[Kitabut Tauhid 2] 9. Khawatir Terhadap Kesyirikan 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

SYIRIK KECIL adalah setiap bentuk kesyirikan yang keluar dari 4 kriteria syirik besar. Ada yang zhahir (tanpak) dan ada yang khafiy (tersembunyi). Syirik kecil dinamakan dengan syirik kecil karena ada syirik yang lebih besar darinya. Bukan berarti syirik kecil itu dosa kecil. Syirik kecil seluruhnya adalah dosa besar, bahkan dosa yang paling besar setelah syirik besar. Maka kesyirikan sekecil apapun dosanya tetap lebih besar dibandingkan dosa apapun setelah dosa syirik besar.

selanjutnya kita akan mempelajari Khawatir Terhadap Kesyirikan 09. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

Formulir Pertanyaan

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Ilmu Di Dunia Maya Hanya Sekedar Bacaan Menyenangkan dan Wawasan Saja? Segeralah beramal !

Wahai diri, tinggalkan sejenak dunia maya, beramalah di dunia nyata dengan ilmu-mu

Wahai diri, sepertinya engkau terlalu berkutat di dunia maya…

Di dunia maya semua hiburan bisa engkau dapatkan…

Nikmatnya chatting, nikmatnya mencari berita terhangat, nikmatnya kejadian “wow” dan luar biasa, sampai kata-kata dan kisah menggugah yang luar biasa…

Tetapi dalam hatimu, hanya berdecak kagum saja, tidak ada niat berubah dan beramal sebagaimana kata-kata mengugah tersebut…

Tidak ada tekad untuk menjadi manusia luar biasa bermanfaat bagi manusia sebagaimana kisah tersebut…

Engkau wahai diri, hanya apakah hanya sekedar wawasan dan bacaan menyenangkan saja?

Atau engkau hanya sekedar membagikan saja tulisan dunia maya bermodalnya COPAS agar manusia hanya sekedar tahu…

Engkau lupa mendoakan mereka , engkau bahkan lupa engkau share agar engkaulah yang pertama kali mengamalkannya

Atau wahai diri, jangan sampai engkau share agar hanya mendapatkan jempol “like”

Abu Qilabah berkata kepada Ayyub As Sakhtiyani,

إذَا حَدَثَ لَك عِلْمٌ فَأَحْدِثْ فِيهِ عِبَادَةً وَلَا يَكُنْ هَمُّكَ أَنْ تُحَدِّثَ بِهِ النَّاسَ
“Apabila kamu mendapat ilmu, maka munculkanlah keinginan ibadah padanya. Jangan sampai keinginanmu hanya untuk menyampaikan kepada manusia.”(Al-Adab Asy-Syar’iyyah 2/45, Muhammad Al-Maqdisy, Syamilah)

Tentu engkau telah tahu, bahkan engkau pernah share tulisan, bahwa yang PERTAMA KALI dilemparkan di nereka adalah yang menjadi ahli ilmu agar dipuji manusia.

Segeralah beramal…

Wahai diri, tinggalkan sejenak dunia maya, beramalah di dunia nyata dengan ilmu-mu

Jadilah engkau yang paling berguna bagi manusia, mereka sangat senang dengan keberadaanmu

Berguna dengan ilmu-mu dan akhlak di dunia nyata, berguna dengan tenaga, berguna dengan pemikiran dan konsepmu, berguna dengan harta yang engkau cari dan engkau infakkan.

Wahai diri, Bukankah agamamu mengajarkan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (Shahihul Jami’ no. 3289)

Orang tuamu seringlah ditelpon, ada yang sakit segera dikunjungi, ada program dakwah segera ikut dan ikut serta, silaturahmi kepada keluarga dan buatlah mereka bahagia, buatlah manusia bahagia dengan amal dan senyummu, ini adalah sebaik-baik amal

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

أفضل الأعمال أن تدخل على أخيك المؤمن سرورا

“Sebaik-baik amal Shalih adalah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman” (Shahih Jami’ush Shaghir no. 1096)

Sangat banyak amal mulia dan mudah wahai diri, Mengajar TPA huruf hijaiyyah di masjid bagi generasi bangsa, mudah bukan?

Membuat program dan mengunjungi  panti asuhan, membatu koordinasi mereka yang sangat butuh makanan atau sekedar membersihkan jalan agar bermanfaat bagi manusia

Terjunlah dalam berbagai kegiatan sosial kemunusiaan dan program dakwah

Engkau sudah tahu wahai diri, bahkan engkau pernah share di dunia maya, bukan ilmu yang akan dibalas Allah tetapi amal,

Karenanya Allah Azza wa Jalla berfirman,

جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka KERJAKAN.” [Al-Waqi’ah: 24]

Allah TIDAK berfirman,

جَزَاء بِمَا كَانُوا يعَلمُونَ

“Sebagai balasan apa yang telah mereka KETAHUI”

Sekali lagi wahai diri…

Tinggalkan sejenak dunia maya, beramalah di dunia nyata dengan ilmu-mu

Semoga Allah memudahkan kita untuk beramal

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, tolonglah aku dalam berzikir, bersyukur, dan membaguskan ibadah kepadaMu.”  (HR. Ahmad 5/247, Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir no. 7969)

@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta

Yang sangat sedikit amalnya dan sangat membutuhkan ampunan Rabb

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/ilmu-di-dunia-maya-hanya-sekedar-bacaan-menyenangkan-dan-wawasan-saja-segeralah-beramal.html

Hakikat Ujian Dunia

Sesungguhnya kehidupan dunia adalah negeri ujian dan penuh dengan cobaan. Tidaklah seorang hamba hidup di dunia kecuali dia akan diuji dan nantinya akan kembali kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman ;

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik“ (An-Najm : 31).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“ (Al-Anbiya’ :35).

Ujian dan cobaan dalam hidup di dunia terkadang berupa kelapangan dan kenikmatan, namun terkadang juga berupa kesempitan dan musibah. Bisa berupa sehat maupuan kondisi sakit, bisa  berupa kekayaan maupun kemiskinan. Seorang mukmin akan menghadapi ujian dalam dua keadaan : kondisi susah dan kondisi senang.

Dalam setiap ujian yang menimpa manusia akan selalu ada kebaikan. Oleh karena itu  dalam sebuah hadits dari sahabat Anas radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

عَجَبًا لِلْمُؤْمِنِ !! لَا يَقْضِي اللَّهُ لَهُ شَيْئًا إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Tidaklah Allah menetapkan kepadanya sesuatu kecuali itu merupakan kebaikan baginya“ (H.R Ahmad).

Perkataan Nabi (شَيْئًا) mencakup segala kondisi, baik itu ujian berupa kesusahan maupun kesenganan. Seorang mukmin dalam setiap kondisi ujian yang dihadapai akan senantiasa dalam kebaikan. Seorang mukmin yang mendapat taufik dari Allah, jika sedang diuji oleh Allah dengan kesusahan dan kesempitan seperti sakit, miskin, dan musibah lainnya akan menghadapinya dengan sabar. Dengan kondisi ujian semacam ini, seorang mukmin akan mendapat kebaikan berupa pahala orang-orang yang sabar. Jika Allah mengujinya dengan kesenangan dan kemudahan seperti diberi kondisi sehat dan kekayaan harta , maka seorang mukmin akan menjadi orang yang bersyukur kepada Allah sehingga dia mendapat kebaikan berupa pahala orang-orang yang bersyukur.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits dari Suhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ !! إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Segala sesuatu yang terjadi padanya semua merupakan kebaikan. Ini terjadi hanya pada orang mukmin. Jika mendapat sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika mendapat keburukan dia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya“ (H.R Muslim).

Seorang mukin dalam kondisi kesusahan akan mendapat kebaikan berupa pahala orang yang bersabar dan dalam kondisi lapang dan senang akan mendpat kebaikan berupa pahala orang yang bersyukur. Senantiasa berubah-ubah kondisinya antara sabar dan syukur. Allah Ta’ala berfirman dalam empat tempat di dalam Al-Qur’an :

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya dalam yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang bersabar dan bersyukur“

Firman Allah ini terdapat dalam surat Ibrahim ayat 5, Luqman ayat 31, Saba’ ayat 19, dan Asy-Syuura ayat 33. Allah Ta’ala menyebutkan dua keadaan yang agung ini yaitu sabar tatakala menghadapi musibah dan bersyukur tatakala memperoleh nikmat.

Hendaknya seorang mukimin mengetahui bahwasnya ketika Allah Ta’ala memberikan kelapangan pada seorang hmba berupa nikmat harta, sehat, anak, dan kenikmatan lainnya  bukan merupakan bukti bahwa Allah meridhoi dan memberi kemuliaan kepada hamba tersebut. Demikian pula kesempitan yang diperoleh seorang hamba berupa kekurangan harta, musibah sakit, dan musibah lainnya tidak menunjukkan bahwa Allah tidak ridho atau sedang menghinakan hamba tersebut. Ini merupakan persangkaan sebagian manusia yang telah Allah nafikan dalam firman-Nya :

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“ (Al-Fajr : 15-16).

Allah Ta’ala menafikan persangkaan hamba-Nya tersebut dalam ayat selanjutnya dengan berfirman : { كَلَّا } (Sekali-kali tidak demikian), maksudnya bahwa persangkaan mereka keliru dan tidak benar. Barangsiapa yang Allah lapangkan baginya berupa harta, kesehatan, anak, dan kenikmatan lainnya bukan merupakan bukti keridhoan Allah dan kemuliaan orang tersebut. Demikian pula barangsiapa yang Allah beri kesempitan bukan menunjukkan bahwa Allah menghinakan orang tersebut. Apapun kondisi seorang hamba semuanya adalah ujian dan cobaan.  Terkadang Allah memberi ujian kepada hamba berupa harta, kesehatan, keselamatan, dan kenikmatan lainnya dan terkadang Allah memberi ujian kepada hamba berupa kemiskinan, sakit, dan kondisi lainnya.

Para ulama berbeda pendapat manakah yang lebih utama di sisi Allah : orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar? Yang benar bahwasanya yang paling utama di antara keduanya adalah yang paling bertakwa kepada Allah. Jika mereka sama-sama bertakwa maka akan mendapat balasan yang sama. Orang yang pertama, Allah mengujinya dengan kekayaan dan dia bersyukur, adapun orang yang kedua Allah uji dengan kemiskinan dan dia bersabar. Masing-masing dari keduanya telah melakukan bentuk penghambaan kepada Allah seusai dengan tuntutan kondisi ujian yang dialaminya sehingga keduanya mendapat keberuntungan. Ini merupakan keberuntungan dan kemenangan berupa pahala bagi orang yang bersyukur dan orang yang bersabar.

Tempat kembalinya seluruh manusia adalah kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu Allah menutup ayat-Nya dengan berfirman

وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“ (Al-Anbiya’ :35)

Maksudnya bahwa seluruh manusia akan mendapat ujian di dunia kemudian semuanya akan kembali kepada Allah, agar orang-orang yang berbuat kebaikan mendapat balasan atas kebaikannya dan orang-orang yang berbuat keburukan mendapat hukuman atas keburukannya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita dan kita senantiasa berusaha agar kita menjadi  orang yang beruntung dan mendapat kemenangan dalam menghadapai ujian dan cobaan  baik itu berupa nikmat maupun musibah. Hanya Allah satu-satunya Zat Yang Maha Memberi Petunjuk dan tiada sekutu bagi-Nya.

***

Sumber : http://al-badr.net/detail/8hGzRYUbcMP0

Penulis: dr. Adika Mianoki

sumber: https://muslimah.or.id/7235-hakikat-ujian-dunia.html

Apa itu Zuhud? Dan Bagaimana Cara agar Zuhud?

Apa itu Zuhud?

Apa itu Zuhud? Dan bagaimana caranya agar bisa zuhud?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Ibnul Qoyim menyebutkan definisi zuhud dan wara’ yang pernah beliau dengar dai gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ibnul Qoyim mengatakan,

سمعت شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه يقول : الزهد ترك ما لا ينفع في الآخرة والورع : ترك ما تخاف ضرره في الآخرة

Saya mendengar Syaikhul Islam – semoga Allah mensucikan ruhnya – pernah mengatakan,

“Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat.” Dan “Wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan bagi kehidupan di akhirat.”

Kemudian Ibnul Qoyim menegaskan,

وهذه العبارة من أحسن ما قيل في الزهد والورع وأجمعها

Ungkapan ini adalah definisi terbaik dan paling mewakili untuk kata zuhud dan wara’. (Madarij as-Salikin, 2/10).

Berdasarkan pengertian di atas, zuhud lebih tinggi derajatnya dibandingkan wara’. Karena zuhud pasti wara’ dan tidak sebaliknya.

Zuhud dalam al-Quran

Sebagian ulama menyebutkan bahwa zuhud telah Allah jelaskan dalam al-Quran melalui ayat-Nya,

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang tidak kamu dapatkan, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid: 23)

Memahami ayat di atas, Imam al-Junaid mengatakan,

فالزاهد لا يفرح من الدنيا بموجود ولا يأسف منها على مفقود

Orang yang zuhud tidak menjadi bangga karena memiliki dunia dan tidak menjadi sedih karena kehilangan dunia. (Madarij as-Salikin, 2/10).

Zuhud tidak Harus Miskin

Zuhud adalah amal hati, sehingga yang bisa menilai hanya Allah. Karena itu, kita tidak bisa menilai status seseorang itu zuhud ataukah tidak zuhud, hanya semata dengan melihat penampilan luar. Kekayaan dan harta yang dimiliki, bukan standar zuhud. Orang bisa menjadi zuhud, sekalipun Allah memberikan banyak kekayaan kepadanya.

Kita tidak memungkiri bahwa para Nabi yang Allah beri kerajaan, seperti Yusuf, Daud, atau Sulaiman, mereka adalah manusia-manusia yang sangat zuhud.

Allah berfirman tentang sifat Nabi Daud,

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Ingatlah hamba-Ku Daud, pemilik kekuatan (dalam melakukan ketaatan). Sesungguhnya beliau awwab (orang yang suka kembali kepada Allah). (QS. Shad: 17)

Allah juga berfirman tentang Sulaiman,

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Kami anugerahkan anak kepada Daud yang namanya Sulaiman. Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia awwab (orang suka kembali kepada Allah). (QS. Shad: 30)

Kemudian, Allah berfirman tentang Ayub,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Kami dapati Ayub adalah orang yang sabar. Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia orang yang awwab (suka kembali kepada Allah).” (QS. Shad: 44).

Anda bisa perhatikan, ketiga nabi mulia dengan ujian yang berbeda, Allah gelari mereka semua dengan kata ‘Awwab’. Daud dan Sulaiman ‘alaihimas salam diuji dengan kekayaan, sementara Ayyub diuji dengan kemiskinan.

Cara Agar bisa Zuhud

Hasan al-Bashri – ulama senior masa tabii’in – pernah ditanya,

ما سر زهدك فى الدنيا ؟

“Apa rahasia zuhud anda terhadap dunia?”

Jawab beliau,

علمت بأن رزقى لن يأخذه غيرى فاطمأن قلبى له , وعلمت بأن عملى لا يقوم به غيرى فاشتغلت به , وعلمت أن الله مطلع على فاستحييت أن أقابله على معصية , وعلمت أن الموت ينتظرنى فأعددت الزاد للقاء الله

  • Aku yakin bahwa rizkikku tidak akan diambil orang lain, sehingga hatiku tenang dalam mencarinya.
  • Saya yakin bahwa amalku tidak akan diwakilkan kepada orang lain, sehingga aku sendiri yang sibuk menjalankannya.
  • Aku yakin bahwa Allah selalu mengawasi diriku, hingga aku malu merespon pengawasannya dengan melakukan maksiat.
  • Aku yakin bahwa kematian menantiku. Sehingga aku siapkan bekal untuk ketemu Allah…

Semoga Allah membimbing kita untuk mengambil bagian dari sifat zuhud itu.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber:  https://konsultasisyariah.com/23514-apa-itu-zuhud-dan-bagaimana-cara-agar-zuhud.html

Mending Jomblo Daripada Dosa

Jomblo kadang diistilahkan untuk orang-orang malang yang kesepian. Jomblo juga kadang dimaksudkan untuk keadaan di mana sedang tidak punya pacar atau single.

Apa bahagianya jomblo sampai dikatakan mending jomblo daripada dosa?

1. Jomblo itu punya teman yang setia, tanpa ada istilah putus-nyambung

Karena pacar, ada masalah sedikit, langsung bisa nyatakan “putus”. Besok ingin balik lagi, maka minta nyambung lagi. Jomblo itu akan santai saja, ada teman-teman yang selalu ingin menemaninya, ingin jalan bareng, makan bareng, ingin ngaji bareng, etc.

Dan beruntung sekali kalau si jomblo punya teman yang shalih.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

2. Fokus para jomblo tak terpecah ke hal yang kurang perlu, kalau jadi pelajar berarti bisa fokus pada belajarnya

Selain tak perlu membagi waktu antara pacar dan teman, fokus para jomblo juga hanya tertuju pada satu tujuan. Ia bakal fokus sepenuhnya pada pendidikan. Tidak ada pertengkaran yang akan menguras energi dan perhatian, ia bisa fokus kepada kewajiban sebagai seorang siswa. Bahkan selain bisa fokus belajar, si jomblo juga bisa fokus gapai akhirat. Dan fokus itu penting.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini di Tuhfah Al-Ahwadzi, 7:212-213)

3. Waktu luang si jomblo bisa digunakan untuk memperkaya pengetahuan diri sendiri dan melakukan hal yang bermanfaat lainnya

Jika banyak muda-mudi yang sibuk pacarana, boncengan bareng, sibuk ngatur waktu untuk nge-date, jomblo justru tak perlu iri dan tak perlu ingin seperti mereka. Justru jomblo bisa menggunakan waktu luang untuk memperkaya diri sendiri. Misalnya saja bergabung dengan kegiatan ekstrakurikuler yang ia minati, menggeluti hobi, hingga ikut kegiatan kepanitiaan di luar sekolah. Bahkan jika ingin manfaat, jomblo bisa meluangkan waktu untuk ngaji (mencari ilmu agama) di berbagai majelis yang banyak saat ini. Waktu jomblo sepenuhnya jadi miliknya.

Kalau suatu hal itu manfaat untuk dunia dan akhirat kita, kita diperintahkan untuk semangat mencarinya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِز

“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim, no. 2664)

4. Gak ada yang melarang ini itu, jomblo bebas menentukan apa yang ia mau

Jomblo mau shalat, tak perlu minta-minta izin pada pacar. Ia mau ngaji, tak perlu pamit pada pacar. Ia mau jalan-jalan, hiking, tidak perlu meminta izin pada kekasihnya. Kayak apaan saja, padahal jadi pasangan sah saja belum, ijab saja belum, harus izin-izin segala. Yang harusnya ada adalah meminta izin kepada orang tua, bukan kepada pacar. Kalau sudah jadi istri, barulah kepatuhannya kepada suami, lantas meminta izin pada suami.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنَ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ ، وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُه

“Tidak halal bagi seorang isteri untuk berpuasa (sunnah), sedangkan suaminya ada kecuali dengan izinnya. Dan ia tidak boleh mengizinkan orang lain masuk rumah suami tanpa ijin darinya. Dan jika ia menafkahkan sesuatu tanpa ada perintah dari suami, maka suami mendapat setengah pahalanya.” (HR.  Bukhari, no. 5195 dan Muslim, no. 1026)

5.Gak ada drama khas anak muda yang jomblo alami, dan ini merupakan hal yang patut disyukuri

Meski sudah merasa dewasa saat SMA, tapi nyatanya emosi masih tidak stabil. Di usia ini emosi masih meledak-ledak. Gak jarang hal ini bisa memicu drama pertengkaran apalagi jika pacar memiliki tingkat kematangan emosi yang sama. Bisa bayangkan kan betapa banyak energi yang terkuras di sini? Jika jadi jomblo, bersyukurlah, gak akan mengalami hal ini.

Padahal kita harus pandai-pandai menahan emosi sebagaimana yang Allah perintahkan dalam ayat,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Begitu pula sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut. Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata,

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “

“Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, no. 3282)

6. SMA adalah usia rawan di mana anak remaja bisa terjebak ke dalam pergaulan bebas, tidak punya pacar bisa jadi salah satu cara mencegahnya

Hati-hati dengan seks bebas. Muslim itu diingatkan agar tidak mendekati zina, bukan hanya dilarang berzina. Maka segala jalan menuju zina itu diharamkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32).

Contoh perkara sederhana walau maksudnya ibadah, masih dilarang dalam Islam.

Disebutkan dalam kitab Al-Muhaddzab karya Imam Asy-Syairazi rahimahullah, “Seorang laki-laki dimakruhkan shalat dengan perempuan yang bukan mahramnya (bukan muhrim menurut istilah orang awam, pen.). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidak boleh seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan karena yang ketiganya adalah setan.” (HR. Tirmidzi, no. 1171. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lihat yang ibadah saja dilarang karena sebab berdua-duaan, terjadi ikhtilath dan khalwat.

7. Banyak generasi alay yang pamer kemesraan di sosial media, bersyukurlah jomblo bukan salah satunya

Gak jarang kita menemukan banyak pasangan muda yang selalu mengumbar kemesraan di sosial media. Alih-alih kita ikut bahagia, kita justru merasa sayang dan prihatin dengan tingkah polah mereka. Jadi bersyukurlah jomblo bukan termasuk pasangan alay yang banyak tersebar di sosial media.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

8. Jomblo bisa berbakti kepada orang tua dengan mudah, beda dengan yang punya pacar kadang membantah orang tua demi pacar

Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغِى وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [diakhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Abu Daud, no. 4902; Tirmidzi, no. 2511; Ibnu Majah, no. 4211. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Jadilah jomblo yang taat dan takut kepada Allah, tak perlu bersedih kala kita terasing (ghuraba). Semoga dimudahkan menghadapi masa jomblo sampai nantinya siap untuk menikah dan mendapatkan jodoh yang shalih/ shalihah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

—

Materi Tabligh Akbar Pelajar se-Gunungkidul

Sabtu Kliwon, 8 Jumadats Tsaniyyah 1439 H, 24 Februari 2018

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://remajaislam.com/1003-mending-jomblo-daripada-dosa.html

Menjauhkan Hati Dari Dosa

Oleh 
Prof.DR. Shalih Ghanim as-Sadlan

Setiap orang yang memiliki hati dan akal sehat pasti akan berhati-hati terhadap akibat dari perbuatan maksiat dan dosa, karena keduanya merupakan racun yang bisa membinasakan dan memiliki pengaruh buruk dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Sementara tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin dirinya celaka, apalagi jika penderitaan yang akan ditanggungnya itu dalam waktu yang sangat lama atau bahkan berujung di neraka.

Sebagai insan yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan hari akhir, dia akan melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan dirinya dari efek buruk dosa. Dia juga akan mempersiapkan bekal untuk dirinya sebagai persiapan saat menghadapi persidangan dihadapan Allâh Azza wa Jalla yang Maha Adil, Maha pengampun dosa, tapi juga memiliki siksa yang teramat pedih. Maka hendaklah kita mewaspadai ini dan senantiasa berhati-hati dalam bersikap!

Meski berbagai upaya telah dilakukan, namun terkadang, godaan syaitan dan iming-iming palsu yang dijanjikannya lebih menggiurkan daripada janji Allah Azza wa Jalla yang pasti benar. Apalagi jika hati sudah terlalu lama dinina bobokkan dengan iming-iming tersebut. Maka upaya pertama yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita membebaskan hati dari ketergantungannya terhadap perbuatan dosa dan maksiat? Bagaimana kita menjauhkan hati dari keakrabannya dengan dosa?

Berikut, kami menyampaikan beberapa kiat untuk menjauhkan hati dari keakrabannya dengan dosa. Kiat-kiat ini kami nukilkan dari kitab at-Taubat, Ma’nahâ, Haqîqatuhâ, Fadluhâ, Syurûthuhâ , karya Prof. DR. Shalih Ghanim as-Sadlan dengan sedikit tambahan dari redaksi.

DIANTARA SEBAB YANG BISA MENGHILANGKAN KETERGANTUNGAN HATI DENGAN DOSA

Pertama : Mempelajari Ilmu, Mengamalkannya dan Mendakwahkannya

Ketahuilah, bahwa diantara dosa itu ada yang disebabkan oleh kelalaian atau dorongan hawa nafsu. jika disebabkan oleh kelalaian maka penawarnya adalah ilmu. Orang yang bertaubat dan mau memperbaiki dirinya, maka hendaknya dia meniti jalan hidayah (petunjuk) yaitu mempelajar ilmu syar’i, mengamalkannya, mengajarkan dan mendakwahkannya. Dia harus meyakini bahwa dosa-dosa itu membahayakan dan wajib ditinggalkan. Dia juga harus senantiasa mengingat peringatan-peringatan keras dan ancaman al-Qur’an terhadap para pelaku perbuatan maksiat, serta mengingat berbagai macam bencana mengerikan yang telah menimpa para pelaku maksiat di zaman-zaman terdahulu.

Jika dosa itu disebabkan oleh dorongan hawa nafsu, maka penyembuhnya adalah sabar dalam mengekang tuntutan hawa nafsu dan mengharap pahala dari Allȃh Azza wa Jalla . Dalam hal ini, tidak ada yang bisa menandingi wudhu’ dan shalat dalam memadamkan hawa nafsu dan bara api kemarahan. Maka, orang yang bertaubat hendaknya berwudhu’, shalat, dan mengisi semua waktu yang dia miliki dengan perbuatan takwa, dan dia hendaknya menyucikan dan membersihkan jiwanya dari akhlak buruk dengan ketakwaan kepada Allȃh Azza wa Jalla .

Kedua : Berpegang Teguh Dengan (agama) Allȃh

Orang yang berpegang teguh dengan (agama) Allȃh, dan kembali kepada-Nya dalam setiap keadaannya, maka Allȃh Azza wa Jalla akan menolongnya dan memenangkannya dalam menghadapi dua musuh yang tidak pernah lepas darinya. Dua musuh tersebut adalah nafsunya dan syaitan. Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allȃh , maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. [Ali Imran/3:101],

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan saat menjelaskan ayat di atas bahwa berpegang dengan Allah dan bertawakkal kepada-Nya merupakan ‘umdah (sandaran atau asas) dalam hidayah, juga bekal dalam usaha menjauhi kesesatan, perantara untuk sampai kepada petunjuk, jalan kebenaran dan perantara untuk bisa menggapai maksud yang diinginkan. [1]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai . [Ali Imran/3:103]

Berpegang teguh dengan tali Allȃh, maksudnya berpegang dengan al-Qur’an yaitu dengan mengamalkan kandungannya, menjadikannya pedoman dan petunjuk dalam hidupnya, dan konsisten dalam membaca serta mentadabburinya.

Ketiga : Menumbuhkan Rasa Takut Terhadap Efek Buruk dari Dosa di Dunia

Orang yang ingin melepaskan dirinya dari ketergantungan hatinya terhadap dosa, hendaknya dia menumbuhkan rasa takut di hatinya. Yaitu takut terkena dampak buruk dari dosanya di dunia.

Seorang hamba yang terhalang dari rezekinya, bisa jadi itu disebabkan oleh dosa yang dia perbuat. Dia mestinya takut akan tertimpa penyakit dan kemiskinan bila dia terus menerus bermaksiat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, mengingatkan kau Muhajirin terhadap efek dosa:

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ:

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا. 

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ.

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ.

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ، إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Wahai Kaum Muhajirin, ada lima (bencana akan menimpa) jika kalian diuji dengannya dan saya memohon perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla agar kalian tidak mendapatinya:

  • Tidaklah perbuatan zina muncul pada suatu kaum sampai mereka (berani) melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar ditengah mereka penyakit tha’un (pes) dan kelaparan yang tidak pernah menimpa orang-orang sebelum mereka
  • Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan ditimpa musim paceklik, beban hidup yang berat, kezhaliman penguasa terhadap mereka
  • Tidaklah mereka menahan zakat harta mereka, kecuali mereka akan ditahan dari tetesan air hujan dari laingit. Kalaulah bukan karena binatang, mereka pasti tidak akan diberi hujan
  • Tidaklah mereka membatalkan perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah Azza wa Jalla akan mengangkat musuh mereka menjadi penguasa mereka, lalu para penguasa itu merampas sebagian harta yang mereka miliki
  • Selama para pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitab Allah dan memilih apa yang Allah Azza wa Jalla turunkan, niscaya Allah Azza wa Jalla akan menjadikan penderitaan mereka diantara mereka ” [2] . 

Diantara efek dosa yang sangat menakutkan bagi setiap insan yang beriman yaitu dosa menyebabkan hati menjadi keras dan tertutup noda hitam sehingga tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang buruk, mana yang baik dan mana yang jelek?  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ، زَادَتْ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ { كَلَّا  ۖ بَلْ  ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ }

Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa maka akan dibubuhkan satu titik hitam di (permukaan) hatinya. Kalau dia (segera) bertaubat, meninggalkan (dosa tersebut) dan memohon ampun (kepada Allâh Azza wa Jalla), maka hatinya akan bening (kembali), (tetapi) jika dosanya bertambah maka akan bertambah pula titik hitam tersebut. Itulah (makna) ar-r â n (penutup hati) yang Allâh sebutkan dalam al-Qur’an, (yang artinya-red), “Sekali-kali tidak (demikian), bahkan menutupi hati mereka perbuatan (dosa) yang selalu mereka lakukan” [Al-Muthaffifin/83: 14]” [3]

Dan masih banyak lagi akibat buruk dari dosa dan maksiat. Maka hendaklah setiap orang yang ingin melepaskan hatinya dari ketergantungannya terhadap dosa untuk menumbuhkan rasa takut di hatinya terhadap pengaruh buruk dosa dan maksiat dan terus memupuk rasa itu.

Yang keempat : Mengkonsumsi Makanan Halal

Diantara kiat melepaskan diri dari perbuatan dosa dan maksiat adalah selalu mengkonsumsi makanan halal. Beribadah namun tetap mengkonsumsi makanan haram ibarat membangun rumah di atas gelombang ombak lautan.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ}  وَقَالَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ}  ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَكْسَبُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Sesungguhnya Allȃh itu mulia atau suci tidak menerima kecuali yang mulia atau suci atau halal. Dan sesungguhnya Allȃh memerintahkan kepada kaum Muslimin dengan perintah yang didititahkan juga kepada para Rasul-Nya. Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا  ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Mu’minûn/23:51]

dan berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allȃh, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. [Al-Baqarah/2:172]

Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya acak-acakan dan tubuhnya berdebu. Dia mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “Wahai Rabb! Wahai Rabb! sedangkan makanan dan minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi gizi dengan yang haram, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan” [4] 

Makanan dan minuman yang halal akan membantu seseorang untuk istiqamah di atas jalan yang haq dan juga membantunya dalam berusaha memperbaiki diri, sebagaimana makanan haram akan mendorongnya untuk melakukan keburukan, dosa dan maksiat.

Kelima : Mengingat Hari Pembalasan

Seorang hamba hendaknya selalu ingat bahwa kelak pada hari akhir dia akan berdiri di hadapan Allȃh Azza wa Jalla . Allȃh Azza wa Jalla akan menghitung semua amalan para hamba-Nya dan akan memberikan balasan yang setimpal. Pada saat itu, kelezatan maksiat yang dulu dia kerjakan menjadi sirna, dan justru akibat buruk perbuatan maksiat itu yang tampak jelas di depan mata. Dengan mengingat ini, jiwa akan tersadar dan dia akan takut terhadap dosa-dosa yang telah dia lakukan, kemudian dia akan menjauhi dan meninggalkan semua hal yang bisa menjauhkannya dari Allȃh Azza wa Jalla serta mendekatkannya kepada perbuatan maksiat dan dosa

Keenam : Mengingat Kematian Yang Datang Dengan Cepat

Diantara kiatnya adalah mengingat kematian yang datang dengan begitu cepat. Setiap saat dia khawatir, kematian datang kepadanya. Bukan kematian sebenarnya yang membuatnya takut, namun apa yang ada setelah kematian, karena tidak ada tempat menetap setelah kehidupan dunia kecuali surga atau neraka.  Dia juga hendaknya mengingatkan kengerian hari kiamat, pembalasan Allȃh yang dahsyat, serta siksa-Nya yang sangat dan teramat pedih. Allȃh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman .[Maryam/19:39].

Ketujuh : Menjauhi teman-teman yang buruk

Menjauhi teman-teman yang buruk dan memilih teman shalih yang akan mengingatkannya kepada Allȃh serta menuntunnya kepada jalan Rabb yang telah menciptakannya.

Ketahuilah! Para Ulama merupakan pelita di tengah kegelapan di setiap zaman. Maka hendaknya, kita sering duduk bersama mereka, mengambil bekal dari ilmu dan nasehat mereka, yang mana dengan ini semua dia akan mendapatkan keuntungan dan kebaikan yang sangat banyak insyȃ Allah . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَ الْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Sesungguhnya permisalan teman yang shalih dan teman yang buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi, terkadang dia memberimu minyak wangi secara gratis, atau kamu bisa membeli darinya dan paling tidak kamu akan mendapatkan aroma wangi darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi dia akan membakar bajumu, atau kamu akan mandapatkan bau hangus yang tak sedap darinya ” [5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

Agama seseorang itu tergantung agama temannya , maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat orang yang akan dijadikan teman bergaulnya

Kedelapan : Berlindung kepada Allȃh dari godaan syaitan yang terlaknat

Ini juga termasuk kiat, yaitu berlindung kepada Allȃh Azza wa Jalla dari godaan syaitan yang terlaknat. Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ  ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Fushshilat/41:36]

Diantara dzikir dan doa pagi – sore yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita terdapat lafazh:

اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Wahai Allah! Jagalah hamba-Mu ini dari arah depan, dari arah belakang, dari arah kanan, dari arah kiri, dari arah atas dan aku memohon perlindungan dengan keagungan-Mu agar aku tidak disesatkan dari arah bawah

Kesembilan : Memperbanyak Istighfar

Istighfar merupakan salah satu kebaikan (hasanah) yang sangat agung. Barangsiapa merasa bersalah dalam perbuatan atau ucapannya, atau hawa nafsunya mengalahkan dia, atau dia merasa keadaannya mulai berubah, baik dalam masalah rezeki atau yang lainnya, maka hendaklah dia segera bertaubat dan beristighfar. Karena sesungguhnya dalam taubat dan istigfar ada penyembuh bila dilakukan dengan jujur dan ikhlas.

Dalam istigfar terdapat banyak hal. Barangsiapa menginginkan keturunan, hendaklah dia beristigfar! Barangsiapa menginginkan harta, maka hendaknya dia juga beristigfar! Allȃh Azza wa Jalla berfirman menceritakan tentang Nabi Nûh Alaihissallam dan ucapannya kepada kaumnya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,  niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai .[ Nuh/71:10 -12]

Kesepuluh : Menahan diri dari berlebih-lebihan dalam makan, berbicara dan memandang

Menahan diri dari makan yang berlebihan, berbicara berlebihan, serta dari mengumbar pandangan, kemudian mentaati Allȃh Azza wa Jalla pada setiap waktu dan tempat, melakukan kebaikan setelah keburukan, dan tidak melakukan dosa secara terus menerus. Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ  ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. [Hud/11:114]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah k amu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik (istigfar atau taubat), niscaya kebaikan tersebut akan menghapus keburukan, dan bergaullah dengan manusia denga nakhlak yang mulia ” [6]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] 
_______ 
Footnote 
[1] Lihat Tafsir Ibni Katsir dalam penjelasan ayat di atas-red 
[2] HR. Ibnu Majah (9104) dan sanadnya masih diperdebatkan oleh para ulama, akan tetapi dia memiliki syawahid yang menguatkannya, lihat Fathul Bâri karya Ibnu Hajar al-Asqalani (10/193) 
[3] HR. Ibnu Mâjah, no. 4244; Al-Hâkim, 1/45 dan 2/562 serta Ahmad, 2/297. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam al-Hâkim, disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani 
[4] HR. Muslim no. 5101 
[5] HR. Al-Bukhari no. 1012, 4355, dan Muslim no.2628 
[6] Diriwayatkan oleh: at-Tirmizi no.1988, dan Imam Ahmad (5/153, 158, 177, 236. Dan ad-Darimi (2/323), dan Hakim (1/45)

sumber: https://almanhaj.or.id/7222-menjauhkan-hati-dari-dosa.html

[Kitabut Tauhid 2] 8. Khawatir Terhadap Kesyirikan 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

  • berdasarkan kadarnya kesyirikan itu terbagi menjadi dua : syirik kecil dan syirik besar.
  •  SYIRIK BESAR terdiri dari 4 kategori : Asy-Syirku Ad-Da’wah (syirik dalam doa); Asy-Syirku An-Niyyah (syirik dalam niat, kehendak, dan tujuan); Asy-Syirku Ath-Thaa-‘ah (syirik dalam ketaatan); dan Asy-Syirku Al-Mahabbah (syirik dalam kecintaan).
  • SYIRIK KECIL adalah setiap bentuk kesyirikan yang keluar dari 4 kriteria syirik besar tersebut.

selanjutnya kita akan mempelajari Khawatir Terhadap Kesyirikan 08. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

Formulir Pertanyaan

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Menikmati Kelezatan Al-Qur’an Dengan Memahami Tafsirnya

Sesungguhnya mempelajari tafsir kandungan dari firman-firman Allah merupakan ibadah yang sangat mulia. Barang siapa yang mempelajari tafsir ia akan merasakan kelezatan ketika membaca ayat-ayat yang ia telah mengerti tafsirnya tersebut. Karenanya Imam Ath-thabari rahimahullah, penulis kitab Tafsir Ath-thabari yang sangat terkenal, berkata:

إنّي لأعجب ممن قرأ القرآن و لم يعلم تأويله كيف يتلذ بقرائته ؟

“aku heran dengan orang yang membaca al-qur’an tapi tidak tahu tafsirnya, bagaimana bisa berlezat-lezat dengan membaca Al-qur’an tersebut?”

Buktinya, seseorang yang membaca Surat Al-Fatihah tanpa membaca artinya akan berbeda dengan seseorang yang membaca Al-Fatihah tapi tahu artinya. Dia akan menemukan kelezatan dan kekhusyu’an yang berbeda dengan yang tidak paham terjemahan ayat tersebut. Dan berbeda bagi orang yang sudah membaca Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-faatihah, dia akan lebih khusyu’ daripada orang yang sekedar membaca terjemahannya. Dan berbeda lagi untuk orang yang membaca tafsir yang mendalam karena tafsir ada yang panjang (muthowwal) ada pula yang ringkas. Barangsiapa semakin memperdalam
tafsiran ayat-ayat tersebut maka ia akan semakin khusyu’ dalam shalatnya.

Sampai-sampai diantara ilmu yang disesalkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ta’aala sebagaimana disebutkan oleh Ibn Rojab al hanbali diakhir hayat beliau :

و ندمت علي تبذير أوقاتي في غير معلم القرآن

“Saya menyesal bahwasanya waktu-waktuku yang habis tidak digunakan untuk mempelajari alqur’an..”

Padahal kita tahu bahwa beliau pakar hadits, beliau menulis buku tentang hadits, aqidah dan buku lain yang banyak sekali. Namun diakhir hayatnya beliau ketika di penjara beliau lebih banyak membaca alqur’an. Tatkala beliau membaca alqur’an maka Allah membukakan bagi beliau makna-makna yang indah dari AlQur’an tersebut. Tatkala itu beliau mengungkapkan penyesalannya kenapa dahulu tidak menyibukkan diri memperdalam makna makna alqur’an padahal beliau juga mempunya tafsiran-tafsiran yang sangat banyak.

Penggalan Muqoddimah Kajian Menyingkap Tabir Surat Abasa – Ustadz Firanda Andirja hafidzahullah.

sumber: https://wanitasalihah.com/menikmati-kelezatan-al-quran-dengan-memahami-tafsirnya/

Agar Buah Hati Tak Lagi Takut Hantu

Penulis: Ummu Rumman
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar

“Ummi, Ahmad pingin ke kamar mandi. Anterin ya Mi…”

Ummu Ahmad (bukan nama sebenarnya) kaget ketika suatu malam Ahmad, anaknya yang sudah berumur 10 tahun tiba-tiba minta diantarkan ke kamar mandi.

“Ahmad anak shalih… kok tumben minta diantar ke kamar mandi? Biasanya berani sendiri.”

“Ahmad takut ketemu hantu Mi…” kata Ahmad dengan wajah ketakutan.

Kisah ini mungkin sangat sering kita jumpai. Tak hanya anak kecil, bahkan banyak orang dewasa yang mengaku takut terhadap hantu. Masih banyaknya budaya dan kepercayaan terhadap hal-hal mistis yang bertentangan dengan syariat, ditambah lagi maraknya cerita maupun film-film misteri di tengah masyarakat semakin memperparah kerusakan dan mengikis keimanan.

Rasa takut anak kepada hantu, bagaimanapun harus mendapat perhatian khusus dari orang tua. Karena bila ketakutan sang anak tetap terpelihara, tak hanya membentuk mental penakut pada diri anak tetapi juga dapat mengurangi kesempurnaan tauhid yang sangat kita harapkan terbentuk pada diri sang anak.

Sekilas tentang Rasa Rakut (Khauf)

Sangat penting bagi orang tua untuk bisa melatih anak mengatur rasa takutnya. Bukan hanya sekedar agar anak menjadi pemberani, tetapi lebih karena rasa takut adalah bagian dari ibadah. Rasa takut adalah bagian dari rukun yang harus ada dalam ibadah, di samping rasa cinta dan harap.

Macam-macam takut

Ulama telah membagi rasa takut menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Takut ibadah atau disebut juga takut sirri (takut terhadap sesuatu yang ghaib).
Takut ibadah dibagi menjadi dua macam:

a. Takut kepada Allah, yaitu takut yang diiringi dengan merendahkan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah. Takut semacam inilah yang akan mendatangkan ketaqwaan dan ketaatan sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, rasa takut seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah semata karena merupakan salah satu konsekuensi keimanan.

Allah berfirman, yang artinya, “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran 175)

b. Takut kepada selain Allah, yaitu takut kepada selain Allah dalam hal sesuatu yang ditakuti itu sebenarnya tidak dapat melakukannya dan hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Takut semacam ini banyak terjadi pada berhala, takut pada orang mati, takutnya para penyembah kubur kepada walinya, dll. Rasa takut ini merupakan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari keIslaman.

2. Takut yang haram, yaitu takut kepada selain Allah, yang bukan ibadah tetapi menyebabkan ia melakukan keharaman atau meninggalkan kewajiban. Takut semacam ini dapat mengurangi ketauhidan seseorang.

3. Takut thobi’i (normal). Yaitu takut pada hal-hal yang bisa mencelakakan kita (dengan izin dan kekuatan dari Allah). Misalnya, takut pada binatang buas, api, dll. Takut semacam ini wajar ada pada diri manusia dan dibolehkan selama tidak melampaui batas.

4. Takut wahm (khayalan), yaitu takut pada sesuatu yang sebabnya tidak jelas. Misalnya, takut pada hantu. Takut semacam ini tercela.

Seorang anak yang masih dalam fase pertumbuhan dan sedang mengalami masa belajar, ia mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan kadang disertai pula daya imajinasi yang tinggi. Oleh karena itu, ketika ia mendengar cerita tentang berbagai macam hantu entah dari berbagai media massa, atau dari orang-orang di sekitarnya, hal tersebut bisa menimbulkan rasa takut yang berlebihan. Apalagi bila sang anak pernah mengalami trauma karena ditakut-takuti temannya atau karena pernah mengalami gangguan jin.

Rasa takut kepada hantu atau setan, bisa mengantarkan kepada syirik akbar. Jika sampai membawa pada peribadatan kepada selain Allah. Bentuknya bermacam-macam, ada yang memberi sesajian agar tidak diganggu, membaca berbagai mantera, datang kepada dukun untuk meminta jimat, dan sebagainya.

Pada anak, mungkin tak sampai separah itu. Namun tak jarang kita dapati, karena rasa takut kepada hantu atau semacamnya, anak menjadi takut keluar kamar untuk mengambil wudhu pada pagi hari. Sang anak menjadi menunda-nunda waktu shalat Subuhnya. Ini hanyalah salah satu contoh. Tetapi sekali lagi, hal ini dapat mengurangi kesempurnaan tauhid sang anak.

Ketakutan anak bisa diperparah jika orangtuanya pun tidak paham syariat sehingga demi mengatasi rasa takut anaknya sehingga membawa anak pada kesyirikan. Misalkan menggantungkan jimat pada anak sehingga sang anak terus bergantung pada jimat tersebut hingga ia dewasa.

Cara Mengatasi Rasa Takut Anak kepada Hantu

Bagi orang tua sangat penting mengetahui bagaimanakah cara mengatasi ketakutan anak dengan cara yang sesuai syariat. Antara lain:

1. Tanamkanlah pada anak tauhid dan aqidah yang benar.
Cobalah cari tahu apa yang sebenarnya ditakutkan oleh sang anak pada saat keadaannya tenang. Rangsanglah anak dengan beberapa pertanyaan. “Adik takut hantu ya? Memangnya hantu itu apa sih?”
Jika sang anak menjawab bahwa hantu adalah pocong, genderuwo, nyi loro kidul, kuntilanak, atau semacamnya, jelaskan bahwa hantu-hantu semacam itu tidak ada sama sekali sehingga tidak perlu ditakutkan. Jika yang ditakutkan anak adalah orang mati, maka jelaskanlah bahwa orang mati takkan bisa memberi manfaat maupun bahaya bagi orang yang masih hidup.

Adapun jika sang anak telah mengerti bahwa yang dimaksud orang-orang dengan hantu adalah penjelmaan dari setan atau jin yang hendak mengganggu manusia, maka orangtua haruslah menjelaskan kepada anak bahwa tidak ada kekuatan yang paling kuat kecuali kekuatan Allah. Seluruh makhluk, termasuk jin dan setan di bawah pengaturan Allah. Ajarkan pada anak meskipun seluruh jin dan manusia ingin mencelakakannya, akan tetapi Allah tidak menakdirkannya, maka ia takkan celaka. Begitu pula sebaliknya.

Sungguh indah contoh yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menasehati Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu masih kecil.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,

“Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya akan kuajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan bahaya terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan bahaya itu terhadapmu kecuali sesuatu yang Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Jelaskan pada anak pada hal apakah ia harus takut (yaitu takut kepada Allah), pada hal-hal apakah ia boleh takut tetapi tidak berlebihan dan hal-hal apa yang ia tidak boleh takut sama sekali. Hendaklah orang tua mengenalkan kepada anak-anaknya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena dengan pengenalan kepada Allah, seorang anak akan mengetahui keagungan Allah, keMahaKayaanNya, kekuasaan-Nya. Yang harus orang tua ingat, mengajarkan rasa takut kepada Allah juga harus disertai pengajaran rasa cinta dan harap kepada Allah. Sehingga hal ini menjadikan anak ikhlas dan giat dalam beramal serta tidak mudah putus asa.

2. Ajarkan wirid dan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ada banyak wirid dan doa yang bisa diajarkan pada anak. Misalnya, wirid pagi dan sore, doa sehari-hari seperti doa masuk WC, doa singgah di suatu tempat, doa hendak tidur, dll. Pilihlah bacaan wirid dan doa sesuai kapasitas kemampuan anak.

Tak hanya sekedar menghafal, tapi juga pahamkan mereka arti dari doa tersebut sehingga mereka mengamalkan doa-doa tersebut dengan penuh keyakinan akan manfaat doa bagi dirinya. Ajarkan pada anak bahwa doa dan wirid adalah senjata dan perisai bagi kaum mukmin. Karena itu, bila rasa takut menyerang, yang terbaik dilakukan adalah meminta perlindungan dan pertolongan Allah, Rabb seluruh makhluk. Sesekali ingatkan atau tanyakan pada anak arti dari doa tersebut. Sekaligus untuk mengetahui apakah sang anak sudah mengamalkan doa-doa tersebut ataukah belum.

3. Jauhkanlah anak dari hal-hal yang mendatangkan rasa takut kepada hantu.
Misalnya cerita misteri, patung dan lukisan makhluk bernyawa, dll. Cerita misteri atau berbau mistis kadang lebih menarik bagi anak karena imajinasi mereka yang tinggi dan masih belum terkontrol baik. Oleh karena itu, kenalkanlah anak dengan kisah-kisah para Nabi, sahabat-sahabat Rasulullah, maupun kisah shahih lain yang dapat mengajarkan anak keimanan, keberanian dan akhlaq yang baik. Jangan hanya sekedar menyediakannya buku/majalah, meskipun ini juga hal yang penting. Sesekali ceritakanlah langsung dengan lisan anda agar hikmah dan nilai kisah lebih mengena di hati anak. Ini juga akan lebih mendekatkan orang tua dengan sang buah hati.

4. Ajarkan pula pada anak untuk tidak menakut-nakuti temannya meski hanya bermaksud untuk bercanda. Pahamkan pada anak untuk bercanda dengan baik.

5. Bila orang tua ternyata adalah seorang penakut, berusahalah untuk tidak menampakkan hal tersebut di depan sang anak. Sebagaimana kita tidak ingin anak menjadi penakut, maka latihlah diri sendiri untuk tetap tenang dan menghilangkan sifat penakut dari diri kita.

Jika suatu ketika sifat penakut kita diketahui oleh sang anak, tak ada salahnya melibatkan anak dalam usaha menghilangkan sifat penakut kita. “Astagfirullah, tadi Ummi kok menjerit ya pas lampu mati? Menurut adik, Ummi harusnya gimana? Iya adik benar, harusnya tetap tenang dan minta perlindungan sama Allah. Lain kali kalau Ummi menjerit lagi, adik ingatin Ummi ya….” Hal ini juga akan mengajarkan pada anak bagaimana seharusnya ia bersikap ketika ada orang lain atau temannya yang ketakutan. Jangan pula menakut-nakuti anak dengan ancaman yang tak berdasar atau bertentangan dengan syariat. Misalnya, “Jangan main dekat sungai ya! Nanti diculik genderuwo penunggu sungai lho” Hal ini sering tanpa sadar dilakukan oleh para orang tua. Maka wahai para pendidik, bekalilah diri dengan ilmu syar’i dalam mendidik anak-anak kita.

6. Berdoalah untuk kebaikan anak
Hal yang sering luput dari orang tua adalah berdoa untuk anak-anaknya. Padahal doa merupakan salah satu pokok yang harus dipegang teguh orang tua. Doa orang tua bagi kebaikan anaknya adalah salah satu jenis doa yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dikabulkan oleh Allah (HR. Baihaqi). Termasuk di antaranya, hendaknya orang tua mendoakan agar anak dilindungi dari gangguan setan.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain dengan mengucapkan,

“Aku memohon perlindungan untukmu berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan juga dari setiap mata yang jahat.” Selanjutnya beliau bersabda “Adalah bapak kalian (yaitu Ibrahim) dahulu juga memohonkan perlindungan untuk kedua puteranya, Ismail dan Ishaq, dengan kalimat seperti ini.” (HR. Bukhari)

Inilah sebagian cara yang semoga bisa mengatasi rasa takut anak terhadap hantu. Orang tua hendaknya bersabar dalam membantu anak mengatasi rasa takutnya dengan tetap memprioritaskan pendidikan aqidah dan tauhid pada anak. Semoga kelak anak tumbuh menjadi sosok muslim-muslimah yang beraqidah lurus, beramal shalih dan mempunyai ketawakkalan tinggi kepada Allah. Wallahu Ta’ala a’lam. (Ummu Rumman)

Maraji’:
Bila Anak Anda Takut Hantu, Ummu Khaulah, Majalah As Sunnah Edisi 02/Tahun VIII/1424H/2004M
Mendidik Anak Bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Muhammad Suwaid, penerbit Pustaka Arafah
Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi, Abu ‘Isa Abdullah bin Salam, penerbit Divisi Bimbingan Masyarakat LBI Al Atsary Yogyakarta
Syarah Tiga Landasan Utama, Syaikh Abdullah bin Shalih al Fauzan, Pustaka At Tibyan

sumber: https://muslimah.or.id/188-agar-buah-hati-tak-lagi-takut-hantu.html

Salafus Shalih Memperingatkan Bahaya DEBAT

Salaf Shalih Memperingatkan BAHAYA DEBAT
Oleh : Agus Hasan Bashori, Lc., M.ag. Hafizhahullah

1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putranya:
“Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” [Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897]

2. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Cukuplah engkau sebagai orang zhalim bila engkau selalu mendebat. Dan cukuplah dosamu jika kamu selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu berbicara dengan selain  dzikir kepada Allah.” [al-Fakihi dalam Akhbar Makkah]

Sementara ad-Darimi meriwayatkan bahwa Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu berbicara bukan dalam dzikir tentang Allah.” [Darimi: 299]

3. Muslim Ibn Yasar rahimahullah
Musim ibn Yasar rahimahullah berkata:
“Jauhilah perdebatan, karena ia adalah saat bodohnya seorang alim, di dalamnya setan menginginkan ketergelincirannya.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi: 404]

4. Hasan Bashri rahimahullah
Ada orang datang kepada Hasan Bashri rahimahullah lalu berkata, “Wahai Abu Sa’id kemarilah, agar aku bisa mendebatmu dalam agama!” Maka Hasan Bashri rahimahullah berkata:
“Adapun aku maka aku telah memahami agamaku, jika engkau telah menyesatkan (menyia-nyiakan) agamamu maka carilah.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 588]

5. Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah
Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah berkata:
“Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka ia akan banyak berpindah-pindah (agama).” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565]

6. Abdul Karim al-Jazari rahimahulah
Abdul Karim al-Jazari rahimahulah berkata:
“Seorang yang wira’i tidak akan pernah mendebat sama sekali.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 636; Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

Wira’i artinya orang yang sangat menjaga diri dari hal-hal yang syubhat dan membatasi diri dari yang mubah.

7. Ja’far ibn Muhammad rahimahullah
Ja’far ibn Muhammad rahimahullah berkata:
“Jauhilah oleh kalian pertengkaran dalam agama, karena ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan mewariskan kemunafikan.” [Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

8. Mu’awwiyah ibn Qurrah rahimahullah
Mu’awwiyah ibn Qurrah rahimahullah berkata:
“Dulu dikatakan: pertikaian dalam agama itu melebur amal.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 562]

9. al Auza’i rahimahullah
al Auza’i rahimahullah berkata:
“Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.” [Siyar al-A’lam 16/104; Tadzkiratul Huffazh: 3/924; Tarikh Dimsyq: 35/202]

10. Imran al-Qashir rahimahullah
Imran al-Qashir rahimahullah berkata:
“Jauhi oleh kalian perdebatan dan permusuhan, jauhi oleh kalian orang-orang yang mengatakan: Bagaimana menurutmu, bagaimana pendapatmu.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 639]

11. Muhammad ibn Ali ibn Husain rahimahullah
Muhammad ibn Ali ibn Husain rahimahullah berkata:
“Pertikaian itu menghapuskan agama dan menumbuhkan permusuhan di hati orang-orang.” [al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

12. Abdullah ibn Hasan ibn Husain rahimahullah
Abdullah ibn Hasan ibn Husain rahimahullah berkata:
Dikatakan kepada Abdullah ibn al Hasan ibn al Husain rahjmahullah, “Apa pendapatmu  tentang perdebatan (mira’)?” Dia menjawab:
“Merusak persahabatan yang lama dan mengurai ikatan yang kuat. Minimal ia akan menjadi sarana untuk menang-menangan itu adalah sebab pemutus talit silaturrahim yang paling kuat.” [Tarikh Dimasyq: 27-380]

13. Bilal ibn Sa’d rahimahullah (kedudukannya di Syam sama dengan Hasan Bashri di Bashrah)
Bilal ibn Sa’d rahimahullah berkata:
“Jika kamu melihat seseorang terus-terusan menentang dan mendebat maka sempurnalah kerugiannya.” [al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

14. Wahab ibnu Munabbih rahimahullah
Wahab ibnu Munabbih rahimahullah berkata:
“Tinggalkanlah jidal dari perkaramu, karena ia tidak akan dapat mengalahkan salah satu dari dua orang: seseorang yang lebih alim darimu, bagaimana engkau memusuhi dan mendebat orang yang lebih alim darimu? Dan orang yang engkau lebih alim daripadanya, bagaimana engkau memusuhi orang yang engkau lebih alim daripadanya dan ia tidak mentaatimu? Maka tinggalkanlah itu.” [Tahdzibul Kamal: 31/148; Siyarul A’lam: 4/549; Tarikh Dimasyq: 63/388]

15. Malik ibnu Anas rahimahullah
Ma’n rahimahullah berkata: “Pada suatu hari Imam Malik ibn Anas berangkat ke masjid sambil berpegangan pada tangan saya, lalu beliau dikejar oleh seseorang yang dipanggil dengan Abu al-Juwairah yang dituduh memiliki Aqidah Murji’ah. dia berkata: “Wahai Abu Abdillah dengarkanlah dariku sesuatu yang ingin saya kabarkan kepada anda, saya ingin mendebat anda dan memberi tahu anda tentang pendapatku.’ Imam Malik berkata, “Hati-hati, jangan sampai aku bersaksi atasmu.” Dia berkata, “Demi Allah, saya tidak menginginkan kecuali kebenaran. Dengarlah, jika memang benar maka ucapkan.” Imam Malik bertanya, “Jika engkau mengalahkan aku?” Dia menjawab, “Maka ikutlah aku!” Imam Malik bertanya lagi, “Kalau aku mengalahkanmu?” Dia menjawab, “Aku mengikutimu?” Imam Malik bertanya, “Jika datang orang ketiga lalu kita ajak bicara dan kita dikalahkannya?” Dia berkata, “Ya kita ikuti dia.”

Imam Malik rahimahullah berkata:
“Hai Abdullah, Allah azza wa jalla telah mengutus Muhammad dengan satu agama, aku lihat engkau banyak berpindah-pindah (agama), padahal Umar ibnu Abdil Aziz telah berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka dia akan banyak berpindah-pindah.”

Imam Malik rahimahullah berkata:
”Jidal dalam agama itu bukan apa-apa (tidak ada nilainya sama sekali).”

Imam Malik rahimahullah berkata:
“Percekcokan dan perdebatan dalam ilmu itu menghilangkan cahaya ilmu dari hari seorang hamba.”

Imam Malik rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya jidal itu mengeraskan hati dan menimbulkan kebencian.”
Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki ilmu sunnah, apakah ia boleh berdebat membela sunnah? Dia menjawab,”Tidak, tetapi cukup memberitahukan tentang sunnah.” (Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Qadhi Iyadh: 1/51; Siyarul A’lam: 8/106; al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, hal.62-65)

16. Muhammad ibn Idris as-Syafi’I rahimahullah
Imam as-Syafi’I rahimahullah berkata:
“Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.” [Thobaqat Syafiiyyah 1/7, Siyar, 10/28]

17. Ahmad bin Hambal rahimahullah
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang, “Saya ada di sebuah majelis lalu disebutlah didalamnya sunnah yang tidak diketahui kecuali oleh saya, apakah saya mengatakan?”

Dia menjawab:“Beritakanlah sunnah itu, dan janganlah mendebat karenanya!”

Orang itu mengulangi pertanyaannya, maka Imam Ahmad rahimahullah berkata:
“Aku tidak melihatmu kecuali seorang yang mendebat.” [al-Adab as-Syar’iyyah: 1/358, dalam bab menyebar sunnah dengan  ucapan dan perbuatan tanpa perdebatan dan kekerasan; al-Bashirah fid-Da’wah Ilallah: 57]

18. Shafwan ibn Muhammad al-Mazini rahimahullah
Saat Shafwan rahimahullah melihat para pemuda berdebat di Masjid Jami’ maka ia mengibaskan tangannya sambil berkata:
“Kalian adalah jarab, kalian adalah jarab (sejenis penyakit kulit).” [Ibnu Battah: 597]

Dahulu dikatakan:
“Janganlah engkau mendebat orang yang santun dan orang yang bodoh; orang yang santun mengalahkanmu, sedang orang yang bodoh menyakitimu.” [Al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

“Ya Allah jauhkanlah kami dari jidal, dan anugerahkan pada kami istiqomah. Janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah engkau memberi hidayah pada kami.”

Sumber: Diketik ulang dari Majalah Qiblati Edisi 03 Tahun IV (12-1429/12-2008) hal.16-20

sumber: https://alqiyamah.wordpress.com/2010/02/05/salaf-shalih-memperingatkan-bahaya-debat/