Meraih Kelezatan Dalam Ibadah

Allah menjanjikan keuntungan ibadah bagi yang mengerjakannya tidak hanya di akhirat, namun juga di dunia. Kebaikan hidup akan diraih oleh orang-orang yang beribadah kepada-Nya dengan iman dan amal shaleh di dunia ini sebelum kelak di akhirat. Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl [16]: 97)

Diantara karunia Allah atas hamba-hamba-Nya yang mau beribadah di dunia ini adalah kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan dan kenyamanan hati yang dirasakan oleh mereka saat beribadah dan beramal shaleh.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, bangkitlah, nyamankanlah kami dengan shalat.” Itu karena beliau, hamba Allah yang terbaik, merasakan kelezatan dan kenikmatan saat beribadah kepada Allah dengan shalat. Tidak heran, jika bagida Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam betah berlama-lama dalam shalatnya hingga tidak terasa kedua kakinya bengkak.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لم يدخل جنة الآخرة

“Sesungguhnya di dunia terdapat surga, barangsiapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan masuk surga akhirat.”

Seorang ulama salaf berkata, “Orang-orang miskin di dunia itu adalah orang-orang yang meninggalkan dunia ini namun tidak pernah merasakan sesuatu yang paling lezat.” Ditanyakan, “Apa sesuatu yang paling lezat di dunia itu?” “Mencintai Allah, mengenal-Nya, berdzikir kepada-Nya atau yang sepertinya.” (Al Waabilu Asy Shayyib, hal. 81-82)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, bahwa ketaatan memiliki rasa yang lezat yang akan dirasakan oleh seorang mukmin.

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله و رسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يلقى في النار

“Tiga hal, barangsiapa yang berada di dalamnya, ia akan mendapatkan manisnya iman; Allah dan rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, mencintai seseorang karena Allah dan benci untuk kembali kepada kekafiran sebagai mana ia benci dilemparkan ke neraka.” (HR Bukhari Muslim)

Jika demikian, maka setiap hamba seharusnya berupaya untuk meraih kelezatan dalam beribadah, kenikmatan saat mentaati-Nya dan kebahagiaan ketika beramal. Berikut adalah beberapa cara untuk meraihnya:

Pertama: Bermujahadah; yaitu bersungguh-sungguh melawan diri dalam mengerjakan ketaatan hingga ketaatan itu semakin ringan dan menjadi biasa. Ketaatan membutuhkan upaya dan kesungguhan pada awalnya. Jika seorang hamba benar-benar mengerahkan upayanya disertai dengan tekad yang kuat dan sabar, maka ia selanjutnya ia akan meraih kelezatan dalam mengerjakan ibadah dan ketaatan tersebut.

Kedua: Menjauhi maksiat. Kemaksiatan adalah sesuatu yang akan menghalangi hati dari kelezatan beribadah karena maksiat akan membuat hati menjadi keras dan kering. Sebagian salaf berkata, “Tidak lah Allah menimpakan suatu hukuman yang lebih besar dari kerasnya hati.”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Semakin banyak dosa, akan kian parah rasa tak enak dalam hati. Kehidupan paling pahit adalah kehidupan yang dijalani mereka, dan kehidupan yang paling indah adalah kehidupan yang dijalani oleh orang-orang yang hatinya penuh suka cita. Jika orang yang berakal mengamati dan membandingkan antara lezatnya maksiat dengan rasa khawatir dan tak enak hati yang akan ditimbulkannya, ia akan mengetahui sungguh buruk keadaannya dan sungguh besar kerugiannya. Karena ia berarti menjual kelezatan taat dan kenyamaan yang ada di dalamnya dengan kemaksiatan dan rasa gelisah serta keburukan yang ditimbulkannya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak merasakan manisnya beramal dalam hati dan kelapangan, maka curigailah amal tersebut. Karena sesungguhnya Rabb Mahamembalas. Maksudnya, Allah akan senantiasa memberi ganjaran atas orang yang beramal di dunia dengan memberinya kelezatan, kepalangan hati dan kenikmatan. Jika ia tidak mendapatkan itu semua, maka berarti amalnya disusupi.”

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata, “Aku terhalangi dari qiyamul lail karena satu dosa yang aku perbuat.”

Ketiga:Tidak berlebih-lebihan dalam hal makanan, minuman, berbicara dan melihat. Hendaknya seorang muslim makan dan minum untuk memenuhi kebutuhannya dalam menunaikan ibadah dan bekerja, serta tidak berlebih-lebihan. Allah berfirman (yang artinya),

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al A’raf [7]: 31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang anak Adam mengisi sampai penuh suatu wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah seorang anak Adam itu makan untuk menegakkan tulang belakangnya. Jika tidak, maka buatlah sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi, hadis hasan shahih)

Seorang salaf berkata, “Istirahat hati dengan sedikit dosa, istirahat perut dengan sedikit makanan dan istirahat lisan dengan sedikit bicara.”

Keempat: Selalu menghadirkan bahwa ibadah yang dilakukannya itu merupakan ketaatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Ibadah-ibadah itu akan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, “Barangsiapa yang menyakiti wali-Ku, aku akan memeranginya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari perbuatan yang Aku telah wajibkan. Dan jika hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, maka Aku akan mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, menjadi matanya yang dengannya ia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia berbuat dan menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Jika ia meminta kepada-Ku Aku akan memberinya, jika ia memohon perlindungan-Ku Aku akan melindunginya. Dan tidaklah Aku ragu untuk mengerjakan suatu perbuatan seperti ragunya diri-Ku untuk mengambil nyawa seorang mukmin, ia tidak suka dengan kematian, sementara Aku tidak suka untuk menyakitinya.” (HR Bukhari)

Kelima: Menyadari bahwa ibadah-ibadah ini akan langgeng dan tidak akan binasa sebagaimana segala keindahan dunia berupa harta benda, kedudukan dan semua kelezatannya. Seorang hamba akan mendapatkan buah dari ibadah-ibadahnya baik di dunia, sebelum di akhirat yang lebih besar. Jika ia senantiasa menghadirkan dan menyadari hal ini dalam hatinya, maka ia tidak akan peduli dengan dunia yang luput darinya, serta bahagia dengan ibadah-ibadahnya dan ia pun akan merasakan kelezatannya.

“Dan Barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam Keadaan beriman, Maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thaha [20]: 112)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rasul.” (HR Muslim)

Wallahu ‘alam

Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, 22 Oktober 2013

*Diringkas dari artikel Syaikh Dr. Amin bin Abdilllah Asy Syaqawy hafidzahullah bertajuk “Ladzdzatul Ibadah”http://www.alukah.net/Sharia/0/59498/

sumber: https://sabilulilmi.wordpress.com/2013/10/22/meraih-kelezatan-dalam-ibadah/

Beruntunglah Orang Yang Dijauhkan Dari Fitnah

عَنْ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ايْمُ اللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

“ Dari al Miqdad bin al Aswad Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Demi Allah! Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Dan barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alangkah bagusnya ”.

TAKHRIJ HADITS                          
Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab al Fitan wal Malahim, Bab Fi an-Nahyi ‘an as-Sa’yi fil Fitnah, no. 4263 (4/460). Hadits ini dishahihkan al Albani dalam al Misykah al Mashabih no. 5405, juga dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 975 dan Shahih Sunan Abu Dawud no. 4263.

Syaikh al Albani berkata: “Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud (4263) dari al Laits bin Sa’ad dan Abul-Qasim al Hana’i dalam ats-Tsalits minal-Fawaa’id (1/82) dari ‘Abdullah bin Shalih. Kemudian Syaikh menyatakan: “Ini sanad yang shahih sesuai syarat Muslim” [1]

PERAWI HADITS 
Al Miqdad bin al Aswad adalah al Miqdad bin Amru bin Tsa’labah al Kindi. Beliau dinasabkan kepada al Aswad bin Abduyaghuts az-Zuhri karena menjadi anak angkatnya. Beliau masuk Islam dan telah melakukan dua kali hijrah dan menikahi sepupu Rasulullah yang bernama Dhuba’ah bin az-Zubeir bin Abdul Muthalib.

Al Miqdad juga ikut dalam perang Badar dan perang-perang setelahnya, serta ikut dalam perang menaklukan Mesir. Beliau meninggal tahun 33 H dan dikuburkan di pemakaman al Baqiq, Madinah. [2]

SYARAH KOSA KATA 
– الْفِتَنَ , maknanya fitnah. 
– فَوَاهًا , merupakan ungkapan ta’ajjub (kagum). Maknanya, alangkah bagusnya kesabaran orang yang sabar ketika tertimpa fitnah [3]

PENJELASAN DAN FAIDAH HADITS 
Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan menjelaskan kriteria orang yang berbahagia. Yaitu orang yang dijauhkan dari fitnah. Begitu pula seseorang yang mendapat ujian, namun ia tetap bersabar, maka ia akan mendapat kebahagiaan.

Bagaimana cara mendapatkan kebahagian tersebut? Bagaimana pula agar dapat dijauhkan dan selamat dari fitnah?

1. Bertakwa dan selalu menjaga ketakwaan kepada Allah, dalam segala keadaan dan kondisi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ  ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ  ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ  ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“ Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu ”. [ath-Thalaq/65:2-3].

Maknanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan jalan keluar dari seluruh fitnah, bencana, kejelekan di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“ Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya ”. [ath-Thalaq/65:4].

Ketika terjadi fitnah pada zaman tabi’in, sebagian orang mendatangi Thalq bin Habib dan mengatakan, bahwasanya telah terjadi fitnah, lantas bagaimana menyelesaikannya? 
Beliau menjawab: “Berlindunglah darinya dengan takwa!” 
Mereka bertanya: “Jelaskan kepada kami, apa yang engkau maksud dengan takwa?” 
Beliau menjawab,” Takwa kepada Allah, yaitu mengamalkan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah dan mengharap rahmat-Nya, dan meninggalkan kemaksiatan di atas cahaya dari Allah dan takut dari adzab-Nya”[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Abi Dunya] [4]

Syaikh Abdurrazaq al Abad berkata,”Dengan demikian menjadi jelas, bahwa takwa tidak semata kata-kata yang diucapkan seseorang dengan lisannya, atau (sekadar) pengakuan yang disampaikan seseorang. Sebenarnya takwa merupakan kesungguhan dan ijtihad, serta membimbing jiwa untuk taat dan mendekatkan diri kepada Alla, (yaitu) dengan amalan yang diridhai oleh-Nya. (Takwa), juga (dengan) menjauhi kemaksiatan dan kemungkaran. Barangsiapa yang memilikinya, maka ia – insya Allah – mendapatkan balasan dan akhir yang baik” [5]

2. Komitmen, konsisten dan berpegang teguh kepada al Qur`an dan as-Sunnah, serta berjalan di atas manhaj Salafush-Shalih [6] . Karena berpegang teguh kepada al Kitab dan as-Sunnah merupakan jalan mencapai kejayaan, keselamatan dan kemenangan di dunia maupun akhirat.

Imam Malik telah berkata: “Sunnah Nabi adalah perahu Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya, maka selamat. Dan (sebaliknya), barangsiapa yang meninggalkannya, maka (ia akan) binasa dan tenggelam”. [7]

Telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits al ‘Irbadh bin Sariyah, yang berbunyi:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“ Karena sesungguhnya, barangsiapa yang hidup setelahku dari kalian, maka (ia) akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk konsisten dengan sunnahku dan Sunnah para penggantiku yang berilmu dan beramal (Khulafa’ al Mahdiyyin al Rasyidin). Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham. Berhati-hatilah terhadap perkara baru yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap yang baru diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat ”. [HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dan selainnya]

Syaikh Abdurrazaq al ‘Abad berkata,”‘Keselamatan ketika terjadi perselisihan dan selamat dari fitnah hanya bisa didapatkan dengan berpegang teguh kepada Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, menjauhi hawa nafsu, perbuatan bi’dah, dan berhukum dengan Sunnah pada dirinya dalam perkara yang ia lakukan dan yang ia tinggalkan, baik berupa gerakan, diam, tegak, duduk dan (dalam) seluruh sisi kehidupannya. Barangsiapa yang dalam keadaaan demikian, maka insya Allah akan terlindungi dan terjaga dari seluruh kejelekan, bencana dan fitnah. Sedangkan seseorang yang membiarkan dirinya bebas dan membiarkan hawa nafsunya menjadi pengendali dirinya, maka ia telah menjerumuskan dirinya dan orang lain dari kalangan hamba Allah ke dalam kejelekan” [8]

3. Lemah-lembut, tenang, tidak tergesa-gesa dan memikirkan akibat yang bakal muncul dari semua yang dilakukannya. Karena perbuatan yang tergesa-gesa tidak membawa kebaikan. Adapun pada sikap perlahan terdapat kebaikan dan barakah. Barangsiapa yang tergesa-gesa dalam urusannya dan sembarangan dalam perilakunya, maka tidak mustahil dia dapat tergelinciran dan terjerumus dalam penyimpangan. Sedangkan orang yang lemah-lembut, sabar dan menjauhkan dari sikap tergesa-gesa, ngawur dan nekad serta selalu memperhitungkan akibat perbuatannya, maka ia insya Allah akan mengantarkannya kepada hasil yang membuatnya bahagia di dunia dan akhirat.

Sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata: “Akan muncul perkara musytabihat (samar-samar), maka kalian harus berlaku pelan-pelan. Karena, kamu menjadi pengikut dalam kebaikan, (itu) lebih baik dari pada menjadi pemimpin dalam kejelekan” [9]

Sesungguhnya, seseorang yang mengatasi permasalahan secara tergesa-gesa dan sama sekali tidak mengambil cara perlahan, (berarti ia telah) membuka pintu kelejelekan untuk dirinya dan orang lain, dan (ia) bertanggung jawab atas dosanya dan menuai hasil buruk. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

“ Sesungguhnya ada di antara manusia yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejelekan. Dan sesungguhnya, ada di antara manusia yang menjadi kunci pembuka kejelekan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah seseorang yang dijadikan oleh Allah sebagai kunci pembuka kebaikan melalui tangannya, dan celakalah seseorang yang Allah jadikan kunci pembuka kejelekan melalui tangannya ”.[HR Ibnu Majah]

Seorang yang berakal, ia akan senantiasa berhati-hati, melihat jauh (akibat) ke depan, sabar, lembut dan perlahan, serta menjauhi dari berbuat sembrono, tergesa-gesa dan nekad. Karena ketergesaan, nekad dan sikap sembrono, hanya akan mengakibatkan keburukan dan bahaya, serta hasil yang jelek. [10]

4. Bersatu dan konsisten bersama jama’ah muslimin dan imam mereka, serta menjauhi perpecahan dan perselisihan. Karena, perpecahan adalah jelek, adapun berjama’ah merupakan rahmat. Dengan berjama’ah, ia menghasilkan kekuatan yang besar pada kaum Muslimin, kuat ikatan persaudaraan, kuat kewibawaan dan terwujudnya persatuan di kalangan kaum Muslimin. Juga dengan berjama’ah, akan terwujud sikap saling kerjasama di antara kaum Muslimin dalam kebaikan dan takwa, serta perkara-perkara lainnya yang dapat mewujudkan kebahagian di dunia maupun akhirat. Sedangkan perselisihan, mengantarkan kaum Muslimin kepada banyak kejelekan, bahaya yang banyak dan bencana yang tidak diharapkan. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat, agar kaum Muslimin konsisten bersama jama’ah dan memperingatkannya dari perpecahan. Di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“ Jama’ah itu rahmat, dan perpecahan itu adzab ” [11] .

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَا تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

“ Janganlah berselisih, karena orang-orang sebelum kalian berselisih, lalu binasa ” [HR al-Bukhari]

Demikian juga, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada kaum Muslimin untuk bersatu dan konsisten dengan jama’ah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka, sebagaimana dijelaskan dalam hadits al Irbadh bin Sariyah, yang berbunyi:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا

“ Rasulullah mengimami kami shalat pada suatu hari, kemudian beliau menghadap kami dan memberikan nasihat yang menyentuh; membuat mata meneteskan air mata dan hati bergetar. Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah! Seakan-akan nasihat ini merupakan nasihat perpisahan. Maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?” Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan mendengar dan patuh, walaupun (yang memimpin kalian) adalah budak habasyi ”. [HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan selainnya].

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan sebab-sebab kebahagian dunia dan akhirat dalam dua perkara, yang tidak ada ketiganya, yaitu:

Pertama , konsisten dalam ketakwaan. 
Kedua , konsisten berpegang teguh kepada jama’ah kaum Muslimin dan mentaati imam kaum Muslimin.

Dua ketentuan pokok ini merupakan prinsip Salafush-Shalih yang harus dilaksanakan. Dua prinsip ini menjadi sebagian pelindung kita dari fitnah – dengan idzin Allah – dan inilah jalan mewujudkan persatuan, ketika terjadi perpecahan. [12]

5. Mengambil ilmu dan fatwa dari ulama besar dan tidak mengambil dari orang-orang kerdil yang baru menimba ilmu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

البِرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِهِمْ

“ Barakah ada bersama tokoh-tokoh besar mereka ”. [13]

Barakah ada bersama tokoh-tokoh besar mereka yang telah menguasai ilmu dan telah lama menuntutnya. Mereka memiliki kedudukan di tengah-tengah umat disebabkan oleh ilmu, hikmah yang luhur, sikap perlahan dan pandangan jauh mereka ke depan yang Allah karuniakan kepada mereka. Kita diperintahkan mengambil ilmu dan fatwa dari mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ  ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ  ۗوَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“ Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu) ”.[an-Nisaa`/4:83].

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, dalam menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan: “Ini merupakan pelajaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hambaNya atas perbuatan mereka yang tidak pantas. Seharusnya, bila mereka mendapatkan perkara penting atau kemaslahatan umum yang berhubungan dengan keamanan dan kebahagian kaum Mukminin atau kekhawatiran yang menjadi musibah bagi mereka, hendaknya melakukan klarifikasi dan tidak tergesa-gesa menyebarkan berita tersebut. Seharusnya mereka mengembalikan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ulil Amri mereka, yaitu para ulama yang mengetahui permasalahan dan mengetahui kemaslahatan serta madharatnya (bagi masyarakat)” [14]

Imam al Ashbahani menegaskan pentingnya hal ini, sebagaimana pernyataan beliau: “Barangsiapa yang melihatnya secara adil, niscaya (akan) mengetahui tidak ada seorang pun yang paling jelek madzhabnya dari orang yang meninggalkan firman Allah, sabda Rasulullah, pendapat para sahabat dan pendapat para ulama dan ahli fiqih setelah mereka (sahabat) dari mereka yang membangun madzhab dan agamanya di atas Kitabullah (al Qur`an) dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengikuti orang yang tidak ‘alim terdahap al Qur`an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana ia merasa aman tidak menjadi pengikut setan” [15]

Barangsiapa yang merujuk dan menyerahkan kepada mereka, maka ia aman dari fitnah dan akan mendapatkan kebaikan.

6. Memperbaiki hubungan dengan Allah dan berdoa kepada-Nya, karena doa merupakan kunci semua kebaikan di dunia maupun akhirat. Begitu halnya dengan meminta kepada Allah untuk menjauhkan kaum Muslimin dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Juga meminta perlindungan kepadaNya dari fitnah yang besar. Karena, siapa pun yang memohon perlindungan kepada Allah, niscaya Dia melindunginya. Dan siapa pun yang memohon kepada Allah, niscaya Dia memberinya. Allah tidak akan membiarkan seorang hamba berdo’a tanpa hasil. Allah tidak akan menolak seorang hamba yang memanggilNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ  ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ  ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ 
“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran ”. [al Baqarah/2:186]

Di antara yang menjadi penyebab fitnah, yaitu munculnya kesyirikan dan kemaksiatan . Sehingga, ketika muncul fitnah, semestinya kita kembali bertaubat dan memanjatkan doa kepada Allah untuk menghilangkannya.

Imam al Hasan al Bashri pernah menyatakan, sesungguhnya al Hajjaj adalah adzab Allah. Maka janganlah menolak adzab Allah dengan tangan-tangan kalian, namun hendaklah kalian beribadah dan memanjatkan doa dengan kerendahan diri, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

“ Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri ”. [al Mu’minun/23:76]. [16]

Hendaknya memperbanyak do’a kepada Allah agar dihilangkan fitnah yang ada sebagaimana dilakukan kaum nabi Yunus yang Allah ceritakan dalam firmanNya:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿٩٦﴾ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ ﴿٩٧﴾ فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

“ Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabbmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan adzab yang pedih. Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu ”. [Yunus/10: 96-98].

Dalam penafsirannya terhadap ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Yang dimaksud, tidak ada satu (penduduk) satu kota yang beriman seluruhnya kepada nabi mereka dari (penduduk ) satu kota terdahulu kecuali kaum Nabi Yunus, iman mereka hanya karena takut datangnya adzab yang telah diperingatkan oleh rasul mereka, setelah mereka mengerjakan sebab-sebabnya (adzab), dan rasul mereka (Yunus) pergi meninggalkan mereka. Lalu ketika itu mereka berdoa dengan sepenuh hati kepada Allah, memohon pertolongan, merendahkan diri dan tunduk, serta mengeluarkan anak-anak, binatang ternak dan gembalaan mereka, dan memohon kepada Allah untuk menolak adzab yang telah diperingatkan nabi mereka. Seketika itu, Allah merahmati mereka dan menghilangkan adzab atas mereka, dan mengakhirkan mereka” [17] .

Demikianlah di antara perkara yang harus diperhatikan seseorang, agar terhindar dari fitnah. Semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Wallahu a’lam.

MARAJI : 1. Tafsir Ibnu Katsir, Cetakan Pertama, Tahun 1413H, Maktabah al ‘Ulum wal-Hikaam, Madinah. 
2. Silsilah al Ahadits ash-Shahihah. 
3. Asbab al Wiqayah minal-Fitan, Syaikh Abdullah al ‘Ubailan dalam Majalah Ummati, Kuwait, Edisi 16, Desember 2005-Dzul Qa’dah 1426H. 
4. Majalah Ummati, Kuwait, Edisi 10, Mei 2005-Rabi’ul Awwal 1426H. 
5. Al Fitnah wa Mauqif al Muslim Minha, Dr. Muhammad bin Abdulwahab al ‘Aqil. 
6. Taisir al Karimirrahman. 
7. Al Hujjah fi Bayan al Mahajjah, Ismail bin Muhammad al Ashbahani, tahqiq Muhammad bin Rabi’ al Madkhali, Cetakan Pertama, Tahun 1411H, Dar ar-Rayah, Riyadh. 
8. Sunan Abu Dawud. 
9. A’unul Ma’bud Syarah Sunan Abu Dawud.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun X/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] 
_______ 
Footnote 
[1] Silsilah al Ahadits ash-Shahihah (2/703) 
[2] Tambih al Afham bi Syarhi Umdatul-Ahkam, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (1/66). 
[3] Lihat ‘Aunul-Ma’bud Syarah Sunan Abu Dawud 
[4] Majalah Ummati, Kuwait, Edisi 10, Mei 2005-Rabiul Awwal 1426H, hlm.18. 
[5] Majalah Ummati, Kuwait, Edisi 10, Mei 2005-Rabiul Awwal 1426H, hlm.18. 
[6] Makalah Asbab al Wiqayah minal Fitan, Syaikh Abdullah al ‘Ubailan dalam Majalah Ummati, Kuwait, Edisi 16, Desember 2005-Dzul Qa’dah 1426H, hlm.6 
[7] Majalah Ummati, Kuwait, Edisi 10, Mei 2005-Rabiul Awwal 1426H, hlm.18 
[8] Majalah Ummati, Kuwait, Edisi 10, Mei 2005-Rabiul Awwal 1426H, hlm.18 
[9] Majalah Ummati, Kuwait, Edisi 10, Mei 2005-Rabiul Awwal 1426H, hlm.18 
10] Syaikh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin al ‘Abad dalam Majalah Ummati, Kuwait, Edisi 10, Mei 2005-Rabiul Awwal 1426H, hlm.18. 
[11] HR Ahmad, dan Syaikh al Albani dalam Shahihul-Jaami’, no. 3109 mengatakan, hadits ini hasan. 
[12] Al Fitnah wa Mauqif al Muslim Minha, Dr. Muhammad bin Abdul Wahab al ‘Aqil, hlm. 100-101 
[13] HR. Ibnu Hiban, al Hakim, Abu Nu’aim, dan al Baihaqi dalam Syu’abul-Iman. Syaikh al Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahihul-Jami’ no. 2884, Silsilah al Ahadits ash-Shahihah no.1778 (4/380) 
[14] Taisiril-Karimir-Rahman. 
[15] Al Hujjah fi Bayan al Mahajjah (1/311). 
[16] Lihat makalah Asbab al Wiqayah minal Fitan, Syaikh Abdullah al ‘Ubailan menukil dari perkataan Ibnu Taimiyyah. 
[17] Tafsir Ibnu Katsir (2/414).

sumber: https://almanhaj.or.id/11867-beruntunglah-orang-yang-dijauhkan-dari-fitnah-2.html

[Belajar Tauhid] 66. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 13

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

  • Dahulu Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- berada ditengah-tengah manusia yang memiliki sesembahan (selain Allâh -‘Azza wa Jalla-) yang berbeda-beda. Mereka semua diperangi oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-  dan Beliau tidak membeda-bedakan mereka dengan sebab perbedaan sesembahan mereka.
  • Sudah menjadi tabiat orang-orang musryik dari masa -ke masa, ketika mereka berpaling dari men-tauhid-kan (meng-esa-kan) Allâh -‘Azza wa Jalla- mereka kemudian tidak pernah puas dengan satu atau dua sesembahan saja. Dan ini merupakan salah satu adzab Allâh -‘Azza wa Jalla- kepada mereka, dimana mereka diperbudak oleh berhala-berhalanya.

Selanjutnya kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 13. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

“ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Sampaikan Ilmu Dariku Walau Satu Ayat

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Seputar perawi hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Su’aid bin Sa’ad bin Sahm As Sahmiy. Nama kunyah beliau Abu Muhammad, atau Abu Abdirrahman menurut pendapat lain. Beliau adalah salah satu diantara Al ‘Abaadilah (para shahabat yang bernama Abdullah, seperti ‘Abdullah Ibn Umar, ‘Abdullah ibn Abbas, dan sebagainya –pent) yang pertama kali memeluk Islam, dan seorang di antara fuqaha’ dari kalangan shahabat. Beliau meninggal pada bulan Dzulhijjah pada peperangan Al Harrah, atau menurut pendapat yang lebih kuat, beliau meninggal di Tha’if.

Poin kandungan hadits :

Pertama:

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyampaikan perkara agama dari beliau, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan agama ini sebagai satu-satunya agama bagi manusia dan jin (yang artinya), “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kusempurnakan bagimu nikmat-Ku dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah : 3). Tentang sabda beliau, “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”, Al Ma’afi An Nahrawani mengatakan, “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallamdapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.” Hal ini sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir”. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum fardhu kifayah.

Kedua:

Tabligh, atau menyampaikan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi dalam dua bentuk :

  1. Menyampaikan dalil dari Al Qur’an atau sebagiannya dan dari As Sunnah, baik sunnah yang berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (amaliyah), maupun persetujuan (taqririyah), dan segala hal yang terkait dengan sifat dan akhlak mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas Islamnya, baligh (dewasa) dan memiliki sikap ‘adalah (sholeh, tidak sering melakukan dosa besar, menjauhi dosa kecil dan menjauhi hal-hal yang mengurangi harga diri/ muru’ah, ed).
  2. Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap nash-nash yang ada. Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh capabilitas dan legalitas tersendiri yang diperoleh dari banyak menggali ilmu dan bisa pula dengan mendapatkan persaksian atau izin dari para ulama. Hal ini dikarenakan memahami nash-nash membutuhkan ilmu-ilmu lainnya, di antaranya bahasa, ilmu nahwu (tata bahasa Arab), ilmu-ilmu ushul, musthalah, dan membutuhkan penelaahan terhadap perkataan-perkataan ahli ilmu, mengetahui ikhtilaf (perbedaan) maupun kesepakatan yang terjadi di kalangan mereka, hingga ia mengetahui mana pendapat yang paling mendekati dalil dalam suatu masalah khilafiyah. Dengan bekal-bekal ilmu tersebut akhirnya ia tidak terjerumus menganut pendapat yang ‘nyleneh’.

Ketiga:

Sebagian orang yang mengaku sebagai da’i, pemberi wejangan, dan pengisi ta’lim, padahal nyatanya ia tidak memiliki pemahaman (ilmu mumpuni) dalam agama, berdalil dengan hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”. Mereka beranggapan bahwasanya tidak dibutuhkan ilmu yang banyak untuk berdakwah (asalkan hafal ayat atau hadits, boleh menyampaikan semau pemahamannya, ed). Bahkan mereka berkata bahwasanya barangsiapa yang memiliki satu ayat maka ia telah disebut sebagai pendakwah, dengan dalil hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Menurut mereka, tentu yang memiliki hafalan lebih banyak dari satu ayat atau satu hadits lebih layak jadi pendakwah.

Pernyataan di atas jelas keliru dan termasuk pengelabuan yang tidak samar bagi orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah. Hadits di atas tidaklah menunjukkan apa yang mereka maksudkan, melainkan di dalamnya justru terdapat perintah untuk menyampaikan ilmu dengan pemahaman yang baik, meskipun ia hanya mendapatkan satu hadits saja. Apabila seorang pendakwah hanya memiliki hafalan ilmu yang mantap, maka ia hanya boleh menyampaikan sekadar hafalan yang ia dengar. Adapun apabila ia termasuk ahlul hifzh wal fahm (punya hafalan ilmu dan pemahaman yang bagus), ia dapat menyampaikan dalil yang ia hafal dan pemahaman ilmu yang ia miliki. Demikianlah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Terkadang orang yang disampaikan ilmu itu lebih paham dari yang mendengar secara langsung. Dan kadang pula orang yang membawa ilmu bukanlah orang yang faqih (bagus dalam pemahaman)”. Bagaimana seseorang bisa mengira bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak paham agama untuk mengajarkan berdasarkan pemahaman yang ia buat asal-asalan (padahal ia hanya sekedar hafal dan tidak paham, ed)?! Semoga Allah melindungi kita dari kerusakan semacam ini.

Diterjemahkan dari : “Ta’liqat ‘ala Arba’ina Haditsan fi Manhajis Salaf” Syaikh Ali bin Yahya Al Haddadi  (http://haddady.com/ra_page_views.php?id=299&page=24&main=7)

Penerjemah: Yhouga Ariesta

Editor: M. A.  Tuasikal

Artikel http://www.muslim.or.id

sumber: https://muslim.or.id/6409-sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html

Memohon Perlindungan dari Ilmu yang Tidak Bermanfaat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta ilmu yang bermanfaat setiap selesai shalat subuh dengan berdoa kepada Allah Ta’ala,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah … aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thayyib, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah no. 925. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)

Demikian juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

“Ya Allah … aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud no. 1548, An-Nasa’i no. 5536, dan Ibnu Majah no. 3837. Hadits ini shahih.)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di -rahimahullahu Ta’ala- menjelaskan bahwa ada empat macam ilmu yang tidak bermanfaat.

Pertama, ilmu yang 100% berbahaya, tidak ada manfaat sama sekali, atau minimal bahaya ilmu tersebut lebih besar dibandingkan manfaatnya (kebaikannya). Misalnya ilmu sihir. Contoh lain, seseorang belajar tentang kesesatan (berbagai aqidah atau pemahaman yang menyimpang), namun dia belum memiliki ilmu tentang kebenaran (‘aqidah shahihah). Seseorang membaca buku-buku yang mengandung kesesatan, padahal dia tidak memiliki “senjata” untuk melindungi dirinya.

Ke dua, sibuk mempelajari ilmu duniawi (ilmu pengetahuan) yang hukum asalnya adalah mubah, namun kesibukan tersebut menjadikannya lalai dari hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupannya. Misalnya, kesibukan tersebut menyebabkan orang tersebut lalai untuk menghadiri shalat berjamaah bagi laki-laki tanpa ‘udzur (alasan yang dibenarkan syariat). Dalam kasus semacam ini, ilmu tersebut menjadi ilmu yang tidak bermanfaat.

Ke tiga, ilmu syar’i (ilmu agama), yaitu ilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tidak diamalkan. Sebetulnya dia mengenal ilmu agama, namun dia tinggalkan atau tidak diamalkan. Dia mengenal keburukan namun justru menerjangnya. Ilmu syar’i yang tidak diamalkan, hanya menjadi ilmu yang tidak bermanfaat.

Ke empat, menyibukkan diri dengan ilmu alam atau ilmu modern (seperti biologi, fisika, dan semisalnya) sehingga menyebabkan dirinya cuek dan berpaling dari mempelajari ilmu agama. Orang yang membatasi diri hanya mempelajari ilmu-ilmu alam tersebut, hanya akan menyebabkan pelakunya bingung dan terjatuh dalam kesombongan. Fenomena semacam ini bisa kita saksikan. Seseorang yang hanya sibuk mempelajari ilmu tersebut, bukannya bertambah keimanan kepada Allah Ta’ala, namun akhirnya menjadi pengingkar Tuhan (atheis).

Lalu apa ilmu yang bermanfaat? Menurut penjelasan beliau -rahimahullahu Ta’ala-, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu agama (yang diamalkan) dan ilmu yang mendukung untuk mempelajari ilmu agama tersebut, seperti ilmu bahasa Arab dan semacamnya. Demikian pula setiap ilmu yang bisa memperbaiki agama, dunia, dan akhlak manusia. Dengan syarat bahwa agama-lah yang menjadi pokok, sedangkan yang lain adalah tambahan dan penyokong untuk perbaikan agama seseorang. [1]

Semoga Allah Ta’ala menambahkan untuk kita ilmu yang bermanfaat, dan menjauhkan kita dari semua ilmu yang tidak bermanfaat.

***

Diselesaikan ba’da maghrib, Rotterdam 4 Rabiul Akhir 1438/2 Januari 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel http://www.muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Disarikan dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di -rahimahullahu Ta’ala- di kitab Majmu’ Al-Fawaaid wa Iqtinaashil Awaabid (faidah ke-33, cet. Daar Ibnul Jauzi tahun 1424). Ditambah dengan penjelasan guru kami, Ustadz Aris Munandar -hafidzahullahu Ta’ala- ketika menjelaskan perkataan Syaikh As-Sa’di tersebut.

sumber: https://muslim.or.id/29235-memohon-perlindungan-dari-ilmu-yang-tidak-bermanfaat.html

Teladan Kebaikan Dari Para Keluarga Salafus Shalih

Berbicara tentang kisah keteladanan para ulama Salaf dalam ketekunan beribadah, ketaatan dan sifat zuhud, tentu merupakan pembicaraan yang tidak asing bahkan sangat dikenal di kalangan kaum muslimin.

Akan tetapi, tahukah kita bahwa kisah keteladanan dari anggota keluarga mereka juga tidak kalah menariknya dan sangat patut untuk kita baca serta renungkan?

Sebagai bukti bahwa para ulama Salaf tidak hanya memperhatikan dan mengusahakan kebaikan untuk diri mereka sendiri saja, tapi mereka juga sangat memperhatikan pengajaran dan bimbingan kebaikan bagi anggota keluarga mereka.

Mereka benar-benar memahami dan mengamalkan firman Allah Ta’ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, ketika menafsirkan ayat di atas berkata: “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”1.

Juga hadits-hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ada tiga orang yang akan mendapatkan dua pahala: … dan seorang laki-laki yang memiliki budak perempuan, lalu dia mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan mengajarkan (ilmu agama) kepadanya dengan pengajaran yang baik, kemudian dia memerdekakannya dan menikahinya, maka dia kan mendapatkan dua pahala”2.

Kalau keutamaan ini didapatkan dengan mengajarkan dan memberikan bimbingan kebaikan kepada seorang budak, maka tentu saja mengusahakan ini kepada anggota keluarga, anak dan istri, akan mendatangkan keutamaan yang lebih besar lagi3.

Dalam tulisan ini, kami akan membawakan beberapa kisah keteladanan para keluarga Salaf dalam memahami dan mengamalkan agama ini, semoga bisa menjadi motivasi kebaikan bagi anggota keluarga muslim dalam meniti jalan hidup menuju keridhaan Allah Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala merahmati Imam Abu Hanifah yang pernah berkata: “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai daripada kebanyakan (masalah-masalah) fikih, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)”4.

Keteladanan keluarga Salaf dalam berkorban di jalan Allah Ta’ala dan membela kebenaran 

Imam adz-Dzahabi menukil kisah tentang Imam ‘Ashim bin ‘Ali al-Wasithy5, di jaman fitnah khalqul Qur’an6, ketika itu Imam Ahmad bin Hambal ditangkap dan disiksa oleh penguasa karena beliau mempertahankan aqidah Ahlus sunnah, bahwa al-Qur’an adalah firman Allah Ta’ala dan bukan makhluk. Maka ‘Ashim bin ‘Ali al-Washithy berkata di hadapan para ulama Ahlus sunnah lainnya: “Adakah seorang yang mau berdiri bersamaku untuk bersama-sama kita datangi orang ini (khalifah al-Ma’mun) dan menasehatinya (agar meninggalkan perbuatan buruk tersebut)?”. Ketika itu, tidak ada seorangpun yang memenuhi ajakannya, lalu kemudian Ibrahim bin Abi al-Laits berkata: “Wahai Abul Hasan (‘Ashim bin ‘Ali), aku pulang dulu menemui anak-anakku untuk memberi wasiat kepada mereka (sebelum pergi bersamamu)”. Lalu kemudian Ibrahim bin Abi al-Laits datang dan berkata (kepada kami): “Aku pulang menemui anak-anakku dan mereka menangis (karena takut aku akan disiksa atau dibunuh)”. Pada waktu itu, datang sepucuk surat dari dua putri Imam ‘Ashim bin ‘Ali dari kota Wasith (yang isinya): “Wahai ayah kami, sungguh telah sampai kepada kami (berita) bahwa orang ini (khalifah al-Ma’mun) telah menangkap dan memukul (menyiksa) Imam Ahmad bin Hambal supaya mau mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Maka (wahai ayah kami), bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengikuti khalifah itu (dalam pendapatnya yang sesat itu). Demi Allah, sungguh jika datang kepada kami berita tentang kematianmu, ini lebih kami sukai daripada berita bahwa engkau mengikutinya (dalam pendapatnya yang sesat itu)”7.

Lihatlah teladan agung dalam berkorban di jalan Allah Ta’ala dan membela aqidah Ahlus sunnah dalam kisah di atas!

Para keluarga Salaf telah terdidik untuk mengagungkan dan mengutamakan kebenaran, apalagi yang berhubungan dengan iman dan keyakinan tentang kemahasempurnaan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala, bahkan mereka meyakini ini semua lebih berharga daripada apapun yang paling mereka cintai di dunia ini, termasuk harta benda maupun anggota keluarga yang terdekat. Mereka benar-benar memahami makna al-wala’ wal bara’ (cinta dan benci karena Allah Ta’ala) yang Allah Ta’ala nyatakan dalam firman-Nya:

{لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, dan Dia menempatkan mereka di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (QS al-Mujaadilah: 22).

Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini berkata: “…Seorang hamba tidak akan menjadi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat dengan (keimanan) yang sebenarnya kecuali setelah dia mengamalkan kandungan dan konsekuensi imannya, yaitu mencintai dan berloyalitas kepada orang-orang yang beriman (kepada Allah), serta membenci dan memusuhi orang-orang yang tidak beriman, meskipun mereka orang yang terdekat hubungannya dengannya”8.

Keteladanan keluarga Salaf dalam menjauhi sifat rakus terhadap harta meskipun dalam keadaan miskin dan kekurangan

Imam Ibnul Jauzi menukil kisah dari jaman para Salaf, tentang seorang lelaki dari Bagdad yang bernama ‘Abdullah, dia akan melakukan ibadah haji dan membawa titipan uang sepuluh ribu dirham dari pamannya yang berpesan kepadanya: “Jika kamu telah sampai di kota Madinah, maka carilah keluarga yang paling miskin di sana, lalu berikanlah uang ini kepada mereka (sebagai sedekah)”. Abdullah berkata: Ketika aku telah sampai di Madinah, maka aku bertanya (kepada orang lain) tentang keluarga yang paling miskin di Madinah. Lalu aku ditunjukkan sebuah rumah, maka (akupun mendatanginya), kemudian aku mengetuk pintu dan seorang perempuan (dari dalam rumah) menjawab ketukanku. Dia berkata: “Siapakah anda”, maka aku menjawab: “Aku seorang yang datang dari Baghdad, aku dititipkan (uang sebesar) sepuluh ribu dirham dan aku dipesan untuk menyerahkannya (sebagai sedekah) kepada keluarga yang paling miskin di Madinah, dan orang-orang telah menceritakan keadaan kalian kepadaku, maka ambillah uang ini!”. Perempuan itu menjawab: “Wahai ‘Abdullah, orang yang menitipkan uang itu kepadamu mensyaratkan keluarga yang paling miskin (di Madinah yang berhak menerimanya), dan keluarga yang (tinggal) di depan (rumah) kami lebih miskin daripada kami, (berikanlah uang itu pada mereka)!”. Akupun meninggalkan rumah itu dan mendatangi rumah keluarga di depannya, lalu aku mengetuk pintu dan seorang perempuan (dari dalam rumah) menjawab ketukanku. Kemudian aku katakan padanya seperti yang aku katakan kepada perempuan yang pertama. Maka perempuan itu menjawab: “Wahai ‘Abdullah, kami dan tetangga kami itu sama-sama miskin, maka bagilah uang itu untuk kami dan mereka”9.

Renungkanlah kisah di atas! Mereka benar-benar menjaga diri dari sifat rakus dan tamak terhadap harta, yang mana sifat inilah menjadikan seorang manusia selalu berambisi mengumpulkannya meskipun dengan cara yang tidak halal dan mengambil yang bukan haknya. 

Mereka benar-benar memahami sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalianpun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka”10.

Arti sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam “…sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian”, yaitu: dunia menjerumuskan kalian ke dalam (jurang) kebinasaan, disebabkan persaingan yang tidak sehat untuk mendapatkannya, kecintaan yang berlebihan terhadapnya dan kesibukan dalam mengejarnya sehingga melalaikan dari mengingat Allah Ta’ala dan balasan di akhirat11.

Kemudian, akhlak mulia yang mereka miliki ini juga melahirkan sifat mulia lainnya, yaitu al-iitsaar (mendahulukan saudara sesama muslim) dan rela berbagi bersamanya, meskipun dalam hal yang juga dibutuhkannya.

Sifat mulia ini yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman dan dipuji oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

{وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ}

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka membutuhkan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS al-Hasyr: 9).

Keteladanan keluarga Salaf dalam meninggalkan perbuatan maksiat sejak usia dini

Imam Abu Bakar al-Marwazi12 berkata: “Aku pernah datang ke rumah Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad bin Hambal), maka aku melihat seorang wanita (tukang sisir) sedang menyisir (rambut) anak perempuannya yang masih kecil. Setelah itu aku bertanya kepada tukang sisir tersebut: Apakah kamu menyambung rambutnya dengan qaraamil13? Maka tukang sisir itu berkata: Anak kecil itu menolak (dengan keras) dan berkata: Sesunguhnya ayahku melarangku (melakukan itu) dan dia akan marah (kalau aku melakukannya)14.

Lihatlah bagaimana pengaruh positif didikan sang ayah dari anak kecil ini dalam berpegang teguh dengan perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan larangan-Nya, dan tentu ini tidaklah mengherankan, karena ayahnya adalah Imam besar Ahlus Sunnah, Imam Ahmad bin Hambal15.

Tentu beliau telah mengajarkan kepada putri kecilnya ini hadits riwayat ‘Aisyah radhiallahu’anha bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melaknat perempuan yang menyambung rambutnya dan perempuan yang meminta disambung rambutnya16.

Keteladanan keluarga Salaf dalam menghadiri majelis ilmu dan mengunjungi orang-orang yang shaleh sejak kecil, untuk meneladani akhlak mereka.

Imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah kisah dari seorang ulama Salaf yang terkenal, Ibrahim al-Harbi17. Dari Muqatil bin Muhammad al-‘Ataki, beliau berkata: Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku: “Mereka ini anak-anakmu?”. Ayahku menjawab: “Iya”. (Maka) beliau berkata (kepada ayahku): “Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka”18.

Imam Ibrahim bin Adham19 berkata: “(Ketika aku masih kecil) ayahku berkata kepadaku: Wahai anakku, tuntutlah ilmu hadits, setiap kali kamu mendengar sebuah hadits dan menghafalnya maka kamu dapat (uang) satu dirham”. Maka akupun menuntut ilmu hadits karena motivasi itu”20.

Imam al-Khathib al-Bagdadi menukil kisah dari Imam al-A’masy21, ketika beliau sedang menyampaikan hadits di hadapan anak-anak yang masih kecil, maka ada yang bertanya kepada beliau: “Kamu menyampaikan hadits di hadapan anak-anak yang masih kecil ini?”. Imam al-A’masy berkata: “Anak-anak yang masih kecil inilah yang akan menjaga agamamu”22.

Renungkanlah kisah di atas, bagaimana para ulama Salaf membiasakan anggota keluarga mereka, sejak usia anak-anak, untuk selalu menghadiri majelis ilmu dan kajian-kajian Islam untuk kebaikan agama mereka, serta bergaul dan mengunjungi orang-orang yang shaleh dalam rangka meneladani akhlak mulia mereka. Mereka memahami bahwa jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk selalu meniru dan mengikuti orang lain yang dikaguminya dan selalu dekat dengannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Ruh-ruh (jiwa) manusia adalah kelompok yang selalu bersama, maka yang saling bersesuaian di antara mereka akan saling dekat, dan yang tidak bersesuaian akan saling berselisih”23.

Inilah salah satu di antara tujuan terbesar Allah Ta’ala menceritakan kisah-kisah keteladanan para Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam banyak ayat al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:

{وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ}

“Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Huud: 120).

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi kebaikan bagi kita semua.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 28 Rabi’ul awwal 1436 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, Lc., MA.

Artikel Muslim.or.id

___

1 Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh Imam al-Hakim sendiri dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi.

2 HSR al-Bukhari (1/48, no. 97).

3 Lihat kitab “Ma’aalimu fi thariiqi thalabil ‘ilmi” (hlmn 132).

4 Dinukil oleh imam Ibnu ‘Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitab “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi” (no. 595).

5 Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (9/262).

6 Fitnah dari kelompok Mu’tazilah yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk dan bukan firman Allah Ta’ala, mereka berhasil mempengaruhi khalifah dan para penguasa di jaman tersebut, sehingga mereka menyiksa para ulama Ahlus sunnah yang tidak mau mengucapkan keyakinan sesat dan kufur tersebut.

7 Kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (9/264).

8 Taisiirul Kariimir Rahman (hal. 623).

9 Kitab “Shifatush shafwah” (2/206).

10 HSR al-Bukhari (no. 2988) dan Muslim (no. 2961).

11 Lihat catatan kaki kitab “Shahiihul Bukhari” (3/1152).

12 Beliau adalah salah seorang murid utama Imam Ahmad bin Hambal, biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (13/173).

13 Penyambung rambut dari benang wol, bulu rambut atau lainnya (an-Nihaayatu fi gariibil hadiitsi wal atsar 4/80).

14 Dinukil oleh imam Ibnul Jauzi dalam “Mana-qibul imaami Ahmad” (hlmn 407).

15 Lihat kitab “Ma’aalimu fi thariiqi thalabil ‘ilmi” (hlmn 134).

16 HSR Muslim (no. 2123).

17 Beliau adalah Imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrahim bin Ishak bin Ibrahim bin Basyir al-Baghdadi al-Harbi (wafat 285 H). Biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala‘” (13/356).

18 Kitab “Shifatush shafwah” (2/409).

19 Beliau adalah Imam besar dan panutan dari generasi Atba’ut tabi’in (wafat 162 H). Biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala‘” (7/387).

20 Dinukil oleh Imam al-Khathib al-Bagdadi dalam kitab “Syarafu ashhaabil hadiits” (hlmn 66).

21 Beliau adalah Sulaiman bin Mahran al-Kahili al-Kufi, Imam besar, penghafal hadits, ahli qira-ah dan syaikhul Islam dari generasi Tabi’in yunior (wafat 147 H). Biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala‘” (6/226).

22 Kitab “Syarafu ashhaabil hadiits” (hlmn 64).

23 HSR al-Bukhari (no. 3158) dan Muslim (no. 2638).

sumber: https://muslim.or.id/27150-teladan-kebaikan-dari-para-keluarga-salafus-shalih.html

SEBERAPA BESARKAH BAHAYA UJUB?

Sifat Ujub termasuk sifat yang tercela, bahkan Allah dan Rasul-Nya melarangnya terhadap sifat tersebut. Hanya saja terkadang sebagian manusia tidak merasa akan adanya sifat ujub dalam dirinya, ia merasa dirinya paling tinggi / paling mulia di sebabkan karena ibadahnya, belajarnya, ilmunya, dan lain sebagainya. Padahal ini sangat membahayakan bagi dirinya.

Diantara dalilnya adalah sebagaimana dalam Al-qur’an surat At-Taubah: 25, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

…وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (25)

Artinya:

“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai”.

  • Mari kita mencoba perhatian pada hadits-hadits berikut ini, Kira-kira Kenapa Sifat Ujub dianggap Sebagai Sifat Yang Paling Berbahaya???

Jawabannya:

  1. Ujub Salah Satu Sifat Yang Membinasakan Seseorang

عَنِ ابْنِ عُمَرَ وأنس رضي الله عنهما قَالَا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ:شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.

Artinya:

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tiga perkara yang dapat membinasakan seseorang: (1) Sifat Bakhil Yang di ta’ati, (2) Hawa Nafsu yang di ikuti, (3) Ujub Pada Dirinya Sendiri”

(Hadits Hasan, HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/203), Al-Bazzar dalam Musnadnya (13/486), dll. Di nilai hasanoleh Imam Al-Mundziri dan Syeikh Al-Albani (Lihat: Shahihul Jami’: 3045))

 SYARAH :

Makna Al-Halak/Kebinasaan disini adalah kebinasaan bagi pelakunya sendiri.

Makna Lafadz: “Sukh-khun” adalah Sifat Yang Sangat Bakhil, Makna Syukh-khul Mutho’adalah sifat bakhil seseorang yang di ikuti / diteladani oleh manusia sehingga mereka tidak menunaikan hak nya, seperti zakat, nafkah, dll.

Makna: Hawan Muttaba’ adalah mengikuti apa yang diperintahkan oleh hawa Nafsunya,

I’jabul mar’i binafsih (Ujub terhadap dirinya sendiri).(Lihat: At-Taisir Bi Syarhi Al-Jami’is Shoghir Karya Imam Al-Munawi (1/470)).

Dalam riwayat Al-Bazzar disebutkan:

وإعجاب المرء برأيه

(Artinya:) “Ujub terhadap pemikirannya sendiri” (Musnad Al-Bazzar (13/486))

Sebagian ulama’ mengatakan bahwa “Diantara akibat buruk ujub adalah menghalangi hidayah taufiq dari Allah, karena itulah ujub termasuh tercela, jika seorang hamba telah terputus dari hidayah taufiq dari Allah maka ia akan semakin cepat mendapatkan kebinasaan”. (Faidhul Qodir (3/307))

Imam Al-Munawi dalam syarahnya menyebutkan dalil Al-Qur’an tentang kisah orang yang ujub, seperti ujubnya Qorun. Allah ta’ala berfirman, dalam surat Al-Qashash:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي..

“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”

lalu Allah melanjutkan firmannya:

… فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ

“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi”.

Ayat ini adalah sebuah contoh sifat ujub yang menghasilkan kebinasaan.” (Faidul Qodir” (3/307))

Di hikayatkan bahwa nabi Isa bin Maryam Alaihis Salam pernah berkata: “Wahai kaum Hawariyyun, betapa banyak lentera (lampu) dapat dipadamkan oleh angin, dan betapa banyak orang yang ahli ibadah dapat di padamkan oleh sifat ujub”.(Faidul Qodir” (3/307))

  1. Kehawatiran Nabi Terhadap “Ujub” [Bagi Orang TA’AT] Lebih Besar Dari Pada “Perbuatan Dosa” Yang Dilakukan Oleh Pelaku MA’SIYAT.

عن أنس قال: قال رسول اللهصلى الله عليه وسلم:“لو لم تكونوا تذنبون خشيت عليكم أكثر من ذلك: العجب، العجب”.

Artinya:

Dari Anas Rodhiyallahu Anhu berkata: Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Kalaupun kalian tidak suka berbuat dosa, [namun] saya lebih banyak kehawatirannya [satu sifat] yang akan menimpa pada kalian, yaitu Sifat Ujub, Sifat Ujub.”

(Hadits Hasan, HR Al-Qodho’i dalam Musnad Asy-Syihab (1/117), dll. Di nilai hasan oleh Imam Al-Mundziri, Al-Munawi, dan Syeikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shohihah (2/260))

SYARAH:

Imam Abdurro’uf Al-Munawi Rahimahullah berkata: “Pengulangan Nabi 2 kali [Sifat Ujub, Sifat Ujub] ini agar orang lari (menghindar) dari sifat ini, dan Perkataan berlebihan ini sebagai Peringatan,  Hal itu dikarenakan:

“Bahwasanya Orang Yang berbuat Maksiat itu senantiasa mengetahui kekurangannya, sehingga ia berharap untuk bisa bertaubat, hal ini berbeda dengan Orang Yang Ujub pada dirinya, ia sebenarnya tertipu dengan Amal kebaikannya, dan sangat jauh untuk bisa bertaubat [dari sifat Ujubnya].” (Lihat: At-Taisir Bi Syarhi Al-Jami’is Shoghir Karya Imam Al-Munawi (2/312)).

 Perkataan Ulama’ Salaf tentang kehawatiran sifat Ujub:

  • Imam Muthorrif [bin Abdullah] Rahimahullah berkata: “Lebih baik saya tidur dimalam hari lalu di pagi harinya menyesal, daripada malam harinya melakukan sholat malam lalu di pagi harinya timbul rasa Ujub.”(Lihat: Syarah Shohih Al-Bukhori Karya Ibnu Bath-thol (9/239))
  • Imam Ja’far bin Muhammad Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya seorang yang berbuat dosa [maksiyat] itu lebih baik daripada seorang mukmin yang Ujub [dengan ketaatannya], sekiraya kalau bukan karena dosa Ujub niscaya orang mukmin tersebut akan di uji dengan perbuatan-perbuatan dosa.” (Disebutkan oleh Ibnu Muflih Al-Maqdisi dalam “Al-Adab Asy-Syar’iyyah: (2/209))

Begitu pula ada seorang ulama’ yang bernama Basyir bin Mansur Rahimahullah yang terkenal rajin beribadah, pernah suatu ketikaia mengingat Allah dan mengingat negeri Akhirat dalam ibadahnya, maka beliau segera mengerjakan shalat dengan bacaan yang sangat panjang, lalu tiba-tiba ada orang yang memperhatikan panjangnya shalat beliau, dan beliau megetahuinya. Tatkala beliau selesai shalat, maka beliau berkata kepada orang yang memperhatikan tadi: “Janganlah engkau takjub terhadap ibadahku, (Ingatlah) Sesungguhnya Iblis yang telah dilaknat oleh Allah sebelumnya adalah hamba yang sangat kuat ibadahnya kepada Allah, beribadah bersama para malaikat dalam waktu yang sangat panjang, namun apa yang terjadi setelah itu? (ya’ni: kebinasaan yang ia dapatkan di karenakan ujub dan sombong).(Ihya’ (3/370))

  1. Sifat Ujub Menyebabkan Lupa Akan Memikirkan Kondisi di Akhir Hayatnya

 عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَعْجَبُوا بِعمل أَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ” (صحيح، أخرجه ابن أبي عاصم في السنة (1/174) وأحمد في مسنده (19/246)، صححه الشيخ الأرناؤوط والألباني وغيره)

Artinya:

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

“Janganlah kalian merasa terkagum-kagum  dengan amalan salah seorang dari kalian hingga kalian dapat melihat amalan di akhir hayatnya,

Sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk ke dalam surga, namun ternyata ia berubah [di akhir hayatnya] dan beramal dengan amal keburukan [maka ia termasuk ahli neraka]. 

Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk neraka, namun ternyata ia berubah dan beramal dengan amal kebaikan [maka ia termasuk ahli Surga]. 

Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Ia akan membuatnya beramal baik sebelum kematiannya, ” para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?” beliau bersabda: “Allah akan Memberinya taufik untuk beramal kebaikan –pada akhir hayatnya-, setelah itu Ia mewafatkannya.”

[Shohih, HR Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (1/174), Ahmad dalam Musnadnya (19/246), dll. Di nilai shohih oleh Imam Al-Haitsami, Syeikh Syu’aib Al-Arna’ut, Syeikh Al-Albani, dll (Lihat: Silsilah Al-Ahadits As-Shohihah: 1334)]

Maka dari itulah hendaknya kita memohon kepada Allah Subhanahu Wata”ala agar di selamatkan dari bahaya sifat ujub, sombong, dan sifat buruk lainnya. Dan semoga Allah Subhanahu Wata”ala menjadikan kita untuk dapat meninggal dalam keadaaan khusnul kotimah.

  • Do’a Memohon Khusnul Khotimah

 Dalam Al-Qur’an Surat Yusuf, Ayat: 101, Tentang Do’a Nabi Yusuf :

أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Artinya :

[Wahai Tuhan Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, Wafatkanlah aku dalam keadaan berserah diri kepada-Mu dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang sholih.” 

Do’a berlindung Dari Sifat Nifaq. Riya’, Al-Ghil, dll:

Terdapat Atsar Dari Ali bin Abu Tholib Pernah Berdo’a:

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ، وَصَدْرِي مِنَ الْغِلِّ، وَأَعْمَالِي مِنَ الرِّيَاءِ، وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ، وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ، وَبَارِكْ لِي فِي سَمْعِي وَقَلْبِي، وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Artinya:

Ya Allah, Sucikan hatiku dari Sifat Nifaq, dari Ghill (dengki), dan (sucikan) amal-amalku dari Riya’, (sucikan) mataku dari khiyanat, (sucikan) lisanku dari perkataan dusta, dan berkahilah pendengaran dan hatiku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya engkau Maha Penerima Taubat, dan Maha Penyayang.” [Hasan, Atsar Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya (6/66)]

 Maroji”:

Taisir Bi Syarhi Al-Jami’is Shoghir Karya Imam Al-Munawi

Syarah Shohih Al-Bukhori Karya Ibnu Bath-thol

Silsilah Al-Ahadits As-Shohihah Karya Syeikh Al-Albani

Majma’ Az-Zawa’id Wa Manba’ul Fawa’id Karya Imam Al-Haitsami

Oleh Lilik Ibadurrahman, S.Ud.

sumber: http://kuncikebaikan.com/seberapa-besarkah-bahaya-ujub/

Inilah Hikmah Di Balik Cobaan yang Belum Engkau Tahu

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah …

Ketahuilah … Allah Taala akan menguji setiap hamba-Nya dengan berbagai musibah, dengan berbagai hal yang tidak mereka sukai, juga Allah akan menguji mereka dengan musuh mereka dari orang-orang kafir dan orang-orang munafiq. Ini semua membutuhkan kesabaran, tidak putus asa dari rahmat Allah dan tetap konsisten dalam beragama. Hendaknya setiap orang tidak tergoyahkan dengan berbagai cobaan yang ada, tidak pasrah begitu saja terhadap cobaan tersebut, bahkan setiap hamba hendaklah tetap komitmen dalam agamanya. Hendaknya setiap hamba bersabar terhadap rasa capek yang mereka emban ketika berjalan dalam agama ini.

Sikap seperti di atas sangat berbeda dengan orang-orang yang ketika mendapat ujian merasa tidak sabar, marah, dan putus asa dari rahmat Allah. Sikap seperti ini malah akan membuat mereka mendapat musibah demi musibah. 

Renungkanlah …

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ 

“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)

Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً 

“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

Semoga kita yang sedang mendapat ujian atau musibah merenungkan hadits-hadits di atas. Sungguh ada sesuatu yang tidak kita ketahui di balik musibah tersebut. Maka bersabarlah dan berusahalah ridho dengan taqdir ilahi. Sesungguhnya para Nabi dan orang sholeh dahulu juga telah mendapatkan musibah sebagaimana yang kita peroleh. Lalu kenapa kita harus bersedih, mengeluh dan marah? Bahkan orang sholeh dahulu -sesuai dengan tingkatan keimanan mereka-, mereka malah memperoleh ujian lebih berat. Cobalah kita perhatikan perkataan ulama berikut.

Al Manawi mengatakan, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta (tertutupi). Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.” (Faidhul Qodhir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/518, Asy Syamilah)

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah, baik dengan hati lisan atau pun anggota badan. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang selalu ridho dengan taqdir-Mu.

Sumber Rujukan Utama : Syarh Qowaidil Arba, Syaikh Sholih bin ‘Abdillah Al Fauzan

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/27-inilah-hikmah-di-balik-cobaan-yang-belum-engkau-tahu.html

[Belajar Tauhid] 65. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 12

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Diantara amalan yang bermanfaat untuk mendapat syafa’at Nabi adalah :

  1. Merealisasikan Tauhid.
  2. Membaca Al-Qur’an.
  3. Puasa.
  4. Doa Setelah Adzan.
  5. Tinggal di Kota Madinah.
  6. Bershalawat Kepada Nabi.
  7. Shalat Jenazah Dari 40 Lelaki Yang Bertauhid.
  8. Memperbanyak Sujud.

Selanjutnya kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 12. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

“ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Jujur, Kiat Menuju Selamat

Mukadimah

Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.

Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda,

“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

Definisi Jujur

Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.

Imam Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).

Allah berfirman,

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. al-Maidah: 119)

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33)

Keutamaan Jujur

Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi,

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”

Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.

Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.

Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,

“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”

Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.

Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.

Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya -dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruf), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam salatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khiyanat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.

Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang berikut,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. at-Taubah: 119)

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS. al-Maidah: 119)

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)

“Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)

Nabi bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.”

Macam-Macam Kejujuran

  1. Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.
  2. Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
  3. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:
    “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. at-Taubah: 75-76)
  4. Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.’”
  5. Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15)

Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.

Khatimah

Orang yang selalu berbuat kebenaran dan kejujuran, niscaya ucapan, perbuatan, dan keadaannya selalu menunjukkan hal tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi untuk memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran sebagaimana firman Allah,

“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Isra’: 80)

Allah juga mengabarkan tentang Nabi Ibrahim yang memohon kepada-Nya untuk dijadikan buah tutur yang baik.

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. asy-Syu’ara’: 84)

Hakikat kejujuran dalam hal ini adalah hak yang telah tertetapkan, dan terhubung kepada Allah. Ia akan sampai kepada-Nya, sehingga balasannya akan didapatkan di dunia dan akhirat. Allah telah menjelaskan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, dan memuji mereka atas apa yang telah diperbuat, baik berupa keimanan, sedekah ataupun kesabaran. Bahwa mereka itu adalah orang-orang jujur dan benar. Allah berfirman,

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 177)

Di sini dijelaskan dengan terang bahwa kebenaran itu tampak dalam amal lahiriah dan ini merupakan kedudukan dalam Islam dan Iman. Kejujuran serta keikhlasan keduanya merupakan realisasi dari keislaman dan keamanan.

Orang yang menampakkan keislaman pada dhahir (penampilannya) terbagi menjadi dua: mukmin (orang yang beriman) dan munafik (orang munafik). Yang membedakan diantara keduanya adalah kejujuran dan kebenaran atas keyakinannya. Oleh sebab itu, Allah menyebut hakekat keimanan dan mensifatinya dengan kebenaran dan kejujuran, sebagaimana firman Allah,

“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hasyr: 8)

Lawan dari jujur adalah dusta. Dan dusta termasuk dosa besar, sebagaimana firman Allah,

“Kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61)

Dusta merupakan tanda dari kemunafikan sebagaimana yang disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara, yaitu apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mungkiri dan apabila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Bukhari, Kitab-Iman: 32)

Kedustaan akan mengantarkan kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan akan menjerumuskan ke dalam neraka. Bahaya kedustaan sangatlah besar, dan siksa yang diakibatkannya amatlah dahsyat, maka wajib bagi kita untuk selalu jujur dalam ucapan, perbuatan, dan muamalah kita. Dengan demikian jika kita senantiasa menjauhi kedustaan, niscaya kita akan mendapatkan pahala sebagai orang-orang yang jujur dan selamat dari siksa para pendusta. Waallahu A’lam.

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. az-Zumar: 32-35)

Referensi:

  1. Makarimul-Akhlaq, karya Syakhul-Islam Ibn Taimiyah ; cet. Ke-1. 1313 ; Dar- alkhair, Bairut, Libanon.
  2. Mukhtashar Minhajul-Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Maktabah Dar Al-Bayan, Damsiq, Suria.
  3. Mukhtarat min Al-Khutab Al-Mimbariah, karya Syaikh Shalih ibn Fauzan ; cet. Ke – 1, Jam’iayah Ihya’ At-Turats Al-Islamy.
  4. Syarh Riyadhus As-Shalihin, karya Syaikh Mahammad ibn Shalih Al-Utsaimin ; cet – 1 ; Dar- Wathan, Riyadh, KSA.

(Diambil dari majalah Fatawa)

sumber: https://muslim.or.id/38-jujur-kiat-menuju-selamat.html