Rahasia Masuk Surga: Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak

Sering kali konflik bisnis terjadi bukan karena siapa yang salah, tetapi karena cara menyikapinya. Banyak orang ingin menang dalam transaksi, namun lupa menjaga hati dan hubungan. Kisah Utsman radhiyallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwa jalan menuju surga justru dibuka melalui sikap lapang dalam urusan dunia.

Kisah Utsman: Ketika Berada di Pihak yang Kuat

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Utsman bin Affan membeli sebidang tanah dari seseorang. Namun, penjual tersebut menunda-nunda untuk mengambil uangnya.

Suatu hari, Utsman bertemu dengannya lalu berkata, “Apa yang membuatmu belum juga mengambil uangmu?”

Orang itu menjawab, “Saya merasa dirugikan dalam transaksi ini. Setiap kali bertemu orang, mereka selalu menyalahkan saya.”

Utsman bertanya, “Apakah itu yang menghalangimu?”

Ia menjawab, “Ya.”

Maka Utsman berkata dengan lapang hati,

فَاخْتَرْ بَيْنَ أَرْضِكَ وَمَالِكَ.

“Kalau begitu, silakan pilih: engkau ambil kembali tanahmu atau tetap mengambil uangmu.”

Kemudian Utsman berkata bahwa Muhammad bersabda:

«أَدْخَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ رَجُلًا سَهْلًا مُشْتَرِيًا وَبَائِعًا وَقَاضِيًا وَمُقْتَضِيًا»

Allah memasukkan ke dalam surga seseorang yang bersikap mudah (lapang) ketika membeli, ketika menjual, ketika menetapkan keputusan, dan ketika menagih haknya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i; dengan beberapa jalur dari Yunus bin ‘Ubaid, dinilai maqbul oleh Ad-Daraquthni).

Keterangan Riwayat

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur lain, serta diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan An-Nasa’i dengan sanad yang serupa.

Adapun penjelasan dari Ad-Daraquthni, beliau menyebutkan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan dari Yunus bin Ubaid. Di antaranya melalui Atha’ bin Farrukh, melalui Al-Hasan dari Abu Hurairah, dan juga melalui Al-Maqburi dari Abu Hurairah. Seluruh jalur tersebut dinilai terjaga (maqbul) dari Yunus.

Inti Pelajaran

  • Kisah ini menunjukkan bahwa akhlak mulia dalam muamalah bukan sekadar mengambil hak, tetapi juga menjaga hati dan hubungan.
  • Sikap lapang, tidak kaku, dan tidak mempersulit orang lain dalam urusan transaksi adalah sebab besar seseorang dimasukkan ke dalam surga.
  • Bahkan, seseorang yang sebenarnya berada di pihak benar tetap dianjurkan untuk memberi kelonggaran, demi menjaga kebaikan yang lebih besar.

Kalau kita ingin bisnis ini bukan sekadar untung dunia, tapi juga jadi jalan ke surga, maka bukan hanya kejujuran yang dijaga—tapi juga kelembutan dalam bersikap.

Renungan dari Hadits Iqaalah

Hadits berikut sebenarnya menjadi penjelas langsung dari kisah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan di atas.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).

Makna hadits ini:

  • “أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal
  • “أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat

Jadi, ketika kita memudahkan urusan orang lain dalam transaksi, Allah akan membalasnya dengan memudahkan urusan kita di akhirat.

Sikap Utsman bin ‘Affan hakikatnya adalah bentuk iqālah (membatalkan transaksi)—yaitu memberi kesempatan kepada pihak lain untuk keluar dari akad yang sudah sah.

Nasihat Penutup

Di zaman sekarang, banyak konflik langsung dibawa ke jalur hukum tanpa didahului dengan komunikasi yang baik. Padahal, Islam mengajarkan agar kita mendahulukan kelembutan, dialog, dan sikap lapang dalam menyelesaikan masalah. Jangan sampai kita menang secara dunia, tetapi kehilangan keberkahan dan pahala di sisi Allah. Jadikan setiap transaksi bukan hanya mencari untung, tetapi juga jalan menuju surga.

Kalau kita ingin bisnis ini bukan sekadar menghasilkan keuntungan dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju surga, maka:

  • Jangan hanya menjaga kejujuran
  • Tapi juga latih kelembutan, kelapangan, dan kemudahan dalam bersikap

Karena bisa jadi, sedikit kelonggaran yang kita berikan di dunia menjadi sebab ampunan besar dari Allah di akhirat.

Referensi: Islamweb.net

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 28 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42115-rahasia-masuk-surga-mudah-dalam-jual-beli-dan-menagih-hak.html