hlm. 228)

 

Pelajaran keempat

رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Telah terangkat pena dan dan telah kering lembaran-lembaran.

Segala ketentuan dalam hidup ini sudah terangkum dalam catatan takdir dan telah selesai ditulis. Lembaran catatan sudah mengering dan tidak akan ada lagi perubahan dan kesalahan setelahnya. Semuanya berjalan di atas kepastian dan apa yang telah dicatat.

Beruntunglah orang-orang yang beriman dengan takdir sebagai rukun iman yang keenam. Merugilah orang-orang yang menentangnya dan tidak memercayainya.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

sumber: http://asysyariah.com/anakku-kokohkan-fondasi-hidupmu/

Tawakal yang Sebenarnya

Sebagian orang menganggap bahwa tawakal adalah sikap pasrah tanpa melakukan usaha sama sekali. Contohnya dapat kita lihat pada sebagian pelajar yang keesokan harinya akan melaksanakan ujian. Pada malam harinya, sebagian dari mereka tidak sibuk untuk menyiapkan diri untuk menghadapi ujian besok namun malah sibuk dengan main game atau hal yang tidak bermanfaat lainnya. Lalu mereka mengatakan, “Saya pasrah saja, paling besok ada keajaiban.”

Apakah semacam ini benar-benar disebut tawakal?! Semoga pembahasan kali ini dapat menjelaskan pada pembaca sekalian mengenai tawakal yang sebenarnya dan apa saja faedah dari tawakal tersebut.

Tawakal yang Sebenarnya

Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam tatkala menjelaskan hadits no. 49 mengatakan, “Tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.”

Tawakal Bukan Hanya Pasrah

Perlu diketahui bahwa tawakal bukanlah hanya sikap bersandarnya hati kepada Allah semata, namun juga disertai dengan melakukan usaha.

Ibnu Rajab mengatakan bahwa menjalankan tawakal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Oleh karena itu, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada.” (QS. An Nisa [4]: 71). Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al Anfaal [8]: 60). Juga firman-Nya (yang artinya), “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” (QS. Al Jumu’ah [62]: 10). Dalam ayat-ayat ini terlihat bahwa kita juga diperintahkan untuk melakukan usaha.

Sahl At Tusturi mengatakan, “Barang siapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan -pen). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau bersandar pada Allah, pen) maka dia telah meninggalkan keimanan. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam)

Burung Saja Melakukan Usaha untuk Bisa Kenyang

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu mengatakan, “Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rezekiku datang kepadaku.” Lalu Imam Ahmad mengatakan, “Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (sebagaimana hadits Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (Lihat Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69, Maktabah Syamilah)

Al Munawi juga mengatakan, “Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rezeki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Maktabah Syamilah)

Tawakal yang Termasuk Syirik

Setelah kita mengetahui pentingnya melakukan usaha, hendaknya setiap hamba tidak bergantung pada sebab yang telah dilakukan. Karena yang dapat mendatangkan rezeki, mendatangkan manfaat dan menolak bahaya bukanlah sebab tersebut tetapi Allah ta’ala semata.

Imam Ahmad mengatakan bahwa tawakal adalah amalan hati yaitu ibadah hati semata (Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 2/96). Sedangkan setiap ibadah wajib ditujukan kepada Allah semata. Barang siapa yang menujukan satu ibadah saja kepada selain Allah maka berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan. Begitu juga apabila seseorang bertawakal dengan menyandarkan hati kepada selain Allah -yaitu sebab yang dilakukan-, maka hal ini juga termasuk kesyirikan.

Tawakal semacam ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam), apabila dia bertawakal (bersandar) pada makhluk pada suatu perkara yang tidak mampu untuk melakukannya kecuali Allah ta’ala. Seperti bersandar pada makhluk agar dosa-dosanya diampuni, atau untuk memperoleh kebaikan di akhirat, atau untuk segera memperoleh anak sebagaimana yang dilakukan oleh para penyembah kubur dan wali. Mereka menyandarkan hal semacam ini dengan hati mereka, padahal tidak ada siapapun yang mampu mengabulkan hajat mereka kecuali Allah ta’ala. Apa yang mereka lakukan termasuk tawakal kepada selain Allah dalam hal yang tidak ada seorang makhluk pun memenuhinya. Perbuatan semacam ini termasuk syirik akbar. Na’udzu billah min dzalik.

Sedangkan apabila seseorang bersandar pada sebab yang sudah ditakdirkan (ditentukan) oleh Allah, namun dia menganggap bahwa sebab itu bukan hanya sekedar sebab (lebih dari sebab semata), seperti seseorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya atau masalah rezekinya, semacam ini termasuk syirik ashgor (syirik kecil) karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut.

Tetapi apabila dia bersandar pada sebab dan dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata sedangkan Allah-lah yang menakdirkan dan menentukan hasilnya, hal ini tidaklah mengapa. (Lihat At Tamhiid lisyarhi Kitabit Tauhid, 375-376; Syarh Tsalatsatil Ushul, 38; Al Qoulul Mufid, 2/29)

Penutup

Ingatlah bahwa tawakal bukan hanya untuk meraih kepentingan dunia saja. Tawakal bukan hanya untuk meraih manfaat duniawi atau menolak bahaya dalam urusan dunia. Namun hendaknya seseorang juga bertawakal dalam urusan akhiratnya, untuk meraih apa yang Allah ridhai dan cintai. Maka hendaknya seseorang juga bertawakal agar bagaimana bisa teguh dalam keimanan, dalam dakwah, dan jihad fii sabilillah. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa’id mengatakan bahwa tawakal yang paling agung adalah tawakal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid dan tetap teguh dalam mencontoh/mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berjihad melawan ahli bathil (pejuang kebatilan). Dan beliau rahimahullah mengatakan bahwa inilah tawakal para rasul dan pengikut rasul yang utama.

Kami tutup pembahasan kali ini dengan menyampaikan salah satu faedah tawakal. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3). Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan, “Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini kepada Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Seandainya semua manusia mengambil nasihat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka.” Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Jami’ul Ulum wal Hikam, penjelasan hadits no. 49). Hanya Allah-lah yang mencukupi segala urusan kami, tidak ada ilah yang berhak disembah dengan hak kecuali Dia. Kepada Allah-lah kami bertawakal dan Dia-lah Rabb ‘Arsy yang agung.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar

sumber: https://muslim.or.id/506-tawakal-yang-sebenarnya.html