Takut dan Berharap kepada Allah, Keduanya Harus Seimbang

Seorang mukmin tidak boleh merasa terlalu aman dari azab Allah, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Al-Qur’an dan Sunnah mendidik kita untuk berjalan menuju Allah dengan dua bekal: rasa takut (khauf) dan penuh harap (raja’). Keseimbangan keduanya akan membuat seseorang serius beramal tanpa kehilangan harapan terhadap luasnya rahmat Allah.

Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus Asa

Ketahuilah, keadaan yang paling baik bagi seorang hamba ketika sehat adalah memiliki rasa takut dan harap kepada Allah secara seimbang. Rasa takut dan harapnya hendaknya sama kuat. Adapun ketika sedang sakit, hendaknya ia lebih menguatkan harapannya kepada Allah.

Kaidah-kaidah syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil-dalil lainnya menunjukkan hal tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾

Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾

Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾

Pada hari ketika ada wajah yang menjadi putih berseri dan ada pula wajah yang menjadi hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 106)

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, tetapi sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf: 167)

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ۝ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ﴾

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13–14)

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ﴾

Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9)

Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Terkadang Allah menggabungkan rasa takut dan harap dalam dua ayat yang berurutan, beberapa ayat, bahkan dalam satu ayat sekaligus.

Pelajaran dari Ayat

1. Seorang hamba hendaknya menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Jika ia melihat dirinya merasa aman dari makar Allah karena terus-menerus melakukan maksiat, maka ia harus meninggalkan keadaan itu dan menempuh jalan yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, jika ia mendapati dirinya dikuasai waswas dan rasa takut yang berlebihan, maka hendaknya ia lebih menguatkan harapan kepada Allah hingga rasa takut dan harapnya kembali seimbang.

2. Metode Al-Qur’an adalah selalu memadukan rasa takut dan harap. Inilah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang jujur, memiliki ilmu dan pandangan yang benar, serta mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an yang mulia.

Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-Nya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»

“Seandainya seorang mukmin mengetahui besarnya azab yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berani berharap memperoleh surga-Nya. Sebaliknya, seandainya seorang kafir mengetahui betapa luas rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berputus asa dari memperoleh surga-Nya.” (HR. Muslim)

Faedah hadits

1. Besarnya kemuliaan seorang mukmin di sisi Allah. Allah menumbuhkan harapan dalam dirinya untuk meraih surga, sekaligus memberikan taufik sehingga ia mampu mengerjakan amal-amal saleh.

2. Hinanya orang kafir di hadapan Allah. Ia dihalangi dari amal saleh karena berpaling dari Allah Ta’ala serta tertipu oleh angan-angan kosong dan mengikuti hawa nafsunya.

Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu Rabbnya

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ، وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا! أَيْنَ تَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانُ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ»

“Apabila jenazah telah diletakkan di atas usungan lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka, jika ia adalah orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Cepatlah bawa aku! Cepatlah bawa aku!’ Namun jika ia bukan orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Celakalah aku! Ke mana kalian membawaku?’ Suaranya didengar oleh semua makhluk selain manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya mereka akan pingsan.” (HR. Bukhari)

Kosakata hadits

وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ: Jenazah telah diletakkan di atas usungan (keranda) untuk dibawa menuju pemakaman.

Faedah hadits

1. Jenazah orang saleh sangat berharap kepada rahmat Allah. Ia mengetahui berbagai kenikmatan dan kebaikan yang telah Allah siapkan untuknya, sehingga ia ingin segera sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.

2. Hadis ini menunjukkan metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggabungkan rasa takut dan harap. Orang saleh dibuat semakin berharap kepada rahmat Allah, sedangkan orang yang durhaka diperingatkan agar takut terhadap azab-Nya.

Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan Mobil

Dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

«وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ»

“…lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka…”

Dari petunjuk Nabi ini, penulis kitab mengambil faedah bahwa jenazah tidak semestinya diletakkan di dalam mobil ketika dibawa ke pemakaman, dengan beberapa alasan berikut.

Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Syariat melarang kaum muslimin meniru dan menyerupai mereka.

Cara tersebut menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusung jenazah.

Menghilangkan hikmah dan pelajaran dari mengusung jenazah dengan tangan sehingga orang-orang dapat melihatnya, mengingat kematian, dan mengambil ibrah.

Ketahuilah, saudaraku seiman, ketika bangsa-bangsa kafir telah melupakan kematian dan tenggelam dalam kenikmatan dunia serta syahwat, mereka menjauh dari segala sesuatu yang mengingatkan kepada kematian. Karena itu, mereka meletakkan jenazah di dalam peti-peti tertutup yang dibawa dengan mobil.

Cara tersebut dapat mengurangi jumlah orang yang mengiringi jenazah dan ingin memperoleh pahala, karena tidak semua orang dapat ikut mengantarkan jenazah jika menggunakan cara seperti itu.

Mengiringi jenazah dengan iring-iringan mobil dan prosesi yang bersifat seremonial tidak sejalan dengan kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam yang menjauhkan umatnya dari formalitas yang berlebihan dalam urusan kematian.

Pengecualian: Larangan tersebut tidak berlaku apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya jarak menuju pemakaman sangat jauh. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan kendaraan dibolehkan sebatas kebutuhan, tanpa berlebihan dalam unsur seremonial dan formalitas.

Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan Kita

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»

“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari)

Kosakata hadits

شِرَاكُ نَعْلِهِ: Tali sandal yang mengikat sandal pada kaki. Ungkapan ini digunakan sebagai perumpamaan tentang sesuatu yang sangat dekat, karena seseorang mengenakan sandalnya setiap saat ketika berjalan.

Faedah hadits

1. Seorang hamba harus terus memperbaiki kekurangan dalam dirinya, baik dalam sisi rasa takut kepada Allah maupun harapan kepada-Nya. Jangan sampai rasa takut membuatnya berputus asa, dan jangan pula rasa berharap membuatnya merasa aman dari azab Allah.

2. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju salah satu dari dua tujuan: surga atau neraka. Karena itu, berbahagialah orang yang Allah beri taufik untuk memperbanyak amal-amal saleh yang pahalanya kekal dan terus mengantarkannya menuju surga.

Referensi:

  • Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  • Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—-

Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Agustus 2026,  28 Safar 1448 H

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42632-takut-dan-berharap-kepada-allah-keduanya-harus-seimbang.html