Menangis Hingga Dosa ini Terkikis

Ada begitu banyak alasan yang mendasari tangisan seseorang. Tangisan itu bermacam-macam. Ibnul Qayyim sendiri membagi tangisan menjadi 10 macam dalam bukunya, Za’adul Ma’ad. Tangisan seseorang menyimpan berjuta makna, dan diantara tangisan itu ada tangisan yang mengantarkan seseorang menuju surga.

لاَيَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِى الضَّرْعِ وَلاَيَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِى سَبِيل ِاللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

“Tidak akan masuk Neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, hingga air susu dapat kembali kepada kambingnya (kantong kelenjar susu binatang ternak), dan tidak akan berkumpul antara debu medan jihad fii sabiilillaah dengan asap Neraka Jahannam.” (HR Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)

Mata orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah akan dijauhkan dari api neraka.

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Dua mata yang tidak akan disentuh api Neraka, yakni mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga karena siaga (saat berjihad) di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani)

Air mata yang membasahi pipi seorang hamba karena takut kepada penciptaNya merupakan air mata yang mulia. Ia bermakna tinggi dihadapan Allah, ia akan mendapatkan kasih sayang Allah.

لَيْسَ شَىْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوعٍ فِى خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ. وَأَمَّا الأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِى فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain dua tetesan dan dua bekas. Yaitu, tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang mengalir (saat jihad) di jalan Allah. Adapun dua bekas, yaitu bekas dari berjihad di jalan Allah dan bekas dari menunaikan salah satu kewajiban yang telah Allah tetapkan.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani)

Jadi, tangisan yang mengantarkan seseorang kepada surga dan menjauhkan seseorang dari api neraka adalah tangisan karena takut kepada Allah. Air mata tersebut merupakan lambang ketakutan karena takut akan dosa-dosa yang telah ia perbuat, atau takut membayangkan kehidupan akhirat, takut karena kerasnya hati, dsb.

Air mata itu merupakan tameng bagi dirinya dari api neraka. Karena dengannya, ia akan sadar atas hakikat kehidupan. Pemilik air mata itu akan selalu berusaha menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.

selengkapnya: https://muslimah.or.id/8519-menangis-hingga-dosa-ini-terkikis.html

WALAU TERBATA-BATA, ENGKAU TETAP DAPAT PAHALA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Orang yang membaca Alquran dan menadabburinya serta mengamalkannya, pasti dia diberi pahala, meskipun tidak menghafalnya, sebagaimana di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ

 “Orang yang mahir membaca Alquran, dia berada bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa taat kepada Allah. Adapun orang yang terbata-bata di dalam membaca Alquran serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” [Potongan hadis yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha no. 244-(898), kitab Al-Musafirin wa Qashruha, bab. 38]

[Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an, edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Alquran, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerbit Darul Haq]

sumber: https://nasihatsahabat.com/orang-yang-membaca-alquran-walau-terbata-bata-tetap-dapat-pahala/

Balaslah Keburukan Dengan Kebaikan

Dalam kehidupan sehari-hari, Pasti ada saja orang-orang yang membenci kita, orang-orang yang zholim , orang-orang yang melakukan hal-hal buruk, baik berupa hinaan, cacian, dan semacamnya.

Bagaimanakah seharusnya sikap kita terhadap mereka ini?

Allah Ta’ala berfirman :

ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34).

Penjelasan dari ayat di atas adalah sebagaimana berikut…

Jika seseorang melakukan keburukan terhadapmu, terlebih khusus lagi jika mereka adalah kerabat-kerabatmu, sahabat-sahabatmu, mereka berbuat buruk kepadamu, baik melalui lisan mereka maupun perbuatan mereka, maka balaslah mereka dengan kebaikan. Jika mereka memutus silaturahmi denganmu, maka sambunglah kembali silaturahmi tersebut. Jika mereka berbuat zholim kepadamu, maka maafkanlah.

Jika mereka menjelek-jelekkanmu, di belakang maupun di hadapanmu, maka jangan engkau jelek-jelekkan mereka kembali, bahkan maafkanlah mereka, dan balas mereka dengan perkataan yang lembut. Jika mereka mengacuhkanmu, tidak mau berbicara denganmu, maka mulailah salam kepada mereka, sapalah mereka dengan baik.

Niscaya jika engkau telah melakukan itu semua, suatu saat nanti mereka akan berbalik menyukaimu, yang sebelumnya memusuhimu, berbalik menjadi teman setiamu.

Sesungguhnya hati manusia ada di antara jari-jariNya, Dialah yang membolak-balikkan hati manusia sesuai kehendakNya. Sangatlah mudah bagi Allah untuk mengubah benci menjadi cinta ataupun sebaliknya.

Inilah janji Allah dalam FirmanNya, namun sayang beribu sayang, seringkali gengsi kita mengalahkan itu semua, sehingga terlewatilah nasihat dari langit ini untuk kita amalkan.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang selalu berusaha menerapkan Al-Quran dalam kehidupan kita sehari-hari.

***

Disarikan dari Tafsir Surat Fussilat ayat 34 kitab Taisir Kariimirrahman  oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dan Syarah Riyadush Shalihin oleh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin dengan beberapa penambahan

Penulis: Boris Tanesia

Sumber: https://muslim.or.id/27227-balaslah-keburukan-dengan-kebaikan.html

Hadirkan Niat dalam Ladangmu, Wahai Ibu

Belajar teori ikhlas mungkin bisa dilakukan dalam sehari, namun belajar mengamalkan ikhlas, sepanjang hayat akan terus dipelajari. Ikhlas tidaklah sekedar menyatakan ‘aku ikhlas’, tapi ikhlas membutuhkan konsekuensi besar, karena menjadikan Wajah Allah semata tujuannya. Sulit bukan? 

Sulit, tapi bisa kita latih dan kita usahakan dalam setiap langkah. Dalam segala hal baik bentuknya ibadah langsung kepada Allah ataupun amalan-amalan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya bagi kita para wanita, keikhlasan itu harus selalu kita hadirkan dalam rutinitas kita menjadi istri dan ibu. Karena wanita adalah gudang dari keluhan, gudang dari sifat sensitivitas sehingga terkadang kita lupa bahwa kita juga gudang dari amal sholih. Tidak harus repot-repot shalat berjama’ah di masjid, atau rihlah mencari ilmu seperti laki-laki atau harus berjihad. Bahkan seorang wanita diperintahkan untuk tinggal di rumah-rumah mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala: 

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

Artinya : “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 33). 



Cukup di rumah kita, sudah banyak lahan untuk bisa dijadikan ibadah, tentunya dengan syarat, salah satunya adalah ikhlas. Sayangnya sebagian dari kita tidak memanfaatkan hal tersebut malahan kebanyakan membuka pintu celah setan untuk menggoda dengan banyak mengeluh, banyak berandai-andai dan banyak panjang angan-angan.

 Begitu mulianya wanita di rumah. Kita terjaga dari fitnah dan kita bisa beramal sholih sebanyak yang kita mampu. Semua bisa dilakukan di rumah. Sebagai contoh, rutinitas kita dalam menjaga, merawat dan mendidik anak, merupakan ladang bagi para wanita khususnya agar bisa memperoleh pahala sebanyak-banyaknya. Memang dirasa bak teori belaka dan akan ribet jika dilakukan. Hal tersebut karena kita lupa bahwa menjaga, merawat dan mendidik anak adalah kewajiban kita sebagai orang tua, bukan rutinitas belaka atau bisa kita pindah tangankan begitu saja ke pembantu atau lembaga-lembaga sekolah tertentu. 

Namun memang benar ada sebagian wanita pula yang berpendapat ‘saya juga punya hak bebas dan saya punya duit’. Akibatnya, segala kewajibannya berkaitan dengan rumah dan anak dipasrahkan orang lain. Sedangkan wanita tersebut hanya sibuk dandan, leha-leha bahkan menghabiskan waktu dengan cuci mata, baik di dunia nyata atau lewat dunia maya untuk bergaul yang tidak jelas tujuannya. 

Hak bebas seperti apa yang wanita tersebut inginkan? Bebas dari tangisan anak? Bebas dari rewelan anak? Sungguh tragis ketika kita merasa bising dengan tangisan anak, capek dan banyak mengeluh bahkan mengumpat dengan banyaknya mainan yang berserakan setiap hari, bosan harus mengajari anak membaca dan menulis serta merasa ribet dengan banyaknya permintaan anak ketika di rumah. Wahai saudariku, saya dan anda adalah wanita. Tentunya kita tahu hadits yang menyatakan bahwa penghuni neraka terbanyak adalah wanita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

Artinya: “Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar! Sesungguhnya aku melihat kalian sebagai penghuni mayoritas di neraka.”
(HR. Bukhari 304 & Muslim 132)



Apakah dengan mengetahuinya belum cukup untuk membuat kita takut dan mulai berbenah diri ?? Salah satunya dengan menunaikan kewajiban kita mendidik anak dengan baik dan benar. Mendidik anak adalah salah satu bentuk amalan yang bisa bernilai ibadah jika kita melakukannya ikhlas karena Allah dan untuk mendidik anak kita sendiri tak disyaratkan kita harus sarjana atau hafidzoh atau juara, cukup kita ingat firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)



Ketahuilah saudariku, tatkala anak-anak kita menjadi anak yang sholih-sholihah, mereka bisa menjadi aset tabungan jangka panjang kita tatkala di akherat kelak, karena doa anak sholih akan dikabulkan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:


إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه

Artinya: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)



Maka jangan abaikan mendidik anak dan sertailah dengan keikhlasan agar usaha kita tak sia-sia belaka namun berujung pahala.

 Jika kita sudah terbangun dan akhirnya menyadari bahwa mendidik anak adalah kewajiban kita, pijakan sebagai langkah awal dalam mendidik anak-anak adalah berusaha menghadirkan keikhlasan, agar apa yang telah kita usahakan berbuah pahala dari Allah dan juga menumbuhkan anak-anak yang senantiasa ikhlas dalam beramalan. 
Ingatlah selalu hadits dari umar bin khattab bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:


إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرىء ما نوى

“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya.” (Muttafaqun ‘alaihi). 



Sangat disayangkan bahwa amal yang kita lakukan hanya sebatas niat dunia saja. Seperti misalnya ikhlas yang tidak atau belum hadir dalam:

1. Menentukan tujuan ketika mengajari anak
Fenomena yang sering muncul adalah para orangtua berlomba-lomba mengajari anak ini dan itu hanya untuk kebanggaan atau popularitas. Para orang tua dengan sangat egois menyuruh anaknya belajar ini dan itu agar tidak kalah dengan yang lain, atau agar menjadi penenang pertama atau agar tidak mempermalukan orang tua di hadapan orang lain. Akibatnya anak-anak dipaksa dan dipaksa, dibentak dan dicaci atau bahkan dibanding-bandingkan. Begitulah terkadang egoisnya kita sebagai orang tua. Sampai tanpa sadar kita telah menanamkan kepada anak, rasa tidak ikhlas dalam melakukan sesuatu. Ya… misalnya, melakukan sesuatu karena takut mama atau ayah atau melakukan sesuatu agar disanjung orang. Padahal hanya Allah lah yang perlu ditakuti sebagaimana firman Allah:

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ . . .

Artinya:“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Ma’idah: 44)


Ternyata tanpa disadari kita membuat mereka bak robot yang tidak berperasaan dan tidak punya pikiran untuk sebuah pilihan pendapat dan yang terutama menanamkan jiwa pamrih dalam dirinya. Bagaimana mungkin anak-anak kita menjadi anak yang takut hanya kepada Allah atau amalannya hanya untuk Allah jika awal pijakkan kita dalam mendidik mereka pun sudah salah. Apakah ketika mereka sudah dewasa dan ternyata terpatri jiwa mengeluh atau pun jiwa pamrih lantas kita salahkan? Bahkan tatkala kita tua dan butuh perawatan, mereka akan bersedia merawat kita jika kita memberi warisan yang banyak, dan dengan keadaan seperti itu kita protes? Tentu tidak bisa…. apa yang kita berikan itu yang akan kita tuai dimasa mendatang. 

Ulama memberikan kaidah: al-jazaa min jinsil ‘amal (balasan itu sejenis dengan amal). 

Menuntut dan menuntut itulah salah satu tanda kita belum ikhlas. Tidak pantas kita menundukkan kepala hanya karena anak kita tidak juara, dan tidak tepat bagi kita memaksakan sesuatu kepada anak hanya karena orientasi dunia. Na’adzubillahi min dzalik. Biarlah mereka berkembang menjadi dirinya sendiri. Kita sebagai ibu hanya menunjukkan dan menggandengnya untuk mengetahui mana yang benar maupun yang salah, agar mereka tidak salah jalan tanpa harus memaksa. Toh anak kita punya takdirnya sendiri dan rizki yang sudah ditentukan sejak mereka dalam kandungan.


إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ،ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ،ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ،وَيَؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

“Sesungguhnya salah satu dari kalian dihimpun penciptaannya di perut ibunya dalam bentuk nutfah selama 40 hari, kemudian menjadi ‘alaqah selama 40 hari, kemudian menjadi mudhgah selama 40 hari, lantas diutuslah malaikat dan meniupkan ruh padanya. Dan ia diperintah untuk menuliskan empat ketetapan, (yaitu) menulis rizki, ajal, amalan dan apakah ia (nanti) celaka atau bahagia …”.(Muttafaqun ‘alaih)



2. Mendidik anak dengan hadiah
Kita secara tidak langsung memjadikan mereka tidak ikhlas tatkala sering bahkan selalu memberikan hadiah setiap amal perbuatan baik yang mereka lakukan. Sedikit-sedikit hadiah, makanan, mainan dll, tanpa kita selipkan unsur ikhlas karena Allah. Bisa jadi ketika dewasa nanti setiap jerih payahnya harus tertebus dengan nikmat dunia belaka. Hal ini juga harus kita waspadai. Mereka itu ibarat kertas putih akan berubah warna sesuai dengan warna apa yang kita berikan kepada mereka. Artinya ketika kita sedari kecil sudah membiasakan ikhlas di setiap amalan mereka tentu di dalam hati dan pikirannya akan terpatri didikan dari kecil tersebut. Sehingga tatkala sudah baligh mereka akan senantiasa menjaga shalat jamaahnya karena takut Allah dan berharap kepada Allah bukan karena ingin mendapat hadiah kita atau takut kepada kita. Dan ketika anak kita tidak dalam pengawasan kita, mereka tetap menjaga akhlaknya karena merasa selalu diawasi Allaah bukan karena takut omelan kita. Namun boleh-boleh saja merangsang anak terutama balita dengan hadiah karna kondisi nalar mereka yang
 belum berkembang, akan tetapi tetap ingatkan dan selipkan tentang ikhlas bagaimanapun bentuk caranya, insya Allaah bisa kita lakukan, biidznillah.



3. Mendo’akan anak
Kita sebagai ibu terkadang hanya mendoakan untuk kebaikan dunia anak kita, biar anak kita juara, pandai atau bahkan kaya, punya ini dan itu dan kita melupakan mendoakan agar mereka menjadi anak yang shalih sekaligus mukhlisin. Karena terkadang orientasi orang tua kebahagiaan adalah berkecukupan nikmat dunia belaka, sedangkan bahagia akhirat dinomorduakan. Padahal kita tahu bahwa do’a orang tua untuk anaknya itu adalah do’a yang mustajab. Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ”


“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no.1316)


Sayang jika kita hanya mendoakan kebaikan buah hati untuk urusan dunia saja. Hendaknya kita doakan anak-anak kita baik urusan dunia dan akhirat.

Saudariku, dalam menjalankan keikhlasan kita juga butuh pertolongan Allah. Maka agar amalan-amalan kita dan anak kita senantiasa ikhlas, mintalah pertolongan kepadaNya. 
Allah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُوْنِيْ آسْتَجِبْ لَكُمْ إنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Artinya: “Dan Rabb-mu berfirman, Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60)



Saudariku, jadikanlah kewajiban-kewajiban kita ini bernilai pahala di sisi Allah dengan cara memperhatikan niat. Hanya karena niat ini amal kita diterima. Cobalah untuk banyak memberi teladan keikhlasan agar anak-anak bisa menilai dan akhirnya meniru. Anak-anak lebih mudah menyerap apa yang dia lihat daripada apa yang dia dengar.



Jika ingin buah hati kita shalih maka jadilah kita ibu shalihah


Jika ingin anak kita menjadi mukhlisin maka awali si ibu mejadi wanita yang ikhlas dan tak mudah keluh kesah


Anak terdidik berakhlak baik dan berpemahaman benar karena memiliki ibu yang karimah


Jangan berhenti menggandeng tangan mereka agar mereka selalu ikhlas walau jiwa sudah berpeluh dan raga mulai lelah


Karena ikhlas mengantarkan anak-anak kita bahagia dunia dan meraih al-jannah.
—-
Penulis: Ummu Hamzah 

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

sumber https://muslimah.or.id/6772-hadirkan-niat-dalam-ladangmu-wahai-ibu%E2%80%A8.html

Ibumu… Kemudian Ibumu… Kemudian Ibumu…

Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliau berkata dalam kitabnya Al-Kabaair,

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

(Akan dikatakan kepadanya),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)

(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

selengkapnya: https://muslimah.or.id/1861-ibumu-kemudian-ibumu-kemudian-ibumu.html

SEANDAINYA…

oleh Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى 

Seandainya Syaikh Albani rahimahullah hidup saat ini….

Beliau pernah berkata :
“Penyakit anak muda sekarang adalah begitu mereka mulai merasa punya suatu ilmu yang sebelumnya mereka tidak ketahui, maka merekapun mengangkat kepala mereka (merasa tinggi), mereka merasa telah menguasai semuanya, maka merekapun diliputi dengan penyakit ujub dan terpedayalah mereka. 

Kita kawatir mereka terkena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Tiga perkara yang membinasakan :
* kikir yang ditaati,
* hawa nafsu yang diikuti, dan
* ujub nya seseorang dengan pemikirannya….”

Ini diucapkan oleh syaikh Albani sebelum ada dunia FB dan WA, lantas bagaimana jika syaikh Albani melihat kondisi para ahli copas di FB, yang begitu berani protes, kritik, menampilkan pendapat, bangga dengan pemikirannya, dll? Tanpa hati-hati..,dan tanpa menimbang maslahat dan mudorot, apa yang ada di benaknya langsung jadi status…

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/8979

Bahagia Ketika Sakit

Tiada gading yang tak retak. Itulah ungkapan pepatah yang sering kita dengar. Sebagaimana gading, tiada manusia yang tidak pernah sakit. Saya, Anda, dia, mereka, siapapun dia, pasti pernah merasakan sakit. Karena itu, bukanlah sakit itu satu-satunya yang menjadi masalah terbesar bagi kita. Namun yang lebih penting untuk kita perhatikan adalah bagaimana kita bisa menjadi hamba yang baik ketika sakit. Sakit itu pasti, sementara bagaimana cara melakukan yang terbaik ketika sakit, itu kembali kepada pilihan kita.

Kita bisa mendapatkan banyak pahala ketika sakit. Sebaliknya, sakit yang kita derita juga bisa menjadi sebab munculnya perbuatan dosa.

وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka denagn musibah. Siapa yang ridha dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang marah dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan murka Allah.” (HR. Ahmad 23623, Tirmidzi 2396 dan dishahihkan al-Albani).

Mari kita perhatikan hadis di atas. Sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada para hamba, hakikatnya didasari kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Karena seorang hamba akan bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi, ketika mereka mendapatkan ujian dan mampu bersabar terhadap ujian tersebut.

Namun ada dua sikap manusia yang berbeda. Ada yang memahami musibah  itu dengan baik, sehingga dia bisa ridha terhadap ujian yang Allah berikan. Dia berkeyakinan bahwa ujian ini adalah sumber pahala baginya. Sehingga sama sekali dia tidak merasa telah didzalimi oleh Allah. Di saat itulah, Allah akan memberikan keridhaan dan pahala yang besar kepadanya.

Sebaliknya, ada orang yang menyikapi musibah itu dengan cara yang salah. Dia menganggap sakit ini adalah kezaliman dan ketidakadilan. Mengapa dia sakit, sementara orang lain tidak sakit. Mereka dia tidak bisa mendapatkan kenikmatan hidup, sementara tetangganya bisa mendapatkan banyak kenikmatan. Dia marah dan tidak sabar dengan musibahnya. Sebagai hukumannya, Allah justru murka kepadanya.

Bapak, ibu, pembaca yang budiman. Satu pertanyaan yang patut kita renungkan, ketika orang itu marah dengan musibah yang dideritanya, apakah dengan marahnya itu akan bisa menghilangkan musibahnya? Ketika orang sakit itu merasa marah dengan musibah sakitnya, apakah dengan marah itu dia bisa cepat mendapatkan kesembuhan?

Kita sangat yakin, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka yang marah dan tidak ridha dengan sakit yang dideritanya, akan semakin memperparah sakitnya. Dia sakit badannya dan juga sakit hatinya. Dia sakit dua kali, lahir dan batin.

Abu Said al-Khudri pernah mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang sakit. Ketika Abu Said meletakkan tangannya ke badan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata panasnya luar biasa. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا كَذَلِكَ يُشَدَّدُ عَلَيْنَا الْبَلَاءُ وَيُضَاعَفُ لَنَا الْأَجْرُ

Sesungguhnya kami para nabi, diberi ujian yang sangat berat, sehingga pahala kami dilipat gandakan.”

Abu Said-pun bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;

الْأَنْبِيَاءُ وَالصَّالِحُونَ، لَقَدْ كَانَ أَحَدُهُمْ يُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى مَا يَجِدُ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يَحْويهَا فَيَلْبَسَهَا، وَيُبْتَلَى بِالْقُمَّلِ حَتَّى يَقْتُلَهُ، وَلَأَحَدُهُمْ كَانَ أَشَدَّ فَرَحًا بِالْبَلَاءِ مِنْكُمْ بِالْعَطَاءِ

Para nabi, kemudian orang shaleh. Sungguh ada diantara mereka yang diuji dengan kemiskinan, sehingga harta yang dimiliki tinggal baju yang dia gunakan. Ada juga yang diuji dengan kutu badan dan rambutnya, sampai kutu itu membunuhnya. Sungguh para nabi dan orang shaleh itu, lebih bangga dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan kalian ketika mendapat rezeki.” (HR. Abu Ya’la dalam al-Musnad 1045, al-baihaqi dalam Sunan al-Kubro (3/372), Hakim dalam al-Mustadrak 119, dan dishahihkan al-Albani).

Seperti itulah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang shaleh. Mereka bisa berbahagia ketika sakit. Mereka lebih gembira dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan orang yang baru saja mendapatkan banyak harta. Karena mereka meyakini, sakit adalah sumber pahala baginya.

Suatu ketika, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu datang ke Mekah. Beliau sudah menginjak usia tua dan matanya buta. Melihat kedatangan Sa’ad, masyarakat pada berdatangan dan menyambutnya. Mereka berkeyakinan doa Sa’ad sangat mustajab, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu demi satu orang meminta didoakan Sa’ad.

Sampai akhirnya datang seorang pemuda yang bernama Abdullah bin Saib. Beliau memperkenalkan diri kepada Sa’ad bin Abi Waqqash. Setelah berkenalan, Abdullah bertanya keheranan, “Wahai paman, Anda mendoakan banyak orang (dan itu mustajab). Mengapa Anda tidak berdoa meminta kebaikan untuk diri Anda sendiri, sehingga Allah akan mengembalikan penglihatan Anda?”

Mendengar uacapan pemuda ini, Sa’ad tersenyum, kemudian mengatakan,

يابني، قضاء اللّه عندي أحسن من بصري

Wahai anakku, (menerima) takdir Allah untukku, itu lebih baik dari pada mataku.” (Qut al-Qulub, 1/435).

Insya Allah, kita-pun bisa melakukannnya. Berbahagia ketika mendapat musibah. Berbahagia ketika sakit. Tinggal saatnya kita sekarang mulai  melatihnya.

Allahu a’lam

oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina http://www.KonsultasiSyariah.com)

sumber:  https://konsultasisyariah.com/15816-berbahagia-ketika-sakit.html

Janganlah Berburuk Sangka Kepada Allah

Para pembaca yang budiman, perlu untuk kita ketahui bersama bahwa Alloh adalah Dzat yang maha sempurna, baik dari Nama, Sifat maupun perbuatan-Nya. Tidak ada satupun aib atau cela yang terdapat pada Alloh.

Sebagai bentuk realisasi tauhid, kita dilarang mengingkari nama dan sifat yang telah ditetapkankan oleh Alloh Ta’ala. Kita wajib percaya dan menerima sesuatu yang telah ditetapkan Alloh kepada para hambaNya.

Segala Sesuatu Diciptakan Dengan Hikmah

Alloh menciptakan langit dan bumi beserta isinya, semuanya tentu mengandung hikmah yang agung dan tidak dalam rangka kesia-siaan. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah (hanya sia-sia saja). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka…” (Ash-Shood: 27). Termasuk tatkala Alloh memberikan manfaat (kebaikan) atau suatu mudhorot (musibah) pada seseorang, tentunya hal ini juga mengandung hikmah yang agung di dalamnya.

Untuk itu kita harus selalu berhusnuzhon (berprasangka baik) terhadap segala sesuatu yang telah Alloh tetapkan kepada para hamba-Nya agar kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Rahasia di Balik Musibah

Para pembaca yang budiman, tidaklah Alloh menimpakan suatu musibah kepada para hambaNya yang mu’min kecuali untuk tiga hal:

  1. Mengangkat derajat bagi orang yang tertimpa musibah, karena kesabarannya terhadap musibah yang telah Alloh tetapkan.
  2. Sebagai cobaan bagi dirinya.
  3. Sebagai pelebur dosa, atas dosanya yang telah lalu.

Su’udzon Itu Tercela

Su’udzon (berprasangka buruk) pada Alloh merupakan sifat tercela yang harus dijauhi dari diri setiap orang yang beriman karena hal ini merupakan salah satu dari dosa besar. Sikap seperti ini juga merupakan kebiasaan orang-orang kafir dan munafiq. Mereka berprasangka kepada Alloh dengan prasangka yang buruk dan mengharapkan kekalahan dan kehancuran kaum muslimin. Akan tetapi Alloh membalik tipu daya mereka serta mengancam mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan akhirat.

Alloh berfirman yang artinya, “Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Alloh. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Alloh memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (Al-Fath: 6)

Adzab dunia yang akan diterima oleh orang kafir dan munafiq adalah berupa keresahan dan kegelisahan yang melanda hati mereka tatkala melihat keberhasilan kaum muslimin. Adapun adzab akhirat, mereka akan mendapatkan murka Alloh serta dijauhkan dari rahmat Alloh dan dimasukkan ke dalam neraka jahannam yang merupakan sejelek-jelek tempat kembali.

Berprasangka buruk pada Alloh merupakan bentuk cemooh atau ingkar pada takdir Alloh, Misalnya dengan mengatakan “Seharusnya kejadiannya begini dan begitu.” Atau ucapan, “Kok rejeki saya akhir-akhir ini seret terus ya? Lagi apes memang…” serta bentuk ucapan-ucapan yang lain. Banyak orang berprasangka buruk pada Alloh baik yang berkaitan dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Tidak ada yang dapat menghindar dari prasangka buruk ini kecuali bagi orang-orang yang memahami nama dan sifat Alloh. Maka sudah selayaknya bagi orang yang berakal dan mau membenahi diri, hendaklah ia memperhatikan permasalahan ini dan mau bertobat serta memohon ampun terhadap prasangka buruk yang telah ia lakukan.

Jauhi Prasangka Buruk Kepada Alloh

Sikap berburuk sangka merupakan sikap orang-orang jahiliyah, yang merupakan bentuk kekufuran yang dapat menghilangkan atau mengurangi tauhid seseorang. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Alloh seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Alloh.’ Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.’ Katakanlah: ‘Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.’ Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Ali-Imran: 154)

Perlu untuk kita ketahui bersama, berprasangka buruk kepada Alloh dapat terjadi pada tiga hal, yaitu:

  1. Berprasangka bahwa Alloh akan melestarikan kebatilan dan menumbangkan al haq (kebenaran). Hal ini sebagaimana persangkaan orang-orang musyrik dan orang-orang munafik. Alloh berfirman yang artinya, “Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya (terbunuh dalam peperangan, pen) dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” (Al-Fath: 12)Perbuatan seperti ini tidak pantas ditujukan pada Alloh karena tidak sesuai dengan hikmah Alloh janji-Nya yang benar. Inilah prasangka orang-orang kafir dan Neraka Wail-lah tempat mereka kembali.
  2. Mengingkari Qadha’ dan Qadar Alloh yaitu menyatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi di alam ini yang di luar kehendak Alloh dan taqdir Alloh. Seperti pendapat Sekte Qodariyah.
  3. Mengingkari adanya hikmah yang sempurna dalam taqdir Alloh. Sebagaimana pendapat Sekte Jahmiyah dan Sekte Asy’ariyah.

Iman dan tauhid seorang hamba tidak akan sempurna sehingga ia membenarkan semua yang dikabarkan oleh Alloh, baik berupa nama dan sifat-sifat-Nya, kesempurnaan-Nya serta meyakini dan membenarkan janji-Nya bahwa Dia akan menolong agama ini

Untuk itu sekali lagi marilah kita instropeksi diri, apakah kita termasuk orang yang seperti ini (orang gemar berprasangka buruk pada Alloh) sehingga kita dijauhkan dari surga Alloh yang kekal? Kita berdo’a kepada Alloh agar menjauhkan kita semua dari berprasangka buruk kepadaNya. Wallohu a’lam.

***

Penulis: Abu Farhan Wali Sabara

Sumber: https://muslim.or.id/39-janganlah-berburuk-sangka-kepada-allah.html