Sholat Adalah Pembatas Iman Dengan Kufur

Hadits Jabir Bin Abdillah radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ جَابِرٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Dari Jabir radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Aku telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan syirik dan kekafiran adalah meninggalkan sholat”.([1])

Hadits Buroidah Al-Aslamiy radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Dari Abdulloh bin Buroidah, dari ayahnya, dia berkata: Rosululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perjanjian antara kami dengan mereka (orang-orang Munafiq) adalah sholat. Barangsiapa meninggalkan sholat, maka telah melakukan kekafiran”.([2])

Hadits Anas Bin Malik radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لَيْسَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَالشِّرْكِ إِلَّا تَرْكُ الصَّلَاةِ، فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak ada (batas) antara seorang hamba dengan syirik kecuali meninggalkan sholat. Jika dia telah meninggalkan sholat, maka telah melakukan syirik”.([3])

FAWAID HADITS: 

Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits-hadits ini, antara lain:

1- Kedudukan sholat di dalam agama Islam, karena sholat merupakan rukun Islam yang kedua.

2- Pembatas iman dan kekafiran adalah sholat. Orang yang meninggalkan sholat telah melakukan kekafiran atau kemusyrikan.

3- Hukum manusia di dunia dilihat dari lahiriyahnya. Orang-orang Munafiq yang melakukan sholat, dihukumi sebagai orang Islam di dunia ini. Sedangkan di akhirat mereka akan berada di lapisan neraka yang paling bawah.

4- Kekafiran adalah kebalikan dari iman, kemusyrikan adalah kebalikan dari tauhid. Iman dan tauhid saling berkaitan, sebagaimana kekafiran dan kemusyrikan saling berkaitan.

5- Ulama sepakat, barangsiapa meninggalkan sholat dengan tidak meyakini kewajibannya, maka dia telah melakukan kekafiran yang besar, keluar dari Islam, dan kekal di neraka.

6- Ulama berbeda pendapat, tentang orang yang meninggalkan sholat, padahal meyakini kewajibannya, apakah dia telah melakukan kekafiran yang besar, keluar dari Islam, atau kekafiran yang kecil, belum keluar dari Islam. Tetapi riwayat-riwayat dari sahabat menunjukkan itu merupakan kekafiran yang besar.

7- Dosa meninggalkan sholat wajib lebih besar daripada dosa mencuri, merampok, membunuh, minum khomer, berjudi, berzina, dan dosa-dosa besar lainnya. Sebab Ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa dosa-dosa besar ini tidak mengeluarkan dari Islam, jika pelakunya tidak menganggapnya halal, namun mereka berbeda pendapat tentang ‘hukum meninggalkan sholat’, apakah mengeluarkan dari Islam atau tidak.

Ditulis oleh Muslim Atsari,

Sragen, Dhuha Jum’at, 23-Muharrom-1442 H / 11-September-2020 M

________________________________

Footnote:

([1]) HR. Muslim, no. 82; Tirmidzi, no. 2619; Abu Dawud, no. 4678; An-Nasai, no. 464; Ibnu Majah, no. 1078; Ahmad, no. 14979; Ibnu Hibban, no. 1453. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani

([2]) HR. Tirmidzi, no. 2621; An-Nasai, no. 463; Ibnu Majah, no. 1079; Ahmad, no. 22937, 23007; Ibnu Hibban, no. 1454. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani

([3]) HR. Ibnu Majah, no: 1080; dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani

sumber: https://www.attabiin.com/sholat-adalah-pembatas-iman-dengan-kufur/

Maksiat Akan Membutakan Mata Hati

Setiap hal yang Allah haramkan pasti mengandung keburukan dibaliknya, baik dari segi jasmani ataupun rohani. Hanya saja terkadang kita sebagai manusia yang hanya diberikan sedikit ilmu tidak mengetahuinya.

Melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah  berarti berbuat maksiat kepadaNya, definisi maksiat adalah ‘tidak taat kepada Allah.’ Sehingga ketika seseorang melanggar aturan Allah  maka dia dikatakan sudah berbuat maksiat.

Maksiat ini memiliki dampak-dampak negatif yang bergitu banyak dan sudah banyak kami sebutkan dalam artikel-artikel sebelumnya yang kami serap dari Kitab ‘Al-Jawabul Kafi’ karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Pada artikel kali ini kami ingin melanjutkan kepada dampak berikutnya daripada dampak-dampak buruk perbuatan maksiat, yaitu ‘membutakan hati.’

Ibnul Qayyim berkata, “diantara dampak buruknya maksiat, ia membutakan mata hati, menghilangkan cahaya hati, menghalangi jalan-jalan masuknya ilmu, dan menghalangi datangnya hidayah. Imam Malik rahimahullahberkata kepada Imam Syafii rahimahullah (muridnya) “sesungguhnya Allah telah memberikan cahaya pada hatimu, maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Perkataan Ibnul Qayyim ini sesuai dengan hadits nabi yang berbunyi:

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”[HR. Tirmidzi]

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qotadah, Ibnu Zaid dan selainnya. [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir]

Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.” [Fathul Qodir, Asy Syaukani].

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh “ar raan” seperti karat karena maksiat yang mereka perbuat.”[ Tafsir Al Jalalain].

Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan, “(jika maksiat terus dilakukan) cahaya hati ini akan terus melemah dan menghilang sedangkan kegelapan maksiat akan terus menguat sehingga hati menjadi gelap pekat seperti gelapnya malam, betapa banyak orang celaka yang terjatuh kedalam kecelakaan sedang ia tidak melihat, seperti orang yang berjalan diwaktu malam menyusuri jalan yang penuh dengan rintangan dan bahaya. Alangkah mulianya keselamatan (dari maksiat) dan alangkah mudahnya seseorang untuk tersungkur.

Setelah itu kegelapan tersebut akan semakin menguat, ia meluah dari hati ke anggota badan, sehingga wajah akan menjadi gelap tergantung kuatnya kegelapan tersebut. Dan ketika kematian tiba, kegelapan tersebut akan tampak di alam barzakh sehingga ia akan memenuhi kuburan dengan kegelapan sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مُمْتَلِئَةٌ عَلَى أَهْلِهَا ظُلْمَةً، وَإِنَّ اللَّهَ يُنَوِّرُهَا بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ

“Kuburan dipenuhi kegelapan atas penghuninya dan Allah Azza wa Jalla meneranginya dengan shalatku kepada mereka.” (HR. Ahmad).

Ketika masih didunia manusia tidak sadar bahwa hatinya sudah tertutup dengan kegelapan maksiat, namun setelah meninggal nanti barulah ia akan terperanjat melihat akibat dari perbuatan-perbuatannya di dunia. Sungguh mengerikan kuburan yang gelap dengan kegelapan maksiat, dan sungguh indah kuburan yang bersinar dengan sinar amal sholeh.

Marilah kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah  selama jantung masih berdenyut dan nafas masih berhembus, marilah kita bertaubat dari sekarang sebelum waktu terlambat, kita memohon kepada Sang Maha Kuasa agar kita selalu diberi kekuatan dan kesadaran untuk selalu taat dan beribadah kepadanya.

Penyusun: Arinal Haq

sumber: https://www.hisbah.net/maksiat-akan-membutakan-mata-hati/

6 Kerusakan Hari Valentine

Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.

Cikal Bakal Hari Valentine

Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:

  1. Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
  2. Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
  3. Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
  4. Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.

Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme.

Selanjutnya kita akan melihat berbagai kerusakan yang ada di hari Valentine.

Kerusakan Pertama: Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir

Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

Kerusakan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman 

Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Masir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.

Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

Kerusakan Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti

Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?

Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!

Kerusakan Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat

“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)

Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”

Kerusakan Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.

Kerusakan Keenam: Meniru Perbuatan Setan

Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Penutup

Itulah sebagian kerusakan yang ada di hari valentine, mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan. Sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Kami katakan: “Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran.”

Oleh karena itu, kami ingatkan agar kaum muslimin tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine, tidak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Ingatlah, Setiap orang haruslah takut pada kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga tulisan ini dapat tersebar pada kaum muslimin yang lainnya yang belum mengetahui. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

—

Panggang, Gunung Kidul, 12 Shofar 1430 H

Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/772-6-kerusakan-hari-valentine.html

Bersandar Kepada Allah Di Setiap Waktu

Oleh: Abu ‘Ashim Muhtar Arifin bin Marquzi, Lc.

Menyandarkan hati kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-  adalah termasuk ibadah yang sangat diperintahkan dalam Islam. Hal itu karena seorang hamba selalu memerlukan Rabb-nya dalam setiap keadaan.

Allah -Subhanahu wata’ala- sendiri telah menyifati diri-Nya dengan Dzat yang menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya:

الله الصمد

Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. al-Ikhlâsh: 2)

Ibrahim berkata: ”ash-Shamad artinya Dzat yang menjadi tempat bergantungnya para hamba dalam kebutuhan-kebutuhannya”. (ad-Durr al-Mantsūr, jilid 15, hlm. 782)

Bergantung kepada Allah setiap saat. 

Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- telah mengajarkan umatnya beberapa doa yang khusus untuk dibaca setiap pagi dan sore hari atau yang lebih dikenal dengan adzkâr ash-Shabâh wa al-Masâ` (dzikir pagi dan petang). Di dalamnya banyak berisi permohonan kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, antara lain doa agar diberikan perlindungan dan keselamatan pada hari atau malam itu.

Salah satu doa Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- tersebut adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas -radhiallohu anhu- berikut, ia berkata: Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- berkata kepada Fatimah -radhiallohu anha-

مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِيْ مَا أُوْصِيْكِ بِهِ ؟ أَنْ تَقُوْلِيْ إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ

Apa yang menghalangimu dari mendengarkan wasiatku kepadamu ? Hendaklah engkau membaca (doa ini) apabila berada di waktu pagi hari dan sore hari:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلىَ نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

Wahai Dzat Yang Maha Hidup Kekal, Wahai Dzat Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku walaupun hanya sekejap mata”. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Sunni dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, no. 48 dan dihasankan oleh al-Albani dalam ash-Shahîhah, jilid 1, hlm. 449, no. 227)
Hal itu menunjukkan bahwa seorang hamba harus senantiasa merasa bergantung kepada Allah dalam setiap keadaan.

Kembali kepada Allah meskipun dalam permasalahan yang terlihat sepele.

Dalam permasalahan yang terlihat sepele dan ringan saja, seorang muslim dianjurkan dan diperintahkan agar berdoa kepada Allah. Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:

لِيَسْتَرْجِعْ أَحَدُكُمْ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ، حَتىَّ فِيْ شِسْعِ نَعْلِهِ، فَإِنَّهَا مِنَ الْمَصَائِبِ

Hendaklah seorang dari kalian mengucapkan istirjâ’ (Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ūn: sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya semata kita akan kembali) meskipun dalam hal tali sandalnya, karena hal itu adalah termasuk musibah. (Hadits hasan, al-Kalim ath-Thayyib, dengan takhrîj al-Albani, hlm. 81, no.140)

Contoh Sikap Bergantungnya orang Shalih kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Apabila kita buka lembaran sirah para ulama, maka akan didapati banyak sekali praktek mereka dalam menjalankan ibadah yang sangat agung ini, yaitu bersandar kepada Allah dalam segala hal, setiap waktu dan semua permasalahan.
Berikut ini adalah beberapa contoh praktek mereka dalam bersandar kepada Allah.

1. Abu Hanifah.
Apabila beliau mendapatkan kesulitan, beliau beristighfar kepada Allah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:

Dari Abu Ja’far al-Balkhi, salah seorang ahli fiqih, ia berkata: “Telah sampai kepadaku bahwasanya Abu Hanifah -semoga Allah merahmatinya- dahulu apabila mendapatkan kesulitan dalam suatu permasalahan atau mendapatkan syubhat di dalamnya beliau berkata kepada para sahabatnya: “Tidaklah ini terjadi melainkan karena dosa yang telah aku perbuat”, lalu beliau beristighfar dan kadang-kadang beliau berwudlu dan melakukan shalat dua rakaat lalu beristighfar, maka terselesaikanlah masalahnya, lalu beliau berkata: “Aku optimis, karena aku berharap bahwasanya aku telah diampuni oleh Allah sehingga aku dapat menyelesaikan masalah tersebut”.

Ketika berita ini sampai kepada Fudhail Bin ‘Iyadh, ia menangis sejadi-jadinya lalu berkata: “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah, hal itu dapat terjadi karena sedikitnya dosa yang ia miliki, sedangkan selain beliau, mereka tidak memperhatikannya, karena dosanya telah menenggelamkan dirinya”. (‘Uqūd al-Jumân fî Manâqib al-Imâm al-A’zham Abu Hanîfah an-Nu’mân, karya Imam Muhammad bin Yusuf ad-Dimasyqi asy-Syafi’i (wafat 942), hlm. 228-229)

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Apabila beliau merasa kesulitan dalam menafsirkan suatu ayat dalam al-Qur`an, beliau memohon kepada Allah seraya membaca:

الَلَّهُمَّ يَا مُعَلِّمَ آدَمَ وَإِبْرَاهِيْمَ، عَلِّمْنِيْ، وَيَا مُفَهِّمَ سُلَيْمَانَ فَهِّمْنِيْ

Wahai Dzat yang mengajari Adam dan Ibrahim, ajarilah aku, dan Wahai Dzat yang memberi kepahaman kepada Sulaiman, jadikanlah aku paham.

Setelah membaca doa ini, Allah pun mengabulkan permintaannya. (al-Majmū’ah al-‘llmiyyah, hlm. 181, karya Syaikh Bakr, jauh sebelumnya ungkapan ini sudah dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam I’lâm al-Muwaqqi’în, jilid 4, hlm. 257 dengan lafal yang lebih pendek)

3. Abu Ishaq p-Syirazi.
Imam an-Nawawi -rahimahullah- menjelaskan tentang keadaannya, bahwasanya dirinya tidak mengatakan tentang suatu masalah pun melainkan mendahuluinya dengan beristi’ânah (memohon pertolongan) kepada Allah. Selain itu juga, tidaklah beliau menulis suatu permasalahan melainkan mendahuluinya dengan shalat beberapa rakaat. (Muqaddimah al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1, hlm. 15)

4. Urwah Bin Zubair. 
Beliau mengatakan:

إِنِّيْ لأَدْعُوْ اللَّهَ فِيْ حَوَائِجِيْ كُلِّهَا، حَتَى بِالْمِلْحِ

Sesungguhnya aku benar-benar berdoa kepada Allah dalam segala keperluanku sampai (dalam hal) garam. (al-Fawâkih ad- Dawâni Syarh Risâlah Ibn Zaid al-Qirwâni, karya Ahmad bin Ghunaim al-Maliki, jilid 1, hlm. 211)

5. Sa’id bin al-Musayyib.
Hampir-hampir Sa’id Bin al-Musayyab tidak berfatwa dengan suatu fatwa atau melontarkan suatu ucapan melainkan mengatakan:

الَلَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّيْ

Ya Allah, selamatkanlah aku dan selamatkanlah ia dariku. (al-Madkhal ilâ as-Sunnan al-Kubrâ, karya al-Baihaqi, no. 824, hlm. 439-440)

Bergantung kepada selain Allah termasuk perusak hati.

Sesungguhnya hati manusia dapat menjadi rusak disebabkan oleh beberapa perusak, di antaranya adalah bergantungnya seseorang kepada selain Allah.

Ketika Ibnul Qayyim t menjelaskan tentang perusak-perusak hati dalam Madârij as-Sâlikîn, beliau menerangkan bahwa bergantung kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala- termasuk perusak yang paling besar terhadap hati secara mutlak, karena tidak ada yang lebih berbahaya dan lebih dapat memutuskan hati dari kebaikan dan kebahagiaanya dari pada bergantung kepada selain Allah tersebut. Selain itu, apabila seseorang bergantung kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala-, maka ia akan diserahkan kepada objek yang menjadi tempat bergantungnya tersebut. (Madârij as-Sâlikîn, jilid 1, hlm. 492)

Orang yang bergantung kepada selain Allah telah merugi dengan kerugian yang besar karena telah bergantung kepada sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat dan madharat.

Ibnul Qayyim telah membuat perumpamaan berikut: “Perumpamaan orang yang bergantung kepada selain Allah itu laksana orang yang berteduh dari dingin dan panas dengan sarang laba-laba, yang merupakan selemah-lemahnya rumah” (Madârij as-Sâlikîn, jilid 1, hlm. 492)

Setelah mengetahui bagaimana pentingnya kembali, bergantung dan bersandar kepada Allah dalam segala urusan, maka kita akan mengetahui pentingnya melakukan shalat istikhârah dan membaca do’anya sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah n. Bahkan al-Imam al-Qurthubi mengatakan: “Sebagian ulama mengatakan: “Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk maju dan memilih suatu perkara duniawi sampai ia meminta kepada Allah pilihan dalam hal itu dengan shalat istikhârah sebanyak dua rakaat “. (al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, jilid 18, hlm. 306)
Semoga Allah memberi bimbingan kepada kita untuk dapat selalu bergantung kepada-Nya dan melindungi hati-hati kita dari sikap ketergantungan kepada selain-Nya.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 49, hal. 37-40

sumber:

Oleh: Abu ‘Ashim Muhtar Arifin bin Marquzi, Lc.

Menyandarkan hati kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-  adalah termasuk ibadah yang sangat diperintahkan dalam Islam. Hal itu karena seorang hamba selalu memerlukan Rabb-nya dalam setiap keadaan.

Allah -Subhanahu wata’ala- sendiri telah menyifati diri-Nya dengan Dzat yang menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya:

الله الصمد

Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. al-Ikhlâsh: 2)

Ibrahim berkata: ”ash-Shamad artinya Dzat yang menjadi tempat bergantungnya para hamba dalam kebutuhan-kebutuhannya”. (ad-Durr al-Mantsūr, jilid 15, hlm. 782)

Bergantung kepada Allah setiap saat. 

Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- telah mengajarkan umatnya beberapa doa yang khusus untuk dibaca setiap pagi dan sore hari atau yang lebih dikenal dengan adzkâr ash-Shabâh wa al-Masâ` (dzikir pagi dan petang). Di dalamnya banyak berisi permohonan kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, antara lain doa agar diberikan perlindungan dan keselamatan pada hari atau malam itu.

Salah satu doa Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- tersebut adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas -radhiallohu anhu- berikut, ia berkata: Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- berkata kepada Fatimah -radhiallohu anha-

مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِيْ مَا أُوْصِيْكِ بِهِ ؟ أَنْ تَقُوْلِيْ إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ

Apa yang menghalangimu dari mendengarkan wasiatku kepadamu ? Hendaklah engkau membaca (doa ini) apabila berada di waktu pagi hari dan sore hari:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلىَ نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

Wahai Dzat Yang Maha Hidup Kekal, Wahai Dzat Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku walaupun hanya sekejap mata”. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Sunni dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, no. 48 dan dihasankan oleh al-Albani dalam ash-Shahîhah, jilid 1, hlm. 449, no. 227)
Hal itu menunjukkan bahwa seorang hamba harus senantiasa merasa bergantung kepada Allah dalam setiap keadaan.

Kembali kepada Allah meskipun dalam permasalahan yang terlihat sepele.

Dalam permasalahan yang terlihat sepele dan ringan saja, seorang muslim dianjurkan dan diperintahkan agar berdoa kepada Allah. Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:

لِيَسْتَرْجِعْ أَحَدُكُمْ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ، حَتىَّ فِيْ شِسْعِ نَعْلِهِ، فَإِنَّهَا مِنَ الْمَصَائِبِ

Hendaklah seorang dari kalian mengucapkan istirjâ’ (Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ūn: sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya semata kita akan kembali) meskipun dalam hal tali sandalnya, karena hal itu adalah termasuk musibah. (Hadits hasan, al-Kalim ath-Thayyib, dengan takhrîj al-Albani, hlm. 81, no.140)

Contoh Sikap Bergantungnya orang Shalih kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Apabila kita buka lembaran sirah para ulama, maka akan didapati banyak sekali praktek mereka dalam menjalankan ibadah yang sangat agung ini, yaitu bersandar kepada Allah dalam segala hal, setiap waktu dan semua permasalahan.
Berikut ini adalah beberapa contoh praktek mereka dalam bersandar kepada Allah.

1. Abu Hanifah.
Apabila beliau mendapatkan kesulitan, beliau beristighfar kepada Allah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:

Dari Abu Ja’far al-Balkhi, salah seorang ahli fiqih, ia berkata: “Telah sampai kepadaku bahwasanya Abu Hanifah -semoga Allah merahmatinya- dahulu apabila mendapatkan kesulitan dalam suatu permasalahan atau mendapatkan syubhat di dalamnya beliau berkata kepada para sahabatnya: “Tidaklah ini terjadi melainkan karena dosa yang telah aku perbuat”, lalu beliau beristighfar dan kadang-kadang beliau berwudlu dan melakukan shalat dua rakaat lalu beristighfar, maka terselesaikanlah masalahnya, lalu beliau berkata: “Aku optimis, karena aku berharap bahwasanya aku telah diampuni oleh Allah sehingga aku dapat menyelesaikan masalah tersebut”.

Ketika berita ini sampai kepada Fudhail Bin ‘Iyadh, ia menangis sejadi-jadinya lalu berkata: “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah, hal itu dapat terjadi karena sedikitnya dosa yang ia miliki, sedangkan selain beliau, mereka tidak memperhatikannya, karena dosanya telah menenggelamkan dirinya”. (‘Uqūd al-Jumân fî Manâqib al-Imâm al-A’zham Abu Hanîfah an-Nu’mân, karya Imam Muhammad bin Yusuf ad-Dimasyqi asy-Syafi’i (wafat 942), hlm. 228-229)

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Apabila beliau merasa kesulitan dalam menafsirkan suatu ayat dalam al-Qur`an, beliau memohon kepada Allah seraya membaca:

الَلَّهُمَّ يَا مُعَلِّمَ آدَمَ وَإِبْرَاهِيْمَ، عَلِّمْنِيْ، وَيَا مُفَهِّمَ سُلَيْمَانَ فَهِّمْنِيْ

Wahai Dzat yang mengajari Adam dan Ibrahim, ajarilah aku, dan Wahai Dzat yang memberi kepahaman kepada Sulaiman, jadikanlah aku paham.

Setelah membaca doa ini, Allah pun mengabulkan permintaannya. (al-Majmū’ah al-‘llmiyyah, hlm. 181, karya Syaikh Bakr, jauh sebelumnya ungkapan ini sudah dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam I’lâm al-Muwaqqi’în, jilid 4, hlm. 257 dengan lafal yang lebih pendek)

3. Abu Ishaq p-Syirazi.
Imam an-Nawawi -rahimahullah- menjelaskan tentang keadaannya, bahwasanya dirinya tidak mengatakan tentang suatu masalah pun melainkan mendahuluinya dengan beristi’ânah (memohon pertolongan) kepada Allah. Selain itu juga, tidaklah beliau menulis suatu permasalahan melainkan mendahuluinya dengan shalat beberapa rakaat. (Muqaddimah al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1, hlm. 15)

4. Urwah Bin Zubair. 
Beliau mengatakan:

إِنِّيْ لأَدْعُوْ اللَّهَ فِيْ حَوَائِجِيْ كُلِّهَا، حَتَى بِالْمِلْحِ

Sesungguhnya aku benar-benar berdoa kepada Allah dalam segala keperluanku sampai (dalam hal) garam. (al-Fawâkih ad- Dawâni Syarh Risâlah Ibn Zaid al-Qirwâni, karya Ahmad bin Ghunaim al-Maliki, jilid 1, hlm. 211)

5. Sa’id bin al-Musayyib.
Hampir-hampir Sa’id Bin al-Musayyab tidak berfatwa dengan suatu fatwa atau melontarkan suatu ucapan melainkan mengatakan:

الَلَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّيْ

Ya Allah, selamatkanlah aku dan selamatkanlah ia dariku. (al-Madkhal ilâ as-Sunnan al-Kubrâ, karya al-Baihaqi, no. 824, hlm. 439-440)

Bergantung kepada selain Allah termasuk perusak hati.

Sesungguhnya hati manusia dapat menjadi rusak disebabkan oleh beberapa perusak, di antaranya adalah bergantungnya seseorang kepada selain Allah.

Ketika Ibnul Qayyim t menjelaskan tentang perusak-perusak hati dalam Madârij as-Sâlikîn, beliau menerangkan bahwa bergantung kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala- termasuk perusak yang paling besar terhadap hati secara mutlak, karena tidak ada yang lebih berbahaya dan lebih dapat memutuskan hati dari kebaikan dan kebahagiaanya dari pada bergantung kepada selain Allah tersebut. Selain itu, apabila seseorang bergantung kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala-, maka ia akan diserahkan kepada objek yang menjadi tempat bergantungnya tersebut. (Madârij as-Sâlikîn, jilid 1, hlm. 492)

Orang yang bergantung kepada selain Allah telah merugi dengan kerugian yang besar karena telah bergantung kepada sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat dan madharat.

Ibnul Qayyim telah membuat perumpamaan berikut: “Perumpamaan orang yang bergantung kepada selain Allah itu laksana orang yang berteduh dari dingin dan panas dengan sarang laba-laba, yang merupakan selemah-lemahnya rumah” (Madârij as-Sâlikîn, jilid 1, hlm. 492)

Setelah mengetahui bagaimana pentingnya kembali, bergantung dan bersandar kepada Allah dalam segala urusan, maka kita akan mengetahui pentingnya melakukan shalat istikhârah dan membaca do’anya sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah n. Bahkan al-Imam al-Qurthubi mengatakan: “Sebagian ulama mengatakan: “Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk maju dan memilih suatu perkara duniawi sampai ia meminta kepada Allah pilihan dalam hal itu dengan shalat istikhârah sebanyak dua rakaat “. (al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, jilid 18, hlm. 306)
Semoga Allah memberi bimbingan kepada kita untuk dapat selalu bergantung kepada-Nya dan melindungi hati-hati kita dari sikap ketergantungan kepada selain-Nya.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 49, hal. 37-40

sumber: https://www.majalahislami.com/bersandar-kepada-allah-di-setiap-waktu

Pentingnya Sikap Ilmiah dalam Beragama

Agama Islam ini dibangun di atas ilmu. Beragama itu dengan ilmu, bukan dengan perasaan, bukan dengan sekedar “pendapat terbanyak”,  bukan dengan wangsit & mimpi, bukan juga dengan sekedar warisan adat turun-temurun.

Muhammad bin Sirin  berkata,

ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺩﻳﻦ ﻓﺎﻧﻈﺮﻭﺍ ﻋﻤﻦ ﺗﺄﺧﺬﻭﻥ ﺩﻳﻨﻜﻢ

”Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian.” [Muqaddimah Shahih Muslim]

Agama Islam adalah agama yang ilmiah. Contohnya adalah dalam dunia akademis, seseorang harus mencantumkan jurnal dan sumber ilmiah dari nukilan yang kami sebutkan. Apabila tidak, tentu nilai ilmiahnya tidak akan sempurna atau bahkan diragukan kebenarannya. Dalam ajaran Islam pun demikian, kita diajarkan bersikap ilmiah agar tidak semata-mata berpendapat sendiri tanpa ada sumber rujukan yang jelas, bahkan dalam masalah kontemporer sekalipun harus ada sumber ilmiah yang dijadikan rujukan. Menyampaikan suatu pendapat tanpa ada rujukan sebelumnya akan mengurangi keilmiahan hal tersebut.

Perhatikan perkataan Imam Ahmad berikut:

إيَّاكَ أنْ تتكلمَ في مسألةٍ ليسَ لكَ فيها إمامٌ

“Berhati-hatilah berkata dalam satu permasalahan yang engkau tidak memiliki pendahulunya.” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 11/296].

Contoh lainnya lagi adalah adanya ilmu sanad dalam agama Islam. Ilmu sanad ini sangat ilmiah, kita bisa mengecek keilmiahan suatu pendapat dari ilmu sanad ini.

Abdullah bin Mubarak berkata,

إن الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Sanad itu bagian dari agama. Kalau lah tidak ada ilmu Isnad, pasti siapaun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [HR. Muslim]

Sofyan Ats-Tsauri berkata:

الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه السلاح فبأي شيء يقاتل

“Sanad adalah senjatanya orang-orang beriman. Apabila tidak ada senjata tersebut, lalu dengan apa mereka berperang?” [Jami Al-Ushul hal 109]

Masih sangat banyak contoh bahwa Islam adalah agama yang ilmiah dan menjunjung tinggi ilmu. Sikap keilmiahan ini hanya bisa didapat dengan menuntut ilmu. Agama Islam mendorong kita untuk selalu berilmu, mempelajari hal yang bermanfaat baik dunia maupun akhirat. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu. Allah berfirman,

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)

Allah juga menegaskan bahwa tentu tidak sama antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Allah berfirman,

Allah Ta’ala berfirman

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Semoga kita selalu bisa menumbuhkan sikap ilmiah dalam beragama agar kita bisa selamat dunia dan akhirat.

@ Lombok, Pulau seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/47683-ilmiah-dalam-beragama.html

Pahala Bagi Wanita Hamil

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat sebuah hadis yang menyatakan,

Bahwa Salamah, wanita yang merawat Ibrahim – putra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam – pernah bertanya,

“Ya Rasulullah, anda sering memberi kabar gembira dengan amal kepada para lelaki, tapi anda tidak memberi kabar gembira kepada para wanita?”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi motivasi kepadanya,

Tidakkah para wanita senang, ketika dia hamil dari suaminya, dan dia ridha, maka dia mendapat pahala seperti orang yang puasa dan tahajud ketika sedang jihad fi sabilillah. Ketika sedang kontraksi, maka ada janji yang sangat menyejukkan mata yang belum pernah diketahui penduduk langit dan bumi. Setelah dia melahirkan, lalu menyusui bayinya, maka setiap isapan ASI akan menghasilkan pahala. Jika dia bergadangan di malam hari maka dia akan mendapat pahala seperti membebaskan 70 budak fi sabilillah…

Hadis ini menyebutkan fadhilah yang luar biasa bagi wanita hamil. Hanya saja, hadis ini lemah, bahkan palsu. Karena dalam sanadnya ada perawi bernama Amr bin Said al-Khoulani. Kata ad-Dzahabi, al-Khoulani banyak membawakan hadis palsu. Ibnu Hibban menilainya sebagai hadis dusta, palsu (al-Majruhin, 2/34), demikian pula penilaian Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (2/273).

Meskipun demikian, bukan berarti wanita hamil tidak memiliki keistimewaan. Setidaknya, wanita subur, merupakan wanita pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadis dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu,

Pernah ada orang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan keinginannya,

“Saya mencintai seorang wanita cantik dan dari keluarga terhormat. Namun dia mandul. Bolehkah saya menikah dengannya?”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan.”

Orang ini datang kedua kalinya, menyampaikan keinginannya yang sama. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya.

Diapun datang untuk yang ketiga kalinya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarang dia menikah dengan wanita itu.

Hingga akhirnya, beliau bersabda,

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ

Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena saya membanggakan banyaknya kalian pada seluruh umat. (HR. Abu Daud 2050, Nasai 3227 dan dishahihkan al-Albani)

Sebagai balas jasa seorang ibu yang telah melahirkan anaknya, Allah memberi ganti dalam bentuk perintah untuk anak agar taat dan menghormati ibunya.

Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan … (QS. al-Ahqaf: 15)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi jaminan. Resiko apapun yang diderita wanita ketika hamil, terutama yang mengancam kematian, akan dinilai sebagai syahid.

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguknya ketika Ubadah sedang sakit. Di sela-sela itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

أتعلمون من الشهيد من أمتي ؟

“Tahukah kalian, siapa orang yang mati syahid di kalangan umatku?”

Ubadah menjawab: ‘Ya Rasulullah, merekalah orang yang sabar yang selalu mengharap pahala dari musibahnya.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan,

شهداء أمتي إذاً لقليل ، القتل في سبيل الله عز وجل شهادة ، والطاعون شهادة ، والغرق شهادة ، والبطن شهادة ، والنفساء يجرها ولدها بسرره إلى الجنة

“Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku cuma sedikit. Orang yang mati berjihad di jalan Allah, syahid, orang yang mati karena Tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena sakit perut, syahid. Dan wanita yang mati karena nifas, dia akan ditarik oleh anaknya menuju surga dengan tali pusarnya.” (HR. Ahmad dalam musnadnya 15998. Dan dinilai Shahih li Ghairih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Dalam hadis lain, dari Jabir bin Atik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk Abdullah bin Tsabit, ketika itu beliau sedang pingsan karena sakit. Di tengah-tengah itu, ada orang yang menyinggung masalah mati syahid. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapa yang kalian anggap sebagai mati syahid?”

Merekapun menjawab, ‘Orang yang mati di jalan Allah.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengarahan,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah,

Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani).

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan agar anak selalu memperhatikan ibunya,

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau bercerita,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari 5971 dan Muslim  2548)

Bukankah ini semua membanggakan bagi para wanita yang hamil…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber: https://konsultasisyariah.com/29205-pahala-bagi-wanita-hamil.html

‘Aibmu Sendiri yang Lebih Seharusnya Engkau Perhatikan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

يبصر أحدكم القذاة في أعين أخيه، وينسى الجذل- أو الجذع – في عين نفسه

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” [Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak, pen].[1]

Wejangan Abu Hurairah ini amat bagus. Yang seharusnya kita pikirkan adalah ‘aib kita sendiri yang begitu banyak. Tidak perlu kita bercapek-capek memikirkan ‘aib orang lain, atau bahkan menceritakan ‘aib saudara kita di hadapan orang lain. ‘Aib kita, kitalah yang lebih tahu. Adapun ‘aib orang lain, sungguh kita tidak mengetahui seluk beluk hati mereka.

[1] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 592. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih.

selengkapnya: https://rumaysho.com/1201-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html

Wanita itu Godaan Terbesar bagi Pria

Wanita itu godaan terbesar bagi pria. Benarkah?

Seandainya kita wanita tidak memiliki kecantikan, kedudukan, dan kesempatan seperti apa yang dimiliki Zulaikha. Akan tetapi kita(wanita) harus tahu barangkali tidak ada lelaki saat ini yang mampu menahan fitnah wanita seperti Yusuf.

Jadi hendaklah setiap wanita berusaha menjaga diri dengan menutup aurat,dengan mengetahui adab adab bergaul dengan lawan jenis yang bukan mahram sesuai syari’at islam dan terus bersemangat untuk mempelajari agama yang sempurna ini. Jangan sampai kita (wanita) menyebabkan para lelaki berpaling dari Allah atau menyebabkan mereka bermaksiat kepada Allah. Baik itu suaminya, orang tuanya, saudaranya, ataupun orang lain.

Karena kita (wanita) adalah fitnah terbesar bagi laki laki. Sebagaimana hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)

Kata Imam Nawawi, yang dimaksud godaan wanita ini bisa jadi di dalamnya adalah istri. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 17: 50). Karena ada di antara para istri yang membuat suaminya malah jauh dari Allah.

Berdasarkan hadits di atas, Ibnu Hajar mengatakan bahwa wanita adalah godaan terbesar bagi para pria dibanding lainnya. (Fathul Bari, 9: 138). Hal ini dikuatkan oleh firman Allah Ta’ala,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita.” (QS. Ali Imran: 14)

Wanita dalam ayat ini dijadikan bagian dari kecintaan pada syahwat. Wanita disebutkan lebih dulu daripada anak dan kenikmatan dunia lainnya. Ini menunjukkan bahwa wanita itu pokoknya, godaan terbesar adalah dari wanita. (Idem).

Lihatlah pula bahwa Bani Israil bisa hancur pula dikarenakan wanita.

فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ

“Waspadalah dengan dunia, begitu pula dengan godaan wanita. Karena cobaan yang menimpa Bani Israil pertama kalinya adalah karena sebab godaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742).

Semoga Allah memberi taufik pada wanita untuk menyadari hal ini, juga bagi para pria selalu waspada, yaitu waspada jangan sampai jauh dari Allah dikarenakan pandangan yang tidak halal dan tergoda dengan hal lainnya pada wanita yang halal maupun yang tidak.

—

Diselesaikan di Panggang, Gunungkidul, 18 Dzulqo’dah 1435 H

Penulis: Ummu Rumaysho dan Abu Rumaysho

Sumber: https://rumaysho.com/8800-wanita-itu-godaan-terbesar-bagi-pria.html