Awal Mula Penyimpangan Kaum Nabi Luth Akibat Coba-Coba Menggauli Istri Melalui Dubur

Penyimpangan seksual yang dilakukan manusia seakan tidak pernah berhenti. Dari dahulu hingga sekarang, selalu muncul bentuk-bentuk penyimpangan baru yang dilakukan oleh sebagian manusia. Sering kali, penyimpangan tersebut berawal dari fantasi seksual yang terus dipupuk dan dipelihara.

Ketika fantasi tertentu terus-menerus dipikirkan atau diwujudkan dalam tindakan, seseorang bisa terdorong untuk mencari sensasi yang lebih tinggi dan lebih ekstrem. Akibatnya, sesuatu yang awalnya dianggap “sekadar mencoba” perlahan berkembang menjadi penyimpangan yang melampaui batas fitrah manusia.

Pada awal kehidupan manusia, hubungan seksual berlangsung secara normal sesuai fitrah yang Allah tanamkan, yaitu laki-laki mendatangi wanita pada tempat yang semestinya. Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian manusia mulai mencari sensasi baru karena tidak merasa puas dengan apa yang telah Allah halalkan. Hingga akhirnya muncullah kaum Nabi Luth yang pertama kali melakukan penyimpangan seksual dengan mendatangi sesama laki-laki.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al A’raf: 80-81)

‘Amr bin Dinar rahimahullah berkata tentang ayat tersebut:

ما نزا ذكر على ذكر ، حتى كان قوم لوط

“Perzinaan antara sesama lelaki belum ada sebelumnya hingga diperbuat oleh kaum Luth.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4/59)

Penyimpangan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi berkembang secara bertahap akibat hawa nafsu yang terus dituruti tanpa kendali. Jika hawa nafsu tidak direm, maka penyimpangan akan terus berkembang dan tidak memiliki batas.

Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa awal mula penyimpangan kaum Nabi Luth adalah ketika mereka tidak merasa cukup dengan hubungan yang normal bersama istri-istri mereka, lalu mulai melakukan hubungan melalui dubur. Setelah itu, mereka terus mencari sensasi baru hingga akhirnya terjatuh pada penyimpangan yang lebih besar, yaitu mendatangi sesama laki-laki.

Ketika Imam Al-Qurthubi menafsirkan firman Allah Ta’ala:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

“Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian itu bagaimana saja yang kalian kehendaki.” (QS. Al Baqarah: 223)

Beliau membawakan riwayat dari Thawus bin Kaisan rahimahullah yang menyatakan,

كان بدء عمل قوم لوط إتيان النساء في أدبارهن

“Awal kali penyimpangan kaum Nabi Luth adalah ketika mereka mendatangi wanita melalui duburnya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 3/96)

Demikianlah tabiat penyimpangan seksual: ia akan terus berkembang, semakin bervariasi, dan tidak pernah merasa puas. Setan pun menggoda manusia secara bertahap. Ia tidak langsung menyeret manusia kepada penyimpangan yang paling besar, tetapi memulai dari pelanggaran-pelanggaran yang dianggap ringan. Ketika seseorang sudah berani melanggar batas pertama, maka batas berikutnya akan semakin mudah ditembus. Oleh karena itu, syariat Islam datang untuk menutup pintu-pintu penyimpangan sejak awal, sebelum kerusakan menjadi semakin besar dan tidak terkendali.

Artikel http://www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/awal-mula-penyimpangan-kaum-nabi-luth-akibat-coba-coba-menggauli-istri-melalui-dubur.html