Hadis: Mendidik Anak dengan Ketakwaan

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا، فَالنَّاسُ رَجُلَانِ: بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ، وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ، وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ، وَخَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ ، قَالَ اللَّهُ: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾ (الحجرات: 13)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamberkhotbah kepada manusia pada hari pembebasan kota Mekah. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan orang-orang jahiliyah dan berbangga-bangga terhadap nenek moyang. Maka manusia terbagi menjadi dua (golongan); orang baik yang bertakwa lagi mulia di sisi Allah dan orang fajir (banyak melakukan maksiat) yang celaka lagi hina di sisi Allah. Manusia itu adalah keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan Allah menciptakan Adam ‘alaihis salam dari tanah.”

Allah berfirman (yang artinya), Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) (HR. Tirmidzi no. 3270)

Beberapa faidah dari hadis:

1) Bentuk kesempurnaan agama Islam adalah menunjukkan kepada jalan-jalan kebaikan (perbuatan terpuji) dan melarang dari segala keburukan (perbuatan tercela).

2) Salah satu bentuk perbuatan tercela yang mengotori hati adalah kesombongan, dan salah satu bentuk kesombongan adalah berbangga-bangga terhadap nasab dengan merendahkan garis nasab orang lain.

Hendaknya orang tua maupun pendidik memberikan pemahaman khusus tentang perkara ini kepada anak-anak atau para peserta didik. Mengajarkan kepada mereka bahwa berbangga-bangga dengan nasab ini adalah perbuatan yang sangat tercela. Selain menjadikan pelakunya terjangkit penyakit kesombongan, perbuatan ini juga akan mendorong pelakunya untuk malas dalam beramal (jika dia menganggap bahwa nasabnya kepada seseorang yang saleh memberinya jaminan masuk surga). Padahal, nasab seseorang tidak bermanfaat bagi keselamatannya di akhirat kelak. Sebagaimana anak Nabi Nuh ‘alaihissalam yang tidak selamat dari azab Allah Ta’ala dikarenakan ia tidak beriman dan tidak patuh terhadap perintah Allah Ta’ala, meskipun ia adalah anak dari seorang Nabi yang dijamin masuk surga.

3) Beberapa cara untuk mengatasi kesombongan:

  • Mengingat asal usul penciptaan manusia. Nabi Adam ‘alaihissalam, manusia pertama, ia diciptakan Allah Ta’ala dari tanah. Tanah yang saat ini kita injak tempatnya di permukaan bumi, bukan di atas langit. Seluruh manusia adalah keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam yang berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Maka, tidak selayaknya bagi manusia untuk meninggi atau bersikap sombong. Terlebih lagi ketika manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dari air mani yang memancar, sesuatu yang apabila berceceran di sebuah tempat, tentunya membuat orang lain yang melihatnya merasa jijik.

خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ

“Dia diciptakan dari air (mani) yang memancar. (QS. Ath-Thariq: 6)

Maka, masih ada alasan yang pantaskah bagi manusia untuk bersikap sombong?

  • Mengingat bahwa kesombongan merupakan kemaksiatan kepada Allah Taala, perbuatan yang sangat dibenci Allah Taala, bahkan termasuk dosa besar.

وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)

Ingatlah bahwa dosa yang pertama kali muncul kepada Allah Taala adalah kesombongan Iblis, sebab kesombongan inilah yang menjadikan Iblis terlaknat selama-lamanya. Tidak ada yang berhak untuk sombong kecuali Allah Taala. Karena hanya Allah Taala saja yang kekayaan-Nya tiada habisnya, kekuatan-Nya tidak ada lemahnya, dan hanya Dia satu-satunya yang kehendak-Nya tiada batasnya. Adapun makluk-makhluk-Nya, tidak pantas untuk menyombongkan diri, sedangkan mereka itu ada di dunia ini juga karena diciptakan oleh-Nya, mereka bisa hidup dan memiliki sesuatu juga karena kehendak dan rezeki dari-Nya.

  • Melatih diri untuk senantiasa bersikap tawadhu’ (rendah hati), dan mengingat bahwa ganjaran dari sikap tawadhu’ adalah diangkatnya derajat oleh Allah Taala.

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), merekmengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)

4) Timbangan keutamaan seorang manusia di sisi Allah Taala bukanlah nasabnya, melainkan ketakwaan. Semakin bertakwa seseorang, maka semakin mulia kedudukannya di sisi Allah. Begitupun sebaliknya, semakin tidak bertakwa seseorang, maka ia akan semakin hina kedudukannya di sisi Allah. Sebagaimana ayat Al-Qur’an yang disebutkan dalam hadis di atas,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

5) Makna dari takwa sebagaimana perkataan sebagian salafusshalih,

التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله، وأن تدع معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله

“Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala di atas cahaya (ilmu) dari Allah Ta’ala dengan mengharapkan pahala (balasan) dari Allah Ta’ala. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala di atas cahaya (ilmu) dari Allah Ta’ala karena engkau (merasa) takut terhadap (konsekuensi) hukuman dari Allah Ta’ala.”

Hendaknya orang tua maupun pendidik menjadikan prinsipnya dalam mendidik anak-anak adalah “menumbuhkan ketakwaan pada diri anak”, tidak hanya sekadar menuntut anak untuk tunduk patuh terhadap aturan ketika mereka berada di hadapan kita saja. Cara mendidik yang keliru akan menciptakan generasi yang pandai “berpura-pura”. Berpura-pura baik untuk mendapatkan pujian, kasih sayang, atau reward; berpura-pura saleh agar tidak mendapatkan hukuman, dan berbagai macam bentuk kamuflase lainnya.

Apa yang kita harapkan dari hasil pendidikan seperti ini? Pendidikan yang tidak memberikan anak-anak pondasi kokoh dalam melakukan sesuatu, tidak memberikan ruang bagi anak untuk berdiskusi dan mengetahui apa saja manfaat dari melakukan atau meninggalkan sebuah perbuatan. Pendidikan yang menghasilkan generasi patuh, namun rapuh.

Ajarkan kepada anak untuk bersikap ilmiyah, membiasakan mereka untuk berpikir kritis. Mendahulukan ilmu sebelum amal. Tumbuhkan kecintaan anak kepada keridaan Allah Taala. Sehingga yang menjadi pendorong mereka untuk melakukan sebuah amalan dan meninggalkan kemaksiatan itu bukanlah bayang-bayang rasa takut maupun ancaman, melainkan ganjaran pahala dan keridaan Allah Taala.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Baca juga: Bagaimana Mendidik Anak dalam Islam?

***

PenulisPutri Idhaini

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

‘Arba’una Haditsan fii Tarbiyati wa al-Manhaj, Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhaan hafidzahullah.

https://dorar.net/h/zt3rRotS

حقيقة التقوى, karya Syekh Ibnu Baz rahimahullah.

Jauhilah Sikap Sombong karya dr. Adika Mianoki, Sp.S., 2010.

Sumber: https://muslimah.or.id/32353-hadis-mendidik-anak-dengan-ketakwaan.html