[Kitabut Tauhid 9] 22 Dukun & Peramal 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Secara bahasa ghaib adalah segala sesuatu yang terluput dari pandangan mata meskipun diyakini oleh hati. Da menurut istilah adalah Segala sesuatu yang tidak mampu dijangkau oleh indra manusia dan ilmu manusia.
  • Penyebutan kata ghaib dalam Al-Qur’an secara umum untuk segala sesuatu yang terluput dari indra manusia dan ia merupakan perkara yang tidak diketahui kecuali oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-. Tidak pula diketahui oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- apalagi oleh manusia selain Beliau, kecuali orang yang diberi tahu oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-.  
  • Beriman kepada perkara ghaib yang ditetapkan oleh syariat merupakan pondasi agama yang tak bisa ditawar-tawar, dan menjadi barometer bagi keimanan serta ketaqwaan seseorang hamba.
  • Ghaib ada dua macam, yang nisbi (relatif) dan muthlaq (absolut). Dan ketika disebutkan kata “ghaib” begitu saja tanpa rincian jenisnya; maka yang dimaksud adalah ghaib muthlaq (absolut), bukan ghaib nisbi (relatif). Seperti ketika dikatakan : “tidak ada yang mengetahui yang ghaib kecuali Allâh -‘Azza wa Jalla- semata” atau “siapa yang mengklaim mengetahui yang ghaib maka dia adalah pendusta dan telah terjatuh dalam kekufuran” dan yang semisalnya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tinggalkan komentar