Pertanyaan:
بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Semoga Allah selalu menjaga Ustadz. Saya telah melakukan kesalahan dengan membuka WA suami saya tanpa sepengetahuannya karena rasa ingin tahu tentang suami saya dan masa lalunya.
Akhirnya, saya sendiri yang kecewa. Dari kejujuran suami, ada beberapa yang berbeda dengan apa yang saya baca di pesan WA-nya.
Apakah suami tidak menceritakan sejujur-jujurnya karena takut saya cemburu? Tapi kalau tidak dijelaskan, saya sudah terlanjur membaca tanpa sepengetahuannya.
Apakah saya berdosa, Ustadz, membuka WA tanpa sepengetahuan suami? Apakah saya harus jujur dengan suami jika telah membaca pesan-pesannya dan ingin mendapatkan kejelasan?
Tapi saya takut ini juga malah jadi panjang masalahnya. Jadi, bagaimana Ustadz agar saya bebas dari prasangka yang tidak-tidak dan sedikit rasa kecewa ini? Mohon pencerahannya, Ustadz.
جزاك اللهُ خيراً
(Ditanyakan oleh Sahabat AISHAH (Akademi Shalihah))
Jawaban:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ
Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
1. Ya, membuka hp suami tanpa izinnya adalah sebuah kesalahan.
Ada hal rahasia, aib yang perlu ditutup, kalau dibuka maka mereka tidak suka, maka jangan mencari aib dan memata-matai (tajassus).
Pada asalnya, semua bentuk tajassus dilarang; karena pada dasarnya seorang Muslim bersih dari aib dan perkara tercela
Namun ada tajassus yang diperbolehkan untuk mewujudkan maslahat tertentu atau menghindarkan mafsadat. Misalnya spionase terhadap musuh negara Islam,
Mengantisipasi pencurian dan perampokan, menghindarkan aksi teroris dan membasmi penyakit akhlak di masyarakat. Di antara dalilnya adalah hadits berikut:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الأَحْزَابِ: مَنْ يَأْتِينَا بِخَبَرِ الْقَوْمِ؟ فَقَالَ الزُّبَيْرُ: أَنَا، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَأْتِينَا بِخَبَرِ الْقَوْمِ؟ فَقَالَ الزُّبَيْرُ: أَنَا، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَأْتِينَا بِخَبَرِ الْقَوْمِ؟ فَقَالَ الزُّبَيْرُ: أَنَا، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَإِنَّ حَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ.
Saat Perang Ahzâb, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapa yang bisa membawa kabar dari musuh (memata-matai mereka)?”
Az-Zubair (bin ‘Awwam) berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapa yang bisa membawa kabar musuh?” Az-Zubair berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi,
“Siapa yang bisa membawa kabar musuh?” Az-Zubair menjawab, “Saya.” Kemudian Rasûlullâh bersabda, “Sungguh setiap nabi punya penolong, dan penolong saya adalah az-Zubair.”
(HR. Al-Bukhâri no. 4113 dan Muslim no. 2.414)
2. Tidak perlu melapor kepada suami,
Kesalahan anda dengan membuka HP suami tutup rapat-rapat, dan jadilah muslimah yang terus memperbaiki diri. Siapa di dunia ini yang tidak punya aib dan kesalahan?
3. Isteri tidak boleh memata-matai suami hanya karena kecurigaan semata.
Selayaknya prasangka-prasangka dihindarkan dalam rumah tangga, karena sebagian prasangka adalah dosa. Jangan sampai kecemburuan menyeret kepada prasangka yang bisa merusak rumah tangga.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kecurigaan seperti ini seperti dijelaskan dalam hadits:
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَطْرَقَ الرَّجُلُ أهلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ، أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ
Dari Jabir beliau berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang pulang dari perjalanan jauh untuk mendatangi keluarganya di malam hari dengan tiba-tiba karena menyangka mereka berkhianat atau untuk mencari (memergoki) kesalahan-kesalahan mereka.” (HR. Muslim, no. 715)
Sebaliknya saling percaya dan berbaik sangka (husnuzhan) di antara pasangan akan membuat rumah tangga harmonis. Lebih baik mendoakan pasangan hidup agar dijauhkan dari dosa dan maksiat.
Seorang wanita bercerita bahwa ia pernah memata-matai suaminya, dan selama itu dia merasakan kegundahan.
Saat mendengar bahwa hal itu dilarang agama, dia meninggalkannya dan mendoakan kebaikan untuk suaminya. Maka kehidupan rumahtangganya menjadi harmonis dan bahagia.
Referensi:
https://forum.al-qma.com/t740039.html
Wallahu Ta’ala A’lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
sumber : https://bimbinganislam.com/buka-wa-suami-tanpa-sepengetahuannya/