Maha Suci AllahDari Apa Yang Mereka Ucapkan

oleh Ustadz. Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary hafidzahullah

Belakangan ini, musibah demi mudibah semakin kerap melanda negeri ini. Dan sebentar lagi, terkait dengan ritual tahunan yang termasuk puncak kesyirikan dan kekufuran, yaitu Hari Natal “Hari Kelahiran Tuhan”, wallâhi (demi Allâh) nyaris langit itu pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh dengan sebab ucapan dan perbuatan mereka.

Sesungguhnya apa yang mereka ucapkan tersebut termasuk deretan perkataan yang paling kotor yang pernah diucakan lisan-lisan anak manusia. Maha Suci Allâh -‘Azza wa Jalla- dari apa yang dituduhkan lisan-lisan mereka.

Allâh -‘Azza wa Jalla- berfirman :

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا _ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا _ تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا _ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا _ وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا.

Mereka berkata : ‘Ar-Rahmân (Tuhan Yang Maha Pemurah) mempunyai anak.’ Sesungguhnya (dengan sebabnya) Kalian telah melakukan suatu perbuatan yang sangat mungkar. Hampir-hampir saja langit itu pecah karena ucapan tersebut, dan bumi terbelah, kemudian gunung-gunung runtuh, disebabkan mereka mengatakan Allâh Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Allâh Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak. [ QS Maryam : 88-92 ]

Ka’ab Ibnu Mâlik -Radhiyallâhu ‘Anhu- berkata :

غضبت الملائكة، واستعرت جهنم، حين قالوا ما قالوا. _ تفسير الطباري : ٢٥٨/١٨.

Para Malaikat murka, dan neraka bergejolak ketika mereka mengatakan apa yang mereka katakan (bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- memiliki anak). [ Tafsir Ath-Thabâry : 18/258 ]

‘Abdullâh Ibnu ‘Abbâs -Radhiyallâhu ‘Anhumâ- berkata :

إن الشرك فزعت منه السماوات والأرض والجبال ، وجميع الخلائق إلا الثقلين ، فكادت أن تزول منه لعظمة الله ، وكما لا ينفع مع الشرك إحسان المشرك ، كذلك نرجو أن يغفر الله ذنوب الموحدين. __ تفسير الطباري : ٢٥٨/١٨.

Sesungguhnya kesyirikan itu membuat langit, bumi, gunung-gunung dan seluruh makhluk kecuali (sebagian) jin dan manusia benar-benar merasa sangat takut; dan nyaris hacur-lebur karenanya disebabkan mereka mengetahui keagungan Allâh -‘Azza wa Jalla-. Dan, sebagaimana kebaikan orang-orang musyrik itu tidak bermanfaat disebabkan kesyirikan mereka, maka Kita berharap Allâh -‘Azza wa Jalla- mengampuni dosa-dosa Muwahhidiin (orang-orang yang mentauhidkan-Nya.).[ Tafsir Ath-Thabâry : 18/258 ]

Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- bersabda :

لَيْسَ أَحَدٌ – أَوْ لَيْسَ شَىْءٌ – أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، إِنَّهُمْ لَيَدْعُونَ لَهُ وَلَدًا ، وَإِنَّهُ لَيُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

Tidak ada yang lebih sabar ketika disakiti, melebihi Allâh -‘Azza wa Jalla-. Mereka menyatakan bahwa Allâh memiliki anak. Meski demikian, Allâh masih memaafkan mereka dan tetap memberikan rezeki kepada mereka. [ HR Bukhari : 6099 dan Muslim : 2804 ]

Maksud dari “memaafkan” adalah Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak menyegerakan adzab bagi mereka dan memberi kesempatan bagi mereka agar bertaubat dari kesyirikannya. Jika tidak, maka bagi mereka adzab Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Semoga_Bermanfaat

Kriteria Khusus untuk Memilih Istri

Salah satu bukti bahwa wanita memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam adalah bahwa terdapat anjuran untuk memilih calon istri dengan lebih selektif. Yaitu dengan adanya beberapa kriteria khusus untuk memilih calon istri. Di antara kriteria tersebut adalah:

Bersedia taat kepada suami

Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An Nisa: 34)

Sudah sepatutnya seorang pemimpin untuk ditaati. Ketika ketaatan ditinggalkan maka hancurlah ‘organisasi’ rumah tangga yang dijalankan. Oleh karena itulah, Allah dan Rasul-Nya dalam banyak dalil memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, kecuali dalam perkara yang diharamkan. Meninggalkan ketaatan kepada suami merupakan dosa besar, sebaliknya ketaatan kepadanya diganjar dengan pahala yang sangat besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” (HR. Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al Albani)

Maka seorang muslim hendaknya memilih wanita calon pasangan hidupnya yang telah menyadari akan kewajiban ini.

Menjaga auratnya dan tidak memamerkan kecantikannya kecuali kepada suaminya

Berbusana muslimah yang benar dan syar’i adalah kewajiban setiap muslimah. Seorang muslimah yang shalihah tentunya tidak akan melanggar ketentuan ini. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’” (QS. Al Ahzab: 59)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengabarkan dua kaum yang kepedihan siksaannya belum pernah beliau lihat, salah satunya adalah wanita yang memamerkan auratnya dan tidak berbusana yang syar’i. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نساء كاسيات عاريات مميلات مائلات رؤسهن كأسنة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا

“Wanita yang berpakaian namun (pada hakikatnya) telanjang yang berjalan melenggang, kepala mereka bergoyang bak punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan bahkan mencium wanginya pun tidak. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Berdasarkan dalil-dalil yang ada, para ulama merumuskan syarat-syarat busana muslimah yang syar’i di antaranya: menutup aurat dengan sempurna, tidak ketat, tidak transparan, bukan untuk memamerkan kecantikan di depan lelaki non-mahram, tidak meniru ciri khas busana non-muslim, tidak meniru ciri khas busana laki-laki, dll.

Maka pilihlah calon istri yang menyadari dan memahami hal ini, yaitu para muslimah yang berbusana muslimah yang syar’i.

Gadis lebih diutamakan dari janda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar menikahi wanita yang masih gadis. Karena secara umum wanita yang masih gadis memiliki kelebihan dalam hal kemesraan dan dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis. Sehingga sejalan dengan salah satu tujuan menikah, yaitu menjaga dari penyaluran syahawat kepada yang haram. Wanita yang masih gadis juga biasanya lebih nrimo jika sang suami berpenghasilan sedikit. Hal ini semua dapat menambah kebahagiaan dalam pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عليكم بالأبكار ، فإنهن أعذب أفواها و أنتق أرحاما و أرضى باليسير

“Menikahlah dengan gadis, sebab mulut mereka lebih jernih, rahimnya lebih cepat hamil, dan lebih rela pada pemberian yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al Albani)

Namun tidak mengapa menikah dengan seorang janda jika melihat maslahat yang besar. Seperti sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang menikah dengan janda karena ia memiliki 8 orang adik yang masih kecil sehingga membutuhkan istri yang pandai merawat anak kecil, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyetujuinya (HR. Bukhari-Muslim)

Nasab-nya baik

Dianjurkan kepada seseorang yang hendak meminang seorang wanita untuk mencari tahu tentang nasab (silsilah keturunan)-nya.

Alasan pertama, keluarga memiliki peran besar dalam mempengaruhi ilmu, akhlak dan keimanan seseorang. Seorang wanita yang tumbuh dalam keluarga yang baik lagi Islami biasanya menjadi seorang wanita yang shalihah.

Alasan kedua, di masyarakat kita yang masih awam terdapat permasalahan pelik berkaitan dengan status anak zina. Mereka menganggap bahwa jika dua orang berzina, cukup dengan menikahkan keduanya maka selesailah permasalahan. Padahal tidak demikian. Karena dalam ketentuan Islam, anak yang dilahirkan dari hasil zina tidak di-nasab-kan kepada si lelaki pezina, namun di-nasab-kan kepada ibunya. Berdasarkan hadits,

الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجْرُ

“Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menetapkan anak tersebut di-nasab-kan kepada orang yang berstatus suami dari si wanita. Me-nasab-kan anak zina tersebut kepada lelaki pezina menyelisihi tuntutan hadits ini.

Konsekuensinya, anak yang lahir dari hasil zina, apabila ia perempuan maka suami dari ibunya tidak boleh menjadi wali dalam pernikahannya. Jika ia menjadi wali maka pernikahannya tidak sah, jika pernikahan tidak sah lalu berhubungan intim, maka sama dengan perzinaan. Iyyadzan billah, kita berlindung kepada Allah dari kejadian ini.

Oleh karena itulah, seorang lelaki yang hendak meminang wanita terkadang perlu untuk mengecek nasab dari calon pasangan.

Demikian beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan oleh seorang muslim yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nasehat kami, selain melakukan usaha untuk memilih pasangan idaman, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah ‘Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

إذا هم أحدكم بأمر فليصلِّ ركعتين ثم ليقل : ” اللهم إني أستخيرك بعلمك…”

“Jika kalian merasa gelisah terhadap suatu perkara, maka shalatlah dua raka’at kemudian berdoalah: ‘Ya Allah, aku beristikharah kepadamu dengan ilmu-Mu’… (dst)” (HR. Bukhari)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shaalihat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

***

Penulis: Yulian Purnama

selengkapnya: https://muslim.or.id/657-memilih-pasangan-idaman.html

Anti Galau

Galau atau gundah hati adalah perasaan cemas, bimbang ataupun gelisah yang mengandung ketidaksenangan. Perasaan ini biasanya muncul setelah kita mengalami kejadian atau keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Sebagai seorang mukmin tidaklah pantas apabila kita merasa galau karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, bila ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu merupakan kebaikan baginya serta bila ia tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim). Hadits tersebut menjelaskan bahwa semua keadaan adalah baik bagi kita orang mukmin, sehingga tidak ada hal membuat kita bersedih atau pun merasa galau melebihi kewajaran.

Apabila kita berada dalam keadaan yang menyusahkan, meletihkan, maupun menyedihkan hendaklah kita bersyukur karena bisa jadi Allah Ta’ala hendak menghapuskan dosa-dosa kita. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundahgulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari  kesalahan-kesalahannya.”

Kiat untuk Mengatasi Rasa Galau

1. Shalat 

Di dalam shalat terdapat kedamaian yang besar bagi jiwa dan ketenangan bagi ruh. Dalam shalat terdapat obat untuk beragam penyakit kejiwaan, seperti gelisah dan cemas. Allah Ta’ala berfirman,

إن الإنسان خلق هلوعا . إذا مسه الشر جزوعا . وإذا مسه الخير منوعا . إلا المصلين . الذين هم على صلاتهم دائمون .

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalat.” (QS. Al-Ma’aarij: 19-23).

Bisa jadi rasa galau atau kegelisahan yang kita rasakan merupakan efek dari banyaknya dosa yang kita lakukan. Dengan demikian apabila kita melakukan shalat maka dengan shalat itu bisa menentramkan hati kita karena perbuatan yang baik itu bisa menghapuskan (dosa) perbuatan yang buruk. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S Hud ayat 114 yang artinya, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk (dosa). Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat (Allah).”

Di dalam shalat terdapat aktivitas mengingat Allah, menghambakan diri kepada Allah, merendahkan diri kepada-Nya dengan demikian dengan shalat akan melapangkan dada, menghilangkan kesempitan yang menyesakkan. “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu termasuk di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu sesuatu yang yakin (ajal menjemput).” (Arti QS. Al-Hijr: 97-99)

2. Membaca Al-Qur’an

Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya, “Wahai manusia telah datang kepadamu Kitab Al-Qur’an yang mengandung pengajaran dari Tuhan dan obat bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada (hati) serta mengandung tuntunan dan rahmat bagi mereka yang beriman (mempercayainya).” (Q.S Yunus: 57). Ketika seorang hamba banyak membaca kitab suci Al-Qur’an insyaAllah akan terbukti betapa besarnya pengaruh Al-Qur’an sebagai obat hati yang gelisah.

Ibadah unggulan yang dapat dilakukan oleh seorang hamba yang ingin memperoleh ketenangan hati adalah dengan shalat dan membaca Al-Qur’an. Ketika kita membaca Al-Qur’an seolah-olah Allah sedang berbicara dengan kita, dan pada hakikatnya hati manusia ada di tangan Allah, sehingga apabila seorang hamba ingin ketenangan hati maka salah satu solusinya adalah dengan berdzikir kepada Allah. Hal ini sesuai firman Allah yang artinya, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. (Arti QS. Ar-Rad: 28).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengingatkan tentang pentingnya membaca Al-Qur’an, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnyadibacakan surat Al-Baqarah.” (Hadits shahih riwayat Muslim). Dengan membaca Al-Qur’an, kita bisa menjauhkan rumah kita dari gangguan setan sehingga kita bisa meminimalkan perbuatan maksiat yang akan membuat hati kita menjadi semakin gelisah.

3. Doa pengusir Rasa Gundah

Doa merupakan senjata andalan bagi seorang muslim. Dengan berdoa memohon kepada Allah, merendahkan diri di hadapan-Nya tentulah Allah akan menolong hamba-hamba-Nya. Doa untuk mengatasi rasa galau dan gundah gulana ini telah dicontohkan oleh panutan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada sebuah kegundahan dan kesedihan yang menimpa seseorang, lalu ia mengucapkan:

“Wahai Allah, sesungguhnya saya adalah Hamba-Mu, dan anak lelaki dari hamba-Mu lelaki dan anak lelaki dari hamba-Mu perempuan, ubun-ubunku beradadi tangan-Mu, hukum-Mu berlaku pada diriku, ketetapan-Mu adil pada diriku, saya memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang ia milik-Mu, yang Engkau telah menamai diri-Mu dengannya atau telah Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu atau yang telah Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu atau yang Engkau rahasiakan di dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, maka dengan itu saya mohon Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, hilangnya kesedihanku dan lenyapnya kesusahanku”, kecuali Allah menghilangkan darinya rasa resah dan sedihnya dan menggantikannya dengan kegembiraan”, lalu beliau ditanya: “Wahai Rasulullah, Alangkah baiknya kita mempelajarinya?”, beliau menjawab: “Tentu, bagi siapa yang mendengarnya untuk mempelajarinya.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 199).

Selain itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mencontohkan do’a apabila mengalami hal-hal yang menyenangkan hati dan hal-hal yang tidak menyenangkan hati.

Dari Aisyah radhiyallahu’anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat (mendapatkan) sesuatu yang dia sukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan “Alhamdulillaahilladzii bi nimatihi tatimmush shoolihaat” yang artinya segala puji hanya bagi Allah, yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.  Dan apabila mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Alhamdulillaahi ‘alaa kulli haal” yang artinya segala puji hanya bagi Allah atas segala keadaan (Hadits Riwayat Ibnu Majah, shahih). Sungguh menakjubkan perilaku Rasaulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau benar-benar mengajarkan kepada kita untuk selalu bersyukur atas keadaan yang sekarang sedang menimpa kita karena pada sejatinya semua keadaan adalah baik bagi orang-orang yang beriman.

*****

Referensi:

Allah Masih Menyayangimu karya Ir. Joko Kuswanto, MM, dengan sedikit perubahan.

Penulis: Romadhoni Umi Utami

Muroja’ah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

sumber: https://muslimah.or.id/9644-anti-galau.html

Hukum Merayakan Tahun Baru

Sejarah Tahun Baru Masehi

Beberapa hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar, perayaan yang dilangsungkan secara massif oleh masyarakat di seluruh dunia. Ya, itulah perayaan tahun baru yang secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan.

Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400)

Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.

Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dsb.

Tahun Baru = Hari Raya Orang Kafir

Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang kafir. Dan ini hukumnya terlarang. Di antara alasan statement ini adalah:

Pertama, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,

من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة

“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”

Kedua, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (baca: memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman,

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق …

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” (QS. Al-Mumtahanan: 1)

Ketiga, Hari raya merupakan bagian dari agama dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah,

قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر

“Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.
Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.

Keempat, Allah berfirman menceritakan keadaan ‘ibadur rahman (hamba Allah yang pilihan),

و الذين لا يشهدون الزور …

“Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur…”
Sebagian ulama menafsirkan kata ‘az-Zuur’ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

sumber: https://konsultasisyariah.com/9614-hukum-merayakan-tahun-baru.html

Ulangi Terus Dakwah Tauhid-mu

-Sebagaimana belajar TAUHID yang harus dipelajari dan diulangi terus-menerus, maka dakwah tauhid juga perlu terus-menerus diulangi

-Pelajaran fikh bisa jadi hanya sekali diajarkan, misalnya cara berwudhu, diajarkan sekali kemudian dipraktekkan  terus, maka insyaAllah ingat

-Nah, kalau TAUHID ini banyak terkait dengan keimanan dan amalan hati, misalnya keikhlasan, sabar, rasa takut dan rasa cinta,

-Karena iman ini naik-turun, perlu dipelajari terus dan diulangi serta diingatkan

-Misalnya saja rasa takut, habis belajar TAUHID diajarin gak boleh takut lewat kuburan karena takut setan, beberapa minggu abis nonton film hantu-hantuan udah takut lagi

-Begitu juga dengan kesabaran dan husnudzan dengan takdir Allah, itulah yang terbaik bagi hamba-Nya, kadang masih sesak kalau terima takdir yang menurut kita gak enak

-Kalau dakwah butuh diulang-ulang, maka demikian juga pendakwahnya, ULANGI TERUS DAKWAH TAUHIDMU

-Apalagi orang yang baru mengenal agama (baru ngaji) dan manusia yang butuh dakwah, berdatangan terus-menerus

-Kami juga sempat lengah, pernah semangat di awal-awal dakwah tauhid setelah itu lupa sama sekali

-Dakwah lainnya insyaAllah menjadi BERKAH DENGAN DAKWAH TAUHID atas izin Allah

-Dakwah yang menyebar ke berbagai pelosok, ke berbagai kalangan mulai dari pejabat, artis, pengusaha, orang awam, ini adalah BERKAH DAKWAH TAUHID dengan izin Allah

-Para pendakwah menyeru “Inilah jalan ku”, maksudnya adalah DAKWAH TAUHID , sebagaimana dalam ayat,

ﻗُﻞْ ﻫَﺬِﻩِ ﺳَﺒِﻴﻠِﻲ ﺃَﺩْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﺼِﻴﺮَﺓٍ ﺃَﻧَﺎ ﻭَﻣَﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻌَﻨِﻲ ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ

“Katakanlah, ’Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’” (QS. Yusuf: 108)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,

ﻭﻫﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻰ ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ

“Yaitu berdakwah kepada syahadat ‘tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu baginya’.” (Tafsir Ibnu Katsir)

-Perbanyak daurah dan kajian membahas tauhid

-Selipkan materi tauhid dalam kajian tematik dan daurah lainnya

-Buat penjelasan ringan, quote, dan status dengan tauhid di media sosial anda

-Dakwahkan dasar-dasar tauhid kepada anak-anak dan generasi penerus

-InsyaAllah para da’i dan pendakwah lebih tahu cara mendakwahkan tauhid lainnya

-Semoga dengan dakwah tauhid, masyarakat dan bangsa kita serta kaum muslimin menjadi berkah, makmur dan bahagia dengan ridha Allah Ta’ala

@Kantor DAA UGM, Yogyakarta tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/ulangi-terus-dakwah-tauhid-mu.html

Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan Hidup

Orang yang berpikiran maju dan produktif akan paham bahwa kecanduan bermain game itu akan memusnahkan waktu mereka. Semua orang sudah tahu bahwa bermain game adalah suatu hal yang tidak baik. Orang tua tidak suka apabila anaknya kecanduan main game. Para guru dan pendidik pun selalu memperingatkan generasi muda akan kecanduan game. Berikut beberapa efek negatif kecanduan game, misalnya:

  1. Lama-kelamaan akan menyebabkan kecanduan sehingga akan melalaikan dari tugas dan kewajibannya
  2. Melakukan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat
  3. Menghabiskan waktu di depan permainan game
  4. Menjadi tertutup dan terbatas komunikasi dengan dunia nyata karena terlalu fokus dengan game
  5. Ada beberapa madharat game pada umumnya semisal memperlihatkan aurat, lagu dan musik serta ungkapan dan kalimat yang dilarang syariat atau hal-hal yang memperlihatkan sesuatu yang tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dan fasik

Kecanduan game itu benar-benar melakukan hal yang sia-sia

Kita dianjurkan agar mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, apabila tidak, maka kita pasti akan mengisi waktu kita dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan hal yang negatif.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan sebuah kaidah emas,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, PASTI akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi hal. 156)

Termasuk kebaikan bagi seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya baik dunia maupun akhirat, sedangkan bermain game umumnya tidak bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan dalam islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi )

Kecanduan game berarti tidak menghargai waktu yang sangat berharga

Allah Ta’ala bersumpah dalam Al-Quran dengan menggunakan waktu beberapa kali dan beberapa surat Al-Quran. Misalnya “wal-ashri” (demi masa), “wad-dhuha” (demi waktu dhuha), “wal-lail” (demi waktu malam) dan lain-lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa waktu ini sangat penting dan kita harus menyadari betul hal ini, sedangkan manusia secara umum lalai akan hal ini. Perhatikan hadits berikut,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)

Pepatah Arab yang menggambarkan pentingnya waktu,

اَلْوَقْتُ أَنْفَاسٌ لَا تَعُوْدُ

“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”

Orang sukses dunia-akhirat akan sangat menyesal jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faidah. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

ﻣَﺎ ﻧَﺪِﻣْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻧَﺪَﻣِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﻮْﻡٍ ﻏَﺮَﺑَﺖْ ﴰَﺴْﻪُ ﻧَﻘَﺺَ ﻓِﻴْﻪِ ﺃَﺟَﻠِﻲ ﻭَﱂَ ْﻳَﺰِﺩْ ﻓِﻴْﻪِ ﻋَﻤَﻠِﻲ

“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.” (Lihat Miftahul Afkar)

Mereka juga pelit dengan waktu mereka, Hasan Al-Bashri rahimahullah berkat,

أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دِرْهَمِهِ

“Aku menjumpai beberapa kaum, salah satu dari mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) dari pada dirham (harta) mereka” (Al-‘Umru was Syaib no. 85)

Hendaknya kita mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, tugas kita sangat banyak sedangkan waktu ini sangat sedikit, tidak layak bagi seorang muslim menghabiskan waktu yang sangat berharga dengan bermain game yang tidak bermanfaat.

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/45161-kecanduan-game-itu-memusnahkan-waktu-dan-keberkahan-hidup.html

Tanamkan niat yang baik ketika menikah

Nilai amal seorang mukmin, salah satunya ditentukan dari kualitas niatnya. Semakin baik niatnya, semakin sempurna nilai amalnya. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Amal itu ada karena niat, dan pahala yang diperoleh seseorang sesuai apa yang dia niatkan. (HR. Bukhari no. 1, Muslim 5036, dan yang lainnya)

Tanamkan dalam diri anda, anda menikah dalam rangka mengikuti sunah para rasul. Karena Allah berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

Sungguh Aku telah mengutus para rasul sebelum kamu, dan Aku jadikan untuk mereka istri dan keturunan. (QS. ar-Ra’du: 38).

Tanamkan pula bahwa anda menikah untuk mengikuti ajakan dan motivasi Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah bersabda,

النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ

“Nikah itu sunahku.. siapa yang tidak mengamalkan sunahku, bukan bagian dariku. Menikahlah, karena saya merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh umat.” (HR. Ibnu Majah 1919 dan dihasankan al-Albani).

Juga jangan lupa untuk menanamkan dalam diri anda, bahwa anda menikah dalam rangka memilih yang halal, menjaga kehormatan diri dan pasangan. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan yang berharga untuknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ

Ada 3 orang yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah, (1) Orang yang berjihad di jalan Allah, (2) Budak mukatab yang ingin menebus dirinya untuk merdeka, dan (3) Orang yang menikah, karena ingin menjaga kehormatannya. (HR. Nasai 3133, Turmudzi 1756, dan dihasankan al-Albani).

selengkapnya:  https://konsultasisyariah.com/24585-amalan-menjelang-pernikahan.html

Buah Manis Dari Taubat

At Tauhid edisi VI/11

Dalam kesempatan ini kita akan membahas sebuah hal yang agung bagi seorang mu’min. Karena dengan hal tersebut, seorang mu’min akan menyadari betapa lemahnya ia di hadapan Allah. Dan dengan hal ini pula, ia akan mengenal Rabb-Nya, Allah Azza Wa Jalla, beserta nama-nama dan sifat-sifatnya yang sempurna. Sampai akhirnya ia akan paham benar tentang hakikat keberadaannya di dunia serta untuk apa ia diciptakan. Dan kami akan terus dan terus mengingatkan, bahwa tujuan utama Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah kepada-Nya semata, dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dan jin hanyalah agar mereka beribadah kepadaku (semata). Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezeki dan mempunyai Kekuatan yang Sangat Kokoh” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Bagaimana mungkin seorang mukmin akan menyadari statusnya sebagai hamba Allah, jika ia merasa tidak memiliki dosa dan enggan bertaubat? Karena sadar akan banyaknya dosa dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah adalah salah satu bentuk penghambaan. Dan diterima atau tidaknya taubat adalah hakikat yang agung dari tauhid uluhiyyah.

Pintu Taubat Dibuka Lebar

Sungguh Allah Ta’ala telah melapangkan dan melonggarkan serta memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada kita untuk bertaubat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ

“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di malam hari” (HR. Muslim no.7165)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ

“Sungguh Allah menerima taubat hamba-Nya selama belum yu-ghor-ghir” (HR. At Tirmidzi, 3880. Ia berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Di-hasan-kan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi)

Yu-ghor-ghir artinya ketika nyawa sudah sampai di kerongkongan. Itulah batas waktu terakhir yang Allah tidak menerima lagi taubat hamba-Nya.

Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga telah mengabarkan kepada kita kisah seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang:

فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ

“Lelaki tersebut ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, ia mendatanginya dan bertanya: ‘Aku telah membunuh 99 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ahli ibadah tadi berkata: ‘Tidak’. Lelaki tersebut pun membunuhnya hingga genaplah 100 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk yang paling alim, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang ulama. Ia kemudian bertanya: ‘Aku telah membunuh 100 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ulama tadi berkata: ‘Ya. Memangnya siapa yang bisa menghalangimu untuk mendapatkan taubat?’” (HR. Muslim, no.7184)

Perkataan ‘siapa yang bisa menghalangimu untuk mendapatkan taubat‘, inilah intinya. Maka siapakah yang bisa menghalangi anda dari taubat, saudaraku? Kesempatan selalu terbuka lebar!

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki” (QS. An Nisa: 4)

Bahkan dosa syirik! Ketika seorang musyrik bertaubat kepada Allah dan ia kembali ke jalan Allah Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menghalangi ia dari Allah. Bahkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa orang musyrik dari kalangan ahlul kitab yang bertaubat, ia mendapat dua pahala dari taubatnya[1]. 

Hendaknya Kita Senantiasa Bertaubat

Taubat itu akan menguatkan ikatan antara hamba dengan Rabb-nya. Jika ia terus-menerus mengharap ampunan dari Rabb-Nya. Perhatikan sang utusan Islam, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sungguh aku biasa bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari” (HR. Muslim no.7034)

Padahal beliau manusia yang ma’shum, dosa beliau telah diampuni oleh Allah dari awal hingga akhirnya. Namun ini merupakan teladan yang mulia dari beliau dalam berserah diri kepada Allah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Siapa saja yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, Allah akan terima taubatnya” (HR. Muslim no.7036)

Lihatlah betapa beliau Shallallahu’alaihi Wasallam menghasung umatnya untuk bersungguh-sungguh mencari ampunan Allah yang begitu luas. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

النَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Penyesalan adalah taubat” (HR. Ahmad no.3568, Ibnu Majah no.4252, Al Baihaqi no.21067. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah)

Sampai-sampai rasa penyesalan terhadap dosa yang kita perbuat pun sudah dianggap sebagai sebuah taubat.

Selain itu, taubat menimbulkan banyak pengaruh yang baik bagi diri seorang hamba. Bahkan, taubat itu sendiri adalah bentuk taufiq dari Allah Ta’ala. Imam Al Qurthubi ketika menjelaskan ayat:

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا

“Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya” (QS. At Taubah: 118)

Beliau menukil perkataan sebagian ulama tentang makna ayat ini, mereka berkata: “Aku salah sangka dalam 4 perkara. Karena ternyata Allah Ta’ala mendahuluiku.

Pertama, aku mengira akulah yang mencintai Allah, ternyata Allah Ta’ala lebih dulu mencintaiku. Ia berfirman:

ُيُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَه

“Allah Ta’ala mencintai mereka, dan mereka pun mencintai Allah” (QS. Al Maidah: 54)

Kedua, aku mengira akulah yang ridha kepada Allah, ternyata Allah Ta’ala lebih dahulu ridha terhadapku. Ia berfirman:

رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ

“Allah telah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah” (QS. Al Maidah: 119)

Ketiga, aku mengira akulah yang mengingat Allah, ternyata Ia lebih dulu mengingatku. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

“Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar” (QS. Al Ankabut: 45)

Keempat, 
aku mengira bahwa hanya akulah yang bertaubat kepada-Nya, ternyata Ia lebih dahulu memberi ampunan kepadaku. Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا

“Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya” (QS. At Taubah: 118)

(sampai di sini nukilan dari Tafsir Al Qurthubi)

Wahai saudaraku sekalian, semangat untuk bertaubat adalah hal yang sudah semestinya dimiliki oleh seorang hamba yang rabbani. Betapa indah ucapan seorang penyair:

قَدِّمْ لِنَفْسِكَ تَوْبَةً مَرْجُوَّةً *** قَبْلَ اْلمَمَاتِ وَقَبْلَ حَبْسُ اْلأَلْسُنِ
بَادِرْ بِهَا غُلْقَ النُّفُوْسِ فَإِنَهَا *** ذُخْرٌ وَغُنْمٌ لِلْمُنِيْبِ اْلمُحْسِنِ

Beranikan dirimu untuk mengharapkan ampunan
Sebelum engkau mati dan lisanmu kelu
Bersegeralah bertaubat, sebelum ruh dikunci
Karena taubat adalah simpanan dan harta
Bagi orang baik yang kembali kepada-Nya

Demikianlah, taubat adalah pintu kebaikan. Maka tidak layak bagi hamba yang sejati meninggalkan taubat dan meremehkan buah manis darinya.

Buah Manis Taubat


1. Taubat adalah sebab dari istiqamah

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memberi teladan untuk senantiasa berusaha tegar dalam keimanan dan ketaqwaan. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Sang Pembolak-balik hati, tsabbit (tegarkan) hatiku pada agama-Mu” (HR. Tirmidzi no.3517, Ahmad, 302/6. At Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”)

Dan yang dimaksud dengan tsabaat adalah sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Sungguh setiap amal tergantung pada bagian akhirnya” (HR. Bukhari no. 6493)

Dan tsabaat ini hanya dapat diwujudkan dengan terus-menerus beramal shalih kepada Allah Ta’ala. Termasuk ke dalamnya taubat. Karenanya dengan amal tersebut, seorang hamba akan semakin dekat dengan Rabbnya. Oleh karenanya salah satu buah dari taubat adalah ia merupakan salah satu agar seseorang bisa tegar dalam keimanan dan ketaqwaan. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka” (QS. At Taubah: 117)

Ibnul Jauzi menjelaskan faedah yang indah dari ayat ini: “Kita perhatikan penyebutan taubat diulang di akhir ayat, karena penyataan ini tidak didahului dengan penyebutan dosa yang menjadi sebab taubat. Allah Ta’ala mendahulukan penyebutan taubat sebagai keutamaan bagi mereka. Kemudian baru menjelaskan dosa yang menjadi sebab taubat. Kemudian mengulang lagi penyebutan taubat” (Zaadul Masiir, 240/3, Asy Syamilah). Hal ini dikarena Allah Ta’ala ingin memperlihatkan betapa luas ampunan yang diberikan-Nya.

2. Taubat adalah sebab hidayah

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian Allah memberinya hidayah” (QS. Thaha: 82)

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan: “’Kemudian Allah memberinya hidayah‘ karena ia terus menerus dalam keadaan yang disebutkan sebelumnya (taubat, iman dan amal shalih) sampai ia mati” (Tafsir Al Jalalain, 429/5, Asy Syamilah)

3. Ampunan datang karena taubat

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya” (QS. At Taubah: 118)

Dalam ayat ini, Allah mengampuni mereka karena mereka sangat menyesal dan bertaubat kepada Allah. Demikianlah, kebaikan Allah datang permohonan hamba, dan sebaliknya kemurkaan Allah datang karena kengganan hamba. Sebagaiman dalam sebuah riwayat tentang 3 orang yang melewati majelis Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِى الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ ، إِذْ أَقْبَلَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ ، فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَذَهَبَ وَاحِدٌ ، قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِى الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا ، وَأَمَّا الآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ ، وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا ، فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاَثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ ، فَآوَاهُ اللَّهُ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا ، فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ ، فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berada duduk (mengajar) di masjid dan para sahabat bersama beliau. Lewatlah 3 orang lelaki. Dua orang menghampiri majlis tersebut dan 1 orang pergi. Kedua orang tadi menuju Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Lelaki pertama melihat tempat kosong di tengah majllis dan ia pun duduk di situ. Lelaki yang kedua, ia duduk dibelakang majlis. Sedangkan yang ketiga, ia pergi. Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selesai mengajar, beliau bersabda: ‘Maukah kalian ku kabarkan tentang keadaan 3 orang lelaki. Lekaki pertama, ia mampir, maka Allah pun mengasihinya. Lelaki kedua, ia malu, maka Allah pun malu padanya. Lelaki ketiga, ia enggan, maka Allah pun enggan padanya‘” (HR. Bukhari no.66, Muslim no.5810)

Lihatlah, kebaikan dari Allah didapat oleh orang yang menginginkannya dan tidak didapatkan oleh orang yang enggan.

Kemudian, Allah Ta’ala memiliki nama At Tawwab. Dan ampunan dari At Tawwab tidak akan didapat kecuali dengan beberapa hal berikut ini

a) Meyakini bahwa Ia Maha Pemberi Ampunan. Dan tidak berputus asa dalam mencari ampunan-Nya. Sebagaimana dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ إِنْ خَيْرًا فَخَيْرً وَإِنْ شَرًا فَشَرً

“Aku mengikuti sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika prasangkanya baik, Ku berikan ia kebaikan, jika prasangkanya buruk Ku timpakan ia keburukan” (HR. Ath Thabrani no.8135 dalam Al Ausath, Ibnul Mubarak dalam Al Hilyah, 306/9. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 407/2)

Dalam riwayat lain:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى فَلْيَظُنَّ بِى مَا شَاءَ

“Aku mengikuti sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Maka silakan berprasangka kepada-Ku sesuai keinginan” (HR. Ahmad no.16059, dalam ta’liq-nya terhadap Al Musnad, Syu’aib Al Arnauth berkata: “Sanadnya Shahih”)

b) Dan perlu dicamkan, berbaik sangka (husnu zhan) bahwa Allah akan memberi ampunan saja belum cukup, melainkan harus diikuti dengan amal yang shalih (husnul amal). Syaikh Ali Hasan Al Halabi hafizhahullah berkata:

اَمَّا حُسْنُ ظَنٍ مَعَ سُوْءِ عَمَلٍ فَهَذَا جَمْعٌ بَيْنَ النَّقْضَيْنِ

“Husnu zhan kepada Allah, namun diikuti dengan amal-amal keburukan, hal ini bagai menyatukan dua hal yang bertentangan”

c) Hendaknya seorang hamba yang mencari ampunan Allah, menetapi diri dalam jama’ah dan tidak bersendirian. Hendaknya ia bersama dan berkumpul bersama orang-orang yang juga semangat dalam mencari ampunan Allah Ta’ala. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ

“Maka tetap istiqamah-lah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) diperintahkan kepada orang yang bertaubat bersamamu” (QS. Hud: 112)

Perhatikanlah pengaruh taubat terhadap persatuan kaum mu’minin. Taubat mengakibatkan istiqamah, istiqamah mengakibatkan rasa cinta kepada saudara sesama muslim karena adanya kebersamaan, hingga akhirnya akan tercipta persatuan diantara kaum mu’minin.

4. Taubat adalah jalan menuju surga

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun” (QS. Maryam: 60)

Adapun orang yang masuk surga padahal ia enggan bertaubat, orang yang masuk surga padahal gemar bermaksiat, maka perkaranya tergantung kehendak Allah Ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki” (QS. An Nisa: 4)

Namun yang dituntut dari kita adalah senantiasa memohon taufiq dari Allah Ta’ala agar dapat termasuk golongan penghuni Jannah. Dan taubat adalah bentuk taufiq dari Allah Ta’ala.

5. Taubat adalah sumber kebaikan dan keutamaan

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat” (HR. Tirmidzi no.2687. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”. Di-hasan-kan Al Albani dalam Al Jami Ash Shaghir, 291/18)

Dari hadits ini jelaslah bahwa kebaikan tidak mungkin akan didapat kecuali oleh manusia yang bertaubat, karena tentu semua manusia pasti pernah salah. Kemudian perhatikan hadits ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan bahwa manusia itu khatta-un yang merupakan bentuk mubalaghah (superlatis) menunjukkan betapa banyak dosa yang diperbuat. Dan diakhir hadits disebut sifat orang yang memperoleh kebaikan dengan tawwabuun yang juga bentuk mubalaghah, menunjukkan banyak dan sering bertaubat. Sebagaimana yang dipraktekkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri, beliau bertaubat kepada Allah minimal 100 kali dalam sehari. Juga diriwayatkan oleh para sahabat, bahwa beliau bersabda:

وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي اْليَوْمِ أَكْثَرُمِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

“Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubuat kepada-Nya, lebih dari 70 kali dalam sehari” (HR. Bukhari no. 6307)

Lihat diri kita! Ada dimana kita dibanding beliau? Sudah seberapa kesungguhnya kita dalam bertaubat? Bagaimana akhlak kita terhadap Rabb kita? Sesering apa kita mengingat-Nya dan bertaubat kepada-Nya?

6. Taubat membebaskan diri dari kezhaliman

Orang yang enggan bertaubat, ia telah berbuat zhalim pada dirinya, pada masyarakat dan pada orang lain di sekitarnya. Apa yang Allah katakan terhadap orang yang enggan bertaubat?

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Orang yang enggan bertaubat, mereka termasuk orang-orang yang zhalim” (QS. Al Hujurat: 11)

7. Taubat adalah perintah Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya” (QS. At Tahrim: 8)

Dalam ayat ini digunakan bentuk perintah. Demikian juga Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda dengan bentuk perintah:

…يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ

“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah” (HR. Muslim no.7034)

Dan ingatlah bahwa orang yang enggan melaksanakan perintah Allah akan mendapatkan musibah yang besar. Allah Ta’ala berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan hendaklah orang-orang yang menentang perintah Allah itu takut akan datangnya musibah atau adzab yang pedih yang akan menimpa mereka” (QS. An Nur: 63)

8. Taubat adalah penyebab kebaikan dunia

Allah Ta’ala berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku (Nuh) berkata mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya” (QS. Hud: 3)

Perhatikanlah, ternyata taubat tidak hanya membawa kebaikan yang sifatnya ukhrawi, tidaknya hanya menguatkan ikatan seorang hamba dengan Rabb-nya, namun juga membawa kebaikan duniawi, kebaikan bagi masyarakat, bagi tanah air dan semua orang disekitarnya.

9. Taubat adalah penyebab dibatalkannya adzab

Di dalam Al Qur’an diceritakan:

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”” (QS. Al Anfal: 32)

Itulah perkataan orang musyrik Quraisy yang mengingkari Al Qur’an. Dalam Shahih Bukhari dijelaskan bahwa orang yang berkata demikian adalah Abu Jahal. Maka Allah pun membantah mereka dengan firman-Nya:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” (Al Anfal: 33)

Ibnu Abbas berkata: “Dalam ayat ini terdapat 2 hal yang membuat mereka aman dari adzab: Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan istighfar. Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam hijrah dari Makkah, maka hanya istighfar saja yang melindungi mereka dari adzab” (Tafsir Ath Thabari, 511/13)

10. Taubat membuktikan keluasan Rahmat Allah

Di dalam Al Qur’an, Malaikat pemikul ‘Arsy berdoa:

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala” (QS. Ghafir: 7)

Dalam ayat ini para Malaikat memintakan ampunan dengan menyebut salah satu sifat Allah yaitu Rahmah. Allah Ta’ala menceritakan betapa luas rahmat-Nya:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami” (QS. Al A’raf: 156)

11. Taubat mendatangkan kecintaan Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. Al Baqarah: 222)

Selain itu, perhatikanlah dua sifat tersebut, yaitu taubat dan thahur (kesucian). Keduanya digandengkan seolah-olah dua hal yang pasti selalu ada bersamaan. Orang yang bertaubat, namun tidak suci secara lahir maupun batin, seakan-akan taubatnya belum sempurna. Dan orang yang enggan bertaubat, ia tidak pernah mencapai kesucian yang hakiki.

12. Taubat mengganti kejelekan dengan kebaikan

Allah Ta’ala berfirman:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Furqan: 70)

13. Taubat adalah jalan kemenangan

Allah Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَعَسَى أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُفْلِحِينَ

“Sedangkan orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang beruntung” (QS. Al Qashash: 67)

Kata عَسَى disini termasuk lafadz af’al at tarajji (pengharapan), namun karena yang mengatakan demikian adalah Allah Ta’ala maka yang dimaksud di sini adalah: ‘pengharapan di sisi manusia, sedangkan di sisi Allah ditetapkan kemenangan bagi mereka’. Begitu juga jika ada lafadz لَعَلَّ Seperti pada ayat:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang beriman, kalian semua hendaknya bertaubat kepada Allah, mudah-mudahan kalian beruntung” (QS. An Nuur: 31)

لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (mudah-mudahan kalian beruntung) di sini maknanya adalah: سَتُفْلِحُونَ (kalian pasti akan beruntung).

14. Taubat membersihkan hati

Dosa yang diperbuat seorang anak adam, akan mengotori hatinya. Semakin sering ia berbuat dosa, semakin hitam kelam hatinya. Jika ia dalam keadaan demikian terus-menerus, bukan tidak mungkin hatinya akan mati, terhalang dari rahmat dan hidayah dari Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ

“Jika seorang manusia berbuat sebuah dosa, munculah sebuah noktah hitam di hatinya. Namun ketika ia berhenti dari maksiatnya, lalu memohon ampunan dan bertaubat, hatinya kembali mengkilap” (HR. Tirmidzi no.3334. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”)

15. Taubat adalah sumber kekuatan

Allah Ta’ala berfirman:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ

“Dan Hud berkata: ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu’ ” (QS. Hud: 52)

Perhatikanlah, kekuatan diberikan dengan taubat. Adapun di masa ini kita banyak melihat orang-orang yang ingin memerangi musuh Allah namun dengan memusuhi para wali Allah. Apakah dengan ini mereka diberi kekuatan untuk mengalahkan musuh Allah? Tidaklah kekuatan yang mereka klaim itu melainkan hakikatnya hanya kelemahan yang parah. Dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Siapa saja yang menetang wali-Ku, ia telah menantang-Ku berperang” (HR. Bukhari no.6502)

16. Taubat adalah jalan untuk mengenal Allah Ta’ala

Jika seorang hamba berbuat maksiat, ia pun datang menghadap kepada Allah dengan taubat, Allah akan mengampuninya meski ia berulang kali melakukan maksiatnya. Dalam sebuah hadits diceritakan:

أإِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى قَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَقَالَ رَبُّهُ غَفَرْتُ لِعَبْدِى فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ

“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Lalu Allah berfirman: ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya’” (HR. Bukhari no. 7068)

Demikianlah, dengan taubat, seorang hamba mengenal betapa luas rahmat Allah. Sebagian orang ada yang memahami hadits ini dengan pemahaman yang buruk, yaitu bahwa hadits ini membuka lebar-lebar pintu untuk bermaksiat. Namun pemahaman yang benar adalah bahwa hadits ini menunjukkan betapa lebarnya pintu taubat yang dibuka oleh Allah Ta’ala[2].

Demikianlah, hamba yang bertaubat mengenali betapa Rabb-nya membuka pintu taubat yang begitu lebar, ia pun mengenali bahwa Rabb-nya memiliki nama At Tawwab. Hal-hal ini tidak dikenali oleh orang-orang yang ingkar kepada Allah dan enggan bertaubat kepada-Nya

Semoga Allah Ta’ala menolong kita agar senantiasa kembali dan bertaubat kepada-Nya, sebelum datangnya hari akhir, sebelum datangnya maut. Semoga Allah menjadikan akhir hidup kita sebagai akhir yang baik. Dan semoga kita mati dalam keadaan diridhai oleh Allah Ta’ala. [Disarikan oleh Yulian Purnama dari rekaman ceramah Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al Halabi Hafizhahullah, salah seorang ulama pakar hadits di zaman ini]

_____________

[1] Salah satu hadits yang berkaitan dengan hal ini adalah hadits berikut:

أن أربعين من أصحاب النجاشي قدموا على النبي صلى الله عليه وسلم فشهدوا معه أحدا ، وكانت فيهم جراحات ، ولم يقتل منهم أحد ، فلما رأوا ما بالمؤمنين من الحاجة قالوا : يا رسول الله ، إنا أهل ميسرة ، فائذن لنا نجيء بأموالنا نواسي بها المسلمين ، فأنزل الله عز وجل فيهم : ( الذين آتيناهم الكتاب من قبله هم به يؤمنون ) الآية ( أولئك يؤتون أجرهم مرتين بما صبروا ) فجعل لهم أجرين

“Ada 40 orang pasukan Raja Najasy menghadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Ketika itu mereka sedang terluka sehingga mereka tidak dibunuh. Kemudian mereka bersyahadat di depan Nabi. Ketika mereka melihat kaum mu’minin sedang dalam kekurangan, mereka pun berkata: ‘Ya Rasulullah, kami orang berada. Izinkanlah kami datangkan harta-harta kami untuk membantu kaum muslimin. Ketika itu turunlah ayat:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu” (QS. Al Qashash: 52)

أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا

“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka” (QS. Al Qashash: 54)

Bagi mereka dua pahala”. (HR. Ath Thabrani no.7662 dalam Mu’jam Al Ausath, cetakan Darul Haramain, Kairo, dari sahabat Ibnu Abbas)

[2] Dalam Fathul Baari dijelaskan Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Makna dari firman Allah ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya‘ adalah: ‘Selama engkau selalu bertaubat setiap kali bermaksiat, Aku telah ampuni dosamu’”. Beliau juga membawakan perkataan Imam An Nawawi: “Jika seseorang berbuat dosa seratus kali, seribu kali, atau bahkan lebih banyak, dan setiap berbuat dosa ia bertaubat, maka taubatnya diterima. Bahkan jika dari ribuan perbuatan dosa tadi setelahnya ia hanya sekali bertaubat, taubatnya pun diterima” (Fathul Baari, 89/21)

sumber: https://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/tazkiyatun-nufus/274-buah-manis-dari-taubat.html