Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Diantara hadits Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang menjadi dalil eksistensi sihir adalah hadits ‘Aisyah Radhiyallâhu ‘Anhâ yang diriwayatkan oleh Al-Imâm Al-Bukhâriy dan Al-Imâm Muslim -Rahimahumallâh- tentang peristiwa disihirnya Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- oleh penyihir Yahudi yang bernama Labiid Ibnu Al-Asham.
- Hadits tersebut diingkari oleh Ahlul Bid’ah dari kalangan Mu’tazilah dan orang-orang yang sekarakter dengan mereka; dengan alasan karena hal itu telah menjatuhkan posisi kenabian dan menimbulkan keraguan terhadapnya. Masih menurut para pelaku bid’ah, membenarkan hadits tersebut secara otomatis menghilangkan kepercayuaan terhadap syari’at. Mereka berkata, mungkin saja pada saat itu muncul bayangan bahwa Jibril –‘Alaihissalâm- mendatangi Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, padahal Jibril –‘Alaihissalâm- tidak datang, dan seakan-akan Jibril –‘Alaihissalâm- menyampaikan wahyu kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- padahal tidak demikian. Dan ini adalah syubhat dari orang-orang yang gagal faham karena kelemahan akal mereka.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“