Suami Istri: Pakaian, Ladang, dan Tempat Ketenangan

Pernikahan dalam Al-Qur’an bukan sekadar menyatukan dua orang dalam satu rumah, tetapi menyatukan dua jiwa agar saling melindungi, melengkapi, dan menenangkan. Allah menyebut suami dan istri sebagai pakaian, menyebut istri sebagai ladang, dan menjelaskan bahwa pasangan diciptakan agar menjadi tempat memperoleh ketenangan. Tiga gambaran ini mengajarkan bahwa pasangan bukan sekadar teman hidup, tetapi tempat pulang ketika dunia terasa berat.
Suami dan Istri Adalah Pakaian Satu Sama Lain

Allah Ta‘ala berfirman,

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Mereka adalah pakaian bagi kalian dan kalian adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini sebenarnya berada dalam rangkaian pembahasan tentang bolehnya hubungan suami istri pada malam Ramadan. Akan tetapi, pilihan kata لِبَاسٌ (libās, pakaian) mengandung makna yang sangat dalam tentang hubungan suami dan istri.

Tafsir Ibnu Katsir: Pasangan Adalah Sakan

Ibnu Katsir rahimahullah menukil tafsir Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa‘id bin Jubair, Al-Hasan, Qatadah, As-Suddi, dan Muqatil bin Hayyan:

يَعْنِي: هُنَّ سَكَنٌ لَكُمْ، وَأَنْتُمْ سَكَنٌ لَهُنَّ.

Artinya, “Maksudnya, para istri adalah tempat ketenteraman bagi kalian, dan kalian pun menjadi tempat ketenteraman bagi mereka.”

Ibnu Katsir kemudian menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan saling berdekatan, bersentuhan, dan tidur berdampingan. Karena kedekatan itu, sangat sesuai apabila masing-masing disebut sebagai libās bagi pasangannya.

Perhatikan sesuatu yang sangat indah. Ketika para salaf menafsirkan kata لِبَاسٌ, mereka menjelaskannya dengan kata سَكَنٌ.

Dengan demikian,

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ

mengandung pula makna bahwa:

هُنَّ سَكَنٌ لَكُمْ

“Istri-istri kalian adalah tempat ketenteraman bagi kalian.”

Jadi, pembahasan tentang pasangan sebagai “pakaian” sejak awal sudah berkaitan erat dengan pembahasan pasangan sebagai “tempat memperoleh ketenangan”.

Makna Pakaian dalam Kehidupan Rumah Tangga

Pakaian memiliki beberapa karakter yang dapat direnungkan dalam kehidupan suami istri.

Pertama, pakaian sangat dekat dengan tubuh. Begitu pula suami dan istri. Setelah menikah, tidak semestinya ada manusia lain yang lebih dekat dalam urusan pribadi rumah tangga dibandingkan pasangan sendiri.

Kedua, pakaian menutup tubuh. Maka pasangan semestinya menjadi orang yang menjaga kekurangan dan aib pasangannya, bukan orang pertama yang menyebarkannya kepada keluarga, teman, grup percakapan, atau media sosial.

Ketiga, pakaian melindungi. Suami menjaga istrinya dari berbagai keburukan, dan istri membantu suaminya menjaga agama, kehormatan, serta ketenangan hidupnya.

Keempat, pakaian memperindah pemakainya. Kehadiran pasangan semestinya membuat kehidupan seseorang semakin baik, semakin matang, dan semakin dekat kepada Allah.

Kelima, pakaian justru semakin dibutuhkan ketika seseorang menghadapi sesuatu yang tidak nyaman: dingin, panas, atau kondisi yang membuatnya perlu perlindungan. Begitu pula nilai seorang pasangan sering kali paling terasa ketika suami atau istri sedang menghadapi kegagalan, sakit, ketakutan, kesedihan, dan tekanan hidup.

Karena itu, pakaian bukan sesuatu yang membuka aib. Pakaian justru menutupnya.

Istri Adalah Ladang bagi Suami

Allah Ta‘ala berfirman,

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian itu bagaimana saja yang kalian kehendaki. Persiapkanlah untuk diri kalian, bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kalian akan menemui-Nya. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 223)

Apa Maksud Istri sebagai Ladang?

Ibnu Katsir rahimahullah menukil perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

الْحَرْثُ مَوْضِعُ الْوَلَدِ.

“Ladang adalah tempat lahirnya anak.”

Maksud ayat ini adalah hubungan suami istri dilakukan pada tempat lahirnya keturunan. Ayat tersebut juga membantah anggapan tertentu dari kaum Yahudi ketika itu mengenai cara hubungan suami istri. Bentuk hubungan boleh bervariasi selama hubungan dilakukan pada vagina, bukan melalui dubur.

Dengan demikian, istilah حَرْثٌ (ḥarts, ladang) tidak dimaksudkan untuk merendahkan perempuan. Al-Qur’an sedang menjelaskan fungsi biologis hubungan suami istri: melalui rahim seorang wanita, Allah menumbuhkan generasi berikutnya.

Ath-Thabari menjelaskan bahwa para istri disebut sebagai tempat bercocok tanam bagi keturunan karena melalui mereka lahirlah anak-anak.

Penjelasan Syaikh As-Sa‘di

Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa‘di rahimahullah menjelaskan:

لِكَوْنِهِ مَوْضِعَ الْحَرْثِ، وَهُوَ الْمَوْضِعُ الَّذِي يَكُونُ مِنْهُ الْوَلَدُ.

Artinya, “Karena itulah tempat bercocok tanam, yaitu tempat dari sana lahir seorang anak.”

Beliau juga menerangkan bahwa hubungan suami istri dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menjaga kehormatan diri, menjaga kehormatan pasangan, dan mengharapkan lahirnya keturunan yang Allah berikan manfaat melalui mereka.

Ladang Tidak Hanya Dipanen, Tetapi Harus Dirawat

Perumpamaan “ladang” sebenarnya mengandung renungan yang sangat besar.

Orang yang mempunyai ladang tidak hanya datang ketika ingin memanen hasilnya. Ia menyiapkannya, menyiraminya, merawatnya, membersihkannya, dan melindunginya.

Demikian pula seorang suami jangan memahami ayat,

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ

“Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian,” sebagai pembenaran untuk memperlakukan istri sesuka hati.

Jika seorang suami berharap memperoleh “panen” berupa keturunan yang saleh, rumah yang nyaman, cinta istrinya, dan keluarga yang kokoh, ia juga harus menjaga “ladang” tersebut dengan nafkah yang baik, perlakuan yang makruf, perhatian, pendidikan agama, kelembutan, dan perlindungan.

Menariknya, setelah berbicara mengenai hubungan seksual, Allah langsung berfirman,

وَاتَّقُوا اللَّهَ

“Bertakwalah kepada Allah.”

Artinya, bahkan dalam perkara yang sangat pribadi antara suami dan istri tetap ada batasan Allah dan tetap harus dilandasi oleh takwa.

Tujuan Pernikahan: Agar Suami Istri Menjadi Tempat Ketenangan

Allah Ta‘ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian memperoleh ketenteraman kepadanya. Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Perhatikan pilihan kata Allah,

لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“agar kalian memperoleh ketenteraman kepadanya.”

Allah tidak hanya menyebut tujuan pernikahan untuk melahirkan keturunan. Ada kebutuhan jiwa yang dipenuhi melalui pernikahan: sukūn, ketenangan.

Tafsir Ibnu Katsir tentang Sakan, Mawaddah, dan Rahmah

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menciptakan pasangan manusia dari jenis mereka sendiri sehingga terwujud keserasian dan kedekatan.

Kemudian beliau menjelaskan,

وَجَعَلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُنَّ مَوَدَّةً، وَهِيَ الْمَحَبَّةُ، وَرَحْمَةً، وَهِيَ الرَّأْفَةُ.

Artinya, “Allah menjadikan antara mereka dan para istri mawaddah, yaitu cinta, serta rahmah, yaitu kasih sayang.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seorang laki-laki mempertahankan istrinya bisa karena cinta, kasih sayang, adanya anak, kebutuhan istri terhadap nafkah, ataupun kuatnya keakraban yang terbangun di antara keduanya.

Ini menunjukkan bahwa rumah tangga tidak hanya berdiri di atas perasaan romantis.

  • Ada مَوَدَّةٌ, cinta.
  • Ada pula رَحْمَةٌ, kasih sayang.

Pada masa tertentu, rasa cinta terasa begitu kuat. Pada masa yang lain, kasih sayang, komitmen, tanggung jawab, dan kebersamaanlah yang membuat pernikahan tetap kokoh.

Tafsir Syaikh As-Sa‘di: Sulit Menemukan Hubungan Seperti Hubungan Suami Istri

Syaikh As-Sa‘di rahimahullah menjelaskan bahwa Allah menciptakan pasangan yang sesuai dan serasi satu sama lain.

Beliau berkata,

تُنَاسِبُكُمْ وَتُنَاسِبُونَهُنَّ، وَتُشَاكِلُكُمْ وَتُشَاكِلُونَهُنَّ.

Artinya, “Mereka sesuai dengan kalian dan kalian sesuai dengan mereka; mereka serasi dengan kalian dan kalian serasi dengan mereka.”

Kemudian beliau menerangkan bahwa melalui pernikahan terwujud kenikmatan, manfaat, hadirnya anak dan pendidikan mereka, serta ketenteraman kepada pasangan. Pada umumnya, sulit ditemukan hubungan antarmanusia yang mempunyai mawaddah dan rahmah seperti hubungan antara suami dan istri.

QS. Ar-Rum: 21 sebagai dalil utama bahwa ketenangan, mawaddah, dan rahmah merupakan tujuan penting dalam kehidupan rumah tangga.

Ayat Lain: “Agar Ia Merasa Tenteram Kepadanya”

Allah Ta‘ala juga berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

Dialah yang menciptakan kalian dari satu jiwa, kemudian darinya Dia menciptakan pasangannya agar ia memperoleh ketenteraman kepadanya.” (QS. Al-A‘raf: 189)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

أَيْ: لِيَأْلَفَهَا وَيَسْكُنَ بِهَا.

Artinya, “Agar ia merasa akrab dengannya dan memperoleh ketenteraman dengannya.”

Ibnu Katsir menegaskan bahwa tidak ada keakraban antardua manusia yang lebih besar daripada keakraban antara suami dan istri.

Syaikh As-Sa‘di juga menjelaskan bahwa karena Hawa diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, muncul kesesuaian dan kecocokan yang menjadikan masing-masing memperoleh ketenteraman kepada pasangannya.

Maka ada perbedaan besar antara:

  • istri yang tinggal di rumah

dan

  • istri yang menjadi “rumah” bagi hati suaminya.

Demikian pula ada perbedaan antara suami yang sekadar pulang ke rumah dengan suami yang benar-benar menjadi tempat aman bagi istrinya.

Pasangan Adalah Tempat Pulang

Kata سَكَنٌ berkaitan dengan berhentinya kegelisahan dan hadirnya ketenangan.

Karena itu, fungsi pasangan bukan berarti memastikan tidak pernah terjadi perbedaan pendapat. Rumah Nabi ﷺ pun menghadapi persoalan rumah tangga. Akan tetapi, sakan berarti ketika dunia terasa berat, pasangan bukan orang yang membuat beban itu semakin berat.

Seorang suami dapat menghadapi banyak tekanan di luar rumah. Ketika kembali, ia membutuhkan tempat di mana ia tidak harus terus-menerus bertahan dan membela diri.

Demikian pula seorang istri. Ketika ia menghadapi kelelahan, ketakutan, atau kesedihan, seharusnya suaminya menjadi salah satu manusia yang paling aman baginya untuk bercerita.

Karena itu, rumah yang disebut sakan bukan sekadar rumah yang sunyi dari pertengkaran. Sakan adalah hubungan yang membuat seseorang merasa aman untuk menjadi dirinya, mengakui kelemahannya, menceritakan masalahnya, dan memperoleh kekuatan untuk bangkit kembali.

Hadits: Orang Terbaik Terlihat dari Perlakuannya kepada Keluarga

Rasulullah ﷺ bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadits ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada istri dan keluarga termasuk amalan dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang sangat utama. Orang yang mampu memperlihatkan akhlak terbaik kepada keluarganya termasuk orang terbaik.

Ini adalah standar yang sangat penting.

Akhlak seseorang bukan hanya dinilai ketika bertemu tamu, berbicara dengan atasan, melayani jamaah, berhadapan dengan pelanggan, atau bertemu orang yang dihormatinya.

Ujian akhlak yang sesungguhnya sering kali terjadi di rumah.

Karena itu, pertanyaan yang patut diajukan seorang suami kepada dirinya bukan hanya, “Apakah orang lain nyaman bersama saya?” Namun, “Apakah istri saya merasa aman ketika saya pulang?”

Sebaliknya, seorang istri juga dapat bertanya, “Apakah suami saya merasa bahwa rumah adalah tempat di mana dirinya dihargai, didengarkan, dan dikuatkan?”

Khadijah: Istri yang Menjadi Tempat Kembali ketika Nabi ﷺ Ketakutan

Salah satu gambaran paling indah tentang seorang istri sebagai sakan terlihat pada Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, Rasulullah ﷺ mengalami kejadian yang sangat berat. Jibril ‘alaihis salam mendatangi beliau dan memerintahkan,

اِقْرَأْ

“Bacalah.”

Setelah peristiwa itu, Rasulullah ﷺ pulang menemui Khadijah dalam keadaan hati yang sangat terguncang.

Beliau meminta,

زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي

“Selimuti aku, selimuti aku.”

Setelah rasa takut mulai mereda, beliau menceritakan apa yang terjadi dan menyampaikan kekhawatiran terhadap dirinya.

Khadijah tidak menertawakan ketakutan Nabi ﷺ.

Ia tidak mengecilkan kegelisahan beliau.

Ia tidak berkata, “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.”

Khadijah justru menenangkan Rasulullah ﷺ:

كَلَّا، أَبْشِرْ، فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا.

“Tidak. Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu.”

Kemudian Khadijah mengingatkan Rasulullah ﷺ pada rekam jejak kebaikan beliau: menyambung silaturahmi, berkata jujur, membantu orang yang tidak mampu, memuliakan tamu, serta menolong manusia dalam berbagai kebaikan. Setelah itu, Khadijah membawa Nabi ﷺ kepada Waraqah bin Naufal untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut. Kisah tersebut terdapat dalam hadits permulaan wahyu yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim.

Apa yang Dilakukan Khadijah?

Perhatikan urutannya.

  • Nabi ﷺ datang membawa ketakutan, Khadijah memberikan rasa aman.
  • Nabi ﷺ datang membawa kebingungan, Khadijah memberikan keyakinan.
  • Nabi ﷺ sedang mengkhawatirkan dirinya, Khadijah mengingatkan beliau pada kebaikan yang selama ini beliau lakukan.

Kemudian Khadijah tidak berhenti pada dukungan emosional. Ia membantu mencari jalan keluar dengan membawa Nabi ﷺ kepada orang yang memiliki ilmu tentang kejadian tersebut.

Inilah salah satu gambaran hidup dari firman Allah,

لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“agar kalian memperoleh ketenteraman kepadanya.”

Seorang istri bisa menjadi manusia yang dicari suaminya ketika dunia membuatnya takut.

Dan makna ini tentu berlaku dua arah. Suami semestinya menjadi salah satu tempat paling aman bagi istrinya ketika dunia membuat istrinya lelah.

Ummu Salamah: Istri yang Menjadi Tempat Bermusyawarah

Ada contoh lain yang sangat kuat dalam kehidupan Nabi ﷺ, yaitu Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah.

Para sahabat ketika itu menghadapi keadaan yang sangat berat secara emosional. Mereka sudah berharap bisa memasuki Makkah dan melaksanakan umrah, tetapi akhirnya harus menerima perjanjian dengan kaum Quraisy dan kembali ke Madinah.

Setelah perjanjian selesai, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan hadyu dan mencukur rambut sebagai tanda tahallul.

Namun tidak seorang pun segera melaksanakannya.

Nabi ﷺ mengulangi perintah tersebut beberapa kali. Para sahabat bukan sengaja hendak membangkang, tetapi mereka sangat terpukul dengan keadaan tersebut dan masih berharap keputusan berubah.

Rasulullah ﷺ kemudian masuk menemui Ummu Salamah dan menceritakan apa yang terjadi.

Ummu Salamah memberikan pandangan kepada Rasulullah ﷺ: keluarlah, jangan berbicara kepada mereka terlebih dahulu, sembelihlah hewan hadyu dan panggil tukang cukur untuk mencukur rambut.

Rasulullah ﷺ menerima sarannya.

Ketika para sahabat melihat Rasulullah ﷺ telah menyembelih dan mencukur rambut, mereka pun bangkit melakukan hal yang sama. Kisah ini terdapat dalam Shahih Al-Bukhari.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengambil pelajaran dari kisah tersebut tentang bolehnya bermusyawarah dengan wanita yang memiliki keutamaan dan kecerdasan. Para ulama lainnya juga menegaskan bahwa pendapat wanita yang tepat boleh dan patut diterima.

Peristiwa Ummu Salamah ini sebagai contoh penting bagi komunikasi suami istri: seorang suami hendaknya membuka ruang dialog, mendengarkan pandangan istrinya, serta tidak merasa bahwa menerima kebenaran dari istrinya mengurangi kedudukannya sebagai pemimpin keluarga.

Istri Bukan Hanya Tempat Bermanja

Kisah Ummu Salamah memberikan dimensi lain tentang makna sakan.

Kadang suami membutuhkan istri yang memeluk dan menenangkannya.

Pada saat lain ia membutuhkan seseorang yang bisa berkata, “Menurut saya ada jalan lain.”

Istri dapat menjadi teman berpikir, tempat bermusyawarah, dan orang yang mampu melihat persoalan dari sudut yang tidak dilihat suaminya.

Begitu pula suami. Ia bukan hanya pemberi nafkah. Ia harus menjadi orang yang dapat diajak bicara oleh istrinya ketika menghadapi persoalan hidup.

Tiga Gambaran Besar Al-Qur’an tentang Suami Istri

Jika ketiga ayat tadi disatukan, kita memperoleh gambaran rumah tangga yang sangat lengkap.

1. هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ — Pasangan adalah pakaian

Pakaian melambangkan kedekatan, perlindungan, menutup kekurangan, dan rasa aman.

Suami menjaga istrinya.

Istri menjaga suaminya.

Mereka tidak berlomba mengumpulkan kesalahan pasangan untuk digunakan sebagai senjata ketika bertengkar.

2. نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ — Istri adalah ladang

Ladang menunjukkan keintiman, kelahiran generasi, dan tanggung jawab merawat kehidupan keluarga.

Ladang tidak hanya dipanen.

Ladang harus dirawat.

3. لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا — Pasangan adalah tempat ketenangan

Pernikahan memenuhi kebutuhan jiwa untuk mempunyai seseorang yang menjadi tempat pulang.

Bukan sekadar hidup bersamanya, tetapi hati menjadi tenang kepadanya.
Kemudian Allah mengokohkan hubungan itu dengan:

مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

cinta dan kasih sayang.

Dari Libās sampai Rahmah: Lima Pilar Hubungan Suami Istri

Dari ayat-ayat tadi, kita dapat mengambil lima prinsip besar.

  1. Libās melahirkan rasa aman dan saling menutupi.
  2. Ḥarts mengajarkan keintiman yang halal, tanggung jawab, dan keberlanjutan generasi.
  3. Sakan menghadirkan ketenangan emosional.
  4. Mawaddah adalah cinta yang menarik dua hati untuk saling mendekat.
  5. Rahmah adalah kasih sayang yang membuat seseorang tetap berbuat baik bahkan ketika kondisi pasangan tidak sempurna.

Karena itu, rumah tangga yang kokoh bukan rumah tangga yang hanya dipenuhi perasaan cinta.

  • Cinta perlu dilindungi oleh takwa.
  • Keintiman perlu dibingkai tanggung jawab.
  • Dan perbedaan perlu dihadapi dengan rahmah.

Nasihat Terakhir

Jangan hanya bertanya apakah pasangan masih mencintai kita, tetapi tanyakan pula apakah ia merasa aman bersama kita. Jangan hanya menuntut pasangan memahami kita, sedangkan kita tidak pernah belajar mendengarkan ketakutan, kelelahan, dan kebutuhannya. Jadilah pakaian yang menutup kekurangan pasangan, ladang yang dirawat dengan tanggung jawab, serta sakan yang membuat hati kembali tenang. Rumah yang dipenuhi mawaddah dan rahmah bukan rumah tanpa masalah, melainkan rumah yang setiap masalahnya dihadapi bersama dengan takwa kepada Allah.

رَبَّنَا وَأَدْخِلْنَا جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَنَا، وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

Rabbanā wa adkhilnā jannāti ‘adnin allatī wa‘adtanā, wa man shalaḥa min ābā’inā wa azwājinā wa dzurriyyātinā, innaka antal-‘Azīzul-Ḥakīm.

“Wahai Rabb kami, masukkanlah kami ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada kami, bersama orang-orang saleh di antara orang tua kami, pasangan-pasangan kami, dan keturunan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Faedah dari Surah Ghafir ayat 8)

Referensi

  • IslamQA. (n.d.). Permulaan wahyu kepada Rasulullah ﷺ dan sikap Khadijah radhiyallahu ‘anha. https://islamqa.info/ar/answers/13488
  • IslamQA. (n.d.). Nasihat penting bagi suami istri mengenai dialog dan komunikasi dalam rumah tangga. https://islamqa.info/ar/answers/167709
  • IslamQA. (n.d.). Bolehnya bermusyawarah dengan wanita dan menerima pendapatnya yang benar. https://islamqa.info/ar/answers/240804
  • IslamQA. (n.d.). Pelajaran dari sikap Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pada peristiwa Hudaibiyah. https://islamqa.info/ar/answers/268440
  • IslamWeb. (n.d.). Makna hadits “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya”. https://www.islamweb.net/ar/fatwa/46907/
  • IslamWeb. (n.d.). Peristiwa Hudaibiyah dan nasihat Ummu Salamah kepada Rasulullah ﷺ. https://www.islamweb.net/ar/library/content/1005/1331/
  • King Saud University Quran. (n.d.). Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah: 187. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya187.html
  • King Saud University Quran. (n.d.). Tafsir As-Sa‘di, QS. Al-Baqarah: 187. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura2-aya187.html
  • King Saud University Quran. (n.d.). Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah: 223. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya223.html
  • King Saud University Quran. (n.d.). Tafsir As-Sa‘di, QS. Al-Baqarah: 223. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura2-aya223.html
  • King Saud University Quran. (n.d.). Tafsir Ath-Thabari, QS. Al-Baqarah: 223. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura2-aya223.html
  • King Saud University Quran. (n.d.). Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-A‘raf: 189. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura7-aya189.html
  • King Saud University Quran. (n.d.). Tafsir As-Sa‘di, QS. Al-A‘raf: 189. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura7-aya189.html
  • King Saud University Quran. (n.d.). Tafsir Ibnu Katsir, QS. Ar-Rum: 21. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura30-aya21.html
  • King Saud University Quran. (n.d.). Tafsir As-Sa‘di, QS. Ar-Rum: 21. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura30-aya21.html
  • Rumaysho.Com. (n.d.). Pujilah istrimu. https://rumaysho.com/8896-pujilah-istrimu.html
  • Rumaysho.Com. (n.d.). Keluarga sakinah di masa keemasan Abbasiyah: Kisah Harun Ar-Rasyid dan Zubaidah yang sarat keteladanan. https://rumaysho.com/40879-keluarga-sakinah-di-masa-keemasan-abbasiyah-kisah-harun-ar-rasyid-zubaidah-yang-sarat-keteladanan.html

@ Pampang Paliyan Gunungkidul, 1 September 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42740-suami-istri-pakaian-ladang-dan-tempat-ketenangan.html