Jangan Menunda Taubat, Karena Kita Tidak Tahu Kapan Ajal Menjemput

Setiap hari kita berbuat dosa. Ada dosa yang kita sadari, ada pula yang tidak kita sadari. Namun, yang lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri adalah menunda taubat. Sebab, tidak ada seorangpun  yang mengetahui apakah ia masih diberi kesempatan hidup hingga esok hari.

Allah ﷻ berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nūr: 31)

Perintah ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman, menunjukkan bahwa seorang mukmin pun senantiasa membutuhkan taubat. Tidak ada seorangpun yang terbebas dari dosa selain para nabi yang Allah jaga.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak bersalah adalah mereka yang banyak bertaubat.” HR. At-Tirmidzi no. 2499, dan dinilai hasan oleh sebagian ulama.

Allah ﷻ juga berfirman:

﴿وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ’Imran: 133)

Perhatikan, Allah tidak hanya memerintahkan untuk bertaubat, tetapi juga bersegera menuju ampunan-Nya. Menunda taubat adalah salah satu tipu daya terbesar setan.

Allah Membuka Pintu Taubat Siang dan Malam

Dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ’anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat. Dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari arah barat.” HR. Muslim no. 2759.

Betapa luas rahmat Allah. Kita yang berulang kali berbuat dosa, masih dipanggil untuk kembali kepada-Nya.

Jangan Tertipu dengan Angan-Angan

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيفَ، فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدِكَ، فَإِنْ يَكُنْ لَكَ غَدٌ فَكُنْ فِي غَدِكَ كَمَا كُنْتَ فِي يَوْمِكَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ غَدٌ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِي الْيَوْمِ

“Jauhilah sikap menunda-nunda. Engkau hanya memiliki hari ini, bukan hari esok. Jika engkau masih hidup esok hari, maka beramallah sebagaimana engkau beramal hari ini. Jika engkau tidak sampai kepada hari esok, engkau tidak akan menyesali kelalaianmu hari ini.”

Betapa banyak orang yang berkata, “Nanti kalau sudah tua saya akan bertaubat.” Padahal tidak ada jaminan seseorang akan sampai kepada masa tuanya.

Dosa Mengeraskan Hati

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah juga berkata:

مَا جَفَّتِ الدُّمُوعُ إِلَّا لِقَسْوَةِ الْقُلُوبِ، وَمَا قَسَتِ الْقُلُوبُ إِلَّا لِكَثْرَةِ الذُّنُوبِ

“Air mata tidak menjadi kering kecuali karena kerasnya hati, dan hati tidak menjadi keras kecuali karena banyaknya dosa.”

Karena itu, jika kita merasa sulit menangis ketika membaca Al-Qur’an, sulit khusyuk dalam shalat, atau berat melakukan ketaatan, jangan-jangan dosa-dosa kitalah yang telah mengeraskan hati.

Taubat Memiliki Syarat

Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang diterima Allah memiliki beberapa syarat:

  1. Meninggalkan dosa tersebut.
  2. Menyesali perbuatan yang telah dilakukan.
  3. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.
  4. Jika berkaitan dengan hak manusia, maka mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf kepada pemiliknya.

Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan syarat-syarat ini dalam Riyadhus Shalihin ketika membahas bab taubat.

Taubat Adalah Jalan Orang Bertakwa

Allah ﷻ memuji orang-orang bertakwa dengan firman-Nya:

﴿وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ﴾

“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka.” (QS. Ali ’Imran: 135)

Mereka bukanlah manusia yang tidak pernah berdosa, tetapi mereka adalah orang yang tidak terus-menerus tenggelam dalam dosa. Setiap kali tergelincir, mereka segera kembali kepada Allah.

Penutup

Jangan menunggu hati menjadi lembut untuk bertaubat. Justru bertaubatlah agar Allah melembutkan hati kita. Jangan menunggu Ramadhan. Jangan menunggu hari tua. Jangan menunggu sakit. Jangan menunggu kematian datang.

Boleh jadi dosa yang kita anggap kecil menjadi sebab kebinasaan. Dan boleh jadi taubat yang kita lakukan hari ini menjadi sebab Allah mengampuni seluruh dosa kita.

Allah ﷻ berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ﴾

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam Madarij as-Salikin berkata:

التَّوْبَةُ أَوَّلُ مَنَازِلِ السَّائِرِينَ وَأَوْسَطُهَا وَآخِرُهَا

“Taubat adalah awal perjalanan seorang hamba menuju Allah, pertengahannya, sekaligus akhir perjalanannya.”

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang apabila berbuat dosa segera kembali kepada-Nya dengan taubat yang tulus, menerima taubat kita, menghapus dosa-dosa kita, dan mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah.

Wallohu a’lam

Ditulis oleh Abu Umar Ihsan dan Ustadz Muhammad Fikri Al-Hilabi, S.Ag., M.Ag.

sumber: https://bimbinganislam.com/jangan-menunda-taubat-karena-kita-tidak-tahu-kapan-ajal-menjemput/