Berdoa itu wajib?

Dosa karena Tidak Mau Doa

Benarkah klo tidak berdoa itu berdosa? Berarti berdoa itu wajib ya..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak ayat dalam al-Quran yang memerintahkan kita untuk berdoa kepada Allah. diantaranya, Allah berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. al-A’raf: 55)

Bahkan di ayat yang lain, Allah menyebut orang yang tidak mau berdoa sebagai orang sombong. Allah berfiirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang bersikap sombong dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir: 60)

Diantara makna “bersikap sombong dari menyembah-Ku” adalah tidak mau berdoa kepada-Ku.

Artinya, orang yang tidak mau berdoa kepada Allah akan diancam dengan neraka. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 5/296)

Dalam hadis dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

Siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan marah kepadanya. (HR. Turmudzi 3700 dan dishahihkan al-Albani)

Berdasarkan beberapa dalil di atas, hukum doa dapat dirinci menjadi 2:

[1] Dilihat dari doa secara keseluruhan, hukumnya wajib. Artinya, dalam hidup manusia, dia wajib berdoa kepada Allah. jika tidak pernah berdoa sepanjang hidupnya maka dia berdosa.

[2] Dilihat dari satuan doa

Sementara mengenai bentuk doa dan jenis doa, ini hukumnya anjuran dan tidak wajib. Semakin banyak berdoa semakin baik. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 19334)

Dinyatakan dalam Sya’ir,

الله يغضب إن تركت سؤاله وبني آدم حين يسأل يغضب

“Allah murka ketika engkau tidak berdoa kepada-Nya. Dan Bani Adam murka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/125)

Membangun Ketergantungan kepada Allah dengan Doa

Termasuk diantara kebiasaan yang baik adalah membangun ketergantungan kepada Allah. salah satu diantaranya adalah banyak berdoa kepada Allah. sekalipn untuk hal yang kita anggap kecil.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ

Mintalah semua hajat kalian kepada Rab kalian. Sampaipun minta (pertolongan) ketika kalung sandalnya putus.  (HR. Turmudzi 3962, Ibnu Hibban 866)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/28663-berdoa-itu-wajib.html

Amal Jelek, Beban Tanggungan Manusia Di Dunia dan Akherat

AMAL JELEK, BEBAN TANGGUNGAN MANUSIA DI DUNIA DAN AKHERAT

Marilah kita sekali lagi mengingat-ingat kewajiban kita di dunia ini untuk beramal shaleh dan menjauhi segala larangan Allâh Azza wa Jalla. Itulah wujud ketakwaan seorang hamba yang nantinya akan mengantarkan dirinya kepada keselamatan biidznillah. Mengapa perlu ditekankan persoalan ini? Sebab, belakangan ini banyak peristiwa yang menyita perhatian umat –padahal tidak penting bagi dunia maupun agama mereka- sehingga membuat mereka lalai dari kewajiban ini.

Atas dasar itu, marilah kita merenungi firman Allâh Azza wa Jalla berikut ini:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya) [Fushshilat/41:46]

Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa amal shaleh yang dikerjakan oleh seorang manusia yaitu keimanan dan ketaatannya kepada Allâh Azza wa Jalla , pada hakekatnya orang yang melakukannyalah yang memperoleh manfaat positifnya secara langsung, bukan orang lain. Selain mendapatkan pahala dan meningkatkan keimanan, amal shaleh itu juga kian mendekatkan dirinya kepada Rabbnya, jalan menguatkan penghambaan dirinya kepada-Nya dan menjadi perbekalan terbaik di akherat kelak saat kekayaan dan keturunan tidak berguna sama sekali untuk menyelamatkan seseorang dari siksa Allâh Azza wa Jalla yang sangat pedih. Dengan itu, ia akan memperoleh balasan berupa surga dan selamat dari neraka.

Imam Ulama tafsir, Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan bahwa maksudnya adalah orang yang menjalankan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla di dunia dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka sebenarnya ia sedang berbuat baik bagi dirinya sendiri. Sebab dialah yang mendapatkan balasan, sehingga di akherat nanti berhak mendapatkan surga dari Allâh Azza wa Jalla dan selamat dari neraka.[1]

Hal ini juga telah difirmankan Allâh Azza wa Jalla dalam ayat-ayat lain. Di antaranya:

وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

Dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan) [ar-Rûm/30:44]

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ

Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri [an-Naml/27:40]

Amal shaleh yang tertera dalam ayat, disyaratkan harus sejalan dengan ketentuan dan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tidak setiap amalan merupakan amal shaleh. Demikian pula amal-amal yang dianggap baik oleh sebagian orang (kelompok, golongan) dan kemudian dikait-kaitkan dengan ajaran Islam, padahal tidak ada panduan khusus sama sekali dalam Islam, ini pun bukan amal shaleh. Akan tetapi merupakan perkara baru dalam agama yang lazim disebut dengan bid’ah. Tentang ini, Syaikh as-Sa’di rahimahullah menekankan, “(Yang dimaksud amal shaleh) yaitu amal yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya“.[2]


Ketepatan amal dengan perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya tidak bisa ditawar-tawar. Sebab, hal itu berpengaruh kuat dalam diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang. Amal ibadah yang diterima mesti memenuhi dua syarat: ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla dan mengikuti panduan dan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Jika amal shaleh akan berguna bagi pelakunya, sebaliknya amal perbuatan jelek pun pelakunya lah yang pertama dan utama menanggung beban tindakan buruknya itu. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [an-Nisâ /4:111]

Pada ayat yang lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ

Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu [ar-Rûm/30:44]

Balasan buruk tidak hanya dirasakan di akherat kelak, tempat yang Allah jadikan sebagai tempat membalas seluruh amalan para hamba, namun juga menimpa pelakunya di dunia. Ini menyangkut seluruh perbuatan dosa, baik dosa besar maupun kecil. Barang siapa berbuat keburukan (dosa), maka dirinyalah yang memikul hukuman dari kesalahan dan dosanya di dunia dan akherat , bukan tanggungan orang lain.

Allâh Azza wa Jalla tidak merugi bila seluruh manusia tidak taat kepada-Nya. Begitu pula, sebaliknya, keimanan, ketaatan dan ibadah seluruh umat manusia tidak memberi manfaat sedikit pun bagi Allah Yang Maha Kaya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad). Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur [Ali ‘Imraan/3:144]

Pada hadits qudsi, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا عِبَادِيْ إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّيْ فَتَضُرُّوْنِيْ لَنْ وَتَبْلُغُوا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْْنِيْ

Wahai hamba-Ku kamu tidak akan sanggup membahayakan-Ku dan tidak sanggup memberi manfaat kepada-Ku [HR. Muslim]

Jelas sudah, kekuasaan dan keagungan Allâh Azza wa Jalla tidak mengalami penyusutan akibat ketidakpatuhan, kekufuran maupun perbuatan maksiat manusia kepada Allâh Azza wa Jalla . Akan tetapi, Allâh Azza wa Jalla mencintai hamba-hamba-Nya yang taat dan bertakwa kepada-Nya dan benci bila mereka berbuat maksiat dan kekufuran.[3]

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

Baca Juga  Mengkaji dan Menghayati Nama-Nama Serta Sifat-Sifat Allâh Tabaraka Wa Ta’ala
Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu [az-Zumar/39:7]

Dari sini bisa diketahui kesalahan orang-orang yang enggan beribadah dan taat kepada Allah dengan berbagai dalih dan alasan. Ketika rezeki tetap seret, lowongan pekerjaan tak juga kunjung datang, warung masih saja sepi pembeli, usaha tidak maju-maju, akhirnya shalat lima waktu ditinggalkan. Ia berdalih, shalat nggak shalat sama saja, rezeki tetap saja seret. Naûdzubillâh min dzâlik!

Allâh Ta’ala Yang Maha Adil, menafikan sifat kezhaliman dari dzat-Nya baik dalam skala kecil dan besar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّمٍ لِلْعَبِيْدِ

Dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya)

Sifat kezhaliman, siapapun yang melakukannya adalah tercela. Karena merupakan tindakan yang tidak pada tempatnya dan mengandung unsur melampaui batas dan penganiayaan terhadap pihak lain. Atas dasar itulah, Allâh Azza wa Jalla tidak menyiksa seseorang kecuali dengan dosa (yang telah ia perbuat) di dunia ini atau karena ada faktor yang menyebabkan seseorang pantas menerima siksaan-Nya, tidak membebaninya dengan kesalahan dan dosa orang lain. Dan Allâh Azza wa Jalla tidak menyiksa seseorang pun kecuali telah ditegakkan hujjah di hadapannya dan diutus para rasul kepadanya.[4]

Maha Suci Allâh Azza wa Jalla , Rabb yang Maha Agung yang berhak diibadahi, diagungkan dan dibesarkan. Sebab, kalau berkehendak, maka Allâh Azza wa Jalla bisa saja berbuat zhalim yang tidak akan ada seorang pun yang dapat menanghalanginya. Namun, Allâh Azza wa Jalla menyatakan dzat-Nya bersih dari sifat yang sangat tidak terpuji ini. Maka kewajiban seorang Muslim mensucikan dzat-Nya dari sifat kezhaliman dan meyakini bahwa Allâh adalah Dzat Yang Maha Bijak lagi Maha Adil dalam perkara yang Dia perintahkan dan larang [5]. Dan sekaligus selalu berusaha menghindari perbuatan kezhaliman.

Pelajaran Dari Ayat

Perintah untuk berbuat baik
Amal shaleh bermanfaat bagi para pelakunya
Perbuatan buruk menjadi tanggungan pelakunya
Keharusan menahan diri dan meninggalkan buruk (maksiat)
Seseorang tidak menanggung dosa orang lain
Allâh Maha Suci dari sifat kezhaliman (Ustadz Abu Minhal)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]


Footnote
[1] Tafsir ath-Thabari 24/159
[2] At-Taisîr hlm. 822
[3] Qawâid wa Fawâid minal Arba’în an-Nawawiyyah hlm. 218
[4] Silahkan lihat Tafsir ath-Thabari 24/159, Tafsir Ibnu Katsir 7/185, Tafsîr Sa’di hlm. 822
[5] Qawâid wa Fawâid minal Arba’în an-Nawawiyyah hlm. 215
Referensi : https://almanhaj.or.id/3910-amal-jelek-beban-tanggungan-manusia-di-dunia-dan-akherat.html

Penghina Nabi-Nya Pasti Binasa

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menegaskan bahwa Allah akan membela kehormatan Nabi-Nya ketika ada banyak musuh islam yang berusaha menghina dan melecehkan beliau. Berikut diantaranya,

Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (QS. al-Ahzab: 57)

Allah juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (QS. al-Mujadilah: 20).

Surat al-Kautsar & Perjalanan Penghina Nabi

Di akhir surat al-Kautsar, Allah menegaskan,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya setiap orang yang membencimu, dialah orang yang terputus dari segala bentuk kebaikan.” (QS. al-Kautsar: 3)

Ayat ini, meskipun turun berkenaan dengan orang kafir Quraisy yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, al-Ash bin Wail, Uqbah bin Abi Mu’ith, namun hukumnya berlaku umum, bagi setiap manusia yang melecehkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Mufassir (bapak ahli tafsir), at-Thabari mengatakan:

إن الله تعالى ذكره أخبره أن مبغض رسول الله صلّى الله عليه وسلم هو الأقل الأذل المنقطع عقبه، فذلك صفة كل من أبغضه من الناس، وإن كانت الآية نزلت في شخص معين

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dialah orang yang lemah, hina, yang terputus keturunannya. Itu merupakan sifat bagi setiap manusia yang membenci beliau. Meskipun ayat ini turun berkenan dengan orang tertentu.” (Tafsir at-Thabari, 12:726)

Perlindungan Allah ini menjadi tanda kenabian beliau, meskipun beliau sudah meninggal. Seolah telah menjadi sunatullah, setiap orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti celaka dunia akhirat. Dzat Sang Kuasa, tidak rela ketika utusan-Nya dilecehkan para musuhnya.

Berikut beberapa bukti sejarah:

Pertama, semua orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan kafir Quraisy, mati dalam kondisi mengenaskan. Abu Lahab mati dalam keadaan mengidap penyakit Adasah, badannya mengeluarkan bau yang sangat busuk. Sampai tidak ada satupun keluarganya yang mau mendekatinya. Dia dimandikan dengan disiram air dari jauh. Dan ketika dikuburkan, orang-orang melempari tanah dan batu ke lubang kuburnya dari jauh.

Utbah bin Abu Lahab pernah menarik baju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian meludahi wajah beliau yang mulia. Akhirnnya di suatu perjalanan, kepalanya diterkam singa, padahal dia sudah berlindung di tengah kerumunan rombongannya.

Abu Jahal dipenggal kepalanya oleh Ibnu Masud di kerumunan bangkai orang kafir yang berserakan ketika perang badar, setelah dia dijatuhkan dengan serangan putra Afra dan Muadz bin Amr bin Jamuh.

Kisah-kisah lain semacam ini, banyak disebutkan di buku-buku sirah.

Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim surat ajakan untuk masuk Islam kepada dua raja yang menguasai dunia ketika itu. Kaisar (raja Romawi) dan Kisra (raja Persia). Keduanya tidak menerima ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dengan sikap yang berbeda. Raja Romawi menghormati surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memuliakan orang yang membawa surat itu.

Sebagai balasannya, kerajaannya tetap dijaga. Bahkan sampai abad 15, kerajaan Romawi masih ada.

Berbeda dengan raja Persia. Dia merobek-robek surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hasilnya, kerajaannya runtuh di zaman Umar bin Khattab. Betapa pendek usianya.

Ketiga, dalam banyak kesempatan, ketika kaum muslimin hendak menaklukkan musuhnya, mereka baru berhasil, setelah ada diantara musuh mereka yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diceritakan Syaikhul Islam:

وقد كان المسلمون إذا حاصروا أهل حصن واستعصى عليهم ، ثم سمعوهم يقعون في النبي صلى اللّه عليه وسلَّم ويسبونه ، يستبشرون بقرب الفتح ، ثم ما هو إلا وقت يسير ، ويأتي الله تعالى بالفتح من عنده انتقاماً لرسوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dulu ada sekelompok kaum muslimin yang mengepung benteng musuh (orang kafir) dan berusaha menyerang mereka. Sampai mereka mendengar ada sebagian musuh yang mencela kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghina beliau. Seketika itu, kaum muslimin langsung bergembira dengan dekatnya kemenangan yang akan segera datang. Kemudian hanya dalam waktu yang singkat, Allah memberikan kemenangan, karena murka-Nya untuk membela utusan-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (ash-Sharim al-Maslul, hlm. 116).

Tidak Hanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Janji ini tidak hanya beliau berikan untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam semata. Bahkan, Allah memberi janji inni untuk semua nabi dan rasul yang menjadi utusan-Nya. Allah berfirman,

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

Sungguh beberapa rasul sebelum kamu telah diperolok-olok, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) karena penghinaan mereka. (QS. al-An’am: 10)

Jika kita tidak bisa bertindak apapun untuk membalas mereka secara langsung, jangan lupakan dalam doa anda, sebagai pembelaan untuk Nabi kita tercinta.

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/24223-penghina-nabi-nya-pasti-binasa.html

Sebab lemahnya kaum muslimin

Kaum muslimin, yang semoga dirahmati Allah. Keadaan umat Islam saat ini begitu memprihatinkan. Di hadapan musuh-musuh mereka, umat ini terus mengalami kekalahan, ketertinggalan dan penindasan. Negeri-negeri kaum muslimin dirampas begitu saja oleh musuh-musuh mereka. Dalam tubuh umat islam sendiri, mereka saling berselisih dan berpecah belah. Apa sebab lemahnya kaum muslimin saat ini dan bagaimana pemecahan masalah tersebut?

Tulisan di bawah ini akan memberikan penjelasan tentang sebab utama kemunduran dan kelemahan umat Islam saat ini yang disarikan (dengan sedikit tambahan) dari tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Baz -seorang ulama besar/mufti di Saudi Arabia- yang berjudul Asbabu Dho’fil Muslimin Amama ’Aduwwihim Wal ’Ilaaju Lidzalik. Semoga Allah merahmati beliau dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi umat untuk memperbaiki keadaan mereka saat ini.

Penyakit yang Menimpa Umat Islam Saat Ini

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah. Perlu diketahui bahwa sebab kelemahan, ketertinggalan, dan kekalahan kaum muslimin saat ini di hadapan musuh mereka, semuanya kembali pada satu sebab yang akan bercabang ke sebab yang lain. Sebab utama tersebut adalah kebodohan yaitu jahil (bodoh) terhadap Allah, agama-Nya dan berbagai hukum syar’i. Ilmu agama semacam ini telah banyak ditinggalkan oleh umat saat ini. Ilmu ini sangat sedikit dipelajari, sedangkan kebodohan malah semakin merajalela.

Kebodohan merupakan penyakit yang mematikan, dapat mematikan hati dan perasaan, juga melemahkan anggota badan dan kekuatan. Pengidap penyakit ini bagaikan hewan ternak, hanya menyukai syahwat, farji (kemaluan) dan perut. Kebodohan sungguh telah melemahkan hati, perasaan, dan keyakinan kaum muslimin dan akan menjalar ke anggota tubuh mereka yang lain yang membuat mereka lemah di hadapan musuh mereka (Yahudi dan Nashrani).

Mengapa Penyakit Utama Lemahnya Kaum Muslimin adalah Kebodohan?!

Yang menunjukkan bahwa sebab terbesar adalah jahl (bodoh) terhadap Allah, agama-Nya, dan syari’at-Nya -yang seharusnya seseorang berpegang teguh dan mengilmui tiga hal tersebut- yaitu sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang artinya,”Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah akan memahamkannya dalam perkara agama.” (HR. Bukhari & Muslim). Maka dari sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ini, menunjukkan bahwa di antara tanda Allah akan memberikan kebaikan dan kebahagiaan bagi individu, bangsa, negara yaitu Allah akan memahamkan mereka ilmu din (agama). Berarti dengan memahami agama ini dengan mengenal Allah, Rasul-Nya, dan Syari’at-Nya, individu maupun bangsa akan diberikan oleh Allah berbagai bentuk kebaikan. Dan bodoh tentang hal ini akan membuat kaum muslimin jauh dari kebaikan, sehingga membuat mereka lemah di hadapan musuh mereka.

Di samping itu Al Qur’an juga mencela kebodohan dan orang-orang yang bodoh dan memerintahkan mewaspadainya. Seperti dalam firman Allah Ta’ala yang artinya,”Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al An’am: 111). Juga firman Allah yang artinya,”Dan kebanyakan mereka tidak mengerti” (Al Ma’idah: 103)

Penyakit Cinta Dunia dan Takut Mati

Sebab lain yang menyebabkan kaum muslimin lemah dan tertinggal dari musuh-musuh mereka adalah cinta dunia dan takut mati. Sebab ini muncul karena sebab utama di atas yaitu bodoh terhadap agama Allah.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian adalah sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (Shohih, HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dalam hadits ini terlihat bahwa penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) akan menimpa dan berada dalam hati-hati mereka. Mereka tidak mampu untuk menggapai kedudukan yang mulia dan tidak mampu pula untuk berjihad fii sabilillah serta menegakkan kalimat Allah. Hal ini disebabkan kecintaan mereka pada dunia dan kesenangan di dalamnya seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan selainnya. Mereka begitu bersemangat mendapatkan kesenangan seperti ini dan takut kehilangannya, sehingga mereka meninggalkan jihad fii sabilillah.  Begitu juga mereka menjadi bahil (kikir)  sehingga mereka enggan untuk membelanjakan harta mereka kecuali untuk mendapatkan berbagai kesenangan di atas.

Penyakit wahn ini telah merasuk dalam hati kaum muslimin kecuali bagi yang Allah kehendaki dan ini jumlahnya sedikit sekali. Kaum muslimin secara umum telah menjadi lemah di hadapan musuh mereka. Rasa takut telah hilang dari hati musuh mereka sehingga mereka tidak merasa takut dan khawatir terhadap kaum muslim karena mereka telah mengetahui kelemahan kaum muslimin saat ini. Semua hal ini terjadi disebabkan kebodohan yang menyebabkan rasa tamak kaum muslimin pada dunia sehingga kaum kafir (musuh kaum muslimin) menggerogoti mereka dari segala penjuru walaupun jumlah mereka banyak tetapi jumlah ini hanya bagaikan sampah-sampah yang dibawa air hujan yang tidak bernilai apa-apa.

Obat Mujarab untuk Menyembuhkan Penyakit yang Menimpa Kaum Muslimin

Setelah mengetahui berbagai penyakit yang menyebabkan kaum muslimin menjadi lemah di hadapan kaum kafir (Yahudi dan Nashrani) yang disebabkan kebodohan sebagai sebab utama. Maka obat mujarab untuk mengobati penyakit ini, tidak lain dan tidak bukan kecuali menuntut ilmu dan memahami agama ini. Dengan melakukan hal ini mereka akan mendahulukan ridho Allah daripada murka-Nya, bersegera dalam melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya serta segera bertaubat dari dosa yang telah dilakukan pada masa lampau. Dengan hal ini pula mereka akan segera melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi musuh mereka sebagaimana yang Allah perintahkan pada firman-Nya yang artinya,”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. (Al Anfaal: 60). Allah memerintahkan dalam ayat ini untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musuh sesuai dengan kemampuan kaum muslimin. Allah tidak memeritahkan kaum muslimin untuk mempunyai perlengkapan yang sama kuatnya dengan musuh mereka.

Tolonglah Agama Allah, Niscaya Allah akan Menolongmu

Apabila kaum muslimin menghadapi musuh mereka sesuai dengan kemampuan mereka dalam rangka menolong agama Allah, maka Allah akan menolong mereka dan akan menjadikan mereka unggul di atas musuh mereka (dan bukan ditindas oleh musuh). Allah yang Maha Memenuhi Janjinya telah berfirman yang artinya,”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7). Dan Allah tidaklah lemah untuk menolong hamba-Nya, akan tetapi Allah menguji di antara mereka dengan kejelakan agar diketahui siapa yang jujur atau dusta. Allah Maha Mampu untuk menolong wali-Nya dan untuk menghancurkan musuh-Nya tanpa perang, jihad, atau tanpa menyiapkan persenjataan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Demikianlah apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain”. (Muhammad: 4)
Tatkala perang badar kaum muslimin pada saat itu hanya berjumlah  310-an. Persenjataan dan tunggangan pun sedikit (hanya ada 70 unta dan 2 kuda). Sedangkan pasukan kafir (musuh kaum muslimin) berjumlah sekitar seribu pasukan dan memiliki kekuatan yang besar serta persenjataan yang lengkap. Namun, jumlah, senjata dan kekuatan orang kafir ini tidak bermanfaat bagi mereka. Allah mengalahkan musuh yang memiliki kekuatan besar tersebut yang Allah kisahkan dalam firman-Nya yang artinya,”Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 126). Pertolongan tersebut dari sisi Allah, akan tetapi Allah menjadikan pertolongan tersebut dari para malaikat. Persenjataan, harta, dan bala bantuan yang Allah berikan ini merupakan sebab pertolongan, kabar gembira, dan ketenangan yang Allah berikan.

Menolong Agama Allah adalah dengan Melakukan Amal Sholih

Menolong agama Allah adalah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi laranga-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.”(Al Hajj: 40-41). Dari ayat ini terlihat jelas bahwa sebab terbesar datangnya pertolongan Allah adalah dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya. Di antara bentuk mentaati Allah dan Rasul-Nya adalah dengan mempelajari dan memahami agama ini.

Dari tulisan ini jelaslah sebab lemahnya kaum muslimin yaitu keengganan untuk mempelajari agama ini dan keengganan untuk melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika memang penguasa kaum muslimin dan para ulama betul-betul jujur dalam berdakwah, hendaklah mereka mengajak umat untuk melakukan berbagai bentuk amal sholih yaitu menegakkan shalat, menunaikan zakat, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan hendaklah mereka mengajak umat Islam untuk mempelajari dan memahami agama agar mereka dapat mengenal Allah, Nabi-Nya, dan syari’at agama yang mulia ini.

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin saat ini dan memperbaiki ulil amri (penguasa dan ulama). Semoga Allah memberikan kaum muslimin bashiroh (ilmu dan keyakinan). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/78-sebab-lemahnya-kaum-muslimin.html

Boleh jadi apa yang engkau benci itu baik bagimu

Boleh jadi apa yang engkau benci, itu baik bagimu. Percayalah ketetapan dan hukum Allah itulah yang terbaik.

Renungan Ayat Pilihan: Surah Al-Baqarah ayat 216

Allah Ta’ala berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan bahwa ayat ini mewajibkan untuk berperang di jalan Allah. Sebelumnya orang-orang beriman tidak diperintahkan untuk berperang dikarenakan kelemahan dan ketidakmampuan mereka untuk berperang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah dan kaum muslimin semakin banyak, Allah memerintahkan mereka untuk berperang. Hal ini tidak disukai mereka karena pasti akan merasakan letih, capek, penuh kekhawatiran, dan takut ada yang binasa. Padahal di balik itu ada kebaikan yang banyak. Di dalam jihad ada pahala yang besar. Juga dengan berjihad akan menyelamatkan dari siksa yang pedih. Dengan berjihad akan meraih kemenangan atas musuh dan juga akan mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang). Boleh jadi yang kita suka, malah itu jelek bagi kita. Yaitu kita suka untuk tidak pergi berjihad dan ingin rehat. Padahal seperti itu akan mengakibatkan kehinaan, musuh akhirnya menguasai Islam, dan menindas kaum muslimin, juga kita akan luput dari pahala yang besar, serta mendapatkan hukuman yang pedih. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 87)

Allah yang lebih mengetahui akibat terbaik setiap perkara. Allah yang Mahatahu yang paling maslahat untuk unrusan dunia dan akhirat kita. Sedangkan kita sendiri tidak mengetahui yang terbaik dan yang jelek untuk kita. (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 348-349)

Faedah dari Ayat

  1. Jihad memang tidak disukai oleh jiwa karena banyaknya kesulitan di dalamnya. Akan tetapi orang yang beriman dan iman itu jujur menyukai jihad karena di dalamnya terdapat keutamaan yang besar. Orang yang berjihad berarti telah mendahulukan ridha Allah dari jiwa dan hartanya.
  2. Secara tabiat manusia benci dengan peperangan. Akan tetapi orang yang beriman selalu ridha dengan hukum syar’i yang Allah wajibkan. Walau orang beriman merasa berat namun ia tidak membenci hukum jihad selamanya.
  3. Kita diajarkan ridha kepada takdir. Boleh jadi manusia benci pada ketetapan Allah, namun di balik itu ada kebaikan yang banyak.
  4. Hendaknya kita ridha kepada takdir Allah yang dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan.
  5. Manusia tidak mengetahui hal ghaib, tentang yang terbaik atau jelek baginya di masa akan datang.
  6. Hendaklah seorang hamba beradab kepada Allah, hendaklah ia tidak memaksa pilihannya kepada Allah. Kita bisa mencontoh dalam doa istikharah disebutkan, “Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak.”
  7. Kita harus meyakini bahwa semua syariat Allah di dalamnya ada kebaikan dan maslahat.

Semoga Allah memberikan faedah dan ilmu yang bermanfaat.

Referensi:

  1. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  2. Tafsir Az-Zahrawain. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obekan.

—

Disusun @ Darush Sholihin, 8 Ramadhan 1439 H, bada Ashar

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/17575-renungan-25-boleh-jadi-apa-yang-engkau-benci-itu-baik-bagimu.html

Kondisi Hati yang Dihuni oleh Tauhid

Tauhid merupakan nikmat terbesar yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada seorang hamba. Di awal surah an-Nahl yang juga dinamakan dengan surah an-Ni’am (berbagai kenikmatan), Allah Ta’ala berfirman,

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” (QS. An-Nahl: 2)

Inilah kenikmatan pertama yang disebutkan dalam surah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa taufik untuk bertauhid merupakan kenikmatan terbesar yang dianugerahkan oleh Allah kepada seorang hamba. Sufyan bin Uyainah rahimahullah menyatakan,

مَا أنْعَمَ الله على العِبادِ نِعْمَةً أعْظَمَ من أنْ عرّفَهُم لا إلَهَ إلّا الله

“Tidak ada kenikmatan yang dianugerahkan Allah kepada hamba melebihi anugerah makrifat (ilmu) terhadap esensi kalimat tauhid laa ilaha illallah.” (Lihat Kalimat al-Ikhlas, hal. 53; karya Ibnu Rajab)

Hati merupakan hunian (tempat tinggal) bagi tauhid, mahabbah (rasa cinta), dan keimanan. Cahaya tauhid akan menyucikan hati, karena tauhid yang terpatri di dalam hati mengandung pengingkaran terhadap penyembahan yang batil kepada selain Allah dan penetapan adanya penyembahan yang hak (benar) hanya kepada Allah saja. Inilah intisari dan esensi dari kalimat tauhid “laa ilaha illallah” serta merupakan perkara terbaik yang diperoleh dan dicapai oleh hati dan jiwa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan,

قِيلَ يا رَسولَ اللَّهِ مَن أسْعَدُ النَّاسِ بشَفَاعَتِكَ يَومَ القِيَامَةِ؟ قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: لقَدْ ظَنَنْتُ يا أبَا هُرَيْرَةَ أنْ لا يَسْأَلُنِي عن هذا الحَديثِ أحَدٌ أوَّلُ مِنْكَ لِما رَأَيْتُ مِن حِرْصِكَ علَى الحَديثِ أسْعَدُ النَّاسِ بشَفَاعَتي يَومَ القِيَامَةِ، مَن قالَ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِن قَلْبِهِ، أوْ نَفْسِهِ

“Terdapat satu pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini. Karena aku melihat Engkau sangat tertarik terhadap hadis. Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan “laa ilaaha illallah” dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR. Bukhari no. 99)

Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Setiap orang yang meninggal dan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari hati, niscaya dia masuk surga.” (HR. Ahmad no. 22003, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 2278)

Tauhid inilah yang menjadi tujuan utama penciptaan makhluk dan menjadi misi utama diutusnya para rasul, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُۗ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl:36)

Keberadaan tauhid akan menjadikan hati mampu hidup dengan kehidupan yang hakiki. Sebaliknya, tanpa tauhid, hati akan “hidup” layaknya binatang ternak. Allah Ta’ala berfirman,

أِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqan: 44)

Oleh karena itu, seorang yang tidak bertauhid itu seperti seonggok mayat, meskipun ia hidup dan berjalan di atas muka bumi. Sedangkan seorang yang bertauhid akan menjalani hidup dengan kehidupan yang hakiki. Allah Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْۖ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfal: 24)

Keamanan dalam negara, ketenteraman, dan kebahagiaan bagi manusia juga terwujud dengan keberadaan tauhid. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًاۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًاۚ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (QS. An-Nur: 55)

Kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman jiwa pun terwujud dengan keberadaan tauhid. Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةًۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Setiap orang yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ ؛ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124)

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk mentauhidkan-Nya, melakukan setiap amal perbuatan yang dicintai dan diridai-Nya. Semoga Allah menghimpun hati kita di atas agama yang Dia ridai dan agama yang dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

***

“Menulis adalah nasihat untuk diri sendiri”

@BA, 20 Syawal 1445/ 29 April 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 18; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Sumber: https://muslim.or.id/93497-kondisi-hati-yang-dihuni-oleh-tauhid.html
Copyright © 2025 muslim.or.id