Hidup Terasing: Tetap Teguh Saat Ketaatan Dianggap Aneh

Tidak semua keterasingan adalah kesepian; terkadang seseorang justru menjadi asing karena memilih tetap taat ketika banyak manusia meninggalkan ketaatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang tetap teguh ketika Islam kembali terasa asing. Lalu bagaimana agar hati tetap kuat ketika menjalankan syariat terasa seperti menggenggam bara api, terutama bagi muslimah yang berusaha menjaga hijab dan kehormatannya?
Mencintai kesendirian bersama Allah

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَمِنْهَا: حُبُّ الْوَحْدَةِ، وَالْأُنْسُ بِالْخَلْوَةِ، وَالتَّفَرُّدُ عَنِ النَّاسِ، وَكَأَنَّ الْمَحَبَّةَ قَدْ ثَبَتَتْ عَلَى ذَلِكَ، فَلَا شَيْءَ أَحْلَى لِلْمُحِبِّ الصَّادِقِ مِنْ خَلْوَتِهِ، وَتَفَرُّدِهِ، فَإِنَّهُ إِنْ ظَفِرَ بِمَحْبُوبِهِ أَحَبَّ خَلْوَتَهُ بِهِ، وَكَرِهَ مَنْ يَدْخُلُ بَيْنَهُمَا غَايَةَ الْكَرَاهَةِ.

“Di antara tanda cinta adalah mencintai kesendirian, merasa nyaman dalam kesunyian, dan menikmati saat menjauh sejenak dari manusia. Seolah-olah cinta itu sendiri membuat hatinya demikian. Tidak ada sesuatu yang lebih manis bagi seorang pecinta sejati daripada saat ia menyendiri bersama yang dicintainya. Jika ia dapat bersama kekasihnya, ia mencintai kesempatan berdua tersebut dan sangat tidak menyukai sesuatu yang mengganggu kebersamaan itu.”

Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan,

وَلِهَذَا السِّرِّ ـ وَاللَّهُ أَعْلَمُ ـ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَدِّ الْمَارِّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي حَتَّى أَمَرَ بِقِتَالِهِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ لَوْ يَدْرِي مَا عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ؛ لَكَانَ وُقُوفُهُ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ مُرُورِهِ بَيْنَ يَدَيْهِ.

“Karena rahasia inilah—dan Allah lebih mengetahui—Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang yang hendak melintas di depan orang yang sedang shalat dicegah. Beliau juga mengabarkan bahwa seandainya orang yang melintas mengetahui besarnya dosa perbuatannya, berdiri menunggu selama empat puluh lebih baik baginya daripada melintas di hadapan orang yang sedang shalat.”

Kemudian beliau berkata,

وَلَا يَجِدُ أَلَمَ الْمُرُورِ وَشِدَّتَهُ إِلَّا قَلْبٌ حَاضِرٌ بَيْنَ يَدَيْ مَحْبُوبِهِ، مُقْبِلٌ عَلَيْهِ، قَدِ ارْتَفَعَتِ الْأَغْيَارُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، فَمُرُورُ الْمَارِّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ بِمَنْزِلَةِ دُخُولِ الْبَغِيضِ بَيْنَ الْمُحِبِّ وَمَحْبُوبِهِ.

“Hanya hati yang benar-benar hadir di hadapan Allah, menghadap kepada-Nya, dan tidak tersibukkan oleh selain-Nya yang dapat merasakan beratnya gangguan tersebut. Orang yang melintas di antara dirinya dan Rabbnya bagaikan seseorang yang tidak disukai masuk mengganggu antara seorang pecinta dan yang dicintainya.”

Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,

وَأَيْضًا فَإِنَّ الْمُحِبَّ يَسْتَأْنِسُ بِذِكْرِ مَحْبُوبِهِ، وَكَوْنِهِ فِي قَلْبِهِ لَا يُفَارِقُهُ، فَهُوَ أَنِيسُهُ، وَجَلِيسُهُ، لَا يَسْتَأْنِسُ بِسِوَاهُ، فَهُوَ مُسْتَوْحِشٌ مِمَّنْ يَشْغَلُهُ عَنْهُ.

“Seorang pecinta merasakan ketenteraman ketika mengingat yang dicintainya. Ingatan itu selalu hadir di hatinya. Ia menjadi teman dekatnya. Karena itu, ia merasa tidak nyaman terhadap segala sesuatu yang membuat hatinya teralihkan dari yang dicintainya.” (Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394).

Kesendirian yang dimaksud bukanlah membenci manusia atau meninggalkan kewajiban bermasyarakat. Seorang mukmin tetap menghadiri shalat berjamaah, menuntut ilmu, berdakwah, bersilaturahmi, mendidik keluarga, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Namun, hati juga membutuhkan saat ketika ia lepas dari kebisingan dunia dan benar-benar menghadap Allah.

Ada saatnya kita bersama manusia untuk memberi manfaat. Ada saatnya kita menyendiri untuk memperbaiki hati.

Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiri

Ibnul Qayyim menceritakan dari Taqiyuddin bin Syuqair bahwa suatu hari ia mengikuti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketika beliau telah sampai ke tempat terbuka dan jauh dari manusia, terdengar beliau melantunkan syair,

وَأَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الْبُيُوتِ لَعَلَّنِي
أُحَدِّثُ عَنْكَ الْقَلْبَ بِالسِّرِّ خَالِيًا

“Aku keluar meninggalkan rumah-rumah, dengan harapan aku dapat berbicara tentang-Mu kepada hatiku dalam kesendirian.”

Kemudian Ibnul Qayyim berkata,

فَخَلْوَةُ الْمُحِبِّ بِمَحْبُوبِهِ هِيَ غَايَةُ أُمْنِيَّتِهِ، فَإِنْ ظَفِرَ بِهَا؛ وَإِلَّا خَلَا بِهِ فِي سِرِّهِ.

“Kesendirian seorang pecinta bersama yang dicintainya adalah puncak harapannya. Jika ia mendapat kesempatan tersebut, itulah yang ia inginkan. Jika tidak, ia menyendiri bersamanya di dalam rahasia hatinya.”

Orang yang belajar menikmati kesendirian bersama Allah tidak akan terlalu takut ketika suatu hari harus sendirian bersama kebenaran.

Islam akan kembali terasa asing

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mulanya. Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim, no. 145)

Hadis ini sahih. Islamweb menjelaskan bahwa Islam pada awalnya hanya diikuti sejumlah kecil manusia, kemudian tersebar dan kuat. Kelak dapat terjadi suatu keadaan ketika orang yang benar-benar memegang ajarannya kembali menjadi sedikit.

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan maknanya,

أَنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ فِي آحَادٍ مِنَ النَّاسِ وَقِلَّةٍ، ثُمَّ انْتَشَرَ وَظَهَرَ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْصُ وَالْإِخْلَالُ، حَتَّى لَا يَبْقَى إِلَّا فِي آحَادٍ وَقِلَّةٍ أَيْضًا كَمَا بَدَأَ.

“Islam pada mulanya berada pada segelintir manusia dan jumlah yang sedikit. Kemudian Islam menyebar dan tampak. Setelah itu akan datang kekurangan dalam pengamalannya hingga kembali hanya dipegang oleh segelintir manusia sebagaimana awal mulanya.”

Yang dimaksud asing bukanlah sengaja membuat diri berbeda agar diperhatikan.

Keterasingan yang terpuji adalah ketika seseorang menjadi berbeda karena berpegang pada kebenaran.

Siapakah orang-orang yang terasing?

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa orang-orang terasing adalah mereka yang tetap baik ketika manusia banyak yang rusak.

Di antara riwayat yang disebutkan,

الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ.

“Mereka adalah orang-orang yang tetap melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ.

“Mereka adalah orang-orang shalih yang berada di tengah banyaknya manusia yang buruk. Orang yang tidak mengikuti mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.”

Islamweb menyebut hadis ini sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh pada Islam pada masa keterasingan agama.

Karena itu, orang asing bukan sekadar orang yang berbeda.

Ia tetap jujur ketika dusta dianggap biasa.

Ia menjaga shalat ketika kesibukan membuat manusia meremehkannya.

Ia menjaga transaksi halal ketika riba dianggap lumrah.

Ia menjaga pandangan ketika kemaksiatan dapat dilihat hanya melalui layar di tangan.

Ia menjaga aurat ketika mempertontonkan tubuh dianggap kebebasan.

Ia mengikuti Sunnah ketika Sunnah dianggap aneh.

Jangan takut sedikit teman di jalan kebenaran

Ibnul Qayyim rahimahullah menukil perkataan sebagian salaf,

عَلَيْكَ بِطَرِيقِ الْحَقِّ، وَلَا تَسْتَوْحِشْ لِقِلَّةِ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطَرِيقَ الْبَاطِلِ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ.

“Tempuhlah jalan kebenaran dan jangan merasa kesepian karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu karena banyaknya orang yang berjalan menuju kebinasaan.”

Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,

وَكُلَّمَا اسْتَوْحَشْتَ فِي تَفَرُّدِكَ فَانْظُرْ إِلَى الرَّفِيقِ السَّابِقِ، وَاحْرِصْ عَلَى اللَّحَاقِ بِهِمْ، وَغُضَّ الطَّرْفَ عَمَّنْ سِوَاهُمْ.

“Setiap kali engkau merasa sepi karena sendirian, lihatlah para pendahulu yang telah menempuh jalan tersebut. Berusahalah menyusul mereka dan jangan sibukkan pandanganmu dengan selain mereka.” (Madarij As-Salikin, 1:46).

Allah Ta‘ala berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ.

Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘am: 116)

Kebenaran tidak berubah menjadi salah hanya karena sedikit yang mengikutinya. Kebatilan pun tidak berubah menjadi benar hanya karena banyak pendukungnya.

Berpegang pada agama seperti menggenggam bara api

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ.

“Akan datang suatu masa kepada manusia, orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada masa tersebut seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2260; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)

Islamweb menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi karena semakin banyaknya kerusakan, fitnah, serta berbagai godaan, sementara orang yang membantu seseorang untuk tetap berada dalam ketaatan semakin sedikit. Karena itulah, memegang agama dan mengikuti Sunnah ketika itu terasa seperti menggenggam bara atau duri.

Mengapa diibaratkan bara?

Karena bara terasa panas.

Tangan secara naluri ingin segera melepaskannya.

Begitu pula seseorang yang berada dalam lingkungan penuh fitnah. Ia terus mendapat tekanan agar sedikit demi sedikit melepaskan prinsip agamanya.

Hari ini mungkin diminta melonggarkan hijab.

Besok mulai meremehkan batas pergaulan.

Kemudian mulai meninggalkan shalat karena pekerjaan.

Lalu transaksi haram dianggap tidak masalah karena semua orang melakukannya.

Jangan melepaskan agama hanya karena menggenggamnya terasa berat.

Yang sedang dipertahankan bukan sekadar kebiasaan. Yang dipertahankan adalah keselamatan agama dan akhirat.

Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar

“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari yang membutuhkan kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari mereka atau lima puluh orang dari kami?”

Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, no. 10394, dan lafaz di atas adalah lafaz beliau. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhar, no. 1776, dengan lafaz yang semakna).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa pada akhir zaman agama akan semakin sedikit dipegang teguh oleh manusia. Beliau juga mengabarkan besarnya pahala bagi orang yang tetap berpegang teguh pada agamanya pada masa-masa tersebut. Hal ini merupakan dorongan agar kita bersabar sembari mengharapkan pahala dari Allah.

Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ

“Sesungguhnya setelah kalian ….”

Maksudnya adalah masa-masa yang akan datang setelah kalian, atau berbagai keadaan berat yang akan terjadi sepeninggal kalian.

Beliau bersabda,

زَمَانَ صَبْرٍ

“Suatu masa yang membutuhkan kesabaran.”

Maksudnya adalah hari-hari ketika tidak ada jalan untuk dapat bertahan kecuali dengan kesabaran. Bisa pula bermakna hari-hari ketika kesabaran sangat terpuji.

Yang dimaksud dengan masa tersebut adalah masa ketika berbagai fitnah merajalela dan kekuatan kaum muslimin melemah.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِ

“Bagi orang yang tetap berpegang teguh pada masa tersebut.”

Maksudnya adalah orang yang bersabar dalam memegang teguh agamanya dan tetap berlindung serta berpegang kokoh dengannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,

أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُمْ

“Baginya pahala lima puluh orang syahid dari kalian.”

Maksudnya, pahalanya dilipatgandakan hingga seperti pahala lima puluh orang yang mati syahid dari kalangan sahabat.

Besarnya pahala tersebut disebabkan begitu beratnya ujian pada masa itu. Seorang muslim yang tetap teguh memegang agamanya menghadapi keadaan yang begitu sulit hingga diibaratkan seperti orang yang menggenggam bara api.

Besarnya pahala ini menunjukkan besarnya tantangan dalam mempertahankan agama. Namun, ini tidak berarti generasi setelah sahabat lebih utama daripada para sahabat secara mutlak.

Penjelasan hadits di atas dari dorar.net.

Keterasingan yang terpuji adalah asing karena Sunnah

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa di antara sifat orang-orang terasing adalah,

وَمِنْ صِفَاتِ هَؤُلَاءِ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ غَبَطَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: التَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ إِذَا رَغِبَ عَنْهَا النَّاسُ، وَتَرْكُ مَا أَحْدَثُوهُ، وَإِنْ كَانَ هُوَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَهُمْ.

“Di antara sifat orang-orang terasing yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tetap berpegang kepada Sunnah ketika manusia meninggalkannya dan meninggalkan perkara-perkara baru yang mereka ada-adakan, sekalipun perkara tersebut telah dianggap lumrah oleh mereka.”

Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan keadaan orang-orang terasing,

فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْغُرَبَاءُ الْمَمْدُوحُونَ الْمَغْبُوطُونَ.

“Mereka itulah orang-orang terasing yang dipuji dan pantas mendapatkan kabar gembira.”

Beliau menjelaskan bahwa orang Islam dapat terasa asing di tengah manusia, orang beriman terasa asing di tengah kaum muslimin, ahli ilmu terasa asing di tengah kaum beriman, dan orang yang benar-benar menjaga Sunnah dapat semakin terasa asing.

Maka, jangan salah memahami keterasingan.

Tidak setiap orang yang berbeda berarti berada di atas kebenaran.

Ukuran kita tetap Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar berbeda dengan kebanyakan manusia.

Muslimah juga dapat merasakan keterasingan

Keterasingan agama sangat mungkin dirasakan seorang muslimah pada zaman sekarang.

Ia ingin memperbaiki hijab, lalu dikatakan terlalu tertutup.

Ia berusaha tidak tabarruj, tetapi lingkungan menganggap penampilan harus selalu menarik perhatian.

Ia menjaga pergaulan dengan lawan jenis, lalu dianggap tidak luwes.

Ia tidak ingin mempertontonkan kecantikannya di media sosial, tetapi justru dianggap kurang percaya diri.

Ia memilih tidak mengikuti tren tertentu karena pertimbangan agama, lalu disebut ketinggalan zaman.

Di sinilah seorang muslimah membutuhkan kekuatan hati.

Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatan

Allah Ta‘ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ.

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Allah Ta‘ala juga berfirman,

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ.

Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka.” (QS. An-Nur: 31)

Karena itu, hijab bukan sekadar identitas sosial.

Hijab adalah ibadah.

Ketika seorang muslimah menanamkan dalam hatinya, “Aku berhijab karena ingin menaati Allah,”

maka komentar manusia akan menjadi lebih ringan.

Sebaliknya, jika hijab hanya dibangun karena lingkungan, ketika lingkungan berubah, mudah sekali seseorang ikut berubah.

Cara teguh di tengah keterasingan

Pertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan tren

Allah Ta‘ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ.

Tidak pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Tren berubah.

Standar manusia berubah.

Apa yang hari ini dianggap indah, beberapa tahun kemudian dapat dianggap usang.

Namun, ketentuan Allah tidak mengikuti tren.

Jangan mengukur syariat dengan tren. Ukurlah tren dengan syariat.

Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taat

Ketaatan tidak harus dimulai bersama-sama.

Jangan menunggu,

“Nanti kalau teman saya sudah berhijab, saya ikut.”

“Nanti kalau sudah menikah, saya akan memperbaiki pakaian.”

“Nanti kalau lingkungan kerja mendukung, saya akan berubah.”

Boleh jadi salah satu bentuk ujian adalah Allah ingin melihat apakah kita tetap memilih-Nya ketika pilihan tersebut belum mendapatkan tepuk tangan manusia.

Tidak mengapa memulai ketaatan sendirian selama kita berjalan bersama dalil.

Ketiga: Cari teman yang menguatkan agama

Allah Ta‘ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ.

Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat dekat.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Teman shalih tidak memberikan hidayah, tetapi ia dapat menjadi sebab kita lebih mudah menjaga hidayah.

Carilah teman yang tidak hanya memuji penampilan kita, tetapi berani mengingatkan agama kita.

Carilah teman yang bahagia ketika hijab kita semakin baik.

Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu.

Carilah teman yang ketika kita hampir melemah berkata,

“Jangan menyerah. Kita ingin sampai ke surga bersama.”

Keempat: Jaga juga lingkungan digital

Teman hari ini bukan hanya orang yang duduk di samping kita.

Akun yang setiap hari kita lihat juga dapat membentuk cara berpikir.

Jika setiap hari seseorang melihat konten yang mempertontonkan kecantikan, gaya hidup berlebihan, kebebasan tanpa batas, atau standar tubuh yang tidak realistis, sedikit demi sedikit hatinya dapat berubah.

Ia mulai mempertanyakan hijabnya.

Ia mulai merasa pakaiannya kurang menarik.

Ia mulai membutuhkan validasi dari pandangan manusia.

Karena itu, salah satu bentuk menjaga iman adalah berani menekan tombol unfollow terhadap sesuatu yang terus-menerus melemahkan hati.

Tidak semua yang menarik mata baik untuk hati.

Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diri

Dunia sering mengajarkan bahwa kecantikan perlu ditampakkan agar mendapatkan pengakuan.

Syariat justru mengajarkan bahwa tidak semua keindahan harus diperlihatkan.

Allah Ta‘ala berfirman,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا.

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak darinya.” (QS. An-Nur: 31)

Muslimah tidak kehilangan harga dirinya hanya karena tidak menjadi pusat perhatian.

Nilai seorang perempuan bukan ditentukan oleh banyaknya mata yang memandangnya, tetapi oleh kedudukannya di sisi Allah.

Keenam: Perbanyak ilmu

Orang yang hanya mengikuti aturan tanpa memahami dalilnya lebih mudah goyah ketika ditanya.

Sedangkan orang yang mengetahui mengapa Allah memerintahkan sesuatu akan lebih kokoh.

Karena itu, pelajari tauhid.

Pelajari fikih ibadah.

Pelajari hukum hijab.

Pelajari batas pergaulan.

Pelajari bagaimana para sahabat dan salaf menjaga agama mereka.

Ilmu menjadikan ketaatan bukan sekadar kebiasaan, tetapi keyakinan.

Ketujuh: Miliki ibadah rahasia

Di antara cara paling kuat menjaga istiqamah adalah memiliki hubungan dengan Allah yang tidak diketahui manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah,

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

Dan seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada orang yang terlihat kuat di hadapan manusia karena ia memiliki tangisan yang tidak pernah manusia lihat.

Ada orang yang sanggup menghadapi berbagai komentar karena pada malam hari ia telah mengadukan semuanya kepada Allah.

Kekuatan di hadapan manusia sering kali dibangun dari sujud yang tidak diketahui manusia.

Bentuk kesendirian bersama Allah

1. Shalat malam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat manusia tidur, seorang mukmin bangun.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada kamera.

Tidak ada komentar.

Hanya seorang hamba dengan Rabbnya.

2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabbur

Carilah waktu tanpa gangguan.

Baca ayat Allah perlahan.

Renungkan.

Bukan hanya mengejar berapa halaman yang selesai, tetapi biarkan Al-Qur’an berbicara kepada hati.

3. Berdzikir dan beristighfar

Ada dzikir yang dibaca bersama manusia.

Namun, ada pula kenikmatan ketika lidah mengingat Allah sementara tidak ada seorang pun yang mengetahui.

Inilah salah satu bentuk hubungan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.

4. Berdoa

Kesendirian adalah waktu yang sangat baik untuk mengadukan kelemahan.

Kita boleh terlihat kuat di depan manusia.

Namun, di hadapan Allah kita dapat berkata bahwa kita lemah.

Kita dapat mengadu tentang beratnya menjaga agama.

Tentang komentar manusia.

Tentang hati yang mudah berubah.

Tentang kekhawatiran menghadapi fitnah zaman.

5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan dunia

Islam juga mengenal i‘tikaf, yaitu memberikan waktu khusus untuk beribadah kepada Allah dengan menetap di masjid.

Ini mengajarkan bahwa hati terkadang membutuhkan jarak sementara dari berbagai kesibukan agar dapat kembali fokus kepada Allah.

Namun, kesendirian bukan tujuan mutlak. Islam tetap mendorong seorang mukmin memberikan manfaat kepada manusia.

Kesendirian bukan berarti membenci manusia

Ada dua kesalahan yang perlu dihindari.

Pertama, terlalu tenggelam dalam keramaian sampai tidak memiliki waktu bersama Allah.

Kedua, memakai alasan “ingin dekat dengan Allah” untuk meninggalkan kewajiban kepada keluarga dan masyarakat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dekat kepada Allah, tetapi beliau berdakwah, mengajar, menerima tamu, memimpin umat, mengurus keluarga, berjihad, dan berinteraksi dengan manusia.

Maka, keseimbangannya adalah:

Bersama manusia ketika ada maslahat, menyendiri ketika hati membutuhkan perbaikan.

Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kita

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut para pendahulu yang berjalan di atas jalan lurus agar orang beriman tidak merasa benar-benar sendirian.

Allah Ta‘ala berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا.

“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat membenarkan, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut teman-teman perjalanan ini agar orang yang menempuh jalan hidayah tidak terlalu merasakan kesendirian ketika berbeda dengan manusia pada zamannya.

Jika hari ini kita merasa asing karena taat, ingatlah:

Jalan ini pernah ditempuh para nabi.

Jalan ini pernah ditempuh para sahabat.

Jalan ini pernah ditempuh orang-orang shalih.

Kita mungkin sedikit pada suatu tempat dan suatu masa.

Namun, kita tidak sendirian dalam sejarah panjang orang-orang yang berjalan menuju Allah.

Jangan merasa aman dengan hati kita

Istiqamah bukan kemampuan pribadi.

Orang yang hari ini taat bisa berubah.

Orang yang hari ini menjaga hijab bisa melepasnya.

Orang yang hari ini rajin shalat bisa meninggalkannya.

Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdoa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)

Jangan hanya mengatakan,

“Alhamdulillah, saya sudah istiqamah.”

Lebih baik katakan,

“Ya Allah, jangan biarkan hati ini berubah setelah Engkau memberi petunjuk.”

Kesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasing

Tidak semua kesendirian adalah kesepian.

Tidak semua keterasingan adalah kehinaan.

Boleh jadi seseorang sendirian secara fisik, tetapi hatinya dipenuhi kedekatan kepada Allah.

Boleh jadi seseorang dianggap asing oleh manusia karena menjaga hijab, Sunnah, shalat, kehormatan, dan prinsip agamanya, tetapi justru ia sedang berjalan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.

Karena itu, jangan sengaja mencari keterasingan. Namun, jangan pula meninggalkan kebenaran hanya agar diterima oleh manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira,

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

“Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.”

Nasihat terakhir

Zaman boleh berubah, tetapi jangan biarkan perubahan zaman mengubah prinsip agama kita. Media sosial boleh membuat maksiat tampak normal dan ketaatan terasa asing, tetapi ukuran keselamatan tetaplah wahyu Allah. Muslimah jangan merasa rendah ketika menjaga hijab dan kehormatannya, dan setiap muslim jangan takut dianggap berbeda ketika berusaha mengikuti Sunnah. Jika jalan kebenaran terasa sepi, dekatkanlah diri kepada Allah karena orang yang memiliki Allah sebagai penolong tidak pernah benar-benar sendirian.

Mari memohon,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يَصْلُحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.

Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa a‘innā ‘alā thā‘atik, waj‘alnā minal-ghurabā’ alladzīna yashluhūna ‘inda fasādin-nās, wa tawaffanā wa anta rāḍin ‘annā.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Bantulah kami untuk selalu taat kepada-Mu. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tetap memperbaiki diri dan keadaan ketika manusia banyak yang rusak. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau meridhai kami.”

Aamiin.

Referensi

  1. Shahih Muslim, hadis no. 145 tentang Islam bermula dalam keadaan asing. Islamweb menegaskan kesahihan hadis dan menjelaskan maknanya.
  2. Islamweb, Al-Ghuraba’ Al-Mamdūhūn Al-Maghbūthūn, tentang ciri dan keutamaan orang-orang terasing.
  3. Islamweb, Ka Al-Qābidh ‘ala Al-Jamr, penjelasan hadis orang yang mempertahankan agama seperti menggenggam bara.
  4. Ibnul Qayyim, Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394, tentang mencintai kesendirian bersama Allah.
  5. Ibnul Qayyim, Madarij As-Salikin, tentang tidak merasa sepi karena sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran.
  6. Islamweb, pembahasan ghurbah dan keteguhan mengikuti Sunnah ketika sedikit pengikutnya.

—-

@ Jogja, 12 Rabiul Awal 1448 H, 25 Agustus 2026

Muhammad Abduh Tuasikal 

sumber: https://rumaysho.com/42701-hidup-terasing-tetap-teguh-saat-ketaatan-dianggap-aneh.html