Maksiat tidak hanya meninggalkan catatan dosa, tetapi juga dapat merusak irādah (kehendak) hati untuk berbuat baik dan bertaubat. Semakin sering dosa dituruti, keinginan bermaksiat dapat semakin kuat, sedangkan keinginan untuk bertaubat semakin melemah. Surah Al-Muddatstsir ayat 35–48 memberikan gambaran yang sangat dalam: manusia mendapat peringatan, diberi kehendak untuk memilih maju atau mundur, kemudian harus mempertanggungjawabkan pilihannya.
Maksiat Melemahkan Kehendak Hati
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu akibat maksiat yang sangat menakutkan:
وَمِنْهَا – وَهُوَ مِنْ أَخْوَفِهَا عَلَى الْعَبْدِ – أَنَّهَا تُضْعِفُ الْقَلْبَ عَنْ إِرَادَتِهِ، فَتُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ، وَتُضْعِفُ إِرَادَةَ التَّوْبَةِ شَيْئًا فَشَيْئًا، إِلَى أَنْ تَنْسَلِخَ مِنْ قَلْبِهِ إِرَادَةُ التَّوْبَةِ بِالْكُلِّيَّةِ، فَلَوْ مَاتَ نِصْفُهُ لَمَا تَابَ إِلَى اللَّهِ، فَيَأْتِي بِالِاسْتِغْفَارِ وَتَوْبَةِ الْكَذَّابِينَ بِاللِّسَانِ بِشَيْءٍ كَثِيرٍ، وَقَلْبُهُ مَعْقُودٌ بِالْمَعْصِيَةِ، مُصِرٌّ عَلَيْهَا، عَازِمٌ عَلَى مُوَاقَعَتِهَا مَتَى أَمْكَنَهُ، وَهَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْأَمْرَاضِ وَأَقْرَبِهَا إِلَى الْهَلَاكِ.
“Di antara dampak dosa—dan ini termasuk yang paling ditakutkan bagi seorang hamba—adalah dosa melemahkan hati dari kehendaknya menuju kebaikan. Sebaliknya, dosa menguatkan keinginan untuk melakukan maksiat dan sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat, sampai keinginan bertaubat benar-benar tercabut dari hatinya.
Seandainya separuh dirinya telah mati sekalipun, ia belum juga bertaubat kepada Allah. Ia mungkin banyak beristighfar dan mengucapkan taubat dengan lisannya seperti taubatnya para pendusta, sementara hatinya masih terikat dengan maksiat, terus-menerus melakukannya, dan bertekad mengulanginya ketika ada kesempatan. Ini termasuk penyakit paling besar dan paling dekat dengan kebinasaan.”
(Lihat Ibnul Qayyim, Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89, dari buku Dosa itu Candu – Penerbit Rumaysho)
Perhatikan dua ungkapan penting:
تُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ
“Maksiat menguatkan keinginan untuk bermaksiat.”
dan:
تُضْعِفُ إِرَادَةَ التَّوْبَةِ شَيْئًا فَشَيْئًا
“Maksiat sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat.”
Inilah bahaya dosa yang sering tidak disadari. Masalahnya bukan hanya dosa yang terjadi hari ini, tetapi apa yang sedang dilakukan dosa tersebut terhadap hati kita untuk hari-hari berikutnya.
Dosa pertama mungkin terasa berat. Ketika diulang, rasa bersalah mulai berkurang. Setelah terbiasa, dosa semakin mudah dilakukan. Pada akhirnya, bukan hanya maksiat yang sulit ditinggalkan, tetapi keinginan untuk meninggalkannya pun semakin melemah.
Manusia Sedang Maju atau Mundur
Allah Ta‘ala berfirman,
إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ نَذِيرًا لِلْبَشَرِ لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
“Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang sangat besar, sebagai peringatan bagi manusia, yaitu bagi siapa di antara kalian yang ingin maju atau mundur.” (QS. Al-Muddatstsir: 35–37)
Ayat ini sebelumnya berbicara tentang dahsyatnya neraka Saqar. Allah menjadikannya نَذِيرًا لِلْبَشَرِ, peringatan bagi manusia.
Setelah peringatan datang, manusia dihadapkan pada pilihan:
أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
“Mau maju atau mundur.”
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
أَيْ: لِمَنْ شَاءَ أَنْ يَقْبَلَ النِّذَارَةَ وَيَهْتَدِيَ لِلْحَقِّ، أَوْ يَتَأَخَّرَ عَنْهَا وَيُوَلِّيَ دُبُرَهَا.
“Maksudnya, bagi siapa yang mau menerima peringatan dan mendapatkan petunjuk menuju kebenaran, atau mundur darinya dan berpaling membelakanginya.”
Maka maju bukan sekadar menjadi lebih sukses dalam urusan dunia.
Maju yang sebenarnya adalah semakin dekat kepada Allah, semakin menerima nasihat, semakin mengikuti kebenaran, semakin baik shalatnya, semakin mudah bertaubat, dan semakin jauh dari maksiat.
Sedangkan mundur adalah berpaling dari peringatan Allah.
Dahulu merasa bersalah ketika terlambat shalat, sekarang biasa saja. Dahulu takut melihat yang haram, sekarang dicari. Dahulu setelah berdosa langsung beristighfar, sekarang berkata, “Nanti saja bertaubat.”
Itulah kemunduran.
Manusia Memiliki Kehendak dan Pilihan
Perhatikan firman Allah:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ
“Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki.”
Allah menetapkan bahwa manusia mempunyai kehendak. Dalam ayat lain Allah berfirman,
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“(Yaitu) bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya, Rabb seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 28–29)
Manusia bukan makhluk yang dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan. Ia memiliki kehendak, kemampuan, dan pilihan. Karena itulah manusia mendapatkan perintah dan larangan serta memperoleh pahala atau hukuman atas amalnya.
Namun kehendak manusia bukanlah kehendak yang berdiri sendiri di luar kehendak Allah. Kehendak seorang hamba berada di bawah masyī’ah Allah.
Allah menetapkan dua hal sekaligus:
وَمَا تَشَاءُونَ
“Kalian mempunyai kehendak.”
Kemudian:
إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Namun kehendak kalian berada di bawah kehendak Allah.”
Takdir Allah tidak meniadakan kehendak dan pilihan manusia. IslamWeb juga menjelaskan bahwa Allah memberi hamba pilihan dalam ketaatan dan kemaksiatan, tetapi pilihan tersebut tidak keluar dari kehendak Allah.
Apa Perbedaan Irādah dan Masyī’ah?
Dua istilah yang sering ditemukan adalah:
- الإِرَادَةُ (al-irādah): kehendak atau keinginan.
- الْمَشِيئَةُ (al-masyī’ah): kehendak.
Keduanya memiliki makna yang sangat berdekatan. Namun dalam pembahasan tentang sifat Allah terdapat perbedaan penting.
- Masyī’ah Allah berkaitan dengan apa yang Allah kehendaki terjadi secara kauni dan qadari. Apa yang Allah kehendaki secara kauni pasti terjadi.
- Adapun irādah Allah dalam dalil-dalil syariat mempunyai dua penggunaan: irādah kauniyyah dan irādah syar‘iyyah.
Sebagaimana dijelaskan para ulama:
الْإِرَادَةُ الْكَوْنِيَّةُ بِمَعْنَى الْمَشِيئَةِ، وَالْإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّةُ بِمَعْنَى الْمَحَبَّةِ.
“Irādah kauniyyah bermakna masyī’ah, sedangkan irādah syar‘iyyah bermakna kecintaan.”
IslamWeb juga menukil penjelasan bahwa masyī’ah dalam Al-Qur’an dan Sunnah digunakan dalam makna kauni-qadari, sedangkan irādah dapat digunakan dalam makna kauni maupun syar‘i.
Perbedaan Irādah Kauniyyah dan Irādah Syar‘iyyah
| Pembeda | Irādah Kauniyyah Qadariyyah | Irādah Syar‘iyyah Dīniyyah |
|---|---|---|
| Arab | الإِرَادَةُ الْكَوْنِيَّةُ الْقَدَرِيَّةُ | الإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّةُ الدِّينِيَّةُ |
| Makna | Kehendak Allah terhadap sesuatu yang terjadi di alam | Apa yang Allah kehendaki secara agama dan syariat |
| Hubungan dengan masyī’ah | Sama maknanya dengan masyī’ah | Berkaitan dengan mahabbah dan rida Allah |
| Apakah pasti terjadi? | Pasti terjadi | Bisa terjadi, bisa tidak |
| Apakah selalu dicintai Allah? | Tidak | Ya |
| Mencakup ketaatan | Ya | Ya |
| Mencakup kemaksiatan | Ya, dari sisi ditakdirkan terjadinya | Tidak |
| Contoh | Iman, kufur, hidup, mati, sehat, sakit yang benar-benar terjadi | Iman, shalat, taubat, takwa dan seluruh ketaatan |
Irādah kauniyyah pasti terjadi dan bisa berkaitan dengan sesuatu yang Allah cintai ataupun Allah benci. Adapun irādah syar‘iyyah hanya berkaitan dengan sesuatu yang Allah cintai, tetapi apa yang Allah kehendaki secara syar‘i belum tentu dilakukan manusia.
Contohnya, Allah memerintahkan manusia beriman. Allah mencintai iman dan tidak meridai kekufuran. Namun kenyataannya tidak semua manusia beriman.
Kekufuran yang terjadi tidak berarti Allah mencintai kekufuran. Ia terjadi berdasarkan irādah kauniyyah Allah, sedangkan secara syariat Allah tidak mencintai dan meridainya.
Maka penting dipahami:
Terjadinya sesuatu tidak otomatis menunjukkan bahwa Allah mencintai sesuatu tersebut.
Setiap Pilihan Akan Dipertanggungjawabkan
Setelah Allah menyebutkan pilihan untuk maju atau mundur, Allah langsung berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
“Setiap jiwa tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)
Ini merupakan hubungan yang sangat penting.
- Ayat 37 berbicara tentang kehendak dan pilihan.
- Ayat 38 berbicara tentang amal dan konsekuensi.
Manusia boleh memilih jalannya, tetapi manusia tidak bisa memilih agar jalan tersebut tidak memiliki akibat.
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna rahīnah:
أَيْ: مُعْتَقَلَةٌ بِعَمَلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Maksudnya, jiwa itu tertahan karena amalnya pada hari Kiamat.”
Kata مُعْتَقَلَةٌ memberikan gambaran kuat: tertahan dan terikat.
Di tempat lain, ketika menjelaskan ayat:
كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Setiap orang tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)
Ibnu Katsir menjelaskan:
أَيْ: مُرْتَهَنٌ بِعَمَلِهِ، لَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ ذَنْبُ غَيْرِهِ مِنَ النَّاسِ.
“Maksudnya, seseorang tergadai oleh amalnya. Dosa orang lain tidak dibebankan kepadanya.”
Maka terdapat prinsip keadilan:
Pilihan kita → amal kita → tanggung jawab kita.
Jangan Sampai Maksiat Menjadi Belenggu
Di sinilah perkataan Ibnul Qayyim di awal semakin terasa.
Di dunia, dosa yang terus dilakukan dapat mengikat irādah hati. Seseorang semakin ingin bermaksiat dan semakin lemah keinginannya untuk bertaubat.
Di akhirat, amal buruk dapat menjadi sebab seseorang tertahan karena amalnya.
Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat lain yang berkaitan dengan makna ini menerangkan tentang jiwa yang tertahan dari kebaikan dan tergadai sehingga tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, lalu beliau menghubungkannya dengan:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ
(QS. Al-Muddatstsir: 38–39)
Jangan meremehkan dosa dengan berkata:
“Sekarang saja, nanti saya bisa berhenti.”
Sebab masalahnya: apakah nanti hati kita masih ingin berhenti?
Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa yang dapat rusak karena maksiat justru إِرَادَةُ التَّوْبَةِ, keinginan untuk bertaubat.
Siapa yang Selamat? Aṣḥābul-Yamīn
Allah kemudian mengecualikan:
إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ
“Kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa.”(QS. Al-Muddatstsir: 39–41)
Aṣḥābul-yamīn adalah orang-orang yang Allah selamatkan.
Maka ada kontras:
رَهِينَةٌ — tergadai dan tertahan.
Sedangkan aṣḥābul-yamīn mendapatkan keselamatan.
Ini juga meluruskan anggapan manusia tentang kebebasan. Pelaku maksiat mungkin berkata, “Saya bebas melakukan apa yang saya mau.” Padahal jika hawa nafsu telah menguasainya, sebenarnya ia justru menjadi tawanan keinginannya.
Ketaatan kepada Allah bukanlah belenggu. Justru ketaatan membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu.
Mengapa Mereka Masuk Saqar?
Setelah itu aṣḥābul-yamīn bertanya kepada para pendosa:
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ
“Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam Saqar?” (QS. Al-Muddatstsir: 42)
Mereka menjawab:
قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ
“Mereka berkata, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat. Kami tidak memberi makan orang miskin. Kami biasa berbincang dalam kebatilan bersama orang-orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 43–47)
Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan jalan kemunduran:
meninggalkan shalat → tidak peduli kepada orang miskin → larut bersama lingkungan kebatilan → mendustakan hari akhir → kematian datang sebelum bertaubat.
Inilah gambaran nyata dari:
أَنْ يَتَأَخَّرَ
“Mundur.”
Kemunduran spiritual sering kali tidak terjadi sekaligus.
Ibnul Qayyim mengatakan:
شَيْئًا فَشَيْئًا
“Sedikit demi sedikit.”
Awalnya dosa.
Kemudian dosa diulang.
Setelah itu menjadi kebiasaan.
Kebiasaan menguatkan keinginan.
Keinginan untuk bertaubat melemah.
Akhirnya kematian datang sebelum seseorang kembali kepada Allah.
Alur Kerusakan Irādah karena Maksiat
Rangkaian ayat ini dapat diringkas:
نَذِيرًا لِلْبَشَرِ
Ada peringatan.
↓
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ
Manusia mempunyai kehendak.
↓
أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
Ia memilih maju atau mundur.
↓
بِمَا كَسَبَتْ
Pilihan melahirkan amal.
↓
رَهِينَةٌ
Amal buruk dapat mengikat pelakunya.
↓
إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ
Ada orang-orang yang Allah selamatkan.
↓
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ؟
Orang yang terus memilih jalan kemunduran akhirnya ditanya, “Apa yang memasukkan kalian ke Saqar?”
Maka bisa diringkas lagi:
IRĀDAH → PILIHAN → AMAL → KEBIASAAN → KONDISI HATI → NASIB AKHIRAT
Kita Berusaha, tetapi Tetap Memohon Taufik kepada Allah
Walaupun manusia memiliki irādah dan pilihan, jangan sampai ia merasa mampu istiqamah dengan kekuatannya sendiri.
Allah berfirman,
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya, Rabb seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 29)
Kita berusaha memperbaiki irādah, tetapi taufik tetap berasal dari Allah.
Karena itu, setelah berusaha meninggalkan dosa, perbanyaklah doa agar Allah meneguhkan hati.
Penutup: Jangan Biarkan Maksiat Menguasai Irādah
Maksiat jangan hanya dilihat dari kenikmatan sesaat ketika dilakukan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika dosa mulai mengubah hati: maksiat semakin dicintai, nasihat semakin dibenci, dan taubat semakin ditunda. Jangan menunggu hati menjadi baik untuk meninggalkan dosa; tinggalkanlah dosa agar Allah memperbaiki hati kita.
Ingatlah bahwa setiap hari kita sedang bergerak:
أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
“Maju atau mundur.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk aṣḥābul-yamīn.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى تَرْكِ مَعْصِيَتِكَ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ.
Allāhummaj‘alnā min aṣḥābil-yamīn, wa waffiqnā liṭā‘atik, wa a‘innā ‘alā tarki ma‘ṣiyatik, wa tsabbit qulūbanā ‘alā dīnika ḥattā nalqāk.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan kanan. Berilah kami taufik untuk menaati-Mu, bantulah kami meninggalkan maksiat kepada-Mu, dan teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu hingga kami berjumpa dengan-Mu.”
Pelajaran Penting
Maksiat bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang sedang dibentuknya di dalam hati.
Sekali memilih dosa mungkin terasa sebagai pilihan. Jika terus diulang, ia menjadi kebiasaan. Kebiasaan menguatkan irādah. Irādah yang rusak membuat taubat terasa semakin berat. Karena itu, selamatkan hati sebelum dosa berubah menjadi belenggu.
Referensi
- Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, pembahasan tentang dampak maksiat yang melemahkan kehendak untuk bertaubat.
- Ibnu Katsir. Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Muddatstsir: 35–48 dan QS. Ath-Thur: 21.
- As-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taisīr Al-Karīm Ar-Rahmān, tafsir QS. Al-Muddatstsir: 37–39.
—-
Diselesaikan Rabu pagi, 6 Rabiul Awwal 1448 H, 19 Agustus 2026 @ perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Sekar Kedhaton Kotagede Jogja
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
sumber: https://rumaysho.com/42681-maksiat-membuat-sulit-untuk-berbuat-baik-dan-taubat.html