Renungan Bagi Atheis, Semoga Anda Mendapatkan Hidayah Islam

Bagi mereka yang menyatakan bahwasanya Allah itu tidak ada atau tidak ada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, mari kita renungkan sedikit saja. Renungan singkat yang menyatakan bahwasanya Allah itu ada dan ini merupakan fitrah manusia dan sebenarnya adalah hati nurani manusia. Inilah renungan bagi atheis.

Manusia secara fitrah butuh terhadap Allah yang Maha Menciptakan, Allah telah menciptakan manusia dengan fitrah ini, Allah berfirman,

فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا

“(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” [Ar-Rum: 30]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan fitrah ini dan bahkan cinta terhadap fitrah ini. Beliau berkata,

فإن جميع أحكام الشرع الظاهرة والباطنة قد وضع اللّه في قلوب الخلق كلهم، الميل إليها، فوضع في قلوبهم محبة الحق

“Semua hukum syariat secara dzahir dan batin, telah Allah letakkan ke dalam hati manusia dan hati mereka akan cenderung pada fitrah ini. Allah memasukkan rasa cinta akan kebenaran.”[Lihat Tafsir As-Sa’diy]

Kami kisahkan sedikit sebagai bahan renungan bagi atheis, bahwa ada seseorang yang pernah bercerita kepada kami, ada kejadian bahwa ia pernah menaiki sebuah pesawat, di pesawat tersebut duduk di sebelah kirinya seseorang yang beragama nasrani dan duduk di sebelah kanannya seorang atheis. Suatu ketika pesawat tersebu berguncang dengan dahsyat. Pilot pun menggumumkan bahwa cuaca sedang buruk dan ada kemungkinan pesawat akan melakukan pendaratan darurat.  Orang ini beragama islam berdoa ikhlas kepada allah dan ia melihat temannya di sebelah yang beragama nasrani pun berdoa. Ia pun melihat teman sebelahnya lagi yang atheis hanya bisa pasrah dan terlihat binggung. 

Setelah sekian lama pesawat kembali tenang dan cuaca kembali baik. Orang atheis itu berkata, “aku melihat kalian berdoa dan kalian bisa merasa tenang sedikit sedangkan aku bingung berdoa kepada siapa aku tidak tahu kepada siapa aku berharap di saat-saat seperti ini “

Mari renungkanlah kisah ini bahwasanya fitrah kita manusia kita butuh kepada Penguasa semesta alam. Ada saat-saat tertentu manusia tidak kuasa lagi, manusia sudah tidak bisa saling mengandalkan. Sebagaimana ketika terjadi gempa bumi yang dahsyat, saat itu siapa pun akan butuh kepada yang Maha Kuasa. Ketika tanah bergoyang dahsyat, siapapun saat itu langsung mengingat Allah, bahkan yang tidak pernah mengenal Allah sebelumnya semisal jarang salat, saat terjadi gempa, mereka tiba-tiba langsung ingat Allah dan keluar dari lisan mereka “astagfirullah, subhanallah”. Mereka kembali ke fitrahnya 

Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang lainnya secara logika dan nash yang menunjukkan adanya Allah. Apabila ada pertanyaan, 

“Siapakah yang menciptakan Allah?”

Jawaban secara logika adalah pertanyaan ini adalah pertanyaan yang salah. Sebagaimana pertanyaan, “Kapan ayahmu melahirkan?”

Tentu ini pertanyaan yang salah karena tidak ada ayah yang melahirkan. Demikian juga pertanyaan siapa yang menciptakan pencipta, ini pertanyaannya salah dan tidak akan ada jawabannya, karena yang namanya pencipta itu menciptakan, ia tidak diciptakan. 

Jika ada jawaban siapa yang menciptakan pencipta, maka pertanyaan akan muncul terus dan tidak ada ujungnya,

“Siapa yang menciptakan pencipta tadi?”

Demikian juga di alam semesta ini, pasti ada yang menciptakan dengan pengaturan yang luar biasa. Apakah semuanya kebetulan? Dan kebetulan ini adalah dalil dari orang-orang atheis, semua serba kebetulan. 

Perhatikan hadits berikut juga, dari Abu Hurairah,

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﻛَﺬَﺍ؟ ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﻛَﺬَﺍ؟ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘُﻮﻝَ : ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﺭَﺑَّﻚَ؟ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺑَﻠَﻐَﻪُ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﻟْﻴَﻨْﺘَﻪِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian dan berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’

Apabila setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”[HR. Bukhari]

Semoga sedikit renungan bagi atheis ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Barakallahu fiikum.

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penulis: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/57136-renungan-bagi-atheis-semoga-anda-mendapatkan-hidayah-islam.html

[Kitabut Tauhid 2] 58. Dakwah kepada kalimat tauhid 44

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Allâh -‘Azza wa Jalla- memerintahkan para hamba-Nya untuk berlaku adil dan bersungguh-sungguh membersihkan jiwa-jiwa mereka dari perbuatan kezaliman. Ahllâh -‘Azza wa Jalla- berjanji akan menunjukkan jalan keselamatan bagi orang yang berbuat demikian (menyucikan jiwa) karena mengharapkan wajah-Nya.

Diantara sarana yang bermanfaat agar terhindar dari perbuatan kezhaliman adalah :

  1. Bertaqwa kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  2. Menghiasi diri dengan sifat tawâdhu’ (rendah hati).
  3. Menjauhi sifat hasad.
  4. Komitmen untuk senantiasa berlaku adil.
  5. Memohon pertolongan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

selanjutnya kita akan mempelajari Dakwah kepada kalimat tauhid 43. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Formulir Pertanyaan

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

RAHASIAKANLAH RENCANA ANDA

Rahasiakanlah rencana Anda, agar anda sukses dalam menggapainya.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان ، فإن كل ذي نعمة محسود

“Bantulah KESUKSESAN hajat-hajat kalian dengan MERAHASIAKANNYA, karena setiap orang yang memiliki nikmat itu akan menjadi sasaran HASAD orang lain..” [Silsilah Shohihah: 1453]

Oleh karena itulah, seringkali rencana kita gagal atau mengalami banyak hambatan ketika beritanya mulai tersebar.

Wallahu a’lam..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/7978

Jika Sulit Menangis Karena Allah

Menangis karena Allah adalah salah satu tanda dan bukti keimanan karena tangisan ini tidak bisa direkayasa dan anda tidak bisa ingin dan mengatur tangisan ini. Ia muncul dari mata air lubuk hati yang paling dalam, rasa takut kepada Allah dan mengharap ampun serta ridha-Nya

Tidak Pernah seumur hidup menangis karena Allah, maka adalah musibah besar yang banyak orang tidak tahu, pura-pura lupa bahkan tidak peduli. Ini menunjukkan hatinya keras, tidak bisa tersentuh oleh kebaikan dan hanifnya iman. Ini karena banyaknya maksiat sehingga perlu segera berobat ke dokter hati yaitu ulama, dibawa ke pekuburan, mengelus kepala anak yatim.

Cukuplah hadits Rasulullah sebagai pengingat, Nabi MuhammadShallallâhu ‘Alaihi Wasallambersabda,

عرضت عليَّ الجنة والنار فلم أر كاليوم من الخير والشر ولو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا ولبكيتم كثيراً  فما أتى على أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم أشد منه غطوا رؤوسهم ولهم خنين

Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis”.
Anas bin Malik radhiyallâhu’anhu –perawi hadits ini- mengatakan,
Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan.[1]

Jika masih saja sulit menangis karena Allah?

Maka tangisilah diri kita, tangisilah hati kita yang mungkin sudah mati dan tangisilah jiwa kita yang tidak bisa menampung sedikit saja tetesan keimanan, serta tangisilah mayat badan kita yang kita seret  berjalan merajalela di muka bumi karena ia hakikatnya telah mati. Semoga dengan menangisi diri kita, Allah berkenan membuka sedikit hidayah kemudian menancapkannya dan bertengger direlung hati hamba yang berjiwa hanif.

Sebagaimana seruan sebuah ayat yang membuat seorang ulama besar Fudhail bin ‘Iyadhrahimahullah bertaubat, yang dulunya beliau adalah kepala perampok yang sangat ditakuti dijazirah Arab, ayat tersebut adalah,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka dengan mengingat Allah dan kebenaran yang diturunkan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang sebelumnya yang telah diberikan Al Kitab, masa yang panjang mereka lalui (dengan kelalaian) sehingga hati mereka pun mengeras, dan banyak sekali di antara mereka yang menjadi orang-orang fasik.” (Al Hadid: 16)

Suka menangis karena Allah daripada segalanya

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhumaberkata,

لأن أدمع من خشية الله أحب إلي من أن أتصدق بألف دينار

Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.[2]

Ka’ab Al-Ahbar berkata,

لأن أبكى من خشية الله فتسيل دموعي على وجنتي أحب إلى من أن أتصدق بوزني ذهباً .

“Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.”[3]

Semoga Bermanfaat

@Kereta Api Yogya – Jakarta

Penyusun: Raehanul Bahraen

[1] HR. Muslim, no. 2359

[2] Sumber: http://www.saaid.net/Doat/ehsan/149.htm

[3] Sumber: http://www.saaid.net/Doat/ehsan/149.htm

sumber: https://muslimafiyah.com/jika-sulit-menangis-karena-allah.html

Nikmat Dunia Pasti Akan Sirna

Saudaraku, semua kenikmatan di dunia ini pasti akan sirna. Sedangkan yang ada di sisi Allah, itulah yang akan kekal. Namun sayangnya, betapa banyak yang terlena dengan dunianya yang nanti akan sirna, lalu lebih mementingkan kehidupan kekal yang ada di akhirat. 

Allah Ta’ala berfirman,

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An Nahl: 96).

Segala sesuatu yang kita miliki pasti akan sirna, baik diri kita sendiri, keluarga dekat kita, dan harta kita. Ibnu Katsir berkata, “Apa yang ada di sisi kalian akan berakhir pada waktu tertentu yang telah ditetapkan.”

Lalu apa yang akan kekal? Ibnu Katsir melanjutkan tafsiran ayat di atas, “Pahala di sisi Allah untuk kalian di surga yang akan kekal, tidak terputus, tidak akan lenyap, dan tidak akan hilang.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4: 710).

Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan bahwa semua yang ada di dunia ini pasti akan sirna dan yang di sisi Allah itulah yang kekal.

Demikianlah, manusia tahu bahwa di sisi Allah yang kekal abadi. Namun mereka malah mengganti sesuatu yang kekal dengan sesuatu yang pasti akan sirna.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam kitab tafsirnya (hal. 448), “Seharusnya manusia itu mendahulukan sesuatu yang pasti kekal, bukan sesuatu yang akan binasa.  Karena segala sesuatu di sisi kalian -wahai manusia- akan sirna walaupun banyak jumlahnya. Adapun yang di sisi Allah (yaitu kenikmatan di akhirat) akan tetap terus ada, tidak akan sirna dan hilang.” Apa yang dimaksudkan oleh Syaikh As Sa’di sepadan dengan firman Allah,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17).

Wahai saudaraku … Malik bin Dinar berkata,

لو كانت الدنيا من ذهب يفنى ، والآخرة من خزف يبقى لكان الواجب أن يؤثر خزف يبقى على ذهب يفنى ، فكيف والآخرة من ذهب يبقى ، والدنيا من خزف يفنى؟

“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sebenarnya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7: 473, Mawqi’ At Tafasir)

Juga kata Syaikh As Sa’di, ayat yang kita kaji mengandung pelajaran penting tentang zuhud di dunia karena kita diperintahkan untuk memikirkan akhirat kita yang kekal dibanding dunia yang akan sirna, dunia hanyalah sebagai sarana untuk menggapai kebahagiaan akhirat. Zuhud yang dimaksud adalah meninggalkan setiap yang dapat mendatangkan bahaya bagi hamba dan meninggalkan setiap yang membuat lalai dari kewajiban dan hak Allah.

Semoga kita termasuk hamba yang menjadi akhirat sebagai tujuan mulia kita.

@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 25 Jumadal Akhiroh 1434 H

Sumber https://rumaysho.com/3336-nikmat-dunia-pasti-akan-sirna.html

POKOK-POKOK KEMAKSIATAN (أصول المعاصي)

أصول المعاصي كلها، كبارها وصغارها، ثلاثة‏:

“Pokok-pokok maksiat, semuanya, baik yang besar maupun yang kecil, itu ada 3:

تعلق القلب بغير الله،

“Pertama, hati yang bergantung kepada selain Allah.”

وطاعة القوة الغضبية،

“Kedua, mentaati kekuatan kemarahan.”

والقوة الشهوانية،

“Ketiga, mengikuti kekuatan syahwat.”

وهي الشرك والظلم والفواحش،

“Di mana 3 perkara ini: yang pertama adalah syirik, yang kedua adalah kezaliman, yang ketiga adalah fahisyah / zina.”

PINTU-PINTU MASUKNYA SETAN (مداخل الشيطان)

[10:24]

كل ذي لب يعلم أنه لا طريق للشيطان عليه إلا من ثلاث جهات‏:

“Setiap orang yang mempunyai pikiran, dia akan mengetahui bahwa tidak ada jalan untuk setan menggoda dia, kecuali dengan 3 jalan:”

أحدها‏:‏ التزيد والإسراف، فيزيد على قدر الحاجة فتصير فضلة وهي حظ الشيطان ومدخله إلى القلب، وطريق ‏‏ الاحتراز من إعطاء النفس تمام مطلوبها من غذاء أو نوم أو لذة أو راحة ‏.‏ فمتى أغلقت هذا الباب حصل الأمان من دخول العدو منه‏.‏

“Pertama, bersikap berlebih-lebihan dalam segala sesuatu, sehingga ia pun melebihi kebutuhannya, maka itu merupakan sisa yang akan digunakan oleh setan, bahkan itu adalah tempat masuknya setan ke dalam hati seorang hamba. Maka, cara untuk melindungi diri dari sebab ini adalah memberikan pada diri kita kebutuhannya secara cukup (tidak boleh berlebih-lebihan), berupa makanan, tidur, atau istirahat. Kapan saja engkau tutup pintu ini, maka engkau akan mendapatkan keamanan dari godaan-godaan setan itu.”

الثانية‏: الغفلة ، فإن الذاكر في حصن الذكر، فمتى غفل فتح باب الحصن فولجه العدو فيعسر عليه أو يصعب إخراجه‏.‏

“Kedua, kelalaian, karena orang yang berdzikir kepada Allah, ia berada di dalam benteng yang kokoh. Kapan saja ia lalai, maka pintu benteng akan terbuka, musuh pun akan masuk, sehingga terkadang kita sulit untuk mengusir musuh yang telah masuk ke dalam hati kita.”

الثالثة‏: ‏ تكلف ما لا يعنيه من جميع الأشياء‏.‏

“Ketiga, terlalu menyibukkan dengan perkara yang tidak bermanfaat.”

TIDAKLAH SEORANG HAMBA MELAKUKAN PERBUATAN YANG HARAM KECUALI DARI 2 SISI (ما أخذ العبد ما حرم عليه إلا من جهتين‏)

[14:06]

إحداهما‏:

“Tidaklah seorang hamba melakukan perbuatan yang haram kecuali dari 2 sisi:”

سوء ظنه بربه، وأنه لو أطاعه وآثره لم يعطه خيراً منه حلالاً،

“Pertama, berburuk sangka kepada Allah. Bahwasanya, apabila dia mentaati Allah dan lebih mendahulukan Allah seakan-akan Allah tidak akan memberikan kepada dia sesuatu yang lebih baik darinya berupa yang halal.”

Terkadang seorang hamba mencari yang haram itu karena su’udzan kepada Allah. Dia kira kalau dia mentaati Allah dengan mencari rizqi yang halal, kemudian Allah tidak akan memberikan yang halal itu kepada dirinya, akhirnya dia pun berkilah dan mengatakan, “Wah, yang haram saja susah, apalagi yang halal.” Dia su’udzan kepada Allah seakan-akan Allah tidak akan memberikan kepada dia rizqi yang halal kalau dia tempuh dari jalan yang halal.

والثانية‏: أن يكون عالماً بذلك، وأن من ترك لله شيئاً أعاضه خيراً منه، ولكن تغلب شهوته صبره وهواه عقله، فالأول من ضعف علمه والثاني من ضعف عقله وبصيرته‏.

“Kedua, ia berilmu tentang itu dan ia pun tau dan yakin bahwa seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah mengganti dengan yang lebih baik darinya, tapi sayang syahwatnya mengalahkan kesabarannya dan hawa nafsunya mengalahkan akalnya karena yang pertama: lemah keyakinan dan yang kedua: kurangnya akal dan bashirah

قال يحيى بن معاذ:‏ من جمع الله عليه قلبه في الدعاء لم يرده‏.‏

“Berkata Yahya bin Mu’adz, “Siapa yang Allah kumpulkan hatinya dalam doa, maka Allah tidak akan menolak doanya.””

قلت‏:‏ إذا اجتمع عليه قلبه وصدقت ضرورته وفاقته وقوي رجاؤه فلا يكاد يرد دعاؤه‏.‏

Maksudnya, “Apabila hatinya terkumpul, memang benar-benar darurat (mengakui kebutuhan dia kepada Allah), dan kuat pengharapan dia kepada Allah, maka hampir-hampir doa tersebut tidak akan ditolak Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

PINTU-PINTU NERAKA (أبواب النار)

[17:48]

دخل الناس النار من ثلاثة أبواب‏:

“Manusia masuk ke dalam api neraka dari tiga pintu:”

1- باب شبهة أورثت شكا في دين الله‏.‏

“1. Pintu syubhat (pemikiran-pemikiran menyesatkan) yang mewariskan / menimbulkan keraguan kepada agama Allah.”

(Yaitu) orang yang meragukan agama Islam karena ada syubhat, dia menganggap Islam itu batil, dia menganggap Islam itu tidak benar, karena ada syubhat di pikiran. (Maka,) ini menjadi pintu ia masuk ke dalam api neraka.

2- وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته‏.‏

“2. Pintu syahwat mewariskan mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

3- وباب غضب أورث العدوان على خلقه‏.

“3. Pintu kemarahan yang akan mewariskan permusuhan terhadap hamba-hammbaNya.”

POKOK-POKOK KESALAHAN (أصول الخطايا)

[19:11]

كلها ثلاثة

“Pokok-pokok semua kesalahan itu tiga”

1- الكبر، وهو الذي أصار إبليس إلى ما أصاره‏.‏

“1. Kesombongan, itulah yang menjadikan iblis seperti demikian.”

2- والحرص، وهو الذي أخرج آدم من الجنة‏.‏

“2. Ketamakan / kerakusan, itulah yang mengeluarkan Nabi Adam dari surga.”

3- والحسد، وهو الذي جرأ أحد ابني آدم على أخيه‏.‏

“3. Kedengkian, itulah yang membuat salah satu anak Adam membunuh saudaranya (yaitu Qabil membunuh Habil).”

فمن وقي شر هذه الثلاثة فقد وقي الشر، فالكفر من الكبر، والمعاصي من الحرص، والبغي والظلم من الحسد‏.‏

“Siapa yang terlindung dari 3 perkara ini (kesombongan, ketamakan / kerakusan, dan kedengkian) sungguh ia akan terlindung dari semua keburukan. Orang yang kafir kepada Allah karena kesombongan, orang yang berbuat maksiat akibat dari ketamakan, dan perbuatan kedzoliman dan menyakiti orang lain (dzalim) berasal dari hasad.”

sumber: https://www.radiorodja.com/6544-pokok-pokok-kemaksiatan-dan-kesalahan-pintu-pintu-masuknya-setan-dan-penyebab-masuk-neraka-serta-sebab-perbuatan-haram-kitab-fawaidul-fawaid-ustadz-abu-yahya-badrusalam-lc/

Berteman dengan Mukmin yang Baik, Menjadi Syafaat di Hari Kiamat

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dalam hadis yang panjang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat di hari kiamat,

حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…

Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.

Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.

Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.”

Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”

Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR. Muslim no. 183).

Memahami hadis ini, Imam Hasan al-Bashri menasehatkan,

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.”

Imam Ibnul Jauzi menasehatkan kepada teman-temannya,

إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك

”Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Tuhan kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.”

Kemudian beliau menangis.

sumber: https://nasehat.net/berteman-dengan-mukmin-yang-baik-menjadi-syafaat-di-hari-kiamat/

[Kitabut Tauhid 2] 57. Dakwah kepada kalimat tauhid 43

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

  • Perbuatan kezhaliman merupakan sesuatu yang sangat berbahaya bagi pelakunya, baik dalam kehidupan dunianya maupun pada kehidupan akhiratnya nantinya, diantaranya :
  1. Akan diberi balasan hukuman oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam kehidupan dunia, baik cepat maupun lambat, ditambah dengan ancaman adzab dalam kehidupan akhirat.
  2. Terancam dengan doanya orang yang terzhalimi.
  3. Di-qishash pada hari kiamat.
  4. Terancam dengan laknat dari Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  5. Menjadi sebab kegelapan di hari kiamat.
  6. Menyebabkan pelakunya jauh dari hidayah dan keberuntungan.
  7. Merupakan sebab bencana dan petaka.

selanjutnya kita akan mempelajari Dakwah kepada kalimat tauhid 43. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Formulir Pertanyaan

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Bagaimana Sikap Ketika Dihina dan Direndahkan?

Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz bagaimana baiknya adab kita terhadap orang yang merendahkan orang lain. Kita sebagai yang dipandang rendah atau kita melihat orang lain direndahkan di hadapan kita bagaimana adab dan akhlaknya yang baik. Terima kasih ustadz.

جزاك الله خيرا

(Dari Fulan Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du. Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Waspada Dari Sikap Merendahkan Manusia

Jika kita berada di dalam sebuah pertemuan sosial, baik dalam dunia nyata maupun media sosial dunia maya, dan kita mendapati ada orang yang merendahkan orang lain, maka sikap terbaik adalah mencegahnya atau memalingkan tema pembicaraan, hal ini adalah sebuah pencegahan dari tindakan kezaliman.

Mencegah Ketika Orang Menghina

Dahulu sahabat Anas Bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”

فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ « تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ »

Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim?

Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari, no. 6952; Muslim, no. 2584)

Cara Menghentikan Orang yang Merendahkan

Kita bisa mengatakan pada dia yang ingin merendahkan orang lain; kita ini banyak kekurangan, maka tidak perlu mengurusi kekurangan-kekurangan orang lain, atau ucapan; stop, sampai di sini saja, mari pindah kepada pembahasan yang lebih urgen/penting, dan ungkapan-ungkapan yang semakna.

Bentuk-Bentuk Merendahkan Martabat dan Harga Diri

Sering kita dapati ada di antara manusia yang kasar ucapan lisannya, sehingga bermudah-mudahan jatuh pada perbuatan tercela seperti saling mengejek, saling menghina, dan saling mengolok-olok di media sosial.

Berbagai gelar dan julukan yang buruk pun mudah terucap, baik melalui lisan atau melalui jari-jemari komentar di media sosial. Sebutlah misalnya julukan (maaf) “cebong”, “kampret”, “IQ 200 sekolam” dan ucapan-ucapan buruk lainnya. Ucapan-ucapan yang tampak ringan di lisan dan tulisan, padahal amat berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala di hari kiamat kelak.

Allah ‘Azza Wa Jalla melarang kita dari perbuatan saling menghina dan mengolok-olok, sebagaimana dalam firmanNya Yang Mulia;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).

Bagaimana Sikap Ketika Dihina?

Bagaimana sikap ketika dihina? Seorang muslim harus selalu ingat, bahwa Nabi (ﷺ) yang maksum (terlepas dari segala dosa) saja dihina, dicaci dan direndahkan dengan yang lebih buruk oleh kaumnya, pun demikian beliau tetap senantiasa mendoakan kebaikan bagi umatnya. Dan inilah yang terbaik.

Katakan kepada yang merendahkan, bahwa yang buruk yang tidak diketahuinya adalah lebih banyak, tapi Allah Yang Maha Pemaaf menyembunyikannya dari pandangan manusia. Dan berpalinglah dari insan yang suka bersikap merendahkan orang lain.

Merendahkan Orang Lain Sama dengan Merendahkan Diri Sendiri

Pada hakikatnya mereka yang suka merendahkan orang lain, maka semua itu akan kembali kepada mereka. Orang -orang munafik yang mencela sahabat, maka celaan itu kembali kepada mereka, plus tambahan azab yang pedih dari Allah Yang Maha Adil.

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih” (QS. At-Taubah [9]: 79).

Maka, setiap insan harus mawas diri dan berhati-hati! Karena semua yang kita ucapkan dan semua yang kita tulis, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah Ta’ala Yang hisabNya sangat cepat.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Rabu20 Rabiul Awal 1443 H/ 27 Oktober 2021 M

sumber: https://bimbinganislam.com/bagaimana-sikap-saat-dihina-direndahkan/

Jangan Pernah Menilai Seseorang Dengan Melihat Masa Lalunya

Jangan pernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya….

betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam…jauh dari sunnah…jauh dari hidayah…tenggelam dalam dunia yang menipu…terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista…

Bukankah banyak sahabat radhiallahu ‘anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan…, peminum khomr…, bahkan pelaku kesyirikan…?

Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.

Bisa jadi anda salah satu dari mereka para akhwat yang memiliki masa lalu yang kelam…yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam anda.

Sebagaimana anda tidak ingin orang lain menilai anda dengan melihat masa lalu kelam anda…maka janganlah anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk…..

Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang…kondisinya tatkala akan meninggal..bukan masa lalunya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda “Amalan-amaln itu tergantung akhirnya”

sumber: https://firanda.com/515-jangan-pernah-menilai-seseorang-dengan-melihat-masa-lalunya.html