Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
Shalawat ada dua macam : [1] yang disyari’atkan, dan [2] yang tidak disyari’atkan.
- Shalawat yang disyariatkan adalah shalawat yang diajarkan oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- kepada Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum-. Bentuk shalawat ini ada beberapa macam, yaitu setiap shalawat yang shahih dari Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
- Shalawat yang tidak disyariatkan adalah shalawat yang datang dari hadits-hadits dha’iif (lemah), sangat dha’iif, maudhû’ (palsu), atau laa ashla lahu (tidak ada asalnya). Demikian juga shalawat yang dibuat-buat (umumnya oleh Ahli Bid’ah).
Shalawat adalah ibadah, dan suatu amalan itu bernilai ibadah dan diterima oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- jika terpenuhi padanya syarat-syarat diterimanya ibadah. Dan syarat-syarat diterimanya ibadah itu ada tiga : Iman, Ikhlash, dan Ittiba’.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“