Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Islam agama yang sempurna, mengajarkan kepada umatnya untuk memiliki sifat optimis dan mencela sifat pesimis terhadap masa depan. Seorang Muslim selalu memandang ke depan dengan pandangan yang penuh cita-cita tinggi dan harapan yang besar, disertai keyakinan yang kuat kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- akan memudahkan untuk meraihnya.
- Optimisme merupakan husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena terkadung di dalamnya ar-raja’ (berharap kebaikan) dari Allâh -‘Azza wa Jalla-. Seandainya yang diharapkannya tidak menjadi kenyataaan, minimal si hamba sudah mendapatkan pahala ar-raja’, sehingga ar-raja’ menjadi kebaikan yang disegerakan untuknya. Dan seandainya yang diharapkannya menjadi kenyataaan, itu adalah kebaikan yang berikutnya.
- Pesimisme termasuk suu-uzhzhan (buruk sangka) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, berputus asa dari keluasan rahmatnya, dan seoalah berharap datangnya al-bala’ (keburukan, musibah, bencana). Jika suu-uzhahan kepada manusia saja tercela, terlebih lagi suu-uzhzhan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“