[DONASI DITUTUP] Terimakasih muhsinin !

masyaallah walhamdulillah wallahuakbar!

terimakasih Muhsinin..!

terimakasih kepada 1471+ muhsinin yang telah terpanggil mendukung operasional pengembangan HijrahApp untuk 2022 mendatang.! Alhamdulillah 90% donasi terpenuhi !

terimakasih Muhsinin..!

terimakasih telah bersedia menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu dakwah di HijrahApp. terimakasih telah bersedia menjadi jantung pengembangan aplikasi HijrahApp.!

jazakumullahu khairon wa barakallahu fiikum๐Ÿ™

mudah-mudahan dengan setiap artikel kebaikan yang terpublish, setiap poster dakwah yang terilis, setiap baris code yang tertulis.. setiap detik pengembangan yang kami lakukan, Allah mengganjarkan pahala yang sempurna kepada antum semua yang terlibat.

semoga apa-apa yang disisihkan kelak mendapat ganjaran kebaikan yang berlimpah dari Allah, baik itu di dunia maupun di akhirat nantinya. Allahumma aamiin

akhir kata bantulah diri-diri kita mewujudkan harapan tersebut dengan mengikhlaskan segala sesuatunya hanya untuk Allah.

ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ูŽู‘ ุตูŽู„ุงูŽุชููŠ ูˆูŽู†ูุณููƒููŠ ูˆูŽู…ูŽุญู’ูŠูŽุงูŠูŽ ูˆูŽู…ูŽู…ูŽุงุชููŠ ู„ูู„ู‘ู‡ู ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ

โ€œKatakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.โ€(Al Anโ€™am:162)

jazakumullahu khairon wa barakallahu fiikum

terimakasih muhsinin!

saudara/i-mu
-Tim HijrahApp


LAPORAN DONASI

Jangan Menjelek-Jelekkan Makanan

Janganlah menjelek-jelekkan makanan, kalau tidak suka yah tinggalkan saja. Tak perlu beri komentar tanda seolak-olah menolak rizki Allah.

Imam Nawawi membawakan dalam kitab Riyadhus Sholihin mengenai tidak bolehnya mencela makanan dan disunnahkan memujinya. Beliau bawakan dua hadits dari Abu Hurairah dan Jabir berikut ini.

Tidak Menjelek-jelekkan Makanan

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

ู…ูŽุง ุนูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจูู‰ูู‘ โ€“ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… โ€“ ุทูŽุนูŽุงู…ู‹ุง ู‚ูŽุทูู‘ ุŒ ุฅูู†ู ุงุดู’ุชูŽู‡ูŽุงู‡ู ุฃูŽูƒูŽู„ูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุฑูู‡ูŽู‡ู ุชูŽุฑูŽูƒูŽู‡ู

โ€œTidaklah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mencela suatu makanan sedikit pun. Seandainya beliau menyukainya, beliau menyantapnya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya (tidak memakannya).โ€ (Muttafaqun โ€˜alaih. HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064).

Lihatlah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memberikan cara bagaimana menghadapi makanan yang tidak kita sukai, yaitu dengan ditinggalkan. (Bahjatun Nazhirin, 2: 51).

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, โ€œInilah adab yang baik kepada Allah Taโ€™ala. Karena jika seseorang menjelek-jelekkan makanan yang tidak disukai, maka seolah-olah dengan ucapan jeleknya itu, ia telah menolak rizki Allah.โ€ (Syarh Al Bukhari, 18: 93)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al โ€˜Utsaimin rahimahullah menjelaskan, โ€œMakanan dan minuman yang dinikmati ketika disodori pada kita, hendaklah kita tahu bahwa itu adalah nikmat yang Allah beri. Nikmat tersebut bisa datang karena kemudahan dari Allah. Kita mesti mensyukurinya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya. Jika memang kita suka, makanlah. Jika tidak, maka tidak perlu makan dan jangan berkata yang bernada menjelek-jelekkan makanan tersebut.โ€ (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 199)

Namun tidak mengapa jika memberi kritikan pada yang masak, misalnya dengan berkata, โ€œHari ini masakanmu terlalu banyak garam, terlalu pedas atau semacam itu.โ€ Yang disebutkan ini bukan maksud menjelakkan makanan, namun hanyalah masukan biar dapat diperbaiki. Lihat idem, 4: 200.

Hendaklah Memuji Makanan

Adapun dalam masalah memuji makanan dapat terbukti dari hadits Jabir bin โ€˜Abdillah berikut ini.

Dari Jabir bin โ€˜Abdillah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah bertanya kepada keluarganya tentang lauk. Mereka lantas menjawab bahwa tidak di sisi mereka selain cuka. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lalu bersabda,

ู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ุฃูุฏูู…ู ุงู„ู’ุฎูŽู„ูู‘ ู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ุฃูุฏูู…ู ุงู„ู’ุฎูŽู„ูู‘

โ€œSebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.โ€ (HR. Muslim no. 2052).

Perhatikan, ketika Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam meminta lauk, yang ada hanyalah cuka. Maka beliau pun tetap menyantapnya, bahkan memujinya. Inilah yang dimaksud memuji makanan.

Jadi, di antara petunjuk Rasul shallallahu โ€˜alaihi wa sallam adalah jika beliau dapati makanan yang disenangi, maka dipuji. Begitu pula hadits Jabir mengajarkan untuk bersederhana dalam makan. Kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa tidak semua yang disenangi jiwa mesti dituruti, kadangkala keinginan semacam itu ditahan seperti diajarkan oleh Rasul โ€“shallallahu โ€˜alaihi wa sallamโ€“ di sini. Lihat Bahjatun Nazhirin, 2: 51.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Abu Usamah Salim bin โ€˜Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah.

Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al โ€˜Utsaimin, terbitan Madarul Wathon Riyadh, cetakan ketiga, tahun 1427 H.

โ€”

Disusun di pagi hari penuh berkah diย Pesantren Darush Sholihin, 26 Rabiโ€™uts Tsani 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/6777-jangan-menjelek-jelekkan-makanan.html

Dari Miras Sampai Zina (Khamar, Biang Kerusakan)

Minuman keras (miras), kita tahu adalah minuman yang berbahaya. Berbahaya bagi individu, juga berbahaya bagi masyarakat. Bahkan dapat dikata, khamar adalah biangnya kerusakan lainnya.

Jauhilah Khamar

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุฑู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูŠู’ุณูุฑู ูˆูŽุงู„ุฃู†ู’ุตูŽุงุจู ูˆูŽุงู„ุฃุฒู’ู„ุงู…ู ุฑูุฌู’ุณูŒ ู…ูู†ู’ ุนูŽู…ูŽู„ู ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ููŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆู‡ู ู„ูŽุนูŽู„ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุชููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ , ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ูŠูุฑููŠุฏู ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ุฃูŽู†ู’ ูŠููˆู‚ูุนูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ุนูŽุฏูŽุงูˆูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุบู’ุถูŽุงุกูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุฑู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูŠู’ุณูุฑู ูˆูŽูŠูŽุตูุฏูŽู‘ูƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ ุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุนูŽู†ู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ููŽู‡ูŽู„ู’ ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูู†ู’ุชูŽู‡ููˆู†ูŽ

โ€œHai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).โ€ (QS. Al Ma-idah: 90-91)

Dalam ayat ini dari beberapa sisi kita dapat melihat keharaman khamar:

  1. Khamar dalam ayat tersebut dikaitkan dengan penyembahan pada berhala.
  2. Allah menyebut rijsun (kotor).
  3. Khamar termasuk perbuatan setan. Setan pastilah datang dengan membawa kejelekan dan hal yang kotor.
  4. Kita diperintahkan untuk menjauhi khamar.
  5. Seseorang yang menjauhinya akan mendapatkan keberuntungan. Jika seseorang malah mendekati khamar, malah termasuk orang yang merugi.
  6. Khamar dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian.
  7. Allah menutup dengan mengatakan (ููŽู‡ูŽู„ู’ ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูู†ู’ุชูŽู‡ููˆู†ูŽ), berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Dari sini, kita katakan miras (minuman keras) itu haram.

Khamar Dilaknat

Dari Ibnu โ€˜Umar radhiyallahu โ€˜anhuma, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ูŽุนูŽู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุฑูŽ ูˆูŽุดูŽุงุฑูุจูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุณูŽุงู‚ููŠูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽุงุฆูุนูŽู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูุจู’ุชูŽุงุนูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุนูŽุงุตูุฑูŽู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูุนู’ุชูŽุตูุฑูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุญูŽุงู…ูู„ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูŽุฉูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู

โ€œAllah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya,penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.โ€ (HR. Abu Daud, no. 3674; Ibnu Majah no. 3380. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2356)

Maksud khamar itu dilaknat oleh Allah, agar setiap orang menjauhi minuman haram tersebut. Bisa pula yang dimaksudkan dengan โ€œAllah melaknat khamarโ€ adalah melaknat memakan hasil upah dari penjualan khamar.  (โ€˜Aun Al-Maโ€™bud, 10: 86)

Siksaan Akhirat bagi Pecandu Khamar

Pertama, pecandu khamar disamakan dengan para penyembah berhala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูุฏู’ู…ูู†ู ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุฑู ูƒูŽุนูŽุงุจูุฏู ูˆูŽุซูŽู†ู

โ€œPecandu khamar seperti penyembah berhala.โ€ (HR. Ibnu Majah, no. 3375. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Dalam Hasyiyah As-Sindi โ€˜ala Ibni Majah (6: 357), disebutkan bahwa Allah Taโ€™ala akan mengumpulkan peminum khamar dengan penyembah berhala karena Allah menyebutkan mereka satu dalam ayat โ€˜innamal khamaru wal maysiru โ€ฆโ€™ (surat Al-Maidah ayat 90). Begitu pula shalat keduanya tidak diterima. Orang kafir kalaulah ia shalat, shalatnya tidak diterima. Sama halnya dengan peminum khamar.

Wal โ€˜iyadzu billah โ€ฆ

Kedua, pecandu khamar diancam tidak masuk surga

Dari Abu Ad-Dardaโ€™, ia berkata dari Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, beliau bersabda,

ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ุงู„ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ู…ูุฏู’ู…ูู†ู ุฎูŽู…ู’ุฑู

โ€œPecandu khamar tidak akan masuk surga.โ€ (HR. Ibnu Majah, no. 3376. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Khamar itu Biang Kerusakan

Hal ini memang benar adanya. Para pemabuk biasa membuat kerusakan. Mereka buat keonaran, buat kekacauan, saling bertengkar dan saling benci. Bahkan mabuk bisa jadi biang maksiat lainnya seperti zina, bahkan pembunuhan. Khamar memang biang kerusakan atau induk berbagai macam kejahatan.

Ada kisah menarik yang bisa diambil pelajaran berikut ini.

Dari Utsman bin โ€˜Affan radhiyallahu โ€˜anhu, ia menyatakan, โ€œJauhilah khamar (minuman keras), karena khamar itu merupakan induk segala keburukan (biang kerusakan).

โ€˜Utsman bercerita,

Dahulu ada seorang โ€˜abid (ahli ibadah) yang biasa pergi ke masjid di antara orang-orang sebelum kalian dan ia disukai oleh seorang pelacur. Pelacur tersebut mengutus pembantunya untuk menyampaikan pesan, โ€œKami mengundang engkau untuk suatu kesaksian.โ€

Ahli ibadah itu pun pergi bersama pembantu tersebut. Ketika dia sudah sampai dan masuk ke rumah sang pelacur, segera pelacur itu menutup rapat semua pintu rumahnya, dan tak ada orang lain. Mata sang abid tertuju ke sosok seorang wanita yang amat cantik (bahenol dan seksi dengan pakaian yang menantang) sambil membawa secawan khamar dan dekatnya ada bayi yang masih kecil.

Wanita tersebut berkata, โ€œDemi Allah, aku tidak mengundangmu untuk sebuah kesaksian, tapi aku mengundangmu agar engkau bercinta denganku, atau engkau ikut minum khamar barang segelas bersamaku, atau engkau harus membunuh bayi ini.โ€ (Kalau engkau menolaknya, maka saya akan menjerit dan berteriak, โ€˜ada orang memasuki rumahku.โ€™)

Akhirnya sang ahli ibadah bertekuk lutut dan dia berkata, โ€œZina, saya tidak mau. Membunuh juga tidak.โ€ Lalu ia memilih untuk meminum khamar seteguk demi seteguk hingga akhirnya ia mabuk. Dan setelah mabuk hilanglah akal sehatnya yang pada akhirnya ia berzina pada pelacur tersebut dan juga membunuh bayi itu.

Lantas โ€˜Utsman berkata,

ููŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุฑูŽ ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ุง ูŠูŽุฌู’ุชูŽู…ูุนู ุงู„ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ูˆูŽุฅูุฏู’ู…ูŽุงู†ู ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุฑู ุฅูู„ุง ู„ูŽูŠููˆุดููƒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฎู’ุฑูุฌูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ุตูŽุงุญูุจูŽู‡ู

Karena itu jauhilah khamar (miras), karena demi Allah, sesungguhnya iman tidak dapat menyatu dengan khamar dalam dada seseorang, melainkan harus keluar salah satunya. (HR. An-Nasaโ€™i, no. 5669; 5670. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Ada hadits yang menyebutkan,

ุงู„ุฎูŽู…ู’ุฑู ุฃูู…ูู‘ ุงู„ุฎูŽุจูŽุงุฆูุซูุŒ ููŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽุฑูุจูŽู‡ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูู‚ู’ุจูŽู„ู’ ุตูŽู„ุงูŽุชูู‡ู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู’ู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุงุŒ ููŽุฅูู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูˆูŽู‡ููŠูŽ ูููŠ ุจูŽุทู’ู†ูู‡ู ู…ูŽุงุชูŽ ู…ููŠู’ุชูŽุฉู‹ ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠูŽู‘ุฉู‹

โ€œKhamar adalah induk berbagai macam kerusakan. Siapa yang meminumnya, shalatnya selama 40 hari tidaklah diterima. Jika ia mati dalam keadaan khamar masih di perutnya, berarti ia mati seperti matinya orang Jahiliyyah.โ€ (HR. Ath-Thabrani. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1854 menyatkaan bahwa hadits ini hasan)

Dan memang ada yang mati dalam keadaan mabuk โ€ฆ Bahkan ada yang kena penyakit kronis gara-gara jadi pecandu dulunya. Naโ€™udzu billahi min dzalik.

Semoga kita bisa saling mengingatkan dan Allah memberi kita taufik untuk menjauhi dosa-dosa besar.

โ€”

@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat sore, 5 Rabiโ€™uts Tsani 1437 H

Naskah Khutbah Jumat di Masjid Jami Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, 5 Rabiโ€™uts Tsani 1437 H

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi:ย Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/12762-dari-miras-sampai-zina-khamar-biang-kerusakan.html

Tidak Akan Datang Suatu Zaman Kecuali Lebih Buruk dari Sebelumnya

Pertanyaan: 

Syaikh yang mulia, bagaimana menggabungkan antara sabda Nabi shallallaahu โ€˜alaihi wa sallam, yaitu

โ€ Tidak ada suatu jaman yang datang kecuali (jaman) yang setelahnya lebih buruk dari sebelumnyaโ€; dengan apa yang kami lihat pada kondisi saat ini , manusia mendekat kepada Allah?!

Maka kami menetapkan dan memutuskan  dengan yakin bahwa waktu ini lebih baik dari waktu-waktu yang telah berlalu dari sedikitnya kemungkaran-kemungkaran dan manusia mendekat kepada Allah. Ini sesuatu yang dapat disaksikan. Keadaan ini disebut โ€œkebangkitanโ€. Kita tahu bahwa kebangkitan itu tidaklah terjadi kecuali setelah kelalaian. Lalu bagaimana menggabungkan antara kondisi ini dengan hadis di atas?

Jawabannya:

Wajib kita ketahui bahwa Al Quran dan Hadits yang shahih, keduanya tidak akan bertentangan dengan realitas keadaan, selamanya.

Apabila ada sesuatu yang menyelisihi dzahir Al Quran dan Hadits, maka ketahuilah engkau telah salah dalam memahami Al Quran dan Hadits. Itu artinya Al Qurโ€™an dan hadis tidak akan bertentangan dengan kondisi sekarang.

Sementara realitas keadaan sekarang ini sebagaimana yang diutarakan oleh penanya, (banyak manusia) mendekat kepada Allah secara besar-besaran-alhamdulillahโ€“ diantaranya para pemuda yang mendatangi agama Allah. Kami memohon kepada Allah keteguhan untuk mereka dan memberikan taufik kepada kebenaran.

Akan tetapi disana terdapat keburukan yang tersebar dimana-mana, ditinjau dari sisi kebanyakan manusia!

Di sana mereka memang mendekat kepada (agama Allah) โ€”alhamdulillah โ€” namun (pada saat yang bersamaan) juga bermunculan banyak keburukan. Apakah kemungkaran-kemungkaran yang kita lihat masa kini juga terjadi pada masa sebelumnya?

Tidak terjadi!

Bahkan pada masa kita dulu, kita tidak akan percaya ada orang  minum khamer. Kini, di sebagian negeri kaum muslimin, khamer dijual secara terang-terangan, dipajang di mesin pendingin minuman sebagaimana minuman yang halal.

Dulu kita tidak sampai berpikir bahwa ada orang yang suka dengan sesama jenis (homoseksual).

Sekarang, di sebagian negeri islam, seorang laki-laki mendatangi laki-laki lain seakan-akan ia wanita yang halal (istrinya)!

Narkotika yang menghancurkan umat, apakah dulu kita mengenalnya?!

Tidak!

Kebaikan pada umat masa kini sangatlah banyak, keburukan pun juga ada. Dan jika engkau telah membandingkan antara keduanya, terkadang engkau akan mengatakan, โ€ Sungguh, kebaikannya lebih banyak โ€“Insyaallah-. Apabila kebaikan itu tidak dihalang-halangi dari arah para pelaku keburukan, maka pelaku kebaikan akan mendominasi.โ€

Akan tetapi yang dimaksudkan dalam hadits diatas adalah tentang para pemimpin. Karena yang menjadi sebab Anas radhiyallahuโ€™anhu menyebutkan hadits ini adalah tatkala orang-orang mendatanginya serta mengadukan apa yang mereka dapati pada diri Al-Hajjaj. Sementara Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi tokoh yang maโ€™ruf ( terkenal keburukannya ).

Kemudian, Anas berkata kepada mereka,

ุงุตุจุฑูˆุง ูุฅู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: ุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠุฃุชูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุณ ุฒู…ุงู† ุฅู„ุง ูˆู…ุง ุจุนุฏู‡ ุดุฑ ู…ู†ู‡ ุญุชู‰ ุชู„ู‚ูˆุง ุฑุจูƒู…

โ€œBersabarlah, karena sesungguhnya Nabi shalallaahu alaihi wasallam bersabda, โ€˜Sesungguhnya tidaklah datang suatu jaman, melainkan jaman setelahnya itu lebih buruk dari jaman sebelumnya sampai kalian menghadap kepada Rabb kalian.’โ€

Hadis ini sesuai dengan kenyataan tentang pemimpin, tidaklah datang suatu jaman, melainkan jaman setelahnya itu lebih buruk dari jaman sebelumnya.

Lihatlah negara-negara Islam sekarang, terlebih lagi negara Arab yang kita kenal, Mesir misalnya. Mana yang lebih baik ketika negara tersebut menganut sistem kerajaan (monarki) ataukah setelah berubah menjadi negara republik (kedaulatan negara di tangan rakyat)?! Tentu yang pertama jauh lebih baik. Kemudian negara-negara republik yang lain yang mengikuti bentuk pemerintahan ini. Semua negera republik tersebut lebih buruk keadaannya dari sistem pemerintahan sebelumnya! Perhatikan negara Irak! Maka akan engkau dapati seperti itu! Dan perhatikan negara Syam! Engkau juga dapati seperti itu!

Orang-orang yang dimaksudkan dalam hadis adalah tetang para pemimpin. Tidak akan datang suatu jaman (kepemimpinan) melainkan jaman setelahnya lebih buruk dari sebelumnya dalam hal kedzalimannya, jauhnya dari agama, menindas pelaku kebenaran dan selain nya. Sudah tahukah Anda sekarang?

Jadi, yang dimaksudkan hadis diatas mereka para pemimpin.

ู„ุง ูŠุฃุชูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุณ ุฒู…ุงู† ุฅู„ุง ูˆู…ุง ุจุนุฏู‡ ุดุฑ ู…ู†ู‡

โ€œTidak akan datang suatu jaman atas manusia melainkan jaman setelahnya lebih buruk dari sebelumnya.โ€

Namun terkadang ada bantahan akan hal ini, yaitu kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Tanpa diragukan lagi, bahwa khalifah-khalifah (Bani Umayyah) pada masa sebelumnya lebih buruk dari masa kepemimpinan beliau. Beliau jelas lebih baik dari mereka semua, lebih baik dari para pendahulunya, terutama khalifah-khalifah yang dekat masanya dengan masa pemerintahannya.

Maka jawabannya:

Hal ini tidaklah bertentangan dengan hadist tersebut, karena teks-teks Al Qurโ€™an dan hadist terkadang menjelaskan berdasarkan kondisi keumuman bukan pada pribadi perorangan.

**

Sumber: Silsilah Liqoat Al Bab Alaftuh no.22
Simak audio berikut:
http://zadgroup.net/bnothemen /upload/ftawamp3/od_022_17.mp3

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com

sumber:ย https://wanitasalihah.com/tidak-akan-datang-suatu-jaman-kecuali-lebih-buruk-dari-sebelumnya/

Bisa Memilih Bidadari Yang Paling Ia Sukai

Ini adalah balasan di surga bagi mereka yang bisa mengendalikan amarah dan emosinya padahal ia mampu dan memiliki kekuasaan untuk meluapkan emosinya.

Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุธูŽู…ูŽ ุบูŽูŠู’ุธู‹ุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽุงุฏูุฑูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู†ู’ููุฐูŽู‡ู ุฏูŽุนูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูุคููˆู’ุณู ุงู„ู’ุฎูŽู„ุงูŽุฆูู‚ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูุฎูŽูŠูู‘ุฑูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุญููˆู’ุฑู ุงู„ู’ุนููŠู’ู†ู ู…ูŽุง ุดูŽุงุกูŽ.

โ€œBarangsiapaย menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allahย  akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk,ย kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukaiโ€ย [1]

Ingat! yang benar adalah mengendalikan amarah dan emosi ketika marah, bukan artinya kita tidak boleh marah. Boleh saja asal marah pada tempatnya dan sesuai keadaan, tegas dalam bertindak. Seperti atasan yang marah kepada bawahannya yang tidak amanah padahal sudah sering diingatkan. Bahkan ini marah dengan ketegasan yang dibutuhkan bagi mereka yang berjiwa pemimpin.

Bahkan mampu mengendalikan amarah ketika ia bisa meluapkannya menunjukkan bahwa ia seseorang yang mulia akhlaknya. Karena akhlak seseorang dinilai ketika sedang mampu berkuasa. Semialnya suami dengan istrinya. Mungkin dengan istrinya ia marah-marah di rumah sedangkan di luar karena status jabatannya yang rendah ia tidak bisa marah dan meluapkan emosinya.

Inilah yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ : ุฃูŽูˆู’ุตูู†ููŠู’ ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู„ูŽุง ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’ . ููŽุฑูŽุฏูŽู‘ุฏูŽ ู…ูุฑูŽุงุฑู‹ุง ุ› ู‚ูŽุงู„ูŽ :  ู„ูŽุง ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’ .

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam : โ€œBerilah aku wasiatโ€. Beliau menjawab,ย โ€œEngkau jangan marah!โ€ Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda: โ€œEngkau jangan marah!โ€[2]

Meluapkan kemarahannya dengan tanpa pandang bulu dan melihat keadaan. Tentu saja hasil yang diperoleh tidak baik karena segala sesuatu yang diselesaikan dengan marah tidak terkendali, tidak akan menyelesaikan masalah justru akan menambah masalah.

Bahkan orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan amarahnya ketika ia mampu meluapkannya.

Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฏููŠู’ุฏู ุจูุงู„ุตูู‘ุฑูŽุนูŽุฉู ุŒ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุงู„ุดูŽู‘ุฏููŠู’ุฏู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ ูŠูŽู…ู’ู„ููƒู ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุบูŽุถูŽุจู.

โ€œOrang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marahโ€.[3]

Bisa mengatur emosinya dan menahan amarahnya padahal ia mampu meluapkannya. Ini adalah perbuatan yang sangat terpuji.

Semoga kita bisa lebih mengatur emosi dan mengendalikan amarah kita.

@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta

Penyusun:ย ย Raehanul Bahraen

[1]ย HR Ahmad (III/440), Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), dan Ibnu Majah (no. 4286) Dihasankan oleh Syaikh al-Alani dalam Shahih al-Jamiโ€™ish Shaghir no. 6522

[2]ย HR al-Bukhari no. 6116

[3]ย HR al-Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609

Ilmu Agama Tanpa Akhlak Mulia Adalah Sia-Sia

Perhatikan Adab dan Akhlakmu Wahai Penuntut Ilmu

Sebuah nasihat yang sangat bagus bagi kaum muslimin khususnya bagi para penuntut ilmu agama. Ilmu agama yang mulia ini hendaknya selalu digandengkan dengan akhlak yang mulia. Terlebih para daโ€˜i yang akan menyeru kepada kebaikan dan menjadi sorotan oleh masyarakat akan kegiatan keseharian dan muamalahnya. Nasehat tersebut dari seorang ulama yaitu syaikh Muhammad bin Shalih Al-โ€˜Utsaimin rahimahullah, beliau berkata,

ุทุงู„ุจ ุงู„ุนู„ู… : ุฅุฐุง ู„ู… ูŠุชุญู„ ุจุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ูุงุถู„ุฉ ูุฅู† ุทู„ุจู‡ ู„ู„ุนู„ู… ู„ุง ูุงุฆุฏุฉ ููŠู‡

โ€œSeorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada faidah menuntut ilmunya.โ€[1]

Memang demikian contoh dari para ulama sejak dahulu, mereka sangat memperhatikan adab dan akhlak. Jangan sampai justru dakwah rusak karena pelaku dakwah itu sendiri yang kurang adab dan akhlaknya. Ulama dahulu benar-benar mempelajari adab dan akhlak bahkan melebihi perhatian terhadap ilmu.

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,

ุทู„ุจุช ุงู„ุฃุฏุจ ุซู„ุงุซูŠู† ุณู†ุฉ ูˆุทู„ุจุช ุงู„ุนู„ู… ุนุดุฑูŠู† ุณู†ุฉ ูƒุงู†ูˆุง ูŠุทู„ุจูˆู† ุงู„ุฃุฏุจ ุซู… ุงู„ุนู„ู…

โ€œSaya mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama dua puluh tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmuโ€.[2]

Hendaknya kaum muslimin terutama para penuntut ilmu dan dai sangat memperhatikan hal ini. Jika setiap orang atau sebuah organisasi, kita permisalkan. Mereka punya target dan tujuan tertentu, maka tujuan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam diutus adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Kita berupaya untuk mewujudkan hal ini.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุจูุนูุซู’ุชู ู„ูุฃูุชูŽู…ูู‘ู…ูŽ ุตูŽุงู„ูุญูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฎู’ู„ุงูŽู‚ู

โ€œAku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.โ€ [3]

Berhiaslah dengan Akhlak Mulia

Beliau memerintahkan kita agar bergaul dan bermuamalah dengan manusia berhiaskan akhlak yang mulia.

Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ูˆูŽุฎูŽุงู„ูู‚ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ุจูุฎูู„ูู‚ู ุญูŽุณูŽู†ู

โ€œBergaulah dengan manusia dengan akhlak mulia.โ€[4]

Beliau adalah suri teladan bagi kaum muslimin dan beliaupun sudah mencontohkan kepada kita akhlak beliau yang sangat mulia dalam berbagai kisah sirah beliau. Allah memuji akhlak beliau dalam Al-Quran.

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ู„ูŽุนูŽู„ู‰ ุฎูู„ูู‚ู ุนูŽุธููŠู…ู

โ€œSesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhurโ€ (Al-Qalam: 4).

Demikian juga pujian dari istri beliau, perlu diketahui bahwa komentar dan testimoni istri pada suami adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak sebenarnya seseorang. โ€˜A`isyah berkata mengenai akhlak Nabi Shallallahu โ€˜alaih wa sallam,

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฎูู„ูู‚ูู‡ู ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ

โ€œAkhlak beliau adalah Al-Quran.โ€[5]

Seperti Apa Akhlak Mulia Itu?

Definisinya akhlak mulia cukup sederhanya, sebagaimana ulama menerangkan,

ุจูŽุฐู’ู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุฏูŽู‰ ูˆูŽูƒูŽููู‘ ุงู„ู’ุฃูŽุฐูŽู‰ ูˆูŽุงุญู’ุชูู…ูŽุงู„ู ุงู„ู’ุฃูŽุฐูŽู‰

Akhlak mulia adalah

[1] berbuat baik kepada orang lain

[2] menghindari sesuatu yang menyakitinya

[3] dan menahan diri ketika disakitiโ€[6]

Mari kita wujudkan akhlak yang mulia, mempelajari bagaimana akhlak mulia dan dalam Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Balasan akhlak mulia sangat besar yaitu masuk surga dan merupakan sebab terbanyak orang masuk surga

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ู…ูŽุง ูŠูุฏู’ุฎูู„ู ุงูŽู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ุชูŽู‚ู’ูˆู‰ ุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุญูุณู’ู†ู ุงูŽู„ู’ุฎูู„ูู‚ู

โ€œYang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.โ€[7]

@Yogyakarta Tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:

[1] Syarhul Hilyah Fii Thalabul Ilmi, hal. 7
[2] Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro I/446, cetakan pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah
[3] H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani
[4] HR. At-Tirmidzi beliau menilai hasan shahih
[5] HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54
[6] Madarijus Salikin II/318-319
[7] HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani

Sumber: https://muslim.or.id/29917-ilmu-agama-tanpa-akhlak-mulia-adalah-sia-sia.html

Amalan yang Bermanfaat Bagi Mayit

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูู„ุฅู†ู’ุณูŽุงู†ู ุฅูู„ุง ู…ูŽุง ุณูŽุนูŽู‰

โ€œDan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannyaโ€ (QS. An Najm: 39).

Dari ayat ini, sebagian ulama mengatakan bahwa usaha orang lain tidak akan bermanfaat bagi si mayit. Namun pendapat ini adalah pendapat yang kurang tepat. Syaikh As Saโ€™di mengatakan bahwa ayat ini hanya menunjukkan bahwa manusia tidaklah mendapatkan manfaat kecuali apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri. Ini benar dan tidak ada perselisihan di dalamnya. Namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa amalan orang lain tidak bermanfaat untuk dirinya yaitu ketika orang melakukan amalan untuknya. Sebagaimana pula seseorang memiliki harta yang ia kuasai saat ini. Hal ini tidak melazimkan bahwa dia tidak bisa mendapatkan harta dari orang lain melalui hadiah yang nanti akan jadi miliknya.[1]

Jadi sebenarnya, amalan orang lain tetap bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal sebagaimana ditunjukkan pada dalil-dalil yang akan kami bawakan, seperti amalan puasa dan pelunasan utang.

Namun perlu diperhatikan di sini, amalan yang bisa bermanfaat bagi si mayit itu juga harus ditunjukkan dengan dalil dan tidak bisa dikarang-karang sendiri. Jadi tidak boleh seseorang mengatakan bahwa amalan A atau amalan B bisa bermanfaat bagi si mayit, kecuali jika jelas ada dalil dari Al Qurโ€™an dan As Sunnah yang menunjukkan hal tersebut.

Amalan-amalan yang bisa bermanfaat bagi si mayit adalah sebagai berikut.

Pertama: Doโ€™a kaum muslimin bagi si mayit

Setiap doโ€™a kaum muslimin bagi setiap muslim akan bermanfaat bagi si mayit. Dalilnya adalah firman Allah Taโ€™ala,

ูˆูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุฌูŽุงุกููˆุง ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‡ูู…ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ุฅุฎู’ูˆูŽุงู†ูู†ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุณูŽุจูŽู‚ููˆู†ูŽุง ุจูุงู„ุฅูŠู…ูŽุงู†ู ูˆูŽู„ุง ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจูู†ูŽุง ุบูู„ุง ู„ูู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุฑูŽุกููˆููŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ

โ€œDan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: โ€œYa Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayangโ€œ.โ€ (QS. Al Hasyr: 10) Ayat ini menunjukkan bahwa di antara bentuk kemanfaatan yang dapat diberikan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah doโ€™a karena ayat ini mencakup umum, yaitu orang yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.

Syaikh โ€˜Abdurrahman bin Nashir As Saโ€™di mengatakan, โ€œDoโ€™a dalam ayat ini mencakup semua kaum mukminin, baik para sahabat yang terdahulu dan orang-orang sesudah mereka. Inilah yang menunjukkan keutamaan iman, yaitu setiap mukmin diharapkan dapat memberi manfaat satu dan lainnya dan dapat saling mendoakan.โ€[2]

Begitu pula sebagai dalil dalam hal ini adalah sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,

ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู„ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุธูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ู…ูุณู’ุชูŽุฌูŽุงุจูŽุฉูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ู…ูŽู„ูŽูƒูŒ ู…ููˆูŽูƒูŽู‘ู„ูŒ ูƒูู„ูŽู‘ู…ูŽุง ุฏูŽุนูŽุง ู„ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽูƒู ุงู„ู’ู…ููˆูŽูƒูŽู‘ู„ู ุจูู‡ู ุขู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุจูู…ูุซู’ู„ู

โ€œDoโ€™a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doโ€™a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoโ€™akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doโ€™anya. Tatkala dia mendoโ€™akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: โ€œAmin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadiโ€.โ€[3] Doโ€™a kepada saudara kita yang sudah meninggal dunia adalah di antara doโ€™a kepada orang yang di kala ia tidak mengetahuinya.

Kedua: Siapa saja yang melunasi utang si mayit

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam didatangkan seorang mayit yang masih memiliki utang, kemudian beliau bertanya, โ€œApakah orang ini memiliki uang untuk melunasi hutangnya?โ€ Jika diberitahu bahwa dia bisa melunasinya, maka Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam akan menyolatkannya. Namun jika tidak, maka beliau pun memerintahkan, โ€œKalian shalatkan aja orang ini.โ€

Tatkala Allah memenangkan bagi beliau beberapa peperangan, beliau bersabda,

ุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ุจูุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ููŽู…ูŽู†ู’ ุชููˆูููู‘ู‰ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฏูŽูŠู’ู†ูŒ ููŽุนูŽู„ูŽู‰ูŽู‘ ู‚ูŽุถูŽุงุคูู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ู…ูŽุงู„ุงู‹ ููŽู‡ููˆูŽ ู„ููˆูŽุฑูŽุซูŽุชูู‡ู

โ€œAku lebih pantas bagi orang-orang beriman dari diri mereka sendiri. Barangsiapa yang mati, namun masih meninggalkan utang, maka aku lah yang akan melunasinya. Sedangkan barangsiapa yang mati dan meninggalkan harta, maka itu untuk ahli warisnya.โ€[4] Hadits ini menunjukkan bahwa pelunasan utang si mayit dapat bermanfaat bagi dirinya.

Sedangkan apakah pelunasan utang si mayit di sini wajib ataukah tidak, di sini ada dua pendapat di kalangan ulama Syafiโ€™iyyah. Sebagian ulama mengatakan bahwa wajib dilunasi dari baitul maal. Sebagian lagi mengatakan tidak wajib.[5]

Ketiga: Menunaikan qodhoโ€™ puasa si mayit

Pembahasan ini telah kami jelaskan pada tulisan kami yang berjudul โ€œPermasalahan Qodhoโ€™ Ramadhanโ€. Pendapat yang mengatakan bahwa qodhoโ€™ puasa bermanfaat bagi si mayit dipilih oleh Abu Tsaur, Imam Ahmad, Imam Asy Syafiโ€™i, pendapat yang dipilih oleh An Nawawi, pendapat pakar hadits dan pendapat Ibnu Hazm.

Dalil dari pendapat ini adalah hadits โ€˜Aisyah,

ู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุตููŠูŽุงู…ูŒ ุตูŽุงู…ูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ูˆูŽู„ููŠูู‘ู‡ู

โ€œBarangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya. โ€[6] Yang dimaksud โ€œwaliyyuhuโ€ adalah ahli waris[7].

Keempat: Menunaikan qodhoโ€™ nadzar baik berupa puasa atau amalan lainnya

Saโ€™ad bin โ€˜Ubadah radhiyallahu โ€˜anhu pernah meminta nasehat pada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, dia mengatakan,

ุฅูู†ูŽู‘ ุฃูู…ูู‘ู‰ ู…ูŽุงุชูŽุชู’ ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู†ูŽุฐู’ุฑูŒ

โ€œSesungguhnya ibuku telah meninggalkan dunia namun dia memiliki nadzar (yang belum ditunaikan).โ€ Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lantas mengatakan,

ุงู‚ู’ุถูู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง

โ€œTunaikanlah nadzar ibumu.โ€[8]

Kelima: Segala amalan sholih yang dilakukan oleh anak yang sholih akan bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูู„ุฅู†ู’ุณูŽุงู†ู ุฅูู„ุง ู…ูŽุง ุณูŽุนูŽู‰

โ€œDan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.โ€ (QS. An Najm: 39). Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang sholih.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅูู†ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุทู’ูŠูŽุจู ู…ูŽุง ุฃูŽูƒูŽู„ูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ู ู…ูู†ู’ ูƒูŽุณู’ุจูู‡ู ูˆูŽูˆูŽู„ูŽุฏูู‡ู ู…ูู†ู’ ูƒูŽุณู’ุจูู‡ู

โ€œSesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.โ€[9] Ini berarti amalan dari anaknya yang sholih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.

Namun sayang, orang tua saat ini melupakan modal yang satu ini. Mereka lebih ingin anaknya menjadi seorang penyanyi atau musisi โ€“sehingga dari kecil sudah dididik les macam-macam-, dibanding anaknya menjadi seorang daโ€™i atau orang yang dapat memberikan manfaat pada umat dalam masalah agama. Sehingga orang tua pun lupa dan lalai mendidik anaknya untuk mempelajari Iqroโ€™ dan Al Qurโ€™an. Sungguh amat merugi jika orang tua menyia-nyiakan anaknya padahal anak sholih adalah modal utama untuk mendapatkan aliran pahala walaupun sudah di liang lahat.

Keenam: Bekas-bekas amalan sholih (seperti ilmu yang bermanfaat) dan sedekah jariyah yang ditinggalkan oleh si mayit

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุงุชูŽ ุงู„ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ุงู†ู’ู‚ูŽุทูŽุนูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ุฅูู„ุงูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉู ุฅูู„ุงูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ุฌูŽุงุฑููŠูŽุฉู ุฃูŽูˆู’ ุนูู„ู’ู…ู ูŠูู†ู’ุชูŽููŽุนู ุจูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ูˆูŽู„ูŽุฏู ุตูŽุงู„ูุญู ูŠูŽุฏู’ุนููˆ ู„ูŽู‡ู

โ€œJika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang diambil manfaatnya, [3] anak sholih yang mendoโ€™akan orang tuanya.โ€[10]

Ketujuh: Sedekah atas nama si mayit

Sedekah untuk mayit akan bermanfaat baginya berdasarkan kesepakatan (ijmaโ€™) kaum muslimin.[11] Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu โ€˜anhuma,

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุณูŽุนู’ุฏูŽ ุจู’ู†ูŽ ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉูŽ โ€“ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ โ€“ ุชููˆูููู‘ูŠูŽุชู’ ุฃูู…ูู‘ู‡ู ูˆูŽู‡ู’ูˆูŽ ุบูŽุงุฆูุจูŒ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ ุฃูู…ูู‘ู‰ ุชููˆูููู‘ูŠูŽุชู’ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุบูŽุงุฆูุจูŒ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุŒ ุฃูŽูŠูŽู†ู’ููŽุนูู‡ูŽุง ุดูŽู‰ู’ุกูŒ ุฅูู†ู’ ุชูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ู’ุชู ุจูู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ยป . ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฅูู†ูู‘ู‰ ุฃูุดู’ู‡ูุฏููƒูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุญูŽุงุฆูุทูู‰ ุงู„ู’ู…ูุฎู’ุฑูŽุงููŽ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง

โ€œSesungguhnya Ibu dari Saโ€™ad bin Ubadah radhiyallahu โ€˜anhu meninggal dunia, sedangkan Saโ€™ad pada saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian Saโ€™ad mengatakan, โ€˜Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?โ€™ Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab, โ€˜Iya, bermanfaat.โ€™ Kemudian Saโ€™ad mengatakan pada beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€˜Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknyaโ€™.โ€[12]

Hukum Menghadiahkan Pahala Bacaan Al Qurโ€™an untuk Si Mayit

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanyakan, โ€œBagaimana dengan orang yang membaca Al Qurโ€™an Al โ€˜Azhim atau sebagian Al Qurโ€™an, apakah lebih utama dia menghadiahkan pahala bacaan kepada kedua orang tuanya dan kaum muslimin yang sudah mati, ataukah lebih baik pahala tersebut untuk dirinya sendiri?โ€

Beliau rahimahullah menjawab:

Sebaik-baik ibadah adalah ibadah yang mencocoki petunjuk Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebagaimana Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah menyampaikan dalam khutbahnya,

ุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ูƒูŽู„ูŽุงู…ู ูƒูŽู„ูŽุงู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ู‡ูŽุฏู’ูŠู ู‡ูŽุฏู’ูŠู ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ูˆูŽุดูŽุฑูู‘ ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑู ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชูู‡ูŽุง ูˆูŽูƒูู„ูู‘ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ูŽุงู„ูŽุฉูŒ

โ€Sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad โ€“shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap bidโ€™ah adalah sesat.โ€

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga bersabda,

ุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ู‚ูุฑููˆู†ู ู‚ูŽุฑู’ู†ููŠ ุซูู…ูŽู‘ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽู„ููˆู†ูŽู‡ูู…ู’

โ€œSebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka.โ€

Ibnu Masโ€™ud mengatakan,

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูุณู’ุชูŽู†ู‹ู‘ุง ููŽู„ู’ูŠูŽุณู’ุชูŽู†ูŽู‘ ุจูู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฏู’ ู…ูŽุงุชูŽ ุ› ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽู‘ ู„ูŽุง ุชูุคู’ู…ูŽู†ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ู’ููุชู’ู†ูŽุฉู ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู

โ€œSiapa saja di antara kalian yang ingin mengikuti petunjuk, maka ambillah petunjuk dari orang-orang yang sudah mati. Karena orang yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah. Mereka yang harus diikuti adalah para sahabat Muhammad โ€“shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-.โ€

Jika kita sudah mengenal beberapa landasan di atas, maka perkara yang telah maโ€™ruf di tengah-tengah kaum muslimin generasi utama umat ini (yaitu di masa para sahabat dan tabiโ€™in, pen) bahwasanya mereka beribadah kepada Allah hanya dengan ibadah yang disyariโ€™atkan, baik dalam ibadah yang wajib maupun sunnah; baik amalan shalat, puasa, atau membaca Al Qurโ€™an, berdzikir dan amalan lainnya. Mereka pun selalu mendoakan mukminin dan mukminat yang masih hidup atau yang telah mati dalam shalat jenazah, ziarah kubur dan yang lainnya sebagaimana hal ini diperintahkan oleh Allah. Telah diriwayatkan pula dari sekelompok ulama salaf  mengenai setiap penutup sesuatu ada doโ€™a yang mustajab. Apabila seseorang di setiap ujung penutup mendoakan dirinya, kedua orang tuanya, guru-gurunya, dan kaum mukminin-mukminat yang lainnya, ini adalah ajaran yang disyariโ€™atkan. Begitu pula doa mereka ketika shalat malam dan tempat-tempat mustajab lainnya.

Terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, bahwa beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memerintahkan sedekah pada mayit dan memerintahkan pula untuk menunaikan utang puasa si mayit. Jadi, sedekah untuk mayit merupakan amal sholeh. Begitu pula terdapat ajaran dalam agama ini untuk menunaikan utang puasa si mayit.

Oleh karena itu, sebagian ulama membolehkan mengirimkan pahala ibadah maliyah (yang terdapat pengorbanan harta, semacam sedekah) dan ibadah badaniyah kepada kaum muslimin yang sudah mati. Sebagaimana hal ini adalah pendapat Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, sebagian ulama Malikiyah dan Syafiโ€™iyah. Jika mereka menghadiahkan pahala puasa, shalat atau pahala bacaan Qurโ€™an maka ini diperbolehkan menurut mereka. Namun, mayoritas ulama Malikiyah dan Syafiโ€™iyah mengatakan bahwa yang disyariโ€™atkan dalam masalah ini hanyalah untuk ibadah maliyah saja.

Oleh karena itu, tidak kita temui pada kebiasaan para ulama salaf, jika mereka melakukan shalat, puasa, haji, atau membaca Al Qurโ€™an; mereka menghadiahkan pahala amalan mereka kepada kaum muslimin yang sudah mati atau kepada orang-orang yang istimewa dari kaum muslimin. Bahkan kebiasaan dari salaf adalah melakukan amalan yang disyariโ€™atkan yang telah disebutkan di atas. Oleh karena itu, setiap orang tidak boleh melampaui jalan hidup para salaf karena mereka tentu lebih utama dan lebih sempurna dalam beramal. Wallahu aโ€™lam.โ€ โ€“Demikian penjelasan Syaikhull Islam Ibnu Taimiyahโ€“[13]

Catatan: Yang dimaksudkan kirim pahala dari amalan badaniyah ataupun maliyah sebagaimana yang dibolehkan oleh sebagian ulama bukanlah dengan mengumpulkan orang-orang lalu membacakan surat tertentu secara berjamaโ€™ah dan ditentukan pula pada hari tertentu (semisal hari ke-7, 40, 100, dst). Jadi tidaklah demikian yang dimaksudkan oleh para ulama tersebut. Apalagi kalau acara tersebut diadakan di kediaman si mayit, ini jelas suatu yang terlarang karena ini termasuk acara maโ€™tam (kumpul-kumpul) yang dilarang. Seharusnya keluarga mayit dihibur dengan diberi makan dan segala keperluan karena mereka saat itu dalam keadaan susah, bukan malah keluarga mayit yang repot-repot menyediakan makanan untuk acara semacam ini. Lihat penjelasan selanjutnya.

Apakah Mayit Mendengarkan Bacaan Al Qurโ€™an?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, โ€œJika ada yang mengatakan bahwa bermanfaat bagi si mayit ketika dia diperdengarkan Al Qurโ€™an dan dia akan mendapatkan pahala jika mendengarnya, maka pemahaman seperti ini sungguh keliru. Karena Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sendiri pernah bersabda,

ุฅุฐูŽุง ู…ูŽุงุชูŽ ุงุจู’ู†ู ุขุฏูŽู…ูŽ ุงู†ู’ู‚ูŽุทูŽุนูŽ ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ุฅู„ูŽู‘ุง ู…ูู†ู’ ุซูŽู„ูŽุงุซู : ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ุฌูŽุงุฑููŠูŽุฉู ุฃูŽูˆู’ ุนูู„ู’ู…ู ูŠูู†ู’ุชูŽููŽุนู ุจูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ูˆูŽู„ูŽุฏู ุตูŽุงู„ูุญู ูŠูŽุฏู’ุนููˆ ู„ูŽู‡ู

โ€œJika manusia itu mati, amalannya akan terputus kecuali melalui tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang dimanfaatkan, atau [3] anak sholeh yang mendoโ€™akan dirinya. โ€

Oleh karena itu, setelah kematian si mayit tidak akan mendapatkan pahala melalui bacaan Al Qurโ€™an yang dia dengar dan amalan lainnya. Walaupun memang si mayit mendengar suara sandal orang lain dan juga mendengar salam orang yang mengucapkan salam padanya dan mendengar suara selainnya. Namun ingat, amalan orang lain (seperti amalan membaca Al Qurโ€™an, pen) tidak akan berpengaruh padanya.โ€[14]

Seharusnya Keluarga Si Mayit yang Diberi Makan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, โ€œApabila keluarga mayit membuatkan makanan lalu mengundang orang-orang, maka ini bukanlah sesuatu yang disyariโ€™atkan. Semacam ini termasuk ajaran yang tidak ada tuntunannya (baca: bidโ€™ah). Bahkan Jarir bin โ€˜Abdillah mengatakan,

ูƒูู†ูŽู‘ุง ู†ูŽุนูุฏูู‘ ุงู„ูุงุฌู’ุชูู…ูŽุงุนูŽ ุฅู„ูŽู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠูู‘ุชู ูˆูŽุตูŽู†ู’ุนูŽุชูŽู‡ูู…ู’ ุงู„ุทูŽู‘ุนูŽุงู…ูŽ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุงุณู ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ูู‘ูŠูŽุงุญูŽุฉู

โ€œKami menganggap bahwa berkumpul-kumpul di kediaman si mayit, lalu keluarga si mayit membuatkan makanan, ini termasuk niyahah (meratapi mayit yang jelas terlarang).โ€

Bahkan yang dianjurkan ketika si mayit meninggal dunia adalah orang lain yang memberikan makanan pada keluarga si mayit (bukan sebaliknya). Sebagaimana Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ketika mendengar berita kematian Jaโ€™far bin Abi Thalib, beliau mengatakan,

ุงุตู’ู†ูŽุนููˆุง ู„ูุขู„ู ุฌูŽุนู’ููŽุฑู ุทูŽุนูŽุงู…ู‹ุง ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุชูŽุงู‡ูู…ู’ ู…ูŽุง ูŠูŽุดู’ุบูŽู„ูู‡ูู…ู’

โ€œBerilah makan untuk keluarga Jaโ€™far karena mereka saat ini begitu tersibukkan dengan kematian Jaโ€™far.โ€[15]

Syaikh โ€˜Abdul โ€˜Aziz bin Baz โ€“pernah menjawab sebagai ketua Al Lajnah Ad Daimah di Saudi Arabia- mengatakan, โ€œSeharusnya yang dilakukan adalah melakukan taโ€™ziyah di rumah si mayit dan mendoakan mereka serta memberikan kasih sayang kepada mereka yang ditinggalkan si mayit. [Taโ€™ziyah memberi nasehat kepada keluarga si mayit untuk bersabar dalam musibah ini dan berusaha menghibur mereka, pen]

Adapun berkumpul-kumpul untuk menambah kesedihan (dikenal dengan istilah maโ€™tam) dengan membaca bacaan-bacaan tertentu (seperti membaca surat yasin ataupun bacaan tahlil), atau membaca doโ€™a-doโ€™a tertentu atau selainnya, ini termasuk bidโ€™ah. Seandainya perkara ini termasuk kebaikan, tentu para sahabat (salafush sholeh) akan mendahului kita untuk melakukan hal semacam ini.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sendiri tidak pernah melakukan hal ini. Dulu di antara salaf yaitu Jaโ€™far bin Abi Tholib, Abdullah bin Rowahah, Zaid bin Haritsah radhiyallahu โ€˜anhum, mereka semua terbunuh di medan perang. Kemudian berita mengenai kematian mereka sampai ke telinga Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dari wahyu. Lalu beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengumumkan kematian mereka pada para sahabat, para sahabat pun mendoakan mereka, namun mereka sama sekali tidak melakukan maโ€™tam (berkumpul-kumpul dalam rangka kesedihan dengan membaca Al Qurโ€™an atau wirid tertentu).

Begitu pula para sahabat dahulu tidak pernah melakukan hal semacam ini. Ketika Abu Bakr meninggal dunia, para sahabat sama sekali tidak melakukan maโ€™tam.โ€[16]

Demikian pembahasan kami mengenai berbagai amalan yang dapat bermanfaat bagi si mayit. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin. Hanya Allah yang memberi taufik.

Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya setiap kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

***

Disusun di Pangukan, Sleman, Kamis, 3 Dzulqoโ€™dah 1430 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://www.muslim.or.id


[1] Lihat Taisir Karimir Rahman, โ€˜Abdurrahman bin Nashir As Saโ€™di, hal. 821, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H

[2] Taisir Al Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 851.

[3] HR. Muslim no. 2733, dari Ummu Ad Dardaโ€™.

[4] HR. Bukhari no. 2298 dan Muslim no. 1619

[5] Syarh Muslim, An Nawawi, 6/2, Mawqiโ€™ Al Islam

[6] HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147

[7] Lihat Tawdhihul Ahkam, 3/525

[8] HR. Bukhari no. 2761 dan Muslim no. 1638

[9] HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-i no. 4451. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[10] HR. Muslim no. 1631

[11] Majmuโ€™ Al Fatawa, 24/314, Darul Wafaโ€™, cetakan ketiga, 1426 H

[12] HR. Bukhari no. 2756

[13] Majmuโ€™ Al Fatawa, 24/321-323.

[14] Majmuโ€™ Al Fatawa, 24/317.

[15] Majmuโ€™ Al Fatawa, 24/316-317.

[16] Majmuโ€™ Fatawa Ibnu Baz, 13/211, Asy Syamilah


Sumber: https://muslim.or.id/5798-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit.html

Bercanda dan Tertawa Tidak Boleh?

Apakah Anda termasuk orang yang suka bercanda? Ataukah Anda adalah orang yang sangat serius dan tidak suka bercanda? Apakah Anda termasuk orang yang banyak tertawa? Ataukah Anda termasuk orang yang tidak sering tertawa?

Manusia diciptakan oleh Allah dengan berbagai watak dan perilaku. Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya orang yang memiliki watak demikian. Karena tertawa adalah fitrah manusia, yang tidak diberikan kepada hewan. Apakah pembaca pernah mendapatkan hewan yang tertawa? Jujur saja penulis sendiri belum pernah mendapatkannya. Mungkin, kalau pun ada itu hanya terjadi pada momen-momen tertentu dan sangat jarang sekali.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah memberikan beberapa nasihat kepada Abu Hurairah radhiallahu โ€˜anhu, di antara nasihat tersebut adalah perkataan beliau:

(( ูˆูŽู„ุงูŽ ุชููƒู’ุซูุฑู ุงู„ุถูŽู‘ุญููƒูŽ, ููŽุฅูู†ูŽู‘ ูƒูŽุซู’ุฑูŽุฉูŽ ุงู„ุถูŽู‘ุญููƒู ุชูู…ููŠุชู ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจูŽ.))

โ€œJanganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.โ€1

Apakah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak pernah tertawa? Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah tertawa. Banyak hadits yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Masโ€™ud radhiallahu โ€˜anhu dalam haditsqudsi yang panjang, Allah taโ€™ala berkata kepada anak adam:

(( ูŠูŽุง ุงุจู’ู†ูŽ ุขุฏูŽู…ูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽุตู’ุฑููŠู†ูู‰ ู…ูู†ู’ูƒูŽ, ุฃูŽูŠูุฑู’ุถููŠู’ูƒูŽ ุฃูŽู†ู’ ุฃูุนู’ุทููŠูŽูƒูŽ ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽู…ูุซู’ู„ูŽู‡ูŽุง ู…ูŽุนูŽู‡ูŽุงุŸ))

โ€œWahai anak adam! Saya tidak akan menghalangi apa yang engkau inginkan. Apakah engkau ridha jika saya berikan kepada engkau dunia dan ditambah dengan yang semisalnya? โ€œ

Anak Adam itu pun berkata:

(( ูŠูŽุง ุฑูŽุจูู‘ ุฃูŽุชูŽุณู’ุชูŽู‡ู’ุฒูุฆู ู…ูู†ูู‘ูŠู’ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽุŸ))

โ€œWahai Rabb-ku! Apakah Engkau mengejekku, sedangkan Engkau adalah Rabb alam semesta?โ€

Kemudian Ibnu Masโ€™ud pun tertawa dan berkata, โ€œMengapa kalian tidak bertanya kepadaku, mengapa aku tertawa?โ€ Murid-murid Ibnu Masโ€™ud pun bertanya, โ€œMengapa engkau tertawa?โ€ Beliau menjawab, โ€œSeperti inilah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tertawa. Para sahabat pun bertanya kepada Rasulullah, โ€˜Mengapa engkau tertawa, ya Rasulullah?โ€™ Beliau pun menjawab:

(( ู…ูู†ู’ ุถูุญู’ูƒู ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ ุญููŠู’ู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุชูŽุณู’ุชูŽู‡ู’ุฒูุฆู ู…ูู†ูู‘ูŠู’ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽุŸ ููŽูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู ุฅูู†ูู‘ูŠู’ ู„ุงูŽ ุฃูŽุณู’ุชูŽู‡ู’ุฒูุฆู ู…ูู†ู’ูƒูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ูู‘ูŠู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุฃูŽุดูŽุงุกู ู‚ูŽุงุฏูุฑูŒ.))

โ€˜Karena tawanya Rabb alam semesta ketika dia (anak adam) berkata: Apakah Engkau mengejekku sedangkan Engkau adalah Rabb alam semesta?โ€™ Kemudian Allah berkata, โ€˜Sesungguhnya Aku tidak mengejekmu, tetapi semua yang Aku inginkan Aku mampu.โ€™.โ€2

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pada hadits di atas melarang seseorang untuk banyak tertawa dan bukan melarang seseorang untuk tertawa. Tertawa yang banyak dan berlebih-lebihanlah yang mengandung celaan.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga pernah bercanda. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu โ€˜anhu, para sahabat pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam :

( ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุŒ ุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุชูุฏูŽุงุนูุจูู†ูŽุง )

โ€œYa Rasulullah! Sesungguhnya engkau sering mencandai kami.โ€

Beliau pun berkata:

(( ุฅูู†ูู‘ูŠู’ ู„ุงูŽ ุฃูŽู‚ููˆู’ู„ู ุฅูู„ุงูŽู‘ ุญูŽู‚ู‹ู‘ุง.))

โ€œSesungguhnya saya tidaklah berkata kecuali yang haq (benar).โ€3

Di antara canda-canda Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tercantum pada dua hadits berikut:

Hadits 1

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจูู‰ูŽู‘ โ€“ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…โ€“ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ( ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงุญู’ู…ูู„ู’ู†ูู‰.) ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจูู‰ูู‘ โ€“ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…-: (( ุฅูู†ูŽู‘ุง ุญูŽุงู…ูู„ููˆูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽุฏู ู†ูŽุงู‚ูŽุฉู )). ู‚ูŽุงู„ูŽ: (ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุตู’ู†ูŽุนู ุจููˆูŽู„ูŽุฏู ุงู„ู†ูŽู‘ุงู‚ูŽุฉูุŸ) ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจูู‰ูู‘ โ€“ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…-: (( ูˆูŽู‡ูŽู„ู’ ุชูŽู„ูุฏู ุงู„ุฅูุจูู„ูŽ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุงู„ู†ูู‘ูˆู‚ู.))

Diriwayatkan dari Anas radhiallahu โ€˜anhu bahwasanya seseorang mendatangi Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Dia pun berkata, โ€œYa Rasulullah! Angkatlah saya (ke atas onta)!โ€ Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pun mengatakan, โ€œSesungguhnya kami akan mengangkatmu ke atas anak onta.โ€ Lelaki itu pun berkata, โ€œApa yang saya lakukan dengan seekor anak onta?โ€ Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œBukankan onta-onta perempuan melahirkan onta-onta?โ€4

Beliau mencandai orang tersebut dengan menyebut ontanya dengan anak onta. Orang tersebut memahami perkataan beliau sesuai zahirnya, tetapi bukankah semua onta yang ada adalah anak-anak dari ibu onta?

Hadits 2

ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽุชูŽุชู’ ุนูŽุฌููˆุฒูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ โ€“ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽโ€“ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: (ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ุงุฏู’ุนู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฏู’ุฎูู„ูŽู†ููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ) ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ((ูŠูŽุง ุฃูู…ูŽู‘ ููู„ุงูŽู†ูุŒ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ู„ุงูŽ ุชูŽุฏู’ุฎูู„ูู‡ูŽุง ุนูŽุฌููˆุฒูŒ.)) ู‚ูŽุงู„ูŽ: ููŽูˆูŽู„ูŽู‘ุชู’ ุชูŽุจู’ูƒููŠ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: (( ุฃูŽุฎู’ุจูุฑููˆู‡ูŽุง ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ู„ุงูŽ ุชูŽุฏู’ุฎูู„ูู‡ูŽุง ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุนูŽุฌููˆุฒูŒ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูŠูŽู‚ููˆู„ู : { ุฅูู†ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ู’ุดูŽุฃู’ู†ูŽุงู‡ูู†ูŽู‘ ุฅูู†ู’ุดูŽุงุกู‹ 0ููŽุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุงู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽุจู’ูƒูŽุงุฑู‹ุง 0ุนูุฑูุจู‹ุง ุฃูŽุชู’ุฑูŽุงุจู‹ุง } )).

Diriwayatkan dari Al-Hasan radhiallahu โ€˜anhu, dia berkata, โ€œSeorang nenek tua mendatangi Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, โ€˜Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga!โ€™ Beliau pun mengatakan, โ€˜Wahai Ibu si Anu! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek tua.โ€™ Nenek tua itu pun pergi sambil menangis. Beliau pun mengatakan, โ€˜Kabarkanlah kepadanya bahwasanya wanita tersebut tidak akan masuk surga dalam keadaan seperti nenek tua. Sesungguhnya Allah taโ€™ala mengatakan: (35) Sesungguhnya kami menciptakan mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. (36) Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (37) Penuh cinta lagi sebaya umurnya.โ€ (QS Al-Waqiโ€™ah)5

Jika kita perhatikan haditsโ€“hadits di atas, maka kita akan mendapatkan bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallambercanda pada beberapa keadaan tertentu, tetapi canda beliau tidak mengandung kedustaan dan selalu benar.

Orang yang terlalu serius dan selalu terlihat tegang dan kaku, kehidupannya akan terasa sangat penat dan suntuk. Orang jenis ini seharusnya memasukkan canda di dalam hidupnya sehingga terhindar dari pengaruh buruk tersebut.

Sebaliknya orang yang terlalu sering bercanda, maka sebaiknya dia belajar untuk dapat melatih lisannya agar bisa terbiasa diam dan hanya berbicara pada hal-hal yang bermanfaat saja.

Seorang penyair terkenal, Abul-Fath Al-Busti6 rahimahullah pernah mengatakan:

ุฃูŽูู’ุฏู ุทูŽุจู’ุนูŽูƒ ุงู„ู’ู…ูŽูƒู’ุฏููˆุฏูŽ ุจูุงู„ู’ุฌูุฏูู‘ ุฑูŽุงุญูŽุฉู‹ ูŠูุฌูŽู…ูู‘ ูˆูŽุนูŽู„ูู‘ู„ู’ู‡ู ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽุฒู’ุญู

ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุฅุฐูŽุง ุฃูŽุนู’ุทูŽูŠู’ุชูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽุฒู’ุญูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽูƒูู†ู’ ุจูู…ูู‚ู’ุฏูŽุงุฑู ู…ูŽุง ุชูุนู’ุทููŠ ุงู„ุทูŽู‘ุนูŽุงู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูู„ู’ุญู

Berikanlah istirahat pada tabiat kerasmu yang serius

Dirilekskan dulu dan hiasilah dengan sedikit canda

Tetapi jika engkau berikan canda kepadanya, jadikanlah ia

Seperti kadar engkau memasukkan garam pada makanan

Layaknya makanan, apabila tidak diberi garam maka dia akan terasa hambar. Akan tetapi, jika terlalu banyak diberikan garam, maka tidak akan enak untuk dimakan.

Sesuatu yang berlebih-lebihan, kebanyakan akan membawa dampak buruk. Sama halnya dengan bercanda dan tertawa. Apabila terlalu sering bercanda dan tertawa, maka akan mengakibatkan banyak keburukan.

Di antara keburukan-keburukan orang yang sering bercanda dan tertawa adalah sebagai berikut:

  1. Hatinya menjadi mati, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam
    Jika hati seseorang mati, maka akan berakibat buruk baginya, di antaranya: Bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan, tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat Al-Qurโ€™an yang dibacakan, tidak terpengaruh hatinya dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan yang diberikan oleh Allah
     subhanahu wa taโ€™ala, tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allah, bertambahnya kecintaannya terhadap dunia dan mendahulukannya atas akhirat, tidak tenang hatinya dan selalu merasa gundah, bertambahnya dan meningkatnya kemaksiatan yang dilakukannya, tidak mengenal atau tidak membedakan perbuatan maโ€™ruf dan munkar dll.7
  2. Menyibukkan diri sehingga tidak mengerjakan hal-hal yang bermanfaat dan tidak memiliki wibawa
    Oleh karena itu Imam Al-Mawardi pernah mengatakan:
    ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ุถูŽู‘ุญููƒู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงุนู’ุชููŠูŽุงุฏูŽู‡ู ุดูŽุงุบูู„ูŒ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ูŽู‘ุธูŽุฑู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑู ุงู„ู’ู…ูู‡ูู…ูŽู‘ุฉู ุŒ ู…ูุฐู’ู‡ูู„ูŒ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ูููƒู’ุฑู ูููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ูˆูŽุงุฆูุจู ุงู„ู’ู…ูู„ูู…ูŽู‘ุฉู.
    ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ู‡ูŽูŠู’ุจูŽุฉูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูˆูŽู‚ูŽุงุฑูŒุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ู„ูู…ูŽู†ู’ ูˆูุตูู…ูŽ ุจูู‡ู ุฎูŽุทูŽุฑูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูู‚ู’ุฏูŽุงุฑูŒ.  โ€ฆAdapun tertawa, apabila seseorang membiasakannya dan terlalu banyak tertawa, maka hal itu akan melalaikan dan melupakannya dari melihat hal-hal yang penting. Dan orang yang banyak melakukannya, tidak akan memiliki wibawa dan kehormatan. Dan orang yang terkenal dengan hal itu tidak akan memiliki kedudukan dan martabat.8
  3. Menimbulkan permusuhan secara tidak sengaja dan lain-lain.

Bercanda pun memiliki adab-adab. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memperhatikan adab-adab tersebut. Di antara adab-adab bercanda adalah sebagai berikut:

  1. Tidak boleh ada kedustaan di dalam canda tersebut.
    Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:
    ( ูˆูŽูŠู’ู„ูŒ ู„ูู„ูŽู‘ุฐูู‰ ูŠูุญูŽุฏูู‘ุซู ููŽูŠูŽูƒู’ุฐูุจู ู„ููŠูุถู’ุญููƒูŽ ุจูู‡ู ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ูŽ ูˆูŽูŠู’ู„ูŒ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽูŠู’ู„ูŒ ู„ูŽู‡ู.)
    โ€œCelakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.โ€9  Di zaman sekarang ini, banyak orang yang bekerja sebagai pelawak. Kebanyakan mereka tidak bisa menjaga lisannya dari kedustaan. Oleh karena itu, sebaiknya mereka segera mencari pekerjaan lain yang benar-benar terhindar dari hal yang diharamkan.
    Begitu pula kepada para muballigh yang gemar membuat orang tertawa, sudah sepantasnya isi ceramahnya jangan mengada-ada, harus ilmiah dan memiliki rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan.
  2. Tidak boleh ada unsur penghinaan atau pelecehan terhadap agama Islam
    { ูˆูŽู„ูŽุฆูู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูŽู‡ูู…ู’ ู„ูŽูŠูŽู‚ููˆู„ูู†ูŽู‘ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ูƒูู†ูŽู‘ุง ู†ูŽุฎููˆุถู ูˆูŽู†ูŽู„ู’ุนูŽุจู ู‚ูู„ู’ ุฃูŽุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุขูŠูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุณู’ุชูŽู‡ู’ุฒูุฆููˆู†ูŽ (65) ู„ูŽุง ุชูŽุนู’ุชูŽุฐูุฑููˆุง ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽููŽุฑู’ุชูู…ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ููƒูู…ู’ ุฅูู†ู’ ู†ูŽุนู’ูู ุนูŽู†ู’ ุทูŽุงุฆูููŽุฉู ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู†ูุนูŽุฐูู‘ุจู’ ุทูŽุงุฆูููŽุฉู‹ ุจูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ูƒูŽุงู†ููˆุง ู…ูุฌู’ุฑูู…ููŠู†ูŽ (66) }
    โ€œ (65) Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, โ€œSesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.โ€ Katakanlah: โ€œApakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?โ€ (66) Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman. jika kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.โ€ (QS At-Taubah : 65-66)Di zaman sekarang ini, banyak orang yang suka mengejek ajaran agama Islam dan menjadikannya sebagai bahan lelucon. Sebagai contoh: penghinaan terhadap jenggot dan mengatakan orang yang memanjangkan jenggotnya seperti kambing, penghinaan terhadap jilbab dan mengatakan itu hanya pakaian orang gurun, penghinaan terhadap cadar dan mengatakan bahwa itu ciri-ciri teroris, penghinaan terhadap orang yang tidak isbal (mengenakan kain di bawah mata kaki) dan mengatakan bahwa orang itu kebanjiran dan lain-lain. Berdasarkan ayat di atas orang yang menghina ajaran Islam terancam untuk keluar dari agama Islam, disadari maupun tidak. Oleh karena itu, jangan sampai kita menganggap remeh permasalahan-permasalahan seperti ini.
  3. Tidak boleh ada unsur ghibah dan peremehan terhadap seseorang, suku atau bangsa tertentu { ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุฎูŽุฑู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ููˆุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ู†ูุณูŽุงุกูŒ ู…ูู†ู’ ู†ูุณูŽุงุกู ุนูŽุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒูู†ูŽู‘ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูู†ูŽู‘ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู„ู’ู…ูุฒููˆุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู†ูŽุงุจูŽุฒููˆุง ุจูุงู„ู’ุฃูŽู„ู’ู‚ูŽุงุจู ุจูุฆู’ุณูŽ ุงู„ูุงุณู’ู…ู ุงู„ู’ููุณููˆู‚ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูุจู’ ููŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ุธูŽู‘ุงู„ูู…ููˆู†ูŽ (11) } Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiridan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (QS Al-Hujurat: 11)
  4. Tidak boleh mengambil barang orang lain, meskipun bercanda (( ู„ุงูŽ ูŠูŽุฃู’ุฎูุฐูŽู†ูŽู‘ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ู…ูŽุชูŽุงุนูŽ ุฃูŽุฎููŠู‡ู ู„ุงูŽุนูุจู‹ุง ูˆูŽู„ุงูŽ ุฌูŽุงุฏู‹ู‘ุง.)) โ€œTidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius.โ€10 Meskipun bercanda, mengambil barang teman dengan tujuan menyembunyikan dan membuat dia bingung, hal tersebut tidak diperkenankan di dalam agama Islam.
  5. Tidak boleh menakut-nakuti orang lain. (( ู„ุงูŽ ูŠูŽุญูู„ูู‘ ู„ูู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฑูŽูˆูู‘ุนูŽ ู…ูุณู’ู„ูู…ู‹ุง.)) โ€œTidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.โ€11
  6. Tidak boleh menghabiskan waktu hanya untuk bercanda (( ู…ูู†ู’ ุญูุณู’ู†ู ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ู ู…ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู†ููŠู‡ู.)) โ€œDi antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan yang tidak bermanfaat baginya.โ€12
  7. Tidak boleh berbicara atau melakukan hal-hal yang melanggar syariat, seperti: menyebutkan ciri-ciri wanita yang tidak halal baginya kepada orang lain, menipu, melaknat dll.

Demikianlah beberapa penjelasan tentang canda dan tawa yang tercela dan yang diperbolehkan. Mudah-mudahan kita semua dapat mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.

Daftar Pustaka

  1. Adabud-Dunya wad-Din.ย โ€˜Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi.ย Tahqiq: Muhammad Karim Rajih. Dar Iqraโ€™.
  2. Al-Bidayah wan-Nihayah. Abul-Fidaโ€™ Ismaโ€™il binโ€™Umar bin Katsir.ย Tahqiq: โ€˜Ali Syairi. Dar Ihyaโ€™ At-Turats Al-โ€˜Arabi.
  3. Dzammu Qaswatil-Qalb. Al-Hรขfidzh Ibnu Rajab Al-Hanbali danย Muqaddimah muhaqqiq-nya, Abu Maryam Thรขriq bin โ€˜ร‚tif hijรขzi. Dรขr Ibni Rajab.
  4. Dzammul-Hawa. โ€˜Abdurrahmรขn bin Abil-Hasan Al-Jauzi.ย Tahqiqย : Mushthafa โ€˜Abdul-Wahid.
  5. Al-Maraah fil-mizaah. Abul-Barakaat Badruddin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazi.ย Tahqiq: Bassam bin โ€˜Abdil-Wahhab Al-Jabi. Dar Ibni Hazm.
  6. Walaa tuktsiridh-dhahik, fainna katsratadh-dhahik tumitul-qalba. Dr. Badr bin โ€˜Abdil-Hamid. (http://www.saaid.net/Doat/hamesabadr/26.htm)
  7. Dan lain-lain, sebagian besar tercantum padaย footnotes.

footnotes:

1 HR At-Tirmidzi no. 2305. Syaikh Al-Albani berkata, โ€œHasan.โ€ (Shahih Sunan At-Tirmidzi.)

2 HR Muslim no. 310.

3 HR At-Tirmidzi no. 1990. Syaikh Al-Albani berkata, โ€œShahih.โ€ (Ash-Shahihah IV/304).

4 HR Abu Dawud no. 5000 dan At-Tirmidzi no. 1991. Syaikh Al-Albani berkata, โ€œShahih.โ€ (Shahih Sunan Abi Dawuddan Shahih Sunan At-Tirimidzi).

5 HR At-Tirmidzi dalam Syamaa-il-Muhammadiyah no. 240. Syaikh Al-Albani berkata, โ€œHasan.โ€ (Mukhtashar Syamaa-ildan Ash-Shahiihah no. 2987).

6 Adabud-Dunya wad-Din hal. 319 dan Al-Bidayah wan-Nihayah (XI/316)

7 Lihat: Hinanya Hati Yang Keras. Said Yai. Majalah As-Sunnah.

8 Adabud-Dunya wad-Din hal.321.

9 HR Abu Dawud no. 4990. Syaikh Al-Albani berkata, โ€œHasan.โ€ (Shahih Targhib wat-Tarhiib no. 2944).

10 HR Abu Dawud no. 5003. Syaikh Al-Albani berkata, โ€œHasan.โ€ (Shahih Sunan Abi Dawud)

11 HR Abu Dawud no. 5004, . Syaikh Al-Albani berkata, โ€œShahih.โ€ (Shahih Sunan Abi Dawud)

12 HR At-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976.

โ€”

Penulis: Ustadz Saโ€™id Yai, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/12146-bercanda-dan-tertawa-tidak-boleh.html

Bahaya Jahil akan Ilmu Agama

Kalau seorang dokter salah memberi obat karena kebodohannya, maka tentu saja akan membawa bahaya bagi pasiennya. Begitu pula jika seseorang jahil atau tidak paham akan ilmu agama, tentu itu akan berdampak pada dirinya sendiri dan orang lain yang mencontoh dirinya.

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mengawali amalan dengan mengetahui ilmunya terlebih dahulu. Ingin melaksanakan shalat, harus dengan ilmu. Ingin puasa, harus dengan ilmu. Ingin terjun dalam dunia bisnis, harus tahu betul seluk beluk hukum dagang. Begitu pula jika ingin beraqidah yang benar harus dengan ilmu. Allah Taโ€™ala berfirman,

ููŽุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูุฐูŽู†ู’ุจููƒูŽ

โ€œMaka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamuโ€ (QS. Muhammad: 19). Dalam ayat ini, Allah memulai dengan โ€˜ilmuilahโ€™ lalu mengatakan โ€˜mohonlah ampunโ€™. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan โ€˜mohonlah ampunโ€™ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Sufyan bin โ€˜Uyainah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nuโ€™aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robiโ€™ bin Nafiโ€™ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, โ€œTidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan โ€˜ilmuilahโ€™, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?โ€ (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)

Al Muhallab rahimahullah mengatakan, โ€œAmalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.โ€œ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)

Gara-gara tidak memiliki ilmu, jadinya seseorang akan membuat-buat ibadah tanpa tuntunan atau amalannya jadi tidak sah. Jika seseorang tidak paham shalat, lalu ia mengarang-ngarang tata cara ibadahnya, tentu ibadahnya jadi sia-sia. Begitu pula mengarang-ngarang bahwa di malam Jumat Kliwon dianjurkan baca surat Yasin, padahal nyatanya tidak ada dasar dari Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, maka amalan tersebut juga sia-sia belaka. Begitu pula jika seseorang berdagang tanpa mau mempelajari fiqih berdagang terlebih dahulu. Ia pun mengutangkan kepada pembeli lalu utangan tersebut diminta diganti lebih (alias ada bunga). Karena kejahilan dirinya dan malas belajar agama, ia tidak tahu kalau telah terjerumus dalam transaksi riba. Maka berilmulah terlebih dahulu sebelum  beramal. Muโ€™adz bin Jabal berkata,

ุงู„ุนูู„ู’ู…ู ุฅูู…ูŽุงู…ู ุงู„ุนูŽู…ูŽู„ู ูˆูŽุงู„ุนูŽู…ูŽู„ู ุชูŽุงุจูุนูู‡ู

โ€œIlmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.โ€ (Al Amru bil Maโ€™ruf wan Nahyu โ€˜anil Mungkar, hal. 15)

Beramal tanpa ilmu membawa akibat amalan tersebut jauh dari tuntunan Rasul shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, akhirnya amalan itu jadi sia-sia dan tertolak. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุนูŽู…ูŽู„ุงู‹ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽู…ู’ุฑูู†ูŽุง ููŽู‡ููˆูŽ ุฑูŽุฏูŒู‘

โ€œBarangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.โ€ (HR. Muslim no. 1718)

Kerusakanlah yang ujung-ujungnya terjadi bukan maslahat yang akan dihasilkan. โ€˜Umar bin โ€˜Abdul โ€˜Aziz berkata,

ู…ูŽู†ู’ ุนูŽุจูŽุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุนูู„ู’ู…ู ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุง ูŠููู’ุณูุฏู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู…ูŽู‘ุง ูŠูุตู’ู„ูุญู

โ€œBarangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.โ€  (Al Amru bil Maโ€™ruf, hal. 15)

Sumber https://rumaysho.com/1626-lalai-untuk-belajar-islam.html