Panduan Bekerja Menurut Kacamata Islam

Anjuran Bekerja

Oleh: Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman

Ketahuilah Allah ‘Azza Wa jalla dengan kelembutan hikmah-Nya, menjadikan dunia ini sebagai negeri mencari sebab dan usaha. Islam, sebagai agama yang sempurna, tidak melupakan sisi kehidupan dunianya seorang muslim, bahkan menganjurkan kepada mereka untuk bekerja dan mencari rejeki. Allah ‘azza wa jalla berfirman.

“Sesungguhnya kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu  di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS: Al-A’raf:10)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman pula,

“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS: An-Naba’:11)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

Tidaklah seorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri. Sungguh, nabi Dawud ‘alaihissalam, beliau makan dari hasil jerih payah tangannya” (HR. Bukhari – 1966)

Al-Irnam as-Sarakhsiy berkata, “Sesungguhnya Allah Mewajibkan para hamba-Nya untuk mencari nafkah kehidupan, agar mereka dapat menjalankan ketaatan kepada Allah. Allah Berfirman, ‘Dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”[1] Allah Menjadikan mencari rezeki sebagai sebab untuk beribadah.”[2]

PATOKAN UMUM DALAM DUNIA KERJA 

  1. Pilih jenis pekerjaan yang halal 

Ketahuilah, wahai saudaraku! Allah-lah yang Maha Memberi rezeki. Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

“Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS adz-Dzariyat: 58)

Jemputlah rezekimu dengan cara yang halal! Pilih jenis pekerjaan yang halal, jangan yang haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

”Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami Berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS al-Baqarah (2)2172)

Maka, seorang muslim dituntut untuk makan dari yang halal. Jika dia memberi nafkah maka harus dari penghasilan yang baik, dan hal itu tidak bisa terwujud kecuali apabila pekerjaan yang dia pilih telah dibolehkan dalam Islam.[3]

Ketahuilah, wahai saudaraku! Rezeki yang haram tidak akan membawa keberkahan, hanya akan membinasakan! Dari Ka’b ibn ‘Ujrah radhiallahu’anhu bahwasa nya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Wahai Ka’b ibn ‘Ujrah! Sesungguhnya tidak akan masuk surga, daging dan darah yang tumbuh dari harta haram, neraka lebih berhak/patut baginya.”[4]

  1. Mengikat perjanjian kerja 

Islam sangat menganjurkan agar dibuat akad perjanjian kerja antara pekerja dengan perusahaan atau yang memberi pekerjaan. Perjanjian kerja ini memuat kesepakatan antara dua pihak, dan perkara ini sangat penting, karena akan terwujud keadilan antara dua pihak yang bersepakat dan menghindari perselisihan antara keduanya. Kesepakatan kerja yang dibuat mencakup:

  1. a) jenis pekerjaan dan bentuknya,
  2. b) penjelasan waktu kerja atau lamanya pekerjaan itu harus diselesaikan,
  3. c) penentuan upah atau gaji pekerja,
  4. d) dan lain-lain yang dianggap perlu.

Dasar hukum pentingnya kesepakatan ketika bekerja adalah firman Allah yang berbunyi,

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.” (QS. al-Ma’idah: 21)

Sifat orang yang beriman adalah menjaga amanah dan janji yang dipikulnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

”Dan orang-orang yang memelihara amanah (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun 8)

  1. Memilih pekerja yang cakap dan mampu dalam bidangnya

Islam mengarahkan agar kita tidak memberikan pekerjaan kecuali kepada orang yang telah memenuhi kriteria, seperti keahliannya dan kemampuannya dalam pekerjaan yang akan diembankannya. Ambillah pelajaran dari ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang Allah Kisahkan dalam firman-Nya,

“Berkata Yusuf, ”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir)! Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)

Ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, “aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan,” ini menunjukkan kemampuan Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam menjadi bendahara negara Mesir.

Juga berdasarkan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalama ketika putrinya berkata kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman mengisahkannya,

”Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, ‘Wahai bapakku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. al-Qashash: 26)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Jika suatu perkara itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kedatangan hari Kiamat.” (HR. Bukhari:59)

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memberikan pekerjaan kepada orang yang tidak mampu. Dikisahkan bahwa Sahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diangkat menjadi pemimpin dalam suatu wilayah, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menepuk pundaknya (yakni Abu Dzar) bersabda,

”Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau orang yang lemah, dan pekerjaan ini adalah amanah, dan ini akan membawa kehinaan dan penyesalan pada hari Kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikannya dengan benar.” (HR. Muslim-4823)

Sahabat Abu Dzar radhiallahu’anhu di sini, tidak kurang sedikit pun amanahnya, karena beliau Sahabat yang mulia. Akan tetapi, yang kurang darinya adalah kecakapan dan kemampuannya, dan hal ini tersirat dalam ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”sesungguhnya engkau orang yang lemah,” maksudnya tabiat Sahabat Abu Dzar adalah orang yang lembut, kalem, tidak cocok dengan bidang kepemimpinan yang membutuhkan sikap tegas yang membuat takut orang yang zhalim dan menolak tindakan kesewenangan.[5]

  1. Beban pekerjaan sesuai dengan kemampuan 

Termasuk keistimewaan agama Islam, bahwasanya Islam tidak membebankan suatu perkara yang di luar kesanggupan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS al-Baqarah: 286)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya saudara kalian (yaitu budak/hamba sahaya yang kalian miliki) ini adalah yang mengurus urusan kalian, Allah Menjadikan mereka di bawah perintah kalian. Maka, barang siapa yang saudaranya di bawah perintahnya, maka hendaklah dia memberi makan seperti dia makan, memberi pakaian seperti dia berpakaian, dan janganlah engkau membebani mereka dengan beban yang memberatkan mereka. ]ika kamu sudah membebani dengan beban berat, maka bantulah mereka.” (HR. Bukhari:30)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dan yang semakna dengan budak, termasuk dalam hal ini seperti pekerja dan lainnya.” (Fathul Bari (5:174))

  1. Mengerjakan kewajiban sebelum minta hak 

Termasuk perkara baik dalam dunia pekerjaan adalah semangat dalam menyelesaikan kewajiban sebelum meminta hak upah atau gajinya. Karena, menunaikan pekerjaan yang wajib sama saja kita menunaikan akad yang telah dibuat, sehingga akan mengikat pihak lain untuk memberi upah atau gaji. Andaikan setiap pihak menunaikan hal ini, maka akan hilang perselisihan, akan terbangun tolong-menolong dalam dunia pekerjaan. Sehingga pada akhirnya akan tercipta kondisi yang baik dalam menyelesaikan pekerjaan dari sisi kerapian, ketepatan, dan sesuai yang diinginkan.

ADAB SEBAGAI PEKERJA 

Sungguh, Islam telah mengajarkan akhlak-akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari, tidak terkecuali dalam lingkungan kerja. Dalam dunia kerja, sebagai karyawan/pegawai hendaknya berhias dengan sifat-sifat mulia ketika melakukan pekerjaan. Apa saja adab yang seharusnya diperha tikan bagi para pekerja?

  1. Kuat 

”Kuat” di sini maksudnya adalah kuat badan dan hati. Kuat badan dalam mengerjakan kewajiban kerja, kuat dalam menunaikan apa yang wajib di selesaikan, juga kuat dalam arti maknawi seperti kuat berpikir dan fokus dalam menyelesaikan kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaan. Inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

”Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. al-Qashash: 26)

  1. Amanah

Wajib bagi seorang pekerja untuk amanah dalam lingkungan kerjanya. Karena, Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfal (8)227)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Tunaikan amanah kepada orang yang mengamanatkan kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. At-Tirmizi, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani, Ash-Shahihain no. 424)

Sifat amanah bagi seorang pekerja meliputi:

  • a) Perhatian terhadap waktu pekerjaan

Yaitu dia bersemangat untuk menjaga waktu dalam menuntaskan pekerjaan yang diembankan, tidak main-main, tidak banyak mengobrol atau melakukan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan; hal ini baik di lingkungan pabrik atau di luarnya.

  • b) Menjauhi tipu-menipu dalam bekerja

Karena, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa menipu, maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim : 45)

Curang dalam bekerja adalah sifat buruk, menodai amanah yang kita pikul; maka jauhilah hal ini wahai para pekerja. Berlaku jujurlah! Maka engkau akan mujur. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Sesungguhnya kejujuran itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang selalu jujur.”(HR. Bukhari: 6094, Muslim: 2607)

  • c) Tidak memanfaatkan waktu kerja untuk kepentingan pribadi

Sering kita dapati seorang karyawan pulang ke rumah untuk kepentingan pribadinya, padahal masih dalam waktu kerja kantornya. jauhilah hal ini, wahai saudaraku!

  1. Maksimal dalam bekerja

Sungguh, agama kita yang mulia secara umum menganjurkan agar setiap orang yang bekerja untuk membaguskan pekerjaannya. Bahkan hal ini akan membuat senang atasan dan pemilik perusahaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Sesungguhnya Allah Mencintai jika salah seorang di antara kalian mengerjakan pekerjaan kemudian dia membaguskan pekerjaannya.” (Hadis hasan lighairihi, Ash-shahihah:1113)

  1. Ikhlas 

“Ikhlas” adalah asas sangat penting dalam bekerja. Ia adalah pendorong yang sangat kuat agar kita dapat menunaikan pekerjaan dengan baik.

Dengan keikhlasan, seorang pekerja akan selain merasa diawasi, bekerja dengan maksimal dan membaguskan hasil pekerjaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

”Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami Tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami Keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS al-Isra’:13-14)

  1. Mematuhi aturan pekerjaan

Sungguh, hal ini termasuk perkara yang harus diperhatikan oleh para pekerja. Peraturan yang dibuat dalam lingkungan kerja bukan untuk dilanggar. Mematuhi peraturan dalam bekerja meliputi:

  1. a) Aturan waktu bekerja

Seperti datang tepat waktu tidak terlambat, tidak pulang sebelum waktunya. Mematuhi waktu bekerja yang telah ditetapkan, sehingga tidak istirahat sebelum waktunya.

  1. b) Taat kepada atasan

Tentunya hal ini dalam perkara yang baik Jika atasan memberikan arahan dalam bekerja, memerintahkan sesuatu, maka Anda sebagai bawahan mematuhinya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil-amri diantara kamu.” (QS an-Nisa’: 59)

  1. Tunaikan kewajiban agama 

Contohnya adalah shalat. Ketika adzan telah berkumandang, bersegeralah untuk menyambut seruan shalat. Jangan sekali-kali shalat ditinggalkan hanya karena sibuk urusan kantor yang tidak ada selesainya!! Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman,

”Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan.” (QS Maryam:59)

Contoh yang lain adalah puasa Ramadhan. Iika tiba bulan Ramadhan maka wajib bagi seluruh pekerja untuk berpuasa, jangan membatalkan puasa karena alasan lelah dalam bekerja!!

ADAB ORANG YANG MEMPEKERJAKAN KARYAWAN 

  1. Segera membayar upah dan gajinya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Berikanlah upahnya pekerja sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah:2443, dishahihkan oleh Al-albani dalam Al-irwa ‘: 1498)

Bahkan bagi siapa saja yang tidak memberikan gaji dan upah pekerjanya, dia berhak mendapat ancaman yang sangat keras.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Allah Ta’ala Berfirman, ‘Tiga golongan yang Aku menjadi musuh mereka pada hari Kiamat: (1) orang yang bersumpah dengan nama-Ku kemudian berkhianat, (2) seorang yang sengaja menjual orang yang merdeka kemudian makan upahnya, dan (3) orang yang menyewa pekerja. kemudian pekerja itu telah menyelesaikan tugasnya, tetapi dia tidak memberikan upah pekerja tersebut!“ (HR. Bukhari: 2270)

Termasuk dalam kategori “tidak memberikan upah pekerja” adalah menunda-nunda pembenan gaji, memotong dan menahan gaji tanpa hak! Wallahulmusta’an. 

  1. Tidak sombong

Jangan mentang-mentang kita yang memberi pekerjaan, lantas kita sombong kepada pekerja! Tidak boleh, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q5 Luqman:18)

  1. Memuliakannya sebagai manusia 

Pekerja bukanlah binatang yang dapat kita perintah seenaknya. Dia adalah manusia yang mulia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anakanak Adam.” (QS al-Isra’:70)

Maka, janganlah Anda sebagai atasan memperlakukan pekerja seperti binatang; dipukul, diberi beban yang berat di luar kesanggupan. Tidak boleh! Barang siapa yang nekat membebankan pekerjaan melampaui batas kepada pekerjanya, sungguh dia telah berbuat zhalim/aniaya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seorang budak berhak mendapat makanan dan pakaiannya, serta tidak boleh dibebani dengan pekerjaan kecuali sebatas kemampuannya!” (HR. Muslim:1663)

Al-lmam an-Nawawi berkata, “Para ulama telah sepakat bahwasanya tidak boleh membebankan pekerjaan yang di luar batas kemampuan kepada budak. Apabila terjadi demikian maka wajib bagi seorang majikan untuk membantu dengan dirinya sendiri atau minta bantuan orang lain.” (Syarh Shahih Muslim 11:133)

  1. Berikan haknya

Pembantu, pekerja, atau sopir adalah manusia biasa. Mereka punya hak sebagaimana layaknya manusia yang lain. Mereka berhak untuk tidur, berhak untuk berobat jika sakit, berhak untuk makan, dan lain-lain. Semua ini harus dijaga oleh majikan, jangan sampai membebankan pekerjaan hingga larut malam, sedangkan besok paginya harus bekerja lagi. Karena, seorang muslim terhadap muslim lainnya harus punya rasa kemanusiaan, punya perasaan dan saling mengasihi.

  1. Jadilah pemaaf

Dalam dunia kerja, kesalahan dari pegawai atau pekerja adalah hal yang biasa. Maka, hendaklah seorang atasan memberi maaf atas kesalahan pegawai atau pekerjanya. Dari ‘Abdullah ibn ‘Umar ragi radhiallahu’anhu, bahwasanya dia berkata,

”Ada seseorang yang datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah! Berapakah kita memberikan maaf kepada pembantu? Beliau diam tidak menjawab. Laki-laki tadi mengulangi pertanyaannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap diam tidak menjawab. Tatkala pada kali yang ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Berikanlah maaf kepadanya setiap hari sebanyak tujuh puluh kali”[6]

Allahua’lam.[7]

Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 3 tahun ketujuh belas, Al-Muharam 1439

[1] . QS. Al Jumuah -10

[2]. Al-Iktisab Fir Rizqi Al Mustathab – 171

[3] Al Hurriyyah wal Iqtishadiyyah Fil Islam, Sa’id Abul Futuh – 371

[4] HR Ahmad (3:321), Ibnu Hibban (5557), Al-Hakim (4:141). Asy Syaikh Al-Albani berkata, “Hadis shahih lighairihi”(Lihat shahih At-taghrib 867)

[5] Akhlaqul ‘Amal Fil Islam, DR. Mufrih Ibn Sulaiman Al-Qausi hlm. 7

[6] HR. Abu dawud (5164), At-Tirmidzi (1949), Ahmad (9:454). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-shahihah (no. 488)

[7] Kami banyak mengambil manfaat dari risalah Akhlaqul ‘Amal Fil Islam, DR. Mufrih ibn Sulaiman Al-Qausi, dengan tambahan referensi lainnya.


sumber: https://pengusahamuslim.com/6085-panduan-bekerja-menurut-kacamata-islam.html

Meninggalkan Sesuatu Karena Allah 

Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan ganti dengan yang lebih baik.

Siapa yang meninggalkan budaya dan tradisi syirik, maka Allah akan menggantikannya dengan beribadah pada Allah semata. Shalatnya untuk Allah, sembelihan tumbalnya untuk Allah, dan sedekahnya jadinya untuk Allah.

Siapa yang meninggalkan ibadah yang tidak ada tuntunan karena Allah, maka Allah akan memberikan cahaya sunnah untuknya, jalan yang terang benderang yang jauh dari kesia-siaan.

Siapa yang meninggalkan pekerjaan yang haram, pekerjaan riba dan profesi yang mengundang laknat Allah, maka Allah akan ganti dengan pekerjaan yang halal yang lebih menentramkan jiwa.

Siapa yang meninggalkan pujaan hati yang belum halal karena Allah, maka Allah akan beri ganti dengan jodoh yang terbaik yang lebih menjaga kesucian diri.

Siapa yang meninggalkan nyanyian yang sia-sia dan musik yang banyak melalaikan, maka Allah akan ganti dengan hal yang lebih bermanfaat dan dijauhkan dari kemunafikan.

Siapa yang meninggalkan kecanduan rokok, miras, dan narkoba karena Allah, maka Allah ganti dengan kesehatan dan keselamatan pada jiwanya.

Faedah yang sangat berharga disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah berikut ini tentang perihal yang kita kaji.

“Akan terasa sulit jika seseorang meninggalkan hal-hal yang ia sukai dan gandrungi, lantas ia meninggalkannya karena selain Allah.

Namun jika jujur dan ikhlas dari dalam hati dengan meninggalkannya karena Allah, maka tidak akan terasa berat untuk meninggalkan hal tadi. Yang terasa sulit cuma di awalnya saja sebagai ujian apakah hal tersebut sanggup untuk ditinggalkan. Apakah meninggalkan hal itu jujur ataukah dusta? Jika ia terus bersabar dengan menahan kesulitan yang hanya sedikit, maka ia akan memperoleh kelezatan.

Ibnu Sirin pernah berkata bahwa ia mendengar Syuraih bersumpah dengan nama Allah, hamba yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka ia akan meraih apa yang pernah luput darinya.

Adapun perkataan “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka akan diberi ganti yang lebih baik dari itu”, ganti yang diberikan di sini beraneka ragam. Akan tetapi ganti yang lebih besar yang diberi adalah kecintaan dan kerinduan pada Allah, ketenangan hati, keadaan yang terus mendapatkan kekuatan, terus memiliki semangat hidup, juga kebanggaan diri serta ridha pada Allah Ta’ala.” (Al Fawaid, hal. 166)

Luar biasa janji yang kan diberi.

Marilah saudaraku … cobalah berusaha meninggalkan sesuatu karena Allah, ingat karena Allah semata, maka rasakan bagaimanakah gentian luar biasa yang Allah berikan.

Ingat sekali lagi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Adapun tidak disebutnya nama sahabat tetap tidak mencacati hadits tersebut karena seluruh sahabat itu ‘udul yaitu baik)

Bentuk gentian dari meninggalkan sesuatu yang haram disebutkan dalam ayat-ayat dan hadits-hadits berikut ini.

Siapa yang meninggalkan penipuan dalam jual beli, maka Allah akan mendatangkan berkah pada jual belinya. Dalam hadits disebutkan,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا – أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا – فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu” (Muttafaqun ‘alaih).

Siapa yang meninggalkan sifat pelit, maka ia akan mulia di sisi manusia dan ia akan menjadi orang-orang yang beruntung. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghabun: 16)

Siapa yang meninggalkan sifat sombong dan memilih tawadhu’, maka Allah akan membuat ia meninggikan derajatnya di dunia. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588).

Siapa yang meninggalkan rasa dendam dan mudah memaafkan yang lain, maka Allah pun akan menganugerahkan kemuliaan pada dirinya. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

“Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya.” (HR. Muslim no. 2588).

Semoga Allah memberi taufik untuk meninggalkan yang haram karena Allah.

Referensi:

Al Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan keenam, tahun 1431 H.

Romadhon Durusun wa ‘Ibarun – Tarbiyatun wa Usrorun, Dr. Muhammad bin Ibrahim Al Hamad, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan kedua, tahun 1424 H.

—

Selesai disusun di Puskesmas Panggang, Gunungkidul, pagi hari penuh berkah, 27 Muharram 1436 H (20-11-2014)

Yang selalu mengharapkan ampunan Rabbnya: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Sumber https://rumaysho.com/9596-meninggalkan-sesuatu-karena-allah.html

Tidak Meremehkan Dosa 

Meremehkan dosa malah membuat dosa tersebut menjadi besar di sisi Allah, ditambah lagi jika terus menerus melakukan dosa walau itu awalnya dosa yang ringan.

Disebutkan hadits dalam Shahih Bukhari,

عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya kalian melakukan suatu amalan dan menyangka bahwa itu lebih tipis dari rambut. Namun kami menganggapnya di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sesuatu yang membinasakan.” (HR. Bukhari no. 6492).

Jika disebutkan bahwa ia sangka suatu dosa itu lebih tipis dari rambut, itu tanda meremehkan dosa. Padahal sesuatu yang dianggap sepele seperti ini di sisi Allah begitu besar.

Disebutkan dari jalur Ibrahim bin Al Hajjaj dari Mahdi, “Kami menganggapnya sebagai dosa kala bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Ibnu Batthol mengatakan,

الْمُحَقَّرَاتُ إِذَا كَثُرَتْ صَارَتْ كِبَارًا مَعَ الْإِصْرَار

“Sesuatu dosa yang dianggap remeh bisa menjadi dosa besar, ditambah lagi jika terus menerus melakukan dosa.”

Abu Ayyub Al Anshori berkata,

إِنَّ الرَّجُل لَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيَثِقُ بِهَا وَيَنْسَى الْمُحَقَّرَاتِ فَيَلْقَى اللَّهَ وَقَدْ أَحَاطَتْ بِهِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَلَا يَزَالُ مِنْهَا مُشْفِقًا حَتَّى يَلْقَى اللَّه آمِنًا

“Sesungguhnya seseorang melakukan kebaikan dan terlalu percaya diri dengannya dan meremehkan dosa-dosa, maka ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan ia penuh dengan dosa. Sesungguhnya seseorang melakukan kejeleken dalam keadaan terus merasa bersalah, maka ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan aman.”

Perkataan-perkataan di atas diringkas dan disarikan dari Fathul Bari, 11: 330.

Semoga faedah singkat dari Rumaysho.Com di malam ini bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H

—

Selesai disusun di malam hari, 3 Dzulqo’dah 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul

Sumber https://rumaysho.com/3608-tidak-meremehkan-dosa.html

Urgensi Pembinaan Rumah Tangga Islami

Diantara hal yang terpenting yang mempengaruhi terwujudnya kebahagian pada individu dan masyarakat adalah pembinaan keluarga yang istiqamah diatas ajaran Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah telah menjadikan rumah tangga dan keluarga sebagai tempat yang disiapkan untuk manusia merengkuh ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan sebagai anugerah terhadap hambaNya. 

Untuk itulah Allah berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar-Rum [30]:21)

Dalam ayat yang mulia ini Allah firmankan: (لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا) bukan (لِّتَسْكُنُوا مَعَهَا). Hal ini menunjukkan pengertian ketentraman dalam prilaku dan jiwa dan merealisasikan kelapangan dan ketenangan yang sempurna. Sehingga hubungan pasutri itu demikian dekat dan dalamnya seakan-akan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya,

“Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (Qs. Al-Baqarah [2]:187)

Apalagi bila hubungan ini ditambah dengan pembinaan dan pendidikan anak-anak dalam naungan orang tua yang penuh dengan rasa kasih sayang. Adakah nuansa dan pemandangan yang lebih indah dari ini? Hal ini menjadi penting karena perintah Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً وقودها النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عليها مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لاَّ يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim [66]:6)

Ini semua menjadi tanggung jawab kita semua, sebab kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت) متفق عليه

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.”(Muttafaqun alaihi)

Dalam hadits diatas, jelaslah Allah telah menjadikan setiap orang menjadi pemimpin baik skala bangsa, umat, istri dan anak-anaknya. Setiap orang akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah. Ingatlah tanggung jawab anak dan istri adalah tanggung jawab besar disisi Allah, hal ini dengan menjaga mereka dari api neraka dan berusaha menggapai kesuksesan didunia dengan mendapatkan sakinah, mawaddah dan rahmat dan di akherat dengan masuk kedalam syurga. Inilah sesungguhnya target besar yang harus diusahakan untuk diwujudkan.

Oleh karena itu agama Islam memberikan perhatian khusus dan menetapkan kaedah dan dasar yang kokoh dalam pembentukan keluarga muslim. Islam memberikan kaedah dan tatanan utuh dan lengkap sejak dimulai dari proses pemilihan istri hingga memberikan solusi bila rumah tangga tidak dapat dipertahankan kembali.

Pembinaan keluarga ini semakin mendesak dan darurat sekali bila melihat keluarga sebagai institusi dan benteng terakhir kaum muslimin yang sangat diperhatikan para musuh. Mereka berusaha merusak benteng ini dengan aneka ragam serangan dan dengan sekuat kemampuan mereka. Memang sampai sekarang masih ada yang tetap kokoh bertahan namun sudah sangat banyak sekali yang gugur dan hancur berantakan. Demikianlah para musuh islam tetap dan senantiasa menyerang kita dan keluarga kita. Allah berfirman,

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al-baqarah [2]:217)

Hal ini diperparah keadaan kaum muslimin dewasa ini yang telah memberikan perhatian terlalu besar kepada ilmu-ilmu dunia, namun lupa atau melupakan ilmu agama yang jelas lebih penting lagi. Ilmu yang menjadi benteng akhlak dan etika seorang muslim dalam hidup, dan menggunakan kemampuannya dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan gelombang ujian dan fitnah ini. Mereka lupa membina dirinya, keluarganya dan anak-anaknya dengan ajaran syari’at Islam yang telah membentuk para salaf kita terdahulu menjadi umat terbaik didunia ini.

Memang muncul satu fenomena bahwa urgensi dan tugas orang tua sekarang hampir-hampir menjadi sempit hanya sekedar mengurusi masalah pangan dan sandang saja. Ditambah lagi bapak sibuk dan ibupun tidak kalah sibuknya dalam memenuhi sandang pangan dan mencapai karier tertinggi. Akhirnya anak-anak terlantar dan tidak jelas arah pembinaan dan pendidikannya.

Padahal orang tua memiliki pengaruh besar dalam pembentukan dan pembinaan pribadi anak. Lihatlah sabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam,

…. فأبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nashrani.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Karena itu diperlukan pembinaan keluarga SAMARA diatas ajaran dan bimbingan Rasululloh dan contoh para salaf sholeh terdahulu.

selengkapnya https://muslimah.or.id/248-jagalah-keluargamu-dari-neraka-1.html

Bukan Besarnya Dosa tetapi Kepada Siapa Bermaksiat

Terkadang setan membisikkan kepada kita agar meremehkan dosa walaupun kecil. Kita merasa tidak apa-apa melakukan dosa ini, karena itu “hanya” dosa kecil dan bukan merupakan dosa besar. Hendaknya kita perhatikan nasehat ulama bahwa bukan besar-kecilnya dosa yang menjadi masalah, akan tetapi kita bermaksiat kepada Allah pencipta kita. Kita buat permisalan, kepada atasan/bos saja, kita hati-hati sekali, jangan sampai melakukan kesalahan walaupun kecil. Kita sangat hati-hati ketika melakukan tugas dari atasan/bos. Tentu kita harus sangat-sangat hati-hati jika bermaksiat kepada Allah, Rabb Penguasa semesta alam yang telah menciptakan alam semesta ini.

Bilal bin Sa’ad berkata,

لا تنظر إلي صغر المعصية, و لكن انظر من عصيت

“Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” [Ad-Daa’ wad Dawaa’ hal. 82]

Dosa kecil sangat berbahaya jika diremehkan. Dosa yang kecil yang terus-menerus dilakukan akan menjadi dosa besar yang berbahaya, terlebih hatinya meremehkan dosa tersebut. Terdapat ungkapan dari sebagian ulama kita:

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِمْرَارَ وَلاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِغْفَارِ

“Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan terus-menerus, tidak ada dosa besar apabila diiringi dengan istighfar.”

Bagaimanapun juga, dosa yang kita lakukan besar atau kecil tetap akan membuat hati kita menjadi sakit bahkan mati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺫْﻧَﺐَ ﺫَﻧْﺒًﺎ ﻧُﻜِﺖَ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻧُﻜْﺘَﺔٌ ﺳَﻮْﺩَﺍﺀُ ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﺎﺏَ ﻭَﻧَﺰَﻉَ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔَﺮَ ﺻُﻘِﻞَ ﻗَﻠْﺒُﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺯَﺍﺩَ ﺯَﺍﺩَﺕْ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻌْﻠُﻮَ ﻗَﻠْﺒَﻪُ ﻓَﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟﺮَّﺍﻥُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ : ﻛَﻠَّﺎ ﺑَﻞْ ﺭَﺍﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻜْﺴِﺒُﻮﻥَ

”Sesungguhnya seorang mukmin, jika melakukan satu perbuatan dosa, maka ditorehkan di hatinya satu titik hitam. Jika ia bertaubat, berhenti dan minta ampun, maka hatinya akan dibuat mengkilat (lagi). Jika semakin sering berbuat dosa, maka titik-titik itu akan bertambah sampai menutupi hatinya. Itulah ‘raan‘ yang disebutkan Allah ta’ala, sekali-kali tidak akan tetapi itulah ‘raan‘ yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an”. (HR. Ahmad, hasan)

Terkait dengan melakukan dosa juga, ada hal penting yang kita ketahui agar kita semua benar-benar takut ketika akan melakukan sebuah maksiat yang tentu merugikan diri sendiri dan bisa jadi orang lain, yaitu bahwa maksiat ini akan mendatangkan maksiat selanjutnya, akan menyebabkan kita cenderung melakukan maksiat selanjutnya.

Inilah yang dimaksudkan bahwa suatu keburukan akan membawa keburukan selanjutnya. Allah berfirman,

ﻭَﺟَﺰَﺍﺀُ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ ﺳَﻴِّﺌَﺔٌ ﻣِﺜْﻠُﻬَﺎ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (QS. Asy-Syura: 40)

Demikian juga Ibnu Abbas menjelaskan bahwa jangan pernah merasa aman ketika telah melakukan maksiat karena bisa jadi akan melakukan maksiat selanjutnya yang lebih besar. Beliau berkata,

ﻳﺎ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ، ﻻ ﺗﺄﻣﻦ ﻣﻦ ﺳﻮﺀ ﻋﺎﻗﺒﺘﻪ، ﻭﻟﻤﺎ ﻳﺘﺒﻊ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﺇﺫﺍ ﻋﻤﻠﺘﻪ

“Wahai pelaku dosa, janganlah merasa aman dari jeleknya akibat dosa, karena dosa yang lebih besar bisa jadi mengiringinya/mengikutinya, lebih besar dari dosa yang telah engkau lakukan (sekarang).” (Hilyatul Auliya’ no. 1180)

Semoga kita dijauhkan dari berbagai dosa baik dosa besar maupun dosa kecil, karena maksiat yang kita lakukan ini menjadi sebab kesusahan, musibah dan bencana yang turun kepada kita.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuraa :30)

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/42219-bukan-besarnya-dosa-tetapi-kepada-siapa-bermaksiat.html

[Kitabut Tauhid 2] 22. Dakwah kepada kalimat tauhid 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

  • Dimasukkannya Ahlu Kitab sebagai objek Dakwah Tauhid menunjukkan bahwa mereka telah menyimpang dari Dakwah Tauhid yang diajarkan oleh Nabi-Nabi mereka. Bahkan Allâh -‘Azza wa Jalla- telah membatalkan agama mereka dan mengharuskan mereka mengikuti dakwah Nabi Kita Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Nama Ahlul Kitab adalah julukan di dalam Al-Quran yang ditujukan untuk Yahudi dan Nashrani, karena yang dimaksud dengan kitab disana adalah Taurat dan injil. Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya menyebut mereka sebagai Ahlu Kitab bersamaan dengan kerusakan mereka dan kekafiran mereka.

selanjutnya kita akan mempelajari Dakwah kepada kalimat tauhid 09. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

Formulir Pertanyaan

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Larangan Menjadikan Agama Sebagai Bahan Candaan dan Lawakan 

Terdapat peringatan dalam agama kita yang melarang seseorang membuat suatu lawakan atau candaan dengan menceritakan suatu hal yang isinya dusta atau berbohong, dalam rangka membuat manusia tertawa. Peringatannya cukup keras.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﻳْﻞٌ ﻟِﻠَّﺬِﻯ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﻓَﻴَﻜْﺬِﺏُ ﻟِﻴُﻀْﺤِﻚَ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ

“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia .”[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa dusta tidak diperbolehkan baik dalam hal serius maupun bercanda, Beliau menukilkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

ﺇﻥ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﻻ ﻳﺼﻠﺢ ﻓﻲ ﺟﺪ ﻭﻻ ﻫﺰﻝ

“Sesungguhnya berdusta tidak boleh baik dalam keadaan serius maupun bercanda”[2]

Beliau menjelaskan lagi bahwa hukumannya lebih berat jika sampai menimbulkan permusuhan dan persengketaan di antara manusia bahkan menimbulkan bahaya bagi agama. Beliau berkata,

ﻭﺃﻣﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻋﺪﻭﺍﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺴﻠﻢ ﻭﺿﺮﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ؛ ﻓﻬﻮ ﺃﺷﺪ ﺗﺤﺮﻳﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ . ﻭﺑﻜﻞ ﺣﺎﻝ : ﻓﻔﺎﻋﻞ ﺫﻟﻚ ﻣﺴﺘﺤﻖ ﻟﻠﻌﻘﻮﺑﺔ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺮﺩﻋﻪ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ

“Apabila hal tersebut (dusta) menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin dan menimbulkan madharat bagi agama, maka ini lebih terlarang lagi. Pelakunya harus mendapatkan hukuman syar’i yang bisa membuatnya jera.”[3]

Ini menjadi peringatan bagi para komedian, aktivis stand-up comedy dan para pelawak agar hendaknya berhati-hati dan kita doakan kebaikan kepada mereka agar meninggalkan hal ini. Terlebih-lebih terlalu banyak tertawa bisa mematikan hati dan mengeraskan hati karena kebahagiaan sejati bukan dengan terlalu sering tertawa bahkan berlebihan sampai terbahak-bahak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻻَ ﺗُﻜْﺜِﺮُ ﺍﻟﻀَّﺤَﻚَ ﻓَﺈِﻥَّ ﻛَﺜْﺮَﺓَ ﺍﻟﻀَّﺤَﻚِ ﺗُﻤِﻴْﺖُ ﺍﻟﻘَﻠْﺐَ

“Janganlah terlalu banyak tertawa karena banyak tertawa bisa mematikan hati.”[4]

Larangan menjadikan agama sebagai bahan candaan, lawakan dan olok-olok

Hal ini sangat keras peringatannya. Allah berfirman,

ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa hukumnya sangat berat yaitu bisa keluar dari agama Islam. Beliau berkata,

‏ فإن الاستهزاء باللّه وآياته ورسوله كفر مخرج عن الدين لأن أصل الدين مبني على تعظيم اللّه، وتعظيم دينه ورسله

“Mengolok-olok dalam agama, ayat Al-Quran dan Rasul-Nya termasuk kekafiran yang bisa mengeluarkam dari Islam, karena agama ini dibangun di atas pengagungan kepada Allah, agama dan Rasul-Nya.”[5]

Karena memang agama ini adalah suatu yang mulia dan sangat tidak layak jika digunakan untuk jadi bahan candaan atau lawakan. Ingatkah kita ada aturan di bandara, “Bagi yang bercanda membawa bom di bandara, bisa terkena pasal hukuman pidana”. Jika urusan dunia seperti ini saja tidak boleh, tentu urusan agama lebih tidak boleh lagi.

Perlu diperhatikan juga bahwa menjadikan agama sebagai candaan atau mem-plesetkan istilah-istilah agama adalah kebiasaan orang Yahudi, sebagaimana Allah berfirman,

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﻻَ ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺭَﺍﻋِﻨَﺎ ﻭَﻗُﻮﻟُﻮﺍ ﺍﻧﻈُﺮْﻧَﺎ ﻭَﺍﺳْﻤَﻌُﻮﺍ ﻭَﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih. [Al-Baqarah/2:104].

Raa’ina berarti “Sudilah engkau memperhatikan kami”. Yaitu kebiasaan para sahabat ketika berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yahudi mem-plesetkan menjadi “Ru’unah” yang artinya sangat dungu atau sangat tolol. Allah memerintahkan sahabat menggantinya dengan perkataan “undzurna” yang maknanya sama.

Semoga kita dijauhkan dari hal seperti ini.

—

Catatan kaki:[1] HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315[2] Majmu’ Fatawa 32/255-256[3] Idem[4] Shahih Al Jami’ no. 7435[5] Lihat Tafsir As-Sa’diy

—

@ Yogyakarta Tercinta

Penulis: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/35776-larangan-menjadikan-agama-sebagai-bahan-candaan-dan-lawakan.html

Ketika Akal Bertentangan dengan Dalil Syar’i 

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

Artikel berikut adalah artikel yang merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya yang membahas tentang akal (Mendudukkan Akal pada Tempatnya).

Kami harap pembaca sekalian bisa membaca terlebih dahulu tulisan sebelumnya di sini.

Akal Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Walaupun akal bisa digunakan untuk merenungi dan memahami Al Qur’an, akal tidaklah bisa berdiri sendiri. Bahkan akal sangat membutuhkan dalil syar’i (Al Qur’an dan Hadits) sebagai penerang jalan. Akal itu ibarat mata. Mata memang memiliki potensi untuk melihat suatu benda. Namun tanpa adanya cahaya, mata tidak dapat melihat apa-apa. Apabila ada cahaya, barulah mata bisa melihat benda dengan jelas.

Jadi itulah akal. Akal barulah bisa berfungsi jika ada cahaya Al Qur’an dan As Sunnah atau dalil syar’i. Jika tidak ada cahaya wahyu, akal sangatlah mustahil melihat dan mengetahui sesuatu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

“Bahkan akal adalah syarat untuk mengilmui sesuatu dan untuk beramal dengan baik dan sempurna. Akal pun akan menyempurnakan ilmu dan amal. Akan tetapi, akal tidaklah bisa berdiri sendiri. Akal bisa berfungsi jika dia memiliki instink dan kekuatan sebagaimana penglihatan mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapati cahaya iman dan Al Qur’an barulah akal akan seperti mata yang mendapatkan cahaya mentari. Jika bersendirian tanpa cahaya, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu.” (Majmu’ Al Fatawa, 3/338-339)

Intinya, akal bisa berjalan dan berfungsi jika ditunjuki oleh dalil syar’i yaitu dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Tanpa cahaya ini, akal tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya.

Ketika Akal dan Dalil Syar’i Bertentangan

Jika kita sudah mengetahui bahwa akal tidaklah bisa berfungsi kecuali dengan adanya penerang dari Al Qur’an dan As Sunnah, maka tentu saja akal yang benar tidaklah mungkin bertentangan dengan dalil syar’i. Jika bertentangan, maka akal yang patut ditanyakan dan dalil syar’i lah yang patut dimenangkan. Kami dapat memberikan deskripsi tentang akal dan dalil syar’i sebagai berikut.

Ada orang awam ingin bertanya suatu hal pada seorang ulama. Akhirnya dia dibantu oleh Ahmad. Ahmad pun menunjukkan orang awam tadi pada ulama tersebut. Dalam suatu masalah, Ahmad menyelisihi pendapat ulama tadi. Lalu Ahmad mengatakan pada orang awam tadi, “Aku yang telah menunjuki engkau pada ulama tersebut, seharusnya engkau mengambil pendapatku bukan pendapat ulama tadi.” Tentu saja orang awam tadi akan mengatakan, “Engkau memang yang telah menunjukiku pada ulama tadi. Engkau menyuruhku untuk mengikuti ulama tadi, namun bukan untuk mengikuti pendapatmu. Jika aku mengikuti petunjukmu bahwa ulama tadi adalah tempat untuk bertanya, hal ini bukan berarti aku harus mencocokimu dalam setiap yang engkau katakan. Jika engkau keliru dan menyelisihi ulama tadi padahal dia lebih berilmu darimu, maka kekeliruanmu pada saat ini tidaklah membuat cacat tentang keilmuanmu bahwa dia adalah ulama.”

Ini adalah permisalan dengan seorang ulama yang mungkin saja salah. Lalu bagaimanakah jika pada posisi ulama tersebut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak mungkin keliru dalam penyampaian berita dari Allah?

Dari deskripsi ini, akal dimisalkan dengan si Ahmad yang jadi petunjuk kepada ulama tadi. Sedangkan ulama tersebut adalah permisalan dari dalil syar’i. Inilah sikap yang harus kita miliki tatkala kita menemukan bahwa akal ternyata bertentangan dengan dalil syar’i. Sikap yang benar ketika itu adalah seseorang mendahulukan dalil syar’i daripada logika. Sebagaimana kita mendahulukan ulama tadi dari si Ahmad sebagai petunjuk jalan. Jika dalil syar’i bertentangan dengan akal, maka dalil lah yang harus didahulukan. Namun hal ini tidak membuat akal itu cacat karena dia telah menunjuki kepada dalil syar’i.

Inilah yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu jika akal bertentangan dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah, maka dalil syar’i lebih harus kita dahulukan dari akal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

“Jika seseorang mengetahui dengan akalnya bahwa ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ada berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ternyata berita tersebut menyelisihi akal. Pada saat ini, akal harus pasrah dan patuh. Akal harus menyelesaikan perselisihan ini dengan menyerahkan pada orang yang lebih tahu darinya yaitu dari berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada saat ini, akal tidaklah boleh mendahulukan hasil pemikirannya dari berita Rasul. Karena sebagaimana diketahui bahwa akal manusia itu memiliki kekurangan dibandingan dengan berita Rasul. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu saja lebih mengerti mengenai Allah Ta’ala, nama dan sifat-sifat-Nya, serta lebih mengetahui tentang berita hari akhir daripada akal.” (Dar-ut Ta’arudh, 1/80)

Akal Tidak Mungkin Bertentangan dengan Dalil Al Qur’an dan As Sunnah

Inilah yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu dalil akal tidaklah mungkin bertentangan dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih sama sekali. Maka tidaklah tepat jika seseorang mengatakan bahwa logika (dalil akal) bertentangan dengan dalil syar’i. Jika ada yang menyatakan demikian, maka hal ini tidaklah lepas dari beberapa kemungkinan:

[Pertama] Itu sebenarnya syubhat (kerancuan) dan bukan logika (dalil akal) yang benar.

[Kedua] Dalil syar’i yang digunakan bukanlah dalil yang bisa diterima, mungkin karena dalilnya yang tidak shahih atau adanya salah pemahaman.

[Ketiga] Hal ini karena tidak mampu membedakan antara sesuatu yang mustahil bagi akal dan sesuatu yang tidak dipahami oleh akal dengan sempurna. Syari’at itu datang minimal dengan dalil yang tidak dipahami oleh akal secara sempurna. Dan Syari’at ini tidak mungkin datang dengan dalil yang dianggap mustahil bagi akal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَالرُّسُلُ جَاءَتْ بِمَا يَعْجِزُ الْعَقْلُ عَنْ دَرْكِهِ . لَمْ تَأْتِ بِمَا يُعْلَمُ بِالْعَقْلِ امْتِنَاعُهُ

“Rasul itu datang dengan wahyu minimal tidak digapai oleh akal dengan sempurna. Namun beliau tidaklah datang dengan wahyu yang mustahil bagi akal untuk memahaminya.” (Majmu’ Al Fatawa, 3/339). Semoga kita dapat memahami hal ini.

Sikap Ekstrim dan Pertengahan dalam Mendudukkan Akal

Ada dua sikap ekstrim dalam mendudukkan akal.

Sikap pertama: Yang menjadikan akal sebagai satu-satunya landasan ilmu sedangkan dalil Al Qur’an atau dalil syar’i hanya sekedar taabi’ (pengikut). Akal pun dianggap sebagai sumber pertama dan dianggap akal tidak butuh pada iman dan Al Qur’an. Inilah sikap yang dimiliki oleh Ahlul Kalam.

Sikap kedua: Yang sangat mencela dan menjelek-jelekan akal, juga menyelisihi dalil logika yang jelas-jelas tegasnya, serta mencela dalil logika secara mutlak. Inilah sikap dari kaum Sufiyah. (Majmu’ Al Fatawa, 3/338)

Sikap yang benar dan pertengahan adalah sikap yang menjadikan akal sebagai berikut:

  1. Akal adalah petunjuk untuk mengetahui dalil syar’i (dalil Al Qur’an dan As Sunnah)
  2. Akal tidak bisa berdiri sendiri namun butuh pada cahaya dalil syar’i. Tanpa adanya cahaya dalil Al Qur’an dan As Sunnah, akal tidaklah mungkin bisa memandang atau memahami suatu perkara dengan benar.
  3. Jika akal bertentangan dengan dalil syar’i, maka dalil syar’i yang harus didahulukan karena akal hanya sekedar petunjuk untuk mengetahui dalil sedangkan dalil syar’i memiliki ilmu dan pemahaman yang lebih dibanding akal.
  4. Akal (logika) yang benar tidaklah mungkin bertentangan dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah.
  5. Akal yang tercela adalah akal yang bertentangan dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah.

Mendudukkan Akal dalam Beberapa Kasus

Di antara penggunaan akal yang keliru adalah penggunaannya dalam memikirkan perkara-perkara ghaib seperti memikirkan sifat-sifat Allah dan keadaan hari kiamat.

[Contoh pertama]

Hadits tentang nuzul yaitu turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaroka wa ta’ala setiap malamnya turun ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Rabb mengatakan, “Barangsiapa yang berdo’a kepadaKu, maka akan Aku kabulkan. Barangsiapa meminta padaKu, maka akan Aku berikan. Barangsiapa meminta ampun padaKu, Aku akan mengampuninya”.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Sebagian orang menanyakan, “Bagaimana mungkin Allah turun ke langit dunia? Ini berarti ‘Arsy-Nya kosong. ” Atau mungkin ada yang menyatakan, “Kalau begitu Allah akan terus turun ke langit dunia karena jika di daerah A adalah sepertiga malam terakhir, bagian bumi yang lain beberapa saat akan mengalami sepertiga malam juga. Ini akan berlangsung terus menerus.”

Inilah akal-akalan yang muncul dari sebagian orang. Jawabannya sebenarnya cukup mudah. Ingatlah dalam masalah ini, kita harus bersikap pasrah, tunduk dan menerima dalil. Tugas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menyampaikan wahyu, sedangkan tugas kita adalah menerima secara lahir dan batin. Kalau kita tidak memahami hal ini, itu mungkin saja logika atau akal kita yang tidak memahaminya dengan sempurna. Jadi, sama sekali logika kita tidak bertentangan dengan dalil tersebut. Hanya saja kita kurang sempurna dalam memahaminya.

Lalu jika ada yang mengemukakan kerancuan di atas, cukup kita katakan, “Hal semacam ini tidaklah pernah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak pernah mendapatkan tafsiran mengenai hal ini. Jadi, dalam masalah menanyakan hakikat (kaifiyah) turunnya Allah, kita hendaknya stop dan tidak angkat bicara. Kita meyakini dan memahami adanya sifat nuzul (turunnya Allah ke langit dunia), namun mengenai hakikatnya kita katakan wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui).”

Jadi pertanyaan semacam di atas tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat, sehingga dalam hal ini kita seharusnya tidak menanyakannya pula.

Mungkin yang kita bayangkan tadi: “Bagaimana Allah bisa turun ke langit dunia? Berarti ‘Arsy-Nya kosong”; yang kita bayangkan sebenarnya adalah keadaan yang ada pada makhluk. Dan ingatlah bahwa Allah itu jauh berbeda dengan keadaan makhluk, janganlah kita samakan. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 11). Jika sesuatu tidak mungkin terjadi pada makhluk, maka ini belum tentu tidak bisa terjadi pada Allah yang Maha Besar.

[Contoh kedua]

Disebutkan dalam suatu hadits bahwa pada hari kiamat nanti posisi matahari akan begitu dekat dengan manusia.

Dari Al Miqdad bin Al Aswad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ

“Matahari akan didekatkan pada makhluk pada hari kiamat nanti hingga mencapai jarak sekitar satu mil.” Sulaiman bin ‘Amir, salah seorang perowi hadits ini mengatakan bahwa dia belum jelas mengenai apa yang dimaksud dengan satu mil di sini. Boleh jadi satu mil tersebut adalah seperti jarak satu mil di dunia dan boleh jadi jaraknya adalah satu celak mata. (HR. Muslim no. 7385)

Jadi, intinya matahari ketika itu akan didekatkan dengan jarak yang begitu dekat.

Ada mungkin yang mengatakan, “Saat ini jika matahari didekatkan ke bumi dengan jarak satu mil –padahal suhu matahari begitu tinggi (suhu permukaannya sekitar 6000oC)-, tentu saja bumi akan hangus terbakar. Lalu apa yang terjadi jika matahari didekatkan ke kepala dengan jarak yang begitu dekatnya?!”

Dalam hadits riwayat muslim di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا

“Keringat manusia ketika itu sesuai dengan kondisi amalannya. Ada di antara mereka yang keringatnya sampai di mata kaki. Ada pula yang keringatnya sampai di paha. Ada yang lain sampai di pinggang. Bahkan ada yang tenggelam dengan keringatnya.”

Jika kita memperhatikan, hadits ini terasa bertentangan dengan logika kita. Namun sebenarnya dapat kita katakan, “Kekuatan manusia ketika hari kiamat berbeda dengan kekuatannya ketika sekarang di dunia. Namun manusia ketika hari kiamat memiliki kekuatann yang luar biasa. Mungkin saja jika manusia saat ini berdiam selama 50 hari di bawah terik matahari, tanpa adanya naungan, tanpa makan dan minum, pasti dia akan mati. Akan tetapi, sangat jauh berbeda dengan keadaan di dunia. Bahkan di hari kiamat, mereka akan berdiam selama 50 ribu tahun, tanpa ada naungan, tanpa makan dan minuman.” (Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, hal. 370)

Intinya, logika kita tidaklah mungkin bertentangan dengan akal. Jika bertentangan, maka logika kitalah yang patut dipertanyakan.

Demikian beberapa penjelasan dari kami mengenai cara mendudukkan akal. Semoga Allah selalu memberi taufik dan hidayah kepada kita untuk memahami ajaran Al Qur’an dan As Sunnah, juga semoga kita dapat mendudukkan akal sesuai tempatnya.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Rujukan:

Dar-ut Ta’aarudh Al ‘Aqli wan Naqli, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, Darul Kanuz Al Adabiyah Riyadh

Ma’alim Ushul Fiqh ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy, Dar Ibnul Jauziy

Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, Darul Wafa’

Shahih Al Bukhari, Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, Mawqi’ Wizarotil Awqof

Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Daarul ‘Aqidah

Zaadul Muhajir – Ar Risalah At Tabukiyah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Hadits

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.com

Selesai disusun di Panggang, Gunung Kidul, 4 Rajab 1430 H

Sumber https://rumaysho.com/778-ketika-akal-bertentangan-dengan-dalil-syari.html

Menangis Hingga Dosa ini Terkikis  

Bismillaahirrahmaanirrahiim… 

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan segala nikmat kepada setiap makhlukNya. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan untuk Nabi kita, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah kepada seluruh umat agar dapat mengelola setiap nikmat yang telah Allah beri.

***

Salah satu nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia dibanding dengan hewan maupun tumbuhan adalah kemampuan manusia untuk merasa dan mengungkapkan perasaan. Manusia begitu bebas berekspresi dalam menggambarkan suasana hati yang tengah mereka rasakan.

Misalnya saja, seorang anak yang melompat-lompat kegirangan karena mendapatkan hadiah dari kedua orangtuanya, seorang bayi yang sedang rewel karena kehausan, seseorang yang tertawa karena suatu hal yang lucu, seorang pedagang keliling yang kecewa karena hingga larut malam dagangannya belum juga habis, dan masih banyak lagi yang lain.

Tak sedikit pula yang mengungkapkan suatu perasaan dengan menangis. Menangis adalah respon fisiologis yang terkait dengan emosi. Seseorang dapat menangis ketika ia sedang sedih, bahagia, atau bahkan untuk sekedar tangisan pura-pura.

Menangis bukanlah sebuah aktivitas yang tidak boleh dilakukan, karena tak dapat dipungkiri bahwa menangis adalah fitrah setiap manusia.

وَأَنَّهُ هُوَأَضْحَكَ وَأَبْكَى

“dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis”. (QS. An Najm: 43)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Al Qurthubi berkata,

“Yaitu Allah menetapkan sebab-sebab tertawa dan menangis. Berkata Atha’ bin Abi Muslim, “Allah membuat gembira dan membuat sedih, karena kebahagiaan bisa membuat tertawa dan kesedihan bisa membuat menangis.”

***

Ada begitu banyak alasan yang mendasari tangisan seseorang. Tangisan itu bermacam-macam. Ibnul Qayyim sendiri membagi tangisan menjadi 10 macam dalam bukunya, Za’adul Ma’ad. Tangisan seseorang menyimpan berjuta makna, dan diantara tangisan itu ada tangisan yang mengantarkan seseorang menuju surga.

لاَيَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِى الضَّرْعِ وَلاَيَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِى سَبِيل ِاللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

“Tidak akan masuk Neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, hingga air susu dapat kembali kepada kambingnya (kantong kelenjar susu binatang ternak), dan tidak akan berkumpul antara debu medan jihad fii sabiilillaah dengan asap Neraka Jahannam.” (HR Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)

Mata orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah akan dijauhkan dari api neraka.

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Dua mata yang tidak akan disentuh api Neraka, yakni mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga karena siaga (saat berjihad) di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani)

Air mata yang membasahi pipi seorang hamba karena takut kepada penciptaNya merupakan air mata yang mulia. Ia bermakna tinggi dihadapan Allah, ia akan mendapatkan kasih sayang Allah.

لَيْسَ شَىْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوعٍ فِى خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ. وَأَمَّا الأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِى فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain dua tetesan dan dua bekas. Yaitu, tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang mengalir (saat jihad) di jalan Allah. Adapun dua bekas, yaitu bekas dari berjihad di jalan Allah dan bekas dari menunaikan salah satu kewajiban yang telah Allah tetapkan.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani)

Jadi, tangisan yang mengantarkan seseorang kepada surga dan menjauhkan seseorang dari api neraka adalah tangisan karena takut kepada Allah. Air mata tersebut merupakan lambang ketakutan karena takut akan dosa-dosa yang telah ia perbuat, atau takut membayangkan kehidupan akhirat, takut karena kerasnya hati, dsb.

Air mata itu merupakan tameng bagi dirinya dari api neraka. Karena dengannya, ia akan sadar atas hakikat kehidupan. Pemilik air mata itu akan selalu berusaha menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.

***

Begitu juga dengan teladan-teladan kita pada zaman dahulu. Hati mereka begitu lembut hingga mudah menumpahkan air mata karena ketakutan-ketakutan atas azab Allah. Ketundukan dan ketakutan yang dalam kepada Allah menjadikan mereka tak enggan bercucuran air mata. Yang mereka tangisi bukanlah tendensi dunia dan materi, melainkan tangisan yang lebih hanya terfokus pada kehidupan setelah kematian.

Dan yang paling banyak menangis adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiallahu ’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (Nabi) berkata, 

ياعائشة ذريني أتعبد الليلة لربي

‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’

Kata Aisyah,” Aku sampaikan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang. ’Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat. ’Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’.

Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”. Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’.

Lalu Nabi pun menjawab,

أفلا أكون عبدا شكورا لقد نزلت علي الليلة آية ويل لمن قرأها ولم يتفكرفيها { إن في خلق السموات والأرض }

‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu Hiban dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albani).

Dalam Al Quran, Allah juga mengisahkan kondisi orang-orang shalih yang menangis karenaNya.

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُ رِّيَّةِ آَدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Yakub), dan dari orang yang telah Kami beri petunjuk dan Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis.” (QS Maryam 19:58)

Begitu pula dengan Abu Hurairah radhiallahu anhu yang tiba-tiba saja menangis pada saat sakitnya menjelang sakaratul maut. Kemudian ada yang bertanya kepada beliau, “Apa yang membuatmu menangis?”. Beliau pun menjawab, “Aku bukan menangis karena dunia yang akan aku tinggalkan ini. Tapi aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan kemana kah digiring diriku nanti?”.

***

Bagaimana dengan orang-orang zaman sekarang? Bagaimana dengan kita, wahai saudariku? Menangis memang bukanlah suatu kewajiban, tetapi menangis karena takut kepada Allah menjadi tolok ukur kelembutan hati seorang hamba. Menjadi indikator penyeselan seorang hamba atas dosa-dosa yang telah ia perbuat.

Begitu keraskah hati kita hingga tidak dapat menyesali perbuatan dosa yang telah kita lakukan? Begitu keraskah hati kita hingga tak mampu menyadari bahwa azab Allah sangat mengerikan? Begitu keraskah hati kita hingga tak mampu menghadirkan secuil saja rasa takut karena Allah di dalamnya?

Saudariku, sungguh hendaknya kita selalu memohon ampun kepada Allah. Mintalah pertolongan Allah dimanapun dan kapanpun, termasuk pertolongan agar dijauhkan dari kerasnya hati.

Menangislah…. Menangislah, saudariku…

Menangislah dengan syahdu.

Tangisi segala noktah-noktah hitam yang telah kita torehkan dalam dada ini. Tangisi begitu besar dosa yang telah kita timbun sementara kantung pahala kita belumlah terisi. Tangisi akan kehidupan akhirat kita yang telah menanti, keselamatan ataukah kejerumusan yang akan menghampiri.

Menangislah karena takut kepada Allah…

***

Jangan pernah sekalipun membiarkan mata ini berhenti menangis. Sesungguhnya dalam jasad ini terdapat banyak dosa. Dan anggota tubuh ini berhak untuk mendapatkan hukuman atas kesalahan yang telah ia lakukan.

Maka teruslah menangis…

Hingga diri ini sadar bahwa tak pantas bagi seorang muslim untuk menggores setitik dosa dalam buku amalnya.

— Viara Aisyah

————————————-

Referensi: : Majalah ElFata, Edisi 08, Tahun 2012, “Ada Cinta di Balik Tangis”.

Penulis   : Ovi Aswara

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

sumber: https://muslimah.or.id/8519-menangis-hingga-dosa-ini-terkikis.html

Berusaha Untuk Senantiasa Berdzikir 

Dzikir merupakan amalan yang agung dan bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa banyak berdzikir kepada-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah dengan  dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)

Manusia Sangat Butuh Terhadap Dzikir

Manusia memiliki kebutuhan yang sangat besar terhadap dzikir, kapan pun dan di mana pun. Apabila seorang hamba lalai dari berdzikir kepada Allah, maka waktu itu akan menjadi bencana baginya. Dia akan menyesal dengan penyesalan yang besar, baik ketika di dunia maupun di akhirat.

Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiada suatu waktu yang dilalui oleh seorang hamba sedang ia tidak berdzikir kepada Allah, melainkan akan menjadi penyesalan baginya di hari kiamat.” (Shahih Al-Jami’)

Tercelanya Melalaikan Dzikir kepada Allah

Selayaknya kita berusaha agar kita tidak menjadi orang yang mudah melalaikan dzikir, karena Allah sudah memperingatkan kita tentang bahayanya jika seorang hamba jatuh dalam kelalaian dari berdzikir. Allah ta’ala berfirman, “Dan sebutlah nama Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk  orang-orang yang lalai.” (QS. A-A’raaf: 205)

Begitulah Allah memperingatkan hamba-Nya, Allah mengingatkan kita dengan kasih sayang-Nya, “Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” Di sini kita harus menyadari bahwa kelalaian dalam mengingat Allah adalah suatu bahaya. Jika kita menjadi orang yang melupakan Allah, maka Allah akan menjadikannya lupa terhadap diri sendiri. Apakah ada seorang hamba yang bisa berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah? Tentu tidak ada.

Seorang hamba juga dapat terhalang dari kebaikan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat karena ia lalai dari berdzikir dan beribadah kepada Allah ta’ala. Oleh karena itu, agar di hati kita tertanam betapa sebenarnya manusia itu sangat butuh terhadap dzikir kepada Allah, kenalilah beberapa keutamaan yang diperuntukkan bagi orang yang berdzikir.

Keutamaan Bagi Orang yang Berdzikir

  1. Mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman di dalam hatinya.

Di tengah kehidupan dunia yang penuh kesibukan dan kesusahan, siapakah yang hatinya tidak ingin merasa bahagia dan tentram? Semua pasti ingin merasakannya. Berdzikirlah,ingatlah Allah dalam setiap keadaan. Baik dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, maupun berbaring. Orang yang berdzikir kepada Allah hatinya akan merasakan ketenangan dan ketentraman, pikiran juga akan tenang dan nyaman. Semua rasa gelisah dan kegoncangan dalam hati akan hilang karena ia mengingat Rabb-nya dengan lisan yang senantiasa berdzikir. Allah ta’ala berfirman, “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

  1. Diselamatkan dari adzab Allah.

Saudariku, kita tahu bahwa adzab Allah adalah suatu penderitaan yang sangat menyakitkan, orang yang berakal tentu ingin dijauhkan darinya. Maka berdzikirlah, Allah akan menyelamatkan kita dari adzab-Nya. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, “Tiadalah suatu amalan yang dilakukan oleh seorang hamba yang lebih menyelamatnya dari adzab Allah dari pada berdzikir kepada Allah.” (Musnad Ahmad, Shahih)

  1. Allah akan membukakan pintu maaf dan ampunan.

Allah ta’ala berfirman dalam kitab-Nya, “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-ahzaab: 35).

Seseorang yang senantiasa berdzikir, akan Allah bukakan pintu maaf dan ampunan-Nya atas kesalahan dan dosa-dosanya, menyediakan pahala yang besar dan derajat yang tinggi di dalam surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan:‘Subhaanallahi Wa bihamdih (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya)’ dalam sehari seratus kali, maka akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya meskipun seperti buih lautan.” (Shahih Bukhari dan Muslim)

  1. Dzikir dapat mengusir setan dan menundukkannya.

Saudariku, dzikir itu dapat membentengi kita dari setan. Sebaliknya,  barangsiapa yang tidak pernah berdzikir, maka setan akan senantiasa mengikutinya sebagaimana seseorang diikuti oleh bayangannya sendiri. “Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Rabb yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya setan yang menyesatkan, maka setan itu menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhrab: 36).

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Setan itu mendekam di dalam hati manusia, bila ia lupa dan lalai  dari berdzikir kepada Allah. Maka setan akan membisikan kejahatan. Tapi jika berdzikir kepada Allah, setan akan tertahan dan bersembunyi.” Seorang hamba tidak akan bisa melindungi dirinya dari setan, kecuali dengan berdzikir kepada Allah ta’ala.

  1. Seseorang yang banyak berdzikir kepada Allah, akan dijauhkan dari kemunafikan.

Orang-orang munafik itu sangat sedikit berdzikir kepada Allah,“Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit’” (QS. An-Nisa: 142).

  1. Dzikir adalah amalan yang ringan di lisan, tapi berat di timbangan.

Orang yang berdzikir akan mendapatkan pahala dan karunia dari Allah yang tidak pernah didatangkan dari amalan lainnya. Padahal, berdzikir merupakan ibadah yang paling ringan di lisan, yang gerakannya lebih ringan daripada anggota tubuh lainnya. Jika anggota badan melakukan ibadah sehari semalam seperti geraknya lisan, niscaya akan sangat berat baginya.

Macam-macam Ucapan Dzikir

  1. Dalam Shahihnya Bukhari dan Muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua kalimat yang ringan di lidah tetapi berat di timbangan, dan amat dicintai oleh Allah: ‘Subhaanallahi Wa Bihamdihi, Subhaanallahil Adziim.” Dalam riwayat yang sama juga disebutkan bahwa ucapan ini akan ditanamkan baginya sebuah tanaman pohon kurma di surga.
  1. “Barangsiapa mengucapkan, ‘subhaanallahi wa bihamdihi’ dalam sehari seratus kali, maka akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya meskipun seperti buih lautan.” (Shahih Bukhari dan Muslim)
  1. “Barangsiapa mengucapkan: ‘laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadhir’, seperti orang yang membebaskan empat orang budak dari keturunan Ismail.” (Shahih Bukhari dan Muslim)
  1. Istighfar, memohon ampun kepada Allah ta’ala dan senantiasa bertaubat atas dosa-dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam satu hari seratus kali.” (HR. Muslim)

Serta masih ada ucapan dzikir yang lainnya yang telah shahih diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimana Tata Cara Rasulullah dalam Berdzikir?

Selain diucapkan dengan lisan, hati juga tidak boleh lalai dalam memahami maknanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebiasaan menghitung jumlah dzikir dengan tangan kanannya. Dari Abdullah bin ‘Amru radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Aku pernah melihat Nabi menghitung tasbih dengan tangan kanannya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

[Lina Lusiana]

Referensi:

  1. Syaikh ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, 1431 H/2010, Fiqih Do’a dan Dzikir Jilid 1, Pustaka Darul Ilmi.
  2. Said bin Ali bin Wahf Al- Qahthani, 2015, Hisnul Muslim, At Tibyan.

sumber: https://muslimah.or.id/10189-berusaha-untuk-senantiasa-berdzikir.html