Bahaya Sombong: Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga

Sombong bukan sekadar merasa diri lebih hebat, tetapi penyakit hati yang pertama kali menyeret Iblis pada pembangkangan. Banyak orang tampak baik secara lahir, tetapi rusak karena menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa kesombongan bisa menghalangi surga, mengundang kehinaan, dan hanya bisa diobati dengan tawaduk kepada Allah.

Sombong adalah sifat tercela. Sifat ini dimiliki oleh Iblis dan bala tentaranya dari kalangan penduduk dunia, yaitu orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah Ta’ala.

Sombong adalah Akhlak Iblis

Makhluk pertama yang sombong kepada Allah dan kepada makhluk-Nya adalah Iblis yang terlaknat. Ketika Allah Ta’ala memerintahkannya untuk sujud kepada Adam, ia menolak dan menyombongkan diri. Ia berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ۝ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)-mu. Kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A’raf: 11–12)

Kesombongan adalah salah satu akhlak Iblis. Siapa saja yang ingin bersikap sombong, hendaklah ia sadar bahwa dirinya sedang meniru akhlak setan. Ia tidak sedang meneladani akhlak para malaikat yang mulia, yang taat kepada Rabb mereka lalu segera bersujud.

Sombong Menghalangi Seseorang dari Surga

Belum lagi, kesombongan menjadi sebab seseorang terhalang masuk surga. Kesombongan juga membuat dirinya terhalang dari pandangan Rabb Yang Mahaperkasa kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam dua hadis berikut.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.”
Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”
Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahindah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91)

  • بَطَرُ الْحَقِّ artinya menolak kebenaran setelah mengetahuinya.
  • غَمْطُ النَّاسِ artinya merendahkan manusia.

Sombong dalam Pakaian dan Penampilan

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ.

Siapa saja yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.”
Abu Bakr berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi kainku kadang turun, kecuali jika aku terus menjaganya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Bukhari, no. 3465)

Kesombongan Hanya Layak bagi Allah

Sombong adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat ini, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan hidupnya.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

الْعِزُّ إِزَارُهُ، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ، فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ.

Kemuliaan adalah kain-Nya, dan kebesaran adalah selendang-Nya. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 2620)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Demikianlah redaksi hadits ini dalam seluruh naskah. Kata ganti pada kalimat إِزَارُهُ dan رِدَاؤُهُ kembali kepada Allah Ta’ala karena hal itu sudah diketahui. Dalam hadis ini ada bagian yang tidak disebutkan secara tersurat. Perkiraannya adalah, ‘Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.”’

Makna يُنَازِعُنِي adalah seseorang berakhlak dengan sifat tersebut, sehingga ia seakan-akan menjadi pihak yang ikut memiliki sifat itu.

Hadis ini berisi ancaman yang sangat keras terhadap kesombongan dan secara tegas menunjukkan haramnya sifat tersebut.” Syarh Muslim (16:173).

Orang Sombong akan Direndahkan

Siapa saja yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang-orang yang paling hina. Sebab, ia telah menyelisihi ketentuan asalnya, maka Allah membalasnya dengan kebalikan dari tujuan yang ia inginkan. Ada ungkapan, “Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”

Orang yang sombong kepada manusia, pada hari Kiamat akan diinjak-injak di bawah kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ.

Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi dalam bentuk manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka kemudian digiring menuju sebuah penjara di Jahannam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas berada di atas mereka. Mereka diberi minum dari perasan penduduk neraka, yaitu thinah al-khabal.” (HR. Tirmidzi, no. 2492; dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025)

Mereka diberi minum” dalam bentuk kalimat pasif, maksudnya para malaikat penjaga Jahannam memberi mereka minum dengan perintah Rabb mereka, “dari perasan penduduk neraka”, yaitu cairan yang mengalir dari darah, nanah, dan cairan busuk penduduk neraka, serta bau busuk mereka. Perasan ini disebut “thinah al-khabal”, yaitu kerusakan yang membuat tubuh menjadi rusak.

Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi Ukuran

Di antara cara mengobati kesombongan adalah hendaklah seseorang memandang dirinya sama seperti manusia yang lain. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ibu dan ayah, sebagaimana ia juga lahir dari ibu dan ayah. Hendaklah ia menyadari bahwa takwa adalah ukuran yang sebenarnya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Hendaklah seorang muslim yang sombong menyadari bahwa setinggi apa pun kedudukannya, ia tetap terlalu lemah untuk dapat setinggi gunung atau menembus bumi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 18–19)

Jangan Berjalan dengan Angkuh

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala, وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ‘dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh,’ adalah larangan dari sikap congkak dan perintah untuk bersikap tawaduk.

Al-marh maknanya adalah sangat gembira. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong ketika berjalan. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah seseorang melampaui batas kedudukannya.

Qatadah berkata, ‘Maknanya adalah congkak ketika berjalan.’

Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong dan melampaui batas. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah semangat.

Semua pendapat ini saling berdekatan, tetapi terbagi menjadi dua bagian:

Pertama, makna yang tercela. Kedua, makna yang terpuji.

  • Sombong, melampaui batas, congkak, dan seseorang melampaui batas kedudukannya adalah makna yang tercela.
  • Adapun gembira dan semangat adalah makna yang terpuji.”

Tafsir Al-Qurthubi (10:260).

Ingat Asal dan Akhir Manusia

Di antara obat kesombongan adalah hendaklah seseorang mengetahui bahwa orang yang sombong pada hari Kiamat akan dikumpulkan dalam keadaan kecil seperti semut-semut kecil, lalu diinjak oleh kaki manusia.

Orang yang sombong dibenci oleh manusia, sebagaimana ia juga dibenci oleh Allah Ta’ala. Manusia mencintai orang yang tawaduk, mudah bergaul, lembut, dan ringan dalam bermuamalah. Sebaliknya, mereka membenci orang yang kasar dan keras.

Di antara obat kesombongan pula adalah hendaklah seseorang mengingat bahwa dirinya dan air seni keluar dari tempat yang sama. Awal penciptaannya hanyalah setetes mani yang hina. Akhir keadaannya adalah bangkai yang busuk. Di antara awal dan akhir itu, ia membawa kotoran dalam perutnya. Lalu, dengan apa ia hendak menyombongkan diri?!

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesombongan dan menganugerahkan kepada kita sifat tawaduk.

Nasihat Penutup

Di zaman media sosial, kesombongan bisa muncul dalam bentuk merasa paling benar, paling berilmu, paling saleh, paling berhasil, atau paling layak dipuji. Kadang seseorang tidak merasa sedang sombong, padahal ia sulit menerima nasihat dan mudah merendahkan orang lain. Maka, ukuran kemuliaan bukanlah pengikut, jabatan, harta, ilmu, atau penampilan, tetapi takwa kepada Allah. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan dan menjadikan kita hamba yang tawaduk.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ لَكَ وَلِعِبَادِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.

ALLAAHUMMA THAHHIR QULUUBANAA MINAL KIBRI WAL ‘UJBI WAR RIYAA’, WARZUQNAT TAWAADHU‘A LAKA WA LI‘IBAADIK, WAJ‘ALNAA MIN ‘IBAADIKAL MUTTAQIIN.

“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya. Anugerahkanlah kepada kami sifat tawaduk kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa.”

Referensi:

  • Islamqa no. 9229
  • Dorar.net

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42405-bahaya-sombong-akhlak-iblis-yang-menghalangi-surga.html