Tauhid Kunci Ampunan

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa-dosa lain di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ اَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايًا، ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لَاتُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Ad-Da’awat [3540], dihasankan olehnya dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).

Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa. Dalam hal ini terdapat perincian sebagai berikut:

  • Orang yang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar atau tidak bertaubat darinya, maka dia pasti masuk neraka.
  • Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih terkotori dengan syirik kecil, sementara kebaikan-kebaikannya ternyata lebih berat daripada timbangan keburukannya maka dia pasti masuk surga.
  • Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih memiliki syirik kecil sedangkan keburukan atau dosanya justru lebih berat dalam timbangan, maka orang itu berhak masuk neraka namun tidak kekal disana. (lihat Al-Jadid fi Syarh Kitab At-Tauhid, hal. 44)

**

Disalin dari buku “Tauhid: Kunci Kebahagiaan yang Terlupa”, Abu Mushlih Ari Wahyudi, hlm. 12-13, Pustaka Muslim, Yogyakarta.

Dipublikasikan ulang dengan beberapa penambahan oleh Muslimah.Or.Id

sumber: https://muslimah.or.id/7610-tauhid-kunci-ampunan.html

[Belajar Tauhid] 55. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 2

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari:

Mengakui wujud (keberadaan) Rabb (bagi seluruh alam semesta) merupakan fenomena umum pada anak manusia, dan merupakan konsekuensi fitrah mereka. Akan tetapi sekedar meyakini sifat-sifat rububiyah bagi Allâh -‘Azza wa Jalla- seperti menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, dan yang lainnya tidaklah otomatis memasukkan seseorang kedalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran. Karena Iblis, Fir’aun dan orang-orang musyrik yang dahulu diperangi oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- juga mengakui ke-ESAAN-an Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam sifat-sifat rububiyah-Nya.

Selanjutnya kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 2. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

“ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Apakah Anda Termasuk Sebaik-baik Manusia?

Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta’ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.

Pertama, tidak ingkar melunasi hutang

 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أنه فَقَالَ « خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً » متفق عليه

Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” Muttafaqun ‘alaih

Kedua, belajar Al-Quran dan mengajarkannya

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” Hadits riwayat Bukhari.

Ketiga, yang paling diharapkan kebaikannya dan paling jauh keburukannya

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ « خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ …» رواه الترمذى

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan beberapa orang, lalu bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?” Mereka terdiam, dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali, lalu ada seorang yang berkata: “Iya, kami mau wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami,” beliau bersabda: “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan sedangkan keburukannya terjaga…” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 2603)

Keempat, menjadi suami yang paling baik terhadap keluarganya

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285).

Kelima, yang paling baik akhlaqnya dan menuntut ilmu

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا» رواه أحمد

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu.” Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3312)

Keenam, yang memberikan makanan

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ» رواه أحمد

Artinya: “Hamzah bin Shuhaib meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.” Hadits riwayat Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3318)

Ketujuh, yang panjang umur dan baik perbuatannya

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى

Artinya: “Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” beliau menjawab: “Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 3363).

Kedelapan, yang paling bermanfaat bagi manusia

عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289).

*) Ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zain, Islamic Cultural Center 1430 H, Dammam KSA

Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc

Artikel www.muslim.or.id
sumber: https://muslim.or.id/8144-apakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html

Seorang Muslim Hendaknya Memiliki Perhatian Terhadap Islam dan Kaum Muslimin

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:

Apakah benar terdapat hadits dalam masalah perhatian terhadap urusan kaum muslimin, karena banyak dari para penceramah menyebutkan hadits,

من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم

“Siapa saja yang tidak perhatian terhadap urusan kaum muslimin, maka tidak termasuk bagian dari mereka.” (Hadits ini dinilai dha’if oleh Al-Albani dalam Silisilah Al-Ahaadits Adh-Dha’ifah, 1: 309-312)

Jawaban:

Hadits ini adalah hadits yang masyhur (terkenal} di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi aku tidak mengetahui apakah lafadz hadits tersebut shahih ataukah tidak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Akan tetapi, makna hadits tersebut shahih. Karena seorang muslim yang tidak memiliki perhatian (cuek) terhadap urusan kaum muslimin, pada hakikatnya dia memiliki kekurangan dalam Islamnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang shahih,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585)

Hadits-hadits tersebut dan yang semisal, itu semakna dengan perkataan yang masyhur tersebut. Yang tidak aku ingat sekarang adalah apakah ungkapan tersebut berasal dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah dari perkataan para ulama.

[Selesai]

***

@Rumah Lendah, 1 Syawal 1441/ 24 Mei 2020

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 61, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.

sumber: https://muslim.or.id/57064-memiliki-perhatian-terhadap-islam-dan-kaum-muslimin.html

Apakah Orang Yang Baru Masuk Islam Langsung Diajarkan Tentang Hukum-hukum?

Pertanyaan

Seorang muallaf yang baru masuk Islam, apakah langsung diajarkan kepadanya tentang syari’at Islam dan hukum-hukumnya?, atau dengan cara bertahap ?, apakah dimulai dengan dasar-dasar keyakinan atau dari dasar-dasar hukum-hukum syar’i yang wajib dan yang haram ? 

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Yang menjadi pertimbangan dari pertanyaan di atas adalah pengiriman para juru dakwah yang menyeru kepada Islam oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengutus para juru dakwah yang menyeru kepada Islam dan beliu menyuruh memulai dengan ajaran tauhid kepada Allah, lalu shalat, zakat, puasa dan haji pada saat sudah tiba waktunya. Beliau telah mengutus Mu’adz ke Yaman dan menyuruhnya untuk mengajak mereka pertama kali untuk mentauhidkan Allah -‘azza wa jalla-, jika mereka telah melaksanakannya, maka ajaklah mereka untuk mendirikan shalat, jika mereka sudah menjalankannya maka ajaklah mereka untuk membayar zakat, beliau tidak menyebutkan tentang puasa dan haji; karena -diutusnya Mu’adz –radhiyallahu ‘anhu—tidak pada saat diwajibkan kedua ibadah tersebut, Mu’adz diutus pada bulan Rabi’ul Awal tahun 10 H., sementara haji selang beberapa waktu setelahnya, demikian juga dengan puasa, maka di antara hikmah yang bisa diambil dari beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak memberatkan para mad’u dengan syariat Islam secara keseluruhan, inilah bentuk hikmah yang tertera di dalam firman Allah –ta’ala-:

 ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ 

 النحل/125 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah..”. (QS. An Nahl: 125)

Apakah setelah ia masuk Islam, langsung dimulai pembelajaran tentang hukum-hukum cabang seperti; hukumnya jenggot, isbal (memanjangkan celana) dan lain-lain ?

Hal ini bertumpu pada hal sebelumnya bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka pertama kali dimulai dengan dasar-dasar Islam, sampai jika Islam sudah bersemayam di dalam jiwanya, hatinya menjadi tenang dengannya, pada saat itulah kita sampaikan kepadanya dengan hal yang paling penting terlebih dahulu, hal ini merupakan sunnatullah yang syar’i dan yang kauni, coba anda lihat janin bagaimana awal terbentuknya dengan cara sedikit demi sedikit, demikian juga 4 musim yang ada di dunia ini juga dengan cara sedikit demi sedikit, terbit dan terbenamnya matahari juga demikian. Kalu saja kami berpendapat untuk melaksanakan semua syari’at secara keseluruhan atau mengajarkan kepadanya semua syari’at maka membutuhkan waktu yang lama, dan bisa jadi justru hal ini akan menyebabkannya menjauh dari agama Islam lagi”.

(Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah-, Al Ijabaat ‘ala As’ilatil Jaaliyaat: 1/27-30)

sumber: https://islamqa.info/id/answers/109201/apakah-orang-yang-baru-masuk-islam-langsung-diajarkan-tentang-hukum-hukum

Berani Mengakui Kesalahan dan Kembali Kepada Kebenaran

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٨٣

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash: 83) 

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata di dalam tafsirnya, “Negeri akhirat itu, telah dikabarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kitab-kitab-Nya dan dikabarkan pula oleh para rasul-Nya. Surga adalah tempat tinggal yang di dalamnya terkumpul segala kenikmatan serta bebas dari segala kekotoran dan kesusahan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mempersiapkan surga tersebut bagi hamba-hamba-Nya yang tidak menginginkan kesombongan dan kerusakan di muka bumi, terlebih lagi melakukannya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “dan (tidak pula) berbuat kerusakan” mencakup seluruh kemaksiatan.

Apabila mereka tidak memiliki keinginan untuk sombong dan melakukan kerusakan di muka bumi, konsekuensinya adalah keinginan mereka diserahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tujuan mereka adalah negeri akhirat. Keadaan mereka adalah tawadhu (merendahkan diri) terhadap hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala, tunduk terhadap kebenaran, dan beramal saleh.”

Dari penjelasan asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah tersebut kita mendapatkan kesimpulan bahwa tawadhu itu ada dua macam: tawadhu (tunduk) terhadap kebenaran dan tawadhu (merendahkan diri) terhadap hamba-hamba-Nya.

Tawadhu terhadap Kebenaran

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للهِ إَلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang tawadhu (tunduk) kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kecuali Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakannya.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “(Makna tawadhu) adalah engkau tunduk terhadap kebenaran dan menaatinya, dari siapa pun kebenaran itu engkau dapatkan. Walaupun kebenaran itu dari orang yang paling bodoh sekalipun, kamu harus menerimanya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hlm. 226)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Apabila seseorang menghadapi kebenaran dengan tunduk, taat, merendahkan diri, dan masuk di bawah perbudakannya, kebenaran itulah yang senantiasa menjadi pengaturnya, sebagaimana tuan mengatur budaknya. Hamba yang seperti inilah yang akan mendapatkan akhlak tawadhu.” (Madarijus Salikin, 2/346)

Tawadhu (Merendahkan Diri) terhadap Hamba-Hamba-Nya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu sehingga seseorang tidak merasa lebih mulia daripada yang lainnya dan tidak berbuat zalim terhadap orang lain.” (HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar radhiallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata, “Seseorang tidak boleh merasa lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang lainnya dalam hal ilmu, nasab, harta, kepemimpinan, dan sebagainya. Bahkan, seorang muslim wajib merendahkan diri terhadap saudara-saudaranya yang mukmin, sebagaimana akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sosok yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 2/257)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Di antara kebiasaan baik yang dimiliki oleh as-salafush shalih rahimahumullah adalah menganggap orang yang lebih muda sebagai anak, yang lebih tua sebagai ayah, dan yang sebaya dengannya sebagai saudara dekat. Mereka melihat orang yang lebih tua dengan pandangan penghormatan dan pemuliaan, serta melihat orang yang lebih muda dengan pandangan kasih sayang.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 2/261—262)

Di antara penghalang terbesar yang menghalangi seseorang untuk bersikap tawadhu adalah sebagai berikut.

  1. Kesombongan

Inilah sifat Iblis–laknat Allah subhanahu wa ta’ala atasnya–yang menyeretnya untuk durhaka kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ قَالَ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ١٢

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (al-A’raf: 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Orang yang sombong menganggap dirinya lebih tinggi dan lebih mulia daripada orang lain. Akibatnya, dia merasa lebih senang, bangga, dan cenderung kepada pendapat yang dia yakini.” (at-Tabashshurah, 2/222)

Adapun pengikut kebenaran, mereka tawadhu dan curiga, jangan-jangan kesalahan itu ada pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, mereka gigih mencari kebenaran dan tidak enggan meneliti ulang pendapat-pendapatnya, terlebih lagi pada permasalahan yang rumit. (ash-Shawarif ‘anil Haq, hlm. 39)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Kalau saja ahli bid’ah itu tawadhu terhadap Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh mereka akan mengikuti keduanya dan tidak akan mengadaadakan bid’ah. Akan tetapi, mereka merasa bangga dengan pendapat mereka sehingga justru mengikuti perkara yang diada-adakan.” (at-Tadzkirah fil Wa’zhi, hlm. 97)

  1. Kedengkian

Kedengkian[1] (hasad) merupakan perkara yang haram dan akhlak yang sangat tercela berdasarkan al-Kitab dan as-Sunnah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَدَّ كَثِيرٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَوۡ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعۡدِ إِيمَٰنِكُمۡ كُفَّارًا حَسَدٗا مِّنۡ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَٱعۡفُواْ وَٱصۡفَحُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ١٠٩

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah: 109)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلاَ تَحَاسَدُوا

“Janganlah kalian saling mendengki.”

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, engkau mendapati orang-orang Yahudi keras kepala dan terus-menerus di atas kebatilannya. Hal ini disebabkan oleh kesombongan, kedengkian, kekerasan hati, dan berbagai hawa nafsu yang ada di dalam hati mereka.” (Naqdhul Manthiq, hlm. 27)

Al-‘Allamah al-Mu’allimi rahimahullah berkata, “(Jika) kedengkian itu (ada di dalam hati seseorang), akibatnya apabila ada orang lain yang menjelaskan kebenaran, dia akan berpandangan bahwa dengan menerimanya berarti dia mengakui keutamaan, keilmuan, dan kebenaran orang tersebut, sehingga orang tersebut mulia di mata manusia dan bisa jadi orang yang mengikutinya akan bertambah banyak. Sungguh engkau akan mendapati kebanyakan orang yang berambisi untuk menyalahkan pendapat orang lain dari kalangan ulama walaupun dengan cara yang batil, adalah karena kedengkiannya terhadap mereka dan upayanya menjatuhkan kedudukan mereka di mata umat manusia.” (at-Tankil, 2/195)

  1. Membanggakan diri (ujub)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ٨٣

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keteranganketerangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (Ghafir: 83)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ هَوًى مُتَّبَعًا وَشُحًّا مُطَاعًا وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ، فَعَلَيْكَ بِخَاصَّة ِنَفْسِكَ

“Apabila kamu melihat hawa nafsu diikuti, kerakusan ditaati, dan setiap orang yang memiliki pendapat merasa bangga dengan pendapatnya, wajib bagimu memerhatikan keselamatan dirimu.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Abu Tsa’labah radhiallahu ‘anhu)

Hammad bin Ibrahim hafizhahullah berkata, “Sifat bangga diri akan membawa pemiliknya mengagungkan dirinya. Dia merasa sangat senang dengan apa saja yang dirinya berada di atasnya dan puas dengan apa yang dia miliki. Dia pun berpandangan bahwa kebenaran hanya akan muncul dari dirinya, seakanakan dialah penanggungjawabnya. Inilah sifat orang-orang kafir (sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas). Apabila seseorang telah bangga dengan dirinya dan puas dengan apa yang dia miliki, sungguh telah sempurna kerugian yang ada pada dirinya. Hal itu karena tidak mungkin dia mau melihat pendapat orang lain, lebih-lebih menerimanya, walaupun pendapat tersebut benar.” (ash-Shawarif, hlm. 95)

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Tidakkah kamu melihat bahwa orang yang mengagungkan dirinya dengan cara yang batil itu akan senantiasa membela seluruh pendapatnya, walaupun pendapatnya salah?” (Majmu’ al-Fatawa, 10/292)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Membanggakan diri termasuk perbuatan mempersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan dirinya. Inilah keadaan orang yang sombong. Orang yang beramal karena riya (ingin mendapatkan pujian) tidak mengamalkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (hanya kepada-Mulah kami menyembah). Adapun orang yang membanggakan dirinya tidak mengamalkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (hanya kepada-Mulah kami memintapertolongan).” (al-Fatawa al-Kubra, 5/247—248)

  1. Taklid

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِذۡ تَبَرَّأَ ٱلَّذِينَ ٱتُّبِعُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَ وَتَقَطَّعَتۡ بِهِمُ ٱلۡأَسۡبَابُ ١٦٦ وَقَالَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ لَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ فَنَتَبَرَّأَ مِنۡهُمۡ كَمَا تَبَرَّءُواْ مِنَّاۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡۖ وَمَا هُم بِخَٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ ١٦٧

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. 

Dan orang-orang yang mengikuti berkata, “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka, amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (al-Baqarah: 166—167)

Orang yang taklid akan memegangi pendapat seorang alim secara mutlak dalam segala hal. Dengan bersikap seperti ini, tidak diragukan lagi bahwa tanpa dia sadari, dia telah memberikan derajat ma’shum (terjaga dari kesalahan) kepada orang alim tersebut. Tidak ada seorang pun yang pendapatnya benar secara mutlak melainkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga kebenaran berkisar bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Pahala tergantung pada apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertolongan akan didapatkan oleh orang yang menolong beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebahagiaan akan diraih oleh orang yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga shalawat Allah subhanahu wa ta’ala dan para malaikat-Nya terlimpahkan kepada orang-orang yang beriman kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam serta yang mengajarkan agamanya kepada umat manusia, karena kebenaran itu berkisar pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (MinhajusSunnah, 5/233)

Abu Muhammad Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Orang yang taklid akan ridha ditipu oleh akalnya.” (Mudawatun Nufus, hlm. 74)

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Sesungguhnya taklid itu tidak mewariskan apa-apa selain kebodohan.” (MinhajusSunnah, 5/281)

Benarlah ucapan beliau berdua rahimahumallah, tidak ada keraguan tentangnya. Puncak tujuan orang yang taklid adalah menyenangkan atau menghibur orang alim. Oleh karena itu, dia mengambil pendapatnya dalam keadaan tidak mengetahui dalilnya, tidak mengetahui apakah pendapat tersebut memiliki dalil yang sahih, dan tidak mengetahui apakah dalil tersebut tepat pada tempatnya. Dia juga tidak mengetahui hakikat pendapat yang menyelisihinya, tidak mengetahui masalah-masalah yang diperselisihkan, terlebih lagi pendapat yang benar. Thariqah (metode) ini akan mewariskan kebodohan dan kejumudan dalam berpikir bagi pemiliknya. (ash-Shawarif ‘anil Haq, hlm. 30—31)

Abdul Qadir bin Badran rahimahullah berkata, “Taklid akan menjauhkan seseorang dari kebenaran dan melariskan kebatilan.” (al-Madkhal ila Madzhabil Imam Ahmad, hlm. 495)

Al-’Allamah al-Mu’allimi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, Allah subhanahu wa ta’ala kadang-kadang menjatuhkan sebagian orang-orang ikhlas dalam suatu kesalahan sebagai ujian dan cobaan bagi yang lain, apakah mereka akan mengikuti kebenaran dan meninggalkan pendapatnya yang salah, ataukah mereka justru tertipu dengan keutamaan dan kemuliaannya.

Orang yang ikhlas ini tentunya dimaafkan atas kesalahannya, bahkan mendapat pahala disebabkan oleh ijtihad dan niatnya. Akan tetapi, barangsiapa yang mengikutinya dalam keadaan tertipu oleh keagungannya tanpa memerhatikan dalil-dalil yang hakiki dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia tidak dimaafkan. Bahkan, dia berada di atas bahaya yang besar.

Ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha pergi ke Bashrah sebelum terjadinya Perang Jamal, Amirul Mukminin Ali radhiallahu ‘anhu memerintahkan kepada anaknya, al-Hasan, dan ‘Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhumaagar mengikutinya, supaya mereka berdua menasihati umat manusia. Di antara nasihat Ammar radhiallahu ‘anhuterhadap penduduk Bashrah adalah, “Demi Allah, sesungguhnya Aisyah radhiallahu ‘anha adalah istri Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat. Akan tetapi, kalian diuji dengannya supaya diketahui apakah kalian menaati-Nya atau menaati Aisyah radhiallahu ‘anha.” (Raf’ul Isytibah, hlm. 152—153)

Faedah

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Perbedaan antara taklid terhadap orang yang alim dalam seluruh pendapatnya dan menjadikan pemahaman orang tersebut sebagai alat bantu untuk memahami agama ialah bahwa orang yang taklid mengambil pendapat orang yang alim tanpa memerhatikan dalil al-Kitab dan as-Sunnah, sedangkan yang kedua kedudukannya seperti penunjuk jalan. Penunjuk jalan yang mahir bagi seseorang yang dalam perjalanan seperti pembimbing yang mengantarkan kepada dalil.” (Irsyadun Nuqqad, hlm. 105)

  1. Ambisi terhadap kedudukan dan kepemimpinan

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata, “Tidak akan berbahagia orang yang dari dirinya tercium bau ambisi kepemimpinan.” (as-Siyar, 13/15)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Hati-hatilah kalian dari syahwat yang tersembunyi!” Beliau ditanya, “Apakah syahwat yang tersembunyi itu?” Beliau menjawab, “Ambisi terhadap kepemimpinan.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Orang yang berambisi terhadap kepemimpinan, walaupun dengan cara yang batil, akan ridha dengan ucapan-ucapan yang mengagungkannya meskipun batil. Dia akan marah karena ucapan-ucapan yang mencela ataupun mengkritiknya meskipun ucapan itu benar. Adapun orang yang beriman akan ridha dengan ucapan-ucapan yang benar, baik menguntungkan maupun merugikannya, karena Allah subhanahu wa ta’ala mencintai kebenaran, kejujuran, dan keadilan, serta membenci kedustaan dan kezaliman.” (Majmu’ al-Fatawa, 10/600)

Cara yang benar untuk mendapatkan kepemimpinan dalam agama adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ٢٤

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah: 24)

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Dengan kesabaran dan keyakinan akan didapatkan kepemimpinan dalam agama.”

  1. Fanatisme golongan (hizbiyyah)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata, “Para penuntut ilmu harus membersihkan diri dari penyakit fanatisme kelompok atau golongan, yaitu mencanangkan prinsip loyalitas dan kebencian/permusuhan berdasarkan kelompok atau golongan tertentu. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi manhaj salaf. As-Salafus Shalih tidak bergolong-golongan, bahkan mereka hanya satu golongan. Mereka bersatu di bawah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ مِن قَبۡلُ

“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu.” (al-Hajj: 78)

Tidak ada fanatisme golongan, loyalitas, dan permusuhan ataupun kebencian, melainkan sesuai dengan apa yang datang di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Kitabul ‘Ilmi, hlm. 81)

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Fanatisme merupakan musibah yang menimpa mayoritas orang yang menisbatkan diri kepada kelompok tertentu, baik dalam ilmu maupun agama, baik yang belajar fiqih, sufi, maupun yang lainnya. Fanatisme juga menimpa orang yang menisbatkan diri kepada pemimpin yang diagungkan di kalangan mereka dalam urusan agama selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain tidak mau menerima ilmu agama, baik pendapat maupun riwayat, melainkan yang datang dari kelompoknya, mereka juga tidak mengetahui hal apa saja yang diharuskan oleh kelompoknya. Padahal agama Islam ini mewajibkan untuk mengikuti kebenaran secara mutlak, baik secara pendapat maupun riwayat, tanpa menentukan orang atau golongannya selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Iqtidha’, 1/86)

Berani Mengakui Kesalahan dan Kembali kepada Kebenaran

Khalid bin Ma’dan rahimahullah berkata, “Barangsiapa mencari pujian dengan menyelisihi kebenaran, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala membalik pujian itu menjadi celaan. Namun, barangsiapa berani menghadapi cacian dalam mengikuti kebenaran, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala membalik cacian itu menjadi pujian.” (Siyar A’lamin Nubala,

Tersebut sebuah atsar dari Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu di dalam as-Sunanul Kubra karya al-Imam al-Baihaqi (10/119), bahwa beliau radhiallahu ‘anhu menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, “Janganlah keputus anmu yang sebelumnya menghalangimu untuk mengoreksinya. Setelah engkau mendapatkan petunjuk tentang pendapat yang benar dalam permasalahan tersebut, kembalilah kepada kebenaran. Kebenaran itu sebenarnya sudah terdahulu dan tidak bisa dibatalkan oleh sesuatu pun. Kembali kepada kebenaran itu lebih baik daripada bersikeras di dalam kebatilan.”

Surat yang ditulis Umar radhiallahu ‘anhu untuk Abu Musa ini telah diterima sepenuhnya oleh umat, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam I’lamul Muwaqqi’in (1/86).

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang datang kepadamu membawa kebenaran, terimalah walaupun dia orang yang jauh dan engkau benci. Barangsiapa yang datang kepadamu membawa kebatilan, tolaklah walaupun dia orang yang dekat dan engkau cintai.” (al-Kabir lith-Thabarani, 9/106)

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا تِالِّبَاعِهِ

وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا جِالْتِنَابِهِ

Ya Allah, tampakkanlah kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami rezeki untuk mengikutinya.

Tampakkanlah kebatilan itu sebagai kebatilan dan berilah kami rezeki untuk menjauhinya. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

sumber: https://asysyariah.com/berani-mengakui-kesalahan-dan-kembali-kepada-kebenaran/

[Belajar Tauhid] 54. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 1

بسم الله

Bagaimana liburannya ikhwah…? semoga cukup yaa.. nah, sebagaimana yang dijanjikan kita akan memulai babak baru dalam serial belajar tauhid ini👍

pada pelajaran sebelumnya kita telah menyelesaikan pelajaran Muqaddimah Qowaaid Al Arba’ah. bagi antum yang ingin mengunduh materi PDF-nya sebelumnya, Muqaddimah Qowaaid Al Arba’ah, ketuk disini.

Bagi antum pengguna baru, insyaallah antum dapat menyusul ketinggalan pelajaran karena seluruh pelajaran sebelumnya dapat antum akses melalui kategori Belajar Tauhid yang ada di beranda HijrahApp, jadi semangat yaa.!

langsung saja, kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 1. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

“ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berjilbab?

Mungkin aku harus kembali mengingatkanmu tentang alasan penting kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah jilbab kepada kita –kaum Hawa- dan bukan kepada kaum Adam. Saudariku, jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ‘segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian? Saudariku, izinkan aku sedikit mengingatkanmu pada firman Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,

“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)

Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Saudariku tercinta, Allah tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Allah telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. Allah menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,

“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)

Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala, selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?

selengkapnya: https://muslimah.or.id/922-saudariku-apa-yang-menghalangimu-untuk-berjilbab-1.html

Mari Berlomba Meraih Shaf Pertama

Shalat berjamaah adalah ibadah yang sangat agung. Tentunya seseorang berharap akan mendapat pahala yang maksimal dalam melaksanakan ibadah ini. Salah satu yang penting untuk diperhatikan adalah berusaha untuk berada di shaf pertama. Terdapat keutamaan tersendiri bagi orang yang berada di barisan pertama dalam shalat berjamaah.

Keutamaan Shaf Pertama

Terdapat dalil-dali yang menunjukkan keutamaan shaf pertama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصُّفُوْفِ اْلأُوَلِ

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang shalat di shaf pertama.” (HR. Abu Dawud, shahih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلاَّ أنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang terdapat pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidaklah akan medapatkannya kecuali dengan diundi, niscaya pasti mereka akan mengundinya.“ (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan adanya keutamaan dan pahala khusus pada shaf pertama, dan bolehnya undian untuk mendapatkannya jika diperlukan. 

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

خيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا ، وَشَرُّهَا آخِرُهَا ، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا ، وَشَرُّهَا أوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling jelek adalah yang paling belakang. Sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang paling belakang, dan yang paling jelek adalah yang paling depan.“ (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan keutamaan shaf pertama bagi laki-laki. Hal ini juga menunjukkan bahwa amal itu bertingkat-tingat yang sekaligus juga menunjukkan bahwa pelaku amal bertingkat-tingkat. 

Imam An Nawawi rahimahullah menjelasakan bahwa shaf yang jelek pada laki-laki maupun wanita artinya sedikit pahala dan keutamaanya, karena berada pada posisi yang semakin jauh dari yang diperintahkan syariat. Adapun yang dimaksud dimaksud shaf pertama adalah shaf yang berada di belakang imam, baik orang itu datang ke masjid di awal waktu maupun datang belakangan. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa patokan shaf pertama adalah ditinjau dari awal kedatangannya ke masjid meskipun dia shalat di barisan belakang, maka ini tidak tepat. (Lihat Syarh Shahih Muslim)

Catatan

Kondisi shaf wanita yang paling baik adalah di belakang, ini berlaku ketika para wanita shalat berjamaah bersama-sama di belakang shaf laki-laki. Adapun jika wanita shalat di belakang imam wanita, atau shalat di belakang imam laki-laki namun terpisah dari jamaah laki-laki di tempat tersendiri, maka yang terbaik adalah shaf yang terdepan. Hal ini berdasarkan keumuman hadits yang menunjukkan keutamaan shaf pertama. (Lihat Shahiih Fiqh Sunnah)

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa shaf terbaik bagi wanita adalah yang paling belakang. Hal ini disebabkan karena posisinya berada paling jauh dari barisan jamaah laki-laki. Berdasarkan alasan ini, maka seandainya para wanita shalat berjamaah di tempat khusus yang terpisah dari laki-laki, maka kita katakan bahwa sebaik-baik shaf wanita adalah yang di depan dan yang paling jelek adalah yang paling belakang. Demikian pula jika para wanita shalat bersama laki-laki namun terdapat pembatas yang memisahkan antara shaf wanita dan shaf laki-laki. (At Ta’liiq ‘alaa Shahih Muslim)     

Bahaya Kebiasaan Berada di Shaf Belakang 

Shaf laki-laki dalam shalat jamaah semakin di depan maka semakin baik dan utama. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda mengingatkan kepada salah seorang sahabat yang datang akhir dan berada di shaf belakang :

  لا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ

“Orang-orang yang terbiasa mengakhirkan hadir ketika shalat jamaah, niscaya Allah akan mengakhirkan urusan mereka “ (HR. Muslim)

Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan yang dimaksud dalam hadits ini adalah orang-orang yang datang akhir sehingga tidak mendapat shaf pertama maka Allah pun akan mengakhirkan bagi orang tersebut rahmat-Nya, kemuliaan dan keutamaan, ketinggian kedudukan, ilmu yang bermanfaat, dan kebaikan lainnya. (Lihat Syarh Shahih Muslim)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengingatkan bahwa dalam hadits ini terdapat ancaman dari Nabi tentang bahaya mengakhirkan datang ke masjid. Apabila seseorang mengakhirkan dari shaf pertama, kedua, dan ketiga, maka Allah pun akan menghukum hatinya dengan menyukai mengakhirkan amal-amal shalih yang lainnya –wal ‘iyadzubillah-. Maka berusahalah untuk berada di barisan shaf terdepan ketika shalat berjamaah. (Lihat Syarh Rhiyadis Shaalihiin)

Oleh karena itu tidak selayakanya seseorang mempunyai kebiasaan mengakhirkan datang ke masjid sehingga malas berusaha untuk mendapat shaf pertama dalam shalat berjamaah. 

Tambahan Berbagai Kebaikan 

Dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan shaf pertama berarti juga menunjukkan dianjurkannya untuk bersegara ke masjid agar bisa mendapat shaf pertama. Setiap amalan kebaikan akan berbuah amal kebaikan yang lain. Seseorang yang berusaha untuk mendapatkan shaf pertama tentu akan bersegera untuk menuju masjid. Dengan demikian menyebabkan dia akan berkesempatan untuk mendapatkan amalan kebaikan yang lain, diantaranya :

  1. Melaksanakan shalat sunnah baik shalat tahiyatul masjid atauapun shalat rawatib.
  2. Mendapat kesempatan waktu mustajab berdoa antara adzan dan iqomat
  3. Mendapat kesempatan takbiratul ihram bersama imam. 

Seseorang yang berusaha untuk mendapatkan shaf awal dengan bersegera menuju masjid, maka dirinya pun akan berkesempatan untuk mendapatkan pahala semisal amalan di atas atau amal-amal kebaikan yang lain. 

Dalam Urusan Kebaikan Harus Berlomba-Lomba

Berada dalam shaf pertama jelas merupakan kebaikan dan keutamaan. Setiap orang mempunyai kesempatan dan hak yang sama untuk mendapatkannya. Semestinya seseorang dalam hal ini berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dia berusaha untuk datang awal di masjid agar bisa meraihnya. Inilah di antara bentuk bersegera dalam kebaikan. Allah Ta’alaberfirman :

فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.“ (Al Maidah :48)

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.“ (Al Imran : 133)

Sayangnya sebagain orang justru meremehkan kebaikan ini. Sebagian orang menunda-nuda untuk pergi ke masjid tanpa alasan yang dibenarkan. Ada pula yang  datang awal ke masjid, namun ia merasa cukup di barisan belakang shaf shalat dan merelakan orang lain untuk berada di shaf depan. Ini adalaha tindakan yang tidak tepat. Dalam perkara kebaikan akhirat, semestinya seseorang berusaha untuk bersegera mendapatkan yang terbaik. 

Semoga bermanfaat. Menjadi pengingat bagi kita dan memotivasi bagi kita untuk bersemangat dalam melaksanakan shalat berjamaah dan mendapat keutamaan shaf pertama.

Penulis : Adika Mianoki

Referensi :

  1. At Ta’liiq ‘alaa Shahiih Muslim karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin
  2. Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhis Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilaaly
  3. Shahiih Fiqh Sunnah karya Syaikh Abu Maalik Kamaal
  4. Syarh Riyaadhis Shaalihiin karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin
  5. Syarh Shahih Muslim karya Imam An Nawawi

sumber: https://muslim.or.id/57969-mari-berlomba-meraih-shaf-pertama.html

Ilmu Agama, Ibarat Air Hujan Yang Jatuh ke Bumi

Sesungguhnya ilmu itu seperti air yang terdapat di bumi. Allah Ta’ala memberikan manfaat dengan sebab air tersebut kepada orang-orang yang mendapatinya. Hal ini sebagaimana perumpamaan yang dibuat oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih,

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا

”Perumpamaan apa yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepadaku berupa petunjuk dan ilmu itu adalah seperti air hujan (”ghoits”) yang jatuh ke bumi” (HR. Muslim no. 6093)

Ilmu syar’i itu seperti air hujan yang memberikan manfaat. Dan di antara faidah bahasa Arab dalam ilmu tafsir, bahwa mayoritas penggunaan kata ”ghoits” (air hujan) di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah untuk air hujan yang bermanfaat. Adapun kata ”mathor” (air hujan) sebagian besar digunakan untuk air hujan dari langit yang menyebabkan bencana dan malapetaka. 

Contoh penggunaan ”mathor” adalah firman Allah Ta’ala,

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ

”Kami turunkan hujan kepada mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan orang-orang yang diberikan peringatan itu.” (QS. An-Naml [27]: 58) 

Adapun contoh penggunaan ”ghaits” adalah firman Allah Ta’ala,

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ

”Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur” (QS. Yusuf [12]: 49) 

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengibaratkan ilmu sebagai ghaits, yaitu air hujan yang mendatangkan manfaat. Dalam lanjutan hadits ini, digambarkan bahwa hujan tersebut jatuh ke berbagai jenis tanah. Di antaranya adalah tanah yang menerima ilmu, sehingga manusia dapat minum dengan puas darinya dan menumbuhkan rumput-rumputan dan tanaman yang banyak. Termasuk dalam makna perumpamaan ilmu dengan hujan itu adalah bahwa ilmu tersebut menumbuhkan (menghidupkan) badan dan hati (dengan berbagai macam ketaatan). Demikianlah ilmu syar’i, sehingga di sinilah letak persamaan kedua hal tersebut. 

Semoga Allah Ta’ala mengkaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan memberikan taufik untuk mengamalkannya.

***

Dicuplik dari ceramah Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah yang berjudul “Asbaabu Ats-Tsabaat ‘ala Tholabil ’Ilmi” (Sebab-sebab untuk istiqamah di jalan ilmu).

Diselesaikan ba’da isya, Rotterdam NL, 4 Rabiul ‘Awwal 1438

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim

sumber: https://muslim.or.id/29077-ilmu-agama-ibarat-air-hujan-yang-jatuh-ke-bumi.html