10 Hari Pertama Bulan Zulhijah: Hari-Hari Mulia yang Terlupakan

Setiap insan yang beriman pasti mengetahui betapa mulia bulan ini, mereka berlomba-lomba mengisi siang dan malamnya, juga mengerahkan segala tenaganya dengan berbagai amal ibadah yang dicintai Allah. Bahkan, ada yang sanggup menahan diri dari maksiat yang biasa ia lakukan di luar bulan ini. Bulan apakah itu? Ya, bulan Ramadan. Semua orang beriman begitu mengistimewakan bulan yang satu ini. Padahal, ada juga empat bulan lainnya yang tak kalah mulia, bulan yang sering dilalaikan atau mungkin belum diketahui keutamaannya oleh sebagian orang beriman. Bahkan, dari empat bulan tersebut, ada hari-hari yang lebih utama dari siang hari bulan Ramadan, yaitu 10 hari pertama bulan Zulhijah.

Allah memuliakan sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain dan mengangkat derajatnya di atas yang lain beberapa derajat. Allah memuliakan sebagian hari dan bulan dari sebagian lainnya, Allah menjadikan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah sebagai hari terbaik di dunia dan hari yang paling utama adalah hari Nahar (Iduladha). Allah memilih hari Jumat menjadi hari terbaik dalam sepekan. Dan malam-malam terbaik jatuh pada sepuluh malam akhir bulan Ramadan, dan yang paling utama adalah lailatul qadr.

Seistimewa apakah sepuluh hari pertama Zulhijah?

Allah bersumpah dengannya 

Tidaklah Allah bersumpah, kecuali dengan sesuatu yang agung. Allah Ta’ala berfirman,

وَالۡفَجۡرِۙ‏ (١)  وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ‏ (٢)

“Demi waktu fajar. Dan malam-malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Malam-malam yang sepuluh maksudnya adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah menurut jumhur ahli tafsir dari kalangan salaf dan selainnya. (Lathaiful Ma’arif, hal. 268)

Salah satu dari bulan Haram

Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya alasan dinamakan sebagai bulan Haram yaitu,

لزيادة حرمتها، وتحريم القتال فيها‏

“Karena ia lebih mulia dan lebih suci, serta diharamkan peperangan di dalamnya.”

Ada empat bulan Haram yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan Haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)

Perkataan Allah Ta’ala, ‘Di antaranya terdapat empat bulan Haram’ berdasarkan tafsir Al-Qurthubi rahimahullah yaitu,

الأشهر الحرم المذكورة في هذه الآية ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب الذي بين جمادى الآخرة وشعبان ، وهو رجب مضر ، وقيل له رجب مضر لأن ربيعة بن نزار كانوا يحرمون شهر رمضان ويسمونه رجبا . وكانت مضر تحرم رجبا نفسه ، فلذلك قال النبي صلى الله عليه وسلم فيه : الذي بين جمادى وشعبان ورفع ما وقع في اسمه من الاختلال بالبيان

“Bulan-bulan Haram yang disebutkan dalam ayat ini adalah Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab yang berada di antara Jumadil Akhir dan Syakban. Inilah Rajab Mudhar. Dikatakan Rajab Mudhar karena suku Rabi’ah bin Nizar mengharamkan bulan Ramadan dan menamakannya Rajab. Sedangkan, suku Mudhar mengharamkan bulan Rajab itu sendiri. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya, “Yang berada di antara Jumadil Akhir dan Syakban,” dan beliau menghilangkan kerancuan yang terjadi dalam penamaannya dengan penjelasan tersebut.”

Pada bulan Haram ini, Allah melarang untuk menzalimi diri sendiri, maksudnya adalah untuk tidak berbuat dosa karena tingkat keharamannya lebih berat lagi dahsyat dibandingkan bulan lainnya. Hal ini disebabkan sangat angung nan sucinya bulan-bulan ini di sisi Allah Ta’ala. Sebaliknya, amal ibadah yang dilakukan pada bulan ini pahalanya dilipatgandakan. Maka, hendaknya kaum muslimin bersemangat beramal saleh di dalamnya.

Lebih utama daripada jihad

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ اَلْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ.

“Tidak ada hari di mana suatu amal saleh lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla melebihi amal saleh yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Zulhijah).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibandingkan jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad) dan tidak ada satu pun yang kembali (syahid).” (HR. Bukhari no. 969 dan Tirmidzi no. 757)

Terkumpul di dalamnya ibadah yang agung

Tidak terdapat kumpulan ibadah agung ini pada hari-hari lainnya yaitu haji, Iduladha (salat Id dan berkurban), puasa, dan sedekah. (Fathul Bari, 2: 146)

Di dalamnya terdapat hari Arafah

Surah Al-Maidah ayat 3 turun pada hari Arafah, yang berarti disempurnakannya agama Islam dan dicukupkan nikmat Allah untuk kaum muslimin, Allah bersumpah dengannya pada surah Al-Fajr ayat 3, dan tiada suatu hari pun Allah membebaskan penghuni neraka lebih banyak dari hari ini.

Dan hari terbaik setelah Iduladha jatuh pada hari ini, di mana Allah turun ke langit dunia dan membanggakan jemaah haji yang sedang wukuf di hadapan para malaikat. Adapun yang tidak melaksanakan ibadah haji, terdapat syariat puasa yang ganjarannya pun tak main-main,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Arafah (9 Zulhijah), saya berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Dan puasa hari ‘Asyura’ (10 Muharam), saya berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.”  (HR. Muslim no. 1162)

Ditutup dengan puncak hari terbaik

Selama ini mungkin kita berpikir bahwa Idulfitri lebih baik kedudukannya di sisi Allah dibandingkan Iduladha. Ternyata keyakinan tersebut tidaklah benar. Sebaliknya, Iduladha lebih mulia, bahkan hari terbaik jatuh pada hari Iduladha karena setelah melaksanakan salat Id, ada syariat yang begitu mulia, yaitu menyembelih hewan kurban.

إنَّ أعظمَ الأيَّامِ عندَ اللَّهِ تبارَكَ وتعالَى يومُ النَّحرِ ثمَّ يومُ القَرِّ

Hari yang paling agung di sisi Allah adalah yaum nahar (hari raya kurban), lalu yaumul-qarr (hari singgah di Mina). (HR. Abu Daud no. 1765, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Menyembelih dikatakan ibadah karena terdapat perbuatan menghilangkan nyawa hewan sembelihan dan mengalirkan darah dalam rangka ta’zhim (mengagungkan) kepada Allah dan merendahkan diri kepada-Nya.

Terdapat berbagai macam ibadah zahir maupun batin dalam ibadah menyembelih. Ada unsur perendahan diri, mengagungkan Allah dengan sepuncak-puncak pengagungan, memiliki raja’ agar sembelihannya diterima oleh Allah, ada thalabul barakah saat mengucapkan basmalah, ibadah gerakan lisan saat mengucapkan basmalah dan takbir, serta gerakan tangan dalam menyembelih karena mutaba’ah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menajamkan pisau.

Iduladha disebut juga ayyamul ma’lumat,

لِّيَشْهَدُوا۟ مَنَٰفِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 28)

Masih banyak sekali keutaman sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, namun semoga apa yang dipaparkan di atas dapat menjadi pengingat bagi kaum muslimin agar tidak melalaikan hari-hari terbaik sepanjang tahun dan menjadi motivasi untuk bersemangat menghidupkannya dengan memperbanyak ibadah seperti salat sunah, puasa, sedekah, takbir mutlak maupun muqayyad, zikir, birrul walidain, dan segala jenis ibadah lainnya.

Di antara hal yang sangat mengherankan, kaum muslimin sangat bersemangat menghidupkan bulan Ramadan, namun bermalas-malasan dan futur pada hari-hari terbaik ini. Padahal, hari-hari ini lebih agung daripada siang hari bulan Ramadan serta ibadah di dalamnya lebih dicintai dan lebih utama di sisi Allah. Sehingga yang lebih utama adalah seorang mukmin seyogyanya menjaga semangat beribadah pada siang hari bulan Ramadan dan lebih bersemangat lagi beribadah pada 10 hari pertama bulan Zulhijah.

***

Penulis: Atma Beauty Muslimawati

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • 44 Faidah fi ‘Asyri Dzilhijjah. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Ebook Zad Group
  • 55 Faidah fi Yaumi ‘Arafah. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Ebook Zad Group
  • 15 Faidah fi Syahri Dzilqa’dah. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Ebook Zad Group
  • Tafsir As-Sa’di dan Qurthubi dalam apss Ayat oleh King Saud University
  • Ceramah ustaz Firanda, Keutamaan Bulan Zulhijah.
  • Faidah Dauroh Ushul Tsalatsah bersama ustadz Sa’id Abu Ukkasyah hafizhahullah tahun 2018.

Sumber: https://muslimah.or.id/33241-10-hari-pertama-bulan-zulhijah-hari-hari-mulia-yang-terlupakan.html