Rezeki Tidak Sama, Apa Hikmahnya?

Perhatikanlah lingkungan sekitar Anda! Pasti Anda akan dapati perbedaan tingkat kehidupan orang-orangnya.

Ada yang kaya raya, punya rumah mewah, kendaraan berderet bak showroom di garasinya. Uangnya jangan ditanya, perhiasannya pun membuat mulut kita menganga. Sementara itu, makanan yang tersaji di meja hidangannya membuat kita geleng-geleng kepala. Dia bisa bepergian ke mana dia suka, berlibur dari satu negara ke negara lain adalah hal yang biasa.

Anda dapati ada lagi si miskin papa, berumah reyot dengan dinding hampir roboh, berpakaian kusam dan penuh tambalan, makan cukup dengan sepotong tempe atau krupuk.

Yang lebih prihatin ada lagi, mereka yang Anda lihat menggelandang di emperan, tidur di atas tanah berhampar koran, langit yang menjadi atap. Tak terbayang dingin menusuk saat malam tiba, apatah lagi ketika hujan turun sementara tubuh mereka hanya dibungkus pakaian yang compang-camping. Makan hanya dengan mengharap belas kasih orang-orang. Makanan basi penghuni tong sampah tidak ditolak sebagai pengganjal perut daripada harus menanggung sakitnya rasa lapar. Sungguh mengenaskan!

Ada lagi yang hidupnya pertengahan, tidak kaya berlebihan, tidak pula kekurangan.

Bisa jadi, pernah terpikir di benak Anda, mengapa harus ada si miskin dan si kaya? Si ‘papa’ dan si konglomerat? Mengapa manusia tidak disamakan saja rezekinya?

Jawabannya, Allah ‘azza wa jalla ar-Razzaq, Dzat yang memberikan rezeki dan membagi-baginya di antara para hamba-Nya, memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan, dalam melapangkan dan menyempitkan rezeki para hamba-Nya. Dia memiliki hikmah yang agung dalam hukum dan penetapan syariat. Seluruh hukum syariat-Nya adil, penuh rahmat dan sarat hikmah, serta memberi kemaslahatan bagi para hamba di dunia dan akhirat mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

“Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

Dia Maha Terpuji dalam pemberian-Nya kepada para hamba dan Maha Terpuji pula ketika Dia menahan pemberian-Nya. Kewajiban para hamba adalah mensyukuri-Nya ketika Dia memberi kelapangan rezeki kepada mereka disertai dengan menunaikan apa yang diwajibkan-Nya kepada mereka dalam rezeki tersebut.

Sebaliknya, para hamba wajib bersabar dengan takdir Allah ‘azza wa jalla ketika Dia menyempitkan rezeki mereka. Allah ‘azza wa jalla lebih tahu apa yang paling bermaslahat bagi mereka daripada diri mereka sendiri. Allah ‘azza wa jalla lebih sayang kepada mereka daripada sayangnya ibu dan ayah kandung mereka.

Allah ‘azza wa jalla memang tidak menyamakan pembagian rezeki di antara para hamba-Nya. Ada yang dilapangkan dan ada yang disempitkan karena hikmah-Nya yang agung dan bernilai tinggi.

Berikut ini kita petikkan apa yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam sebuah khutbah beliau yang tersimpan dalam kitab adh- Dhiya’u al-Lami’ min al-Khuthab al-Jawami’ (1/169—171) tentang hikmah pembagian rezeki yang berbeda-beda.

Allah ‘azza wa jalla membagi rezeki tidak sama di antara para hamba-Nya, agar mereka mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla lah yang mengatur seluruh urusan. Di tangan-Nya lah penguasaan dan pengaturan langit serta bumi. Dia melapangkan rezeki sebagian hamba-Nya dan menyempitkan sebagian yang lain. Tidak ada yang bisa menolak takdir dan ketetapan-Nya.

لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١٢

“Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi. Dia melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (asy-Syura: 12)

Allah ‘azza wa jalla membedakan pembagian rezeki-Nya agar manusia mengambil pelajaran dengan adanya perbedaan di dunia ini tentang adanya perbedaan derajat di akhirat kelak.

Di dunia ini manusia berbeda-beda penghidupannya. Di antara mereka ada yang tinggal di istana megah nan menjulang, menaiki kendaraan yang mewah dan mahal, berbolak-balik dalam kebahagiaan dan kesenangan di tengah-tengah harta, keluarga, dan anak-anaknya. Di antara mereka ada yang tidak memiliki tempat bernaung, tidak ada keluarga, tidak ada harta, tidak ada anak, hidup sebatang kara. Di antara mereka ada yang pertengahan, di antara itu dan ini, dengan derajat yang berbeda.

Demikian pula derajat di akhirat kelak, lebih besar, lebih nyata, dan lebih kekal.

ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا ٢١

“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka di atas sebagian yang lain. Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (al-Isra: 21)

Apabila sepeti itu keadaan akhirat dibandingkan dengan dunia, sepantasnya manusia berlomba-lomba untuk meraih derajat yang tinggi di kehidupan yang lebih kekal abadi, yaitu negeri akhirat. Orang yang cerdas tentu mendambakan yang lebih kekal. Untuk perlombaan inilah orang-orang yang cerdas rela berlomba, tidak untuk dunia!

Allah ‘azza wa jalla membagi rezeki dengan berbeda-beda, agar orang yang kaya dapat menghargai kadar nikmat yang dimudahkan kepadanya. Dia pun bersyukur kepada Dzat Yang Memberikan nikmat sehingga tergolong hamba-hamba yang bersyukur.

Sebaliknya, orang yang fakir mengetahui ujian yang diterimanya berupa kefakiran, lalu bersabar sehingga mencapai derajat hamba-hamba yang bersabar. Telah diberitakan bahwa orang yang bersabar akan beroleh pahala tanpa batas.

Bersamaan dengan kesabarannya, si fakir harus terus memohon kemudahan kepada Rabbnya dan menanti kelapangan dari-Nya tanpa pernah berputus asa dari rahmat-Nya.

Allah ‘azza wa jalla membagi-bagi rezeki-Nya agar tercapai maslahat agama dan dunia para hamba-Nya. Andai semuanya beroleh kelapangan rezeki dan menjadi orang kaya, niscaya manusia akan melampaui batas di muka bumi dengan berbuat kekafiran, kezaliman, dan kerusakan. Kelapangan dan kemudahan hidup membuat mereka lupa diri.

Sebaliknya, apabila semua mereka disempitkan rezekinya dan semua menjadi orang miskin, niscaya akan timbul ketimpangan dalam tatanan hidup mereka.

Apabila semua manusia rezekinya sama, niscaya sebagiannya tidak bisa menjadikan sebagian yang lain sebagai ejekan, sehingga tidak ada ujian sebagai tempaan keimanan. Sebagiannya tidak bisa menjadikan yang lain sebagai pekerja. Sebagiannya tidak menjadi pelayan bagi yang lain. Yang satu tidak membuat sesuatu untuk yang lain, karena semuanya berderajat sama.

Apabila seperti itu keadaannya, di mana rasa kasih sayang si kaya terhadap si miskin? Andai semua berderajat sama, bagaimana penerapan menyambung silaturahmi dengan menginfakkan harta kepada karib kerabat?

Jelas sekali, banyak kemaslahatan akan hilang seandainya manusia sama rezekinya. Karena itulah, wajib bagi kita kaum muslimin untuk ridha Allah ‘azza wa jalla sebagai Rabb kita, ridha dengan pembagian rezeki-Nya, ridha dengan hukum-Nya, serta beriman dengan hikmah dan rahasia-Nya.

ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٦٢

“Allah-lah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ankabut: 62)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

sumber: https://asysyariah.com/rezeki-tidak-sama-apa-hikmahnya/

Berubahlah Menjadi Lebih Baik

Kehidupan ini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan itu akan selalu berjalan terus. Berubah dari anak kecil menjadi dewasa, berubah dari tidak bisa menjadi bisa dan begitu juga dengan perubahan yang lainnya. Karena waktu berjalan terus dan perubahan akan selalu mengikutinya.

Tetapi dari sekian banyak perubahan hanya dua yang membedakannya yaitu berubah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk.Tergantung kita memilih berubah ke arah mana?

Sungguh beruntunglah orang yang senantiasa memperbaiki dirinya menjadi lebih baik. Dari segi apapun bentuknya.

Banyak kita jumpai seseorang dalam kehidupannya bergelimang dalam dosa tetapi di akhir hayatnya ia khusnul khotimah.

Tidak jarang juga kita jumpai seseorang yang dulunya berjilbab pendek tetapi sekarang begitu anggun dengan jilbab besarnya.

Ingatkah kita dengan beberapa para sahabat dalam kehidupannya sebelum mendapat hidayah adalah seorang penjahat tetapi ketika hidayah merasuk ke dalam relung hatinya ia begitu sholeh dan menjadi panglima perang.

Seringkali kita temui seorang pemuda yang dulunya berfoya-foya tetapi sekarang kita temui begitu sholehnya, terlihat dari raut mukanya dan akhlaknya.

Oleh karenanya tidak ada waktu lagi untuk menunda memperbaiki diri menjadi lebih baik. Berubahlah menjadi lebih baik!

@ Wisma MPD Yogyakarta, 29 September 2015
Penulis : Agus Budi Prasetyo

sumber: https://muslimplus.or.id/2015/10/12/berubahlah-menjadi-lebih-baik/

[Kitabut Tauhid] 69. Keutamaan memurnikan tauhid 34

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

  • Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali dalam keadaan asing. Maka keberuntungan itu ada pada orang-orang yang asing karena istiqamah diatas agama Allâh -‘Azza wa Jalla-.  Dan keterasingan itu terjadi ketika sudah maraknya kejelekan dan kesesatan. 
  • Kita tidak boleh silau dengan jumlah yang banyak dan tidak boleh pesimis dengan jumlah yang sedikit.

selanjutnya kita akan mempelajari Keutamaan memurnikan tauhid 34. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

matan kitabut tauhid (PDF)

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Menggapai Kemuliaan Dengan Tawadhu

Sabda Rasûlullâh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

مَا مِنْ آدَمِيْ إلاَّ فِيْ رَأْسِهِ حَكَمَةٌ بِيَدِ مَلَكٍ فَإِذَا تَوَاضَعَ قِيْلَ لِلْمَلَكِ ارْفَعْ حَكَمَتَهُ وَإِذَا تَكَبَّرَ قِيْلَ لِلْمَلَكِ ضَعْ حَكَمَتَهُ.

Tidak ada seorang bani Adam kecuali ada dikepalanya hakamah (seperti tali kekang kuda) ditangan seorang malaikat. Jika dia bertawadhu (rendah diri) maka dikatakan kepada malaikat tersebut: angkat hakamahnya dan jika sombong dikatakan kepada malaikat tersebut: pakaikan hakamahnya.

T AKHRIJ HADITS 
Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu oleh Imam ath Thabraniy dalam al Mu’jam al Kabîr3/182/1. Pada sanadnya ada Ali bin Zaid bin Jud’ân seorang perawi yang memiliki sedikit kelemahan dalam hafalannya, sebagian ulama masih menganggap baik atau hasan haditsnya. Demikian juga al Hâkim rahimahullah meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang sama dalam al Mustadrak 2/591. Adz Dzahabiy rahimahullah berkata: “Sanadnya baik”. Al Haitsamiy rahimahullah dalam Majma’ Zawâ’id 8/82 berkata: “Diriwayatkan oleh at Thabraniy dan sanadnya hasan”. Demikian juga Imam al Mundziriy rahimahullah dalam at Targhîb 4/16 menghasankan sanad hadits ini. Al Uqailiy rahimahullah dalam adh Dhu’afa’ no. (427), Ibnu Adi rahimahullah dalam al Kâmil 2/322 dan adh Dhiya’ rahimahullah dalam al Muntaqâ Min Masmu’âtihi Bi Marw meriwayatkan dari al Minhâl bin Kholîfah dari Ali bin Zaid bin Jud’ân dari Sâid  bin al Musayyib dari sahabat Abi Hurairah Radhiyallahu anhu. Syeikh al-Albâni rahimahullah menilai hadits ini sebagai hadits hasan lighairihi dalam kitab Shahih At-Targhib Wa Tarhib no. 2895 dan Silsilah Ahadits Shahihah no. 538.

SYARAH KOSA KATA 
مَا مِنْ آدَمِيْ : Tidak ada seorang manusia pun. 
إلاَّ فِيْ رَأْسِهِ حَكَمَةٌ : Kecuali ada di kepalanya tali kekang yang biasa dipakaikan ke kepala hewan dan mulutnya 
بِيَدِ مَلَكٍ : Bermakna di tangan Malaikat yang ditugaskan untuk itu 
فَإِذَا تَوَاضَعَ : Apabila bersikap tawadhu atau rendah hati 
قِيْلَ لِلْمَلَكِ : Allâh Azza wa Jalla sampaikan kepada Malaikat tersebut 
رْفَعْ حَكَمَتَهُ : Kinâyah dari ketinggian kedudukan dan kehormatan. 
وَإِذَا تَكَبَّرَ قِيْلَ لِلْمَلَكِ ضَعْ حَكَمَتَهُ  : Kinâyah dari kerendahan, karena sombong termasuk sifat rendah dan hina.

SYARAH HADITS 
Tidak ada satu tujuan di dunia ini kecuali manusia berusaha mendapatkannya. Mereka dikendalikan oleh kecintaan untuk memuaskan tabiat mereka. Terkadang mereka dalam menunaikannya tidak melihat perintah dan larangan Allâh Azza wa Jalla . Timbullah setelah itu kerusakan, penyimpangan dan berbagai macam kemaksiatan.

Kemudian Allâh mengutus para rasul yang menyeru tauhid kepada mereka. Mereka mengajak manusia untuk berakhlak mulia, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ  الْأَخْلَاقِ

Aku hanya diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak. [1]

Berbahagialah mereka yang mengikuti petunjuk para rasul dan celakalah orang yang menyelisihi dan meninggalkannya.

Diantara akhlak para rasul dan nabi yang menjadi perhiasan orang-orang shaleh adalah tawaadhu (rendah hati). Demikianlah Allâh perintahkan nabi-Nya Muhammad n untuk bertawadhu dalam firman-Nya:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. [Al-Hijr/15:88]

Bahkan rendah hati menjadi sifat khusus kaum Mukminin, sebagaimana difirmankan Allâh:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. [Al-Furqân/25:63]

Hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu yang mulia ini menjelaskan keutamaan sifat tawâdhu’, semakin rendah hati semakin tinggi kedudukan dan kemuliannya. Semakna dengan hadits ini adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Tidaklah seorang bersifat rendah hati (Tawâdhu’) karena Allâh, kecuali Allâh mengangkatnya. [HR Muslim].

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini mempunyai dua makna:

Pertama: Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan derajatnya di dunia, dan mengokohkan sifat tawadhu’nya dalam hati hingga Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajatnya di mata manusia. 
Kedua: Pahala di akhirat, yakni Allâh Azza wa Jalla akan mengangkat derajatnya di akhirat disebabkan tawadhu’nya di dunia [2] . Oleh karena itu Ibnul Hâj rahimahullah menyatakan: Siapa yang menginginkan ketinggian, maka hendaknya bersifat rendah hati (tawadhu’). [3]

Kemuliaan yang didapatkan dari sifat tawadhu’ dikarenakan beberapa hal, diantaranya: 
1. Tawadhu’ adalah akhlak para nabi dan Rasul.

2. Semua orang menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Tawadhu’ dapat mendatangkan rasa cinta, persaudaraan dan menghilangkan kebencian. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan sesungguhnya Allâh mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” [HR. Muslim no. 2865].

3. Menjalankan perintah Allâh dalam firmanNya:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. [asy-Syu’ara/26: 215]

Syaikh Ibnu Utsaimîn rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah tawadhu’, karena orang yang sombong melihat dirinya bagaikan burung yang terbang di angkasa, maka Allâh Azza wa Jalla memerintahkan untuk merendahkan sayapnya dan merendahkan diri terhadap orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ” [4]

4. Tawâdhu’ adalah Perangai Ibadurrahmân, seperti dijelaskan dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Alloh yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. [al-Furqân/25:63]

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan: “Firman Allâh Azza wa Jalla berjalan di atas bumi dengan rendah hati yaitu mereka berjalan dengan tenang, penuh dengan ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong.” [5]

Dengan demikian sudah selayaknya bagi setiap Muslim untuk berhias diri dengan sifat tawadhu’.

MAKNA DAN HAKEKAT TAWADHU’ 
Tawâdhu’ merupakan kebalikan dari sifat sombong. Ia merupakan sifat pertengahan antara sombong dan rendah diri. Jika sombong telah mengakibatkan setan diusir dari surga dan menjadi makhluk terlaknat, maka Tawâdhu’ berhasil menjadikan Adam dan Istrinya sebagai manusia yang diampuni setelah keduanya melakukan dosa.

Satu di antara banyaknya indikator sifat Tawâdhu’ seseorang adalah kemauan untuk mengakui kesalahan dirinya. Jika ia seorang suami, satu di antara banyaknya tanda sifat Tawâdhu’nya adalah kerelaannya untuk membantu tugas rumah seorang istri. Sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa membantu pekerjaan rumah istrinya saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah dan keluar rumah ketika tiba waktunya shalat.

Ditanya Fudhail bin Iyadh rahimahullah tentang tawâdhu’ beliau menjawab, “Tunduk dan patuh kepada kebenaran, menerima kebenaran dari siapapun yang menyampaikannya, walaupun mendengarnya dari anak kecil. Dan seandainya menerima dari orang yang paling bodohpun dia menerimanya!” [6] .

Ditanya al Hasan al Bashri rahimahullah tentang tawâdhu’ beliau menjawab: “Tawâdhu’ adalah kamu keluar rumah dan tidak berjumpa Muslim kecuali kamu menganggapnya lebih baik darimu. [7]

Sedangkan Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan hakikat tawâdhu’ dan memberikan penjelasan perbedaannya dengan menghinakan diri ( al-Muhânah ) dengan menyatakan: Perbedaan antara tawâdhu’ dan al-Muhânah (menghinakan diri) adalah Tawâdhu’ muncul dari ilmu pengetahuan tentang Allâh Azza wa Jalla , mengenal nama dan sifat-Nya, pengagungan, kecintaan dan penghormatannya dan dari pengetahuan tentang dirinya dan jiwanya secara rinci serta aib-aib amalan serta perusaknya. Muncullah dari ini semua sifat tawâdhu’. Tawâdhu’ adalah hati yang merendah karena Allâh Azza wa Jalla dan rendah hati serta penuh rahmat kepada hamba-Nya, sehingga tidak memandang dirinya memiliki kelebihan atas seorangpun dan tidak memandang ia memiliki hak atas orang lain. Bahkan memandang kelebihan orang-orang atas dirinya dan hak-hak mereka atasnya. ini adalah sifat yang hanya Allâh Azza wa Jalla berikan kepada orang yang dicintai, dimuliakan dan didekatkan kepada-Nya. [8]

Tawâdhu’ memiliki 3 ciri. 
Pertama , Ia dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan, kekuatan serta peluang untuk berlaku sombong, tetapi ia tidak bersikap sombong karena mengharap keridhaan Allâh. 
Kedua , Tidak dilakukan secara berlebihan. Jika berlebihan, Tawâdhu’ bisa berubah menjadi sombong ataupun membanggakan diri. 
Ketiga , Tawâdhu’ dilakukan pada waktu dan situasi yang tepat. Dalam hal ini, diperbolehkan berlaku sombong di depan orang yang sombong. Sebagaimana sikap berjalan tegap dengan gagah di depan musuh dalam peperangan.

LARANGAN BERSIKAP SOMBONG 
Hadits yang mulia ini menunjukan larangan sombong yang tidak disukai Allâh Azza wa Jalla dan Malaikat. kesombongan sifat rendah dan hina yang menyebabkan pemiliknya terhalang masuk ke dalam surga seperti dijelaskan dan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidak masuk surga orang yang memiliki dihatinya sebesar biji sawi dari kesombongan (HR Muslim).

Sifat sombong adalah lawan dari sifat rendah hati, sehingga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbâs z ini menganjurkan sifat rendah hati dan memperingatkan umatnya dari sifat tinggi hati atau sombong. Sehingga seorang muslim hendaknya berusaha sekuat tenaga menjauhi sifat tinggi hati ini.

Wabillahit Taufiq. 

FAEDAH HADITS. 
Diantara faedah hadits ini adalah:

  1. Anjuran bersikap rendah hati
  2. Rendah hati adalah sifat para Nabi dan Rasul dan hamba Allâh Azza wa Jalla yang terpilih.
  3. Allâh Azza wa Jalla memberi tugas malaikat untuk menjaga tali kekang di setiap bani Adam dan mengangkatnya bila manusia bersikap rendah hati dan menariknya ketika bersikap sombong.
  4. Keutamaan sikap tawâdhu’
  5. Larangan bersikap sombong.
  6. Sombong membawa kesengsaraan dan rendah hati membawa kemuliaan.

Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] 
_______ 
Footnote 
[1] Hadits Sh a hih Lighairi , diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dalam al Adâb al Mufrâd hal 42, Ahmad 2/381, Al Hâkim 2/613, Ibnu Sa’ad dalam Thabaqât 1/192, Al Qudhâ’iy dalam Musnad asy Syihâb 1165 dan al Kharâ`ithiy dalam Makârimul Akhlak Wa Ma’âliha hal 2. (Takhrij ini dinukil dari Makârimul Akhlâk karya Syeikh Sâlim bin Ied Al Hilâli) 
[2] Syarah Shahih Muslim 16/143 
[3] Al-madkhol Libnil H â j 2/122 
[4] Syarah Riy â dhus Sh â lih î n 3/515 
[5] Mad â rijus S â lik î n 2/375 
[6] Madarij as-Sâlikin 2/329 
[7] At-Tawadhu’ wal Khumul hlm 154 dan Ihya Ulumuddin 3/342). 
[8] Kitab ar-R û h hlm 273).

sumber: https://almanhaj.or.id/10998-menggapai-kemuliaan-dengan-tawadhu.html

Jangan Remehkan Sedekah

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya milik Allah. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah. Wa ba’du.

Menginfakkan harta yang thayyib (baik) dan penghasilan yang halal di jalan Allah termasuk ibadah yang paling agung. Sebagaimana ibadah itu bisa dilakukan dengan anggota badan, maka ibadah juga bisa dilakukan dengan harta. Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan zakat sebagai salah satu rukun Islam. Zakat ialah menyerahkan sebagian harta yang merupakan hak bagi orang miskin yang meminta-minta maupun orang miskin yang menahan diri dari meminta-minta. Allah memasukkan zakat sebagai bagian dari sedekah sekaligus bagian dari rukun Islam. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan sedekah dalam kafarat (denda atas pelanggaran larangan), seperti kafarat sumpah, kafarat zhihar (ucapan suami yang menyamakan istrinya dengan ibu kandung atau mahramnya), dan kafarat membunuh hewan buruan di tanah haram atau bagi orang yang sedang ihram. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan beberapa kafarat dengan tebusan harta. Adapun sedekah selain itu, maka hukumnya sunnah, bahkan termasuk ibadah sunnah yang paling afdhal (utama).

Membelanjakan harta yang halal dalam rangka taat kepada Allah juga termasuk bentuk jihad yang termasuk amalan yang paling mulia. Bahkan, berdasarkan ayat Al-Qur’an, jihad di jalan Allah dengan harta lebih didahulukan dibandingkan jihad dengan jiwa. Hal ini karena jihad dengan harta dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Maka sepatutnya seorang muslim mengetahui hal ini sehingga ia dapat menunaikan kewajiban yang Allah bebankan atasnya berkenaan dengan sebagian hartanya yang merupakan jatah bagi orang miskin. Di samping itu, seyogyanya ia menyedekahkan kelebihan hartanya dan tidak menahannya. Terlebih di bulan yang diberkahi dan musim kebaikan ini. Hendaknya seseorang tidak meremehkan sedekah meskipun dengan jumlah yang sedikit. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak akan menyelamatkan seseorang dari neraka dengan sebab sedekah separuh kurma. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Jagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik.” (HR. Bukhari no. 1413, 3595 dan Muslim no. 1016)

Allah Jalla wa ‘Ala menerima sedekah dari hamba-Nya yang beriman, lantas Dia mengembangkannya sebagaimana seseorang menumbuhkembangkan anak kudanya hingga sedekah tersebut menjadi seperti gunung yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهَا كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barangsiapa yang bersedekah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik, sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya untuk pemiliknya sebagaimana seseorang merawat anak kudanya hingga ia menjadi seperti gunung yang besar.” (HR. Bukhari no. 1410 dan Muslim no. 1014)

Dengan demikian, hendaknya seseorang tidak meremehkan sedekah meskipun sedikit. Lantas bagaimana lagi jika sedekahnya banyak? Semisal sedekah untuk memakmurkan masjid dengan harta yang halal, membangun sekolah, menyebarkan kebaikan, dan berjihad di jalan Allah. Ruang sedekah dengan harta yang halal sangatlah luas. Dan yang paling baik adalah banyak bersedekah kepada keluarga jika dalam hal ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ  وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan sedekah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 261)

Sedekah kepada kerabat yang membutuhkan lebih afdhal (utama) dibandingkan sedekah kepada selain kerabat. Karena sedekah kepada kerabat itu terhitung sebagai sedekah sekaligus silaturahim (menyambung kekerabatan). Sehingga ia mengandung dua pahala, yakni pahala sedekah dan pahala silaturahim. Dari Salman bin ‘Amir adh-Dhabbi, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِيْ الْقَرَابَةِ اثْنَتَانِ : صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Sedekah kepada orang miskin hanyalah sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat akan mendapatkan dua ganjaran, yaitu ganjaran sedekah dan ganjaran silaturahim.” (HR. Tirmidzi no. 658, Ibnu Majah no. 1844, Ibnu Khuzaimah no. 2067, 2385, Ahmad no. 17, 18, dan Ad-Darimi no. 1687, 1688. Dinilai shahih oleh al-Albani di Shahih al-Jami’ no. 3858)

Di antara bentuk infak di jalan Allah adalah seseorang yang memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Demikian pula seorang suami yang menafkahi istrinya, anak-anaknya, dan keluarganya. Maka orang tersebut mendapatkan pahala yang berlimpah. Jika seseorang berinfak dengan penghasilan yang halal dan disertai dengan niat yang benar, maka ia memperoleh ganjaran yang besar dan kebaikan yang banyak.

Seorang manusia hendaknya tidak dikuasai oleh cinta harta, rakus, dan pelit. Lantas ia tahan  harta tersebut untuk dirinya sendiri. Padahal, pada hakikatnya harta adalah titipan. Allah memberikan kesempatan baginya untuk bersedekah dan memenuhi kebutuhan pribadinya dengan harta tersebut. Apabila ia enggan bersedekah dan hanya mengumpulkan dan menyimpan hartanya, maka ketahuilah bahwa ia pasti akan mati dan meninggalkan semua hartanya. Lantas harta tersebut akan dimanfaatkan orang lain, padahal ia telah bersusah payah mengumpulkannya dan ia pun kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Bagaimanakah seseorang menghalangi dirinya untuk sedekah? Mengapa ia hanya semangat mengumpulkan harta? Padahal ia tahu bahwa ia pasti akan pergi meninggalkan dunia. Ia pun juga sadar bahwa harta tersebut tidaklah bermanfaat, kecuali sekedar apa yang ia manfaatkan untuk dirinya sebelum ia mati. Demikian pula sedekah jariyah yang mengalir pahalanya meskipun ia telah mati.

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Jika anak keturunan Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang senantiasa mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Kemudian, hendaknya seseorang mengilmui bahwa Allah Jalla wa ‘Ala adalah Ath-Thayyib (Maha Baik) dan tidak menerima, kecuali perkara yang baik. Dengan demikian, seseorang tidak boleh bersedekah dengan harta yang haram atau penghasilan yang kotor. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerimanya. Demikian juga, seseorang tidak boleh bersedekah dengan harta yang jelek dan sedikit manfaatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِئَاخِذِيْهِ إِلاَّ أَنْ تُغْمِضُوا فِيْهِ

“Dan janganlah kalian memilih harta yang buruk untuk diinfakkan, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata.” (QS. Al-Baqarah : 267)

“Harta yang buruk” maksudnya adalah harta yang jelek, bukan maknanya harta yang haram. Misalnya, apabila seseorang tidak menginginkan suatu makanan karena tidak lezat, lantas ia menyedekahkannya. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarangnya, “Dan janganlah kalian memilih harta yang buruk untuk diinfakkan.” Seseorang tidak sepatutnya menyedekahkan pakaian jika ia lihat pakaian tersebut telah robek, tidak layak pakai, atau hanya bisa dikenakan dalam jangka waktu yang singkat. Demikian pula, tidak selayaknya menyedekahkan makanan yang tidak diminati oleh orang. Ini bukanlah sedekah, tetapi sekedar buang sampah. Sedekah semacam ini tidaklah bermanfaat di sisi Allah “Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna hingga kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai.”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّوْنَ

“Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna hingga kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai.” (QS. Ali-‘Imran : 92)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِيْنًا وَيَتِيْمًا وَأَسِيْرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin,anak yatim, dan tawanan.” (QS. Al-Insan : 8)

Yakni, mereka menyedekahkan makanan yang mereka inginkan dan sukai untuk dirinya. Akan tetapi, mereka lebih mendahulukan kecintaan Allah dibandingkan kecintaan dirinya sendiri, “Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna hingga kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan harta yang kalian nafkahkan, maka sungguh Allah Maha Mengetahuinya.”

Seyogyanya, seseorang berinfak dengan sesuatu yang berguna, terlebih jika jiwanya menyukainya. Ia menyedekahkannya meskipun dirinya mencintainya. Ini adalah bukti keimanannya bahwa ia mengedepankan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allah Jalla wa ‘Ala berfirman mengenai sahabat Anshar,

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan mereka mengutamakan sahabat Muhajirin dibandingkan diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Barangsiapa yang dijauhkan dari sifat kikir dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9)

Kami memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufik kepada kita semua untuk mengerjakan amal yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

***

Diterjemahkan dari kitab Majalis Syahri Ramadhan al-Mubarak hlm. 21-24 (cetakan kedua), Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah al-Fauzan,  1422 H, Darul ‘Ashimah:  Riyadh.

Penulis: Ummu Fathimah

sumber: https://muslimah.or.id/11216-jangan-remehkan-sedekah.html

PERHATIKAN UMURMU

Saudaraku yang berbahagia diatas hidayah islam wa sunnah….

Bertaubat kepada ALLAH dan mencegah diri dari suatu perbuatan dosa memang tidak membuat anggota badan kita menjadi lelah dan letih…

Tetapi, inti masalahnya terletak pada usia Anda saat ini!
Yaitu waktu yang terletak diantara masa lalu dan masa mendatang Anda. 

Jika Anda menyia-nyiakan waktu tersebut, berarti Anda telah menyia-nyiakan untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan yang hakiki pada diri anda sendiri! 

Sebaliknya, jika anda menjaganya dan senantiasa memperbaiki masa-masa lalu dan masa mendatang, niscaya Anda akan selamat dan memperoleh ketentraman, kenikmatan, kebahagiaan dan kesenangan yang hakiki…..

Sesungguhnya, menjaga waktu yang sekarang kita jalani lebih sulit daripada memperbaiki waktu yang telah berlalu maupun yang akan datang. 

Disebabkan, menjaga waktu berarti mengharuskan diri Anda untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih banyak melaksanakan ketaatan agar memberikan kebahagaiaan pada diri Anda, dan yang demikian tidak mudah kita melaksanakannya….

Akhirnya kita memohon kepada ALLAH agar ALLAH memberikan kemudahan pada diri kita untuk mengisi waktu-waktu kita dalam rangka ibadah kepada Allah utk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat kita….

Maraji:
Fawaidul fawaid
Penulis

AKHUKUM almuhib Ahmad Ferry Nasution/Abu ‘Urwah

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/3749

Nabi Kita Tidak Pernah Bosan Beristigfar

Rasul dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar dan bertaubat padahal beliau adalah orang yang telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,” (QS. Al Fath : 1-2)

Dalam kitab shohih, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat sehingga kakinya pecah-pecah. Kemudian aku mengatakan kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini padahal engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur.” (HR. Muslim no. 7304)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Inilah kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seorang pun tidak ada yang menyamainya. Tidak ada dalam satu hadits shohih pun yang menceritakan tentang balasan amalan kepada selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni. Inilah yang menunjukkan kemuliaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara ketaatan, kebaikan dan keistiqomahan yang tidak didapati oleh manusia selain beliau, baik dari orang yang terdahulu maupun orang yang belakangan. Beliaulah manusia yang paling sempurna secara mutlak dan beliaulah pemimpin (sayid) seluruh manusia di dunia dan akhirat.”

Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni, namun beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar di setiap waktu. Para sahabat telah menghitung dalam setiap majelisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat paling banyak beristigfar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ فِى لِسَانِى ذَرَبٌ عَلَى أَهْلِى لَمْ أَعْدُهُ إِلَى غَيْرِهِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-

“Dulu lisanku biasa berbuat keji kepada keluargaku. Namun, aku tidaklah menganiaya yang lainnya. Kemudian aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيْنَ أَنْتَ مِنَ الاِسْتِغْفَارِ يَا حُذَيْفَةُ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Mana istigfarmu, wahai Hudzaifah? Sesungguhnya aku selalu beristigfar kepada Allah setiap hari sebanyak 100 kali dan aku juga bertaubat kepada-Nya.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sabda Nabi ‘…إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ’ adalah shohih lighoirihi yaitu shohih namun dilihat dari jalur lainnya yang lebih kuat atau semisal dengannya. Sedangkan sanad hadits ini dho’if)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani di Silsilah Ash Shohihah no. 1600)

Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan bahwa jika kami menghitung dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis, beliau mengucapkan,

رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

‘Robbigfirliy wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rohim’ [Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang] sebanyak 100 kali. (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 556)

Dan bacaan istighfar yang paling sempurna adalah penghulu istighfar (sayyidul istighfar) sebagaimana yang terdapat dalam shohih Al Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Penghulu istigfar adalah apabila engkau mengucapkan,

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta [Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau].” (HR. Bukhari no. 6306)

Faedah dari bacaan ini adalah sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dari lanjutan hadits di atas,

وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِىَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ »

“Barangsiapa mengucapkannya pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga.”

Hadits sayyidul istigfar ini meliputi makna taubat dan terdapat pula hak-hak keimanan. Di dalam hadits ini juga terkandung kemurnian ibadah dan kesempurnaan ketundukan serta perasaan sangat butuh kepada Allah. Sehingga bacaan dzikir ini melebihi bacaan istigfar lainnya karena keutamaan yang dimilikinya. –Semoga kita termasuk orang yang selalu merutinkannya di setiap pagi dan sore-

Bacaan istigfar lainnya adalah sebagaimana terdapat dalam shohih Bukhari dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Aisyah berkata bahwa beliau mendengar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika menjelang kematiannya) sedang bersandar padanya. Lalu beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَأَلْحِقْنِى بِالرَّفِيقِ الأَعْلَى

“Ya Allah, ampunilah aku, kasihilah aku dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang sholih.” (HR. Bukhari no. 5674. Lihat Al Muntaqho Syar Al Muwatho’)

Jadi lihatlah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang setiap waktunya selalu diisi dengan istighfar bahkan sampai akhir hayat hidupnya pun beliau tidak lepas dari amalan tersebut. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengakhiri amalan-amalan sholihnya seperti shalat, haji, shalat malam dengan istigfar, beliau juga mengakhiri hidupnya dengan istigfar.

Saudaraku … Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang sudah dijamin dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni, bagaimana lagi dengan kita yang tidak dijamin seperti itu[?] Sungguh, kita sebenarnya yang lebih pantas untuk bertaubat dan beristighfar setiap saat karena dosa kita yang begitu banyak dan tidak pernah bosan-bosannya kita lakukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim no. 6737)

Semoga Allah mengaruniakan kita untuk selalu mengikuti jejak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah memberikan kepada kita akhir hidup yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/56-nabi-kita-tidak-pernah-bosan-beristigfar.html

Pengaruh Makanan yang Haram

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebagian muslim tidak mempedulikan apa yang masuk dalam perutnya. Asal enak dan ekonomis, akhirnya disantap. Tidak tahu manakah yang halal, manakah yang haram. Padahal makanan, minuman dan hasil nafkah dari yang haram sangat berpengaruh sekali dalam kehidupan seorang muslim, bahkan untuk kehidupan akhiratnya setelah kematian. Baik pada terkabulnya do’a, amalan sholehnya dan kesehatan dirinya bisa dipengaruhi dari makanan yang ia konsumsi setiap harinya. Oleh karena itu, seorang muslim begitu urgent untuk mempelajari halal dan haramnya makanan. Dan yang kita bahas kali ini adalah seputar pengaruh makanan yang haram bagi diri kita. Moga bermanfaat.

Pertama: Makanan haram mempengaruhi do’a

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Sa’ad,

أطب مطعمك تكن مستجاب الدعوة

“Perbaikilah makananmu, maka do’amu akan mustajab.” (HR. Thobroni dalam Ash Shoghir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if jiddan sebagaimana dalam As Silsilah Adh Dho’ifah 1812)

Ada yang bertanya kepada Sa’ad bin Abi Waqqosh,

تُستجابُ دعوتُك من بين أصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ فقال : ما رفعتُ إلى فمي لقمةً إلا وأنا عالمٌ من أين مجيئُها ، ومن أين خرجت .

“Apa yang membuat do’amu mudah dikabulkan dibanding para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya?” “Saya  tidaklah memasukkan satu suapan ke dalam mulutku melainkan saya mengetahui dari manakah datangnya dan dari mana akan keluar,” jawab Sa’ad.

Dari Wahb bin Munabbih, ia berkata,

من سرَّه أنْ يستجيب الله دعوته ، فليُطِب طُعمته

“Siapa yang bahagia do’anya dikabulkan oleh Allah, maka perbaikilah makanannya.”

Dari Sahl bin ‘Abdillah, ia berkata,

من أكل الحلال أربعين يوماً  أُجيبَت دعوتُه

“Barangsiapa memakan makanan halal selama 40 hari, maka do’anya akan mudah dikabulkan.”

Yusuf bin Asbath berkata,

بلغنا أنَّ دعاءَ العبد يحبس عن السماوات بسوءِ المطعم .

“Telah sampai pada kami bahwa do’a seorang hamba tertahan di langit karena sebab makanan jelek (haram) yang ia konsumsi.”

Gemar melakukan ketaatan secara umum, sebenarnya adalah jalan mudah terkabulnya do’a. Sehingga tidak terbatas pada mengonsumsi makanan yang halal, namun segala ketaatan akan memudahkan terkabulnya do’a. Sebaliknya kemaksiatan menjadi sebab penghalang terkabulnya do’a.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Melakukan ketaatan memudahkan terkabulnya do’a. Oleh karenanya pada kisah tiga orang  yang masuk dan tertutup dalam suatu goa, batu besar yang menutupi mereka menjadi terbuka karena sebab amalan yang mereka sebut. Di mana mereka melakukan amalan tersebut ikhlas karena Allah Ta’ala. Mereka berdo’a pada Allah dengan menyebut amalan sholeh tersebut sehingga doa mereka pun terkabul.”

Wahb bin Munabbih berkata,

العملُ الصالحُ يبلغ الدعاء ، ثم تلا قوله تعالى : { إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُه }

“Amalan sholeh akan memudahkan tersampainya (terkabulnya) do’a. Lalu beliau membaca firman Allah Ta’ala, “Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10)

Dari ‘Umar, ia berkata,

بالورع عما حرَّم الله يقبلُ الله الدعاء والتسبيحَ

“Dengan sikap waro’ (hati-hati) terhadap larangan Allah, Dia akan mudah mengabulkan do’a dan memperkanankan tasbih (dzikir subhanallah).”

Sebagian salaf berkata,

لا تستبطئ الإجابة ، وقد سددتَ طرقها بالمعاص

“Janganlah engkau memperlambat terkabulnya do’a dengan engkau menempuh jalan maksiat.” (Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, 1: 275-276)

Kedua: Rizki dan makanan halal mewariskan amalan sholeh

Rizki dan makanan yang halal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal shaleh. Buktinya adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mu’minun: 51). Sa’id bin Jubair dan Adh Dhohak mengatakan bahwa yang dimaksud makanan yang thoyyib adalah makanan yang halal (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10: 126).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam untuk memakan makanan yang halal dan beramal sholeh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. Oleh karena itu, para Nabi benar-benar memperhatikan bagaimana memperoleh yang halal. Para Nabi mencontohkan pada kita kebaikan dengan perkataan, amalan, teladan dan nasehat. Semoga Allah memberi pada mereka balasan karena telah member contoh yang baik pada para hamba.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 126).

Bila selama ini kita merasa malas dan berat untuk beramal? Alangkah baiknya bila kita mengoreksi kembali makanan dan minuman yang masuk ke perut kita. Jangan-jangan ada yang perlu ditinjau ulang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْخَيْرَ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ أَوَ خَيْرٌ هُوَ

“Sesungguhnya yang baik tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan. Namun benarkah harta benda itu kebaikan yang sejati?”  (HR. Bukhari no. 2842 dan Muslim no. 1052)

Ketiga: Makanan halal bisa sebagai pencegah dan penawar berbagai penyakit

Allah Ta’ala berfirman,

وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang hanii’ (baik) lagi marii-a (baik akibatnya).” (QS. An Nisa’: 4).

Al Qurthubi menukilkan dari sebagian ulama’ tafsir bahwa maksud firman Allah Ta’ala “هَنِيئًا مَرِيئًا” adalah, “Hanii’ ialah yang baik lagi enak dimakan dan tidak memiliki efek negatif. Sedangkan marii-a ialah yang tidak menimbulkan efek samping pasca dimakan, mudah dicerna dan tidak menimbulkan peyakit atau gangguan.” (Tafsir Al Qurthubi, 5:27). Tentu saja makanan yang haram menimbulkan efek samping ketika dikonsumsi. Oleh karenanya, jika kita sering mengidap berbagai macam penyakit, koreksilah makanan kita. Sesungguhnya yang baik tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.

Keempat: Di akhirat, neraka lebih pantas menyantap jasad yang tumbuh dari yang haram

Dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban 11: 315, Al Hakim dalam mustadroknya 4: 141. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 4519)

Lihatlah begitu bahayanya mengonsumsi makanan haram dan dampak dari pekerjaan yang tidak halal sehingga mempengaruhi do’a, kesehatan, amalan kebaikan, dan terakhir, mendapatkan siksaan di akhirat dari daging yang berasal dari yang haram.

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

[Allahummak-finaa bi halaalika ‘an haroomika, wa agh-ninaa bi fadh-lika ‘amman siwaak]

“Ya Allah, limpahkanlah kecukupan kepada kami dengan rizqi-Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan uluran tangan selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1: 153. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.[1]

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 17 Shafar 1433 H

Artikel Kajian Umum di Dammam, KSA, Jum’at 19 Shafar 1433 H


[1] Sebagian tulisan di atas adalah faedah dari tulisan Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi di Majalah Pengusaha Muslim.

Sumber https://rumaysho.com/2185-pengaruh-makanan-yang-haram.html

[Kitabut Tauhid] 68. Keutamaan memurnikan tauhid 33

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Parameter kebenaran bukanlah berdasarkan kuantitas : banyak atau sedikitnya pengikut. Akan tetapi, kebenaran itu (disebut kebenaran) tatkala sesuai dengan dalil tanpa perlu melihat banyaknya orang yang menerima atau minimnya penolakan orang. Antipati manusia atau respon positif mereka tidak otomatis menunjukkan kebenaran atau penyimpangan satu pendapat. Tiap pendapat dan perbuatan haruslah berdasarkan dalil dari Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

selanjutnya kita akan mempelajari Keutamaan memurnikan tauhid 33. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

matan kitabut tauhid (PDF)

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Merahasiakan Sesuatu Dari Pasangan

catatan: terkadang pendapat ulama dalam menyikapi sesuatu tampaknya berbeda-beda padahal sebenarnya sama. maka lihatlah asbab (alasan) perkataan/pendapat tersebut, sehingga kita tidak memutlakkan (menyama-ratakan) pada kondisi yang berbeda. namun demikian, mudah-mudahan ini tetap dapat menambah wawasan kita, yakni sudut pandang yang baru. diharapkan kita dapat menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya. berikut kami hadirkan artikel yang insyaallah mencerahkan kita tentang ini


Merahasiakan Sesuatu Dari Pasangan

Seorang suami boleh untuk merahasiakan sesuatu dari istrinya, begitu pula seorang istri, ia boleh merahasiakan sesuatu dari suaminya selama rahasia tertentu itu bukanlah sesuatu yang boleh disembunyikan dalam Islam. 

Misalnya: Seorang suami boleh merahasiakan total pemasukannya dari istri karena istrinya punya sifat boros dan dikhawatirkan bila ia tahu pemasukannya maka istri akan meminta berbelanja pada hal-hal yang tidak diperlukan.

Seorang istri juga boleh untuk merahasiakan harta pribadinya bila -misalnya- suami adalah orang yang pelit dan dikhawatirkan dia tidak menginfaqkan hartanya kepada istri untuk kebutuhan rumah tangga jika ia mengetahui bahwa istri memiliki uang pribadi (dia berharap istri yang membiayai kebutuhan rumah tangga).

Meski demikian, dalam rumah tangga, sebaiknya suami/istri tidak merahasiakan hal-hal semacam itu dengan tetap memberikan edukasi kepada pasangannya yang memiliki kesalahan atau sifat yang kurang baik supaya ia sadar dari kekeliruannya dan tidak terus menerus berada dalam kubangan kesalahan yang sama.

Keterbukaan dalam kehidupan rumah tangga akan menghilangkan atau meminimalisir terjadinya buruk sangka seorang pasangan terhadap pasangannya.

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

sumber: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/3653-merahasiakan-sesuatu-dari-pasangan