[Kitabut Tauhid 9] 37 At Taththayyur 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Islam agama yang sempurna, mengajarkan kepada umatnya untuk memiliki sifat optimis dan mencela sifat pesimis terhadap masa depan. Seorang Muslim selalu memandang ke depan dengan pandangan yang penuh cita-cita tinggi dan harapan yang besar, disertai keyakinan yang kuat kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- akan memudahkan untuk meraihnya.
  • Optimisme merupakan husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena terkadung di dalamnya ar-raja’ (berharap kebaikan) dari Allâh -‘Azza wa Jalla-. Seandainya yang diharapkannya tidak menjadi kenyataaan, minimal si hamba sudah mendapatkan pahala ar-raja’, sehingga ar-raja’ menjadi kebaikan yang disegerakan untuknya.  Dan seandainya yang diharapkannya menjadi kenyataaan, itu adalah kebaikan yang berikutnya.
  • Pesimisme termasuk suu-uzhzhan (buruk sangka) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, berputus asa dari keluasan rahmatnya, dan seoalah berharap datangnya al-bala’ (keburukan, musibah, bencana). Jika suu-uzhahan kepada manusia saja tercela, terlebih lagi suu-uzhzhan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tinggalkan komentar