[Kitabut Tauhid 8] 12 Shalawat Nabi 12

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Tidak sepntasnya menyingkat kalimat shalawat, baik dalam ucapan maupun tulisan; dan tidak sepantasnya juga mengucapkan shalawat tanpa diringi salam; karena keduanya adalah kekurangan yang berakibat pada kurangnya keutamaan yang didapatkan, atau mungkin juga menyebabkan luputnya keutamaan.
  • Shalawat dan seluruh kalimat thayyibah adalah bagian dari dzikrullaah (dzikir kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-), dan sebaik-baik dzikrullaah secara muthlaq adalah membaca Kalam-Nya (Al-Qur’an).
  • Jika dikaitkan dengan sebab, maka beribadah sesuai sebab itulah yang paling afdhal. Membaca shalawat pada waktu dianjurkan bershalawat -misalnya setelah adzan-, lebih afdhal dibandingkan dzikir yang lain. Karena dia dibaca sesuai waktunya. Demikian pula, membaca kalimat thayyibah (subhaanallaah, alhamdulillaah, dan allaahu akbar) ketika dilakukan sesuai waktunya -misalnya setelah shalat wajib-, lebih utama dibandingkan membaca shalawat. Sementara jika tidak dikaitkan dengan sebab tertentu, keduanya sama-sama afdhal. Dan yang lebih tepat adalah mengamalkannya secara bergantian, agar dengannya Kita melestarikan semua ajaran Syariat.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tinggalkan komentar