Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Allâh -‘Azza wa Jalla- telah menyebutkan bahwa Islam itu adalah agama yang pertengahan antara ghuluw (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan). Semua komponen Syari’at (aqidah, ibadah dan muamalah) dibangun di atas konsep ini (keadilan, pertengahan). Sikap ghuluw dalam urusan agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh Syariat. Sikap seperti ini tidak akan mendatangkan kebaikan apapun dan bahkan sebaliknya menjadi sumber keburukan bagi pelakunya, juga bagi agamanya dan anak manusia.
- Ghuluw (sikap berlebihan) dan tafriith (sikap meremehkan), keduanya adalah makar setan untuk merusak anak manusia dan menyesatkan mereka dari jalan Allâh -‘Azza wa Jalla-.
- Sebagaimana halnya Kita tidak boleh terjebak dalam sikap taqshiir karena menghindari ghuluw, demikian pula Kita jangan salah menilai ghuluw. Sebagian orang menilai keteguhan memegang Syariat dan istiqamah di atasnya merupakan sikap ghuluw. Sebagai dampaknya, mereka menganggap pengamalan sebagian Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sebagai sikap ghuluw. Ini jelas salah besar. Memang Kita membenci sikap ghuluw, namun hendaknya Kita jangan salah menilai.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“