Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Di dalam Al-Qur’an, Allâh -‘Azza wa Jalla- menyebutkan bahwa bintang-bintang diciptakan untuk 3 (tiga) tujuan, yaitu : (pertama) penunjuk arah, (kedua) perhiasan langit, dan (ketiga) pelontar syaithan.
- Ada dua ilmu yang mempelajari tentang perbintangan (ilmu nujum) yaitu ilmu astronomi (ilmu at-tas-yiir) dan ilmu astrologi (ilmu at-ta’tsiir). Ilmu Astrologi (ilmu at-ta’tsiir) adalah ilmu nujum yang dibangun di atas keyakinan bahwa bintang-bintang mempunyai pengaruh terhadap keadaan dan peristiwa yang terjadi di alam semesta. Sedangkan ilmu astronomi (ilmu at-tas-yiir) adalah ilmu nujum yang mempelajari posisi benda-benda langit dan pergerakannya dengan tujuan untuk memudahkan mengetahui arah tujuan dalam perjalanan dan berbagai macam kemaslahatan yang lainnya, baik untuk urusan agama maupun urusan dunia.
- Ada dua pendapat dikalangan Para Ulama terkait dengan hukum mempelajari kedudukan dan keadaan bintang-bintang : (pertama) terlarang secara muthlaq, alasannya dalam rangka saddu adz-dzari’ah yaitu menutup jalan dari hal yang dilarang; (kedua) tidak mengapa mempelajarinya, dan yang dibolehkan di sini adalah ilmu at-tasyiir (ilmu astronomi), karena ada banyak manfaat yang bisa diperoleh darinya dan tidak termasuk sebab yang dilarang.
- Ada tiga macam keyakinan yang terkait dengannya ilmu astrologi dan ketiga-tiganya haram : (pertama) keyakinan bahwa posisi benda langit yang menciptakan seluruh kejadian yang ada di alam semesta, dan ini adalah kekufuran berdasarkan kesepakatan Para Ulama; (kedua) keyakinan bahwa posisi benda langit yang ada hanyalah sebagai sebab (ta’tsiir) dan benda tersebut tidak menciptakan seluruh kejadian yang ada, karena yang menciptakan setiap kejadian hanyalah Allâh -‘Azza wa Jalla-, keyakinan ini keliru dan termasuk syirik ashgar (syirik kecil), karena Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak pernah menjadikan benda langit sebagai sebab; (ketiga) keyakinan bahwa posisi benda langit sebagai petunjuk (tanda) untuk peristiwa masa yang akan datang, yang berarti mengaku-ngaku mengetahui ilmu ghaib, perbuatan semacam ini termasuk kekufuran berdasarkan kesepakatan Para Ulama.
- Ilmu Astronomi atau ilmu at-tas-yiir terbagi menjadi dua macam : (pertama) mempelajari peredaran benda-benda langit untuk maslahat agama, seperti menentukan arah kiblat ketika shalat; (kedua) mempelajari peredarannya untuk maslahat kehidupan dunia, misalnya dalam menentukan arah. Jenis ilmu nujum inilah yang diperbolehkan oleh Salafus Shâlih untuk dipelajari.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“