Bahaya Meremehkan Dosa, Saat Maksiat Terasa Biasa

Dosa yang paling mengkhawatirkan bukan hanya dosa yang dilakukan, tetapi dosa yang lama-kelamaan tidak lagi terasa sebagai dosa. Maksiat yang terus diulang dapat membuat hati terbiasa, rasa takut menghilang, bahkan pelakunya mulai menganggap ringan apa yang sebenarnya berat di sisi Allah. Mengapa seseorang bisa sampai pada keadaan seperti ini, dan bagaimana para salaf memandang dosa mereka?
Ibnul Qayyim: Dosa Terus Diulang Hingga Terasa Ringan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَمِنْهَا: أَنَّ الْعَبْدَ لَا يَزَالُ يَرْتَكِبُ الذَّنْبَ حَتَّى يَهُونَ عَلَيْهِ وَيَصْغُرَ فِي قَلْبِهِ، وَذَلِكَ عَلَامَةُ الْهَلَاكِ، فَإِنَّ الذَّنْبَ كُلَّمَا صَغُرَ فِي عَيْنِ الْعَبْدِ عَظُمَ عِنْدَ اللَّهِ.

“Di antara dampak maksiat adalah seorang hamba terus melakukan dosa hingga dosa itu terasa ringan baginya dan menjadi kecil dalam hatinya. Hal tersebut merupakan tanda kebinasaan. Sebab, semakin kecil dosa itu dalam pandangan seorang hamba, semakin besar dosa tersebut di sisi Allah.”

(Lihat Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 91 pada cetakan yang dirujuk).

Ini menunjukkan bahwa maksiat mempunyai dampak lanjutan. Dosa bukan hanya tercatat sebagai kesalahan, tetapi dapat merusak cara hati menilai kesalahan. Awalnya takut, kemudian terbiasa; awalnya malu, kemudian berani; awalnya merasa bersalah, kemudian mencari pembenaran.

Mukmin Melihat Dosanya Seperti Gunung

Ibnul Qayyim rahimahullah kemudian membawakan perkataan ‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ.

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ia khawatir akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya.”

(HR. Bukhari, no. 6308). Rumaysho.Com juga membawakan atsar ini dalam pembahasan tentang dosa kecil yang bisa menjadi besar.

Perbedaannya bukan berarti seorang mukmin sama sekali tidak pernah terjatuh dalam dosa. Seorang mukmin dapat berbuat salah, tetapi hatinya tidak nyaman dengan kesalahan tersebut. Ia takut, menyesal, dan ingin segera kembali kepada Allah.

Adapun orang fajir menggambarkan hati yang sudah kehilangan kepekaan. Dosa lewat begitu saja seperti lalat yang hinggap, lalu diusir tanpa meninggalkan kegelisahan berarti.

Mengapa Orang Bisa Sampai Meremehkan Dosa?

1. Lemahnya pengagungan kepada Allah

Salah satu akar terbesar meremehkan dosa adalah lemahnya pengagungan kepada Allah dalam hati.

Bilal bin Sa‘d rahimahullah berkata,

لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيئَةِ، وَلَكِنِ انْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ.

“Janganlah engkau melihat kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”

Perkataan ini benar berasal dari Bilal bin Sa‘d, bukan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayatnya disebutkan dalam karya-karya ulama salaf.

Maka pertanyaan seorang mukmin bukan hanya, “Seberapa kecil dosa ini?” Akan tetapi, “Kepada siapa aku sedang bermaksiat?”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah juga berkata,

بِقَدْرِ مَا يَصْغُرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغُرُ عِنْدَ اللَّهِ.

“Seukuran dosa itu terasa kecil dalam pandanganmu, sebesar itulah ia menjadi besar di sisi Allah. Dan seukuran dosa itu terasa besar dalam pandanganmu, sebesar itulah ia menjadi kecil di sisi Allah.”

Semakin hidup rasa takut kepada Allah, semakin berat dosa terasa dalam hati.

2. Dosa terus diulang hingga menjadi kebiasaan

Inilah perkara yang secara khusus diperingatkan Ibnul Qayyim.

Allah Ta‘ala berfirman,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ.

“Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan satu dosa, ditorehkan satu titik hitam pada hatinya. Jika ia meninggalkan dosa tersebut, memohon ampun, dan bertobat, hatinya kembali dibersihkan. Namun, jika ia kembali berbuat dosa, titik itu ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ar-rān yang disebutkan oleh Allah.”

(HR. Tirmidzi, no. 3334; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubrā; dan Ibnu Hibban. Hadis ini dinilai hasan).

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan keadaan tersebut sebagai dosa yang ditumpuk di atas dosa hingga hati menjadi buta. Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa maksiat membuat hati berkarat; jika terus bertambah, karat tersebut menjadi rān, kemudian penutup, kunci, dan segel hati.

Maka prosesnya dapat digambarkan seperti ini:

berbuat dosa → merasa bersalah → mengulang dosa → rasa bersalah berkurang → terbiasa → menganggapnya biasa → akhirnya meremehkannya.

Yang menakutkan bukan hanya bertambahnya jumlah dosa, tetapi rusaknya alat untuk mendeteksi dosa, yaitu hati.

3. Menganggap dosa kecil tidak berbahaya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ.

“Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa yang dianggap remeh karena dosa-dosa tersebut akan berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan tentang sekelompok orang yang singgah di tanah lapang. Satu orang membawa sebatang kayu, yang lain membawa sebatang kayu, hingga kayu-kayu kecil itu terkumpul dan dapat digunakan untuk menyalakan api besar.

(HR. Ahmad, no. 3818. Sanadnya dinilai sahih oleh Ahmad Syakir).

Dorar.net menjelaskan bahwa muhaqqarāt adz-dzunūb adalah dosa yang tidak dipedulikan seseorang karena dianggap kecil. Padahal dosa-dosa kecil dapat berkumpul, saling menyeret, bahkan menjadi jalan menuju dosa yang lebih besar.

Karena itu, jangan mudah berkata,

“Cuma sekali.”

“Cuma melihat.”

“Cuma komentar.”

“Cuma bercanda.”

“Cuma sedikit berbohong.”

“Tidak separah orang lain.”

Ukuran bahayanya dosa tidak hanya terletak pada apa yang dilakukan, tetapi juga kepada siapa kita durhaka.

4. Lalai terhadap akhirat dan panjang angan-angan

Orang yang merasa hidupnya masih panjang akan lebih mudah menunda tobat.

Allah Ta‘ala berfirman,

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan mereka, maka kelak mereka akan mengetahui.”
(QS. Al-Hijr: 3)

Islamweb memasukkan الْغَفْلَةُ وَطُولُ الْأَمَلِ, yaitu kelalaian dan panjang angan-angan, sebagai sebab lemahnya iman. Seseorang terus sibuk dengan dunia dan semakin banyak berpaling dari akhirat.

Ia berkata, “Nanti kalau sudah tua saya bertobat,” atau, “Masih ada waktu.”

Padahal tidak seorang pun mengetahui kapan ajal datang.

5. Merasa aman dengan ampunan Allah sambil terus bermaksiat

Kalimat, “Allah Maha Pengampun,” adalah benar. Namun, kebenaran tersebut tidak boleh digunakan sebagai pembenaran untuk terus melakukan dosa.

Seorang mukmin harus menggabungkan antara berharap dan takut. Ia berharap kepada rahmat Allah sambil bertobat, bukan berharap kepada ampunan Allah sambil sengaja menetap dalam maksiat.

Islamweb bahkan menjelaskan bahwa terus bermaksiat sambil bersandar kepada ampunan Allah merupakan jalan yang berbahaya. Ibnul Qayyim mengkritik orang yang bergantung kepada rahmat dan ampunan Allah, tetapi mengabaikan perintah serta larangan-Nya.

Allah Ta‘ala justru memuji orang bertakwa dengan firman-Nya,

وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan mereka tidak terus-menerus melakukan apa yang telah mereka kerjakan, sedang mereka mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran: 135)

6. Maksiat sudah biasa diceritakan dan dipamerkan

Ketika dosa terus diceritakan, ditampilkan, dijadikan candaan, bahkan dibanggakan, rasa malu perlahan hilang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ.

“Seluruh umatku mendapatkan ‘afiyah kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan maksiat.”

Di antara bentuk terang-terangan tersebut adalah seseorang melakukan maksiat pada malam hari dalam keadaan Allah telah menutupinya, lalu pada pagi hari ia sendiri menceritakan perbuatannya kepada orang lain.

(HR. Bukhari, no. 6069; Muslim, no. 2990).

Pada awalnya seseorang mungkin malu diketahui orang melakukan dosa. Namun, setelah maksiat dianggap biasa, dosa justru dapat berubah menjadi bahan cerita, unggahan, candaan, bahkan kebanggaan.

Ini menunjukkan kerusakan lain: dosa tidak lagi membuatnya malu.

7. Tidak merasakan hukuman dosa secara langsung

Ada orang berbuat maksiat, tetapi tubuhnya tetap sehat. Rezekinya masih lancar. Kariernya tetap naik. Kehidupannya tampak nyaman.

Akhirnya ia berpikir, “Ternyata tidak terjadi apa-apa.”

Padahal hukuman maksiat tidak selalu berupa musibah lahiriah yang langsung terlihat.

Ibnul Qayyim menyebutkan di antara dampak maksiat adalah kegelapan hati, kehilangan kenikmatan taat, semakin kuatnya dorongan untuk bermaksiat, melemahnya keinginan bertobat, hingga hilangnya rasa buruk terhadap maksiat.

Boleh jadi hukuman yang paling berat justru ketika seseorang tidak lagi merasa bahwa dirinya sedang dihukumkarena hatinya makin jauh dari Allah.

8. Standar dosa berubah karena mengikuti lingkungan

Apa yang biasa dilakukan banyak orang belum tentu menjadi ringan dalam syariat.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُوبِقَاتِ.

“Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan berbagai amalan yang menurut pandangan kalian lebih tipis daripada rambut. Padahal pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu kami menganggapnya termasuk perkara yang membinasakan.”

(HR. Bukhari, no. 6492).

Ini menunjukkan perbedaan standar hati.

Semakin kuat iman seseorang, semakin besar kehati-hatiannya terhadap maksiat. Namun, ketika suatu dosa telah menjadi budaya, kebiasaan masyarakat, tontonan sehari-hari, atau sesuatu yang terus dilakukan lingkungan sekitar, seseorang dapat kehilangan sensitivitas terhadap dosa tersebut.

Ukuran halal dan haram akhirnya bukan lagi wahyu, tetapi, “Semua orang juga melakukannya.”

Ketika Dosa Terasa Ringan, Padahal Besar di Sisi Allah

Allah Ta‘ala berfirman dalam kisah hadītsul-ifk,

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“Kalian menganggapnya suatu perkara yang ringan, padahal di sisi Allah perkara itu besar.”
(QS. An-Nur: 15)

Ayat tersebut secara khusus berkaitan dengan tuduhan dusta kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Namun, di dalamnya terdapat pelajaran penting bahwa sesuatu yang dianggap ringan oleh manusia bisa jadi sangat berat di sisi Allah.

Begitu pula dalam urusan lisan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ.

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, ia tidak menganggapnya penting, tetapi karena kalimat tersebut ia terjerumus ke dalam Jahannam.”

(HR. Bukhari, no. 6478; Muslim juga meriwayatkan hadis semakna).

Betapa banyak ucapan hari ini dianggap “sekadar komentar”, “hanya bercanda”, “cuma konten”, atau “sekadar cerita”, padahal bisa jadi sangat berat dalam timbangan Allah.

Orang Bertakwa Bukan Berarti Tidak Pernah Berdosa

Allah Ta‘ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka—dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?—dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran: 135)

Ayat ini memberikan harapan.

Orang bertakwa bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, ketika terjatuh, ia mengingat Allah, beristigfar, bertobat, dan tidak sengaja memilih menetap dalam dosanya.

Bedanya dapat digambarkan:

Orang bertakwa jatuh lalu bangkit.

Adapun orang yang dikuasai maksiat jatuh, lalu lama-lama merasa nyaman berada di tempat jatuhnya.

Apakah Dosa Kecil Menjadi Besar karena Terus Dilakukan?

Ada ungkapan yang terkenal,

لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ، وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ.

“Tidak ada dosa besar bersama istigfar, dan tidak ada dosa kecil bersama sikap terus-menerus dalam dosa.”

Perlu diluruskan: ungkapan ini tidak sahih sebagai hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat marfū‘-nya dinilai lemah. Rumaysho.Com juga telah memberikan catatan tentang kelemahan riwayat tersebut.

Namun, maknanya mengenai bahayanya iṣrār didukung oleh perkataan para ulama.

Imam An-Nawawi rahimahullah menukil,

قَالَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللَّهُ: وَالْإِصْرَارُ عَلَى الصَّغِيرَةِ يَجْعَلُهَا كَبِيرَةً.

“Para ulama rahimahumullah berkata, ‘Terus-menerus melakukan dosa kecil menjadikannya dosa besar.’”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa iṣrār bukan sekadar hitungan berapa kali dosa dilakukan. Di antara maknanya adalah tekad hati untuk kembali melakukan kemaksiatan. Jika seseorang berbuat dosa kecil, bertobat dengan sungguh-sungguh, kemudian suatu ketika tergelincir lagi, keadaannya tidak sama dengan orang yang sejak awal hatinya bertekad terus melanjutkan maksiat.

Karena itu, jangan memahami masalah ini hanya secara matematis. Yang sangat berbahaya adalah ketika hati telah berdamai dengan maksiat, berniat mempertahankannya, tidak menyesalinya, dan tidak ingin meninggalkannya.

Dosa Kecil Bisa Menjadi Besar

Beberapa keadaan yang menyebabkan dosa kecil menjadi semakin berat, di antaranya ketika dosa dilakukan terus-menerus, diremehkan, ditampakkan secara terang-terangan, atau dilakukan oleh orang yang menjadi panutan sehingga kemudian diikuti orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barang siapa mencontohkan suatu jalan keburukan dalam Islam kemudian diamalkan setelahnya, dicatat baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

(HR. Muslim, no. 1017).

Karena itu, seseorang yang mempunyai pengaruh—orang tua, guru, ustaz, tokoh masyarakat, pemimpin, atau figur di media sosial—perlu lebih berhati-hati. Kesalahan yang kemudian ditiru orang lain dapat melahirkan dosa yang terus berjalan.

Sebaliknya, orang yang menjadi sebab tersebarnya kebaikan juga memperoleh pahala dari orang yang mengikuti kebaikan tersebut.

Tahapan Berbahaya Sampai Dosa Tidak Lagi Terasa Salah

Meremehkan dosa biasanya melalui proses.

  1. Awalnya seseorang melakukan dosa dan merasa takut.
  2. Kemudian dosa itu dilakukan lagi, tetapi rasa bersalah mulai berkurang.
  3. Setelah itu maksiat terasa biasa.
  4. Lalu ia mulai mencari alasan untuk membenarkannya.
  5. Berikutnya ia tidak malu lagi jika orang lain mengetahuinya.
  6. Bahkan bisa sampai pada tahap menceritakan, memamerkan, atau mengajak orang lain melakukannya.
  7. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah ketika ia tidak senang jika dinasihati tentang maksiat tersebut.

Pada tahap ini, kerusakannya bukan lagi sekadar pada anggota badan, tetapi sudah mempengaruhi cara hati memandang kebenaran.

Allah Ta‘ala berfirman,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Masalah Terbesar: Dosa Tidak Lagi Dianggap Dosa

Dari seluruh penjelasan di atas, dua akar terbesar mengapa seseorang sampai meremehkan dosa adalah lemahnya pengagungan kepada Allah dan rusaknya kepekaan hati karena maksiat yang terus diulang.

Dari dua akar tersebut muncul kelalaian, panjang angan-angan, merasa aman dengan ampunan Allah, terbiasa melihat maksiat, mengikuti standar lingkungan, hingga akhirnya dosa terasa seperti perkara biasa.

Inilah lingkaran yang perlu diputus:

maksiat → hati melemah → dosa terasa ringan → semakin mudah bermaksiat → hati semakin tertutup.

Namun, hadis tentang titik hitam pada hati sekaligus memberikan harapan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ.

“Jika ia meninggalkan dosa, beristigfar, dan bertobat, maka hatinya kembali dibersihkan.”

Selama seorang hamba masih mau kembali kepada Allah, pintu tobat terbuka.

Maka, masalah terbesar bukan sekadar pernah berbuat dosa, tetapi ketika dosa tidak lagi dianggap sebagai dosa.

Jangan tunggu sampai maksiat terasa biasa. Jangan tunggu sampai nasihat terasa mengganggu. Segeralah kembali kepada Allah sebelum hati kehilangan kepekaan untuk membedakan antara ketaatan dan kemaksiatan.

Pelajaran Penting

    1. Jangan mengukur dosa hanya dari besar dan kecilnya, tetapi ingat kepada keagungan Allah yang didurhakai.
    2. Rasa takut dan penyesalan setelah berbuat dosa merupakan tanda bahwa hati masih hidup.
    3. Dosa yang terus diulang dapat mematikan sensitivitas hati dan menjadikan maksiat terasa biasa.
    4. Jangan meremehkan dosa kecil karena dosa-dosa kecil dapat berkumpul dan membinasakan.
    5. Jangan menjadikan ampunan Allah sebagai alasan untuk sengaja meneruskan kemaksiatan.
    6. Jangan memamerkan dosa karena hal itu menunjukkan semakin hilangnya rasa malu terhadap Allah.
    7. Ukurlah dosa dengan timbangan syariat, bukan dengan kebiasaan masyarakat atau banyaknya orang yang melakukan.
    8. Orang bertakwa bukan orang yang sama sekali tidak pernah jatuh dalam dosa, tetapi orang yang segera bangkit dengan tobat.
    9. Semakin seseorang berpengaruh dan menjadi panutan, semakin besar tanggung jawabnya agar kesalahannya tidak ditiru.
    10. Jangan berputus asa. Tobat, istigfar, dan meninggalkan maksiat dapat kembali membersihkan hati.

—-

Selesai ditulis di Masjid Mina Jakal Jogja (Majelis Taklim Saudah), 8 Sep 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42795-bahaya-meremehkan-dosa-saat-maksiat-terasa-biasa.html