Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa tidak mungkin umatnya Nabi Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- terjatuh dalam syirik besar, kekufuran, dan murtad dari agama Allâh -‘Azza wa Jalla-.
- Adapun perkataan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- pada saat Fathul Makkah bahwa syaithan telah putus asa untuk disembah oleh al-mushalluun (orang-orang yang shalat), maknanya satu diantara 3 (tiga) hal :
- Itu merupakan dugaan syaithan pada saat itu karena melihat manusia berbodong-bodong masuk Allâh -‘Azza wa Jalla- dan istiqomahnya Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhu- di atas ke-Islam-an Mereka.
- Tidak mungkin seluruh umatnya Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- menyembah syathan, adapun sebagiannya mungkin saja, dan memang seperti itu kenyataannya.
- Syaithan tidak mungkin disembah oleh orang-orang yang baik shalatnya; karena huruf alif dan lam pada kata Al-Mushalluun di dalam hadits adalah ahdiyah, sehingga maksudnya adalah “Orang shalat yang dilihat oleh syaithan ketika itu” yaitu para Shahabat Nabi -Radhiyallâhu ‘Anhum-.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“