Hartamu Habis di Mana? Nasihat Ibnul Qayyim tentang Harta

Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?

Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah ketika beliau menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.

Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup

Bekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.

Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:

الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!

“Golongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?”

Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:

Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.

Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah?

Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?

Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.

“Harta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah budak dinar dan dirham….’ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.”

Ini merupakan poin ke-12, “Ilmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Dunia”.

Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa harta yang kita miliki?” Namun juga, “Siapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?”

Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.

Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya.

Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:

أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.

“Cinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.”

Ini terdapat pada poin ke-13, “Ilmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukan”.

Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ḥubbud-dunyā, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.

Maka kaidahnya:

Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.

Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan.

Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.

“Tidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.”

Ini terdapat pada poin ke-17, “Ilmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiat”.

Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.

Karena itu:

Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?

Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa.

Hartamu Diam-Diam Berdakwah

Cara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.

“Seorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.”

Ini dibahas pada poin ke-18, “Ilmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Dunia”.

Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.

Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.

Karena itu:

Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia.

Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas

Ada satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:

أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.

“Pemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.”

Ini adalah poin ke-23, “Ilmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepas”.

Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:

Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.

Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.

Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:

Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu?

Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.

“Kekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.”

Ini terdapat pada poin ke-24, “Ilmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutan”.

Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.

Maka:

Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya.

Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki

Inilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema “Hartamu Habis di Mana?”

Beliau berkata:

أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.

فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.

وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.

“Mengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.

Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.

Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.”

Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:

وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟

“Adapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:

Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?

Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, “Ilmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnya”.

Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:

Dari mana datangnya? Ke mana perginya?

Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.

Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.

Habis untuk apa?

Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:

أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.

وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِكَ، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.

“Hati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.

Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.”

Ini terdapat pada poin ke-39, “Ilmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakan”.

Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.

Maka kaidahnya:

Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.

Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang

Puncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:

أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.

وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.

فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.

“Kadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.

Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.

Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.

Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.

Ini merupakan poin ke-40, “Ilmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalang”, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. 

Kalimat ini sangat dalam:

Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik.

Jadi, Hartamu Habis di Mana?

Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.

Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.

Maka bukan semata “berapa banyak yang habis?”, tetapi:

“Untuk apa ia habis?”

Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.

Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya.

Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta

Dari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:

  1. Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.
  2. Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.
  3. Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.
  4. Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.
  5. Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.
  6. Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.
  7. Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.
  8. Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.
  9. Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.
  10. Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya.

Nasihat Terakhir

Hari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.

Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.

Allāhumma innī as’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.”

—–

Jumat Pagi, 18 September 2026 @ Palembang

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42857-hartamu-habis-di-mana-nasihat-ibnul-qayyim-tentang-harta.html