Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita, Kitalah yang Membutuhkannya

Ketika Allah ta’ala memerintahkan para hamba untuk beribadah kepadaNya, hal itu bukanlah karena manfaat yang kembali kepadaNya. Bahkan Allah Maha Kaya dari para hamba dan tak butuh ibadah mereka. Dia tidak membutuhkan ibadah itu dan tidak pula untuk menambah kemuliaan-Nya. Allah berfirman:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak mempunyai penolong dari kehinaan; dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS al Isra: 111)

Sesungguhnya ibadah itu adalah hak Allah, yang memang Dia berhak atasnya, dari para hamba. Dia juga mencintai dan meridhoi hamba yang beribadah kepadaNya. Allah berfirman dalam hadits qudsi yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim:

(يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu memberi mudarat kepada-Ku sehingga kalian bisa memudaratkan-Ku, dan kalian tidak akan mampu memberi manfaat kepada-Ku sehingga kalian bisa memberi manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, seandainya yang pertama dan yang terakhir di antara kalian, manusia dan jin kalian, berada di atas hati orang yang paling bertakwa di antara kalian, maka itu tidak menambah sedikit pun kerajaan-Ku. Wahai hamba-Ku, seandainya yang pertama dan yang terakhir di antara kalian, manusia dan jin kalian, berada di atas hati orang yang paling durhaka di antara kalian, maka itu tidak mengurangi sedikitpun dari kerajaan-Ku.” (HR Muslim)

Allah juga berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adz Dzariat: 56)

Kemudian Allah berfirman:

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

“Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.” (QS adz Dzariyat: 57)

Allah menjelaskan bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia karena membutuhkan mereka, dan bukan untuk mengambil keuntungan dari mereka. Akan tetapi Dia menciptakan mereka sebagai bentuk kemurahan dan kebaikanNya, agar mereka beribadah kepadaNya, sehingga merekalah yang meraih seluruh keuntungan itu.

Allah berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam menjaganya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik adalah bagi ketakwaan.” (QS Thaha: 132)

Dan firman-Nya:

﴿إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ

“Jika kalian berbuat baik, maka kebaikan itu untuk diri kalian sendiri.” (QS Al Isra: 7)

Dan firman-Nya:

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa kufur, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS an Naml: 40)

Dan firman-Nya:

وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, maka untuk diri mereka sendiri mereka menyiapkan (kebaikan itu).” (QS Ar Rum: 44)

Ketika Allah memerintahkan mereka untuk berwudhu dan mandi junub, yang dengannya dosa-dosa mereka berguguran, mereka dapat menghadap kepada-Nya, dan derajat mereka terangkat, Allah berfirman:

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak ingin menyulitkan kalian, tetapi Dia ingin membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian agar kalian bersyukur.” (QS Al Maidah: 6)

Dan Allah berfirman tentang qurban dan qurban:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS Al Hajj: 37).

Dan setelah memerintahkan sedekah serta melarang mengeluarkan harta yang buruk, Allah berfirman:

﴿وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Janganlah kalian memilih yang buruk darinya untuk kalian infakkan, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata (karena tidak suka). Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Artinya: Aku Maha Kaya dari apa yang kalian infakkan, tidak ada sesuatu pun darinya yang sampai kepadaKu. 

Allah Maha Terpuji, berhak atas segala pujian. Infak kalian tidak untuk kebutuhanNya dan tidak menjadikanNya layak dipuji, karena Dia memang Maha Kaya dan Maha Terpuji dengan Dzat, nama-nama, dan sifat-sifatNya. Justru manfaat infak itu kembali kepada kalian sendiri.

Kesimpulannya: ibadah itu kembali manfaatnya kepada hamba itu sendiri. Dengan ibadah itulah kebahagiaan, kebaikan, kesempurnaan, serta rahmat Rabbnya dan keselamatan dari azabNya akan diperoleh. Para ulama berkata: “Semua (makhluk) menginginkanmu untuk kepentingan mereka. Adapun Allah, Dia menginginkanmu untuk kebaikanmu sendiri.”

Makhluk tidak bertujuan memberi manfaat kepadamu sebagai tujuan utama, melainkan untuk mengambil manfaat darimu. Sedangkan Rabb ta’ala menginginkan manfaat bagimu, bukan untuk mengambil manfaat darimu, dan itu adalah manfaat yang murni untuk dirimu sendiri.

Ditulis oleh Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah 

Dan diterjemahkan oleh: Ustadz Amrullah Akadhinta S.T.

sumber: https://bimbinganislam.com/allah-tidak-membutuhkan-ibadah-kita-kitalah-yang-membutuhkannya/