Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
Bintang-bintang diciptakan untuk 3 hal : [1] sebagai penghias langit, [2] sebagai pelempar syaithan, dan [3] sebagai tanda alam untuk petunjuk arah.
- Siapa saja yang menggali tentang perbintangan selain pada 3 hal tersebut, maka dia telah keliru, menyia-nyiakan jatahnya, dan membebani diri dengan sesuatu yang sama sekali dia tidak memiliki modal ilmu tentangnya; yaitu orang-orang yang menggeluti ilmu astrologi (ilmu at-ta’tsiir).
- Ilmu Nujum yang dilarang oleh Para Ulama untuk dipelajari adalah ilmu astrologi (ilmu at-ta’tsiir), sedangkan yang diperbolehkan adalah ilmu astronomi (ilmu at-tas-yiir).
- Sebagian Ulama melarang secara muthlaq mempelajari kedudukan dan keadaan bintang-bintang, dengan alasan dalam rangka saddu adz-dzari’ah,yaitu menutup jalan dari hal yang dilarang. Sebagian lagi membolehkan, dan yang mereka bolehkan adalah ilmu astronomi (ilmu at-tas-yiir), dengan alasan karena ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari ilmu astronomi dan tidak termasuk sebab yang dilarang.
Penulis -Rahimahullâh- menganggap ilmu nujum bagian dari ilmu sihir. Sebabnya karena sihir secara bahasa adalah segala sesuatu yang memengaruhi hati dengan sebab yang samar. Juga karena sebagian penggiat ilmu astrologi bekerjasama dengan setan-setan pencuri berita dari bangsa jin yang mencuri berita-berita langit terkait apa yang akan terjadi di muka bumi melalui ritual-ritual perdukunan.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“